
"Hei, Amamiya-kun, apa terjadi sesuatu di antara kamu dan Atsuko?” tanya Fuyukawa-san dengan suara yang rendah seperti berbisik.
Saat ini, pelajaran kimia sedang berlangsung dan seorang guru wanita sedang menulis sesuatu di papan tulis. Fuyukawa-san tiba-tiba menanyakan sebuah pertanyaan dan melihat ke arahku yang berada di sebelah kiri tempat duduknya.
“Nggak ada apa-apa, kok,” jawabku dengan suara yang rendah juga.
“Benarkah? Sepertinya belakangan ini kamu sedikit menghidarinya.” Fuyukawa-san sepertinya mulai menyadari kalau aku berusaha menghindari Mizuno-san.
“Nggak, kok. Hanya perasaanmu saja.”
“Hm… mungkin saja, ya. Pokoknya, nggak seperti itu, kan, Amamiya-kun?”
“Ya, tentu saja.”
“Baguslah.” Fuyukawa-san tersenyum mendengar jawabanku.
Tiba-tiba aku merasakan adanya aura menusuk yang datang dari depan kelas. Ketika aku kembali melihat ke arah guru yang berada di depan kelas, kulihat sebatang kapur yang melayang tepat ke arah wajahku. Secara refleks, kapur itu kutangkap dengan tangan kananku. Hampir saja kapur ini mengenai wajahku.
“Ke mana perhatianmu ditujukan, Amamiya-kun? Kita sedang belajar sekarang. Tolong alihkan perhatianmu ke arah saya.”
“Maaf, Sensei.”
Tadi itu hampir saja. Dari yang kudengar, sensei ini terkesan tegas. Aku sama sekali tidak menyangka kalau sensei akan melempar kapur ke arahku. Tatapan matanya juga sangat tajam.
“Wah, dia bisa menangkap kapur itu.”
“Refleksnya cepat sekali.”
“Refleks yang luar biasa.”
Seketika beberapa murid di kelas ini menjadi kagum karena melihatku menangkap kapur ini.
“Semuanya, ayo kita lanjutkan pelajaran kita!”
Kapur yang kutangkap ini kusimpan di laciku. Dengan demikian, kegiatan belajar dilanjutkan.
Ketika sensei membalikkan badannya untuk menulis di papan tulis, Fuyukawa-san meletakkan selembar kertas dengan tangan kirinya ke atas mejaku. Hal itu membuatku sedikit terkejut. Aku tidak tahu apa maksud dari kertas ini. Saat kulihat, terdapat tulisan tangannya. Di kertas itu tertulis “Maaf, Amamiya-kun. Seharusnya aku nggak mengajakmu berbicara di kelas Kamura-sensei.”
“Tidak apa-apa. Jangan dipikirkan. Ayo kembali fokus belajar.” Itu yang kutulis di kertas ini lalu kuletakkan di atas mejanya. Dia membaca balasanku dan kemudian tersenyum.
Maafkan aku, Fuyukawa-san.
Baiklah, saatnya kembali fokus belajar.
Ada alasan kenapa aku tidak bisa menjawab pertanyaan Fuyukawa-san tadi dengan jujur. Jika aku mengatakan hal sebenarnya, dia pasti akan berusaha membuat hubunganku dengan Mizuno-san menjadi seperti sebelumnya. Dengan kata lain, aku akan bertemu dengannya. Untuk saat ini, aku perlu waktu sebelum kembali berinteraksi dengannya karena aku tahu kalau aku tidak bisa menghindarinya selamanya.
Aku punya firasat kalau Mizuno-san sudah menyadari sesuatu. Mungkin pertanyaan dari Fuyukawa-san tadi merupakan titipan darinya.
Mizuno-san merupakan teman dekat Fuyukawa-san. Tidak hanya dia berada di kelas yang sama dengan Fuyukawa-san di tahun ini, tapi juga dia berada di klub yang sama, yaitu klub bola basket perempuan. Dia memiliki rambut pendek berwarna hitam, mata yang indah, tatapan yang sedikit tajam, wajah yang cantik, senyuman yang indah ketika tersenyum dan tertawa, kulit putih, dan juga tubuh tinggi yang proporsional dan atletis. Aku bisa bilang kalau dia lebih tinggi daripada Fuyukawa-san. Namun, dia terlihat tomboi. Itulah Mizuno Atsuko-san.
Sudah dua hari berlalu sejak aku berusaha menghindari interaksi dengan Mizuno-san, gadis yang menamparku saat kebenaran tentang Fuyukawa-san, gadis yang kutolong satu tahun lalu, terungkap. Sejak saat itu, aku menjadi sedikit takut berhubungan dengannya dan tidak berinteraksi dengannya. Mungkin hari ini akan menjadi hari ketiga.
Pedisnya tamparan yang dilakukannya waktu itu masih bisa kuingat. Itu merupakan pertama kalinya aku ditampar oleh seorang gadis. Tentu saja itu sangat berberkas di memoriku. Namun, berkat tamparannya itu, aku menjadi sadar dan bisa menjaga hubunganku dengan Fuyukawa-san sehingga tidak hancur. Aku berterima kasih padanya karena telah menamparku untuk menyadarkanku waktu itu. Setelah kejadian itu, aku menjadi takut berhubungan dengannya. Aneh.
Sejak kemarin, aku berangkat ke sekolah sedikit lebih telat daripada biasanya. Hal ini kulakukan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya interaksi dengan Mizuno-san. Lagi pula, dia juga sibuk dengan latihan basket. Dengan demikian, kami memiliki peluang interaksi yang kecil di pagi hari.
Kalau harus kudeskripsikan keadaanku di sekolah sekarang, mungkin keadaanku seperti di medan perang. Aku harus pintar untuk menghidar dan juga harus bergerak cepat. Tidak hanya itu, aku harus waspada terhadap keadaan sekitar. Jika aku melihat Mizuno-san, aku akan cepat-cepat menghindar dan pergi menjauh.
Ketika jam istirahat makan siang tiba, aku segera keluar dari kelas menuju kantin. Aku langsung memesan makanan lalu mencari tempat duduk. Awalnya kupikir aku tidak akan bertemu dengan orang yang kukenal di sini, tapi aku salah. Aku melihat Shiraishi-san yang sedang makan di meja makan dekat pintu keluar menuju halaman dalam sekolah. Sudah beberapa kali aku melihatnya makan sendirian di kantin.
Tekadku sudah bulat untuk agar bisa menjadi temannya. Oleh karena itu, aku menuju ke arahnya untuk makan siang bersamanya.
“Halo, Shiraishi-san.”
“Halo.”
“Boleh aku duduk di sini?”
“Ya.”
Seperti biasa dia menjawab secara singkat dengan suaranya yang dingin dan aku sudah terbiasa dengan itu.
Aku duduk di depannya dan mulai memakan makan siang milikku.
Sudah hampir sebulan aku berada di klub yang sama dengannya, tapi kami sama sekali tidak pernah berbicara panjang lebar. Kami hanya duduk di kursi masing-masing sambil membaca. Dia seperti memancarkan aura untuk tidak diajak berbicara. Mungkin dia orang pertama yang kutemui seperti itu. Aku tidak tahu kenapa.
Aku terus makan sampai selesai. Melihatnya belum selesai makan di saat aku sudah selesai membuatku heran. Kupikir dia sudah selesai duluan.
“Amaryu, sendirian saja?” Tiba-tiba aku mendengar seseorang memanggil namaku dari arah belakang. Dari caranya memanggilku, aku tahu siapa orang itu.
“Oh, kupikir kamu sendirian.”
Sudah jelas di depanku ada Shiraishi-san. Apa dia sengaja menanyakan itu?
“Ada apa, Taka?”
“Ah, nggak ada apa-apa. Aku cuma mau menyapamu saja.”
“Begitu, ya. Kamu sendirian?”
“Nggak. Anggota klubku sudah duduk di sana,” kata Taka sambil melihat ke arah anggota klubnya yang duduk di seberang tempatku. Ada dua orang murid laki-laki.
Kebetulan aku bertemu dengan Taka di sini. Ini peluang bagus bagiku untuk menanyakannya tentang “hal itu” padanya.
“Taka, punya waktu sebentar? Ada yang ingin kutanyakan.”
“Kenapa tiba-tiba kamu jadi serius begini, Ryuki?”
“Karena ini hal yang penting.”
“Baiklah. Tunggu sebentar. Kuletakkan makananku dulu ke meja.” Taka menuju meja tempat temannya berada dan meletakkan nampan yang berisi makan siangnya.
“Kalau begitu sampai jumpa di ruang klub, Shiraishi-san.”
“Ya.”
Aku membawa nampanku yang berisi piring dan ke gelas ke petugas kantin. Setelah itu, aku dan Taka keluar dari kantin menuju halaman dalam sekolah.
Halaman dalam sekolah ini sangat luas. Terdapat banyak pepohonan dan bangku. Saat ini, banyak murid perempuan yang sedang makan siang di sini. Mereka duduk di bangku yang berada di bawah pohon bersama teman-teman mereka. Tidak hanya itu, aku melihat beberapa murid masuk ke Aula Sekolah. Pasti anggota klub drama.
Aku harus mencari tempat yang sepi untuk berbicara dengan Taka. Aku melihat satu bangku panjang di bawah pohon yang letaknya di dekat gedung khusus. Aku berjalan ke sana dan dia mengikutiku dari belakang.
Setelah duduk, Taka mulai membuka mulutnya.
“Jadi, apa yang mau kamu tanyakan?”
“Kamu mantan pancar Fuyukawa-san, kan?”
“Ka-kamu tahu dari mana?”
“Kenapa kamu yang balik tanya? Aku yang tanya duluan.”
“Kamu terlihat serius sekali, Ryuki.”
“Jadi, apa jawabannya?”
“Iya, benar. Aku mantan pacarnya. Sekarang giliranmu untuk menajawab pertanyaanku. Dari mana kamu tahu itu?”
“Dari mana? Tentu saja dari Fuyukawa-san.”
“Kenapa dia bilang ke kamu?”
“Aku yang tanya, jadi dia menjawabnya.”
“Begitu, ya. Kenapa kamu bisa tahu kalau aku punya hubungan dengan Fuyukawa?”
“Waktu itu kamu memanggilnya dengan namanya, Yukina. Jadi kupikir kalau kamu pasti pernah punya hubungan yang dekat dengnnya. Meskipun sekarang kalian nggak terlihat dekat.”
“Hanya dengan itu saja? Kamu hebat, ya, Ryuki.”
“Nggak hebat, kok. Lalu, kenapa waktu itu kamu nggak bilang saja kalau kamu mantan pacarnya? Kenapa kamu bilang cuma pernah sekelas dengannya waktu di kelas satu?”
“Tentu saja aku nggak bisa bilang.”
Mungkin aku bisa memahami kenapa Taka tidak mengatakan hal sebenarnya. Itu karena hubungan mereka yang memburuk. Itu dugaanku.
“Lalu, kenapa kalian putus? Apa karena kamu mencium gadis lain di Christmas Eve dua tahun yang lalu?”
“Fuyukawa bilang seperti itu?”
“Iya. Benar seperti itu?”
“Hah…” Taka menghembuskan napas yang panjang. Kemudian dia melanjutkan, “Itu semua salah. Aku seperti dijebak oleh ‘gadis itu’.”
“Apa?”
“Waktu itu aku hendak menemui Fuyukawa karena kami sudah berjanji untuk bertemu. Tiba-tiba ‘gadis itu’ muncul dan menciumku. Bukan aku yang menciumnya. Aku sendiri kaget dengan ciuman itu. Saat dia menciumku, Fuyukawa melihat ke arahku lalu pergi dari tempat itu. Sudah kujelaskan ke Fuyukawa kalau ‘gadis itu’ yang menciumku secara tiba-tiba, tapi dia nggak percaya. Setelah itu, dia memutuskanku. Sejak saat itu, hubungan kami menjadi biasa saja. Hanya kenalan dari sekolah yang sama hingga sekarang. Aku ingin melupakan waktu yang kami habiskan bersama.” Taka menundukkan pandangannya sehingga aku tidak bisa melihat ekspresi di wajahnya.
“Begitu, ya. Jadi kenyataannya nggak seperti Fuyukawa-san katakan, ya.”
“Ya. Kalau kupikir lagi, itu juga salahku karena mengatakan tempat janjian kami ke ‘gadis itu’. Nggak kusangka kalau dia akan melakukan itu untuk menghancurkan hubunganku dengan Fuyukawa.”
“Hm… ‘gadis itu’ berani sekali, ya?”
“Iya. Dia nggak ragu-ragu menciumku di saat banyak orang di sekeliling kami.”
“Ngomong-ngomong, siapa ‘gadis itu’?”
“Namanya Tachibana Karen. Dia saingan Fuyukawa di SMP dulu walaupun itu hanya anggapan orang-orang. Nggak hanya cantik, tapi dia juga pintar. Dia pernah menyatakan perasaannya ke aku, tapi kutolak.”
“Karena kamu suka Fuyukawa-san?”
“Ya, benar. Dia menyatakan perasaannya di musim semi kelas tiga.”
“Tunggu sebentar. Sejak kapan kamu menjadi pacar Fuyukawa-san?”
“Sejak musim panas kelas tiga. Aku masih ingat bagaimana aku menyatakan persaanku dan memintanya menjadi pacarku di bawah langit malam yang berhiaskan kembang api.”
“Jadi, kamu menyatakannya di saat festival musim panas, ya?”
“Ya.”
“Gadis yang bernama Tachibana-san itu sekarang di mana?”
“Dia sekolah di luar negeri sekarang. Aku nggak tahu di negara mana.”
“Dia nggak pernah mengirimu pesan?”
“Aku sudah ganti nomor ponselku, email-ku, dan ID Line-ku. Aku nggak mau dia mengganggu kehidupanku lagi.”
“Hm… begitu, ya. Sedikit aneh, ya.”
“Aneh apanya?”
“Kamu bilang ingin melupakan waktumu dengan Fuyukawa-san, tapi kamu masih ingat saat menyatakan persasaanmu? Itu berarti kamu masih punya perasaan kepadanya sampai sekarang.”
“Mungkin saja.” Taka mulai mengangkat wajahnya dan melihat ke arah awan yang mendung.
“Pasti begitu.”
Jika itu benar, maka hubungan Taka dengan Fuyukawa-san bisa kembali seperti semula. Setidaknya peluangnya masih ada.
“Masa lalu biarlah berlalu,” kata Taka dengan suara yang pelan.
Aku menjadi diam tak bersuara. Aku juga melihat ke langit yang sama dengan Taka. Aku berpikir untuk mengembalikan hubungannya dengan Fuyukawa-san, tapi aku sama sekali tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku juga tidak yakin kalau Fuyukawa-san akan percaya jika kukatakan semua apa yang dikatakan Taka padaku saat ini. Apakah ada caranya?
“Oi, Ryuki, kenapa tiba-tiba kamu tanya hal ini? Apa yang kamu rencanakan?”
Aku malingkan pandanganku ke arah Taka. Dia sedang menatapaku dengan tatapan yang serius.
“Aku hanya ingin buat hubungan kalian kembali seperti dulu lagi. Setidaknya, kalian bisa jadi teman dekat.”
“Nggak mungkin.”
“Aku juga berpikiran seperti itu. Jika kuceritakan padanya tentang hal yang kamu ceritakan ini, aku nggak yakin dia akan percaya. Tapi…”
“Tapi apa?”
“Semua tergantung padamu, Taka. Jika kamu ingin hubunganmu dengan Fuyukawa-san kembali seperti dulu, akan kubantu untuk mewujudkan itu. Akan kulakukan sesuatu.”
“Kamu orang yang baik, ya, Ryuki. Tapi aku nggak mau memanfaatkan kebaikanmu itu.”
“Memangnya salah kalau aku ingin membantu temanku? Kamu ini temanku, Taka. Jadi, apa keinginanmu? Katakan dengan jujur!”
“Aku… aku ingin menyelesaikan kesalahpahaman waktu itu. Aku nggak mau dia terus salah paham tentangku.”
“Jadi itu keinginanmu. Baiklah. Aku, Amamiya Ryuki dari Klub Bantuan, akan melakukan sesuatu tentang permasalahanmu itu. Kamu juga harus ikut agar kita bisa selesaikan kesalahpahaman dua tahun yang lalu ini.”
“Ya. Aku tahu.”
“Ayo kita balik. Kamu belum makan, kan?”
“Salah siapa?”
“Iya, iya, salahku.”
“Hahaha.”
Tiba-tiba hujan turun dengan deras. Aku segera menuju ke gedung khusus, sedangkan Taka kembali ke kantin.
Sekarang aku sudah punya banyak informasi tentang hubungan Fuyukawa-san dengan Taka. Selanjutnya, aku harus mencari cara agar kesalahpahaman di antara mereka berdua bisa terselesaikan. Tentu saja aku akan membantunya sebaik mungkin.
Waktu istirahat makan siang masih tersisa. Aku memutuskan untuk pergi ke perpustakaan melalui gedung khusus untuk menghabiskan waktun sambil membaca sesuatu. Aku juga harus menghindari Mizuno-san sebaik mungkin. Perpustakaan merupakan tempat yang bagus karena aku tahu dia tidak akan berada di sini.
Sesampai di perpustakaan, aku mengelilingi rak-rak buku untuk mencari buku yang akan kubaca. Di sini, aku tidak melihat Namikawa-san ataupun Kayano-san.
Keadaan perpustakaan sekarang sama seperti biasanya. Banyak murid kelas tiga yang sedang belajar dan beberapa murid kelas satu dan dua yang sedang membaca buku, termasuk aku salah satunya.
Membaca atau belajar di saat hujan membuatku rileks dan mudah untuk berkonsentrasi. Mungkin ada beberapa orang memiliki yang sama sepertiku di sini.
Saatnya membaca.
***
Bel tanda pulang berbunyi tepat pukul 15:30. Aku segera memasukkan buku-bukuku ke dalam tas dan loker lalu meninggalkan kelas dengan terburu-buru. Mizuno-san selalu mengajak Fuyukawa-san untuk melakukan aktivitas klub. Oleh karena itu, aku harus keluar dari kelas dengan cepat. Aku tidak menuju ruang klub karena hari ini aku harus membersihkan kelas. Aku menuju perpustakaan untuk meminjam buku yang tadi kubaca. Aku lupa meminjamnya tadi karena buru-buru kembali ke kelas karena jam istirahat makan siang sudah berakhir.
Setiba di perpustakaan, aku langsung menuju rak buku tempat buku yang tadi kubaca lalu membawanya ke konter. Namikawa-san sudah duduk di balik konter sambil membaca buku. Mungkin dia baru saja tiba di sana.
“Halo, Namikawa-san.”
“Ah, halo, Amamiya-kun. Aku sama sekali nggak sadar kalau kamu ada di sini.”
“Ahaha. Itu karena aku duluan masuk.”
“Begitu, ya.”
“Aku mau pinjam buku ini.”
“Ini buku daftar peminjamannya.” Namikawa-san memberikan buku daftar peminjaman buku perpustakaan.
Aku menulis sesuai apa yang harus diisi.
“Sudah. Makasih.”
“Sama-sama.”
“Kalau begitu sampai jumpa.”
“Kamu langsung ke ruang klub?”
“Nggak. Aku harus piket.”
“Begitu, ya. Baiklah, sampai jumpa.”
Aku kembali ke kelas.
Di dalam kelas hanya ada anggota piket yang berjumlah lima orang. Piket pun selesai dengan cepat. Sekarang saatnya aku pergi ke ruang klub.
Saat aku masuk ke dalam ruang klub, tiba-tiba Shiraishi-san melihat ke arahku. Biasanya, dia sama sekali tidak melihat ke arahku saat aku masuk ke ruangan ini karena dia tahu kalau orang yang masuk ke ruangan ini tanpa mengetuk pintu adalah aku. Setelah aku duduk, dia mulai membuka mulutnya.
“Jadi hari ini kamu tidak datang lebih cepat seperti kemarin, ya?”
“Ya. Aku ada piket.”
“Oh…”
Aku segera duduk di kursiku dan mulai membaca buku yang kupinjam tadi. Tidak ada pertukaran frasa lagi. Keheningan mulai mengisi ruangan ini yang terasa cukup luas hanya untuk dua orang. Kalau seperti ini, aku tidak akan ada kemajuan yang bisa membuatku menjadi teman Shiraishi-san. Padahal sebelumnya, aku sudah bertekad untuk melakukan sesuatu. Namun sampai sekarang, aku belum melakukan sesuatu. Selain itu, aku juga bingung tentang bagaimana caranya untuk membuat hubungan Taka dan Fuyukawa-san kembali membaik dan tentang Mizuno-san. Beberapa hari ini, aku sudah kehilangan ketenangan berada di kelas kalau ada Mizuno-san.
Banyaknya hal yang kupikirkan membuatku tidak fokus membaca. Akhirnya aku berhenti membaca dan memasukkan buku itu ke dalam tas. Aku menuju tempat peralatan teh berada dan menuangkannya ke gelas kertas. Sebenarnya ada satu cangkir teh lagi. Namun, aku tidak memakainya. Rasanya tidak cocok untukku.
Kembali ke tempat duduk lalu kumulai memikirkan cara untuk menghilangkan kesalahpahaman di antara Taka dan Fuyukawa-san. Oh, aroma teh hari ini sangat enak. Aromanya membantuku untuk rileks.
Kesalahpahaman di antara Taka dan Fuyukawa-san sudah berlangsung lebih tepatnya hampir dua tahun. Pasti Tachibana-san itu sangat senang saat mengetahui Taka sudah putus dengan Fuyukawa-san. Setidaknya, dia sudah tidak berada di Jepang lagi sehingga dia tidak dapat mengganggu Taka lagi. Gara-gara Tachibana-san itu, hati mereka berdua pasti terluka.
Aku sendiri sebenarnya tidak terlalu mengerti masalah percintaan. Aku belum pernah menyukai seorang gadis dan belum pernah jatuh cinta juga. Waktu kecil dulu, aku hanya pernah dekat dengan seorang gadis yang mengunjungi desaku di saat liburan musim panas. Gadis itu bilang kalau dia datang ke Nagano karena ayahnya ada urusan di sana. Meskipun dalam waktu yang singkat, kami cukup akrab. Kami menggunakan nama depan saat berbicara, bukan nama keluarga. Di minggu terakhir bulan Agustus, dia sudah tidak ada. Orang-orang desa bilang bahwa dia sudah kembali ke kota asalnya. Aku menyesal karena tidak menanyakan dari mana asalnya. Sekarang namanya tidak bisa kuingat lagi karena ada kejadian yang sangat menyakitkan terjadi setelah dia pergi.
Mungkin aneh kenapa aku bisa tahu kalau hati mereka berdua terluka. Pengalaman percintaan hanya kudapat dari komik dan novel, jadi aku hanya tahu sedikit. Hati Fuyukawa-san terluka karena pengkhianatan yang dilakukan Taka meskipun itu adalah sebuah kesalahpahaman dan hati Taka terluka karena kesalahpahaman itu membuat hubungannya dengan Fuyukawa-san menjadi hancur.
Taka bilang kalau dia sudah mencoba menjelaskan kepada Fuyukawa-san. Namun, Fuyukawa-san tidak memercayai hal itu. Tentu saja jika dia memercayainya, maka dia tidak akan memutuskan Taka. Apa yang menjadi masalah di sini yaitu apakah Taka menjelaskan hal yang terjadi saat itu dengan jelas sampai membawa nama Tachibana-san atau Fuyukawa-san tidak mendengarkan sama sekali apa yang dijelaskan Taka. Untuk meluruskan dan menyelesaikan kesalahpahaman ini, aku harus mempertemukan mereka berdua kembali. Untuk waktunya, mungkin lebih baik setelah turnamen bola basket selesai. Fuyukawa-san di tim basket perempuan sudah berhasil melaju sampai babak semifinal. Kalau tidak salah, pertandingannya akan dilaksanakan Jumat ini, sedangkan pertandingan final dilaksanakan di hari Sabtu. Langkah pertama, aku akan menyuruh Taka untuk menonton pertandingan basket klub bola basket perempuan.
Sepertinya aku melupakan sesuatu. Apa, ya?
Oh, aku tahu. Aku menerima pemintaan Taka sebagai anggota dari Klub Bantuan. Dengan kata lain, aku harus menulis permintaan ini di log book klub dan mejelaskan kepada Shiraishi-san.
“Shiraishi-san, ada yang ingin aku bicarakan denganmu,” kataku dengan suara serius.
Shiraishi-san menutup bukunya lalu melihat ke arahku. “Apa?”
Kemudian, aku menjelaskan kesalahpahaman apa yang terjadi di antara Taka dan Fuyukawa-san kepada Shiraishi-san secara detail.
“… Seperti itu, Shiraishi-san. Aku sudah menerima permintaanya sebagai anggota Klub Bantuan.”
“Karena itu, kamu menjelaskan kepadaku selaku ketua klub?”
“Iya. Apa boleh dimasukkan ke permintaan klub? Lagi pula, klub kita saat ini nggak ada kegiatan apa-apa.”
“Ya, boleh. Lagi pula, dia itu temanmu, kan?”
“Iya. Fuyukawa-san juga. Sebagai teman mereka, aku ingin meluruskan kesalahpahaman itu.”
“Begitu, ya. Lalu, apa yang akan klub kita lakukan untuk meluruskan kesalahpahaman itu?”
“Bukan klub, tapi aku.”
“Kenapa?”
“Aku sudah punya rencana. Jadi biarkan aku yang melakukannya.”
“Kalau itu maumu, lakukan saja.”
“Makasih, Shiraishi-san.”
“Um. Kalau begitu, akan kutulis di log book.”
Shiraishi-san sepertinya mengerti determinasiku. Mungkin dia percaya kalau aku bisa melakukan sesuatu yang bisa menyelesaikan permasalahan Taka.
Tujuan dari Klub Bantuan adalah membantu para murid agar bisa menyelesaikan masalah yang mereka hadapi, bukan menyelesaikan masalah mereka untuk mereka. Dengan demikian, mereka bisa menjadi individu yang bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.
Tiba-tiba, pintu ruangan ini diketuk oleh seseorang. “Silakan masuk,” kataku.
Orang yang masuk ke ruangan ini adalah kapten Klub Sepakbola, Takezawa Kirio-senpai. Dia tidak bersama Ishikawa-senpai kali ini.
“Halo, Amamiya dan Shiraishi-san.”
“Halo, Takezawa-senpai.”
“Halo.”
Takezawa-senpai memindahkan kursi yang berada di depan meja ke depan mejaku. Mungkin dia juga segan kepada Shiraishi-san.
“Ah, kali ini nggak usah tehnya, Shiraishi-san. Aku perlu bantuan dari klub kalian.”
“Kali ini ada apa, Senpai?”
“Rikka nggak sengaja atur jadwal latihan dengan sekolah lain hari ini.”
“Terus?”
“Kiper kami belum sehat.”
“Benar, Shiraishi-san. Tapi semuanya sedang sakit. Kiper utama kami masih demam, kiper cadangan pertama terkena demam kemarin, dan kiper cadangan kedua terkenan demam hari ini, padahal diarenya sudah sembuh kemarin.”
“Apa boleh buat. Aku juga sakit minggu lalu.”
“Sekarang sudah sehat, kan, Amamiya?”
“Tentu saja sudah sehat.”
“Kalau begitu, bantu kami untuk jadi kiper pengganti, Amamiya.”
“Baiklah, akan kubantu.”
“Boleh, kan, Shiraishi-san?”
“Ya. Aku terima permintaan Klub Sepakbola.” Shiraishi-san kemudian mengisi log book klub. Dengan begini, klub ini punya pekerjaan yang harus dilakukan.
“Makasih. Oh, iya, kamu punya sepatu bola, Amamiya?”
“Nggak punya.”
“Sepertinya di ruang klub ada sepatu lebih. Jersey kiper juga ada. Semoga pas untuk kamu pakai.”
“Wah, makasih, Senpai.”
“Seharusnya aku yang harus berterima kasih. Baiklah, ayo kita ke lapangan. Kamu ikut, Shiraishi-san?”
“Ya, tentu saja.”
“Baiklah.”
Kami bertiga meninggalkan ruangan ini untuk menuju ke lapangan. Shiraishi-san langsung menuju ke lapangan, sedangkan aku dan Takezawa-senpai menuju gedung ruang klub yang ada di dekat lapangan untuk mengganti pakaian.
Seperti namanya, semua ruangan di gedung ruang klub ini digunakan untuk klub yang ada di sekolah ini dengan total tiga lantai. Ruangan untuk Klub Sepakbola berada di lantai satu.
Seperti ruangan untuk klub olahraga pada umumnya, di dalam ruangan ini terdapat loker. Takezawa-senpai meminjamiku sepatu sepakbola, jersey kiper, serta sarung tangan kiper.
Setelah mengganti pakaian, aku memakai sepatu sepakbolanya. Semuanya pas dengan tubuhku. Kuletakkan seragamku ke dalam loker lalu kami keluar menuju lapangan. Ini akan menjadi debut pertamaku bermain sepakbola di sekolah ini.
“Oi, Ryuki!”
Tiba-tiba aku mendenger seseorang meneriaki namaku dan aku tahu siapa orangnya. Suaranya berasal dari atas lalu aku pun melihat ke arahnya. Taka sedang berdiri di koridor lantai tiga.
“Ya, Taka. Sedang ada kegiatan klub?”
“Ya, begitulah. Kamu sendiri sedang apa, Ryuki? Kenapa kamu pakai jersey sepakbola? Bahkan kamu memegang sarung tangan kiper.”
“Takezawa-senpai memintaku untuk jadi kiper cadangan untuk pertandingan latihan sekarang.”
“Oh, begitu. Kalau kegiatan klubku sudah selesai, aku akan datang untuk menonton.”
“Ya.”
Sudah banyak orang yang berada di lapangan sepakbola. Aku dan Takezawa-senpai menuju ke arah bench anggota Klub Sepakbola Keiyou yang berada di sebelah kiri pinggir lapangan, sedangkan di sebelah kanan bench tim lawan kami berada. Lawan kami sepertinya sudah siap untuk bertanding walaupun dengan kondisi lapangan yang becek akibat hujan yang turun tadi.
Sama seperti Klub Sepakbola Keiyou, lawan kami memiliki manajer perempuan. Satu yang berbeda yaitu jumlahnya. Mereka memiliki tiga orang manajer perempuan, sedangkan kami hanya memiliki dua orang, Ishikawa-senpai dan seorang yang tidak kukenal. Seorang pria paruh baya yang pasti sebagai pelatih sedang membicarakan sesuatu dengan pemain lainnya.
“Ah, itu Kirio-kun dan Amamiya-kun,” kata Ishikawa-senpai saat melihat aku dan Takezawa-senpai mendekat ke arahnya.
“Semuanya, perkenalkan. Dia ini yang akan bermain sebagai kiper untuk hari ini menggantikan kiper kita yang nggak bisa main.”
“Namaku Amamiya Ryuki dari kelas 2-D dan anggota Klub Bantuan. Yang di sana itu Shiraishi Miyuki-san sebagai ketua klub. Aku datang untuk menjadi kiper kalian hari ini. Mohon bantuannya.”
Suaraku sedikit besar karena terbiasa. Waktu SMP, hal seperti ini pernah terjadi. Saat itu aku memperkenalkan diriku di depan anggota Klub Voli dengan suara yang pelan. Pelatih saat itu menyuruhku untuk menggunakan suara yang besar agar semua dapat mendengarnya.
“Jadi dia Amamiya Ryuki?”
“Kamu tahu dia?”
“Dia itu murid pindahan itu.”
“Oh, jadi dia.”
“Dia juga dapat peringkat dua di ujian tengah semester kemarin.”
“Aku dengar dari Klub Voli, dia jago. Mungkin dia juga jago sepakbola.”
Entah kenapa beberapa orang mulai membicarakan tentangku dengan suara yang dapat kudengar.
“Saya Nagatomo sebagi pelatih. Untuk hari ini, mainlah dengan seluruh kemampuanmu sebagai kiper.”
“Ya, Pelatih.”
“Baiklah. Semuanya, lakukan seperti biasanya.”
“Ya, Pelatih,” teriak semua pemain.
Aku melakukan pemanasan ringan sebelum pertandingan dimulai lalu memakai sarung tangan kiper. Setelah itu, masuk ke lapangan untuk mulai bertanding. Ini memang hanya pertandingan latihan, tapi aku akan melakukannya sebaik mungkin. Sudah lama kutunggu waktu ini untuk bisa bermain sepakbola lagi.
Karena ini pertandingan latihan, setiap waktu di setiap babaknya hanya 30 menit dan 15 menit untuk istirahat.
Aku berdiri di posisi kiper. Dari belakang kulihat rekan setimku yang berada di depanku. Pemandangan ini yang sudah lama ingin kulihat kembali.
“Amamiya,” panggil Takezawa-senpai.
“Ya, Senpai?”
“Jangan sungkan untuk mengatur para bek, ya.”
“Ya, aku ngerti.”
Tanpa dibilang pun, aku pasti akan melakukan seperti itu untuk bisa meraih kemenangan.
Bola di babak pertama dari tim lawan.
Wasit meniup peluit untuk menandakan pertandingan dimulai.
***
Pertandingan berlangsung dengan ketat. Meskipun tim lawan terus-terusan melancarkan serangan, aku dan para bek berkomunikasi dengan bagus sehingga dapat menggagalkan serangan mereka. Aku berhasil menahan beberapa tendangan dan tandukan mereka. Walaupun begitu, mereka memiliki peluang besar untuk mencetak gol. Namun, keberuntungan masih berada di pihak kami.
Pemain gelandang dan penyerang kami tidak mau kalah dalam urusan menyerang. Beberapa kali kami dapat melancarkan serangan balik dari bola yang kutangkap. Namun, kami juga belum bisa mencetak gol. Mungkin kondisi lapangan yang becek menyulitkan kedua tim untuk menendang. Ya, pasti begitu.
Sudah 20 menit lebih pertandingan berlangsung dan skor masih kacamata.
Entah kenapa aku sangat menikmati pertandingan ini. Aku melupakan kalau ini pertandingan latihan. Aku akan bermain secara serius.
Wasit meniup peluit tanda babak pertama sudah usai.
Semua pemain kembali ke bench masing-masing. Di sini, pelatih memberikan arahan apa yang harus dilakukan para pemain dan kedua manajer memberikan minuman. Pas sekali tenggorokan terasa kering karena harus berteriak untuk mengatur pertahanan. Manajer yang tidak kuketahui namanya ini memberikanku botol minuman.
“Ini minumannya, Amamiya-kun.”
“Makasih, ya, hm?”
“Ah… namaku Morikawa Suzu dari kelas 2-F. Salam kenal, Amamiya-kun.”
“Salam kenal juga, Morikawa-san.”
Tiba-tiba Morikawa-san tersenyum. Secara refleks aku juga ikut tersenyum ke arahnya.
Setelah beristirahat 15 menit, kami kembali ke lapangan untuk melanjutkan pertandingan di babak kedua.
Berbeda dengan babak pertama tadi, permainan tim lawan sangat cepat. Mereka seperti bermain dengan strategi all-out attack dengan hanya menyisakan dua bek tengah di lini belakang. Itu artinya kami memiliki peluang besar untuk mencetak gol dengan skema serangan balik. Namun, itu tidak mudah.
Faktanya, tim kami hampir tidak memiliki peluang untuk melakukan serangan balik. Transformasi mereka dari menyerang ke bertahan sangat bagus, juga mereka menekan pemain kami saat mendapatkan bola. Terlihat beberapa penyerang kami sedikit kesal karena tidak mendapatkan banyak peluang. Kalau seperti ini terus, tugas pemain gelandang semakin berat karena harus membantu pertahanan dan penyerangan.
Sudah lebih dari 10 menit pertandingan di babak kedua berlangsung dan skor belum berubah. Apa yang berubah hanyalah tempo permainan. Seperti dugaanku, pemain lawan sudah terlihat menuruni tempo permainan mereka. Tentu saja bermain menekan dengan tempo yang cepat akan menguras stamina lebih cepat. Ini saatnya kami melakukan serangan.
Pemain gelandang dan penyerang kami berhasil membangun serangan dengan sabar walaupun beberapa tendangan dan tandukan masih belum menghasilkan gol. Entah kenapa bek yang seharusnya menjaga lini belakang mulai meninggalkan posisinya secara perlahan, begitu juga dengan Takezawa-senpai. Mereka semua lupa dengan pertahanan karena terus-terusan menyerang dan menekan pemain lawan. Aku punya perasaan tidak enak.
Beberapa kali serangan balik yang dilancarkan tim lawan berhasil digagalkan karena pemain kami terus menekan mereka hingga mereka tidak memiliki ruang. Di saat pertandingan sudah berjalan lebih dari 20 menit, pemain kami mulai terlihat kelelahan. Ini dapat dilihat dari bagaimana mereka menendang dan mengoper bola yang mulai tidak akurat. Untung saja masih dapat dibantu oleh pemain lain untuk mengamankan bola. Namun pada akhirnya, kami lengah.
Akibat dari seorang pemain kami yang salah mengoper bola, tim lawan melancarkan serangan balik dengan sigap. Dengan ditambahnya bek kami yang meninggalkan posisinya, bagian kiri pertahanan kami sangat terbuka. Tim lawan mengoper bola ke area pertahanan kami yang kosong itu dan di sana sudah ada seorang pemain dari tim lawan yang berlari untuk mencari ruang. Dia mengontrol dengan bagus bola yang dioper itu dan terus menggiringnya dengan cepat menuju gawangku. Aku segera mempersiapkan posisiku.
Aku tidak punya waktu untuk menyuruh bek mundur karena mereka sudah telat. Apa yang harus kulakukan sekarang adalah memfokuskan diriku untuk menghadangny yang sedang menggring bola. Ini akan menjadi pertarungan satu lawan satu antara kiper dan penyerang.
Dia terus menggiring bola hingga masuk ke kotak pinalti. Aku maju meninggalkan tempatku untuk mendekatinya. Dengan begitu, aku bisa memotong jarak bola denganku saat dia menendangnya. Aku berusaha menutup ruang di bagian kiri gawang sebisa mungkin untuk membuatnya menendang ke arah kanan.
Saat dia mengancang-ancang untuk menendang dengan kaki kirinya, aku hanya merentangkan kedua tanganku karena jarak kami sudah dekat. Tanpa sempat memalingkan pandanganku ke arah kanan agar bola tidak mengenai hidungku, bola itu ditendangnya.
Ah, sakit.
Bola itu mengenai hidungku dan membuatnya terpental ke arah kanan. Di arah tengah gawang, sudah ada seorang pemain dari tim lawan tanpa penjagaan. Tanpa pikir panjang, aku berlari sedikit ke kanan lalu melompat sejauh mungkin ketika dia menendang bola itu. Pandanganku sekarang hanya tertuju ke arah bola. Kuulurkan tanganku semampuku hingga akhirnya jari tengahku bisa menyentuh bola yang ditendangnya. Aku tahu bola itu akan mengarah ke gawang. Mungkin ini akan menjadi gol. Terdengar bunyi tiang gawang. Ketika kulihat ke arah gawang, tidak ada bola di dalamnya. Ternyata bola itu berada di luar lapangan. Tidak kusangka kalau aku berhasil menjaga gawang ini.
“Ah, sialan!!!” teriak salah satu pemain dari tim lawan.
Aku masih tergeletak di tanah sambil melihat ke arah sekeliling lapangan. Ternyata ada juga murid yang menonton pertandingan ini.
Tiba-tiba aku merasakan adanya cairan hangat di atas bibirku.
“Hei, kamu nggak apa-apa?” tanya seorang kepadaku.
Aku melihat ke arah sumber suara itu. Dia adalah orang yang terakhir menendang tadi.
“Ya.”
“Oi, oi… hidungmu… keluar darah.”
“Eh?”
Aku berdiri lalu menempelkan lengan kiriku ke hidungku. Di lenganku terdapat darah. Ini pasti akibat bola yang mengenai hidungku tadi.
“Amamiya, kamu mimisan.”
“Oh, Takezawa-senpai. Iya.”
Takezawa-senpai memberikan aba-aba kepada wasit. Wasit mendekatiku dan menyuruhku untuk kembali ke bench. Pertandingan diberhentikan sementara.
Ketika berjalan menuju bench, aku melihat beberapa temanku. Ada Taka yang berdiri di dekat bench dan Fuyukawa-san bersama Seto-san dan Mizuno-san berdiri di belakang gawangku. Ah, mereka bertiga pasti baru selesai kegiatan klub. Aku sama sekali tidak menyadari mereka bertiga ada di sana.
Aku langsung duduk setiba di bench. Ishikawa-senpai memberiku handuk kecil untuk menutup hidungku dan Morikawa-san memberiku botol minuman. Saat ini, aku harus menghentikan darah yang keluar agar bisa kembali bermain.
“Amamiya… kamu hebat, ya, bisa melakukan double-save seperti tadi itu.”
“Refleksmu sangat cepat. Kupikir serangan balik itu akan menjadi gol pertama untuk mereka.
“Aku juga berpikiran seperti itu.”
Beberapa pemain mulai memujiku.
“Aku sendiri juga nggak nyangka bisa menepis tendangan itu. Itu hanya kebeteluan.”
“Tadi itu penyelamatan yang sangat bagus, Amamiya. Jadi, apa kamu masih bisa bermain?”
“Sepertinya bisa, Pelatih.”
“Bagaimana dengan darahnya? Sudah berhenti?”
Ketika kupindahkan handuk ini dari hidungku, tetesan darah jatuh. Setelah itu, hidungku kututup lagi dengan handuk.
“Sepertinya kamu tidak bisa bermain lagi, Amamiya.”
“Ya, Pelatih.”
Sudah menjadi peraturan dalam olahraga sepakbola jika ada pemain yang mimisan, dia tidak boleh bermain jika darahnya belum berhenti. Dengan kata lain, aku harus harus digantikan.
Pandanganku mulai kabur dan kepalaku terasa berat.
“Amamiya-kun, kamu nggak apa-apa?” tanya Morikawa-san.
“Cuma sedikit pusing saja.”
“Itu karena kamu kehilangan darah.”
“Iya.”
“Karena Amamiya tidak bisa melanjutkan permainan, maka yang akan menjadi kiper adalah kamu, Takezawa.”
“Ya, Pelatih.”
“Takezawa-senpai, ini sarung tangannya.”
“Oh, ya. Maaf, ya, Amamiya. Aku sudah membuatmu seperti ini.” Takezawa-senpai mengatakannya sambil membuka sarung tangan di tanganku ini.
“Nggak apa-apa, Senpai. Aku sudah tahu risiko sebagai kiper.”
“Makasih.”
Pertandingan dilanjutkan dengan seorang bek masuk menggantikanku dan Takezawa mengubah posisinya menjadi kiper.
Aku masih belum tahu dari SMA mana lawan kami hari ini. Morikawa-san kebetulan duduk di sampingku dan aku mulai bertanya.
“Morikawa-san, lawan kita hari ini dari SMA mana?”
“Mereka dari SMA Akademi Waseida.”
“Sekolah kita punya hubungan baik dengan sekolah mereka, lo.”
“Begitu, ya. Aku baru tahu.”
“Haha… itu karena kamu murid pindahan.”
“Kamu benar.”
Dari bench ini, aku menonton pertandingan hingga selesai. Skor akhir adalah 0-1 dengan kekalahan kami.
Semua pemain yang berada di lapangan berbaris di tengah lapangan lalu kembali ke bench. Mereka semua merasa kesal karena hasil pertandingan ini. Dari apa yang kulihat, mereka sebenarnya bisa menang. Peluang yang tercipta tidaklah sedikit. Namun, penyerang tidak memaksimalkan peluang yang ada untuk mencetak gol. Sudah pasti mereka merasa kesal. Apa boleh buat. Kondisi lapangan yang basah dan becek karena hujan. Kemungkinan beberapa pemain tidak bisa mengeluarkan seluruh kemampuannya di kondisi seperti ini.
Pelatih mengatakan akan mengadakan rapat besok. Untuk hari ini, kami cukup di sini. Tentu saja aku tidak perlu mengikuti rapat itu.
Sebelum meninggalkan lapangan, kami bersalaman dengan lawan kami. Aku masih meletakkan handuk di hidungku sambil terus berjalan dan bersalaman dengan mereka.
“Hei, kamu kiper yang tadi. Tadi itu penyelamat yang keren.”
“Iya. Double-save yang gila.”
“Ngga, kok. Tadi itu hanya beruntung saja.”
“Hei, aku minta maaf karena sudah membuatmu mimisan.”
“Ah, ya. Nggak apa-apa, kok.”
Ada satu orang manajer dari tim SMA Waseida yang terus melihatku dari tadi sejak kami mulai bersalaman dengan mereka. Lebih baik tidak perlu kuhiraukan.
Setelah itu, kami meninggalkan lapangan dan segera kembali ke ruang klub, sedangkan lawan kami dari Waseida akan pulang dan Shiraishi-san kembali ke ruang klubnya.
Jersey yang kupinjam menjadi kotor dan terdapat noda darah akibat mimisan. Lebih baik kucuci dulu sebelum kukembalikan.
“Amamiya. Jerseynya kamu masukkan ke sini, ya.”
“Nggak perlu kucuci dulu, Senpai?”
“Nggak, kok.”
“Baiklah.” Sepertinya aku tidak perlu mencuci jersey ini.
Setelah mengelap badanku dengan handuk yang diberikan Takezawa-senpai, aku memakai kembali seragam sekolahku dan bersiap untuk kembali.
“Kalau begitu, aku kembali duluan.”
“Amamiya, tunggu.”
“Hm?”
“Satu, dua, tiga. Makasih atas bantuannya, Amamiya.” Semua anggota klub membungkukkan badan mereka. Ini pertama kalinya terjadi kepadaku di sini. Aku sangat senang karena bisa membantu mereka dan bisa bermain sepakbola. Walaupun aku mengalami memisan.
“Ya, sama-sama. Sampai jumpa, semuanya.”
Di depan ruang klub, ada Ishikawa-senpai, Morikawa-san, Taka, Fuyukawa-san, Seto-san, dan orang yang sedang kuhindari, Mizuno-san. Mereka mendekatiku.
“Makasih, Amamiya-kun, sudah membantu kami walaupun kamu mengalami mimisan.”
“Makasih, ya, Amamiya-kun.”
“Sama-sama, Ishikawa-senpai, Morikawa-san. Aku senang bisa membantu kalian dan bisa bermain sepakbola lagi.”
“Amamiya-kun, kamu nggak apa-apa?”
“Aku baik-baik saja, kok, Fuyukawa-san.”
“Tapi kamu mimisan.”
“Ya. Tapi bukan masalah. Ishikawa-senpai, handuknya kubawa pulang, ya. Nanti kukembalika setelah kucuci sampai bersih.”
“Iya.”
“Tapi… tadi itu sangat keren, Ryuki.”
“Iya. Penyelamatan ganda tadi itu sangat luar biasa. Kupikir itu akan menjadi gol. Kalau kuceritakan ke Hitoka-chan pasti dia senang dengarnya.”
“Benar juga. Orang yang memberitahu kita tentang Amamiya-kun adalah Taniguchi-san, kan, Rikka-senpai?”
“Iya. Nggak hanya hebat di voli, tapi kamu hebat juga di sepakbola. Rasanya aku ingin kamu masuk ke klub kami.”
“Aku juga berpikiran seperti itu.”
“Kalian terlalu membesarkan. Aku nggak hebat, kok. Tadi itu hanya kebetulan dan beruntung saja.”
“Kamu terlalu merendah, Amamiya-kun.”
“Kupikir perkataanmu dulu di jam pelajaran olahraga adalah omong kosong, Amamiya. Ternyata kamu benar-benar bisa bermain voli dan sepakbola. Aku sedikit kaget, bahkan Misa dan Yukina juga.”
“Begitu, ya,” jawabku pada perkataan Mizuno-san tanpa melihat ke arahnya dan dengan suara yang kecil, lalu kulanjutkan. “Kalau begitu, aku duluan.”
“Hati-hati, Ryuki.”
“Sampai jumpa lagi, Amamiya-kun.”
Aku sempat melihat wajah Fuyukawa-san saat memjawab perkataan Mizuno-san. Dia seperti penasaran kenapa aku hanya berkata seperti itu dan tidak melihat ke arah Mizuno-san.
Akhirnya aku tiba di ruang klub yang di dalamnya sudah ada Shiraishi-san. Aku segera mengambil tasku lalu pulang dengan handuk yang masih kugunakan untuk menutup hidungku. Terasa menyedihkan. Namun setidaknya, aku bisa bermain sepakbola untuk pertama kalinya di kesempatan keduaku berada di SMA Akademi Keiyou ini.
“Aku pulang duluan, ya, Shiraishi-san.”
“Ah…”
“Hm?” Aku berbalik dan melihat ke arahnya
“Ah, begini… bagaimana dengan mimisanmu itu?”
“Sepertinya belum,” kataku sambil mejauhkan tanganku yang memegang handuk dari hidungku. Aku melanjutkan, “Darahnya masih keluar walaupun sedikit. Setidaknya sudah nggak seperti tadi.”
“Jangan sumbat hidungmu dengan kapas. Biarkan saja darahnya keluar.”
“Ya, aku tahu.”
“Jangan lupa untuk mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi dan zat tembaga untuk meningkatkan produksi sel darah merah. Vitamin B6 dan B12 juga.”
“Iya. Makasih, Shiraishi-san.” Aku membalas perkataannya dengan senyuman.
Shiraishi-san selalu berbicara secara singkat, tapi tiba-tiba dia berbicara sedikit panjang. Apa yang dikatakannya itu membuatku senang karena terdengar seperti dia mengkhawatirkanku walaupun aku tahu dia tidak seperti itu.
“…” Shiraishi-san terdiam dan ekspresinya seperti terkejut karena sesuatu. Oh, mungkin akibat darah yang keluar dari hidungku ini membuatnya terkejut. Kuarahkan tangan kiriku ke hidung untuk menutupnya kembali dengan handuk.
“Kalau begitu, sampai jumpa besok.”
“Ah, ya. Sampai jumpa.”
“Ah… aku lupa sesuatu. Tolong isi log book-nya, ya, Shiraishi-san.”
“Sudah kuisi.”
“Makasih, ya.”
“Ya.”
Aku meninggalkan ruang klub lalu menuruni tangga menuju lantai satu. Kembali ke gedung utama, mengganti uwabaki-ku dengan sepatu, kemudian berjalan menuju gerbang sekolah.
Aku melihat seorang manajer tim SMA Waseida berdiri di dekat gerbang. Gadis itu yang tadi terus-terusan melihatku. Apa dia sedang menunggu seseorang?