Second Chance in My High School Life

Second Chance in My High School Life
Episode 7



Akhir pekan rasanya berakhir begitu cepat seperti kedipan mata. Dua hari libur, Sabtu dan Minggu, terasa seperti beberapa saat saja. Perasaan menyenangkan dari jalan-jalan di sekitar Shibuya dengan Taka masih teringat jelas. Ya, bisa dibilang, kemarin itu sungguh menyenangkan.



Hari ini senin, saatnya pergi ke sekolah lagi. Seperti biasa aku dibangunkan oleh alarm ponsel ini. Hari ini aku sedikit lebih bersemangat karena jam pelajaran kedua adalah Pendidikan Olahraga. Sejak aku keluar dari rumah sakit, aku tidak pernah melakukan apa yang dinamakan olahraga. Walau pada akhirnya sebelum pindah ke Tokyo aku menyempatkan diriku untuk bermain sepakbola sebentar dengan teman-temanku di desa. Keadaan kakiku saat ini bisa dibilang kalau sudah kembali seperti sedia kala.



Sebelum berangkat ke sekolah, perlengakapan untuk olahraga kusiapkan, mulai dari sepatu dan seragam olahraga. Sepatu olahraga kumasukkan ke dalam tas serut, sedangkan seragam olahraga kumasukkan ke dalam tas. Yosh, sepertinya tidak ada yang ketinggalan lagi. Saatnya berangkat ke sekolah.



Cuaca hari ini cerah. Tanpa adanya awan di langit kota Tokyo saat ini membuat cahaya matahari sedikit menyilaukan. Aku terus berjalan sampai tiba di sekolah. Hari ini aku tidak bertemu dengan Fuyukawa-san. Tentu saja tidak karena dia ada latihan pagi. Sabtu ini juga ada latihan pertandingan dengan SMA. Pasti klub basket putri sedang serius.



Seperti biasa Agitsu-sensei berada di dekat gerbang sekolah sambil melihat murid-murid yang masuk. Semuanya memberi salam ke sensei. Saat memasuki gerbang, aku memberi salam juga ke sensei.



“Ohayou gozaimasu, Sensei.”



“Oh, ohayou.” Agitsu-sensei menjawabnya dengan suara berat yang terkesan tegas.



Aku langsung menuju kelasku.



Setiba di kelas, seperti biasa aku mengatakan “selamat pagi” saat masuk melalui pintu di belakang. Lalu, meletakkan tas serut yang berisi sepatu olahraga ini di loker yang berada di belakang kelas. Setelah itu, barulah aku duduk di kursiku dan langsung melihat ke arah luar jendela. Hari ini, klub olahraga juga melakukan latihan pagi. Masih ada waktu sekitar 10 menit sebelum pelajaran pertama dimulai.



Jam pelajaran pertama hari ini homeroom dari wali kelas 2-D, Sakamoto-sensei. Setelah itu, barulah pelajaran olahraga di jam kedua dan ketiga. Wah, aku sangat menantikan hari ini. Kira-kira olahraga tentang apa ya? Sepakbola? Bola basket? Bola voli? Apa saja itu aku tidak sabar.



Detik dan menit berlalu, Fuyukawa-san masuk ke kelas dan setelah itu bel tanda masuk berbunyi. Sakamoto-sensei langsung masuk setelah berbunyi. Um, ya, homeroom akan dimulai. Saat Sensei sudah berada di meja guru, aku langsung berdiri untuk nicchoku.



“Kiritsu…”







***







Setelah homeroom selesai, Sakamoto-sensei keluar dan masuklah seorang guru pria dengan mengenakan pakaian olahraga. Pasti ini guru olahraga kami. Kukira Agitsu-sensei yang akan menjadi gurunya.



Setelah nicchoku, Sensei mulai berbicara.



“Selamat pagi semuanya. Saya, Sugita Taiki, yang akan menjadi guru olahraga kalian. Baiklah, karena sudah saatnya pelajaran olahraga, cepat ganti seragam kalian ke pakain olahraga.”



“Baiklah, Sensei.” Semua murid menjawabnya dengan serentak.



“Ayo cepat. Setelah semuanya ganti seragam, datang ke gedung olahraga.”



Setelah mengatakan itu, Sugita-sensei keluar dari kelas.



Sekarang aku dilanda kebingungan. Di mana ganti pakaiannya? Apa di kelas? Laki-laki atau perempuan duluan? Pemikiran itu terbesit di kepalaku sambil melihat ke arah murid lainnya. Mereka juga seperti bingung. Di saat seperti ini, Fuyukawa-san lah yang bisa mengaturnya. Kulihat ke arah Fuyukawa-san. Dia sepertinya sudah siap dengan apa yang ingin dikatakan kepada murid kelas ini.



“Semuanya! Ayo cepat ganti pakaian kita. Murid laki-laki yang pertama. Selanjutnya murid perempuan. Murid perempuan, ayo kita keluar.” Fuyukawa-san dan murid perempuan lainnya keluar dari kelas.



Murid laki-laki yang tinggal di dalam kelas. Aku menyempatkan untuk menghitung jumlah murid laki-laki. Ternyata ada 10 orang. Berarti murid perempuan ada 18 orang. Wah, ternyata kami tidak bisa mencapai kesebelasan.



“Semuanya! Ayo kita ganti cepat-cepat,” kataku kepada murid laki-laki yang tinggal di kelas. Beberapa orang mulai merentangkan gorden yang ada sambil bergumam, “Kenapa juga Si Amamiya yang jadi perwakilan kelas? Tch.”



Yang sudah mengganti seragam satu per satu meninggalkan kelas, hingga yang terakhir yaitu aku.



Terserah mereka menganggapku seperti apa. Akan tiba juga waktunya saat mereka mengetahui tentangku. Mungkin untuk saat ini lebih baik dibiarkan saja dulu.



Aku keluar dan segera menuju ke gedung olahraga. Masih terpikirkan olehku kira-kira olahraga apa.



Setiba di gedung olahraga, Sugita-sensei sudah siap dengan beberapa keranjang bola voli dan net lapangan bola voli sudah terpasang dengan rapi. Hooo, jadi bola voli.



Aku suka bola voli. Pertama kali aku memainkannya saat SD dan terus berlanjut sampai SMP. Sebenarnya aku juga bisa beberapa macam olahraga yang lain, seperti sepakbola, baseball, badminton, dan tenis. Bisa dibilang olahraga lapangan.



Beberapa menit kemudian, murid-murid perempuan tiba di gedung olahraga.



Ini pertama kalinya aku melihat semua murid kelas di luar kelas. Untuk murid perempuan, Fuyukawa-san dan dua orang temannya yang seklub dengannya ternyata memiliki tubuh yang tinggi. Lebih tinggi dari dugaanku. Jika tinggi para perempuan di Jepang berkisar 155 cm, mereka bertiga sepertinya 162 cm lebih. Untuk Fuyukawa, sepertinya tingginya 168 cm. Ada beberapa orang lagi yang memiiki tubuh tinggi seperti mereka bertiga. Tapi, aku belum mengenalnya.



Sedangkan murid laki-laki, aku yang tertinggi jika dibandingkan dengan lainnya. Tinggiku saat ini 178 cm. Rata-rata tinggi murid laki-laki kelasku sepertinya 165 cm.



Tubuh pendek bukan masalah di olahraga bola voli karena bisa ditempatkan di posisi Libero. Posisi ini dikhususkan untuk menghalau servis atau spike servis yang datang.



Setelah semuanya berbaris dengan rapi, Sugita-sensei mulai memanggil nama kami satu per satu.



“Amamiya?”



Ternyata namaku yang pertama dipanggil.



“Ya, Sensei.”



Aku menjawabnya sambil mengangkat tangan. Saat namaku dipanggil, semuanya melihat ke arahku.



“Oh, jadi kamu yang pindah kembali ke sekolah ini?”



“Iya, Sensei.” Sepertinya Sugita-sensei telah mengetahui tentangku.



Aku melihat ke arah murid-murid lain yang melihat ke arahku. Mereka mulai berbisik karena penasaran dengan apa yang Sensei katakan.



“Pindah kembali?”



“Apa dia memang dari awal dari sekolah ini?”



“Aku pensaran. Kok bisa juga ada murid pindahan ke sekolah ini?”



Aku mendengar apa yang mereka bisikkan, tapi aku hanya menganggap itu hanya pembicaraan mereka yang sedang mencari tahu siapa aku sebenarnya. Kalau mereka bertanya langsung kepadaku, mungkin akan kuberi tahu. Sayangnya, mereka tidak menanyakan dan langsung tidak menganggapku, kecuali Fuyukawa-san.



“Kalau tidak salah, kakimu cedera, kan? Apa sudah baik sekarang?”



“Sudah, Sensei. Sudah seperti sedia kala.”



“Bagus lah kalau begitu.”



Pemulihan kaki yang patah memang memakan waktu yang lama. Kalau kakiku ini, sekitar tiga minggu lebih. Aku tidak ingat sama sekali tentang operasi tulang kaki ini. Untung saja patahnya tidak terlalu parah.



“Selanjutnya…” Sensei lanjut mengabsen kelas. Satu per satu nama dipanggil hingga selesai 28 nama. Tentu saja aku tidak bisa langsung mengingat semua nama-nama mereka. Yang kuingat hanya nama dari dua orang temannya Fuyukawa-san yaitu Seto Misa-san dan Mizuno Atsuko-san, dan orang yang berbicara denganku saat piket kelas kami lalu, Moriyama Yumika-san.



Kalau diingat-ingat lagi, aku langsung bisa mengingat nama orang yang pernah berbicara denganku, seperti Fuyukawa-san dan Moriyama-san, dan orang-orang yang dekat dengan orang yang kukenal. Walau tidak ingat namanya, aku mengingat wajahnya.



Setelah mengabsen, Sugita-sensei mulai membuka pelajaran untuk hari ini.



“Selamat pagi, semuanya.”



“Selamat pagi, Sensei.” Jawab para murid dengan serentak.



“Pelajaran Olahraga kita hari ini adalah bola voli. Sebelum memulainya, mari kita lakukan pemanasan dari tubuh bagian atas sampai tubuh bagian bawah.”



Kami mulai melakukan pemanasan dengan mengikuti gerakan-gerakan dari Sugita-sensei, dari kepala, tangan, pinggul, sampai dengan kaki. Mm, sepertinya kakiku memang sudah enak digerakkan.



“Baiklah, pemanasan selesai. Sebelumnya, apa ada yang sudah paham mengenai olahraga ini? Atau sudah berpengalaman sedikit? Coba angkat tangannya.” Sugita-sensei mengatakannya sambil mengangkat tangan kanannya.



Secara refleks, aku mengangkat tangan kananku. Kulihat ke arah barisan laki-laki ternyata tidak ada yang mengangkat tangannya. Di arah barisan perempuan ada 2 orang yang mengangkat tangannya. Terlebih lagi dua orang itu tubuhnya tinggi. Pasti punya pengalaman di voli.



“Di murid laki-laki hanya Amamiya, ya. Di murid perempuan ada dua orang, Shimizu dan Nazuka dari klub voli putri. Amamiya, kapan kamu mulai main voli? Apa pernah masuk klub voli?”



“Saya mulai bermain voli dari kelas 5 SD, tapi tidak pernah masuk ke klub voli. Saat di SMP, saya pernah ikut turnamennya.”



“Tidak masuk klub voli tapi ikut turnamennya?” Sugita-sensei sedikit penasaran.



“Iya. Kebetulan klub voli di SMP saya kekurangan orang, jadi saya masuk untuk melengkapinya saat turnamen saja. Saya juga pernah ikut turnamen sepakbola dan baseball saat itu, walaupun tidak masuk klubnya.”



Tanpa sadar aku menceritakan semuanya. Kegemaranku dalam olahraga membuatku saat itu dipanggil untuk mengikuti turnamen, walaupun tidak pernah juara. Setidaknya berkat turnamen itu aku punya sedikit pengalaman. Ngomong-ngomong, posisiku di sepakbola sebagai penjaga gawang, sedangkan di baseball sebagai shortstop.



“Mm… sepertinya kamu sangat suka dengan olahraga, ya?”



“Lumayan, Sensei.”



“Baiklah, untuk hari yang akan kita lakukan adalah teknik dasar dalam voli. Untuk Amamiya, Shimizu, dan Nazuka, tolong bantu saya untuk mengajarkannya.”



Jadi, aku, Shimizu-san, dan Nazuka-san menjadi asisten Sugita-sensei dalam pelajaran olahraga hari ini. Mengajarkan murid laki-laki olahraga memang tidak susah, berbeda dengan murid perempuan yang cenderung susah karena mereka tidak menyukai olahraga, mungkin. Mengajarkan sesuatu yang tidak disukai memang memakan waktu.



“Untuk hari ini kita belajar servis bawah, servis atas, dan passing. Ayo kita mulai secepatnya.”



Kami semua segera ke arah lapangan voli. Di Gedung Olahraga ini juga terdapat tempat untuk lapangan badminton, bola basket. Kalau dilihat sekali lagi, memang luas. Ada tempat untuk menonton di atas.



Di lapangan voli ini, Sugita-sensei dan diriku mengajarkan murid laki-laki, sedangkan Shimizu-san dan Nazuka-san mengajarkan murid perempuan. Keranjang bola yang sudah dikeluarkan sensei dari dalam gudang sudah di sini.



Pertama, Sensei mulai dengan melakukan contoh servis bawah dan servis atas. Yang berbeda dari kedua gaya servis ini adalah letak bola dan cara memukul bola. Untuk servis bawah, bola dilambungkan sedikit di atas pinggang dan saat bola turun, pukul dengan mengepalkan tangan. Servis ini sangat mudah, hanya perlu mengatur kekuatan saat memukul bolanya saja agar melewati net dan tidak keluar garis. Sedangkan servis atas, pegang bola sehingga berada di atas kepala, kemudian pukul dengan telapak tangan. Bisa juga dengan melambungkan bolanya kira-kira satu meter di atas kepala, lalu memukulnya. Gaya ini perlu lebih banyak tenaga.



Setelah Sensei melakukan contohnya, satu per satu murid laki-laki dan perempuan mulai melakukannya. Di murid laki-laki, aku yang pertama. Di murid perempuan, Shimizu-san. Memang lebih baik orang yang berpangalaman melakukannya pertama.



Kulakukan seperti yang Sensei lakukan. Dari servis bawah dan kemudian servis atas. Kedua bola pukulanku melewati net dan tidak keluar dari lapangan. Tangan yang pedis saat memukul bola seperti ini sudah lama sekali aku tidak merasakannya.



“Bagus sekali, Amamiya.”



Setelah memukul tadi, kuambil bolanya dan kumasukkan ke dalam keranjang. Bola di dalam keranjang ini ada banyak, mungkin seharusnya aku tidak perlu mengambil bola yang kupukul tadi.



“Tch, aku juga bisa seperti itu.” Terdengar suara gumaman seseorang. Aku tidak tahu siapa.



“Oke, selanjutnya.”



Satu per satu murid laki-laki melakukan servis. Aku yang sudah bisa melakukannya disuruh oleh sensei untuk berdiri di seberang net untuk mengumpulkan bola yang dipukul. Beberapa murid mengalami kesulitan saat memukul. Ada yang tidak sampai melewati net, ada juga yang memukulnya terlalu keras hingga membuat bola keluar lapangan. Anehnya, murid yang memukul bola sampai bolanya keluar lapangan ini hanya senyum-senyum. Beberapa kali dia melakukannya. Apa dia sengaja membuatku terus-terusan mengambil bola yang dia pukul itu?



Di bagian murid perempuan, Shimizu-san dan Nazuka-san terlihat lebih fokus mengajari cara servis. Terlihat kalau banyak yang sudah bisa melakukannya.



Tidak lama kemudian, murid laki-laki sudah melakukan servis semua. Sensei kemudian memanggilku.



“Amamiya, kamu bantu Shimizu dan lainnya saja. Yang lainnya, kita mulai melakukan passing.”



“Baiklah, Sensei.”



Sensei masuk ke bagian murid laki laki untuk melakukan passing. Murid laki-laki tanpa diriku berarti ada sembilan orang. Karena sensei masuk, berarti jadi 10 orang. Mereka melakukan passing dengan membuat kelompok dengan dua orang di luar lapangan agar murid perempuan bisa menyelesaikan servis dengan cepat dan bisa melanjutkan ke tahap passing.



Setelah meletakkan bola-bola yang dipukul tadi ke keranjang, aku pergi ke arah murid perempuan.



Uwaaa, aku merasa canggung berada di antara gadis-gadis ini. Terlebih, Seto-san dan Mizuno-san. Tatapan mereka berdua sangat menusukku. Walaupun begitu, aku tetap harus bersikap tenang. Bukan diriku kalau akan panik hanya dengan seperti ini. Lagi pula hanya mengajarkan saja.



Murid perempuan membagi dua kelompok. Tiap kelompok berjumlah masing-masing delapan orang dengan Shimizu-san dan Nazuka-san sebagai pengajarnya.



“Ano, Shimizu-san. Berapa orang yang belum bisa servis?”



“Ada tiga orang lagi yang belum.”



“Kalau Nazuka-san?”



“Di sini masih ada empat orang lagi.”



“Sugita-sensei menyuruhku untuk membantu kalian. Jadi…”



“Begitu, ya? Kalau begitu, tolong bantuannya.” Nazuka-san memotong pembicaraanku.



“Ah, iya.”



Sekali lagi kulihat ke arah Shimizu-san dan Nazuka-san, mereka memang memiliki tubuh yang tinggi, seperti Fuyukawa-san, Mizuno-san, dan Mizuno-san.



Satu orang dari kelompok Shimizu-san dan dua orang dari kelompok Nazuka-san menuju ke arahku. Ah, sebentar. Kenapa Fuyukawa-san ke arahku? Apa dia belum melakukan servis atau memang belum bisa?



Tiga orang yang menuju ke arahku. Ada Fuyukawa-san, Mizuno-san, dan Moriyama-san. Pertama, Moriyama-san yang melakukan servis. Tubuhnya seperti orang jepang biasanya, tingginya di bawah 160 cm, kulitnya putih, dan tidak atletis. Sebelum melakukannya, kujelaskan sedikit cara melakukan servis bawah dan atas. Dia sepertinya paham penjelesanku. Saatnya servis.



Servis bawahnya berhasil walaupun laju bolanya tidak kuat, nyaris tidak melewati net, dan servis atasnya gagal. Tenaganya seperti tidak keluar. Aku mendekati arah Moriyama-san.



“Moriyama-san, coba perlihatkan telapak tanganmu.”



“Ini.”



Moriyama-san memperlihatkan telapak tangannya kepadaku. Tangannya kecil dan kulit di area pergelangan dan telapak tangannya sudah memerah.



“Coba kamu rapatkan jari-jari tanganmu. Jangan diluruskan jari-jarinya, biarkan agak melengkung agar bisa mengikuti bentuk bola. Seperti ini.”



Kuperlihatkan kepada Moriyama-san.



“Eh, perlihatkan ke kami juga dong, Amamiya-kun.” Fuyukawa-san yang berada di belakang Moriyama-san sepertinya tidak kelihatan.



“Ah, maaf. Seperti ini.” Kuperlihatkan ke arah Fuyukawa-san dan Seto-san.



“Setelah itu, letakkan atau lempar bola ke atas kepala, lalu pukul dengan kuat. Paham?”



“Aku paham.”



“Aku juga.”



“Haa, aku ngga paham.”



Moriyama-san dan Fuyukawa-san sudah paham, tapi tidak dengan Mizuno-san. Mungkin dia tidak paham, tapi bisa melakukannya. Lagi pula dia anggota klub basket. Memukul bola seperti ini tidaklah sulit, seharusnya.



“Etto, Mizuno-san, ya? Lebih baik kamu lakukan agar tubuhmu mengingatnya. Tidak sulit kok.”



“Iya, iya, akan kucoba. Cepat, Moriyama-san.”



“Ah, iya.”



Moriyama-san mulai melakukan servis atas. Bola yang dipegang di tangan kirinya. Tangan kirinya diluruskan ke atas kepala. Setelah itu, diayunkan tangan kanannya ke arah bola. Bola melayang, menyentuh bagian atas net, dan bola jatuh di sisi lapangan yang lain.



“Itu dihitung masuk, Amamiya-kun?”



“Um, ya. Bagus sekali, Moriyama-san. Selanjutnya giliran Fuyukawa-san.”



“Ya. Aku siap, Amamiya-kun.” Fuyukawa-san ceria seperti biasanya.



Fuyukawa-san dengan percaya diri memegang dan memantulkan bolanya. Sepertinya dia teringat dengan olahraga bola basket. Dia melakukan servis bawah. Bolanya melambung tinggi.



“Fuyukawa-san, coba usahakan bolanya jangan melambung tinggi karena akan mudah diterima.”



“Um, baiklah.”



Fuyukawa-san mulai servis untuk kedua kalinya. Kali ini bolanya tidak tinggi dan terarah ke kiri lapangan. Orang yang bermain basket pasti memiliki kontrol tangan yang bagus.



“Bagaimana, Amamiya-kun?”



“Um, um. Itu bagus sekali. Selanjutnya, servis atas. Lakukan seperti yang kujelaskan tadi. Bolanya boleh dilempar sedikit ke atas kepala atau dipukul langsung dari tangan.”



“Baiklah.”



Fuyukawa-san mulai mengambil kuda-kuda untuk servis atas. Bolanya dilempar ke atas kepalanya dan saat mulai turun, bolanya dipukul sekuat tenaga. Bola itu melayang melewati net, jatuh di area sudut kiri area belakang lapangan. Itu, sanga bagus. Sangat terarah.



“Itu sangat bagus, Fuyukawa-san. Apa kamu memang mengarahkannya ke sudut kiri belakang?”



“Iya. Kupikir kalau mengarahkan bolanya secara menyilang akan lebih mudah.”



“Bolanya jatuh di area yang susah untuk di antisipasi. Bisa saja orang menganggapnya out, padahal tidak.”



“Yey…” Fuyukawa-san tersenyum. Senyumnya indah sekali.



“Selanjutnya, Mizuno-san.”



“Ya…”



Mizuno-san menuju ke arahku. Eh, kenapa dia ke arahku? Tempat servisnya ada di sebelahku.



“Hey Amamiya, aku ngga tahu hubungan apa di antara kamu dengan Yukina. Aku dan Misa ngga akan akui kamu sebagai temannya Yukina dan juga sebagai murid kelas 2-D karena kamu ini orang yang aneh. Bisa-bisanya kamu pindah ke sekolah ini yang mana sekolah ini sendiri ngga nerima murid pindahan dari sekolah lain. Entah cara apa yang kamu pakai. Jangan dekati Yukina. Ingat itu. Dasar orang asing.” Mizuno-san mengatakannya dengan suara yang pelan.



Uwaaa… Mizuno-san langsung menolakku. Dia mengatakannya langsung kalau aku ini orang aneh dan bukan orang baik-baik. Wajar saja, mereka tidak mengetahui apa-apa tentangku. Akan tiba waktunya saat mereka mengetahui rahasia yang tersimpan dibalik kenapa aku bisa dipindahkan ke sini.



Sedikit terpikirkan olehku. Hanya pemisalan saja. Jika memang semua murid kelas 2-D atau semua murid kelas dua tidak mengetahui apa-apa tentangku, kenapa Fuyukawa-san sangat ingin menjadi temanku? Orang yang disukai oleh semua murid, Fuyukawa Yukina-san. Apa memang sifatnya yang ingin berteman dengan semua orang? Atau mungkin dia tahu sesuatu tentang diriku? Aku tidak tahu itu. Namun kali ini, aku memang ingin menjadi temannya agar orang lain juga bisa menerimaku di sekolah ini.



“Iya, iya, Mizuno-san. Aku mengerti.” Aku menjawabnya dengan suara yang pelan juga agar Fuyukawa-san dan lainnya tidak bisa mendengarkannya.



“Kalau kamu ngerti, itu bagus.”



Setelah selesai bicara denganku, Mizuno-san mulai melakukan servis. Dia melakukan servis bawah dan servis atas tanpa adanya kendala. Semuanya melewati net dan tidak out.



“Um, servis yang bagus, Mizuno-san.”



Dengan berakhirnya servis dari tiga orang di kelompokku ini, semua murid perempuan sudah menyelesaikan servisnya.







***







Selanjutnya melakukan passing. Sugita-sensei yang menyadari kalau semuanya sudah selesai melakukan servis memberikan penjelasan kepada murid perempuan tentang passing. Aku kembali ke tempat murid laki-laki berada. Mereka masih sedang melakukan passing. Ada satu orang yang berhenti karena tadi dia berpasangan dengan Sensei.



Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku tidak tahu namanya. Di saat yang lain masih melakukan passing, dia sendiri yang berhenti sambil melihat ke arah murid-murid yang lain. Kalau aku menjadi dirinya, mungkin aku akan melakukan passing ke tembok. Lebih baik aku membantunya seperti membantu murid perempuan yang tadi.



“Ano sa, ayo lakukan passing denganku,” kataku sambil berjalan ke arahnya. Dia terlihat tersenyum sambil mengambil bola di keranjang. Sepertinya dia memang tidak keberatan denganku. Berbeda dengan murid laki-laki lainnya, mereka menatap rendah diriku ini. Seperti yang Mizuno-san katakan tadi, aku ini aneh.



“Etto, Amamiya, kan? Siap?.”



“Ah, iya. Maaf, namamu?”



Sungguh tidak enak kalau aku tidak mengetahui nama orang yang mengetahui namaku. Makanya aku menanyakannya langsung.



“Aku Shiga Natsuki.”



“Baiklah. Ayo mulai, Shiga-san.”



Aku dan Shiga-san melakukan passing, sama seperti murid lainnya. Sesekali bolanya jatuh karena Shiga tidak bisa mengontrol bolanya dengan baik. Sepertinya dia memang tidak jago dalam voli. Sesekali kuberi instruksi kepadanya agar bisa mengontrol dan mengarahkan bolanya pas ke arahku.



Saat kami melakukan passing, murid laki-laki mulai membicarakan tentang kami. “Hei, lihat itu si Shiga. Sekarang dia mulai mendekati Amamiya,” kata seorang murid laki-laki yang aku tidak ketahui siapa orangnya. “Biarkan saja. Lagian orang seperti mereka berdua memang cocok. Sama-sama aneh, kan? Biarkan saja,” kata seorang yang lain.



Sebenarnya ada apa dengan Shiga-san? Dia terlihat orang yang biasa saja menurutku. Tinggi badannya sekitar 170 cm dan sedikit kurus. Apa dia tidak mempunyai teman di kelas ini? Aku sedikit penasaran.



Pemikiran orang-orang sekarang sungguh aneh. Hanya sedikit berbeda dengan orang pada umumnya akan dijauhi dari suatu komunitas. Misalnya komunitas di sekolah. Mungkin inilah yang terjadi pada Shiga-san. Kasihan juga kalau memang seperti itu.



Tidak lama kemudian pelajaran olahraga mendekati akhir. Teknik dasar yang diajarkan hari ini sudah dipraktikkan dan banyak yang sudah bisa. Akhirnya, aku hanya membantu. Sebelum keluar, Sugita-sensei menyuruh kami mengambil dan memasukkan kembali bola ke dalam kerangjang. Bola yang sudah terkumpul di keranjang ini, kemudian dibawa masuk ke gudang. Setelah itu, Sensei meyuruh kami untuk berbaris.



Sensei masih memegang satu bola di tangannya. Apa masih ada yang ingin sensei lakukan, ya?



“Semuanya. Kalian sudah melakukan teknik dasar voli dengan baik hari ini. Karena ini teknik dasar, pasti lah mudah. Selanjutnya, saya ingin memperlihatkan teknik lanjutan dari servis. Kira-kira apa itu, Nazuka?”



“Jump Serve, Sensei.”



“Ya, betul. Melakukan servis sambil melompat. Di voli modern, servis menjadi salah satu teknik untuk menyerang. Salah satu caranya, melakukan servis seperti melakukan spike. Ada yang bisa melakukannya? Nazuka? Shimizu?”



“Saya belum bisa, Sensei.”



“Saya juga belum.”



Nazuka-san dan Shimizu-san menjawabnya. Ternyata mereka berdua belum bisa melakukannya. Wajar saja kalau mereka belum bisa melakukannya karena teknik ini susah. Bahkan tidak semua pemain profesional melakukan jump serve.



“Begitu, ya. Kalau kamu, Amamiya?” Tiba-tiba sensei mengarahkan pertanyaannya kepadaku.



“Ah, saya tidak yakin bisa melakukannya atau tidak.” Aku menjawabnya tidak yakin karena sudah lama aku tidak mencobanya. Aku pernah bisa.



“Coba saja.” Sensei memberikan bola yang ada ditangannya ke padaku.



“Ah, baiklah. Saya coba.”



Aku berdiri di luar lapangan sambil membanting-banting bola. Kunci dari teknik ini adalah timing. Melompat lalu memukul bolanya saat bola mulai turun dari titik tertingginya. Kalau timing-nya tidak sesuai maka bolanya bisa keluar lapangan atau mengenai net.



Kupegang bola di tangan kananku. Kaki kiri berada di depan. Kulempar bola ke depan dengan tinggi. Kuberlari menuju arah bola dan saat mendekati garis lapangan aku melompat sambil melihat ke arah bola yang berada di atas kepalaku ini. Aku seperti bernostalgia, kembali ke saat-saat aku bermain voli di Gedung Olahraga SMP-ku dulu. Timing ini, sangat bagus. Kuayunkan tangan kananku untuk memukul bola ini. Bam…!!! Terdengar suara bola yang dipukul dengan keras. Bola melaju dengan cepat, melewati atas net dan jatuh di dalam lapangan sebelah. Aku berhasil melakukannya.



Aku kembali ke barisan. Semua orang melihat ke arahku, termasuk Sugita-sensei. Apa ada yang aneh dengan jump serve tadi?



“Amamiya, tadi itu sangat bagus. Lompatan tinggi, timing pas, dan pukulan yang kuat. Sangat disayangkan kalau kamu tidak bergabung dengan klub voli.”



“Ah… mungkin tadi itu hanya kebetulan, Sensei. Saya tidak ada rencana bergabung ke klub olahraga mana pun.”



“Mm, begitu. Ya, semuanya. Seperti itulah yang dinamakan jump serve. Baiklah, kita cukupkan pelajaran olahraga hari ini. Silakan kembali ke kelas dan jangan lupa ganti seragamnya.”



Kami semua kembali ke kelas. Di perjalan menuju kelas, aku mendengar beberapa orang membicarakan tentangku saat melakukan jump serve tadi.



“Ngga kusangka dia bisa melakukan servis seperti tadi.”



“Ah, itu hanya kebetulan.”



“Servis seperti itu aku juga bisa. Gampang itu.”



“Iya. Cuma lempar dan pukul bolanya.”



Percakapan antara empat orang anak laki-laki yang berada di depanku. Memang terlihat mudah, tapi saat melakukannya langsung di lapangan, rasanya sangat berbeda.



Telapak tanganku masih terasa pedis akibat memukul bola voli saat jump serve tadi. Rasa pedis ini sangat nostalgia. Kalau sekali-kali bisa mampir dan main voli bersama klub voli, mungkin aku bisa melepas rasa rinduku terhadap olahraga voli.



“Amamiya-kun.”



Terdengar suara seorang gadis yang memanggilku dari arah belakang. Aku berbalik untuk melihatnya. Suara itu berasal dari Nazuka-san. Ah, ada Shimizu-san juga di sampingnya.



“Ada apa, Nazuka-san?”



“Servismu tadi sangat keren.”



“Um. Pasti susah untuk menahannya.”



Nazuka-san dan Shimizu-san memanggilku karena ingin memberi kesan servis tadi.



“Arigatou.” Aku hanya berterima kasih.



Setelah itu, aku melanjutkan berjalan kembali ke kelas.



Hari ini aku berbicara langsung dengan Shimizu-san, Nazuka-san, Moriyama-san, dan Shiga-san. Tatapan mereka ke arahku sangat berbeda dengan murid-murid lainnya. Mungkin hari ini aku telah melakukan suatu kemajuan. Suatu hal positif. Membuat orang untuk menerima diriku pasti membutuhkan waktu. Tapi aku percaya akan tiba waktunya saat semua murid di kelas ini menerima diriku.







***







Tidak terasa kalau hari ini sudah memasuki akhir pekan, setelah lima hari bersekolah. Seperti biasa, aku menghabiskan waktuku dengan Taka jika dia mengajakku makan siang bersama, dan sepulang sekolah ke perpustakaan untuk membaca, juga sambil berbicara dengan Namikawa-san dan Kayano-san jika mereka berada di sana.



Sejak apa yang dikatakan Mizuno-san kepadaku hari Senin lalu itu, aku tidak berbicara lagi dengan Fuyukawa-san di sekolah, kecuali ada tugas untuk perwakilan kelas. Aku sudah mengatakan kepadanya kalau aku akan melakukan sesuatu tentang itu. Dan sepertinya, dia mengerti untuk jangan berbicara dan dekati aku saat ini.



Hari ini, Sabtu, akan diadakan pertandingan basket di gedung olahraga sekolah. Aku sudah berjanji dengan Fuyukawa-san kalau akan datang untuk menontonnya.



Seperti biasa di hari Sabtu, setelah mencuci dan menjemur pakaian, aku membersihkan kamar ini. Kalau kamar ini kotor, rasanya sangat tidak nyaman. Biasanya aku akan sakit kepala saat melihat sesuatu yang berantakan atau kotor.



Setelah melakukan pekerjaan rumah, kulihat jam di ponselku. Sekarang pukul 9:10 pagi. Pertandingannya dimulai pukul 10 pagi. Masih ada sedikit waktu. Oh iya, novel yang kupinjam dari perpustakaan sekolah kemarin yang berjudul The Great Thief masih belum selesai kubaca. Hanya tinggal beberapa halaman. Mungkin 15 menit cukup untuk menyelesaikan novel ini.



Novel ini bercerita tentang Arsene, seorang pencuri yang mencuri barang-barang berharga dari orang-orang kaya dan beberapa di antaranya diberikan kepada orang miskin. Ceritanya cukup menarik. Aku terus membacanya, membalikkan halaman per halaman hingga akhirnya selesai. Hari Senin nanti sudah bisa kukembalikan ke perpustakaan sekolah.



Saat kulihat jam di ponselku, sekarang sudah pukul 9:33 pagi. Ah gawat, aku bisa telat ke pertandingannya. Membaca sesuatu yang menarik memang bisa lupa waktu. Kuambil tas pundakku, lalu kukunci semua pintu. Setelah itu aku pergi menuju sekolah.




Aku terus berlari kecil, melewati Sungai Meguro, menuju sekolah. Oh iya, aku baru tahu kalau nama sungai yang terdapat pohon sakura ini adalah Sungai Meguro. Sungai ini terkenal dengan pemandangan bunga sakuranya saat musim semi. Terus berlari di trotoar di samping sungai ini sambil melihat ke arah pohon sakura yang sudah menggugurkan bunganya. Semoga tahun depan bunganya mekar dengan indah lagi.



Akhirnya aku tiba di persimpangan dekat sekolah. Di persimpangan ini di mana kejadian itu terjadi. Sejak kejadian itu, aku selalu berhati-hati saat menyeberang. Setelah menyeberang, aku langsung menuju arah sekolah, masuk melewati gerbang yang besar ini menuju Gedung Olahraga.



Di jalan menuju gedung olahraga, sempat kulihat ke arah lapangan tenis, sepakbola, dan baseball. Lapangan itu penuh diisi oleh anggota klubnya. Ternyata sekolah dibuka sampai hari Sabtu dan kegiatan klub juga ada sampai hari Sabtu. Semoga kalian bisa menjuarai turnamanen nanti. Ganbatte!



Terlihat sudah banyak orang yang berada di Gedung Olahraga. Pastinya mereka ingin mendukung. Tentu saja, aku juga.



Di Gedung Olahraga ini terdapat tempat untuk menonton di lantai dua. Untuk menuju ke lantai dua, bisa lewat tangga dari luar gedung olahraga ini.



Aku menuju tangga itu dan akhirnya aku tiba di lantai dua gedung olahraga. Pertandingannya belum dimulai. Kulihat jam di ponselku, pukul 9:58. Sepertinya kedua tim baru saja selesai melakukan pemanasan.



Kedua tim memasuki lapangan. Ah, itu Fuyukawa-san. Pertama kalinya kulihat dirinya memakai seragam basket. Ah, ada Mizuno-san dan Seto-san juga.



Fuyukwa-san terlihat sedang melihat-lihat ke arah penonton. Sepertinya mencari seseorang. Lalu, mata kami bertemu dan dia tersenyum. Aku melihat ke arah belakangku, sepertinya ada orang yang dicarinya berada di belakangku. Tapi, di belakangku ini tidak ada orang. Apa dia mencariku tadi?



Aku sedikit berpisah dari kerumunan penonton lainnya. Kebetulan penonton tidak memenuhi tempat ini. Ya mau bagaimana lagi, ini hanya latihan. Mungkin kalau pertandingan sesungguhnya pasti akan penuh.



Wasit melakukan tip-off dan pertandingan pun dimulai. Bola pertama didapatkan oleh Keiyou-kou. Suara sorakan penonton menggema ke seluruh gedung ini. Situasi ini sangat nostalgia saat aku dulu aku bertanding bersama klub voli di turnanmen voli SMP. Suara teriakan berupa dukungan dari para penonton membuatmu merasakan energi yang besar masuk ke dalam tubuhmu. Energi itu membuatmu merasa lebih kuat dan semangat daripada biasanya.



Dalam pertandingan basket, terdapat empat quarter yang tiap quarter-nya dimainkan selama 10 menit. Waktu istirahat 15 menit sesudah quarter kedua, setelah itu masuk ke quarter ketiga.



Aku tidak terlalu mengerti mengenai olahraga basket, tapi melihat mereka yang bermain rasanya sangat menyenangkan.



Quarter pertama berakhir dengan kunggulan Keiyou. Etto, lawan sekolah kami adalah Nakano Gakuen Joshi Koutou Gakkou. Sekolah SMA khusus putri, ya. Pantas saja para penonton yang mendukung mereka semuanya perempuan.



Setelah interval, sekarang lanjut ke quarter kedua. Pertandingan berjalan dengan lambat, sama seperti di quarter pertama tadi. Mungkin karena masih di awal pertandingan.



Setelah quarter kedua dan istirahat selesai, sekarang memasuki quarter ketiga. Di quarter ini, kedua tim sama-sama bermain lebih cepat daripada sebelumnya. Skor sekarang 43-38 dengan keunggulan Keiyou-kou. Perbedaan angka yang terbilang kecil dan waktu juga masih banyak. Akhir dari qurter tiga, skor sama kuat 52-52. Saatnya tiba di quarter penentuan.



Suara teriakan para pendukung semakin keras. Kedua belah pihak sama sekali tidak terlihat seperti kelelahan. Mereka terus bersorak untuk mendukung timnya masing-masing. Aku dari tadi hanya fokus menonton, tidak berteriak seperti mereka. Lebih baik aku ikut mendukung Fuyukawa-san dan kawan-kawannya.



Aku beranjak dari tempatku menuju tempat para pendukung Keiyou. Aku ikut bersorak mengikuti mereka. Waktu terus berjalan dan meninggalkan sedikit waktu yang tersisa sebelum pertandingan berakhir. Sisa waktu 2 menit. Skor sekarang 62-64 dengan keunggulan SMA Nakano.



Di sisi waktu itu, kedua tim terus menyerang namun skor tidak kunjung berubah. Bola yang dilempar tidak kunjung masuk ke dalam ring. Waktu terus berkurang. Keadaan semakin memburuk saat kulihat beberapa pemain dari Keiyou-kou sudah sangat kelelahan. Permainan cepat dari SMA Nakano di quarter akhir benar-benar membuat para pemain Keiyou-kou kelelahan. Fuyukawa-san juga sepertinya sudah mencapai batasnya. Namun, waktu masih tersisa 20 detik dengan bola dipegang oleh Keiyou-kou. Kesempatan terakhir untuk menyerang untuk mendapatkan angka.



Keiyou-kou terus maju mencoba untuk memasukkan bola ke ring. 20 detik terakhir yang merupakan penentuan dari pertandingan ini. Fuyukawa-san mendribel bola menuju ring lawan dan dihadang oleh pemain dari SMA Nakano. Dia mengoper bolanya ke arah kiri, namun para pemain SMA Nakano langsung menjaga pemain yang memegang bola. Ah, strategi itu. Strategi yang sangat menguras stamina, man to man defense. Setiap pemain SMA Nakano menjaga dekat-dekat para pemain Keiyou-kou.



Detik demi detik terus berjalan. Tidak ada waktu untuk berpikir. Dengan stamina pemain Keiyou-kou sekarang mungkin sangat susah untuk melewati para pemain Nakano karena stamina sudah mencapai batasnya.



Bola yang dari tadi terus dioper ke arah kiri, tengah, dan kanan. Dua pemain Keiyou yang berada di bawah ring juga kesulitan bergerak untuk mencari posisi aman. Aku yang melihat dari tempat penonton mejadi sedikti geram.



Bola kembali ke dioper ke arah tengah, tempat Fuyukawa-san berada. Tidak ada waktu lagi. Dia harus melakukan shooting bola itu dari luar. Aku tidak tahan melihatnya. Kutarik nafas dan berteriak, “Shooting bolanya, Fuyukawa-san.”



Fuyukawa-san langsung melakukan shooting bersamaan dengan suara buzzer yang menandakan pertandingan telah selesai. Bola itu masuk ke dalam ring, tepat sebelum suara buzzer itu berhenti. Pertandingan selesai. Skor akhir adalah 65-64 dengan Keiyou-kou sebagai pemenangnya. Semua pemain Keiyou-kou memeluk Fuyukawa-san. Fuyukawa-san terlihat begitu gembira. Senyumnya yang manis itu dapat kurasakan dari sini. Penonton juga ikut bersorak untuk merayakan kemenangan ini.



Aku tidak tahu apakah suaraku tadi terdengar olehnya atau tidak. Tapi, tadi itu sangat keren. Seperti yang diharapkan dari seorang gadis yang bernama Fuyukawa Yukina-san.



Fuyukawa-san melihat ke arahku yang berada di tempat penonton sambil melambai-lambaikan tangannya. Setelah itu, para pemain berbaris sebelum meninggalkan lapangan sambil berkata “Arigatou gozaimasu.”



Para penonton bertepuk tangan sambil berteriak, “Pertandingan yang bagus,” “Semoga menang di turnamen nanti,” dan “Kami mendukungmu.” Suara tepuk tangan dan teriakan itu benar-benar menggema ke seluruh gedung olahraga ini.



Sungguh pertandingan yang luar biasa seru.



Aku meninggalkan gedung olahraga dan pulang ke apartemenku.



Ah, benar juga. Kukirim pesan saja ke LINE-nya Fuyukawa-san.



Konnichiwa, Fuyukawa-san.



Otsukaresama deshita.



Tadi itu pertandingan yang sangat seru.



Saat kamu melempar bolanya di detik-detik akhir pertandingan,



Itu benar-benar keren.



Selamat atas kemenangannya hari ini.



Semoga di turnamen nanti, tim-mu bisa menang.



Aku mendukungmu.





Pesannya sudah terkirim.



Saatnya pulang.







***







Sore hari di hari Sabtu setelah menyaksikan pertandingan basket di sekolah tadi, aku sedikit mencari tahu beberapa hal tentang olahraga bola basket. Ternyata ada manga yang bertemakan bola basket. Judulnya Slam Dunk dan Kuroko no Basuke. Aku belum pernah membacanya.



Lemparan terakhir Fuyukawa-san tadi itu ternyata disebut buzzer beater yaitu ketika bola yang dilempat saat buzzer berbunyi dan masuk ke ring.



Ah, ada pesan di LINE dari Fuyukawa-san.



Halo, Amamiya-kun.



Makasih udah nonton pertandingan kami tadi.



Makasih juga udah dukung kami.



Mohon dukungannya lagi saat turnamen dimulai.



Ah, sama-sama.



Semangat latihan untuk turnamen nanti.



Ya...



Ngomong-ngomong Amamiya-kun, nanti malam kamu ke kawasan belanja?



Rencananya sih.



Mau pergi bareng?



Ee? Apa tidak apa-apa?



Kalau ada yang lihat, nanti kamu didesak lagi dengan pertanyaan dari Seto-san dan Mizuno-san.



Enggak apa-apa.



Lagian jarang murid Keiyou-kou ke kawasan belanja itu.



Kalau begitu, baiklah.



Jam 8.15 malam, ya.



Aku tunggu di persimpangan jalan kemarin.



Baiklah.



Sampai nanti.





Ada satu hal yang menggangguku sedikit. Fuyukawa-san bilang “aku tunggu di persimpangan jalan kemarin” yang mana waktu itu aku bertemu dengannya di sana saat aku sedang berjalan menuju sekolah dan berakhir dengan kami pergi ke sekolah bersama.



Jadi saat itu dia menungguku untuk pergi bersama ke sekolah?



Nai yo na… Tidak mungkin Fuyukawa-san menungguku di sana untuk bisa pergi ke sekolah bersamaku. Kenapa juga aku berpikir tentang itu lagi. Itu sudah pasti kebetulan. Lagian, kebetulan ya kebetulan. Tidak ada yang merencanakannya dan mengetahuinya. Walaupun ada orang yang mempercayai kalau kebetulan itu bagian dari takdir. Jadi, kebetulan itu tidak ada, adanya itu takdir. Kalau aku, tentu saja menganggap kalau kebetulan itu ya kebetulan. Bukan takdir.



Setelah makan malam seperti yang dijanjikan tadi, aku menunggu Fuyukawa-san di persimpangan jalan yang dikatakannya. Pukul 8.10 malam. Aku datang lebih awal. Datang sebelum waktu yang ditentukan merupakan hal dasar dalam menepati janji.



Tidak lama kemudian, Fuyukawa-san tiba sambil membawa tas belanja.



“Maaf membuatmu menunggu, Amamiya-kun.”



Nafasnya terengah-engah. Sepertinya Fuyukawa-san habis berlari.



“Ah, iya, tidak apa-apa. Otsukare atas pertandingannya tadi.”



“Ah, makasih.”



“Lawannya kuat, ya...”



“Iya. Ayo kita pergi.”



“Um, baikah.”



Setelah berbincang sedikit, kami berjalan menuju kawasan belanja yang berjarak sekitar 20 menit dari tempat ini.



Di malam hari dengan hembusan angin musim semi yang sedikit sejuk.



Aku tidak tahu harus berbicara tentang apa. Kurangnya pengalaman berkomunikasi dengan para gadis lah penyebabnya. Tahun pertama di salah satu SMA di Nagano saat aku dipindahkan ke sana, aku sama sekali tidak mendapatkan apa itu yang dinamakan pertemanan. Tahun ini adalah kesempatan keduaku. Aku harus membuat banyak teman untuk balas dendam kepada tahun kemarin.



Saat berjalan di trotoar, sesekali kulihat ke arah Fuyukawa-san. Wajahnya yang seputih salju itu bersinar cerah saat terkena cahaya lampu jalan. Dia berjalan sambil tersenyum. Sepertinya ada hal menyenangkan yang terjadi padanya.



Berpikirlah Ryuki, pasti ada sesuatu hal yang bisa membuka pembicaraan dengan dirinya. Sesuatu hal, sesuatu…



Ah, dapat. Saat itu Fuyukawa-san pergi belanja tanpa memberi tahu ayahnya. Mungkin ini bisa menjadi awal dari pembicaraan kami sambil berjalan menuju kawasan belanja.



“Oh iya, Fuyukawa-san, apa kamu sudah bilang ke orang tuamu kalau pergi belanja malam ini?”



Nada suaraku sedikit tinggi. Terkesan seperti nada suara yang khawatir, padahal aku gugup.



“Sudah kok. Aku juga bilang kalau pergi bersama Amamiya-kun.”



“Oh, begitu ya?”



“Um, begitu.”



“…”



Ah, aku tidak tahu mau bicara apa lagi. Sekarang kami hanya terdiam. Hanya terdengar langkah kami kami dan suara kendaraan yang lewat di jalan.



Setelah 20 menit berjalan, kami tiba di kawasan belanja. Masih ada waktu sebelum waktu diskon dimulai. Ada beberapa yang akan kubeli, mungkin lebih baik kami berpisah di sini.



“Fuyukawa-san, mungkin kita pisah di sini.”



“Eh? Kenapa?”



“Ada beberapa yang ingin kubeli. Tokonya berada sedikit ke dalam kawasan belanja.”



“Engga apa-apa kok. Amamiya-kun juga nanti bakal beli ikan dan sayur, kan?”



“Ah, um, iya.”



Kenapa Fuyukawa-san bisa tahu?



“Ada toko yang menjual ikan dan sayuran yang berada di bagian dalam kawasan belanja ini. Jadi ngga perlu pergi ke dua toko yang berbeda.”



“Oh, ada toko yang seperti itu, ya? Kalau begitu, baiklah.”



“Ayo.”



Kami berjalan menyusuri gang-gang yang ada di kawasan belanja ini. Terus berjalan ke dalam kawasan belanja. Oh iya, aku perlu membeli kain lap. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk ke toko yang menjual kebutuhan sehari-hari. Aku tahu tempatnya saat keliling-keliling kawasan ini minggu lalu.



“Fuyukawa-san, aku ke toko yang menjual kebutuhan sehari-hari dulu ya. Mau beli kain lap.”



“Aku juga ikut.”



“Mm, baiklah.”



Kami berjalan sedikit ke depan dan ketemu tokonya. Kami pun masuk ke dalam toko.



Pada malam hari, pembeli di toko ini tidak banyak. Letaknya juga sedikit jauh ke dalam kawasan belanja yang mungkin membuat orang malas untuk datang ke sini. Padahal di sini menjual perlengkapan sehari-hari yang terbilang lengkap.



Aku mencari kain lap, sedangkan Fuyukawa-san hanya melihat-lihat saja. Kenapa aku cari kain lap? Karena mengelap dengan kain lebih bersih daripada alat mengelap yang lainnya. Bisa saja menggunakan kertas tapi kertas itu lebih baik didaur ulang. Kalau kertas dibuang percuma, maka pohon akan tumbang untuk menjadi bahan pembuatan kertas. Kita ini harus memahami perinsip “Go Green.”



Setelah dapat kainnya, aku membelinya tiga. Untuk mengelap lantai dan kaca jendela menuju beranda, mengelap dapur, dan satu lagi kusimpan.



Kami keluar dari toko ini. Kulihat jam di ponselku. Sebentar lagi jam diskon dimulai.



“Fuyukawa-san, sudah hampir mulai waktu diskonnya.”



“Ah, iya. Ayo ke toko yang kukatakan tadi. Tokonya ngga jauh dari sini. Ada di depan sana, masuk ke gang sebelah kiri, terus, mm… ke kanan, etto…”



“Haha… Ayo langsung jalan saja Fuyukawa-san.” Aku tertawa kecil.



“Ah, jangan tertawa dong, Amamiya-kun. Aku kan berusaha jelasin arahnya ke kamu.”



Wajah Fuyukawa-san sedikit memerah. Apa karena dari cahaya lampu atau dia merasa malu? Aku tidak tahu.



“Ah, maaf. Lagian nanti aku juga hafal jalannya.” Aku masih tertawa.



“Ya sudah. Ikuti aku.”



“Hai’, Fuyukawa-san.”



Fuyukawa-san dan diriku pergi dari toko ini menuju toko yang dikatakannya tadi. Aku penasaran seberapa banyak orang yang mengincar bahan makanan diskon di toko itu nanti.



Aku terus mengikuti Fuyukawa-san dari belakang. Hari ini aku seperti melihat sisi lain dari dirinya. Dia sepertinya kesulihat menetukan arah ke toko yang dikatakannya tadi. Apa karena dia belum pernah pergi ke toko itu sebelumnya? Aku sedikit penasaran.



Kami seperti berputar-putar di sekitar sini. Berjalan sedikit lagi menuju ke dalam kawasan belanja ini, hingga akhirnya kami tiba di suatu toko yang menjual sayur dan ikan. Sepertinya ini toko yang dikatakan Fuyukawa-san tadi.



“Sudah sampai, Amamiya-kun.”



“Oh, di sini tokonya. Memang jauh ke dalam kawasan belanja ini, ya.”



“Iya.”



“Ayo kita masuk.”



Saat kami masuk ke dalam toko, sudah banyak orang berada di dalam. Semuanya wanita, dari muda hingga tua. Aku sendiri pembeli laki-laki di toko ini. Wajar sih, wanita sangat suka memburu diskonan. Ah, ngomong-ngomong, toko ini besar dan luas.



Saat jam tepat menunjukkan pukul 9 malam, penjual mengatakan, “Waktu diskon dimulai” sambil berteriak. Seketika orang-orang mulai bergerak mencari bahan yang dibutuhkannya.



“Amamiya-kun, ayo kita juga.”



“Ya, Fuyukawa-san, ayo.”



Aku dan Fuyukawa-san berpisah untuk mencari bahan masing-masing. Kali ini aku membeli sayur dan ikan. Ikan yang menjadi prioritas utama karena tiap awal bulan kakek dan nenekku mengirimiku sayur. Jadi aku tidak terlalu memikirkan sayur. Kecuali ada sayur yang memang tidak dikirim oleh mereka.



Ikan berada di bagian belakang toko, sedangkan sayur berada di bagian depan. Aku berjalan menuju bagian belakang dan melihat ikan-ikan di dalam mesin pendingin. Ikan-ikan itu sudah langsung dikemas dalam plastik. Kalau begini, akan sulit untuk menentukan apakah ikan itu masih segar atau tidak. Salah satu cara yang bisa dipakai yaitu dengan melihat mata ikan dan menyentuh daging ikan. Tapi, cara itu tidak bisa kugunakan karena banyaknya orang yang menginginkan ikan-ikan ini. Kalau tidak cepat, ikannya duluan habis dibeli. Oleh karena itu, aku langsung saja mengambil ikan yang menurutku segar. Yosh, setelah memasukkannya ke kantung kain belanjaanku, aku pergi ke bagian depan untuk melihat sayur.



Dalam waktu singkat, sayur yang ada tinggal sedikit. Saat masuk tadi padahal sangat banyak. Bawang bombai dan bawang perai sudah habis. Yang benar saja? Yang tersisa hanya kubis, tauge dan bayam yang sudah dikemas. Apa boleh buat, aku ambil itu saja.



Aku menuju ke kasir dan mengantre untuk membayar. Dalam sekejap, semua bahan diskonan, sayur dan ikan, sudah habis dibeli. Kasir menjadi ramai, antreannya panjang. Pasti lama ini.



Fuyukawa-san terlihat sudah membayar dan meninggalkan toko ini. Detik demi detik berlalu, menit demi menit terlewati, akhirnya, tiba giliranku untuk membayar. Setelah itu aku ke luar. Di luar, Fuyukawa-san menungguku.



“Amamiya-kun beli apa saja?”



“Sedikit sayur dan ikan. Kalau kamu, Fuyukawa-san?”



“Hanya sayur saja. Kalau begitu, ayo kita pulang.”



“Um, ayo pulang.”



Aku dan Fuyukawa-san berjalan menuju jalan utama dan meninggalkan kawasan belanja. Cahaya lampu bangunan dan lampu jalan menemani langkah kami. Langkah demi langkah kami berjalan tanpa adanya percakapan di antara kami. Aku sendiri tidak tahu mau bicara apa. Sesekali aku hanya melihat ke arah Fuyukawa-san dan ke arah sekitarku.



Ini kedua kalinya aku berbelanja bersama Fuyukawa-san dan ketiga kalinya kami pergi bersama. Apakah nanti kami masih bisa seperti ini atau tidak, semua tergantung dari diriku. Jika memang kehadiranku di sekitar Fuyukawa-san membuat dirinya kehilangan orang-orang di sekitarnya, maka lebih baik aku menjauhi dirinya. Namun, jika aku bisa membuat orang-orang di sekitar Fuyukawa-san menerima diriku, mengetahui seperti apa diriku ini, mungkin mereka bisa menerimaku menjadi teman Fuyukawa-san dan bagian dari kelompok mereka, yaitu kelas 2-D.



Mengingat kembali kejadian minggu lalu saat Fuyukawa-san mengatakan kalau dia ingin menjadi temanku dengan raut wajah yang serius tapi sedikit murung malah membuatku ingin menjadi temannya langsung saat itu. Namun, itu tidak bisa. Oleh karena itu, aku harus membuat orang-orang di sekitarnya mengetahui siapa diriku ini. Waktunya akan tiba. Ya, rencananya pasti akan berhasil.



Kami terus berjalan tanpa adanya percakapan yang timbul. Situasi seperti ini sepertinya tidak wajar. Kalau sedang berjalan berdua, pasti ada bahan obrolan untuk dibicarakan. Fuyukawa-san yang sepertinya menyadari hal itu mulai berbicara.



“Oh iya, Amamiya-kun, sejak kapan kamu mulai main voli?” Fuyukawa-san melihat ke arahku.



“Mm… sejak kelas 5 SD.” Aku menjawabnya sambil melihat ke arah Fuyukawa-san.



“Mm, begitu ya. Saat Amamiya-kun melakukan jump serve terlihat keren lho.” Fuyukawa-san mulai tersenyum.



“Ah, tidak juga. Ada orang lain yang lebih keren daripadaku.”



“Tapi aku hanya melihatmu, Amamiya-kun.”



Kali ini senyumnya sangat lebar. Sangat manis. Seketika aku berkata di dalam hatiku, “Sono egao, mamoritai.”



“Begitu, ya. Um, lagi pula di hari itu cuma aku yang melakukannya.”



“Ah, um, benar juga.” Fuyukawa-san memalingkan pandangannya ke arah jalan.



“Fuyukawa-san sendiri, sejak kapan main basket?”



“Sejak kelas 1 SMP.”



“Wah, hebat, ya. Pantas saja. Permainanmu tadi bagus. Three-point-shoot di akhir pertandingan sangat luar biasa.”



“Itu kan karena berkatmu, Amamiya-kun. Aku dengar teriakanmu menyuruhku untuk shoot.”



“Benarkah? Aku pikir kamu tidak bisa mendengarnya.”



“Bener kok. Karena itulah berkat dirimu. Aku sempat bingung saat itu.”



“Oh, begitu ya.”



“Ya, begitu.”



Ternyata teriakanku saat itu terdengar olehnya. Kubersyukur jika teriakanku itu membuatnya berani melakukan shoot.



“Oh iya, Fuyukawa-san.”



“Ada apa, Amamiya-kun?”



“Di kawasan belanja, hari apa saja yang ada diskon?”



“Oh iya, Amamiya-kun baru saja pindah ke sini, ya. Sebenarnya setiap hari ada diskon lho...”



“Eh, serius?”



“Iya, tapi ngga di semua toko. Kalau belanja di hari senin sampai jumat pada pukul 9 malam, kita bisa dapat potongan harga, dan tidak terlalu ramai pembeli. Kalau di akhir pekan, seperti yang kita alami tadi.”



“Begitu ya. Terima kasih infonya.”



“Sama-sama.”



Jadi, setiap hari ada diskon di kawasan belanja. Kalau aku tahu lebih cepat, pasti aku tidak akan pergi di malam akhir pekan. Terlalu ramai. Lain kali, aku akan belanja saat malam di hari kerja saja.



Tidak terasa kami sudah mendekati arah tempat tinggal kami masing-masing. Karena ini sudah malam, sebagai laki-laki, tentu saja kuantar Fuyukawa-san ke rumahnya. Saat kulihat jam di ponselku, ternyata sudah lewat pukul 10 malam. Malam ini kami pulang sedikit lebih telat. Wajar sih, kami berbelanja jauh ke dalam kawasan belanja dan pembeli juga ramai.



“Fuyukawa-san, aku antar sampai ke rumahmu.”



“Arigatou, Amamiya-kun.”



Aku berjalan di dekatnya menuju Hachiyamacho. Di perjalan menuju rumahnya Fuyukawa-san, dia bertanya kepadaku.



“Amamiya-kun, rencanamu agar anak-anak di kelas mengakuimu bagaiamana?”



“Oh, itu… masih rahasia.”



“Eh, kasih tahu dong.”



“Tunggu saja saat selesai ujian tengah semester.”



“Kalau perlu bantuan, kabarin aku, ya? Aku akan coba bantu.”



“Ah, iya, arigatou.”



Tidak lama kemudian, kami sampai ke rumahnya Fuyukawa-san. Dilihat sekali lagi, rumahnya memang luas dan besar. Saat kami tiba di depan pagar, seorang wanita terlihat di depan pintu masuk rumah. Wanita itu yang melihat Fuyukawa-san langsung menuju ke arah kami.



“Yukina, kenapa lama sekali belanjanya? Mama khawatir.”



“Ah, tadi pembelinya sangat ramai. Mau gimana lagi.”



Oh, jadi wanita ini ibunya Fuyukawa-san. Ibunya cantik seperi Fuyukawa-san.



“Kalau begitu, ya sudah. Terus, siapa anak laki-laki ini?”



“Ini teman sekelasku, Amamiya-kun.”



“Selamat malam, Amamiya Ryuki.” Aku membungkuk sambil memperkenalkan diriku.



“Oh, jadi kamu, ya. Terima kasih sudah mengantar Yukina pulang.”



“Ah, tidak apa-apa. Apartemen saya juga tidak jauh dari sini.”



“Apartemen?”



“Amamiya-kun hidup sendiri di apartemen. Di Daikanyamacho.”



“Oh begitu ya.”



“Mama, kalau pulang kasih tahu dong.”



“Maaf, maaf.”



Ibunya Fuyukawa-san tiba-tiba berada di rumah tanpa sepengetahuan Fuyukawa-san. Sepertinya, ibunya Fuyukawa-san jarang berada di rumah karena urusan pekerjaan.



“Kalau begitu, aku pulang dulu, Fuyukawa-san. Oyasumi.”



“Um. Oyasumi, Amamiya-kun.”



Aku melangkahkan kakiku meninggalkan kediaman Fuyukawa-san. Di malam yang sunyi ini, aku dapat mendengar pembicaraan Fuyukawa-san bersama ibunya.



“Jadi, dia yang waktu itu?”



“Iya, Mama.”



Hanya itu yang terdengar olehku. Aku tidak tahu tentang apa yang mereka bicarakan. Aku hanya bisa menebak kalau ayahnya Fuyukawa-san memberitahu kepada istrinya kalau minggu lalu aku juga mengantar Fuyukawa-san pulang sampai ke rumahnya.



Untuk saat ini aku berharap untuk bisa bertemu dan berbicara dengan Fuyukawa-san lagi kedepannya dan rencanaku nanti berhasil untuk membuat murid kelas 2-D bisa menerimaku.