
Tidak terasa bulan April sudah berlalu dan sekarang sudah memasuki bulan Mei. Berbicara tentang bulan Mei, maka pasti semua orang akan terfokus pada “golden week” yang mana ada tiga hari libur nasional. Golden week sendiri lebih tepatnya dimulai dari 29 April yang memperingati Hari Showa, 3 Mei sebagai Hari Peringatan Konstitusi, 4 Mei sebagai Hari Hijau, dan 5 Mei sebagai Hari Anak. Ini yang ada pada kalender akademik murid sekolah. Selain itu, perusahaan dan insustri biasanya meliburkan diri pada 1 Mei untuk memperingati Hari Buruh, walaupun bukan merupakan hari libur resmi di Jepang.
Senin kemarin, murid-murid kelas 2-D membicarakan rencana mereka untuk hari ini dan kedepannya. Tiga hari libur yang akan digunakan untuk bermain, menghilangkan penat, dan refreshing bersama keluarga dan teman. Pasti, itu hal yang menyenangkan.
Oh iya, Senin kemarin juga ada rapat kepengurusan. Berdasarkan hasil rapat, ujian tengah semester akan dilaksanakan mulai Rabu, 11 Mei hingga Sabtu, 14 Mei.
Terpikirkan sedikit olehku, apa mereka melupakan tentang ujian tengah semester? Saat manusia bersenang-senang, pasti mereka cenderung akan melupakan sesuatu, baik yang penting ataupun yang tidak penting. Ya, seperti itu lah manusia. Walaupun tidak semua seperti itu. Contohnya diriku ini.
Ah, iya, aku melupakan sesuatu. Murid-murid di Keiyou itu adalah murid elit. Pasti mereka bisa dengan mudah menjawab pertanyaan ujian nanti. Ah, aku sampai melupakan hal itu.
Golden week yang seharusnya menyenangkan ini, yang seharusnya bisa kugunakan untuk bersantai di suatu kafe sambil membaca buku dan meminum kopi susu, justru kuhabiskan dengan mengerjakan PR dan mengulang-ngulang pelajaran sekolah. Tapi inilah yang sudah kurencanakan dari jauh-jauh hari. Inilah salah satu rencana untuk membuat murid kelas 2-D bisa menerimaku. Ini demi diriku dan Fuyukawa-san juga.
Rencananya sederhana. Aku hanya perlu menunjukkan siapa diriku ini dengan cara mendapatkan peringkat yang bagus di tengah semester nanti. Ini pasti akan berhasil.
Ada sesuatu yang selalu harus ada saat belajar yaitu gula, atau dalam Kimia disebut glukosa. Aku selalu menyiapkan teh manis untuk diminum saat belajar.
Saat memerintahkan otak untuk bekerja, maka energi dalam tubuh semakin berkurang. Biasanya kalau sudah sangat lama, akan mengalami sakit kepala, pusing, dan ujungnya menjadi lapar. Kenapa hal itu bisa terjadi?
Membuat otak bekerja secara maksimal memerlukan energi yang banyak. Energi ini berupa glukosa yang dibawa oleh sel darah merah menuju otak, bersamaan dengan oksigen. Jika energi berkurang, maka kerja otak akan terganggu. Karena itulah perlu asupan glukosa yang bisa didapat dari makan atau minum yang mengandung glokosa. Sebab itu, ada yang berkata, “Kamu tidak perlu takut gemuk karena memakan makanan yang manis jika kamu sering menggunakan otakmu.”
Belajar dengan waktu yang lama pasti akan membuat jenuh. Oleh karena itu, lebih baik berhenti saat sudah mulai merasa jenuh. Lakukan hal kecil lain yang bisa mengusir rasa jenuh itu, misalnya dengan beristirahat.
Aku sendiri merasa jenuh jika sudah belajar selama sekitar dua jam. Hal yang kulakukan untuk menghilangkan rasa jenuh itu adalah dengan istirahat. Aku berhenti belajar di pukul 12 siang karena akan memasak untuk makan siang.
Setelah makan siang, kucoba belajar sedikit lagi semampuku. Jika sudah mulai terasa jenuh dan fokus mulai terganggu, aku berhenti dan langsung tidur siang. Berbaring di kasur sambil mengingat-ngingat apa yang baru saja kupelajari.
Ah, aku ingat sesuatu. Belajar kelompok bersama teman. Meskipun hanya satu orang teman, akan lebih menyenangkan dan rasa jenuh dari belajar itu datangnya sedikit lebih lama. Ini berdasarkan pengalamanku saat di SMP dulu.
Itulah yang kulakukan di dua hari pertama liburan golden week-ku. Hanya belajar, belajar, dan belajar.
Hari ini, kamis, hari libur golden week sudah memasuki hari terakhir. Terus-terusan berada di rumah membuatku bosan. Bagusnya mencari suasana baru di kota, pikirku. Dari kemarin aku terus belajar dan mengerjakan PR yang ada sampai tidak tersisa. Bahan ujian untuk tiap-tiap pelajaran juga sudah kubaca dan kupahami. Alhasil, aku bosan.
Keluar ke beranda apartemen sambil melihat ke arah luar. Tidak jauh dari sini, di sebelah sana, tempat kediaman Fuyukawa-san. Apa yang dilakukannya di hari-hari libur ini, ya. Pasti berlibur bersama keluarganya. Ibunya Fuyukawa-san yang sepertinya jarang pulang karena pekerjaannya itu pasti memilih golden week ini untuk menghabiskan waktu bersama keluarganya.
Kalau Taka, mm… mungkin bisa kutebak. Palingan dia pergi ke suatu tempat sambil memotret. Lagi pula, Fotografi adalah passion-nya. Ah, iya. Kemarin, dia mengirimiku pesan yang isinya mengajakku pergi ke suatu tempat, tapi kutolak. Pasti itu tempat yang akan dikunjunginya sebagai spot untuk mengambil foto.
Kalau Namikawa-san, mungkin dia pergi ke kafe sambil membaca buku. Atau mungkin dia bersama Kayano-san.
“Haah…” Aku bergumam sambil menghela nafas. Tidak ada kegiatan membuatku bosan. Ah, bosan. Aku juga tidak meminjam buku saat mengembalikan novel di hari senin kemarin. Kalau seandainya ada, sekarang aku bisa membaca novel. Mungkin sebaiknya aku mencari kerja part-time.
Saat aku dan Taka jalan-jalan di Center Gai minggu lalu, aku sempat melihat beberapa pamflet yang bertuliskan mencari pekerja tambahan. Walaupun hanya sepintas saja, tapi memang tertulis seperti itu. Bukannya ini bisa menjadi kesempatan? Aku bisa bekerja sambil mengisi waktu, mendapatkan pengalaman, dan uang tambahan. Tapi, karena ujian sudah dekat, kuurungkan saja niatku ini. Lebih baik kucari setelah ujian.
Mm… Oh iya, aku belum terlalu tahu area tempat aku tinggal sekarang ini. Lebih baik aku keluar kamar untuk melihat-lihat area sekitar Daikan’yamacho. Setelah mengunci semua pintu dan jendela, aku pergi meninggalkan apartemen.
Aku berjalan di dekat apartemenku dulu sebelum menjelajahi lebih jauh. Setelah beberapa menit berjalan kaki, aku baru sadar kalau letak apartemenku dekat dengan Stasiun Daikan’yama. Saat ke Shibuya waktu itu, aku tidak melalui jalan ini. Wajar saja aku tidak tahu.
Melewati Stasiun Daikan’yama yang di sekitarnya terdapat berbagai macam toko, aku menjumpai jembatan penyeberangan. Berjalan di bawahnya terus ke depan hingga menjumpai taman kecil, Taman Daikan’yama. Terlihat anak-anak kecil yang sedang bermain bersama teman ditemani dengan keluarganya.
Aku mencari info tentang Daikan’yamacho ini di ponselku. Dari informasi yang kudapat, di Daikanyamacho ini terdapat tempat lokal yang keren untuk nongkrong. Aku harus berjalan sekitar 500 meter ke arah barat dari taman ini.
Sambil berjalan, kulihat ke arah kiri dan kanan. Aku menemukan restoran masakan china, toko pakaian, dan salon rambut.
Setelah berjalan sekitar lima menit, aku tiba di area yang dinamakan “Daikanyama T-Site.” Di sini ada Toko Buku Tsutaya. Aku masuk ke toko buku itu. Dari info yang kubaca di internet tadi, toko buku ini bukan toko buku biasa. Di toko buku ini terdapat kafe. Kita bisa membaca buku atau majalah secara gratis sambil meminum segelas kopi. Ada Starbucks ternyata.
Aku melihat-lihat buku di sini. Sangat banyak buku hingga membuatku bingung untuk membaca yang mana. Mataku tertuju ke salah satu buku yang berjudul “Wise Men’s Words.” Sebuah buku yang berisi kutipan-kutipan dari filsuf hebat. Mungkin dengan membaca buku ini bisa membuat pikiranku lebih terbuka. Baiklah, kuputuskan untuk membaca buku ini.
Saatnya memesan minuman.
Seperti biasa, aku memesan kopi susu panas, lalu duduk di tempat yang kosong. Karena hari ini hari terakhir libur, tempat ini ramai dikunjungi orang. Beruntung aku dapat tempat. Kubuka buku ini dan kubaca.
Keunggulan bukanlah hasil dari suatu tindakan, tetapi kebiasaan.
Apakah ini filosofi? Aku tidak yakin. Penulis buku ini seperti sedikit merendahkan. Mungkin ini hanya hasil pemikiran si Penulis. Lebih baik kulanjutkan.
Kubalikkan halaman buku ini satu per satu. Sesekali kuseruput kopi susu saat tenggorokan mulai kering.
Dalam mencari kebenaran, tanyalah pertanyaanmu sendiri. Dan kemudian, temukan jawabanmu sendiri.
Tanpa kusadari, aku sudah selesai membaca buku ini.
Aku penasaran jika filsuf-filsuf tua ini mempunyai banyak teman. Mereka selalu berbicara kepada orang-orang, tapi aku tidak tahu…
Bagaimanapun juga, membaca tentang cara berpikir yang berbeda membuatku mendapatkan pengetahuan baru.
Suasana sudah mulai gelap. Aku tidak tahu sudah berapa jam aku duduk di sini sambil membaca buku. Saatnya pulang. Besok sudah mulai sekolah.
***
Sekolah kembali dimulai setelah golden week. Murid-murid di kelasku di pagi hari ini asik membicarakan kegiatan mereka saat libur. Mereka berbicara dengan kelompok pertemanan mereka. Di depan mejaku juga ada tiga orang gadis yang membicarakan hal itu.
“Kemarin kalian ngapain aja?”
“Aku pergi bersama keluargaku ke Hokkaido.”
“Kalau aku ke Osaka.”
“Hee… sepertinya seru.”
“Tentu saja.”
“Um, um. Kalau kamu emangnya ngapain?”
“Ah, kalau aku ke Korea Selatan.”
“Ee… Seru banget itu, pasti.”
“Kapan-kapan aku minta ke sana juga ah…”
Pasti lah liburan ke luar daerah sangat menyenangkan. Mendengar percakapan mereka tadi sedikit membuatku iri. Aku sendiri tidak pernah keluar dari Nagano sampai umur 16 tahun. Tahun ini aku keluar dari Nagano dan tinggal di Tokyo. Setidaknya aku sudah melihat daerah baru. Inginnya diriku bisa pergi ke Kyoto, daerah yang penuh dengan sejarah.
Dan percakapan mereka berhenti saat Inui-sensei masuk ke kelas. Pelajaran Sejarah akan dimulai.
“Seperti yang kalian ketahui, ujian tengah semester akan dimulai hari rabu depan. Sekarang, mari kita ulang sedikit dari pelajaran terakhir kita.”
Inui-sensei sepertinya membuka pelajaran sejarah hari ini dengan pertanyaan. Wajar juga, mengingat ujiannya sudah dekat.
“Olahraga sudah dianggap sebagai hal suci yang menguatkan orang sejak jaman kuno. Amamiya-kun?”
“Ya, Sensei.”
“Siapa nama kaisar romawi yang berpartisipasi dalam olimpiade?”
“Kaisar Nero, Sensei.”
“Benar. Dan, perlombaan apa yang Kaisar Nero tambahkan ke olimpiade sehingga dia bisa ikut berpartisipasi?”
“Bernyanyi.”
“Ya, benar. Sepertinya kamu sudah belajar dengan giat.”
Ah, tentu saja. Hari libur kemarin kugunakan untuk belajar. Semua pelajaran.
“…Tampaknya, Nero tuli, tetapi dia berakhir dengan menjadi juara. Lagipula, Kaisar memegang kuasa mutlak. Karena tindakan egoisnya ini, dia dikenal sebagai Kaisar Zalim.”
“Wow, jadi dia tahu itu?” Kata seorang murid di kelas ini.
“Mungkin aku bisa minta pinjam buku catatannya.” Kata murid yang lain.
“Amamiya-kun, kamu pintar ya.” Fuyukawa-san berbisik kepadaku.
“Ah, tidak juga. Kebetulan aku membaca tentang sejarah romawi beberapa hari yang lalu.”
“Oh, begitu ya.”
Setelah itu, pelajaran dilanjutkan dengan memasuki pembahasan yang baru. Memang pelajaran sejarah ini sedikit rumit karena kita seperti dibawa ke masa lalu dan melihat berbagai macam kejadiaan di saat itu. Untuk lebih mudah memahaminya, kita harus bisa merangkainya seperti susunan alfabet, sepert ABCD dan seterusnya. Misalnya, kejadian A terjadi, maka mengakibatkan kejadian B, kemudian C, dan seterusnya.
Ya, memang, pelajaran ini sedikit membuat ngantuk. Bahkan dari tadi ada yang tidak melihat ke arah Inui-sensei lagi.
Dua hari sebelum ujian tengah semester dimulai.
Hari Senin, sepertinya ada pengulangan bahan pelajaran sebelum ujian. Kali ini sedikit berbeda karena guru Bahasa Jepang kami, Kawakami-sensei, terlihat kesal karena tugas essay yang kami buat.
“Saya sudah baca semua essay yang kalian kumpulkan kemarin, dan ada beberapa di antara kalian yang tulisannya ceroboh.”
Walaupun ini sekolah yang berisi murid elit, mereka tetaplah manusia yang pastinya ada beberapa pelajaran yang menurut mereka susah.
Kawakami-sensei melanjutkan, “Belakangan ini, saya sering menjumpai orang-orang yang menggunakan frasa yang berbeda dengan arti sesungguhnya.”
“Satu kata yang sering saya dengar disalahgunakan adalah “kakushinhan,” yang sekarang digunakan untuk mengartikan kejahatan yang dilakukan pada orang berdarah dingin. Seperti kata “secara harfiah,” arti sebenarnya dari kakushinhan sangat berlawanan dari bagaimana kata ini digunakan. Kamu tahu apa itu, Amamiya-kun?”
Arti sebenarnya dari kakushinhan, huh… Ini sepertinya sulit.
Aku mulai berpikir sejenak. Saat berpikir, aku biasanya memegang daguku. Ini kebiasaanku saat sedang berpikir.
Pertama, dimulai dengan pengunaan umum dari kakushinhan berdasarkan tindakan yang kita ambil yaitu mengetahui tindakan itu adalah salah.
Ketika orang-orang mengatakan sesuatu yang kakushinhan, mereka biasanya bermaksud kalau pelakunya tahu itu salah.
Tapi kakushinhan yang sebenarnya berlawanan. Jadi arti sebaliknya adalah…
“Keyakinan kalau kita benar, Sensei.”
“Ya, itu benar.” Kawakami-sensei menambahkan, “Kakushinhan itu ketika seseorang mengambil tindakan, mempercayai kalau itu benar.”
“Amamiya, sepertinya dia pintar.”
“Dia mungkin tidak seperti yang kita pikirkan.”
“Aku tidak menyangkanya.”
Terdengar suara murid yang membicarakanku. Aku tidak tahu siapa.
“Kakushinhan pada awalnya adalah istilah yang mengacu pada kejahatan yang didorong oleh keyakinan moral atau pilitik. Meski belakangan ini sepertinya salah penggunaan menjadi hal yang lebih umum diterima.”
Dengan demikian, hari Senin pun berakhir, dan semakin dekat dengan hari ujian. Sepertinya aku perlu mengulangi beberapa pelajaran lagi.
Keesokan harinya, Selasa, satu hari sebelum ujian dimulai.
Setelah waktu istirahat makan siang, jam pelajaran kelima diisi dengan pelajaran Bahasa Inggris dari Hiratsuka-sensei.
Pelajaran dimulai dengan Sensei melemparkan suatu pertanyaan. Firasatku mengatakan kalau pertanyaan itu disodorkan kepadaku. Untungnya, aku bisa menjawab pertanyaannya. Tentu saja karena kuhabiskan hari libur kemarin untuk belajar.
Sekolah hari ini berakhir dan besok akan dilaksanakan ujian tengah semester. Aku langsung pulang untuk mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk besok.
Ujian tengah semester berlangsung selama empat hari, dari Rabu sampai Sabtu. Hari Sabtu yang biasanya libur, kali ini digunakan untuk ujian.
Empat hari ini kufokuskan ke ujian dulu. Hal yang lain lebih baik kulupakan. Ya, walaupun dari awal bulan Mei ini aku sudah memfokuskan diriku.
Tibalah hari ujian.
Datang ke sekolah pagi-pagi dan mengerjakan soal ujian. Di waktu istirahat, kugunakan waktuku untuk makan sambil belajar. Buku tidak pernah lepas dari tanganku. Aku benar-benar serius dalam mengincar peringkat yang bagus. Hanya ini salah satu cara untuk menunjukkan siapa diriku yang sebenarnya. Semua yang kupelajari keluar di soal-soal ujian. Aku tidak kesulitan sampai hari terakhir ujian.
Dan akhirnya, ujian tengah semester pun berakhir.
***
Bel tanda waktu istirahat makan siang berbunyi. Semua murid keluar dari kelas. Ada sesuatu yang ingin kami lihat. Hasil ujian tengah semester diumumkan pada hari Rabu saat waktu istirahat makan siang di papan pengumuman Gedung Utama.
Setelah menuruni tangga dan tiba di lantai satu, sudah banyak murid-murid yang berkerumun di depan papan pengumuman. Hasil ujian sendiri terbagi menjadi tiga yaitu untuk kelas satu, kelas dua, dan kelas tiga.
Aku pergi ke arah pengumuman hasil ujian kelas dua. Di sana, aku melihat Taka yang sepertinya kesusahan untuk melihat hasil ujian. Aku menghampiri dan menyapa dirinya.
“Yo Taka, kamu di peringkat berapa?”
“Oh, Ryuki. Belum ketemu.”
“Ah, iya, tentu saja. Ramai begini.”
“Ryuki, kamu kan tinggi, pasti bisa lihat namamu di peringkat berapa.”
“Walaupun kamu bilang begitu, aku ngga tahu berada di peringkat atas, tengah, atau bawah.”
“Aku yakin kamu berada di peringkat atas.”
“Eh, kenapa bisa yakin?”
“Kamu kan menghabiskan waktu liburan untuk belajar. Sudah pasti peringkat atas.”
“Mm… Semoga saja.”
Beberapa murid perempuan di depanku berteriak, seperti terkejut melihat hasil ujian mereka.
“Kyaaa… Aku berada di peringkat tengah.”
“Ah, peringkatku naik sedikit dibandingkan kelas satu lalu.”
“Sekarang kita kelas dua, hal itu jangan dihitung dong.”
“Ahahaha, iya, iya.”
Sedangkan murid laki-laki ada yang santai dan panik karena hasil ujian tersebut.
“Ah gawat. Peringkatku…”
“Jangan panik begitu, ini kan cuma ujian tengah semester.”
Aku tidak melihat Fuyukawa-san, Namikawa-san, dan Kayano-san di tempat ini. Apa mereka sudah pergi? Mungkin aku tidak sadar kehadiran mereka karena tadi aku berbicara dengan Taka.
Murid-murid yang sudah menemukan namanya di peringkat berapa, perlahan mulai meninggalkan tempat ini.
Aku dan Taka mendekat ke papan pengumuman. Aku mencari namaku dari peringkat atas. Peringkat pertama hasil ujian tengah semester kali adalah Shiraishi Miyuki-san. Aku terkejut melihatnya. Shiraishi-san yang akan menjadi temanku di klub bantuan, ternyata orangnya sangat pintar. Turun ke bawah, aku mendapatkan namaku berada di bawah namanya. Aku di peringkat kedua? Tidak terduga.
“Wow Ryuki. Kau peringkat dua. Ternyata kamu memang orang yang pintar. Seperti yang diharapkan dari murid yang mendapatkan beasiswa.” Taka berkata sambil menyikut-nyikut lenganku.
“Ah… Aku sendiri ngga menduganya. Taka, kamu kenal dengan Shiraishi-san ini?”
“Ha? Tentu saja. Dari kelas satu, dia selalu berada di peringkat satu lho.”
“Hee… Orang jenius memang ada, ya…”
“Kamu kan juga termasuk salah satunya.”
“Ah, ngga. Aku belum bisa dikatakan orang seperti itu.”
“Kamu merendah lagi, ya? Um, mungkin seperti itu lah dirimu.”
“Jadi, kamu peringkat berapa, Taka?”
“Peringkat 53.”
“Bagus dong…”
“Mm, ya… Setidaknya lumayan. Ayo kita ke kantin. Aku lapar.”
“Ayo.”
Setelah melihat hasil ujian tengah semester, aku dan Taka makan di kantin. Suasana di kantin lebih ribut daripada biasanya. Murid-murid di sini membicarakan tentang hasil ujian.
Seperti biasa, aku mendapatkan tatapan yang tidak enak dari murid-murid yang ada di kantin. Entah kenapa ini selalu terjadi saat aku makan di sini. Jadi murid pindahan yang tidak jelas asal-usulnya sepertiku ini memang berat, ya….
“Jadi dia orangnya?”
“Iya. Dia peringkat dua, di bawah Shiraishi yang itu.”
“Sebenarnya siapa sih dia?”
Percakapan sekelompok murid perempuan di dekat tempat dudukku dan Taka. Aku yakin Taka juga mendengarnya. Tapi dia hanya diam saja.
Setelah kami selesai makan, Taka mulai berbicara.
“Hey Ryuki. Sepertinya kamu jadi bahan obrolan murid-murid, ya?”
Lihat! dia memang mendengarnya.
“…Ah, sepertinya begitu.”
“Mereka lihat ke orang yang bernama Amamiya Ryuki itu seperti orang asing. Ada yang ngga terima dan ada yang ingin terima kehadirannya.”
Mata Taka seperti bisa melihat semuanya. Benar apa yang dikatakan olehnya. Kehadiranku di sekolah ini seperti orang asing dan bahkan ada orang yang menganggapku sebagai orang aneh. Ada yang ingin menolakku, namun ada yang ingin mencoba untuk menerimaku.
“Mm… Di kelasku juga seperti itu. Banyak di antara mereka yang menolakku.” Aku menghela nafas.
“Ya, apa boleh buat. Mereka cuma ngga mau coba untuk kenal siapa kamu sebenarnya. Dengan hasil ujian kali ini, mungkin mata mereka akan sedikit terbuka.”
“Ya, semoga saja. Aku ingin mereka bisa menerima kehadiranku. Aku ingin bisa berteman baik dengan mereka semua. Tapi rasanya sangat sulit. Saat aku berbicara dengan Fuyukawa-san saja, aku seperti sudah ditatap oleh murid di sekelilingku seperti seekor mangsa yang akan disantap.”
“Um, ya. Lagian, seseorang memiliki gilirannya sendiri.”
“Giliran?”
“Dalam kasusku, akan tiba giliranku untuk menjelaskan semuanya. Bisa dikatakan giliranku untuk beraksi.”
“Oh, begitu. Aku yakin kamu bisa, Ryuki.”
“Terima kasih. Oh iya, aku penasaran dengan Shiraishi-san itu. Orangnya seperti apa?”
“Hm? Apa kamu tertarik dengannya?”
“Ah, mungkin.”
Tertarik atau penasaran, itu memang yang sedang terjadi padaku tentang Shiraishi-san. Hal yang wajar karena aku dan dirinya akan berada di klub yang sama, klub bantuan dari usulan Hiratsuka-sensei. Setidaknya, aku bisa mengenalnya sedikit.
“Mm… Aku ngga pernah sekelas dengan dia, jadi aku ngga tahu apa-apa.”
“Ngga sedikit pun?”
“Mm… Mungkin ada satu.”
“Apa itu?”
“Orangnya cantik.”
“Dengan lihat saja, aku juga tahu dia cantik.”
“Hahaha…” Taka mulai tertawa.
“Apa boleh buat. Kalau begitu, aku kembali ke kelas duluan.”
“Ah, iya, aku juga.”
Kami meninggalkan kantin dan kembali ke kelas masing-masing.
Setiba di kelas, mata semua murid kelas 2-D melihat ke arahku semua. Eh, kenapa ini? Apa ada yang aneh dengan wajahku sekarang? Ah, tidak mungkin. Dari awal mereka sudah menganggapku aneh.
Aku duduk di kursiku dan melihat ke arah luar jendela sambil menopang dagu. Kira-kira dengan hasil ujianku ini bisa membuat mereka membuka matanya kepadaku? Apa mereka bisa menerimaku?
“Hey Amamiya...”
Terdengar suara orang memanggilku dari arah kanan. Aku berpaling dan melihat ke sumber suara itu. Suara itu dari mulunya Mizuno-san. Ada Seto-san, Fuyukawa-san, dan beberapa murid laki-laki kelas ini di sampingnya. Ada apa mereka berkumpul seperti itu ya? Ah, murid laki-laki yang bernama Shiga-san tidak ada. Dia duduk di kursinya yang berada di barisan depan. Juga Moriyama-san, Shimizu-san, dan Nazuka-san, mereka duduk di kursi masing.
“…Ada apa?” Aku bertanya sambil melihat langsung ke arah Mizuno-san.
“Kecurangan apa yang kamu pakai sehingga bisa dapat peringkat dua di ujian tengah semester?”
Mizuno-san langsung menanyakannya dengan nada suara yang sedikit keras. Seketika murid-murid yang melihat apa yang terjadi di belakang mereka.
“Kecurangan? Tidak mungkin aku melakukan hal semacam itu.” Aku menjawabnya dengan nada bicaraku yang normal.
“Jujur saja, Amamiya. Mana mungkin orang sepertimu bisa dapat peringkat dua.” Seto-san menambahkannya.
“Terlebih lagi, selisih nilaimu dengan Shiraishi hanya 1 angka.” Mizuno-san bahkan memberitahu selisih nilainya.
“Sudah, jujur saja Amamiya.”
“Jujur oi.”
“Kamu pikir kami percaya? Jujur saja, dasar orang aneh.”
Murid laki-laki tadi mulai ikut berbicara.
Yang benar saja, aku sama sekali tidak melakukan kecurangan. Kupikir dengan mendapatkan peringkat yang bagus di ujian ini bisa membuat mereka mulai menerimaku. Tapi aku salah. Pemikiranku terlalu naif. Yang ada sekarang mereka menuduhku melakukan kecurangan saat ujian.
“Aku hanya belajar jauh-jauh hari sebelum ujian.”
“Ngga mungkin.”
“Benar. Itu ngga mungkin.”
“Mana mungkin orang sepertimu bisa hampir sejajar dengan Shiraishi.”
Mereka tidak menerima jawabanku. Pandangan mereka terhadap Shiraishi-san membuatku semakin penasaran dengannya. Seperti apa orang yang bernama Shiraishi itu? Sejak pertama kali aku bertemu dengannya di ruang tamu guru waktu itu, dia hanya diam-diam saja. Sama sekali tidak bisa kutebak bagaimana sifatnya.
“Kalian, hentikan. Sudah kubilang kan, kalau Amamiya-kun itu ngga seperti yang kalian bayangkan.” Fuyukawa-san mulai berbicara.
“Yukina, kenapa kamu sangat perhatian dengan orang ini?” Mizuno-san membalikkan pertanyaan ke Fuyukawa-san.
“Benar. Ada apa denganmu, Yukina?” Seto-san sepemikiran dengan Seto-san.
Saat Fuyukawa-san hendak menjawab, terdengar suara pintu kelas yang digeser. Masuklah seorang guru ke dalam kelas ini. Guru itu adalah Hiratsuka-sensei.
Sensei yang menyadari diriku sedang dikelilingi orang seperti sedang diinterogasi, bertanya, “Oh ya, ada apa itu di belakang? Kenapa denganmu, Amamiya-kun?” Kenapa juga sensei bertanya kepadaku. Seharusnya sensei bertanya ke para murid-murid yang sudah mengelilingiku ini.
“…Ah, ini, mereka…” Saat aku hendak menjawab, Mizuno-san memotong kata-kataku.
“Hiratsuka-sensei, sudah lihat hasil ujian tengah semester?” Mizuno-san melemparkan pertanyaan kepada Hiratsuka-sensei.
“Tentu saja. Amamiya-kun dapat peringkat dua, kan? Dia hebat, kan?” Hiratsuka-sensei menjawab pertanyaan Mizuno-san sambil tersenyum.
“Apa ngga aneh melihat dia bisa mendapatkan peringkat dua? Kecurangan apa yang dilakukannya? Kenapa nilainya hanya beda 1 angka dengan nilainya Shiraishi yang terkenal sangat pintar itu?”
“Juga, kenapa dia bisa dipindahkan ke sekolah ini?”
“Kenapa, Sensei? Siapa sebenarnya orang aneh ini? Kami semua ingin tahu.”
Mizuno-san dan Seto-san bertanya lagi.
Hiratsuka-sensei dengan santainya menjawab.
“Kenapa tidak kalian tanyakan langsung dengan orangnya di samping kalian itu? Benar tidak, Amamiya-kun?”
“Saya sudah bilang kalau saya cuma belajar sejak jauh-jauh hari. Tapi mereka tidak percaya dengan perkataan saya.”
“Oh, begitu ya.” Hiratsuka-sensei menganguk. Lalu sensei menambahkan, “Kalian semua belum tahu siapa Amamiya-kun ini, ya?”
“Ya, sensei.” Semua murid menjawab dengan serentak.
“Kalian tahu kan, kalau sekolah kita membuka jalur beasiswa saat tes masuk?”
“Um, ya, tentu saja kami tahu, Sensei.” Mizuno-san menjawabnya dengan nada agak kesal.
“Mungkinkah Amamiya-kun…” Seto-san membuka mulutnya.
“Ya, benar, Seto-san. Amamiya-kun salah satu murid yang lulus melalui jalur beasiswa. Dia mendapatkan beasiswa penuh di sekolah ini.”
“Eeeeee……” Semua murid kelas ini terkejut.
Akhirnya rahasiaku terbongkar. Waktunya sudah tiba. Giliranku juga tiba.
“Benar seperti itu, Amamiya-kun?” Moriyama-san melihat ke arahku dari tempat duduknya.
“Iya, itu benar.”
“Sensei…” Shimizu-san mengangkat tangan kanannya.
“Ya, Shimizu-san?”
“Kenapa dia baru masuk ke sekolah ini? Kenapa dia tidak masuk saat kelas satu?”
“Lebih baik hal itu kalian tanyakan kepada orangnya langsung. Baiklah, semuanya duduk di tempat masing-masing.”
Aku berdiri dari tempat dudukku.
“Kiritsu, rei…”
Dengan begitu, pelajaran Bahasa Inggris dimulai. Suasana di kelas sekarang lebih tenang daripada sebelumnya. Entah mereka memperhatikan pelajaran atau memikirkan hal yang baru saja terjadi.
Terbukanya rahasiaku membuatku berpikir ini waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya. Mau kusimpan pun pasti semuanya juga akan mengetahuinya nanti. Tapi, ada sedikit yang mengganjal. Di saat semua murid kaget, hanya Fuyukawa-san yang bersikap seperti biasa. Dia tidak kaget. Apa dia sudah tahu duluan? Kalau memang dia sudah tahu, dia tahu dari mana? Siapa yang memberitahukannya? Apakah Taka yang memberitahukan kepadanya? Ah… Memikirkannya tidak ada gunanya.
Saat pelajaran Bahasa Inggris selesai, Hiratsuka-sensei mengacungkan jempol tangan kanannya ke arahku seperti berkata “Ganbatte” dengan raut wajah yang terlihat senang. Mungkin Sensei berpikir kalau ini kesempatan bagiku untuk menjelaskan semuanya. Dari awal, memang itu yang akan kulakukan.
Setelah pelajaran ketujuh selesai, sekolah pun berakhir. Saat guru keluar dari kelas, beberapa murid yang tadi bertanya kepadaku mulai bergerak ke arah mejaku. Aku yang sedang memasukkan buku ke dalam tas melakukannya degan cepat. Kulihat ke sekeliling kelas, tidak ada satu pun murid yang keluar. Sepertinya mereka semua ingin penjelasannya.
Yosh, baiklah. Aku sudah siap.
“Hey Amamiya, apa yang dikatakan Hiratsuka-sensei tadi benar?” Mizuno-san bertanya dari arah kananku.
“Iya, itu benar.”
“Mungkin seperti yang Yukina katakan, kita memang hanya belum kenal Amamiya.” Seto-san menambahkan sambil melihat ke arah Fuyukawa-san.
Aku tidak tahu seperti apa ekspresi wajah Fuyukawa-san saat ini. Mereka berdiri di sebelah kananku sehingga aku tidak bisa melihat ke arah Fuyukawasan yang masih duduk di kursinya.
“Mungkin sekarang sudah tiba giliranku untuk memberikan penjelasannya.”
“Penjelasan?” Seto-san bertanya dengan ekspresi penasaran.
Murid-murid lain di kelas ini juga. Mereka semua memalingkan padangan mereka ke arahku.
Aku berdiri dari kursiku.
Kuceritakan semua dengan perlahan, dari mana aku berada, kenapa aku bisa ikut tes di Keiyou-kou, dan kenapa aku tidak bisa masuk di tahun pertama karena kecelakaan itu.
Setelah kuceritakan, suasana kelas menjadi sunyi.
“Jadi seperti itu…” Shimizu-san berkata sambil melihat ke arahku.
“Karena itulah, aku ingin kalian semua bisa menerimaku dan menjadi temanku.”
Giliranku sudah selesai. Menceritakan semuanya kepada semua murid di kelas ini sedikit membuatku lega, juga mereka. Kesalahpahaman akhirnya terselesaikan. Namun aku sedikit merasa khawatir apakah mereka bisa menerimaku atau tidak. Semua murid di kelas ini mulai berbisik-bisik.
Tiba-tiba terdengar deritan kursi.
“Yoroshiku ne, Amamiya-kun.” Moriyama-san berdiri dari kursinya.
“Yoroshiku, Amamiya-kun.” Shimizu-san juga.
“Moriyama-san, Shimizu-san…” Aku terharu dan melihat ke arah mereka berdua.
“Maafkan aku, Amamiya atas perkataanku tadi dan yang kemarin-kemarin.”
Mizuno-san berdiri ke depanku dan meminta maaf kepadaku sambil membungkukkan sedikit badannya.
“Aku juga minta maaf.” Seto-san juga.
“Ah, iya, tidak apa-apa. Aku maafkan kok.”
Rasa hangat yang timbul di kelas ini membuatku tersenyum lepas.
Seketika suasana kelas menjadi sunyi kembali. Apa ada yang aneh dengan diriku sehingga mereka kaget dan tidak sanggup mengeluarkan suara lagi?
“Amamiya-kun, kamu tersenyum.”
Fuyukawa-san mengatakannya sambil melihat ke arahku dari arah mejanya itu. Dia juga tersenyum lepas.
“Ah… Rasanya lega setelah menceritakan semuanya. Minna-san, yoroshiku onegaishimasu.”
“Um, yoroshiku Amamiya-kun.”
“Yoroshiku, Amamiya.”
“Yoroshiku…”
Murid kelas ini mengatakan itu padaku dan kembali duduk di kursi mereka.
Pada akhirnya mereka semua telah mengetahui semuanya dan menerimaku sebagai teman sekelas mereka di kelas ini. Dengan ini, aku sudah menjalankan rencanaku dengan baik. Sekarang, aku bisa berteman dengan semua murid di kelas ini, termasuk Fuyukawa-san.
“Ah, ngomong-ngomong, Amamiya, kamu tinggal di mana di Tokyo? Kamu kan dari Prefektur Nagano.”
Mizuno-san yang sedang ngomong dengan Fuyukawa-san memalingkan pandangannya ke arahku.
“Di apartemen, daerah Daikanyamacho.”
“Eh, beneran? Dekat dengan rumah Yukina dong.”
“Ah , itu, aku pernah diantar pulang sampai ke rumah oleh Amamiya-kun saat kami bertemu di kawasan belanja.”
“Eee………”
Murid di kelas ini kaget. Aku juga kaget.
“Beneran itu, Amamiya?” Mata Mizuno-san memelototiku.
“Iya, benar. Kebetulan saja bertemu dengan Fuyukawa-san waktu aku sedang belanja. Lagian tidak baik membiarkan seorang gadis pulang sendirian di malam hari, jadi kuantar sampai rumahnya.”
“Kamu melakukan hal yang bagus, Amamiya.” Mizuno-san memujiku.
“Um, um. Laki-laki memang harus seperti itu.” Seto-san menambahkan.
“Sudah kukatakan sebelumnya, kan? Kalau Amamiya-kun itu orang yang baik, juga suka menolong.” Fuyukawa-san menambahkan lagi.
“He… Amamiya-kun orang yang baik, ya…”
“Dia juga pintar dan ramah…”
Beberapa murid perempuan kelas ini mulai membicarakanku. Padahal aku hanya melakukan hal yang wajar.
“Kamu tinggal bersama orang tuamu, Amamiya?”
Sifat Mizuno-san yang penasaran dan juga straight-forward itu membuatnya tidak canggung untuk menanyakan tentang diriku langsung. Karena dia sudah menanyakan tentang itu, maka aku juga harus menjawabnya.
“Ah, tidak. Aku hidup sendiri di sini.”
“Jadi orang tuamu tetap di Nagano, ya?”
“…Ah, mereka…”
Aku belum membicarakan tantang keluargaku kepada mereka semua. Aku tidak tahu harus menjawab apa sekarang. Mengatakan kebenarannya langsung dari mulutku sendiri sepertinya pilihan terbaik, daripada mereka mengetahuinya dari orang lain. Misalnya saat ada kegiatan yang meminta izin dari orang tua, mereka pasti akan mengetahuinya di saat itu karena guru-guru sudah tahu tentangku. Pasti guru mengatakan, “Amamiya, karena orang tuamu telah tiada, izinnya bisa dari kakek atau nenekmu.” Kira-kira begitu.
Kutarik nafas, lalu kukatakan hal yang sebenarnya. “Orang tuaku sudah tiada. Ayahku meninggal saat aku masih di kandungan ibuku, sedangkan ibuku meninggal saat aku berumur tujuh tahun.”
Kulihat ke arah teman sekelasku ini, mereka seperti terkejut mendengarnya.
“Ah, maaf sudah menanyakan hal itu padamu, Amamiya.”
Mizuno-san meminta maaf kepadaku sambil merapatkan kedua tangannya di depan wajahnya. Walaupun awalnya dia terkesan sedikit kasar, tapi dia memiliki hati yang lembut dan memiliki rasa sayang teman yang kuat. Karena itulah dia awalnya tidak ingin aku yang aneh dan tidak jelas ini berteman dengan Fuyukawa-san.
“Um, iya, tidak apa-apa. Aku hanya tidak ingin menyembunyikan apa pun dari kalian semua.”
“Sekali lagi maaf ya, Amamiya.”
“Um, iya… Kalau begitu, aku pulang duluan. Sampai jumpa besok.”
“Sampai jumpa.”
“Hati-hati, ya…”
Aku keluar dari pintu belakang kelas dan menghela nafas panjang. Rasanya hari ini sangat melelahkan. Menceritakan semua tentangku tadi benar-benar membuatku kehabisan tenanga. Namun aku benar-benar senang dengan itu semua. Mereka bisa menerimaku. Di tahun ini pasti lebih baik daripada tahun lalu. Aku percaya itu. Saatnya pulang…
“Sepertinya kamu telah melakukan tugasmu dengan sempurna, Amamiya-kun.”
Terdengar suara wanita yang kukenal dari arah kanan yang sedikit membuatku terkejut. Suara itu berasal dari guru kami, Hiratsuka-sensei. Sepertinya Sensei melihat apa yang terjadi tadi.
“Ah, Hiratsuka-sensei, ya… Jangan mengejutkan saya seperti itu.”
“Ahaha, maaf. Sepertinya mereka sudah bisa menerimamu. Yokatta ne.”
“Iya, Sensei.”
“Tahun ini pasti kamu bisa menikmati masa SMA-mu dengan menyenangkan.”
“Ya, semoga saja. Ngomong-ngomong, ada perlu dengan saya, sensei?”
“Ah, iya, ini mengenai Klub Bantuan. Bisa ke ruang konseling sekarang?”
“Sekarang? Tidak bisa besok, Sensei? Rasanya saya lelah sekali hari ini.”
“Mm… Baiklah. Besok setelah pulang sekolah di ruang konseling, ya...”
“Ruang konseling di mana, Sensei?”
“Oh iya, kamu belum tahu, ya. Ruangnya di sebelah ruang guru. Tertulis Ruang Bimbingan Konseling.”
“Baiklah. Kalau begitu, saya pulang dulu.”
“Hati-hati, Amamiya-kun.”
Setelah berbicara dengan Hiratsuka-sensei dan mengatakan selamat tinggal, aku langsung pulang ke apartemen.
Kejadian hari ini benar-benar telah membuka lembaran baru bagiku. Masa SMA-ku seperti direset. Seperti mendapatkan kesempatan kedua untuk bisa bersekolah dan menikmati masa SMA-ku di sini.
Ngomong-ngomong, aku seperti melupakan sesuatu. Apa itu ya? Sesuatu yang penting untuk kelas 2-D. Mm…? Oh iya, aku ingat. Jadwal piket. Seharusnya setelah pulang sekolah hari ini aku membersihkan kelas. Apa boleh buat, besok aku datang pagi-pagi ke sekolah.