Second Chance in My High School Life

Second Chance in My High School Life
Episode 24



Chapter 21


Akhir pekan berakhir lebih cepat daripada


yang kubayangkan dan hari Senin terasa datang lebih cepat. Biasanya, aku bangun


cepat di pagi hari. Namun, tidak untuk hari ini walaupun aku tidur lebih awal


tadi malam untuk mengistirahatkan tubuhku.


Kondisi tubuhku sudah terasa lebih baik sekarang.


Luka memar yang ada di badan sudah tidak terasa lagi saat aku bangun tadi.


Sekarang sudah pukul tujuh pagi dan aku harus bersiap-siap untuk pergi ke


sekolah.


Setelah mandi, aku mengecek luka memar


yang ada di tubuhku di cermin. Memarnya masih berbekas, tapi sudah tidak


seperti kemarin. Ini berkat obat oles yang diberikan polisi waktu itu. Kuoles


lagi obat itu di bagian badanku agar memarnya cepat hilang. Untuk di bagian


muka, kupakai plester yang kemarin diberikan Atsuko-san saat dia datang ke


sini. Setidaknya dengan plester ini, memar yang ada di wajahku tidak terlihat


semua dan bisa lebih cepat menghilangnya. Plester ini kupakai di daerah pipi.


Memar yang terlihat hanya di dekat mata dan mulut.


Setelah makan dan menyiapkan semua untuk


keperluan sekolah hari ini, aku meninggalkan apartemenku ini sekitar pukul 7:50


pagi.


Cuaca hari ini terbilang cerah. Prakiraan


cuaca yang kulihat tadi juga menginformasikan kalau hari ini tidak ada hujan.


Bukannya tidak ada, tapi peluang terjadinya hujan rendah. Sekarang sudah


memasuki akhir bulan Juni dan bulan Juli akan tiba beberapa hari lagi. Itu


artinya musim hujan akan memasuki puncaknya.


Ketika aku berada di persimpangan jalan,


tempat di mana aku bertemu Fuyukawa-san dan pergi bersama ke sekolah waktu itu,


aku melihat mobil yang dipakai Ibunya saat mengantarku pulang dari kawasan


belanja beberapa waktu yang lalu. Melalui jendela mobil yang terbuka, aku


melihat Fuyukawa-san di dalam mobil itu. Itu berarti dia pergi ke sekolah


dengan mobil. Dia tidak melihatku yang berjalan di trotoar.


Itu pertama kalinya aku melihatnya pergi


ke sekolah dengan mobil. Dia pernah bilang kalau dia pergi ke sekolah dengan


berjalan kaki. Namun, jarak antara rumahnya dengan sekolahnya terbilang lumayan


jauh, mungkin sekitar 40 menit dengan berjalan kaki. Tidak mungkin dia berjalan


kaki ke sekolah setiap hari dan ditambah dengan latihan bola basket. Pasti itu


sangat melelahkan. Aku sendiri baru sekali pergi ke sekolah bersamanya dan itu


pun karena kebetulan bertemu. Apa dia menyembunyikan sesuatu dariku? Tidak, tidak.


Tidak baik aku mencurigai temanku sendiri. Itu bukanlah diriku yang biasanya.


Mungkin saja dia berjalan kaki ke sekolah sebagai warm up sebelum


latihan atau untuk merileksasikan pikirannya. Ya, pasti seperti itu.


Ketika sampai di trotoar samping sungai,


aku melihat seorang laki-laki yang kukenal walaupun di sekolah kami tidak


berbicara. Dia adalah Shiga. Ternyata dia juga berjalan kaki ke sekolah. Aku


pun mempercepat langkahku untuk menyapanya.


“Yo, Shiga!”


“Ah!” Shiga terkejut ketika kupanggil


namanya.


“Kenapa kamu terkejut seperti itu?”


“Tentu saja aku kaget karena ada orang


yang tiba-tiba memanggil namaku.”


“Maaf, maaf.”


“Tidak apa-apa. Daripada itu, kenapa


dengan mukamu?”


“Sebenarnya…” Aku menjelaskan semua apa


yang terjadi kepada Shiga kenapa wajahku bisa menjadi seperti ini.


“Jadi seperti itu, ya. Kamu hebat, ya,


Amamiya.”


“Tidak hebat, kok. Aku hanya melakukan hal


yang seharusnya kulakukan saja.”


“Tidak, tidak, tidak. Kamu hebat, lo. Kamu


bahkan berani menantang preman itu. Kalau aku, mungkin aku sudah lari untuk


mencari bantuan.”


“Begitu, ya. Itu juga termasuk salah satu


cara yang lain.”


“Lalu, bagaimana keadaanmu? Pasti sakit,


kan?”


“Tentu saja sakit. Tapi sekarang sudah


tidak terlalu sakit karena sudah kuolesi obat oles.”


“Syukurlah kalau begitu.”


“Ya.”


“Ngomong-ngomong, Mizuno-san bagaimana?”


“Dia baik-baik saja.”


“Apa dia sudah berterima kasih karena


sudah kamu tolong?”


“Sudah, kok.”


“Hm…”


“Kenapa?”


“Ah, tidak. Kupikir dia orang yang tidak


tahu berterima kasih.”


“Tentu saja dia bukan orang yang seperti


itu.”


“Benarkah?”


“Iya. Dia orang yang baik, lo. Meskipun


dia terlihat sedikit tomboi, sih.” Bahkan dia juga punya sisi yang manis.


“Heee… Bahkan kamu juga berpikir kalau dia


tomboi, ya, Amamiya?”


“Iya.”


“Tidak salah, sih. Semua orang pasti berpikir


seperti itu karena dia memang seperti itu. Hahaha.”


“Um, ya, tapi itu tidak buruk, kan?”


“Tidak, menurutku. Itu sudah menjadi


seperti ciri khasnya.”


“Aku juga berpikir seperti itu. Pasti


setiap orang punya ciri khasnya sendiri.”


“Iya, kamu benar.”


Kami berdua terus berbicara kecil sambil


melangkah ke arah seolah.


Tak lama kemudian, kami akhirnya tiba di


sekolah. Melewati gerbang sambil mengatakan selamat pagi kepada Agitsu-sensei dan


kemudian segera menuju Gedung Utama. Di halaman depan sekolah ini, tidak ada


seorang pun yang melihat ke arahku dengan ekspresi penasaran. Sepertinya tidak


ada yang memperhatikan wajahku yang bertempelkan plester ini.


Setelah aku dan Shiga mengganti sepatu kami


dengan uwabaki, mulailah orang-orang melihat ke arahku dengan ekspresi


penasaran saat kami berjalan menuju ke arah kelas. Awalnya, mereka terlihat


sedang membicarakan tentang keberhasilan klub bola basket. Namun, ketika aku


berjalan di koridor melewati mereka, mereka tiba-tiba diam dan penasaran.


“Sepertinya mereka penasaran,” kata Shiga


yang sudah menyadari keadaan sekitar kami.


“Iya.”


“Biarkan saja mereka, Amamiya!”


“Ya, aku tahu.”


Berbeda denganku, Shiga masuk ke kelas


melalui pintu yang berada di depan kelas, sedangkan aku melalui pintu di


belakang kelas seperti biasa. Apa dia tidak ingin ada murid kelas 2-D yang


melihatnya bersamaku? Aku tahu tempat duduknya berada di bagian depan kelas. Padahal


dia bisa saja masuk dari pintu belakang. “Selamat pagi,” sapaku ketika masuk ke


dalam kelas.


Sama seperti keadaan di koridor tadi,


semua murid yang ada di kelas ini melihat ke arahku dengan ekspresi kaget dan


penasaran. Sebelum masuk, aku mendengar suara murid kelas yang sedang


membicarakan tentang klub bola basket perempuan. Namun, semuanya menjadi diam


sekarang.


Aku melihat ke arah kanan dari pintu masuk


ini untuk melihat ke arah tempat duduknya Atsuko-san. Dia sedang duduk di


tempatnya dan dikelilingi beberapa murid perempuan. Karena sapaan selamat pagi


tadi, dia melihat ke arah belakangnya sehingga mata kami bertemu.


“Ah, Ryuki! Bagaimana keadaanmu?” tanya


Atsuko-san sambil berjalan menuju arahku.


“Sudah lebih baik, kok, Atsuko-san.”


“Kenapa kamu bisa terluka seperti itu,


Amamiya?” tanya Seto-san yang muncul bersama dengan murid-murid lainnya yang


penasaran dengan luka memar di wajah ini.


“Ini karena—”


“Biar kuceritakan saja, Ryuki!” kata


Atsuko-san memotong perkataanku. “Lagian, ini karena aku. Jadi, biar


kuceritakan.”


“Ah, iya.”


“Sebenarnya, Sabtu malam kemarin…”


Atsuko-san mulai menceritakan semuanya kepada semua murid yang ada di kelas


saat ini kenapa aku bisa terluka seperti ini.


“Jadi begitu, ya.”


“Syukurlah lukanya tidak terlalu buruk,


ya, Amamiya-kun.”


“Iya, Moriyama-san.”


“Tapi kamu berani sekali, ya, Amamiya-kun,”


kata Shimizu-san dengan nada yang terdengar seperti sedang kagum.


“Aku sendiri awalnya tidak yakin bisa


menang melawan preman itu. Untung saja mereka lengah karena terlalu menganggap


remeh diriku.”


“Apa kamu pernah belajar seni bela diri?”


tanya Nazuka-san.


“Aku pernah belajar karate dan judo.”


“Begitu, ya.”


“Pantas saja gerakanmu bagus, Ryuki.


Tubuhmu juga terlihat atletis.”


“Benarkah?”


“Iya.”


“Aku juga berpendapat seperti Mizuno-san.”


“Aku juga.”


Shimizu-san dan Nazuka-san juga menganggapku


atletis. Setelah melihat aku bermain bola voli dan melatih mereka, wajar saja


mereka berdua menganggapku seperti itu. Namun, kenapa Atsuko-san bisa berpikir


seperti itu?


“Ngomong-ngomong, Atsuko, kenapa kamu


kemarin meminta alamat apartemennya Amamiya-kun?” tanya Fuyukawa-san.


“Ah, itu… aku memberikannya buah-buahan


sebagai rasa terima kasih karena sudah menolongku waktu itu.”


“Iya. Buah yang dibawa Atsuko-san sangat


enak.”


“Syukurlah kalau kamu suka.”


“Atsuko-san juga membantuku dengan mengolesi


obat oles ke punggungku karena aku tidak bisa menjangkaunya dengan tanganku.”


“Eh…!!!” Semua murid di kelas ini


tiba-tiba berteriak.


“Artinya… kamu tidak pakai baju?”


“Iya, Fuyukawa-san.”


“A-Apa boleh buat. Punggungnya Ryuki sakit


karena terkena pukulan. Tangannya juga sakit sehingga tidak bisa menjangkau


beberapa bagian punggungnya. Karena itulah aku membantunya. Lagian, dia menjadi


seperti ini karena salahku.” Wajah Atsuko-san memerah seketika.


Ah, aku ingat. Ketika dia megolesi obat ke


area punggungku, saat itulah dia bisa menilai kalau aku memiliki tubuh yang


atletis.


“I-Iya, Kamu benar, Atsuko-san.” Rasanya


aku menjadi malu ketika mengingat hal itu. “Terima kasih, ya. Satu lagi,


ini bukan salahmu.”


“I-Iya.” Atsuko-san menurunkan


pandangannya sehingga aku tidak bisa melihat bagaimana ekspresinya sekarang.


“Siapa sangka Atsuko yang tidak tertarik


dengan laki-laki bisa melakukan itu. Ya, kan, Yukina?”


“Ah, um, ya, Misa.”


“Hei! Jangan anggap aku seperti itu,


dong!”


“Tapi itu kenyataannya, kan? Bahkan kamu


juga cukup jarang untuk berbicara dengan murid laki-laki. Di kelas ataupun di


klub.”


“Eh, benar seperti itu, Seto-san?”


“Iya.”


“Itu karena tidak ada hal penting yang


harus dibicarakan.”


“Hm!?” Seto-san tersenyum licik seperti


senang karena bisa menjahili Atsuko-san.


“Kenapa kamu tesenyum seperti itu, Misa?”


“Ah, tidak. Aku hanya berpikir kenapa kamu


bisa memanggil Amamiya dengan namanya langsung.”


“Iya, benar juga.”


“Biasanya Mizuno-san memanggilnya


Amamiya.”


“Benar, kan? Pasti ada sesuatu, nih.”


“Apa maksudmu, Misa?! Tidak ada apa-apa.


kok.”


“Hm?! Benarkah?”


“Iya.”


“Ya, sudah. Amamiya, kamu juga.”


“Ya?”


“Kamu memanggilnya Atsuko-san daripada


Mizuno-san seperti sebelumnya.”


“Ah, itu, ya? Atsuko-san memintaku untuk


memanggilnya seperti itu karena dia memanggilku Ryuki.”


“Hoho…”


“Ke-Kenapa, Seto-san?” Entah kenapa


Seto-san sangat senang sekarang. Dia tidak berhenti tersenyum.


“Tidak apa-apa. Semoga kamu bisa menjadi


teman laki-lakinya Atsuko dan juga ‘orang yang pertama’, ya.”


“Misa, sudah cukup, dong! Ryuki, pergi duduk


ke tempatmu!”


“Ah, iya!” Entah kenapa aku dimarahi oleh


Atsuko-san. Aku dan beberapa murid lainnya kembali ke tempat duduk


masing-masing. Sedangkan Seto-san dan Atsuko-san masih berbicara di dekat


pintu. Meskipun begitu, aku masih bisa mendengar percakapan di antara mereka


berdua.


“Apa-apaan itu tadi, Misa? Sudah jelas aku


juga punya teman laki-laki. Kenapa kamu menyuruhnya untuk menjadi yang


pertama?”


“Aku juga tahu kalau kamu punya teman


laki-laki walaupun kamu jarang berbicara dengan mereka. ’Orang yang pertama’


itu dalam arti lain.”


“Ha?! Apa maksudnya itu?”


“Seperti ini.” Seto-san membisikkan


sesuatu kepada Atsuko-san.


Setelah itu, aku memalingkan dari arah


mereka berdua. Aku mulai memasukkan buku ke dalam laci meja dan juga


bersiap-siap untuk pelajaran olahraga setelah homeroom di jam pertama


hari ini.


“Ha?!”


Tiba-tiba aku mendengar Atsuko-san


berteriak. Tidak hanya aku, murid lainnya juga melihat ke arahnya.


“Tidak, tidak, tidak. Itu tidak mungkin!


Itu tidak mungkin, Misa!”


“Suaramu terlalu besar, Atsuko. Ayo keluar


sebentar.”


Mereka berdua kemudian meninggalkan kelas.


Seisi kelas dibuat penasaran kenapa Atsuko-san bisa berteriak seperti itu.


Tentu saja itu pasti karena Seto-san yang menjahilinya.


“Apa mereka berdua sering seperti itu,


Fuyukawa-san?” tanyaku kepada Fuyukawa-san yang sudah duduk di tempat duduknya.


“Iya. Misa kadang-kadang menjahili


Atsuko.”


“Ah, begitu, ya.”


“Daripada itu, apa kamu baik-baik saja?”


“Ya, aku sudah baikan, kok.”


“Tapi luka memarnya masih terlihat jelas,


lo.”


“Benarkah? Padahal aku pakai plaster ini


agar luka memarnya tidak terlalu terlihat. Apa benar-benar terlihat jelas?”


“Kalau dari dekat saja, sih.”


“Begitu, ya. Mungkin 2-3 hari nanti sudah


hilang luka memarnya.”


“Iya, semoga saja.”


Beberapa saat kemudian, Atsuko-san dan


Seto-san masuk kembali ke dalam kelas bersamaan dengan bel yang berbunyi. Wajah


Atsuko-san terlihat memerah, sedangkan Seto-san hanya bisa tersenyum-senyum.


Fuyukawa-san yang melihat mereka berdua mulai bertanya.


“Misa, apa yang kamu lakukan sehingga


membuat wajah Atsuko merah seperti itu?”


“Tidak ada apa-apa, kok. Ya, kan, Atsuko?”


“I-Iya,” jawab Atsuko-san dengan nada yang


rendah.


“Ternyata Atsuko yang terlihat tomboi


seperti ini juga masih memiliki sifat feminin pada dirinya.”


“Hei! Jangan bilang seperti aku ini bukan


seorang gadis!”


“Haha. Maaf, maaf.”


 Tidak


lama kemudian, Sakamoto-sensei masuk ke dalam kelas dan menyuruh kami semua


menuju Aula Sekolah. Karena hal ini, homeroom hari ini ditiadakan.


Di aula sekolah, semua anggota klub basket


perempuan yang berhasil menjuarai turnamen dan berhasil mewakili Tokyo di Inter


High nanti dipanggil ke atas panggung dan diberikan ucapan selamat dari kepala


sekolah SMA Akademi Keiyou. Semua murid memberika tepuk tangan yang meriah


kepada mereka semua. Atsuko-san, Fuyukawa-san, dan Seto-san terlihat sangat


gembira. Di bagian akhir, kepala sekolah meminta semua murid untuk memberi


dukungan saat mereka semua bermain di Inter High nanti.


Setelah kembali dari aula sekolah, kami,


murid kelas 2-D, bersiap-siap untuk masuk ke pelajaran olahraga. Untuk hari


ini, sepertinya aku harus lebih menahan diri agar tidak terlalu berlebihan


dalam bergerak karena olahraga hari ini sama seperti minggu lalu, yaitu


sepakbola.


Hari ini, aku bermain sebagai penjaga


gawang karena teman-temanku menyuruhku untuk mengambil posisi itu. Kupikir ini


lebih baik daripada bermain di posisi lain yang meminta pemain untuk lebih


aktif bergerak.


Sebagai seorang penjaga gawang, aku hanya


menunggu pemain lawan, yaitu kelas 2-C, menyerang. Aku juga memberikan perintah


kepada pemain bertahan agar pertahanan tidak mudah hancur dan kebobolan gol.


Pertandingan ini berakhir seri dengan skor sama kuat, 0-0.


Setelah murid laki-laki, selanjutnya


giliran murid perempuan. Semua murid laki-laki keluar dari lapangan sepakbola


untuk menyaksikan murid perempuan dari pinggir lapangan. Ketika aku berjalan ke


pinggir lapangan, aku bertemu dengan Taniguchi-san. Dia seperti terkejut


melihat keadaanku.


“Amamiya-kun, ada apa dengan wajahmu itu?


Kenapa bisa terluka seperti itu?” tanya Taniguchi-san dengan nada yang tinggi.


“Sebenarnya…” Aku menjelaskan semuanya ke


Taniguchi-san.


“Begitu, ya. Syukurlah tidak terlalu


parah.”


“Iya.”


“Kamu jangan bertindak gegabah seperti itu


lagi, Amamiya-kun. Bisa bahaya.”


“Iya, aku tahu.” Bahkan polisi waktu


itu juga memarahiku.


“Jangan lupa makan yang banyak dan


istirahat yang cukup, ya.”


“Iya. Kalau begitu, aku pergi duluan, ya.


Semangat main sepakbolanya, Taniguchi-san.”


“Ya.”


Aku segera keluar dari lapangan setelah


meminta izin dari Sugita-sensei menuju kelas untuk mengganti pakaian. Rasa


sakit akibat pukulan di tangan dan di punggungku tiba-tiba datang kembali


walaupun tidak sesakit kemarin. Rasanya samar-samar, tapi sangat mengganggu.


Kubawa obat oles dengan sensasi dingin yang diberikan oleh polisi waktu itu.


Namun, sedikit sulit untuk mengoleskannya ke bagian punggungku yang sakit itu.


“Amamiya, sedang apa?” tanya seseorang


yang masuk ke dalam kelas.


Aku yang sedang tidak memakai baju terkejut


dan melihat ke arah pintu. “Oh, Shiga, ya. Aku mau mengoleskan obat ini ke


punggungku, tapi aku tidak bisa melakukannya.”


“Begitu, ya. Sini, berikan padaku. Biar


kuoleskan.”


“Terima kasih,” kataku sambil memberikan


obat itu kepadanya.


“Kulihat sekali lagi, kamu memang luar


biasa, Amamiya.”


“Tidak, kok. Aku hanya murid SMA biasa


seperti kamu dan yang lainnya.”


“Mungkin kamu menganggap dirimu biasa,


tapi tidak bagi orang lain. Pasti ada orang lain yang mengagumimu karena


tindakan-tindakanmu. Pasti menyenangkan bisa berada di dekatmu sebagai teman.”


“Kalau begitu, berada di dekatku saja.”


“Eh?!”


“Kamu itu temanku. Aku senang bisa berada


di dekatmu sambil berbicara seperti ini misalnya.”


“Tapi aku—”


“Aku tahu kamu kesepian.”


“Tidak. Aku—”


“Berhentilah membohongi dirimu sendiri.


Jujur saja pada dirmu kalau kamu kesepian. Aku bisa melihatnya karena aku juga


seperi itu dulu.”


“Eh?!”


“Kamu tahu kalau aku murid Keiyou yang


datang kembali ke sini, kan?”


“Iya.”


“Tahun lalu saat di kelas satu, aku tidak


punya teman. Orang-orang menganggapku aneh dam sebagainya. Mungkin keadaanku


saat itu sama sepertimu yang sekarang. Saat aku kembali ke SMA ini, awalnya aku


juga tidak punya orang yang bisa kuanggap sebagai teman. Secara perlahan, aku


mempunyai teman sekarang. Dengan kata lain, kalau aku bisa, kamu pasti bisa.


Jadi, mulailah dengan satu langkah ke depan. Satu langkah… satu langkah.”


“Tapi aku—”


“Ah, kamu ini dari tadi hanya bilang


‘tapi’ dan ‘tapi’.”


“Itu karena kamu memotong perkataanku.”


“Ah, benar juga.”


“Sudah semua bagian punggungmu kuolesi.”


“Terima kasih.”


“Sama-sama.”


“Yah, pokoknya, aku mau bilang jangan


bohongi dirimu sendiri. Tidak mungkin ada manusia yang tahan dengan


kesendirian. Jadi, bicaralah padaku seperti ini kapan pun dan di mana pun agar


kamu menjadi terbiasa untuk bisa berkomunikasi dengan orang lain dan bisa


mendapatkan teman yang baru.”


“Baiklah, akan kulakukan.”


Apa yang kukatakan semua kepada Shiga


mungkin sesuatu yang harus kulakukan kepada diriku sendiri juga. Hidup dengan membohongi


diri sendiri itu tidak ada artinya. Aku kembali mengingat apa yang pernah


dikatakan oleh ibuku dulu.


Setelah memakai seragam, aku dan Shiga


pergi ke perpustakaan untuk beristirahat sambil menunggu jam pelajaran olahraga


berakhir. Kami mencari buku yang menarik untuk dipinjam. Setelah itu, kami


kembali ke kelas.


***


Akhirnya jam istirahat makan siang tiba.


Inilah yang ditunggu oleh semua murid. Saatnya ke kantin untuk makan siang.


“Ryuki, mau makan siang bersama?” tanya


Atsuko-san yang sudah berdiri di dekat Fuyukawa-san.


“Ayo, Amamiya-kun!”


“Ah, baiklah.”


Seto-san yang bersama mereka sedang


tersenyum sambil melihat ke arahku. Aku menjadi penasaran kenapa dia terlihat


sangat senang seperti itu. Ah, aku tahu. Mungkin dia senang karena aku bisa


menjadi temannya Atsuko-san. Seperti yang dia bilang tadi, Atsuko-san tidak


punya banyak teman laki-laki. Namun, sekarang sudah berbeda. Pasti itu yang


membuatnya senyum-senyum terus. Tidak hanya senyum kepadaku, tapi juga ke


Atsuko-san.


Di koridor sekolah, murid-murid di sini


menyapa, mengatakan selamat, dan memberikan dukungan kepada Atsuko-san,


Fuyukawa-san, dan Seto-san karena sudah memenangkan turnamen regional dan akan


mewakili Tokyo di Inter High nanti. Beberapa murid juga ada yang melihat ke


arahku sambil membisikkan sesuatu. Pasti mereka sedang menebak-nebak sesuatu


yang ada sangkutannya dengan plester dan luka memar di wajahku ini.


Setelah tiba di kantin, kami mengantri


untuk memesan makanan. Atsuko-san yang mendapat giliran pertama di antara kami


berempat langsung mencari tempat setelah mendapat makanannya. Dengan begitu,


setelah mendapat makanan, kami hanya perlu menuju meja tempat Atsuko-san


berada.


Posisi duduk kami di meja yang terdiri


dari delapan kursi ini yaitu aku berada di sebelah kiri Atsuko-san dan di


sebelah kiriku terdapat dua kursi yang kosong lagi. Di depanku, ada


Fuyukawa-san dan Seto-san yang berada di depan Atsuko-san.


“Rasanya seperti sudah lama sekali tidak


makan bersama Ryuki.”


“Iya. Kalau tidak salah, waktu itu, kita


makan seperti ini setelah ujian tengah semester, kan?” tanyaku seakan


mengingat-ngingat kembali hari itu.


“Iya.”


“Kalau begitu, mari makan. Itadikimasu!”


seru Fuyukawa-san.


“Itadakimasu,” kata Atsuko-san,


Seto-san, dan aku.


Seperti biasa, aku ditatapi oleh


murid-murid lain yang sedang makan di sini. Tentu saja karena wajahku yang


terdapat plester dan sedikit memar yang menarik perhatian mereka. Tentu saja


seperti biasanya, aku tidak memedulikan mereka, meskipun aku sempat mendengar


ada yang mengatakan aku ini seorang berandalan dan luka di wajahku ini karena


berkelahi. Sepertinya Atsuko-san dan lainnya tidak mendengar perkataan itu


karena mereka sedang berbicara mengenai kegiatan klub mereka.


“Kenapa dengan wajahmu itu, Amamiya-kun?”


tanya seseorang yang lewat di dekatku.


Aku langsung melihat ke arah kananku dan


ternyata suara itu berasa dari Namikawa-san yang sedang bersama Kayano-san.


“Ah, ini, ya?”


“Pasti kamu melakukan hal yang ceroboh


lagi, kan?” Namikawa-san langsung bergerak ke kursi kosong di sebalah kiriku


dan duduk di sana. Kayano-san juga mengikutinya dan duduk di kursi sebelahnya.


“Um, ya, bisa dikatakan seperti itu.”


“Sudah kuduga. Lalu, apa yang terjadi?”


“Sebenarnya…” Aku menjelaskan kalau luka


memar ini kudapat saat menolong Mizuno Atsuko-san dengan suara yang kecil.


Sebenarnya, suasana di kantin selalu ramai. Mungkin aku tidak perlu mengecilkan


suaraku. Namun, lebih baik kulakukan seperti itu untuk berjaga-jaga agar tidak


ada orang lain yang mendengar dan membuat rumor aneh tentangku lagi.


“Dengan kata lain, kamu jadi seperti ini


karena menolong Mizuno Atsuko-san dari tiga orang preman yang berusaha


membawanya?”


“Iya.”


“Sepertinya kamu sangat suka melakukan hal


yang ceroboh, ya, Amamiya-kun. Bagaimana kalau mereka membawa senjata tajam


seperti pisau? Kamu pasti akan terluka lebih parah, lo. Kamu tidak lupa dengan


kejadian tahun lalu di hari pertama sekolah, kan?”


Perkataan Namikawa-san membuatku melihat


ke arah Fuyukawa-san yang merupakan orang yang kutolong di kecelakaan tahun


lalu itu.


Fuyukawa-san terlihat kaget karena


Namikawa-san membawa hal itu. Dia kemudian menurunkan pandangan wajahnya


sehingga aku tidak bisa melihat ekspresi di wajahnya lagi.


Sementara itu, Atsuko-san dan Seto-san


hanya bisa diam. Tidak ada ekspresi penasaran di wajah mereka. Sepertinya


Fuyukawa-san sudah menceritakan tentang kecelakaan itu kepada mereka berdua.


“Ya, aku tahu. Aku tidak lupa dengan


kejadian itu. Tapi aku tidak bisa berpaling dan membiarkan mereka melakukan


apapun terhadap Atsuko-san.”


“Be-begitu, ya.”


“Sebenarnya, aku menyuruh Ryuki untuk lari


dari tempat itu karena tidak kupikir tidak mungkin dia bisa melawan mereka yang


berjumlah tiga orang. Tapi dia tidak melakukan itu.”


“Ryu— Ah, begitu, ya.”


“Sepertinya Sakura-chan sudah tertinggal


beberapa langkah,” kata Kayano-san menyela percakapan kami.


“Chi-chan, apa maksudmu?”


“Kalau kamu tidak bergerak, kamu pasti


tertinggal terus, lo.”


“Jadi, apa maksudmu itu, Chi-chan?”


Apa maksud dari perkataan Kayano-san? Aku


sama sekali tidak mengerti makna di balik perkataannya itu.


“Jadi, bagaimana keadaanmu sekarang, Amamiya-kun?”


Kayano-san langsung mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan tentang keadaanku.


Namikawa-san terlihat sedikit kesal karena


Kayano-san tidak menjawab pertanyaannya.


“Aku sudah baik-baik saja, kok. Mungkin.”


“Apa itu? Kamu tidak terlihat seperti itu.


Dari yang kulihat, hanya Mizuno-san yang baik-baik saja.”


“Haha. Setidaknya, sudah lebih baik dari


kemarin.”


“Jangan lupa makan yang banyak dan


istirahat yang cukup, ya, Amamiya-kun.”


“Ya, terima kasih, Kayano-san.”


“Ayo lanjut makan lagi!”


Kami pun melanjutkan memakan makanan kami.


Fuyukawa-san yang tadi terlihat aktif


berbicara dengan Atsuko-san dan Seto-san, sekarang hanya terdiam sambil terus


memakan makanannya. Sepertinya perkataan Namikawa-san yang tadi membuatnya


teringat dengan kejadian tahun lalu itu. Padahal aku sudah bilang untuk


melupakan hal itu karena hal itu sudah selesai ketika dia mengatakan terima


kasih.


“Fuyukawa-san, jangan dipikirkan lagi


tentang kejadian tahun lalu itu.”


“Amamiya-kun…”


“Pasti Namikawa-san tidak punya maksud


buruk dengan membawa kejadian itu di percakapan tadi.”


“Iya. Aku tidak bermaksud mengatakan itu


untukmu. Aku hanya ingin mengingatkan Amamiya-kun untuk jangan bertindak


ceroboh. Maaf kalau hal itu menyinggungmu.”


“Um, tidak, kok. Aku mengerti."


“Ayo kita makan lagi!”


Setelah selesai makan, aku melihat-lihat


ke sekeliling kantin. Tujuanku yaitu untuk melihat apakah Taka sudah berada di


sini atau belum karena ada hal yang perlu kami bahas.


Di saat aku melihat ke sekelilingku lagi, kulihat


Shiraishi-san sedang berjalan di dekat mejaku sambil membawa nampan yang berisi


makanannya. Sambil terus berjalan, dia melihat ke arahku sehingga membuat kami


bertatapan. Tanpa berhenti, dia menatap ke arahku sebentar, lalu pergi berjalan


tanpa mengatakan apa-apa.


“Ah, Yukina-san,” kata seorang murid


perempuan menghampiri meja kami. “Kapten menyuruh semua anggota klub basket


perempuan berkumpul. Ada yang ingin dibicarakan,” lanjut murid itu.


“Ya, baiklah. Kami akan pergi sekarang.”


“Kami tunggu, ya.”


Setelah mengatakan itu, murid perempuan


itu pergi.


“Kalau begitu, kami duluan, ya,” kata


Fuyukawa-san kepadaku, Namikawa-san, dan Kayano-san.”


“Iya.”


“Sampai nanti, Ryuki.”


“Sampai nanti, Atsuko-san.”


Dengan begitu, Atsuko-san, Fuyukawa-san,


dan Seto-san pergi meninggalkan kantin. Mungkin aku juga harus meninggalkan


tempat ini untuk mencari Taka.


“Kenapa dengan wajahmu itu, Ryuki?” tanya


seorang yang suaranya kukenal. “Ah, halo, Namikawa-san dan Kayano-san”,


lanjutnya. Orang itu adalah Taka. Baru saja aku hendak mencarinya.


“Halo.”


“Halo, Hiroaki-kun”


“Sebenarnya…” Aku menceritakan lagi


kepadanya.


“Hebat. Seperti yang diharapkan dari


Ryuki.”


“Ssh… Suaramu besar.”


“Oh, maaf.”


“Aku baru saja ingin mencarimu.”


“Kebetulan sekali, aku juga mencarimu. Ada


yang ingin kubicarakan.”


“Tentang hal ‘itu’, kan?”


“Ya. Seperti yang diharapkan dari Ryuki.


Ayo kita ke tempat lain!”


“Baiklah.”


“Sampai jumpa Namikawa-san dan Kayano-san.


Aku duluan, Ryuki. Di tempat waktu itu.”


“Ya.”


Taka langsung keluar dari kantin menuju


halaman dalam sekolah tempat kami pernah membicarakan tentang Taka dan


Fuyukawa-san.


“Kalau begitu, sampai jumpa lagi,


Namikawa-san, Kayano-san.”


“Ya, sampai jumpa lagi.”


“Oh, ya, Amamiya-kun.”


“Ada apa, Kayano-san?”


“Sering-sering datang ke perpustakaan, ya.


Sepertinya Sakura-chan kesepian di sana.”


“Eh? Apa yang kamu katakan, Chi-chan?”


Namikawa-san terkejut karena perkataan dari Kayano-san. Hal itu juga membuat


wajahnya sedikit memerah.


“Baiklah. Pasti aku akan ke perpustakaan


lagi, kok.”


“Jangan lupa, ya.”


“Iya.”


Setelah mengembalikan nampan yang berisi


menu makan siangku kepada petugas kantin, aku menuju taman tempat Taka berada.


Dia sudah duduk di bangku tepat di bawah pohon. Aku bergegas menuju tempatnya.


“Jadi bagaimana, Ryuki? Apa kamu sudah


bilang ke Fuyukawa-san?”


“Belum.”


“Lalu kapan?”


“Rencanya, sih, besok. Jam 5:30 sore.”


“Besok, ya?”


“Bagaimana?”


“Baiklah. Tempatnya di mana? Bagaimana


kamu membawanya?”


“Masih sama seperti rencana awal, di atap


sekolah. Nanti kubilang padanya kalau ada hal yang ingin kubicarakan. Pastikan


kamu datang sedikit lebih cepat, Taka. Aku dan Shiraishi-san akan menjaga pintu


ke atap agar tidak ada murid yang datang ke sana.”


“Uwaaa… Rasanya aku mulai gugup.”


“Eh? Kenapa?”


“Bagaimana kalau dia sama sekali tidak


percaya dengan apa yang kukatakan nanti? Mungkin saja dia langsung pergi ketika


dia tahu kalau orang yang ingin berbicara dengannya yaitu aku?”


“Tenang saja. Semuanya akan berjalan


lancar.”


“Kenapa kamu bisa seyakin itu, Ryuki?”


“Karena Fuyukawa-san yang sekarang bukan


seperti Fuyukawa-san yang kamu kenal 2 tahun yang lalu.”


“Baiklah, baiklah. Aku memercayaimu,


Ryuki. Kalau begitu, ayo kembali ke kelas! Jam istirahat makan siang hampir


habis.”


“Memangnya kamu sudah makan siang?”


“Sudah. Tadi aku makan siang di ruang klub


karena ada hal yang perlu dibicarakan dengan anggota klub fotografi.”


“Oh, begitu.”


Kami berdua bangkit dari bangku dan segera


kembali ke kelas kami masing-masing.


Mengenai rencana untuk membuat hubungan


Taka dan Fuyukawa-san kembali baik, aku sudah memikirkan beberapa hal yang


tentunya akan membantu Taka nanti. Semoga kesalahpahaman di antara mereka


berdua akan terselesaikan besok.


***


Bel tanda pelajaran terakhir telah selesai


berbunyi.


Kegiatan belajar di sekolah hari ini


akhirnya selesai. Selanjutnya adalah kegiatan klub bagi murid-murid yang tergabung


dalam klub-klub yang ada di sekolah ini. Sebelum pergi ke ruang klub, lebih


baik aku ke perpustakaan dulu untuk meminjam buku agar bisa kubaca nanti,


sekalian menepati perkataan Kayano-san saat di kantin tadi. Baiklah, ayo keluar


dari kelas.


Di saat aku hendak berjalan keluar ke arah


pintu belakang kelas, dua murid laki-laki dan seorang murid perempuan berdiri


di pintu itu. Ketiga orang itu bukan dari kelas ini. Siapa mereka?


“Apa Amamiya Ryuki ada di sini?” tanya


murid perempuan yang berada di antara dua murid laki-laki itu.


Karena aku sedang berjalan ke arah pintu


itu, aku langsung mendekati mereka dan berdiri di depan mereka.


“Ya, aku Amamiya Ryuki.”


“Ho… jadi kamu orangnya?”


Eh? Ada apa ini? Kenapa mereka mencariku?


Apa aku telah melakukan sesuatu?


Dari arah belakang, aku dapat mendengar


beberapa murid yang sedang berbisik.


“Mereka itu anggota OSIS, kan?”


“Iya, benar.”


“Ada perlu apa mereka dengan Amamiya?”


“Entahlah. Apa mungkin karena Amamiya-kun


sudah melakukan hal yang buruk?”


“Itu tidak mungkin.”


Jadi, tiga orang ini adalah anggota OSIS


sekolah ini. Dilihat dari seragamnya, mereka kelas tiga.


“Ada perlu apa denganku?”


“Ikut kami ke ruang OSIS sekarang,” kata


murid laki-laki yang berada di sebelah kiri murid perempuan.


“Ketua OSIS ingin bertemu denganmu,” kata


murid laki-laki yang berada di sebelah kanan murid perempuan.


Dengan begitu, aku mengikuti mereka


bertiga menuju ruang OSIS yang berada di lantai tiga. Pintu dibuka, lalu aku


dan ketiga anggota OSIS ini masuk ke dalam ruangan ini. Ini pertama kalinya


bagiku berada di dalam ruang OSIS. Ruangannya luas. Beberapa anggota OSIS


sedang mengerjakan sesuatu di meja panjang dan ada satu meja untuk satu orang


tepat beberapa meter di depanku.


“Ketua, kami sudah membawa Amamiya Ryuki.”


“Sudah datang, ya.”


Orang yang berada di meja untuk satu orang


itu adalah ketua OSIS sekolah ini. Kalau tidak salah, namanya Takamine


Kana-senpai dari kelas 3-A.


Ketiga orang yang memanggilku ke tempat


ini, mereka segera duduk dan melanjutkan pekerjaan mereka. Saat ini, aku berdiri


di depan pintu dan menghadap ke ketua OSIS.


“Kamu tahu kenapa kamu kupanggil ke sini?”


“Tidak.”


“Berdasarkan informasi yang kudapat dari


anggota OSIS, kamu melakukan perkelahian dan luka memar di wajahmu itu adalah


buktinya.”


“…” Aku hanya bisa diam karena kaget. Kenapa


ada orang yang bisa mengetahui hal ini?


“Berdasarkan peraturan sekolah di buku


siswa, perkelahian itu dilarang. Kamu tahu hal itu, kan?”


“Ya, aku tahu.”


“Jika murid melanggar peraturan, makan dia


harus diberikan hukuman. Oleh karena itu, aku akan memberikan hukuman padamu,


Amamiya Ryuki.”


“Eh? Tunggu sebentar. Aku tidak berkelahi


karena aku ingin. Aku berkelahi untuk menyelamatkan Atsuko-san dari para


preman.”


“Ha? Itu pasti hanya alasanmu saja.”


“Tidak! Kenyataannya memang seperti itu.”


“Aku tidak menerima alasanmu. Dengan kamu telah


melanggar peraturan sekolah, kamu diskors selama satu minggu.”


Apa ini? Kenapa ketua OSIS memiliki hak seperti


kepala sekolah? Apa sekolah ini memang seperti ini kalau kedudukan ketua OSIS


hampir setara dengan kepala sekolah?


Anggota OSIS yang ada di sini hanya bisa


diam tanpa berani membalas ataupun menyela perkataan dari ketua mereka. Apa


mereka juga beranggapan kalau alasan yang kukatakan tadi adalah kebohongan?


“Tunggu sebentar. Kenapa kalian tidak


menanyakan langsung dengan Atsuko-san? Pasti kalian mendapatkan informasi itu


dari rumor yang disebarkan murid-murid.”


“Lancang sekali kamu. Ketahuilah


kedudukanmu! Kamu hanya murid penerima beasiswa. Kamu tidak punya hak itu menyuruh


kami.”


Kenapa tiba-tiba aku dipojokkan seperti ini?


Sepertinya ketua OSIS membenci murid penerima beasiwa seperti diriku.


Tiba-tiba terdengar suara pintu ruangan


ini diketuk oleh seseorang. Masuklah orang yang paling penting ke dalam ruangan


ini, yaitu kepala sekolah.


Kedatangan kepala sekolah ke ruangan ini


membuat ketua OSIS kaget.


“Pak Kepala Sekolah, kenapa di sini?”


“Saya mendengar rumor kalau Amamiya


Ryuki-kun melakukan pelanggaran dan dia berada di sini.”


“Iya, benar. Dia berkelahi. Lihat saja


wajahnya yang penuh dengan luka memar.”


“Ho… Sepertinya rumor itu benar, ya.”


“Tapi saya berkelahi karena ada alasannya,


Pak Kepala Sekolah.”


“Palingan itu hanya alasan yang dibuat-buat


olehnya.”


Aku bahkan tidak diberi kesempatan untuk berbicara.


Sepertinya benar kalau ketua OSIS membenciku. Ekspresi wajahnya saat berbicara denganku


terlihat sangat tidak menyenangkan.


“Coba katakan, Amamiya-kun.”


“Jadi…” Aku menjelaskan semuanya kenapa


aku bisa berkelahi dan terluka seperti ini.


“Jadi begitu. Kalau begitu, anggota OSIS, panggilkan


gadis yang bernama Mizuno Atsuko-san itu. Suruh dia ke sini.”


Beberapa anggota OSIS keluar dari ruangan


ini untuk mencari Atsuko-san.


Tak lama kemudian, Atsuko tiba di ruangan


ini.


“Baiklah, Mizuno-san, apa benar kalau


Amamiya-kun berkelahi dengan para preman untuk menolongmu yang sedang dibawa


oleh mereka?” tanya Pak Kepala Sekolah kepada Atsuko-san.


Dengan ekspresi yang penuh tanda tanya,


Atsuko-san menjawabnya. “Iya, benar. Ryuki jadi terluka seperti itu karena dia


berusaha untuk menolongku. Kalau dia tidak menolongku, aku tidak tahu apa yang


akan terjadi padaku di malam itu.”


“Begitu, ya. Jadi, benar kalau Amamiya-kun


berkelahi karena ingin menolong temannya, Mizuno-san. Apa sudah jelas,


Takamine-san?”


“I-Iya. Tapi bukan berarti dia bisa lolos


tanpa diberikan hukuman. Dia sudah jelas sudah melanggar peraturan sekolah.”


“Iya. Oleh karena itu, sebagai kepala


sekolah, saya menskors Amamiya-kun selama empat hari.”


“Tapi Ryuki sudah menyelamatkan saya. Tidak


seharusnya dia mendapatkan hukuman.”


“Sudahlah, Atsuko-san. Biarkan saja.”


Rasanya jika aku protes lagi, ketua OSIS pasti akan melakukan sesuatu lagi agar


membuatku mendapatkan hukuman. Jadi, lebih baik kuterima saja.


“Pak Kepala Sekolah, coba dipikirkan sekali


lagi! Saya rasa hukuman skors empat hari itu sedikit berlebihan.”


“Baiklah. Kalau begitu, saya kurangi


menjadi dua hari.”


“Tunggu. Saya tidak terima. Seharusnya dia


diskors selama satu, tidak, dua minggu.”


Lihat, pasti ketua OSIS akan mengatakan


sesuatu lagi agar aku mendapatkan hukuman. Aku benar-benar dibenci olehnya. Mungkin


seluruh anggota OSIS dari ketua hingga bawahannya memebenciku.


“Kalau begitu, dua hari skors dan dua hari


membantu ketua OSIS.”


“Eh?”


“Eh?”


Aku dan ketua OSIS terkejut dengan


keputusan pak kepala sekolah.


“Kalau begitu, saya kembali dulu.”


Ketika pak sekolah hendak kembali ke


ruangannya, dia memegang pundakku dan membisikkan sesuatu kepadaku. “Tunjukkan


siapa dirimu kepada Takamine-san, Amamiya-kun.”


Aku sama sekali tidak mengerti apa maksud


dari perkataan itu. Hal itu membuatku penasaran kenapa pak kepala sekolah mengatakan


itu.


“Ah… sudah, kalian berdua boleh keluar.”


Tanpa mengatakan apapun lagi, aku dan


Atsuko-san keluar dari ruang OSIS.


“Ryuki, kenapa bisa menjadi seperti ini?”


“Aku juga tidak tahu, lo. Mungkin di


kantin tadi, ada orang yang mendengar percakapanku dengan Namikawa-san.”


“Meskipun begitu, kamu tidak harus


mendapatkan hukuman seperti itu juga.”


“Apa boleh buat. Aku memang sudah


melanggar peraturan sekolah, tapi aku tidak menyesal. Lagian hanya dua hari.”


“Tapi…”


“Sudah, sudah. Jangan salahkan dirimu


lagi, Atsuko-san. Oh, ya, saat aku tidak hadir ke sekolah dua hari ke depan,


tolong pinjamkan catatanmu, ya?”


“Baiklah, serahkan saja padaku, Ryuki.”


“Terima kasih, Atsuko-san. Kamu sedang mau


latihan sekarang?”


“Iya.”


“Begitu, ya. Kalau begitu, hati-hati saat


latihan agar tidak cedera, ya. Aku pulang dulu. Sampai jumpa.”


“Ya, sampai jumpa lagi, Ryuki.”


Aku segera turun ke lantai satu dan segera


mengganti uwabaki dengan sepatu, lalu pulang. Di jalan, aku memberitahukan


Shiraishi-san kalau aku tidak bisa hadir mengikuti kegiatan klub selama dua hari


karena aku diskors melalui LINE. Ini merupakan pesan LINE pertamaku yang kukirimkan


kepadanya.


Setelah itu, aku memberitahukan Taka kalau


rencana untuk besok tidak bisa dilakukan. Aku juga mengatakan akan menjelasakan


semuanya nanti.


Oh, ada balasan dari Shiraishi-san. Kupikir


dia akan mengabaikan pesan dariku. Balasan darinya sangat singkat. Dia hanya


menulis “Aku mengerti”. Itu saja tanpa ada pertanyaan lain.


Diskors selama dua hari, ya. Entah kenapa


aku harus mengalami hal ini. Mungkin ada alasan di balik semua ini.


Daripada memikirkan hal yang tidak jelas seperti


itu, lebih baik aku mengistirahatkan tubuhku saja untuk hari ini. Mulai besok


karena tidak ke sekolah, aku akan menggunakan waktu yang ada untuk belajar.


Ayo pulang, Ryuki. Langkahkan kakimu dengan


cepat di bawah awan yang tiba-tiba mulai mendung ini. Semoga tidak hujan dulu


sebelum aku sampai ke apartemenku karena aku tidak membawa payung hari ini. Namun,


itu hal itu tidak terjadi. Hujan turun dengan deras. Di dalam hati aku berteriak,


“Kenapa hari ini menjadi seperti ini?”