
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Hari di mana para pelajar bisa bersantai dan bermalas-malasan.
Hari ini adalah hari Sabtu. Setelah lima hari pergi ke sekolah, akhirnya tiba hari Sabtu yang mana tidak ada sekolah dan besok hari Minggu. Akhir pekan untuk beristirahat, bersantai, dan bermalas-malasan. Pasti ada orang yang berpikiran seperti itu. Tapi, tidak bagiku.
Hari ini aku bangun pagi-pagi dan mulai mencuci pakaian setelah selesai sarapan. Apartemen ini menyediakan mesin cuci di setiap kamarnya yang terletak di kamar mandi. Karena adanya mesin cuci itu, kamar mandinya bisa dikatakan sempit. Namun, bukan masalah untuk orang sepertiku. Aku buru-buru mencuci pakaianku karena besok ada kemungkinan hujan. Bisa gawat kalau tidak mencuci hari ini karena aku mengeringkan pakaianku dengan cara menjemurnya di beranda, memanfaatkan sinar matahari dan hembusan angin. Mesin cuci yang ada di sini termasuk model lama yang prosesnya berakhir dengan pemerasan untuk mengurangi kadar air di pakaian agar waktu mengeringkan saat menjemurnya lebih cepat.
Setelah mencuci, aku istirahat sebentar sambil meminum teh. Sekarang sudah masuk ke pertengahan bulan April. Bunga sakura telah gugur dan suhu udara mulai naik perlahan. Walaupun begitu, angin yang berhembus di bulan April masih terasa sedikit sejuk. Pintu beranda yang terbuka membuat angin masuk ke kamarku sambil membawa aroma musim semi yang masih tertinggal.
Akhir pekan bagi orang yang tinggal sendirian di kota besar tidaklah menyenangkan seperti apa yang dipikirkan orang-orang. Bangun pagi-pagi, membersihkan kamar, mencuci, menyetrika, dan sebagainya dilakukan seorang diri. Perlu keterampilan untuk bisa melakukannya semua itu.
Ngomong-ngomong soal mermbersihkan kamar, aku lupa kalau aku belum membersihkan kamar ini. Mungkin, karena aku sedikit panik karena ada kemungkinan hujan, jadi kupusatkan pikiran dan perhatianku kepada mencuci pakaian. Dan akhirnya, tugas mencuci sekarang telah selesai.
Aku menaruh gelas teh tadi ke dapur dan sekarang memulai untuk membersihkan kamar ini. Kuambil kain yang ada di bawah lemari dapur dan mulai membersihkan dapur. Aku harus membeli cairan pembersih saat belanja nanti.
Setelah selesai membersihkan area dapur, selanjutnya membersihkan bagian tengah kamar ini, yaitu di daerah tempat tidur. Kupindahkan meja yang ada di sana dan kumiringkan di dekat dinding. Karpet yang berada di bawah meja itu kubawa ke beranda, kubersihkan dan kujemur. Setelah itu, aku mulai mengelap lantai kamar ini dengan kain. Dan lagi, aku harus membeli cairan pembersih lantai. Satu lagi, cairan pembersih kaca. Pintu kaca ke beranda sedikit kotor, mungkin karena hujan kemarin. Bertambahlah barang apa yang harus kubeli saat belanja nanti. Mm… kapan seharusnya aku belanja, sekarang itu muncul di kepalaku. Hidup sendiri bukanlah hal yang menyenangkan.
Setelah selesai membersihkan kamar, kutata semua barang-barangku yang ada di kamar ini agar terlihat rapi dan juga agar aku mudah mengambil sesuatu yang kuperlukan. Buku-buku juga sudah rapi.
Tanpa kusadari, sekarang jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Waktu berjalan begitu cepat. Padahal sedikit yang kulakukan.
Inilah mengapa orang-orang tidak suka bersih-bersih. Kenapa? Karena kita tidak bisa berhenti sebelum kita mendapatkan apa yang dikatakan “bersih” tersebut. Sejak awal, manusia itu makhluk yang suka dengan kebersihan karena mereka makhluk berakal. Mereka tahu, bersih itu sehat. Kalau ada manusia yang tidak suka dengan kebersihan, berarti akalnya sudah hilang, sudah tidak berakal. Bisa saja dianggap sebagai hewan.
Tidak lama kemudian, kegiatan bersih-bersih kamar apartemen selesai. Akhirnya aku bisa beristirahat dari kegiatan yang melelahkan ini.
Haaaaaaaa……… kuhembuskan napas seperti orang tua dan bersandar di pinggir tempat tidur karena di kamar ini tidak ada kursi atau sofa. Teringat akhir pekanku saat masih berada di Nagano. Biasanya aku hanya membantu kakek dan nenek dan kadang-kadang pergi bermain bersama temanku. Sejak pindah ke sini, aku masih belum terlalu tahu daerah ini sehingga belum tahu tempat-tempat yang dikunjungi anak-anak muda seumuranku untuk menghabiskan waktu akhir pekannya.
Daripada memikirkan itu, lebih baik aku siap-siap masak untuk makan siang. Ponselku berbunyi saat aku hendak ke dapur. Uwa, dari nomor yang tidak dikenal. Siapa ini tiba-tiba telepon?
Lebih baik kuabaikan saja, mungkin saja orang iseng. Tapi, nomor itu terus-terusan meneleponku. Aaarrghh… lebih baik kuangkat saja.
“Halo.”
「”Amamiya?”」kata dari orang yang meneleponku.
Sepertinya orang ini mencariku. Dari suaranya terdengar seperti suara orang yang kukenal. Karena berbicara lewat telepon, aku sedikit ragu.
“Iya, ini dengan Amamiya. Anda siapa?”
「”Ini aku, Hiroaki. Masa’ enggak kenal dengan teman sendiri?”」
Ternyata Hiroaki yang meneleponku. Pantas saja suaranya sedikit aku kenal. Tapi, hei, dari mana dia mendapatkan nomor ponselku?
“Oh, kamu, Hiroaki. Kupikir siapa tadi. Dari mana kamu dapatkan nomor ponselku?”
「”Ah, itu… Da-dari guru. Dari Hiratsuka-sensei.”」
“Mm… Beneran itu?”
「”Be-beneran kok.”」
” Um, ya sudah. Jadi, ada perlu apa?”
「”Kamu di mana sekarang?”」
“Di apartemen.”
「”Sedang apa?”」
“Mau masak untuk makan siang.”
「“Oh… Kalau begitu, ayo makan siang di luar.”」
“Eeh… Tidak usah, Hiroaki. Aku makan di rumah aja.”
「”Waktu itu saat di kantin sekolah aku pernah bilang kalau akan mentraktirmu makan, kan, Amamiya?”」
“Um, pernah.”
「"Karena itu, kutraktir makan siang hari ini. Lagian kamu pasti sedang tidak melakakukan apapun, kan? Sekalian menghabiskan waktu akhir pekanmu juga.”」
Tawaran yang diberikan Hiroaki memiliki keuntungan bagiku. Setidaknya aku bisa mengetahui tempat-tempat baru
“Mm… Sebenarnya sih aku mau saja. Tapi…”
「”Tapi kenapa? Ayo pergi.”」
“Aku baru saja mencuci pakaian dan bersih-bersih kamar. Agak sedikit lelah. Kalau kamu ada waktu besok…”
「“Ya sudah, besok ya! Janji ya?”」
“Baiklah. Kalau begitu, besok.”
「“Ya, nanti kuberitahu pukul berapa dan tempat kita bertemu.”」
“Oke, kirim saja lewat LINE. Cari saja akunku dengan nomor ponselku itu.”
「“Oke. Kalau begitu, sampai nanti.”」
“Um.”
Setelah selesai bicara, kutup ponselku.
Jadi, besok aku ada janji dengan Hiroaki.
Yosh, saatnya masak untuk makan siang. kulihat isi kulkas, ikan kalengan, telur, dan beberapa jenis sayuran. Ternyata dagingnya sudah habis. Kuambil apa saja yang ada di dalamnya dan langsung mulai memasak. Selanjutnya, makan, cuci piring, dan tidur siang.
Ya, tidur siang kebutuhan seorang pelajar. Mengistirahatkan otak sangatlah perlu untuk seorang pelajar. Oleh karena itu, gunakanlah sedikit waktumu untuk tidur siang. Apakah itu lima menit, 10 menit, 15 menit, yang penting tidur saja, di mana saja.
Aku bangun pada saat sore hore. Warna langit sudah menjadi oranye dan matahari sudah berada di ufuk barat yang tidak lama lagi akan tenggelam. Mungkin 90-an menit lagi. Langsung kucek cucianku tadi di beranda. Ternyata sudah kering. Kumasukkan ke dalam kamar, juga karpet yang tadi langsung kurentangkan di bawah meja.
Kuambil setrika dari dalam lemari dan sekarang mulai menyetrika pakaianku ini. Tidak terlalu banyak karena aku tidak banyak memakai pakaian bebas untuk keluar rumah. Kusetrika satu per satu, dari baju hingga celana. Setelah selesai, pakaian bebas kulipat, kugantung seragam sekolah menggunakan hanger, dan meletakkan semuanya ke dalam lemari pakaian. Akhirnya selesai.
Kulihat jam di ponselku. Ternyata sudah pukul 6 sore. Kuhabiskan waktuku sebelum malam datang dengan memandangi pemandangan luar dari beranda. Suasana sore yang terlihat dari sini dengan hembusan angin terasa menyenangkan. Terlihat orang-orang yang sedang kembali ke rumah mereka. Sepertinya baru saja menghabiskan waktunya hari ini. Ada yang berjalan sendirian dan ada juga berdua. Dari atas sini memang tidak terlihat dengan jelas ekspresi orang-orang yang sedang berjalan bedua, apakah itu teman mereka ataupun pacar mereka. Tapi, dari gerakan badannya megatakan kalau orang-orang itu dalam perasaan yang senang.
Sekali lagi terpikirkan olehku, sepertinya menghabiskan waktu akhir pekan bersama teman pasti sangat menyenangkan.
Matahari semakin tenggelam di ufuk barat. Warna langit yang oranye tadinya sekarang menjadi biru kehitaman. Akhirnya malam pun tiba. Aku kembali ke kamar dan mengunci pintu ke beranda ini.
Aku langsung bersiap-siap masak untuk makan malam. Sebenarnya ada yang ingin kulakukan saat malam nanti. Setelah itu makan dan mencuci peralatan makan dan masak. Meletakkan pakaian kotor di keranjang untuk pakaian kotor dan sekarang saatnya mandi. Aaah… segarnya. Setelah itu, langsung memakai pakaian. Kalau tidak salah di lemari tempat setrika tadi ada kantung kain untuk belanja. Kucoba cari di dalam lemari itu dan memang ada. Yosha… saatnya pergi ke kawasan belanja.
Pergi ke kawasan belanja saat malam hari merupakan hal yang sangat bagus karena para penjual memberikan diskon untuk barang-barang yang dijualnya. Walaupun tidak semua toko di sana, yang penting setidaknya aku bisa mendapatkan barang diskon, sehingga pengeluaran uang tidak terlalu banyak. Lagian, aku berencana pergi dengan Hiroaki besok.
Aku berjalan kaki ke kawasan belanja yang pernah kukunjungi itu, berada di kota sebelah. Tidak terlalu jauh menurutku. Mungkin hanya sekitar 20 menit dengan berjalan kaki, sekalian dengan menikmati suasana malam. Suhu di malam hari ini sedikit sejuk. Maklum saja masih bulan April. Terus berjalan dengan ditemani cahaya lampu di trotoar hingga akhirnya tiba juga di kawasan belanja. Uwaaa, ternyata sangat ramai. Sepertinya tempat akan menjadi tempat pertempuran memburu diskonan.
Aku melangkah masuk ke kawasan belanja ini. Ternyata toko-toko mulai memberika diskon dari pukul 9 malam, di saat akan tutup. Sedangkan sekarang masih pukul 8:25 malam. Harus menunggu kalau begitu. Karena masih ada waktu, mengelilingi tempat ini mungkin lebih baik. Ya, sekalian mencari toko yang menjual peralatan rumah tangga. Aku perlu membeli cairan pembersih. Pembersih lantai, dapur, dan kaca. Sangat bagus kalau ada cairan pembersih 3 in 1, jadi tidak perlu mengeluarkan uang lebih.
Terdapat suatu toko yang menjual alat-alat rumah tangga. Aku langsung masuk ke dalam dan mencari cairan pembersih. Beruntungnya, cairan pembersih 3 in 1 yang kupikirkan tadi ada di sini. Tinggal satu botol saja. Sepertinya lumayan beruntung malam ini. Setelah bayar, kumasukkan ke kantung kain yang kubawa tadi.
Oh tidak. Semakin banyak orang yang datang ke kawasan belanja ini yang didominasi oleh ibu-ibu. Sudah pasti tempat ini akan menjadi kawasan pertempuran untuk berburu diskonan.
Aku kembali ke jalan utama kawasan belanja untuk menunggu jam diskonnya dimulai. Saat aku sedang berjalan, tiba-tiba ada orang yang memanggilku dari arah belakang. “Amamiya-kun?” Suara itu berasal dari seorang gadis. Aku berbalik ke arah suara itu berasal dan mendapati kalau suara itu dari Fuyukawa-san.
“Fuyukawa-san?”
“Selamat malam, Amamiya-kun. Sedang belanja?”
“Selamat malam. Iya. Fuyukawa-san sendiri sedang apa?”
“Tentu saja mau belanja juga.”
“Begitu ya. Sama dong.”
“Iya, sama.”
“…”
“…”
Kami terdiam, membuat keadaan kami menjadi canggung untuk berbicara lebih dalam. Kami tidak tahu mau membicarakan tentang apa. Tentu saja, aku masih canggung berbicara dengan Fuyukawa-san. Walaupun kami telah memutuskan untuk berteman. Meskipun begitu, keputusan kami untuk berteman menjadi sedikit masalah di mata teman-temannya Fuyukawa-san. Mungkin aku harus minta maaf kepadanya.
Saat kuingin berkata sesuatu untuk menghilangkan diamnya kami ini, terdengar suara orang yang berteriak, “Diskon! Diskon untuk semua jenis sayur dan buah,” dari arah toko sayur dan buah. Karena aku tidak ingin melewatkan kesempatan ini, aku harus segera ke sana untuk membeli apa yang kubutuhkan.
“Fuyukawa-san, ayo kita belanja dulu,” kataku kepada Fuyukawa-san.
“Ah, iya. Ayo kita pergi.”
Aku dan Fuyukawa-san pergi ke toko itu dan mulai berebut sayur dan buah. Kami merasa kewalahan dengan ibu-ibu yang ada di sini. Seperti yang diharapkan dari ibu-ibu, tenaga mereka sangat kuat. Kulihat Fuyukawa-san terdorong karena gerakan dari badan ibu-ibu ini sungguh liar.
“Fuyukawa-san, Baik-baik saja?”
“Aku baik-baik saja.”
“Hati-hati, Fuyukawa-san.”
“Amamiya-kun juga.”
Fuyukawa-san anggota klub bola basket, sudah pasti dia memiliki fisik yang kuat. Tapi, tidak sekuat ibu-ibu rumah tangga di sini. Wajar kalau ada sebutan “Ibu adalah makhluk terkuat di bumi.” Kami tidak ingin pulang dengan tangan kosong, oleh karena itu kami menerobos sedikit demi sedikit hingga dapat mengambil sayuran atau buah yang kami inginkan.
Aku mendapatkan 3 wortel, 3 kentang, 4 bawang bombai, 2 bawang perai, 1 kubis, dan 2 tangkai selada. Um, setidaknya ini sudah cukup untuk orang yang hidup sendiri. Maklum saja, lawanku adalah ibu-ibu. Aku segera keluar dari medan pertempuran dan menuju ke arah kasir untuk membayar. Fuyukawa-san masih berusaha mengambil beberapa sayur dan buah. Fuyukawa-san, fight…!
Tidak lama kemudian semua sayur dan buah telah habis. Fuyukawa-san menuju ke kasir dan mengantre untuk membayar. Kutunggu Fuyukawa-san di depan toko.
Fuyukawa-san keluar dari toko itu dengan memegang kantung plastik berisi buah dan sayur yang dibelinya, sedangkan aku hanya memasukkannya ke dalam kantung dari kain ini. Menghemat pemakaian plastik salah satu satu cara untuk menjaga planet ini. Mengingat sampah plastik masih menjadi salah satu hal serius yang harus ditangani.
“Amamiya-kun, masih di sini?”
“Ah, iya, aku menunggumu, Fuyukawa-san.”
“Eh, ke-kenapa?”
“Ada yang ingin kubicarakan sambil pulang.”
“Oh, begitu ya...”
Aku dan Fuyukawa-san meninggalkan kawasan belanja karena tidak ada yang akan kami beli lagi. Arah pulang kami searah, jadi ini kesempatan yang bagus untukku untuk bicara dengannya. Kulihat ke arah Fuyukawa-san, dia sedikit menundukkan pandangannya. Baiklah, kuhilangkan rasa canggungku saat berbicara dengannya. Ini juga demi kebaikannya.
“Fuyukawa-san, tentang kemarin, sepertinya kita memang tidak usah berteman. Maksudku, kita cukup jadi teman sekelas saja.”
“Kenapa jadi begitu, Amamiya-kun?”
Suara Fuyukawa-san sedikit lebih rendah daripada biasanya. Suara ini sama seperti kemarin saat dia merasa sedikit sedih.
“Begini, temanmu yang namanya Atsuko-san dan Misa-san itu, mereka tidak ingin melihatmu berteman denganku. Dan juga, sepertinya hubungan kalian di hari itu sedikit berbeda daripada biasanya. Aku tidak mau hubungan kalian hancur karena kamu berteman baik denganku. Aku juga tidak ingin mereka memandangiku dengan tatapan seperti merendahkanku selalu. Mungkin ini jalan terbaik.”
“Bukan! Itu bukan jalan terbaik.” Fuyukawa-san menjawabnya dengan suara yang sedikit lantang. Nada suara dari suatu penolakan. Dia berhenti berjalan, aku pun melakukan hal yang sama.
“Tapi…” Saat aku hendak bicara, Fuyukawa-san memotongnya.
“Amamiya-kun, mereka hanya belum mengenalmu saja.”
“Bukannya Fuyukawa-san juga belum mengenalku?”
“Karena itulah aku ingin mengenalmu.”
Kata-kata yang keluar dari mulutnya itu berdengung dengan kencang di telingaku. Sampai saat ini yang sudah mengetahui beberapa hal tentangku hanya Namikawa-san, Kayano-san, dan Hiroaki. Aku belum memberitahu Fuyukawa-san semuanya tentangku, bahkan tentang kenapa aku bisa dipindahkan ke Keiyou-kou.
“Tapi tetap saja, ada orang yang tidak senang dengan itu, Fuyukawa-san. Dari awal seharusnya kamu tidak berbicara denganku dan juga tidak merekomendasikanku menjadi perwakilan kelas.”
“Bukannya Amamiya-kun juga ingin berteman denganku?”
“Tentu saja. Tentu saja aku ingin berteman deganmu, Fuyukawa-san. Kamu orang pertama yang menyapaku dengan senyum indahmu itu. Tapi, kalau begini jadinya, lebih baik aku…”
“Itu keinginanmu kan, Amamiya-kun?” Fuyukawa-san memotong kata-kataku lagi.
“Ah, iya.”
“Kalau begitu, ya sudah. Bukannya kita memiliki keinginan yang sama? Ngga perlu menanggapi pemikiran orang lain.”
“Tapi tetap saja, hubunganmu dengan mereka akan…”
“Itu ngga akan terjadi. Saat mereka tahu Amamiya-kun orangnya seperti apa.” Fuyukawa-san mengatakannya dengan nada suara biasanya, ceria dan positif.
Sedikit terpikir olehku cara untuk bisa membuat mereka mengubah pandangan mereka terhadap diriku.
“Mm… mungkin aku menemukan cara untuk mengubah pandangan mereka terhadap diriku.”
“Beneran? Gimana?” Fuyukawa-san terlihat penasaran.
“Ujian tengah semester.”
“Mm? Kenapa dengan ujian tengah semester?”
“Tunggu saja saat itu”
“Eh, aku penasaran.”
“Tunggu saja, Fuyukawa-san. Jalan terbaik itu tidak hanya satu ternyata.”
“Hey Amamiya-kun. Hey…”
Aku hanya tersenyum melihatnya penasaran seperti itu. Kami pun melanjutkan perjalanan kami untuk pulang.
Tujuanku nanti itu semuanya untuk Fuyukawa-san. Bagaimana mungkin aku membiarkan orang-orang menjadi tidak menyukai dirinya lagi karena dia berteman denganku. Cukup aneh bila aku tidak melakukan apa-apa. Oleh karena itu di saat ujian semester nanti, akan kuubah cara mereka memandangiku dengan menunjukkan siapa diriku yang sebenarnya. Walaupun mungkin akan terjadi sedikit rasa curiga nantinya. Ah, tidak. Setidaknya aku sekarang sudah mendapatkan caranya. Apa yang terjadi nanti, akan kuselesaikan nanti.
“Terima kasih ya, Fuyukawa-san.”
“Eh, kenapa?”
“Eh, kenapa ya?”
“Eeeh…”
Aku tidak bisa bilang terima kasih karena tidak menyerah tentangku. Memangnya aku ini siapanya Fuyukawa-san? Bisa-bisa terjadi kesalahpahaman.
“Ngomong-ngomong, bulannya indah ya, Amamiya-kun?” Fuyukawa-san mengatakannya sambil melihat ke arah bulan.
“Iya, indah,” kataku sambil melihat ke arah bulan juga.
Aku tidak sadar kalau ada bulan purnama malam ini. Mangetsu. Bulan penuh bersinar terang. Bulan purnama pertamaku di Tokyo. Bulan purnama yang dikelilingi suasana kota yang ramai.
Karena sudah malam, aku tidak bisa membiarkan Fuyukawa-san pulang sendirian. Jadi kucoba menawarkan untuk mengantarnya pulang ke rumah. Lagi pula jarak tempatku dengan tempatnya sepertinya tidak jauh.
“Fuyukawa-san?”
“Ya, Amamiya-kun?”
“Karena sudah malam, aku antar sampai ke rumahmu.”
“Eh, apa ngga apa-apa?”
“Tidak apa-apa kok.”
“Um, baiklah.”
Aku berjalan di samping Fuyukawa-san, mengikutinya sampai tiba di rumahnya. Aku terkejut saat tiba di depan rumahnya. Apa ini? Rumahnya sangat besar dan halamannya juga luas.
“Makasih, Amamiya-kun, sudah mengantarkanku.”
“Ah, bukan apa-apa. Kalau begitu, aku pulang dulu.”
Saat aku hendak pergi, tiba-tiba seorang pria keluar dari dalam rumah menuju depan rumah tempat Fuyukawa-san dan diriku berada. Sepertinya orang ini ayahnya Fuyukawa-san.
“Yukina, ke mana saja sampai jam segini baru pulang? Papa khawatir, tahu!”
“Yukina cuma pergi belanja. Lagian Papa juga tidak bisa belanja karena sibuk dengan kerjaannya Papa, kan? Makanya biar Yukina saja yang pergi belanja.”
“Tetap saja kabarin ke Papa dong. Papa kan gak bisa biarin kamu keluar malam-malam begini sendirian.”
“Ah, um. Maaf Pa...”
“Iya, iya. Dan, siapa laki-laki ini, Yukina?”
“Ini Amamiya Ryuki-kun. Teman sekelasku.”
“Ah, selamat malam.” Aku membungkukkan badanku ke arah ayahnya Fuyukawa-san.
“Kenapa dia ada di sini?”
“Amamiya-kun mengantarkan Yukina pulang.”
“Begitu ya. Terima kasih Amamiya-kun.”
“Ah, ini bukan apa-apa. Tempat saya juga tidak jauh dari sini. Kalau begitu, saya pamit. Oyasumi.”
“Oyasumi.”
“Oyasumi.”
Setelah Fuyukawa-san dan Ayahnya mengatakan itu, mereka masuk ke dalam rumah dan aku terus berjalan menuju arah apartemenku. Aku belum terlalu hafal jalan di tempat ini, tapi aku masih ingat jalan yang kulalui tadi hingga sampai ke rumah Fuyukawa-san. Terus berjalan hingga akhirnya aku sampai ke jalan yang terbagi dua yang memisahkan arah rumah Fuyukawa-san dan apartemenku.
“Tadaima,” kataku saat tiba di kamar apartemen. Huah, rasanya melelahkan melawan ibu-ibu yang memperebutkan diskonan. Sayuran yang kubeli tadi langsung kutaruh di kulkas. Setelah itu, mengganti pakaianku dengan pakaian tidur dan langsung berbaring di tempat tidur.
Kulihat ponselku yang dari tadi tidak kusentuh saat terkahir kali di kawasan belanja hanya untuk melihat jam. Ternyata ada beberapa miss-call dan pesan masuk di LINE. Ternyata dari Hiroaki. Lebih baik aku simpan dulu kontaknya.
Hiroaki memberitahuku tempat berkumpul untuk besok di patung Hachiko yang letaknnya di depan Stasiun Shibuya, pukul 11 siang. Kubalas dengan “Baiklah. Sampai jumpa besok.”
Pukul 11 ya? Kupikir dia akan mengajakku pukul 10. Menurutku waktunya sudah pas karena aku hidup sendirian di Tokyo. Dia sangat perhatian ternyata. Sungguh orang yang baik. Katanya dia akan mentraktirku makan siang. Di jam itu sangat pas karena hampir jam makan siang.
Tiba-tiba ponselku bergetar. Sepertinya ada pesan masuk lewat LINE. Apa dari Hiroaki lagi?
Kulihat nama pengirimnya, Fuyukawa Yukina. Eh, ada angin apa yang membuatnya mengirimiku pesan? Kubuka LINE dan kubaca pesannya.
Amamiya-kun, terima kasih sudah mengantarkanku pulang.
Selamat beristirahat.
Sampai jumpa di sekolah.
Sama-sama.
Selamat beristirahat, Fuyukawa-san.
Pesan pertama dari Fuyukawa-san. Walaupun hari ini melelahkan, tapi ada hal baik yang membuatku tidak merasakan terlalu lelah.
Tentang mengubah cara pandagan murid kelas terhadapku nanti, kulakukan itu bukan demi diriku seorang, tapi sebagian besar demi Fuyukawa-san. Hubungan antara diriku dan dirinya membuat murid-murid di sekolah, khususnya kelas 2-D, mulai mengubah cara pandang mereka terhadap Fuyukawa-san. Aku yakin cara ini akan berhasil. Tidak, pasti berhasil. Semua demi Fuyukawa-san.
Aku bangun dari tempat tidurku untuk mematikan lampu kamar.
Saatnya tidur.
Oyasumi.
***
Pagi yang cerah.
Di akhir pekan, aku bangun dengan sendirinya tanpa alarm agar mendapatkan waktu tidur sesuai yang diperlukan tubuhku. Seperti biasa, habis bangun langsung merapikan tempat tidur, meregangkan tubuh, mencuci muka, dan olahraga kecil. Setelah itu barulah masak untuk sarapan.
Hari ini sudah hari Minggu. Aku berjanji akan keluar dengan Hiroaki hari ini, pukul 11 siang. Sekarang baru pukul 9 pagi, masih ada waktu untuk bersantai-santai. Membaca merupakan salah satu cara terbaik untuk mempercepat waktu berjalan. Kuambil novel yang kupinjam dari perpustakaan sekolah, kuletakkan di meja dan kubaca. Satu per satu halaman novel ini kubaca sampai membuatku masuk ke dunia sastra. Sama sekali tidak merasakan apa-apa di sekitarku. Saat ini aku sedang dalam keadaan membaca dengan konsentrasi tinggi. Aku memiliki ritme dalam membaca, apakah itu buku pelajaran sekolah, novel, ataupun komik. Kubalik satu per satu halaman, lagi dan lagi. Kesadaranku kembali saat punggungku terasa pegal karena telah duduk dalam waktu yang lama.
Kulihat ponselku yang berada di atas meja ini. Ada pesan dari Hiroaki di LINE.
Amamiya.
Jangan lupa, pukul 11 aku tunggu di Hachiko.
Kamu tahu tempatnya, kan?
Baiklah.
Sepertinya aku tahu.
Akan kutelepon kalau aku tersesat.
Oke.
Sampai nanti.
Uwa, ternyata sudah pukul 10.15 dan aku masih belum bergerak sedikitpun. Lebih baik kucukupkan dahulu membaca novel ini dan bersiap-siap untuk menemui Hiroaki di Shibuya. Aku segera mengganti pakaianku dengan pakaian bebas. Celana panjang hitam, baju kamus berwana putih dengan blazer hitam, ditambah dengan sepatu berwarna hitam-putih. Karena masih terasa suasana musim semi, aku memakai pakaian seperti ini. Aku suka memakai blazer. Mungkin alasan lain aku mencoba ujian masuk Keiyou-kou karena seragamnya berupa blazer berwana hitam yang terlihat keren.
Setelah mengecek semua pintu telah terkunci dengan baik, aku segera turun dari lantai lima apartemen ini dan berjalan ke arah kota yaitu Shibuya, tempat patung Hachiko berada.
Hachiko, seekor anjing yang berjenis Akita, yang mati karena menunggu kepulangan majikannya. Saat itu, Hachiko menunggu kepulangan majikannya yang bekerja di Universitas Tokyo. Tapi, majikannya meninggal karena terkena serangan jantung sebelum sempat pulang ke Shibuya. Hachiko terus menunggu majikannya, walaupun majikannya telah tiada, selama sembilan tahun. Untuk mengenang dan menghormati sosok Hachiko, dibuatlah patung Hachiko di depan Stasiun Shibuya.
Aku sendiri belum pernah melihatnya langsung. Jadi, sedikit menantikannya. Aku terus berjalan menyusuri trotor sambil melihat petunjuk arah hingga akhirnya aku tiba di Stasiun Shibuya. Selanjutnya, kucari di mana patung Hachiko berada. Patung itu ternyata terletak di pintu keluar Stasiun Shibuya, seperti memperlihatkan kalau anjing itu sedang menunggu kepulangan majikannya.
Patung Hachiko sendiri menjadi populer sebagai lokasi wisata dan tempat untuk berkumpul. Pantas saja Hiroaki memilih tempat ini untuk bertemu. Tempatnya juga mudah dicari.
Aku tiba sedikit lebih cepat daripada waktu yang dijanjikan. Ya, tidak apa-apa. Sudah menjadi norma untuk datang lebih awal jika berjanji.
Banyak orang yang berkumpul di patung Hachiko ini. Seperti yang diharapkan dari tempat yang populer. 10 menit lagi pukul 11, aku hanya berdiri sambil melihat ke arah pintu keluar Stasiun Shibuya. Detik demi detik dan menit demi menit berlalu. Kulihat Hiroaki keluar dari arah pintu keluar Stasiun Shibuya. Dia memakai celana jeans panjang berwarna biru kehitaman dan memakai jaket hoodie berwarna biru.
Hiroaki menyadari kehadiranku di patung Hachiko dan segera melangkahkan kakinya ke sini. Ternyata dia memakai kacamata dengan frame hitam. Kupikir dia hanya mengenakan kacamata saat di sekolah saja, ternyata tidak.
“Yo, Amamiya. Cepat juga kamu datang.”
“Yo, Hiroaki. Bukannya datang lebih awal sudah menjadi keharusan kalau sudah berjanji?”
“Ahaha, benar juga.” Hiroaki mengambil ponselnya dari kantong celananya, lalu menambahkan, “Aku tepat waktu kalau begitu.”
“Um, ya. Jadi, ke mana kita sekarang?”
“Hm… Apa kamu sudah pernah ke Akihabara?”
“Tentu saja belum. Ini juga pertama kalinya aku ke Shibuya. Hampir saja tersesat tadi.”
“Kalau begitu, ayo kita jalan-jalan di Shibuya dulu. Terus ke Akiba.”
“Baiklah. Kuserahkan padamu, Hiroaki.”
“Ya, serahkan padaku. Ayo kita ke Center Gai dulu.”
“Center Gai?”
“Ikut saja. Ayo”
“Baiklah.”
Aku dan Hiroaki pergi meninggalkan Patung Hachiko menuju lokasi yang dinamakan Center Gai. Kami melewati persimpangan Shibuya yang terkenal dengan keramaian orangnya dalam menyeberang. Kami berbaur dengan orang-orang di sini sambil menunggu lampu hijau untuk menyeberang. Saat lampu berubah menjadi hijau, kerumunan orang-orang ini menyeberangi jalan. Cukup padat. Aku mengikuti Hiroaki dari belakang hingga pandanganku tertuju ke gedung QFRONT yang sangat besar dan tinggi. Pemandangan di kota memang hebat. Penuh dengan gedung-gedung tinggi dan besar.
Hiroaki menuju jalan di antara Gedung QFRONT dan Toko Buku Tanseido. Jalan ini terbentang dari persimpangan Shibuya. Begitu banyak orang-orang di sini yang hampir membuatku kehilangan arahnya Hiroaki. Aku yang penasaran bertanya ke Hiroaki yang dari tadi dengan santainya berjalan. Apa dia lupa kalau aku pertama kali ke sini?
“Hey, Hiroaki, Center Gai itu di sini? Begitu banyak toko di sini, juga banyak sekali orang.”
“Iya. Daerah pertokoan ramai yang terbentang di area ini yang panjangnya sampai 300 meter. Bisa kamu lihat kalau ada bermacam-macam toko, tempat karaoke, restoran, dan sebagainya. Tempat ini sangat populer.”
“Oh, begitu ya. Padat sekali di sini ya.”
“Tentu saja, karena populer. Dan Amamiya, kenapa kamu tidak tahu tempat ini?”
“Um, ya, mungkin karena aku anak desa?”
“Kenapa kamu malah bertanya kepadaku?”
“Bercanda. Jadi, ke mana kita sekarang?”
“Mm... Keliling saja dulu. Kamu baru pertama kali ke sini, kan?”
“Benar juga. Baiklah kalau begitu.”
Kami lanjut melangkahkan kami kami menyusuri jalan di Center Gai ini. Ada banyak sekali toko, dari toko pakaian, toko sepatu, toko jam, toko obat, restoran, kafe, mini market, tempat karaoke, dan lainnya. Segala kebutuhan mungkin ada di sini. Tidak, pasti ada semua. Aku terus mengikuti Hiroaki yang terkadang aku sendiri lupa kalau bersama dengannya karena kawasan ini dipenuhi lautan manusia. Terlebih lagi ini hari Minggu. Wajar seramai ini.
Kami belok kiri, belok kanan, seakan-akan memutari Center Gai. Tapi, sebenarnya apa yang mau Hiroaki lakukan? Dari tadi kami hanya putar-putar. Apa dia cuma ingin menunjukkan betapa hebatnya kawasan ini? Berdasarkan pengamatanku saat tiba di sini, memang kawasan ini sangat hebat. Mungkin aku bisa pergi sendiri ke sini lain waktu.
Setelah belasan menit kami berjalan, walaupun hanya memutari tempat ini, lewat kiri, lewat kanan, seperti kembali ke tempat awal kami berjalan walaupun aku tidak tahu juga itu. Kami tiba di depan bioskop. “Amamiya, ayo nonton film,” kata Hiroaki sambil melihat ke arahku yang berada di belakangnya.
Nonton film, ya? Bukan ide yang buruk. Kami juga masih punya banyak waktu. Lagi pula juga hari Minggu, bersenang-senang saja terus sampai puas. Besok sudah mulai sekolah. Um, Um.
“Film, ya? Kira-kira ada film yang bagus? Aku belum pernah ke bioskop sebelumnya.”
“Serius? Kalau begitu, ini yang pertama. Ayo kita masuk saja dulu.”
“Baiklah.”
Aku mengikuti Hiroaki masuk ke bioskop. Kulihat ada beberapa poster dari film yang akan diputar di bioskop ini. Hiroaki sedang memasang wajah serius sambil melihat daftar film yang akan diputar. Sepertinya dia sedang menyeleksi film mana yang akan kami nonton.
“Hey, Amamiya. Apa kamu tidak keberatan kalau kita nonton film ini saja?” Hiroaki menunjukkan ke poster film yang berjudul “The Millionaire.”
“Ya, tidak masalah bagiku. Tentang apa filmnya?”
“Mm… film ini tentang seorang anak laki-laki yang menjadi jutawan karena memenangkan acara quiz.”
“Sepertinya menarik. Itu aja. Pukul berapa mulai filmnya?”
“11.30, sebentar lagi.”
“Oke. Langsung saja beli tiket.”
“Yosh.”
Kami pergi menuju ke arah konter bioskop, mengantre, dan membeli tiket untuk menonton film “The Millionaire” yang akan dimulai sebentar lagi. Hiroaki juga membayar tiketku. Nanti tinggal kuganti saja. Hiroaki menyuruhku pergi masuk duluan, sepertinya dia ingin membeli sesuatu, seperti tidak bertanggungjawab. Seharusnya dia menunjukkan jalan masukknya kepadaku. Aku ini kan orang baru. Ya ampun. Apa boleh buat. Aku pergi sendiri menuju tempat pemutaran film The Millionaire. Aku menyusuri lobi bioskop, masuk dan duduk ke tempat yang sesuai seperti yang ditulis di tiket.
Tidak lama kemudian, Hiroaki tiba dan duduk di sampingku sambil membawa dua minuman. Sepertinya minuman bersoda. Kulihat ke arah orang-orang yang berada di sekitarku, mereka bahkan membawa popcorn. Um, ya, minuman soda juga mengandung glukosa, jadi cukup untuk menunda lapar. Lagian juga kami sepertinya akan makan siang setelah nonton film.
“Ini Amamiya.” Hiroaki memberikan minuman kepadaku.
“Terima kasih. Berapa?”
“Apanya?”
“Hah, tentu saja tiket dan minuman ini. Berapa yen?”
“Ah, ngga usah. Hari ini kutraktir kamu, Amamiya.”
“Tidak bisa. Hiroaki, kamu bilang kemarin cuma traktir makan siang. Ini bukan makan siang.”
“Gak usah, gak usah.” Hiroaki menolaknya dengan tegas.
“Kalau begitu, terima kasih.”
“Gitu dong. Ah, sudah mau mulai.”
Hiroaki terus menolak saat aku ingin membayar tiket dan minuman ini. Walaupun kuterima, aku janji pada diriku sendiri kalau kebaikannya hari ini akan kubalas suatu hari nanti.
Lampu ruangan dimatikan, terasa gelap, tapi diterangi oleh cahaya dari layar film di depan kami. Film “The Millionaire” segera dimulai.
***
Sekitar 90 menit kemudian, film ini selesai.
“Sungguh film yang keren, ya! Aku benar-benar bisa merasakan keberanian dari anak laki-laki itu dan sikapnya terhadap kehidupan.”
“Um um,” Hiroaki mengangguk dan menambkan, “tidak rugi kita nonton film itu. Lain kali kalau ada film baru dan bagus, ayo kita nonton lagi.”
“Um, ide yang bagus.”
“Ayo kita keluar.”
Kami meninggalkan bioskop ini dan kembali ke jalan. Sekarang ke mana?
Sekarang sudah pukul satu siang, artinya sekarang waktunya untuk makan siang. Di kawasan ini terdapat banyak sekali tempat makan, berupa makanan ala Amerika, Eropa, dan tentu saja Jepang, yang membuatku bingung ingin makan apa.
Hiroaki berjalan di depanku yang sepertinya dia sudah tahu akan ke mana kami selanjutnya. Kuikuti dirinya hingga kami tiba di depan salah satu restoran ramen. Dari begitu banyak tempat makan di sini, Hiroaki memilih ramen. Apa dia tahu kalau aku menyukai ramen?
“Amamiya, ayo makan ramen.”
“Ramen, ya? Um, sepertinya enak. Ayo.”
Kami masuk ke restoran ramen dan duduk di tempat yang kosong. Suasana restoran saat ini sangat ramai. Beruntung kami mendapatkan tempat. Kulihat isi menu yang ada di restoran ramen ini. Ada miso ramen, shio ramen, shoyu ramen, dan tonkotsu ramen.
Seorang pelayan datang ke tempat kami, meletakkan dua gelas air putih sambil menanyakan menu apa yang akan kami pesan. “Silakan pesanannya,” kata pelayan pria itu sambil memegang kertas dan pulpen.
“Aku pesan shio ramen. Mm… toppingnya telur saja. Kalau Hiroaki?”
“Shoyu ramen, toppingnya chashu.”
“Baiklah. Silakan ditunggu.”
Suasana restoran ini semakin ramai karena memang sudah memasuki jam makan siang. Walaupun ada banyak restoran di sini, sepertinya hampir semua restoran penuh di jam seperti ini.
Tidak lama kemudian, pesanan kami tiba.
Kami rapatkan kedua tangan kami dan mengatakan “Itadakimasu.”
Pesananku, berupa shio ramen, memiliki kuah berwarna kekuningan. Terdapat potongan daging ayam dan bawang perai, nori, dan telur di atas mie-nya. Hal pertama yang kulakukan saat ramen ini tiba yaitu dengan merasakan kuahnya terlebih dahulu. Ini sudah menjadi hal umum di seluruh dunia kalau makanan yang mengandung kuah akan dirasa dahulu kuahnya. Kuahnya terasa asin, tentu saja karena ini shio ramen, seakan membuat nafsu makan bertambah. Rasa asinnya sungguh nikmat dan ringan.
Kumakan mie-nya yang panjang dan tebal ini. Slurp… sangat nikmat dan kenyal. Selanjutnya, potongan daging ayam. Sangat empuk dan terasa juicy dagingnya. Terakhir, telurnya. Telur rebus setengah matang yang direndam di dalam shoyu, terasa enak.
Mie, daging ayam, telur, kuah, silih berganti masuk ke dalam mulutku. Ah… aku sangat suka perasaan dari mie yang meluncur turun ke tenggorokanku. Keringat bercucuran di wajahku. Ramen ini terbaik. Ramen is life. Kuahnya yang ringan ini juga membuat tubuhku bergerak lagi setelah berkeliling Center Gai tadi. Ya, walaupun tadi itu tidak terlalu melelahkan.
Tidak terasa kalau aku sudah menghabiskan ramen ini hingga tidak tersisa kuahnya. Um, ya, jarang-jarang bisa makan ramen seenak ini. Lain kali, aku pergi sendiri untuk coba menu yang lain.
Harga ramen di restoran ini mulai dari 600 yen hingga 800 yen. Untuk tambahan toppingnya, lain lagi.
Kenyang, kenyang. Rasanya tidak akan sanggup makan lagi. Mungkin makan malam nanti juga akan lebih sedikit daripada biasanya.
Sementara itu, Hiroaki masih sedang makan ramen. Kenapa dia lambat sekali makannya? Apa dia tidak terlalu suka ramen? Atau memang seperti cara dia makan? Sedikit membuatku penasaran. Ah, iya, aku ingat. Saat aku makan di kantin sekolah dengan Hiroaki. Dia memang makan agak lambat.
Tidak lama kemudian, Hiroaki selesai memakan ramennya, walaupun tidak menghabiskan kuahnya. Kami duduk sebentar di restoran ini sambil membicarakan hal-hal kecil.
“Hey Amamiya, bagaimana ramennya?”
“Sangat enak. Rasa asin kuahnya pas dan ringan, mie-nya tebal dan kenyal, daging ayamnya terasa juicy, dan telurnya enak. Sempurna. Kalau shoyu ramen-mu, bagaimana?”
“Tentu saja enak. Rasa shoyu-nya sangat pas dan juga ringan. Mie-nya enak. Pokoknya enak.”
“Kalau begitu, kita keluar saja dulu. Jalan-jalan di kawasan ini sampai dapat tujuan.”
“Hah, kukira kamu pikirkan tempat selanjutnya.”
“Hehe, maaf. Ayo pergi. Biar aku yang bayar.”
“Ah, maaf. Arigatou.”
“Apaan itu? Kenapa ada maaf sebelum arigatou?”
“Ah, tidak. Arigatou, Hiroaki.”
“Sama-sama.”
Aku keluar dan menunggu Hiroaki di depan restoran ini.
Rasanya agak aneh. Sepertinya semakin banyak orang di kawasan ini. Ruang gerak semakin lebih sempi dari sebelumnya. Kuambil ponsel dari kantong celana, jam sudah menuliskan pukul 13:25. Selanjutnya, pergi ke mana enaknya, ya? Kalau pergi sendiri, mungkin aku coba mencari taman.
Hiroaki keluar dari restoran ramen dan mulai menghirup udara sambil meregangkan tangannya ke atas. Suasana yang ramai di restoran itu sepertinya membuatnya susah bernapas.
“Amamiya, ke mana kita akan pergi sekarang?”
“Kenapa tanya kepadaku?”
“Mungkin ada tempat yang ingin kamu tuju. Masih banyak waktu kita.”
“Hm... Walaupun kamu bilang begitu, um… taman. Apa tidak ada taman di sekitar sini?”
“Ah, iya. Ada Taman Yoyogi. Bisa-bisanya aku lupa.”
“Kalau begitu, ayo ke sana.”
“Ayo pergi. Karena kita jalan kaki, mungkin sekitar 15 menit.”
Kami berjalan meninggalkan Center Gai. Memasuki lorong-lorong hingga akhirnya kami bertemu dengan jalan utama. Menyusuri trotoar yang panjang di jalan ini. Sambil berjalan di belakang Hiroaki, kulihat ke arah sekitarku. Suasana kota sungguh terasa dengan adanya gedung-gedung tinggi dan kendaraan yang berlalu lalang di jalan. Di sebelah kiriku ada suatu gedung yang menarik perhatianku. Gedung apa itu, ya?
Setelah belasan menit berjalan, kami tiba di ujung trotoar, dan naik ke jembatan penyeberangan. Sudah mulai terlihat Taman Yoyogi dari atas taman ini. Aku jadi tidak sabar. Kami turun dari jembatan penyeberangan dan tiba di gerbang masuk Taman Yoyogi. Sejenak aku berpikir, seberapa luasnya taman ini.
“Kamu lihat gedung yang di sana tadi, Amamiya?” Hiroaki menunjuk ke arah gedung yang tadi sempat menarik perhatianku.
“Oh, itu. Memangnya itu gedung apa?”
“Itu Gymnasium Nasional Yoyogi, bisa dikatakan kompleks olahraga. Bagian sana itu juga termasuk ke Taman Yoyogi.”
“Oh begitu.”
“Hey, jangan bilang kalau kamu tidak tahu?”
“Tentu saja aku tahu, tapi ini kan pertama kalinya aku ke tempatnya.”
“Kalau begitu, ayo kita masuk ke Taman Yoyogi. Pasti sangat ramai nih.”
***
Taman Yoyogi merupakan salah satu taman terbesar di Tokyo yang terletak di Shibuya, berdekatan dengan Stasiun Harajuku dan Meiji Jingu. Taman ini dipisahkan oleh jalan menjadi dua bagian. Bagian A untuk taman dan Bagian B untuk stadion, panggung terbuka, dan fasilitas lainnya. Gedung yang ditunjuk Hiroaki tadi yaitu Bagian B dari Taman Yoyogi, berada di seberang jalan.
Sekarang kami telah berada di Bagian B dari Taman Yoyogi yaitu berada di tamannya. Ya, taman. Tempat yang berisi tanaman-tanaman hijau, bunga, dan kolam. Kami melewati gerbang masuk dan berjalan lurus. Melihat ke kiri ke kanan, semuanya hijau, banyak sekali pohon. Suasana kota yang ribut langsung hilang saat memasuki taman ini. Di depanku terlihat kebun bunga mawar dengan beraneka ragam warna daunnya. Ada warna merah, kuning, merah muda, dan putih. Di depan, jalan terbagi menjadi dua. Hiroaki kemudian bertanya kepadaku.
“Hey, Amamiya, mau ke air mancur taman?”
“Di mana?”
“Di sebelah sana.” Hiroaki menunjukkan ke arah jalan sebelah kanan.
“Eh, tunggu sebentar. Aku harus ke toilet.”
“Aku juga. Hahaha. Di depan sana ada toilet. Yuk ke sana dulu.”
“Mm, oke.”
Setelah dari toilet, kami bergerak ke arah air mancur. Di arah menuju air mancur, terdapat kolam. Kolam itu dikelilingi bangku yang panjang, juga ditempatkan di pinggir jalan. Kami berjalan lurus terus. Jomlah kolamnya ternyata ada tiga, dengan ukuran yang berbeda. Banyak orang yang duduk di samping kolam itu. Suasana taman yang ramai di akhir pekan pastilah seperti ini.
Akhirnya kami sampai di Air Mancur Taman Yoyogi. Air mancur itu berada di tengah danau buatan. Ada tiga air mancur yang terletak di sisi kiri, tengah, dan kanan danau ini. Di depanku terdapat bangku dengan ukuran kecil yang telah penuh diduduki oleh pengunjung taman. Jumlahnya 10 bangku dengan dua bangku di sebelah kiriku, enam bangku di tengah yang menghadap langsung air mancur, dan dua bangku di sebelah kananku.
Kulihat ke arah kiri dan kanan. Ke manapun mata memandang, semuanya hijau. Sedikit sedih karena tidak bisa melakukan hanami di taman ini karena bunga sakura telah gugur. Semoga tahun depan kesempatan itu datang.
Setelah puas melilhat-lihat, Hiroaki mengajakku melanjutkan perjalanan mengelilingi Taman Yoyogi. Kami lanjut berjalan ke arah kiri dari air mancur ini. Terlihat bebek yang sedang berenang dari samping sungai. Di pinggir jalan taman, terdapat banyak bangku yang berjejeran. Orang-orang duduk di bangku itu sambil membaca buku, berbicara, dan sebagainya.
Menyusuri jalan ke arah utara, ada area luas tanpa pepohonan di tengahnya yang digunakan para pengunjung untuk piknik. Sangat ramai. Mereka membawa alas untuk duduk, makanan dan minuman, menyaksikan keindahan dan ketenangan alam di taman ini bersama keluarga, teman, bahkan kekasihnya.
Keluarga, ya?
Kuingat-ingat kembali masa laluku. Dalam ingatanku, aku tidak pernah melakukan piknik. Sekalipun. Pasti seru ya melakukan piknik, walaupun bukan bersama keluarga.
“Oi Amamiya!” Hiroaki yang berjalan di depanku memanggilku.
“Kenapa, Hiroaki?” Aku menuju ke arahnya.
“Ayo piknik.”
“Ha?” Aku sedikit terkejut dengan ajakannya.
“Ha, ja nee yo. Ayo piknik.”
“Sebentar… piknik? Kita tidak bawa apa-apa ke sini. Alas saja tidak ada.”
“Iya juga, ya? Mm…”
“Lain kali saja. Lagian Hiroaki, kamu tidak memikirkan sesuatu dengan matang.”
“Maaf, maaf. Kalau begitu, lain kali saja. Gimana kalau kita ajak orang lain?”
“Ide bagus. Ajak saja temanmu lagi, Hiroaki. Bukannya semakin banyak orang semakin seru?”
“Bener tuh. Sekalian kukenalkan kamu ke temanku.”
“Ah, itu tidak perlu.”
“Enggak, enggak, enggak. Itu perlu, Amamiya.”
“Tidak, tidak, tidak. Itu agak…”
“Tenang saja, Amamiya. Kamu gak perlu seperti itu. Semakin banyak teman, semakin bagus.”
“Haaa… Mm, terserah kamu saja.”
“Gitu dong. Hahaha.” Hiroaki menepuk pundakku.
“Iya, iya. Arigatou.”
“Ayo kita jalan lagi. Ke arah utara taman ini ada tempat untuk hewan peliharaan.”
Setelah merencanakan piknik yang tidak tahu kapan akan dilaksanakan, aku mengikuti Hiroaki menuju arah utara taman yang katanya ada tempat untuk hewan peliharaan. Sekali lagi kulihat ke arah sekitarku memang banyak sekali orang yang piknik di sini.
Kami tiba di tempat yang dikatakan Hiroaki tadi. Ada tempat yang dibatasi dengan pagar besi yang di dalamnya ada berbagai jenis anjing dengan pemiliknya. Tempat ini dinamankan “Yoyogi Park Dog Run” yang letaknya di bagian utara taman. Aku tidak suka dengan anjing, jadi hanya melihatnya dari jauh. Tidak sepertiku, Hiroaki mendekati pagar itu seakan ingin masuk ke dalam dan bermain bersama anjing-anjing itu. Kubiarkan dia menikmati waktunya. Tak lama kemudian, Hiroaki menuju ke arahku.
“Amamiya, apa kamu pernah punya peliharaan?”
“Tidak pernah. Kalau kamu, Hiroaki?”
“Aku memelihara anjing, shiba inu di rumah.”
“Begitu ya.”
“Kamu tidak suka anjing?”
“Bisa dibilang begitu. Aku lebih suka kucing.”
“Oh… Ayo ke arah sana. Di sana ada tempat sewa sepeda.”
“Apa?” Aku terkejut mengetahui hal itu. Taman ini sangat keren.
“Kita bisa sewa sepeda untuk mengelilingi taman ini. Jadi, ngga terlalu capek.”
“Kalau kamu mau sewa sepeda, sewa saja. Aku lebih suka jalan kaki.”
“Gak lelah?”
“Tidak juga. Mungkin karena sudah biasa.”
“Kalau begitu, jalan kaki saja.”
Kami meniggalkan tempat bermain dengan anjing ini dan mulai mengelilingi taman lagi. Menyusuri jalan panjang yang mengelilingi taman ini.
Setelah puas berjalan-jalan di taman ini sambil menikmati suasana taman yang indah, tentram, seperti di hutan, kami kembali ke arah gerbang masuk Taman Yoyogi. Waktu berlalu begitu cepat. Tanpa kami sadari, sekarang sudah pukul 3 sore. Sekarang ke mana lagi, ya? Kucoba tanya ke Hiroaki.
“Hey Hiroaki, sekarang ke mana lagi?”
“Karena kita masih di sini, tentu saja kita harus ke Meiji Jingu.”
“Meiji Jingu? Aku ingin ke sana.”
“Yuk. Ikut aku.”
“Siap, Hiroaki-senpai.”
“Hah? Jangan pakai senpai juga. Kita kan sebaya.”
“Tapi kan, kamu senpai di daerah ini, Hiroaki.”
“Terserah kamu saja. Ayo pergi.” Kami meninggalkan Taman Yoyogi. Tujuan kami selanjutnya yaitu Meiji Jingu.
Suasana kota kembali saat keluar dari Taman Yoyogi dengan suara ribut dari berbagai kendaraan. Kalau dipikir-pikir, suara seperti ini tidak terdengar saat di taman tadi pasti karena banyaknya pohon yang mengalang laju gelombang suara. Taman Yoyogi, mari bertemu lagi di hari lain.
Sekitar satu menitan berjalan kaki, sekarang kami tiba di jalan masuk ke Meiji Jingu. Di sebelah kiriku, pemandangan hutan dengan pohon-pohon yang hijau dan tinggi tergambar di depanku. Ada kafe yang terletak di depan gerbang masuk ke Meiji Jingu ini. Etto, namanya Mori no Terrace. Ah, Teras Hutan. Kafe Teras Hutan. Terlihat banyak orang yang sedang duduk di kafe itu sambil makan dan minum. Tentu saja ramai karena akhir pekan. Sedangkan di sebelah kananku tergambar pemandangan kota. Di arah sana sepertinya ada stasiun. Um, kalau tidak salah di arah utara dari Stasiun Shibuya ada Stasiun Harajuku.
Kaki Hiroaki sedikit bergetar, begitu juga diriku. Mungkin karena mengelilingi Taman Yoyogi yang memang sangat luas membuatku dan Hiroaki sedikit kelelahan. Padahal saat di taman tadi, kami tidak terlalu merasa kelelahan. Mungkin karena rasa tentram dari taman itu yang membuat kami tidak merasa lelah. Tapi tetap saja rasa lelahnya berarti karena telah melihat-lihat pemandangan di taman itu. Lebih baik kami istirahat di kafe itu.
“Hey Hiroaki, kamu jangan memaksakan diri juga. Terlihat kalau kamu kelelahan. Kita ke kafe itu saja dulu.”
“Ide bagus. Maaf.”
Kami menuju kafe yang ada di depan jalan masuk menuju Meiji Jingu. Kafe yang bernama Mori no Terrace ini memiliki meja yang diletakkan di luar kafe. Karena meja di luar kafe ada yang kosong, kami menuju ke meja itu, dan duduk di kursi. Tak lama kemudian datang seorang pelayan perempuan memberikan dua gelas air putih dan menu kafe, lalu siap menulis menu pesanan kami.
Sambil minum, kulihat menunya. Menu minuman dan makanannya lumayan bervariasi, menurutku, dan harganya juga tidak mahal. Tadi kami sudah makan ramen, mungkin memesan makanan penutup yang manis-manis ide yang bagus. Sepertinya aku sudah menentukan apa yang akan aku pesan, begitu juga dengan Hiroaki.
“Aku pesan kopi susu panas dan pancake coklat ini.”
“Satu gelas kopi susu panas dan satu porsi pancake coklat. Pelanggan di samping bagaimana?” Pelayan itu menulis pesananku dan bertanya ke Hiroaki.
“Kopi panas dan cheese cake ini.”
“Satu gelas kopi panas dan satu cheese cake. Silakan ditunggu.” Pelayan itu pergi meninggalkan meja kami sambil membawa menunya.
Setelah beberapa menit menunggu, pesanan kami datang. Pelayan itu meletakkan di atas meja ini dan kemudia pergi. Aroma dari kopi susu yang kupesan tercium oleh hidungku. Aromanya kuat walaupun minuman itu masih berada di meja. Kupegang gelasnya dan kudekatkan ke hidungku untuk mencium aromanya lagi. Wah… sangat harum. Aroma kopi dan susunya tercium dengan jelas. Lalu kuminum kopi susu ini. Cairan kopi susu ini membasahi lidahku. Rasa pahit dan manis tertinggal di mulutku dan cairan itu membasahi tenggorokanku. Ah, nikmat.
Kulihat ke arah Hiroaki. Dia dengan santainya meminum kopi hitam yang dipesannya tadi. Kopi hitam dengan rasa pahit. Apa dia serius mememinumnya? Sedikit membuatku penasaran.
“Hiroaki, kamu serius minum kopi hitam itu?”
“Tentu saja. Kopi hitam panas sangat pas di bulan April.”
“Tapi pahitnya itu…”
“Haha… memang pahit, tapi kalau sudah biasa jadi tidak terasa. Kamu tidak minum kopi hitam?”
“Oh, begitu. Minum, tapi aku masukkan banyak gula agar tidak pahit.”
“Aku juga masukkan gula, tapi hanya satu kotak atau satu sendok teh saja. Rasa pahit kopi kalau hilang sepertinya itu bukan kopi lagi.”
“Ah, benar juga.”
Kami lanjutkan dengan makan makanan yang kami pesan. Pancake coklat yang kupesan ini sangat lembut. Lelehan coklatnya terasa manis. Rasa manis dari kopi susu dan coklat pancake ini beradu di mulutku. Cheese cake yang Hiroaki pesan kehilatan enak. Aku berdiri dari kursi menuju ke kafe untuk membayar pesanan kami.
“Hiroaki, ayo ke kuil sekarang.”
“Oke, aku bayar dulu.”
“Tidak perlu, sudah kubayar.”
“Jadi kamu ke kafe tadi untuk bayar, ya?”
“Iya. Ayo pergi.”
“Sankyu. Ayo”
Setelah menghabiskan minuman dan makanan dan sudah cukup beristirahat, kami lanjutkan jalan-jalan kami ke Meiji Jingu.
Jalan masuk ke Meiji Jingu ini tepat berada di dekat kafe ini. Ada gerbang torii besar yang menandakan sebagai jalan masuk ke lokasi kuil Shinto.
Pemandangan di jalan menuju kuil, di kiri dan di kanan hanya ada pohon. Perasaan tentram dan nyaman mulai terasa. Orang-orang yang sedang menuju ke kuil juga pastinya merasakan hal yang sama. Ini masih di jalan, kuilnya masih jauh.
Setelah berjalan sekitar empat menit, kami tiba di jalan yang di sebelah kiri dan kanan terdapat pemandangan yang berbeda dari sebelumnya, walaupun juga masih ada yang sama yaitu pepohonan. Tapi kali ini ada barel. Barel apakah itu, aku tidak tahu. Jadi, aku mendekat ke arah barel itu. Sebelum ke tempat yang ada barel itu, ada jalan ke kanan. Arah ke kanan itu menuju Pusat Kebudayaan Meiji Jinggu. Itulah yang tertulis di petunjuk jalan.
Saat aku sedang berhenti karena melihat ke arah jalan menuju Pusat Kebudayaan Meiji Jinggu, terdengar suara Hiroaki. “Hey Amamiya, ke sini.” Ternyata dia sudah berada di tempat barel yang terletak di sebelah kanan jalan.
Di sini ada enam tingkat barel yang disusun secara vertikal dan secara horizontalnya berjumlah 36. Tertulis keterangan di papan sebelah kanan barel. “Barrels of Sake Wrapped in Straw” dengan Bahasa Inggris dan Bahasa Jepang. Jumlahnya banyak. Barel sake itu dilapisi dengan kertas putih lagi di bagian luarnya dan tertulis huruf kanji.
Setelah puas melihat barel sake ini, Hiroaki menuju barel yang ada di sebelah kiri jalan. Aku pun mengikutinya. Tertulis di papan keterangan “Provenance of the Bourgogne Wine for Consecration at Meiji Jingu”. Barel di sini diletakkan menjadi tiga tingkat dan secara mendatar berjumlah 20. Barelnya terbuat dari kayu dan ukurannya jauh lebih besar daripada barel sake yang tadi kami lihat. Di bagian depan barel wine dari kayu ini terdapat tulisan nama orang dan negara asalnya. Semuanya berasal dari Bourgogne, Perancis.
Setelah melihat barel-barel wine dan sake, kami melanjutkan perjalanan. Aku hanya mengikuti ke mana Hiroaki akan membawaku. Sepertinya letak kuilnya masih jauh.
Terus menyusuri jalan sambil mengikuti Hiroaki, kulihat orang-orang yang pergi ke kuil ini. Ada yang pergi sendirian, bersama keluarga, teman, dan kekasih.
Kulihat orang yang bejalan di dekatku, di sebelah kanan. Seorang laki-laki dan perempuan yang saling berpegangan tangan. Mereka berdua pasti pacaran. Mungkin mereka ingin berdoa agar bisa bersama selamanya. Tidak hanya mereka berdua, masih banyak orang yang pergi ke sini bersama kekasihnya.
Dari barel ini, tidak jauh di depan, kami bertemu dengan gerbang torii lagi. Kami belok ke kiri memasuki gerbang itu. Berjalan lurus lagi mengikuti jalan ini yang berbatu kerikil ini. Belok ke kanan dan akhirnya terlihat halaman depan dari Meiji Jingu.
Sebelum masuk ke halaman kuil, kami ke temizuya yang berada di sebelah kiri. Di temizuya terdapat tempat air yang terbuat dari batu, lengkap dengan gayung dari kayu untuk mengambil air ketika akan membasuh diri. Ritual membasuh diri atau misogi ini bertujuan untuk memurnikan pikiran dan tubuh dengan air sebelum berdiri di depan dewa untuk berdoa. Kami mengantre karena saat ini sangat ramai pengunjung.
Satu per satu pengunjung selesai melakukan misogi dan sekarang tiba giliranku. Kuambil air dengan gayung. Pertama membasuh tangan kiri, lalu tangan kanan. Selanjutnya, air dari gayung itu kutuangkan ke telapak tanganku dan kumasukkan ke dalam mulut untuk berkumur-kumur. Setelah itu, kuminum sedikit airnya. Oh iya, tidak diperbolehkan minum langsung dari gayung ini. setelah itu, kuletakkan kembali gayungnya ke posisi semula dan meninggalkan temizuya. Kutunggu Hiroaki selesai misogi. Setelah itu barulah kami masuk ke halaman kuil yang di tandai dengan gerbang torii lagi.
Aku sudah menemui tiga gerbang torii besar saat tiba di sini.
Hiroaki terlihat memegang ponselnya dari tadi. Mungkin sejak dari Taman Yoyogi. Apa dia mengambil foto?
“Hiroaki, dari tadi kamu pegang ponsel terus. Apa ada urusan dengan orang lain?” Aku bertanya kepada Hiroaki yang sekarang berada di sebelah kiriku.
“Ah, ngga. Aku hanya memotret.”
“Oh, begitu. Sejak dari Taman Yoyogi?”
“Yup.”
“Ngomong-ngomong, kamu masuk klub apa di sekolah?”
“Aku masuk Klub Fotografi.”
“Oh… Pantas saja. Berarti dari tadi kamu lihat ke sana ke mari karena mencari objek untuk difoto, ya?”
“Iya. Ternyata kamu ngerti, ya…”
“Kalau begitu saat pulang nanti, boleh kulihat foto-fotonya?”
“Boleh saja.”
“Arigatou.”
Akhirnya aku tahu kalau Hiroaki merupakan anggota klub fotografi. Entah klub apa lagi yang ada di sekolah kami, aku tidak tahu. Keiyou Gakuen Koukou merupakan SMA yang luas dan besar. Pasti ada banyak klub lain yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan olehku ada di sekolah itu.
Kami lanjut berjalan ke gerbang kuil dan akhirnya tiba di Meiji Jingu. Berhenti di depan gerbang masuk ini, Hiroaki mulai memotret pemandangan di dalam kuil. Lebih baik aku juga. Kuambil ponsel dan mulai memotret. Pengunjung lain yang berdiri di sekitar kami juga melakukan hal yang sama. Ini luar biasa.
Perasaan nyaman mulai memenuhi hati dan pikiran. Tempat ini sangat tenang walau dengan banyaknya pengunjung di tempat ini.
Tujuan utama orang mengunjungi kuil pastinya bukan untuk memotret, tapi untuk berdoa. Aku berjalan lurus menuju kuil tempat orang berdoa. Namun sebelum itu, ada tempat untuk menulis doa dan harapan di kertas dan plakat kayu. Orang Jepang percaya bahwa doa dan harapan akan terkabul dengan menuliskannya. Di bawah pohon besar ini terdapat plakat-plakat kayu yang digantung, berisi doa dan harapan orang-orang yang mengunjungi kuil ini. Plakat ini disebut ema, dan di ema ini tertulis gan'i (願意)-harapan, sedangkan di kertas tertulis onegaigoto (おねがいごと)-permohonan.
Untuk menuliskan doa dan harapan di ema tersebut, aku harus membayar 500 yen untuk ema, sedangkan untuk kertas onegaigoto tidak perlu bayar. Namun setelah menulis di kertas itu, harus memberi persembahan, berupa uang dengan nominal bebas, yang dimasukkan ke dalam amplop bersamaan dengan kertas itu, lalu masukkan amplop itu ke kotak yang disediakan. Para pengunjung sudah antre untuk membeli dan menulis di ema dan di kertas tersebut. Kulihat Hiroaki yang berada di belakangku masih asik memotret dengan kamera ponselnya.
“Hiroaki, kamu tidak beli ema?”
“Tentu saja beli. Kamu duluan saja, Amamiya. Aku masih ingin memotret sebentar.”
“Oh, oke.”
Aku kembali ke bawah pohon itu dan mengantre untuk membeli ema. Setelah itu mengantre lagi untuk menulis. Di hadapanku saat ini banyak turis asing yang datang ke sini. Mereka juga membeli ema. Beberapa saat kemudia tiba giliranku untuk menulis doa dan harapanku di ema dan kertas ini, di atas meja yang telah disiapkan pulpen dan spidol.
Kami-sama, lindungi kakek dan nenekku. Berikan mereka kesehatan dan panjang umur. Aku berharap untuk bisa berteman dengan teman sekelasku dan murid dari kelas lain. Aku berharap untuk bisa membuat orang-orang di sekitarku senang.
Setelah selesai menulis doa dan harapanku di ema dan di kertas, kumasukkan kertas ini ke dalam amplop berserta dengan uang 100 yen, lalu kumasukkan ke kota. Sedangkan ema ini kugantung di bawah pohon yang dianggap suci ini. Mm, oh iya, Hiroaki. Apa yang dia lakukan sekarang? Kulihat ke arah sekitar ternyata dia sedang mengantre untuk menulis di ema. Lebih baik kutunggu dirinya sebelum berdoa di depan kuil.
Halaman Meiji Jingu ini luas. Ada dua pohon besar yang dianggap suci berdiri tegak di arah barat dan timur. Untuk tempat menggantung ema ada di pohon sebelah timur. Gerbang masuk ke kuil ini ada tiga, yaitu gerbang masuk dari selatan, timur, dan barat. Aku dan Hiroaki tadi masuk melalui gerbang selatan. Aku penasaran akan mengarah ke mana kalau kami keluar dari gerbang timur atau barat.
Saat aku sedang keasikan melihat-lihat, Hiroaki yang sepertinya sudah selesai menulis dan menggantung ema-nya menyapaku dari belakang.
“Amamiya, ayo berdoa di sana.”
“Sudah selesai dengan ema-nya?”
“Sudah. Sudah kugantung di sana.”
“Lumayan lama, ya.”
“Um, ah, iya. Sedikit lama karena banyak orang.”
“Hm…” Aku memasang wajah curiga karena jawaban Hiroaki sedikit mencurigakan.
“Kenapa kamu memasang wajah seperti itu?”
“Ah, tidak. Aku hanya mencurigaimu, Hiroaki.”
“Cu…curiga kenapa?”
“Memang pengunjung di sini banyak, tapi tempat untuk menulis di ema tidak hanya satu meja. Jangan-jangan kamu, Hiroaki…”
“Ya, iya… tadi aku mencari ema-mu. Warukatta.” Hiroaki mengatupkan kedua tangannya di depanku.
“Sudah kuduga. Tidak apa-apa. Lebih baik kalau kamu bilang dulu kalau mau lihat.”
“Maaf, maaf. Jadi, apa yang kamu tulis?”
“Doa untuk kakek dan nenekku, harapan untuk bisa mendapatkan banyak teman.”
“Ah, kamu hanya punya kakek dan nenek, ya. Teman, ya? Aku ini temanmu, kan?
“Menurutmu?”
“Kenapa kamu yang malah balik nanya?” Hiroaki mengerutkan dahinya, mungkin karena kesal.
“Tentu saja. kalau kamu bukan temanku, mana mungkin aku mau ikut denganmu hari ini.”
“Ah, benar juga, ya.”
“Ayo kita berdoa.” Aku langsung jalan menuju tempat untuk berdoa.
“Tunggu aku dong, Amamiya.”
“Panggil Ryuki saja,” kataku sambil melihat ke arah Hiroaki yang berada di belakangku. Hiroaki mengejarku dan sekarang telah sejajar denganku.
“Kalau begitu, panggil aku Taka, ya? Yoroshiku, Ryuki.”
“Um, oke. Kochira koso, Taka. Tapi apa tidak apa-apa aku berteman denganmu? Kamu kan murid populer di sekolah.”
“Hahaha… Aku enggak terlalu memikirkan apa yang akan dikatakan orang lain. Terserahku dong mau berteman dengan siapa.”
“Oh begitu. Baiklah, Taka.”
Mulai detik ini, kami mulai memanggil dengan nama kami masing-masing. Suatu kemajuan hanya dengan mengikutinya hari ini. Bisa dikatakan hubungan kami sedikit berkembang. Doa yang kutulis tadi sepertinya telah dilihat oleh Kami-sama.
***
Kami berjalan bersama menuju tempat untuk berdoa. Tempatnya di depan kuil, sedikit berjalan lurus dari halaman kuil ini. Di tempat itu ramai orang yang sedang memanjatkan doa. Sebelum menajatkan doa, para pengunjung biasanya memberikan persembahan berupa uang, koin ataupun kertas, yang dimasukkan ke dalam tempat kayu.
Kami mengantre sebentar hingga tiba giliran kami. Kuambil uang koin 100 yen dari dompetku dan kulempar ke tempat persembahan. Setelah itu, membungkuk dua kali, menepuk tangan dua kali. Kurapatkan kedua tanganku, lalu berdoa di dalam hati.
Semoga aku bisa membangun hubungan pertemanan dengan murid-murid Keiyou-kou, terutama murid kelas 2-D.
Kuturunkan tanganku lalu membungkuk sekali, dan beranjak dari tempat ini agar orang lain bisa berdoa. Hiroaki terlihat masih berdoa. Sangat serius. Dia memejamkan matanya dan badannya berdiri tegak. Aku menunggunya di bawah pohon besar di sebelah barat sambil melihat-lihat kembali halaman kastil. Kulihat jam di ponselku, ternyata sudah lewat pukul empat sore.Ketenangan tempat ini seperti bisa membuatku berlama-lama di sini hingga lupa waktu.
Taka yang sudah berdoa beranjak ke tempatku dengan wajah yang berseri-seri. Sepertinya ada hal baik yang menimpanya. Baguslah kalau begitu. Karena sekarang sudah pukul empat sore, aku mau tahu tempat apa yang akan kami tuju selanjutnya. Jadi, kutanya langsung ke Taka.
“Taka, sekarang sudah lewat pukul empat sore. Ke mana lagi kita akan pergi?”
“Mm, ke mana, ya… Meiji Jingu di bulan April tutup pukul 17:50 sore, kalau mau di sini lebih lama bisa saja. Masih ada tempat di lingkupan kuil ini yang belum kita tuju.”
“Um, iya juga. Aku pernah baca kalau ada tempat yang namanya Kiyomasa no Ido-Sumur Kiyomasa-yang merupakan spot spiritual.”
“Iya, di sebelah barat kuil. Di Taman Meiji Jingu.”
“Kalau begitu, ayo ke sana sebelum kita pulang.”
“Oke. Ayo.”
Keluar melalui gerbang barat Meiji Jingu, kami pergi ke arah barat kuil, tempat Taman Meiji Jingu berada. Untuk masuk ke taman ini, pengunjung diharuskan membayar sebesar 500 yen sebagai kontribusi untuk perawatan taman ini. Jam buka taman ini yaitu pukul 9 pagi sampai 5 sore pada bulan Maret hingga Oktober dan pukul 9 pagi sampai 4:30 sore pada bulan November hingga Februari.
Setelah bayar uang masuk, kami masuk ke bagian kawasan Taman Meiji Jingu. Taman ini sangat indah. Saat masuk ke taman ini, tiba-tiba pemandangan di depan mata terbuka dan muncul ladang bunga yang memanjang ke arah selatan. Di ladang ini ditanami bunga iris. Sayangnya, saat ini bunga iris belum mekar. Ada juga pondok yang bisa digunakan pengunjung untuk berteduh dan beristirahat. Kami berjalan pelan sambil melihat pemandangan di sini dan Taka langsung mulai memotret lagi. Lebih baik aku juga.
Aku tidak tahu ke mana Taka melangkahkan kakinya. Kuikuti dirinya dari belakang yang terus berjalan menuju utara. Kenapa ke utara, ya? Ah, iya, tadi aku sempat melihat petaan Meiji Jingu. Dari sini kami ke utara untuk menuju Sumur Kiyomasa.
Menyusuri jalan taman ini, akhirnya kami tiba di Sumur Kiyomasa yang terkenal dengan kekuatan spiritualnya. Di dekat sumur itu ada papan, tertulis “Kiyomasa-Ido (WELL)”. Di papan itu juga menjelaskan tentang Sumur Kiyomasa ini. Etto, tertulis kalau sumur ini milik Tuan Kato Kiyomasa selama masa Edo. Sumur ini juga sumber asli dari Nan-Chi dan air murni menyembur keluar dengan aliran yang stabil. Sumur ini terkenal karena kualitas airnya yang superior. Tapi tertulis tidak boleh minum.
Saat tiba di sumur ini tadi, aku merasakan sesuatu seperti luapan energi yang hanya berada di sekitar sumur ini. Taka yang tadi sibuk memotret sekarang hanya terdiam. Aku tidak bisa berkata-kata. Luapan energi itu sangat besar. Karena itulah tempat ini dikatakan titik spiritual.
“Tempat ini, energinya sangat besar.” Aku berkata sambil jongkok di dekat sumur.
“Tentu saja. Wajar tempat ini dikatakan pusat spiritual.” Taka membalas perkataanku tadi.
“Taka, kukira kamu tidak merasakannya?”
“Enggak mungkin lah.”
“Hahaha… Hanya bercanda.” Aku tertawa kecil.
“Ryuki, coba kamu tutup mata. Rilekskan tubuh dan biarkan energi itu masuk ke dalam.”
“Mm, oke.”
Kulakukan seperti apa yang dikatakan Taka. Kututup mataku, kulemaskan tubuhku, kukonsentrasikan tubuh ini untuk menerima energi spiritual yang dipancarkan dari sumur ini.
“Hah…” Aku menghela nafas sambil membuka kedua mataku dan melihat ke sekelilingku.
“Gimana, Ryuki?” Suara Taka terdengar dari arah belakangku. Dia sedikit tertawa saat melihatku terkejut tadi.
“Etto, gimana bilangnya, ya? Rasanya tubuhku penuh dengan energi sehingga membuat tubuhku menjadi berat. Terus, rasanya seperti dibawa ke tempat lain.”
“Seperti itulah energi di tempat ini. Sangat kuat, sampai-sampai seperti bisa menarik jiwa seseorang.”
“Begitu, ya. Sasuga dari pusat spiritual Meiji Jingu.” Aku mulai berdiri karena jongkok terus-terusan hanya akan membuatku lelah.
“Da ne. Ayo kita ke tempat lain, Ryuki.”
“Ah, oke.”
Kami meninggalkan Sumur Kiyomasa dan kembali menyusuri jalan di taman ini. Jalan yang dipenuh dengan pepohonan lebat ini menyejukkan tubuhku. Padahal aku memakai blazer. Kami kembali ke tempat awal tadi, di mana pemandangan di sekitar kami terdapat bunga iris yang belum mekar.
Saat aku tutup mata tadi, aku penasaran apa Taka memotretku atau tidak. Tapi, rasanya dia memotretku.
“Hey Taka, jangan bilang kalau kamu memotretku saat aku menutup mata tadi?”
“Tentu saja, kupotret.”
“Kukira kamu enggak memotret lagi karena tadi terdiam saat tiba sumur itu.”
“Fotografi itu sudah menjadi jiwaku. Enggak mungkin aku enggak memotret. Kamu juga lumayan untuk dijadikan model, Ryuki.” Taka tertawa kecil.
“Model, katamu? Jangan bicara yang aneh-aneh juga, Taka.”
“Aku serius lho…”
“Iya, iya.”
“Ngomong-ngomong, gaya bicaramu jadi berbeda, ya.”
“Berbeda gimana?”
“Kemarin-kemarin terkesan sedikit formal.”
“Ah… aku bicara seperti itu dengan orang yang belum kukenal.”
“Oh… aku ngerti.”
“Jadi, ke mana kita sekarang?”
“Mm… Kita ke belok kiri ke Kakuun-Tei. Terus ke Otsuri-Dai. Setelah itu, kita pulang.”
“Oke.”
Kami terus menyusuri jalan di taman ini. Seperti yang dikatakan Taka tadi, kami belok ke kiri untuk menuju Kakuun-Tei. Berjalan terus mengikuti jalan, lalu belok ke kanan, berjalan lagi hingga terlihat suatu bangunan seperti rumah bergaya jepang, lalu menuju bagian depan rumah itu. Tertulis “Kakuun-Tei (Tea House)” di papan informasi yang terletak di depan rumah ini. Tertulis juga bahwa kakuun-tei ini dibangun kerena perintah Yang Mulia Kaisar Meiji untuk Yang Mulia Permaisuri Shoken pada tahun 1900, namun mengalami kebakaran saat perang. Pada musim gugur 1958 direkonstruksi. Rumah ini dipagari karena para pengunjung tidak diperbolehkan masuk ke halaman rumah ini. Rumah gaya jepang, sangat keren. Ah, jangan lupa dipotret.
Kami berjalan lagi untuk menuju ke arah belakang rumah. Di halaman belakang rumah terdapat tanaman bonsai. Wah, sangat cantik. Berjalan terus ke arah belakang rumah, tiba-tiba pemandangan di depan mata terbuka dan muncul kolam yang luas.
“Taka, ada kolam di sana.” Aku memanggil Taka yang berada di belakangku. Dia memang tidak lepas dari genggaman ponsel di tangannya.
“Di sana itu Otsuri-Dai.”
“Ooh…”
Aku terus berjalan menuju kolam itu. Ada papan informasi lagi di depan kolam ini, tertulis “Otsuri-Dai (Fishing Spot)”. Etto, dijelaskan kalau tempat ini dibuat karena perintah Yang Mulia Kaisar Meiji pada Era Meiji (1868~) dan Yang Mulia Permaisuri Shoken kadang-kadang menikmati memancing di tempat ini. Oke, jangan lupa dipotret.
Di sekitar kolam ini terdapat banyak bangku. Para pengunjung bisa beristirahat di bangku itu sambil menikmati pemandagan di pinggir kolam. Sedangkan di dekat kolam, ada dermaga kecil yang terbuat dari kayu agar para pengunjung bisa melihat dari dekat kolam tersebut. Aku pergi ke dermaga itu, melihat langsung ke dalam kolam ini. Di kolam ini ada ikan koi, di permukaan kolam tumbuh bunga teratai, ada juga bebek yang sedang berenang. Kalau sedang musim panas, pasti tempat ini sangat indah.
Setelah puas melihat kolam dan isinya, kulihat jam di ponselku yang ternyata sudah menunjukkan pukul 4:40 sore. Sebentar lagi Meiji Jingu akan ditutup. Aku berajak dari bangku ini untuk memberi tahu Taka kalau sudah saatnya untuk pulang.
“Hey Taka, sudah hampir jam 5 sore. Ayo kita pergi dari sini.”
“Mm, benar juga. Eh, tunggu sebentar. Aku capek. Ayo duduk dulu di bangku sana.”
“Baiklah.”
Kami berdua duduk di bangku di dekat kolam ini untuk beristirahat sebentar sambil menikmati pemandangan di sekitar kolam. Sudah pasti capek mengililingi kuil ini yang sebelumnya kami juga mengelilingi Taman Yoyogi. Setelah 5 menit, kami melanjutkan perjalan untuk keluar dari Meiji Jingu.
“Taka, coba lihat gambar yang kamu potret tadi.”
“Ini.” Taka memberiku ponselnya.
“Sankyu.”
Kulihat-lihat gambar yang dipotret oleh Taka di ponselnya ini sambil melangkahkan kaki keluar dari Meiji Jingu. Banyak sekali gambar yang dipotretnya hari ini. Mm, hasil gambar yang dipotretnya sangat berbeda dengan gambar yang kupotret di ponselku. Sangat keren. Sudut pemotretannya juga. Seperti yang diharapkan dari orang yang menyukai fotografi. Kulihat terus satu per satu gambarnya. Uwa… bahkan dia banyak juga memotretku. Kenapa aku bisa lebih keren di fotonya ini, ya? Aneh juga.
Tanpa sadar, kami telah tiba di gerbang torii di jalan masuk ke kuil. Suasana sore di kota Shibuya dengan gedung-gedung tinggi mengingatkanku kembali kalau aku berada di Tokyo. Saat masuk ke kuil ini, rasanya aku lupa kalau aku berada di Tokyo. Pepohonan yang lebat membuatku berpikir kalau aku sedang berada di hutan, di sebuah desa yang jauh dari kota.
“Ini, Taka. Keren-keren gambarnya. Sasuga da.” Kukembalikan ponselnya Taka.
“Sankyu.”
“Jadi, apa kita jadi ke Akibahara?”
“Oh iya, aku bilang kalau kita akan ke Akihabara, ya?”
“Masa’ kamu lupa? Padahal kamu yang bilang sendiri.”
“Kalau kamu mau, ayo kita pergi.”
“Jangan memakasakan diri, Taka. Kamu terlihat kelelahan begitu. Lebih baik lain kali saja. Besok hari Senin, lho…”
“Maaf, padahal aku yang sudah bilang.”
“Enggak apa-apa. Masih bisa di lain hari. Kalau begitu, ayo kita pulang. Kamu pulang ke arah mana, Taka?”
“Ke arah Shinjuku. Kalau kamu, Ryuki?”
“Shibuya, Daikan’yamacho.”
“Kalau begitu kita berpisah di sini. Kamu pulang naik kereta?”
“Ah, enggak. Aku jalan kaki. Sekalian ada yang mau kubeli.”
“Oh… Sampai jumpa di sekolah.”
“Ya, sampai jumpa lagi.”
Setelah mengatakan selamat tinggal, Taka berjalan menuju Stasiun Harajuku. Ramai sekali orang yang berjalan ke arah stasiun. Tapi aku memilih untuk berjalan kaki. Alasannya, sekalian menikmati pemandangan kota di jalan pulang.
Aku berjalan sambil memikirkan makanan apa yang akan kumakan nanti malam. Memasak makan malam di saat seperti yang mana aku kelelahan karena jalan-jalan sepertinya ide yang buruk. Di saat seperti ini mungkin aku bisa makan malam di luar. Tapi tetap saja tempat untuk makan malamnya belum terpikirkan. Kalau aku pergi ke Center Gai, mungkin bisa kutemukan restoran untuk makan malam, tapi harganya belum tentu sesuai ukuran dompetku. Beginilah nasib orang yang hidup sendiri. Cara terbaik adalah masak sendiri, atau dengan satu cara ultimate yang gampang, yaitu mie instan. Jepang terkenal dengan berbagai macam mie instan yang bisa kudapatkan di konbini manapun. Harga murah dan cepat. Um, um, kalau begitu beli mie instan saja.
Setelah jauh berjalan, melewati Persimpangan Shibuya, Hachiko, Stasiun Shibuya, akhirnya aku sampai di Daikanyamacho dan berjalan sedikit lagi untuk mampir ke konbini. Kubeli 4 bungkus mie instan agar bisa kusimpan untuk kumakan di hari lain dan satu dua botol sports drink. Rasanya aku kekurangan cairan tubuh. Selanjutnya, kembali ke apartemen.
Saatnya istirahat dari hari yang lelah nan menyenangkan ini. Ah, lebih baik kukirim pesan LINE ke Taka karena sudah mengajakku hari ini.
Besok hari Senin. Aktivitasku yang merupakan seorang pelajar akan kembali. Kusiapkan semua hal yang diperlukan untuk jadwal besok.