
Sejak pagi hari tadi hingga sekarang, suasana kelasku, kelas 2-D, terasa lebih ramai daripada biasanya. Hanya ada satu alasan untuk itu, yaitu kemenangan Klub Bola Basket Perempuan di babak semifinal kemarin. Semua murid di kelas ini mengerumuni tempat duduk Fuyukawa-san, Mizuno-san, dan Seto-san. Aku yang duduk di dekat Fuyukawa-san sedikit terganggu atas kehebohan yang ada di kelas ini.
Sebelumnya, aku sudah tahu berita tentang kemenangan mereka dari Taka yang meneleponku kemarin malam karena dia datang dan menonton langsung pertandingan Fuyukawa-san seperti yang kuminta. Aku tidak tahu apakah dia betemu langsung dengan Fuyukawa-san atau tidak. Setidaknya dia sudah datang untuk mendukung Fuyukawa-san dan kawan-kawan. Aku tidak tahu bagaimana ekspresi yang ada di wajahnya waktu itu, tapi aku tahu kalau dia merasa senang dari nada bicaranya saat meneleponku.
Tidak hanya kelas ini yang heboh dengan kemenangan ini, tapi juga seluruh sekolah. Entah kenapa Klub Bola Basket sekolah ini sepertinya mendapat sorotan lebih daripada klub yang lain, atau ini hanya imajinasiku saja. Sejak tiba di sekolah tadi pagi, murid-murid yang berada di koridor saling membicarakan tentang keberhasilan Klub Bola Basket Perempuan menuju babak final. Mereka terlihat sangat senang. Sudah menjadi hal yang wajar kalau semuanya senang karena berhasil masuk ke babak final bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan.
Setelah beberapa murid yang mengerumuni Fuyukawa-san pergi meninggalkannya, akhirnya aku bisa bertanya kepadanya tentang lawan mereka besok di babak final.
“Selamat, ya, Fuyukawa-san.”
“Terima kasih, Amamiya-kun.”
“Lalu, siapa lawan kalian di final nanti?”
“Klub Baset dari SMA Perempuan Akademi Nakano.”
“Ah! Yang waktu itu melakukan pertandingan latihan di Gedung Olahraga kita, kan?”
“Jadi kamu masih ingat, ya?”
“Ya, begitulah. Itu pertama kalinya aku datang dan menonton pertandingan kamu, Fuyukawa-san. Pertandingan waktu itu sangat intens.”
“Iya. Permainan mereka memang sangat cepat. Waktu itu, kupikir kami menang karena beruntung saja.”
“Tapi hasil tetaplah hasil. Kalian menang waktu itu dan itu cukup untuk memberi kalian motivasi untuk bisa menang lagi.”
“Benar. Artinya, kami bisa menang. Begitu, kan?!”
“Iya. Ngomong-ngomong, seberapa kuat mereka?”
“Mereka sudah beberapa kali bermain di Inter High mewakili Tokyo, lo!”
“Eh!? Serius?! Sudah pasti mereka kuat, ya. Dari SMA khusus perempuan bisa sekuat itu luar biasa, ya. Aku yang tidak paham tentang basket saja bisa tahu kalau mereka pasti kuat saat di pertandingan latihan itu.”
“Hahaha!”
“Yah, setidaknya peluang menang tetap ada. Kalian harus berusaha sekuat tenaga agar bisa menang lagi melawan mereka di pertandingan resmi nanti.”
“Iya, aku tahu! Pertandingan nanti tidak akan sama seperti pertandingan latihan waktu itu.”
“Berjuanglah!”
“Terima kasih.”
“Yukina!” Mizuno-san tiba-tiba memanggil Fuyukawa-san yang ternyata sudah berada di dekat Fuyukawa-san, bersama Seto-san.
Melihat adanya Mizuno-san di dekatku, aku langsung memalingkan pandanganku dari arah Fuyukawa-san ke arah depan kelas.
“Ada apa, Atsuko?”
“Sudah saatnya kegiatan klub.”
“Oh, iya. Ayo kita pergi! Sampa nanti, Amamiya-kun.”
“Ya,” jawabku sambil melihat ke arah Fuyukawa-san.
Fuyukawa-san segera bangkit dari tempat duduknya, membawa tasnya, lalu keluar dari kelas bersama dengan Seto-san dan Mizuno-san.
Tanpa sengaja, mataku bertemu dengan mata Mizuno-san yang tajam itu saat melihat mereka bertiga pergi dari kelas ini. Segera aku memalingkan wajahku. Sepertinya dia sudah sadar kalau aku sedang berusaha menghindarinya.
Baiklah. Saatnya menuju ke ruang klub.
Setiba di ruang klubku, tanpa mengetuk pintu seperti biasa, aku menggeser pintu geser ini dan masuk ke dalam ruangan yang sudah ada Shiraishi-san di dalamnya. Dia sedang membaca buku seperti biasa.
Aku langsung duduk di tempatku dan mulai membaca buku juga. Sepertinya hari ini tidak ada hal yang akan kami lakukan sebagai anggota dari Klub Bantuan, juga tidak ada pertukaran frasa yang terjadi di antara kami berdua.
Aku membalik-balikkan halaman buku sambil terus membacanya secara perlahan agar dapat memahami dan merasakan cerita yang dituliskan. Ketika mulai haus, aku menuju tempat peralatan teh diletakkan. Kemarin, Shiraishi-san menyuruhku untuk memakai cangkir teh ini dan sekarang akan kugunakan.
Ketika aku kembali ke kursiku sambil membawa cangkir ini, Shiraishi-san melihatku. Sepertinya dia ingin memastikan apakah aku akan menggunakan cangkir ini atau tidak. Setelah duduk kembali, dia mulai membuka mulutnya.
“Akhirnya kamu menggunakan cangkir itu juga, ya.”
“Seperti yang kamu katakan kemarin, Shiraishi-san.”
“Baguslah.”
“Iya.”
“…”
“…”
Percakapan berakhir. Keheningan kembali melanda ruangan ini. Aku tidak tahu apa yang ingin kubicarakan dengannya lagi dan dia juga tidak tahu apa yang ingin dia bicarakan denganku lagi. Ini sangat berbeda dengan kemarin yang mana kami berbicara cukup panjang untuk pertama kalinya. Pada akhirnya, kami kembali membaca buku kami masing-masing hingga jam hampir menunjukkan pukul enam sore.
“Sudah hampir jam enam, ya,” kataku sambil menutup bukuku yang akhirnya selesai kubaca.
“… Ah, kamu benar.” Sepertinya Shiraishi-san tidak menyadarinya juga.
“Waktu memang berjalan dengan cepat saat sedang membaca, ya.”
“Iya. Kalau begitu, ayo pulang!”
“Ya. Pertama, cuci peralatan teh ini dulu. Biar aku yang melakukannya.”
“Baiklah.”
Teh yang biasanya tersisa, kali ini habis. Aku tidak tahu sudah berapa kali aku bolak-balik menuju peralatan teh untuk mengisi ulang teh ke dalam cangkirku.
Setelah mencuci peralatan teh di keran dekat tangga, aku kembali ke ruang klub dan meletakkannya di tempatnya semula. Kemudian, Shiraishi-san mengunci pintu ruangan ini dan kami pun berjalan menuju gedung utama. Kami berpisah di loker sepatu.
Setelah mengganti uwabaki-ku dengan sepatu, saatnya pulang. Namun, tiba-tiba ada tangan seseorang yang muncul di depanku sambil memukul loker sepatu yang bertujuan untuk menghalangi jalanku untuk pulang.
“Amamiya, tunggu sebentar!”
Aku terkejut dan langsung melihat tangan siapa sebenarnya ini. Ternyata ini tangan Mizuno-san.
“Mi-Mizuno-san?!”
Ada apa sebenarnya ini? Kenapa Mizuno-san tiba-tiba muncul di sini? Seharusnya dia sudah pulang dari tadi untuk langsung beristirahat karena besok ada pertandingan final. Apa dia menungguku di sini dari tadi?
Aku menghadap ke arahnya. Tangan kanannya masih menempel di loker sepatu berada di sebelah kiriku. Sekarang, jarak kami berdua sangat dekat. Aku harus menghindarinya dulu. Ketika aku hendak berjalan melalui arah sisi lainnya, dia menempelkan tangan kirinya di sebelah kananku. Ini namanya kabedon. Walaupun bukan di dinding, seperti itulah keadaanku sekarang. Aku di-kabedon seorang gadis di loker sepatu sekolah.
“Jangan mencoba untuk kabur!”
“I-iya.” Aku langsung menuruti perkataannya yang terdengar mengancam itu.
“Ada yang ingin kutanyakan, jadi jawablah dengan jujur!”
Tatapan matanya sangat tajam dan itu membuatku takut. Bisa saja dia menamparku sekali lagi di sini. Jadi, lebih baik kuturuti perkataannya.
“Ba-baiklah.”
“Beberapa hari ini, kamu mencoba untuk menghindariku, kan?”
“…!”
Jadi, dia sudah menyadari hal itu. Masalahnya, apa yang harus kujawab sekarang. Jika kukatakan hal yang sebenarnya, apa yang akan dia lakukan kepadaku. Begitu juga sebaliknya.
“Kenapa diam? Kamu pikir, aku tidak menyadari itu, ya?!”
“Ah… begini…”
“Jawab aku! Jangan pikir aku tidak sadar dengan kelakuanmu itu.”
“…” Aku sama sekali kehilangan kata-kata untuk menjawab pertanyaannya.
“Setiap kali mata kita bertemu, kamu langsung memalingkan pandanganmu. Bahkan kamu sempat kabur melalui pintu menuju halaman dalam sekolah ketika aku masuk ke kantin. Sebenarnya apa yang membuatmu melakukan itu? Apa aku sudah melakukan sesuatu padamu?”
Nada bicara Mizuno-san yang tadi terdengar mengancam, tiba-tiba sekarang berubah. Suaranya menjadi lebih pelan. Tidak hanya itu, ekspresi wajahnya juga berubah. Dia sedikit murung sekarang dengan tatapan mata yang terlihat sedikit sedih.
Karena aku tidak kunjung memberikan jawabanku kepadanya, dia mendekatkan wajahnya ke depan wajahku. Itu membuatku mundur hingga punggungku menyentuh loker sepatu. Wajah kami begitu dekat. Aku bisa mendengar nafasnya dan mencium bau keringat serta aroma manis dari tubuhnya.
Dalam keadaan kabedon seperti ini, mustahil aku bisa melarikan diri tanpa melawannya. Caranya hanya satu, yaitu dengan mendorongnya lalu berlari dengan cepat meninggalkan sekolah ini. Masalahnya, aku tidak bisa mendorongnya. Bagaimana jika ketika aku mendorongnya, dia mengalami cedera karena keseimbangan badannya yang tiba-tiba hilang? Itu akan berdampak dengan tim basket.
“Jawab aku, Amamiya!” Mizuno-san mengeluarkan suara yang keras sekarang.
“Sebenarnya…” Aku sepertinya tidak punya pilihan lain selain mengatakan yang sebenarnya.
“Atsuko? Di mana kamu?”
Tiba-tiba terdengar seseorang yang memanggil nama Mizuno-san. Kemungkinan teman klubnya.
“Aku di sini!” jawab Mizuno-san. Dia melepaskan kedua tangannya yang menempel di loker sepatu dan itu membuatku punya kesempatan untuk melarikan diri. Dia juga menjauhkan tubuhnya dariku. Aku langsung lari ketika dia melihat ke arah kirinya. “Amamiya, tunggu!!!” teriak Mizuno-san.
Itu yang kudengar. Aku tidak melihat ke arahnya lagi dan hanya berlari menghadap ke depan untuk meninggalkan sekolah ini. Beberapa murid melihatku dengan ekspresi penasaran di wajah mereka.
Ketika sudah jauh dari sekolah, aku kembali berjalan dengan santai hingga tiba di apartemenku. Tadi itu cukup membuatku takut. Jika teman Mizuno-san tidak ada di situ, mungkin aku sudah mengatakan hal yang sebenarnya.
Sebentar. Itu artinya dia menemuiku di loker sepatu karena dia sedang menunggu temannya atau dia memang sengaja menungguku di sana. Seharusnya aku pulang lebih awal karena tadi tidak ada kegiatan klub yang harus dilakukan. Aku malah menghabiskan waktuku terlalu lama membaca buku di ruang klub yang mana aku bisa membacanya nanti malam. Apa boleh buat. Buku yang kubaca tadi ceritanya cukup seru dan itu membuatku lupa dengan waktu. Setidaknya, hari ini aku selamat. Di hari Senin nanti, mungkin dia akan meminta jawaban dariku lagi. Aku harus menyiapkan diriku untuk itu.
Setelah makan malam, aku memutuskan untuk mandi di pemandian umum. Hari ini, aku tidak melakukan banyak hal, tapi entah kenapa justru aku merasa kelelahan. Di Kohmeisen, aku bertemu dengan Shiga yang memang sebelumnya dia pernah bilang kalau dia mandi di sini setiap hari Jumat. Aku membersihkan badanku terlebih dulu dan kemudian masuk ke dalam bak mandi di mana dia sedang berendam sekarang.
“Yo, Amamiya. Hari ini kamu datang, ya.”
“Ya. Rasanya aku mau berendam.”
“Kamu terlihat lelah. Apa kegiatan Klub Bantuan begitu berat?”
“Ah, tidak juga.”
“Tapi kamu sampai mimisan karena membantu Klub Sepakbola kita, kan?”
“Ya. Tapi itu bukan hal yang berat, kok.”
“Baguslah.”
“Ya.”
“Lalu, bagaimana?”
“Apa?”
“Hubunganmu dengan Shiraishi-san. Ada kemajuan?”
“Ah! Tentang itu, ya. Kemarin, aku berbicara dengannya cukup panjang. Berbeda daripada biasanya.
“Serius? Mungkin itu tanda yang bagus.”
“Ya. Semoga saja begitu.”
“Kamu pasti bisa menjadi temannya.”
“Sepertinya kamu tahu banyak tentangnya, ya, Shiga.”
“Bukan seperti itu juga, sih. Dulu, sebenarnya aku pernah berada di SD yang sama dengannya. Awalnya, dia tidak seperti itu. Aku tidak tahu kenapa dia bisa berubah menjadi seperti sekarang.”
“Lalu, bagaimana dia di SD dulu?”
“Aku tidak terlalu tahu juga.”
“Eh, kenapa?!”
“Aku hanya pernah sekali sekelas dengannya. Waktu SD, dia gadis yang pintar, ramah, dan selalu tersenyum. Banyak murid yang berada di sekitarnya dan tidak sedikit juga murid laki-laki yang menyukainya. Ketika aku kembali bertemu dengannya di sekolah ini tahun lalu, dia sudah berubah. Dia seperti membentuk barier di sekitarnya agar orang-orang lain tidak bisa mendekatinya atau mengajaknya berbicara.”
“Jadi begitu, ya. Pasti pernah terjadi sesuatu sehingga membuatnya menjadi tertutup seperti sekarang ini.”
“Aku juga berpikir seperti itu. Karena itulah, Amamiya, mungkin kamu bisa membuatnya kembali seperti dulu lagi. Shiraishi-san yang ramah, ceria, disukai dan dikelilingi banyak orang.”
“Sejujurnya, aku tidak tahu apakah bisa menjadi temannya dan membuatnya menjadi seperti yang dulu lagi.”
“Kenapa kamu berpikir seperti itu?”
“Aku hanya murid SMA biasa, lo, Shiga. Tidak mungkin aku bisa membuatnya kembali seperti dulu yang kamu bilang tadi. Aku tidak punya kekuatan untuk mengubah seseorang.”
“Kamu benar. Tapi aku yakin kamu bisa.”
“Kenapa kamu bisa yakin seperti itu?”
“Karena kamu sudah mengubah suasana kelas kita”
“Memangnya aku melakukan apa?”
“Ketika kamu masuk ke SMA Keiyou dan ditempatkan di kelas 2-D, semua orang di kelas itu tidak menerima kehadiranmu dan tidak menganggapmu ada, kecuali Fuyukawa-san. Aku tidak tahu kenapa dia bisa menerimamu begitu saja, tapi aku tahu pasti ada ‘sesuatu’ di antara kamu dan dia.”
“…!” Aku terkejut kalau Shiga bisa berpikiran seperti itu. Memang benar ada ‘sesuatu’ di antara Fuyukawa-san dan aku. Sepertinya dia tidak mengetahuinya tentang ‘sesuatu’ itu.
Shiga melanjutkan, “Aku tidak peduli dengan anggapan orang-orang karena aku lebih memilih untuk memastikan sesuatu dengan mataku sendiri. Aku tidak menolakmu di kelas saat itu. Malahan, aku penasaran kenapa kamu bisa masuk ke SMA Keiyou. Pada akhirnya, kamu sudah menjelaskan semua dan membuat suasana kelas yang awalnya begitu kelam menjadi kelas yang ceria seperti kelas lainnya di sekolah. Tidak hanya itu, kamu mulai dikelilingi orang-orang di sekitarmu. Aku terkadang melihatmu makan bersama teman-temanmu dari kelas yang lain yang tidak kukenal. Mereka seperti merasa senang jika berada di dekatmu. Kita berada di kelas yang sama tapi aku tidak berani berbicara denganmu di sekolah. Namun, aku senang bisa berbicara denganmu seperti ini.”
“Eh!!! Bicara saja. Jangan takut! Aku juga senang bisa berbicara denganmu, Shiga.”
“Begitu, ya. Akan kucoba nanti di sekolah. Karena itulah aku berpikir kalau kamu pasti bisa mengubah Shiraishi-san kembali menjadi dirinya yang dulu, dirinya yang sebenarnya.”
“Mengenai Shiraishi-san, jujur, aku sudah bertekad untuk bisa menjadi temannya. Tapi aku tidak tahu apakah aku bisa membuatnya kembali menjadi dirinya yang sebenarnya atau tidak. Mengubah diri seseorang itu bukanlah hal yang mudah.”
“Ya. Aku tahu itu bukanlah hal yang mudah. Karena itu, mulailah dari menjadi temannya saja.”
“Ya. Aku memang akan melakukan seperti itu karena itu yang bisa kulakukan sekarang.”
“Kamu pasti bisa.”
“Ngomong-ngomong, kenapa kamu sangat peduli dengannya, Shiga?” Apa kamu su—”
“Bukan begitu. Dia pernah menolongku dulu.”
“Kalau begitu, kenapa kamu tidak menolongnya sekarang?”
“Aku tidak bisa melakukannya.”
“Walaupun kamu belum mencobanya?”
“Tidak. Sudah kucoba. Tahun lalu, kucoba mendekatinya untuk menjadi temannya lagi seperti dulu. Tapi dia sama sekali tidak memberiku peluang itu. Sikapnya yang dingin dan tertutup itu tidak bisa kutembus.”
“Ah… begitu, ya.”
“Kuserahkan padamu, Amamiya.”
“Baiklah.”
Malam ini, aku menemukan sifat baru Shiga yang sama sekali tidak dia perlihatkan di kelas. Dia yang pendiam itu juga memerhatikan keadaan sekitarnya. Dari awal, dia mungkin memang orang yang selalu memerhatikan keadaan sekitarnya. Aku bisa beranggapan seperti itu karena setelah apa yang dia ceritakan tentang Shiraishi-san saat SD dulu. Secara tidak sadar, dia masih melakukan itu sampai sekarang.
Setelah rasa lelah di dalam tubuh kami dibawa air, kami keluar dari pemandian umum. Tidak lupa kami beli susu di mesin penjual minuman yang ada di depan pemandian umum ini. Kami berpisah setelah meminum susu itu untuk kembali ke tempat kami masing-masing.
***
Akhir pekan tiba.
Aku bangun lebih awal sebelum alarm sempat berbunyi. Aku langsung bergegas merapikan tempat tidur dan kemudian bersiap untuk olahraga pagi. Hari ini hari Sabtu. Akan ada banyak hal yang harus kulakukan setelah olahraga.
Kugunakan waktuku sekitar satu jam untuk berolahraga, seperti running, push-up, sit-up, plank, dan squat. Tentu saja aku tidak langsung pulang ke apartemen dengan kondisi tubuh yang penuh dengan keringat. Aku beristirahat sebentar Taman Naka-Meguro. Terlihat beberapa orang yang juga melakukan running di taman ini. Setelah rasa lelah sedikit menghilang, aku pulang ke apartemen.
Selanjutnya, aku harus makan. Seorang remaja sepertiku ini memerlukan asupan kalori yang banyak karena masih dalam masa pertumbuhan. Aku membuat nasi omelet sebagai menu sarapan. Katanya, protein dari telur cukup bagus untuk membentuk massa otot. Beberapa hari ini, aku sering makan telur sebagai menu sarapan.
Setelah makan, kucuci semua peralatan makan dan dilanjutkan dengan membersihkan kamar dan kamar mandi. Aku tidak tahu berapa lama waktu sudah berjalan. Aku hanya fokus membersihkan kamar ini karena kebersihan kamar dan kamar mandi merupakan hal yang sangat berpengaruh dengan kenyamanan. Selain itu, Aika-chan juga mengatakan kalau dia akan ke sini hari ini walaupun dia belum mengatakan pukul berapa dia akan datang ke sini.
Beberapa saat kemudian, aku selesai membersihkan kamar dan kamar mandi, juga kaca jendela menuju beranda. Cahaya matahari yang masuk ke kamar ini melalui kaca jendela mengahangatkan ruangan ini. Kebetulan cuaca hari ini sedang cerah, aku langsung mengangkat kasur bagian atas dari tempat tidurku menuju beranda untuk kujemur.
Keringat mulai keluar kembali dari pori-pori kulit dan itu membuat tubuhku tidak nyaman. Baiklah, sekarang saatnya untuk mandi dan mencuci pakaian. Kumasukkan semua pakaian ke dalam mesin cuci dan mesin cuci pun bekerja. Aku langsung mandi dengan air dingin.
Setelah mandi, tubuhku kembali segar. Sekarang, aku hanya perlu menunggu cucian selesai lalu menjemurnya.
Akhirnya semua hal yang harus kulakukan hari ini sudah selesai sebagian. Sampai sekarang, Aika-chan tidak mengabariku kapan dia akan datang ke sini. Kucoba untuk mengiriminya pesan melalui LINE, tapi tidak ada balasan. Mungkin ada sesuatu yang masih dia lakukan sekarang. Lebih baik kutunggu saja.
Aku memutuskan untuk berbaring di tempat tidur. Pintu beranda yang kubuka membuat angin yang masuk membuatku ngantuk. Tiba-tiba kelopak mataku menjadi berat. Lebih baik aku tidur sebentar.
***
Hari ini, aku akan datang ke apartemen Ryu-chan karena ada hal yang ingin kutanyakan langsung padanya. Sudah pasti rumor tentang aku berpacaran dengan Ryu-chan sudah tersebar juga di sekolahnya karena rumor itu datang dari murid SMA Keiyou yang kemudian disebarkan juga ke sekolahku. Pasti rumor seperti itu bisa dibuat karena aku telah memeluknya waktu itu. Aku sama sekali tidak memikirkan kalau akan ada rumor seperti ini akan tersebar. Aku ingin tahu apakah dia terganggu dengan rumor itu atau tidak dan apakah dia sudah meluruskannya atau belum.
Sebelum pergi ke apartemennya, aku menyuruh pengumudi mobil untuk mampir ke supermarket untuk pergi membeli beberapa bahan makanan karena aku berencana pergi ke tempatnya sebelum jam makan siang. Dengan demikian, aku bisa membuatkan makan siang untuknya. Jadi, aku bisa makan siang bersamanya untuk pertama kalinya. Ah, benar juga. Dulu, aku pernah makan siang bersamanya dan ibunya di Nagano. Kalau begitu, ini akan menjadi makan siang pertama kami setelah ketemu kembali. Aku membeli semua bahan makanan yang digunakan untuk membuat nikujaga seperti daging sapi, kentang, bawang, shouyu, gula, dan lain-lain sebagainya. Setelah itu, aku menuju ke apartemennya.
Aku tiba pukul 11:25 dan langsung menuju kamarnya sambil membawa bahan makanan tadi. Setiba di depan kamarnya, kuketuk pintu kamarnya. Beberapa kali kuketuk, tapi tidak ada yang menjawab. Apa Ryu-chan sedang tidak berada di kamarnya hari ini? Aneh. Dia bilang kalau dia ada di apartemennya hari ini. Aku memegang gagang pintu dan mencoba untuk membuka pintu kamarnya. Aku sedikit kaget karena pintunya tidak terkunci. Kututup kembali pintunya setelah masuk ke dalam.
Aku melihat ke arah sekelilingku. Kamar ini terasa sangat bersih. Dapur yang terletak di sebelah kanan dekat pintu juga dalam keadaan bersih. Pasti Ryu-chan baru saja membersihkan semuanya. Aku jalan ke depan menuju bagian tengah ruangan. Pintu menuju beranda terbuka dan kulihat Ryu-chan yang sedang tidur di tempat tidurnya. Pasti dia merasa kelelahan karena sudah membersihkan kamar ini.
Aku mendekat ke arah tempat tidur dan melihat wajah tidurnya. Wajahnya begitu manis untuk dilihat. Ini pertama kalinya aku melihat wajah tidur dari seorang laki-laki. Aku senang kalau Ryu-chan adalah orang pertama yang kulihat wajah tidurnya.
Aku sempat berpikir kalau aku tidak akan pernah bisa bertemu dengannya lagi lagi. Namun, kenyataannya, aku bisa bertemu lagi dengannya. Kalau kulihat lagi, dia benar-benar sudah banyak berubah. Dia sudah besar dan wajahnya menjadi lebih manis sekarang. Senyumannya yang murni waktu itu membuatku terpana dan kehilangan kata-kata. Memang benar dia sudah berubah, tapi sikapnya yang ramah itu selalu ada di dalam dirinya.
“Ibu…”
Aku mendengar Ryu-chan mengeluarkan kata itu di saat dia sedang tidur. Mungkin dia sedang bermimpi tentang ibunya yang sudah tiada. Ekspresi wajahnya berubah seketika menjadi sedikit terlihat sedih sambil mengerutkan dahinya.
Aku memegang tangannya lalu berkata dengan suara yang pelan, “Sudah tidak apa-apa lagi, Ryu-chan. Aku akan selalu ada untukmu. Jadi, janganlah kamu bersedih, ya.”
Sesudah mengatakan itu, ekspresi wajahnya kembali normal. Lebih baik kubiarkan dia tidur sedikit lebih lama. Sekarang saatnya memasak untuk makan siang. Saat dia bangun, pasti dia akan terkejut melihatku sudah berada di sini dan sudah menyiapkan makan siang. Bisa dikatakan sebagai suatu surprise.
Aku menuju dapur, memakai celemek yang kubawa, lalu mencari peralatan memasak yang dimilikinya. Semuanya tersusun rapi yang membuatku tidak kesulitan mencari peralatan tersebut. Baiklah, saatnya membuat nikujaga untuk makan siang.
***
Hm!?
Aku terbangun dari tidurku karena mendengar suara dari arah dapur kamar ini. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku tidur tadi. Dengan mata yang sedikit terbuka, aku melihat ke arah dapur. Terdapat seorang gadis dengan rambut hitam yang panjang sambil mengenakan celemek berwarna hitam dan sedang ingin memasak sesuatu di sana. Mungkin ini hanya khalayanku saja. Ini mimpi. Kenapa juga bisa ada seorang gadis di sini dan sedang memasak sesuatu? Tidak masuk akal. Aku kembali menutup mata.
Suara yang terdengar di dapur begitu nyata untuk dikatakan sebagai sebuah mimpi. Apa benar-benar ada orang lain selain aku di kamar ini yang sedang memasak di dapur? Aku pun segera membuka mataku lebar-lebar dan segera bangun dari tempat tidur.
“Aika-chan?”
“Ah, Ryu-chan! Akhirnya kamu bangun.”
Apa yang kulihat dan kurasakan tadi memang bukan sebuah mimpi, melainkan kenyataan. Aika-chan yang berada di sana. Dari awal, dia memang sudah berencana untuk datang ke sini. Namun, kenapa dia bisa berada di dalam kamar ini membuatku penasaran. Aku pun langsung menanyakannya.
“Eh? Kenapa kamu bisa berada di sini? Apa aku tidak mengunci pintu?”
“Iya. Ketika kuketuk pintunya, tidak ada orang yang menjawab. Saat kucoba membuka pintunya, ternyata tidak dikunci dan aku melihatmu sedang tidur.”
“Jadi begitu, ya. Pasti setelah membuang sampah di bawah, aku lupa menguncinya lagi saat kembali ke sini.”
“Lain kali, jangan lupa kunci pintunya, ya, Ryu-chan!”
“Iya! Apa kamu sudah lama sampai di sini?”
“Tidak, kok.”
“Begitu, ya. Lalu, kamu sedang apa di sana?” Aku berjalan menuju arahnya yang sedang berada di dapur.
“Ah, ini, aku mau membuat Nikujaga.”
“Nikujaga, ya. Eh, tapi… bukannya kamu datang ke sini untuk membicarakan sesuatu? Kenapa kamu mau memasak sekarang?”
“Iya. Kita bisa membicarakannya nanti sambil makan siang. Lagi pula, waktu itu aku pernah bilang, kan? Kalau aku akan memasak sesuatu untukmu, Ryu-chan.”
“Ah, benar juga. Kalau begitu, aku bantu, ya. Aku ambil celemek dulu.”
“Baiklah.”
Aku mengambil celemek dari lemari yang ada di ruang tengah kamar ini dan langsung kembali ke dapur untuk membantu Aika-chan.
“Oh, ya, nasinya bagaimana? Seingatku, aku belum memasak nasi.”
“Ah! Belum.”
“Kalau begitu, aku yang memasaknya. Aika-chan urus nikujaga-nya saja.”
“Um, ya,” jawab Aika-chan sambil mengangguk.
Aku mulai mengambil beras, lalu mencucinya dengan air keran. Setelah itu, kucuci claypot yang selalu kugunakan untuk menanak nasi. Di sini, aku tidak punya mesin penanak nasi, sehingga aku menanak nasi memakai claypot. Lagi pula, menanak nasi menggunakan claypot membuat nasi terasa lebih enak.
Kumasukkan beras yang sudah kucuci dan air ke dalam claypot, lalu kuletakkan di atas kompor. Aika-chan melihatku dengan ekspresi penuh dengan tanda tanya di wajahnya.
“Kamu tidak punya rice cooker, ya, Ryu-chan?”
“Iya. Aku selalu memasak nasi memakai claypot ini.”
“Begitu, ya. Memasak nasi menggunkan claypot sedikit susah, kan? Kita harus mengatur api dari kompornya dan juga waktunya harus tepat, tidak boleh terlalu lama dan tidak boleh terlalu cepat.”
“Iya. Aku sudah terbiasa menggunakan ini, jadi tidak ada masalah. Nenekku yang mengajarinya.”
“Begitu, ya.”
“Kalau Aika-chan, kamu tidak bisa menggunakan ini untuk memasak nasi, ya?”
“Iya, tidak bisa. Tapi Ryu-chan, lebih baik kamu punya satu rice cooker, jadi kamu tidak perlu memasak nasi setiap kali kamu ingin makan.”
“Iya, aku juga berpikiran seperti itu. Mungkin nanti akan kubeli.”
“Baguslah.”
“Karena sekarang tinggal menunggu nasinya jadi, aku bantu kamu untuk membuat nikujaga.”
“Terima kasih, Ryu-chan. Ayo kita mulai membuatnya!”
Bahan-bahan untuk membuat nikujaga sudah disiapkan oleh Aika-chan. Semua bahannya sudah lengkap. Aku bisa membuat nikujaga karena makanan ini tidak susah untuk dibuat. Oleh karena itu, semuanya berjalan lancar.
Waktu terus berjalan. Nasi kami sudah matang dan sekarang hanya tinggal menunggu nikujaga-nya matang.
“Ryu-chan, coba cicipi ini!” Aika-chan mengambil sedikit daging dan kentang dari panci, lalu meletakkannya di piring kecil.
“Baiklah!”
Di saat aku berpikir untuk menyicipinya dengan memasukkan daging dan kentang itu ke dalam mulutku dengan bantuan tanganku sendiri, Aika-chan menyodorkan sendok dengan daging tepat di depan mulutku.
“Buku mulutmu, Ryu-chan!”
“Aku bisa sendiri.”
“Sudahlah. Aaa…”
Aku langsung memakannya. Rasanya sedikit aneh disuapi seperti itu, tapi apa boleh buat. Kukunyah daging itu dan sambil mengecapnya dengan lidahku.
“Bagaimana, Ryu-chan?”
“Hm… ini enak. Rasanya pas. Rasa manis dari gula dan rasa asin dari shouyu meresap di dagingnya. Dagingnya juga empuk.”
“Selanjutnya kentang ini.” Aika-chan menyuapi kentang itu kepadaku.
Sambil terus kukunyah, dia terus melihat ke arahku. Ini memang bukan pertama kalinya ada orang lain di kamarku ini, tapi rasanya cukup berbeda. Aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya.
“Kentangnya lembut. Gula dan shouyu-nya sudah cukup meresap dan terasa enak. Ini enak, Aika-chan.”
“Aku senang mendengarnya. Berarti sekarang tinggal tunggu airnya menghilang sedikit lagi. Setelah itu, nikujaga-nya sudah siap.”
“Iya. Kalau begitu, kusiapkan piringnya dulu.”
Aku mempersiapkan piring dan lain-lain. Tak lama kemudian, nikujaga-nya selesai, lalu kami duduk di meja yang ada di dekat tempat tidurku untuk makan siang bersama. Ini yang kudua kalinya aku makan bersama orang lain di kamar ini.
“Itadakimasu,” kata kami serentak dan mulai memakan nikujaga sebagai menu makan siang kami.
Saat makan, Aika-chan tidak membicarakan apa yang ingin dibicarakan seperti apa yang menjadi tujuannya datang ke sini. Dia terlihat senang sambil terus memakan makananannya. Wajahnya penuh dengan senyuman. Senyumannya yang manis membuatku ikut tersenyum ketika dia tersenyum sambil melihat ke arahku. Kami hanya membicarakan obrolan kecil, seperti keseharianku sebagai contohnya. Hal yang biasa ditanyakan oleh seseorang kepada orang yang sudah lama tidak ditemui.
Setelah makan, kami mencuci piring, gelas, panci, dan lain-lain, juga membersihkan dapur.
“Oh, ya, Ryu-chan, kita terlihat seperti sepasang kekasih, ya,” kata Aika-chan sambil mengelap piring yang sudah kucuci.
“Eh?” Perkataannya itu membuatku terkejut dan tanganku berhenti mencuci piring lainnya.
“Kita masak dan makan bersama. Hal seperti itu.”
“Ah, seperti itu, ya. Um, ya, mungkin terlihat seperti itu.”
“Haha.” Aika-chan tersenyum dengan wajahnya yang memerah.
Aku tidak berpikir ada arti lain di balik perkataannya itu tadi. Lagi pula, kalau ada orang lain yang melihat kami sekarang, mungkin orang itu akan berpikir seperti itu juga. Aku pernah pulang bersama Namikawa-san dan itu menjadi rumor kalau aku berpacaran dengannya. Itu hanya pulang bersama. Apa lagi kalau di keadaan seperti ini, sudah pasti akan menjadi rumor yang lebih kuat.
Oh, aku mengerti. Mungkin Aika-chan mengatakan apa yang terlihat di sini kalau kami seperti sepasang kekasih. Entah kenapa aku tersipu malu karena perkataannya itu. Lagi pula, kenapa dia mengatakan hal seperti itu membuatku penasaran. Apa rumor tentangku yang berpacaran dengannya juga tersebar di sekolahnya?
Setelah membersihkan dapur, kami kembali ke ruang tengah.
“Akhirnya selesai.”
“Otsukare, Ryu-chan.”
“Otsukare. Ah, sebentar. Aku ambil mugicha dulu.”
Satu botol mugicha ukuran 1,5 liter kukeluarkan dari kulkas dan kuletakkan di atas meja bersamaan dengan dua gelas. Setelah itu, kutuangkan ke dalam gelas.
“Terima kasih, Ryu-chan.”
“Terus, kamu ingin membicarakan apa, Aika-chan?”
“Ah, aku hampir lupa. Ahaha. Apa di sekolahmu ada tersebar rumor tentang aku dan kamu yang punya hubungan asmara? Seperti kamu pacaran dengan manajer Klub Sepakbola SMA Waseida.”
“Iya, ada.”
“Ada, ya. Di sekolahku juga. Rumor itu tersebar setelah kita bertemu waktu itu. Itu pasti karena aku langsung memelukmu waktu itu sehingga terciptalah rumor itu. Kalau aku tidak memelukmu waktu itu, pasti rumor seperti itu tidak akan ada.”
“Kamu benar. Karena itu, ada beberapa orang yang menanyakanku tentang rumor itu.”
“Kemudian?”
“Tentu saja aku menjelaskan semuanya.”
“Begitu, ya. Aku minta maaf, Ryu-chan. Kamu pasti terganggu dengan rumor itu.”
“Kamu tidak perlu minta maaf. Aku sama sekali tidak terganggu dengan rumor itu. Lagian, aku langsung menjelaskan tentang hubunganku denganmu sehingga tidak ada kesalahpahaman lagi. Kamu sendiri bagaimana, Aika-chan?”
“Jujur saja, itu pertama kalinya ada rumor tentangku yang tersebar di sekolahku.”
“Terus?”
“Aku langsung menjelaskan kepada mereka yang menanyakan tentang rumor itu.”
“Syukurlah. Tapi kenapa rumor itu cepat sekali tersebarnya, ya? Bahkan sampai ke sekolahmu juga, Aika-chan.”
“Hubungan murid di antara sekolah kita cukup dekat. Pasti ada murid Keiyou yang menanyakan murid Waseida tentangku yang tiba-tiba memelukmu waktu itu. Akhirnya terciptalah rumor seperti itu.”
“Jadi begitu. Wajar saja tersebarnya cepat.”
“Hey, Ryu-chan, mungkin kita harus pacaran sesungguhnya?”
“Ah!”
“Cuma bercanda, kok! Bercanda. Apa kamu terkejut?”
“Aaa…” Saking terkejutnya, aku hanya membuka mulutku tanpa bisa mengeluarkan kata-kata.
“Uwaaa… Bercanda, kok! Pokoknya yang tadi itu cuma bercanda!”
“Ah, ha… Be-begitu, ya.” Jantungku rasanya hampir copot karena candaannya.
“Maaf, ya. Tadi itu tidak seperti aku ketika mengatakannya, kan? Lupakan, lupakan!”
Aika-chan memalingkan pandangannya dariku sambil kedua tangannya memegang kedua pipinya yang terlihat memerah. Aku tidak tahu kenapa dia tiba-tiba mengatakan hal seperti itu. Mungkin keadaan kami sekarang yang terlihat seperti itu, jadi dia mengatakan itu.
“Ah, ya. Tidak apa-apa.”
“Kalau begitu, aku pulang dulu, ya.”
“Sudah mau pulang?”
“Iya. Aku ada urusan lain sebentar lagi.”
“Begitu, ya. Baiklah.”
“Nanti, aku datang lagi, ya, Ryu-chan!”
“Ya. Hati-hati di jalan, ya.”
“Ya.”
Aku mengantar Aika-chan sampai di depan pintu. Setelah itu, dia kelar dari kamar ini dan secara perlahan menajauh untuk meninggalkan apartemen ini.
Hari ini begitu menyenangkan. Bisa makan siang bersamanya setelah sekian tahun lamanya membuatku senang. Semoga dia juga merasakan hal yang sama.
Semoga hari seperti ini bisa terulang lagi di kemudian hari.
***
Hari Sabtu masih panjang. Menjelang sore hari dan aku hanya menghabiskan waktuku dengan membaca sesuatu yang ingin kubaca walaupun yang kubaca adalah buku pelajaran sekolah. Hal itu kulakukan untuk menunggu kabar dari Taka yang menonton langsung pertandingan final Klub Bola Basket Perempuan SMA Keiyou dan juga menunggu cucianku agar kering yang kujemur di beranda kamar.
Seharusnya pertandingan final sudah berakhir, tapi Taka masih belum memberikan informasi apa-apa tentang bagaimana pertandingan final itu berlangsung. Mungkin pertandigannya begitu sengit, sehingga dia menjadi lupa untuk mengabariku.
Cucian yang kujemur diberanda akhirnya kering berkat cuaca hari ini yang cerah, tidak ada tanda-tanda akan hujan dari tadi pagi sampai sekarang. Aku langsung berhenti membaca untuk menyetrika pakaian.
Tiba-tiba ponselku bergetar karena ada panggilan masuk. Ketika kulihat, ternyata Taka yang meneleponku. Mungkin sudah saatnya dia memberitahuku tentang jalannya pertandingan final tadi.
“Halo, Ryuki!” Suara Taka terdengar sedikit lebih tinggi daripada biasanya. Tidak hanya itu, suara tepuk tangan terdengar jelas.
“Ya.”
“Mereka menang!”
“Benarkah?”
“Ya. Fuyukawa dan kawan-kawan berhasil menang.”
“Syukurlah. Aku ikut senang. Mereka hebat, ya.”
“Ya. Pertandingannya berjalan begitu sengit, jadi aku tidak sempat mengabarimu bagaimana jalan pertandingannya. Semuanya bermain begitu kompak, tapi Fuyukawa dan temannya, Mizuno, bermain sangat bagus. Mereka berdua seperti tidak terhentikan.”
“Begitu, ya.”
“Dengan begitu, mereka akan mewakili Tokyo di Turnamen Inter High nanti. Hebat, kan?”
“Ya. Tentu saja mereka hebat!”
“Mungkin aku akan datang untuk mendukung mereka lagi.”
“Ya, itu bagus.”
“Kamu juga harus ikut, Ryuki!”
“Benar juga, ya. Kalau aku bisa, aku akan datang.”
“Baiklah.”
“Kamu sekarang di mana?”
“Masih di Gymnasium.”
“Pantas saja ribut dan terdengar suara tepuk tangan.”
“Haha, iya. Di sini sangat ramai. Aku Sebentar lagi, akan ada penyerahan piala dan penghargaan.”
“Aku nyaris tidak bisa mendengar suaramu.”
“Begitu, ya. Seharusnya kamu telepon aku setelah meninggalkan tempat itu.”
“Apa boleh buat. Aku ingin kamu tahu secepatnya.”
“Begitu, ya. Terima kasih.”
“Ya, tidak masalah.”
“Sepertinya kamu sangat senang, ya, Taka.”
“Ya, begitulah. Rasanya sangat mengesankan melihat mereka. Pertama kalinya Klub Basket sekolah kita menang penyisihan dan akan mewakili Tokyo di Inter High.”
“Ya. Sampai jumpa.”
“Ya.”
Setelah itu, Taka menutup teleponnya.
Sepertinya menyuruhnya untuk mendukung Fuyukawa-san dan kawan-kawan merupakan hal yang tepat. Aku tidak tahu apakah Fuyukawa-san menyadari kehadirannya atau tidak di sana, tapi setidaknya dia sudah datang untuk mendukung.
Aku tidak tahu bagaimana ekspresinya saat melihat mereka berhasil menang di pertandingan final itu. Namun, aku tahu kalau dia sangat senang dari nada bicaranya. Semoga dia bisa menikmati keberhasilan mereka dari pinggir lapangan basket bersama pendukung mereka lainnya.
Saatnya kembali menyetrika.
Waktu terus berjalan hingga yang tanpa kusadarai matahari sudah tenggelam dan kegelapan telah tiba tepat ketika aku selesai menyelesaikan semua kegiatanku yang kulakukan tadi.
Aku segera mandi untuk menyegarkan kembali badanku dan makan malam setelah itu. Aku tidak perlu memasak lagi karena nikujaga yang Aika-chan buat tadi sedikit banyak agar aku dapat memakannya lagi untuk makan malam.
Pada Sabtu malam, biasanya aku akan pergi belanja. Namun, karena bahan makanan masih tersisa, aku tidak akan pergi belanja malam ini. Sesudah makan malam, aku menikmati waktu malamku dengan belajar. Pada akhirnya, aku tidak memiliki sesuatu untuk kupelajari karena semuanya sudah kupelajari. Materi pelajaran yang akan datang akan kupelajari setelah menerima penjelasan dari guru di sekolah. Oleh karena itu, aku tidak memiliki sesuatu yang bisa kulakukan. Tidak hanya itu, aku merasa jenuh karena terus berada di rumah hari ini. Mungkin sedikit jalan-jalan akan membuatku merasa lebih baik. Walaupun sudah malam, sekarang masih belum telat. Aku keluar dari kamar apartemen dan kemudian berjalan mengikuti ke mana kakiku melangkah.
Tanpa kusadari, aku sudah berada di sebuah taman di dekat kawasan rumah Fuyukawa-san. Jarak dari taman ini ke rumahnya sekitar 800 meter. Aku tidak tahu kenapa aku bisa berada di sini.
Mengenai keberhasilan Klub Bola Basket, Fuyukawa-san belum memeritahuku dan aku juga belum mengatakan selamat kepadanya. Lebih baik kukatakan sekarang. Aku mengiriminya ucapan selamat melalui LINE. Saatnya kembali berjalan.
Aku tiba di Shibuya, tepatnya di patung Hachiko. Meskipun sudah malam begini, suasana di sini masih ramai. Banyak orang yang keluar dan masuk Stasiun Shibuya. Seperti yang diharapkan dari Tokyo.
Aku menyeberangi persimpangan Shibuya yang terkenal karena keramaiannya itu menuju Center-gai. Alasan aku menuju ke sini adalah untuk memakan ramen. Tiba-tiba saja aku ingin memakannya. Aku masuk ke restoran ramen yang pernah kukunjungi bersama Taka di bulan April lalu dan kemudian memesan tenpura ramen. Sesekali makan di luar seperti ini tidak buruk, malahan sangat bagus untuk mengembalikan suasana hati dan pikiran. Tak lama kemudian, pesananku tiba.
Ramen dengan tenpura yang baru saja digoreng telah berada di depanku dan siap untuk kusantap. Pertama-tama, aku memakan tenpura udang besar yang diletakkan di atas ramen-nya. Rasanya sangat renyah dan udangnya sangat enak, terasa manis di lidah. Tidak hanya udang, ada juga tenpura dari sayur. Kebetulan aku memesan tenpura sayur sebagai tambahannya. Mi yang kenyal, kuah ramen yang terasa umami, dan tenpura yang renyah dan enak membuatku kenyang dan puas. Lain kali, aku akan kembali ke sini untuk mencoba menu ramen lainnya.
Setelah makan, aku melanjutkan kembali jalan-jalan di sekitar Shibuya. Jujur saja, aku masih belum akrab dengan Tokyo. Peluang aku untuk tersesat tentu saja ada. Namun, aku tidak perlu takut atau panik. Kemajuan teknologi membuat kehidupan manusia menjadi mudah. Hanya dengan mengandalkan ponselku, aku bisa mengetahui posisiku, sehingga aku tidak perlu takut kalau tersesat. Aku terus berjalan mengikuti orang-orang yang ada di Center-gai ini.
Semakin jauh aku berjalan, orang-orang menjadi semakin sedikit. Sepertinya aku berada jauh di gang belakang jalan utama. Waktu itu, Sakamoto-sensei pernah bilang kalau di kawasan Shibuya sedang tidak aman karena adanya preman yang berkeliaran pada malam hari. Sudah sebaiknya aku pulang sekarang. Aku melihat map di ponselku untuk menuntunku ke jalan utama, sehingga aku bisa pulang tanpa tersesat.
“… Ng!”
Hm? Sepertinya aku baru saja mendengar suara seseorang. Sumber suaranya sepertinya berasal dari arah kananku. Apa hanya imajinasiku saja?
Aku terus berjalan sambil melihat map di ponsel dan melihat ke kiri dan ke kanan gang ini.
“Tolong!!!”
Aku kembali mendengar suara seseorang. Kali ini, suaranya terdengar begitu jelas. Itu suara dari seorang gadis. Aku berlari menuju sumber suara yang meminta tolong itu. Aku memiliki perasaan yang tidak enak kali ini.
“Hentikan!!!”
Suara itu semakin dekat denganku dan suara itu tidak terdengar asing bagiku. Aku hanya perlu berlari lurus ke depan, lalu belok ke kiri. Dengan cahaya lampu yang sedikit redup, aku dapat melihat tiga orang laki-laki dan seorang gadis di depanku yang berjarak sekitar 10 meter. Dua orang laki-laki itu masing-masing memegang tangan gadis itu dan satu orang laki-laki berdiri di depan gadis itu yang sudah disudutkan di dinding bangunan.
Apa? Sebentar? Kenapa dia ada di sini? Bukankah Sakamoto-sensei sudah mengatakan kalau kawasan Shibuya sedang tidak aman pada malam hari? Apa dia tidak mendengarnya?
“Ayolah ikut dengan kami!”
“Ayo bersenang-senang dengan kam!”
“Tidak! Lepaskan aku! Tolong!!!”
“Mau kamu berteriak pun, tidak akan ada orang yang akan mendengarmu.”
“Seseorang, tolong aku!”
“Berisik.”
“Tutup saja mulutnya!”
“Baiklah.” Orang yang di depan gadis itu menutup mulut gadis itu dengan tangannya.
Aku langsung mendekati arah mereka.
“Mizuno-san!!!”
“Hah? Siapa kau, bocah?”
“Mungkin dia teman gadis ini.”
“Lepaskan gadis itu!”
“Ah! Akan merepotkan kalau dia meminta bantuan. Cepat habisi dia!”
“Benar juga. Serahkan padaku,” kata laki-laki yang menutup mulut Mizuno-san.
“Amamiya, sedang apa kamu di sini!? Lebih baik kamu lari saja! Kamu bisa babak belur.”
“Kamu sendiri kenapa di sini!? Aku mendengar suara minta tolong, jadi aku datang.”
“Jadi benar kalau dia teman gadis ini. Dan ternyata, gadis ini namanya Mizuno, lo. Namanya bagus juga, ya. Seperti orangnya.”
“Haha. Kau benar.”
“Sudah, sudah. Habisi dia sebelum kita bawa gadis ini!”
Sudah kuduga akan menjadi seperti ini. Pasti akan terjadi perkelahian. Aku pernah mempelajari ilmu bela diri. Kalau satu lawan satu, aku bisa mengatasinya. Kalau mereka bertiga menyerangku sekaligus, aku tidak tahu bagaimana akhirnya nanti. Setidaknya, aku harus berusaha menyelamatkan Mizuno-san.
“Kau ingin menjadi pahlawan dengan menyelamatkan gadis ini, ya, bocah?” Laki-laki itu terus mendekat ke arahku.
“Aku hanya ingin menyelamatkan temanku.”
“Kalau begitu, rasakan ini!” Laki-laki itu menyerangku dengan mengayunkan tangan kanannya tepat menuju wajahku.
Aku sudah dalam posisi siap menerima serangannya. Oleh karena itu, aku bisa dengan mudah menghindari pukulannya dan mundur ke belakang untuk mengatur jarak dengnnya.
“Hebat juga kau, ya, bocah.”
“Terima kasih atas pujiannya.”
Sepertinya aku harus mengatasi orang ini terlebih dulu. Dengan begitu, kedua orang yang sedang memegang tangan Mizuno-san akan datang menghampiriku untuk mengahajarku. Jika hanya satu orang yang memegang tangannya, aku yakin dia melawan dan lari dari sini.
“Sedang apa kau? Cepat habisi dia!”
“Iya, aku tahu. Lebih baik kalian berdua jaga gadis itu. Jangan sampai dia bisa kabur karena kalian lengah.”
“Amamiya, cepat lari! Jangan pedulikan aku!”
“Ha?! Apa yang kamu katakan? Diam saja dan coba pikirkan sesuatu!” Semoga Mizuno-san memahami apa maksudku.
“Sudah cukup bicaranya karena bocah ini akan—”
Tanpa menunggunya selesai bicara, aku melompat ke arahnya dan kutinju mukanya dengan tangan kananku. Aku tidak langsung berhenti di situ. Kulanjutkan dengan menendang perutnya dengan siku kaki kananku sehingga badannya menekuk kedepan. Setelah itu, aku memukul bagian belakang lehernya menggunakan siku tangan kananku.
“Akh…” Orang ini merintih kesakitan. Dia jatuh dan tertidur di jalan.
Satu orang sudah tumbang. Sisanya tinggal dua orang lagi.
“Bocah sialan. Biar aku yang menghabisinya sebagai balasan telah membuat teman kita pingsan.”
“Sebenarnya… aku tidak suka kekerasan. Tapi karena kalian yang memulai duluan, maka ceritanya akan berbeda,” kataku sambil melihat ke arah orang yang datang menuju ke arahku setelah melepas tangannya dari tangan Mizuno-san.
“Amamiya!”
“Diam kau, gadis sialan. Karena kamu teriak, bocah ini jadi datang ke sini. Cepat hajar dan habisi bocah sialan itu.”
“Bersiaplah kau, bocah, karena sudah menghajar teman kami.”
Sejak salah satu teman mereka sudah kubuat pingsan, aku sudah siap dengan kuda-kudaku untuk siap menerima serangan lainnya.
“Ora!!!” teriak laki-laki yang mendekati ke arahku tadi sambil berlari dengan tangan kanan yang sudah dikepal.
Aku berusaha menghindari pukulannya dan juga tendangannya yang diarahkan kepadaku. Tangan-tanganku berusaha menangkis tangannya dan juga kakinya. Beberapa kali kucoba untuk menyerangnya, tapi dia sudah dalam sikap siaga untuk menerima seranganku juga, tidak seperti orang sebelumnya.
Di saat aku mencoba menangkis pukulannya yang diarahkan ke wajahku untuk ke sekian kalinya, dia menendang kakiku dengan kaki kanannya sehingga aku kehilangan keseimbangan. Pukulan ke wajah tadi itu hanya sebagai pengalih perhatian. Hal itu membuatnya memiliki kesempatan untuk memukulku. Akhirnya, dia berhasil meninju wajahku. Tidak hanya itu, dia mengangkat lutut kaki kanannya ke arah perutku.
“Akh!” Aku merintih kesakitan. Wajah dan perutku terasa sakit.
Orang itu tidak berhenti di situ. Dia terus memukulku dan aku hanya bisa bertahan dengan kedua tanganku agar aku tidak kehilangan kesadaran. Meskipun begitu, pukulannya yang semakin kuat membuat tangan dam lenganku semakin sakit.
“Hei, kenapa? Kenapa kau hanya bisa bertahan, bocah?”
Aku mundur ke belakang untuk mengambil jarak dan dia mengejarku. Dia tidak ingin membuatku lepas dari serangannya walau hanya sedetik. Aku tahu dia akan mengejarku. Kuturunkan kedua lenganku dan melihat arah pukulannya. Dia ingin memukul wajahku lagi dengan tangan kirinya. Karena sudah tahu arah pukulannya, aku menggerakkan tangan kananku yang sudah kukepal dan memukul bahu kirinya. Hasilnya, dia berhasil memukul wajahku dengan pukulan yang tidak sekuat pukulannya sebelumnya dan aku berhasil membuat pertahanannya terbuka.
Di saat itulah, aku langsung menendang kaki kirinya dengan kaki kananku sehingga dia hampir berlutut. Keadaan tubuhnya yang merendah membuatku bisa menendang kepalanya dengan kaki kiriku. Aku menendangnya sambil memutar tubuhku. Hal itu membuatnya berlutut dengan kedua lutut kakinya. Terakhir, kupegang kepalanya dan kemudian kubenturkan ke lutut kaki kananku. Semuanya berlangsung dengan cepat. Akhirnya dia kehilangan kesadaran. Sudah dua orang. Tersisa satu orang lagi.
“Oi, kalian! Apa kalian benar-benar kalah dengan bocah sialan ini? Sialan!”
Tidak ada jawaban yang menghampirinya karena dua orang temannya sudah pingsan.
“Bocah sialan. Kau akan membayarnya! Sekarang!” katanya sambil menunjukku dengan tangannya. Dia yang tadi memegang kedua tangan Mizuno-san dengan kedua tangannya, sekarang melepas salah satu tangannya karena tangannya itu digunakan untuk menunjukku.
“Mizuno-san, sekarang!”
“Ha? Bocah, apa yang kau kata—”
Mizuno-san menarik tangannya dan kemudian menampar orang itu. Dia berlari ke arahku dan berdiri di belakangku. Dia terlihat gemetaran. Pasti dia sangat ketakukan.
“Aku senang karena kalian semua meremehkanku. Sekarang, mau apa? Mau berkelahi satu lawan satu lagi? Kalau kamu mau seperti itu, aku siap menjadi lawanmu. Ya, itu pun kalau kamu mau menjadi seperti kedua temanmu.”
“Bocah sialan!”
“Hei! Apa yang kalian lakukan di sana?” Aku mendengar suara seorang pria dari arah belakangku. Aku melihat ke belakang dan melihat ada seorang pak polisi yang sepertinya sedang berpatroli.
“Ah, polisi. Sial! Awas kau, bocah! Kau akan membayar semua perbuatanmu!”
Setelah mengatakan itu, dia lari sendirian dengan meninggalkan kedua temannya yang pingsan di jalan ini.
“Hei, kamu! Apa yang terjadi di sini? Kenapa kamu terluka? Kenapa ada dua orang pingsan di sini?”
“Ah, begini—”
“Biar saya yang menjelaskan,” kata Mizuno-san yang memotong perkataanku.
Mizuno-san kemudian menjelaskan semuanya kepada polisi tersebut, mulai dari kenapa bisa ada dua orang yang pingsan dan kenapa aku terluka.
Polisi ini kemudian mengatakan kalau dia sedang berpatroli untuk mencari preman yang meresahkan masyarakat Shibuya belakangan ini. Ternyata, dua orang yang pingsan ini adalah preman itu. Preman itu berjumlah tiga orang. Aku mengatakan kalau satu orang lagi kabur ketika polisi datang tadi.
Polisi ini kemudian menghubungi temannya untuk membawa dua preman ini. Aku dan Mizuno-san disuruh datang ke pos polisi untuk menceritakan lebih lanjut apa yang terjadi dan juga untuk mengobati wajahku yang terluka.
Setiba di pos polisi, aku dan Mizuno-san mengatakan semuanya dengan detail. Dia baru saja pulang dari merayakan keberhasilan Klub Bola Basket SMA Keiyou menjadi juara dan akan mewakili Tokyo di Turnamen Inter High di restoran yakiniku. Pantas saja dia masih mengenakan jaket klub. Dia pulang sendirian sehingga preman itu menjebaknya dengan meminta tolong padanya dan kemudian menyeretnya sampai akhirnya berada di gang tadi. Dia juga menceritakan bagaimana aku mencoba menolongnya dengan berkelahi dengan preman tadi.
Setelah itu, aku diberi nasihat seperti tidak menantang langsung preman seperti tadi dan Mizuno-san diberi nasihat untuk lebih berhati-hati dan hindari berpergian seorang diri di malam hari. Kami berdua hanya mengangguk. Aku kemudian diobati dengan dioleskan obat oles di wajahku yang memar karena terkena pukulan. Obat oles itu juga diberikan kepadaku agar aku bisa mengoleskannya lagi.
Kalau dipikir lagi, ini pertama kalinya aku berkelahi. Jujur saja, aku tadi sedikit takut jika preman itu lebih kuat daripadaku dan membawa senjata tajam. Nyawaku bisa terancam kalau seperti itu.
Sejak sampai di pos polisi, Mizuno-san sama sekali tidak mengatakan apa-apa kepadaku. Ketika kulihat ke arahnya untuk memastikan sesuatu, ternyata dia masih ketakukan. Itu terlihat dari tangannya yang masih bergetar.
Setelah aku selesai diobati, polisi di sini memberikan nomor teleponnya kepada kami berdua. Kami membungkuk dan mengucapkan terima kasih sebelum keluar dari tempat ini untuk pulang.
***
Sekarang, aku dan Mizuno-san sedang menuju Stasiun Shibuya. Polisi tadi menyuruhku mengantarnya agar tidak terjadi sesuatu pada Mizuno-san.
Di sepanjang jalan, kami berdua sama sekali tidak membicarakan apapun. Biasanya, dia pasti akan mengatakan sesuatu karena seperti itulah orangnya.
Ketika kulihat ke arahnya yang berjalan di sisi kiriku, dia menundukkan wajahnya. Sepertinya dia masih ketakutan atau mungkin tidak tenang. Mungkin aku bisa mengajaknya berbicara agar dia bisa tenang.
“Syukurlah kamu baik-baik saja, Mizuno-san. Kamu tidak perlu takut lagi karena polisi akan melakukan sesuatu kepada ketiga preman itu.”
“…” Mizuno-san hanya diam dan kemudian dia berhenti berjalan dengan wajah yang masih menghadap ke bawah.
Melihatnya berhenti, aku juga berhenti. “Mizuno-san?”
“APANYA YANG BAIK-BAIK SAJA!?” Mizuno-san menjawabnya dengan suara yang nyaring dan itu mengagetkanku. “Lihat dirimu! Kamu terluka seperti itu karena mencoba menolongku,” lanjutnya.
“Ini hanya luka kecil, kok. Lagian, luka di wajah ini bukan apa-apa jika dibandingkan dengan keselamatan dirimu.”
“Tapi… tapi, kenapa? Kenapa kamu muncul tiba-tiba dan menolongku? Bahkan kamu membahayakan dirimu. Bukankah kamu menghidariku? Di sekolah, kamu menghindariku seakan-akan kamu membenciku. Kemarin juga, kamu lari ketika aku ingin menanyakan tentang hal itu. Kenapa, Amamiya?”
“Eh… Hm…” Aku bingung mau memberikan jawaban apa kepadanya.
“Jawab aku!” Mizuno-san mengangkat wajahnya dan melihatku dengan ekspresi sedih dengan air mata yang perlahan jatuh di pipinya. Dia juga mendekat ke arahku.
Melihat wajahnya yang sedih itu membuatku terkejut dan juga bingung. Kenapa dia harus bersedih? Padahal dia baik-baik saja.
“Kenapa kamu terlihat sedih seperti itu?”
“Karena salahku, kamu terluka seperti itu.”
“Tidak, tidak. Ini bukan salahmu. Kamu tidak perlu merasa bersalah ataupun bertanggung jawab.”
“Kalau begitu, kenapa kamu menolongku? Kamu bisa menghindariku dengan lari dari tempat itu, seperti yang kamu lakukan di sekolah.”
“Tentu saja aku tidak bisa melakukan itu.”
Ya, benar. Jika aku tidak menolongnya, ibuku pasti akan kecewa dan marah kepadaku karena tidak menolong seorang gadis yang sedang dalam bahaya.
“Kenapa?”
“Kamu itu seorang gadis dan teman sekelasku. Tidak mungkin aku tidak menolongmu. Seorang laki-laki harus bisa menolong seorang perempuan yang sedang dalam bahaya. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu.”
“Lalu, kenapa kamu menghidanriku di sekolah? Hei, Amamiya! Kumohon… jawablah!” Suara Mizuno-san semakin merendah.
Sepertinya dia begitu khawatir kenapa aku menghindarinya di sekolah. Mungkin dia mulai berpikir kalau dia sudah melakukan suatu kesalahan yang membuatku membencinya. Padahal kenyataannya tidak seperti itu. Kalau begitu, lebih baik kuberi tahu alasan kenapa aku menghindarinya.
“Sebenarnya, sejak kamu menamparku waktu itu, aku jadi sedikit takut denganmu. Itu pertama kalinya ada seorang gadis yang menamparku. Aku menghindarimu hanya untuk mengambil waktu agar bisa menghadapimu lagi tanpa rasa takut.”
“Begitu, ya. Benar juga, ya. Aku sudah menamparmu waktu itu dan aku tidak meminta maaf atas perbuatanku itu. Jauh sebelumnya, ketika kamu baru masuk sekolah, aku juga sudah mengatakan hal-hal buruk padamu. Jadi, aku sudah melakukan hal yang buruk kepadamu.”
“Ah, tidak. Aku tidak mempermasalahkan lagi hal itu sejak kamu meminta maaf waktu itu. Lagian, kalau kamu tidak menamparku waktu itu, mungkin aku tidak akan sadar dan tidak akan tahu apa yang harus kulakukan. Berkat kamulah hubunganku dengan Fuyukawa-san tetaplah utuh.”
“Tapi tetap saja aku sudah menamparmu dan tidak meminta maaf. Jadi, aku minta maaf sekarang. Maaf sudah menamparmu waktu itu.”
“Ah, iya. Aku juga minta maaf karena sudah menghindarimu di sekolah.”
“Jadi, kumohon jangan menghindariku lagi sekarang! Aku ingin bisa menjadi temanmu, seperti Yukina dan lainnya.”
“Iya. Aku juga.”
“Mulai malam ini, semuanya dimulai dari awal lagi, ya?”
“Iya. Ayo lakukan seperti itu!”
“Terima kasih, Ryuki.” Mizuno-san mengatakan itu sambil tersenyum dengan lebar. Ini pertama kalinya aku melihat senyumnya yang murni dan manis seperti itu. Senyumannya itu seperti menandakan kalau rasa takut dan rasa bersalah yang ada pada dirinya sudah hilang tanpa bekas. Setelah itu, dia mengelap air matanya yang jatuh dengan lengan jaket olahraganya.
Tunggu sebentar. Apa barusan dia baru saja memanggilku dengan nama depanku? Atau hanya imajinasiku?
“Ya, sama-sama.” Aku juga membalas senyumannya dengan senyumanku.
“Ah…!”
“Ada apa? Apa ada yang aneh dengan wajahku?”
“Ti-Tidak ada.”
“Begitu, ya.” Entah kenapa beberapa orang menjadi terdiam atau tertegun ketika mereka melihatku tersenyum. Mungkin ada yang aneh dengan dengan senyumanku.
“Kalau begitu, ayo pulang, Ryuki!” seru Mizuno-san.
“Ya, ayo!”
Sudah kuduga, tadi itu bukan imajinasiku. Dia benar-benar memanggilku dengan nama depanku, yaitu Ryuki. Kenapa dia tiba-tiba memanggilku seperti itu? Biasanya, dia memanggilku dengan nama keluargaku, Amamiya, tanpa akhiran ‘-san’ ataupun ‘-kun.’ Dia sedikit aneh dalam arti yang baik.
Setelah beberapa menit berjalan, kami tiba di Stasiun Shibuya. Beberapa orang yang melihatku seperti terkejut karena mukaku yang penuh dengan luka memar. Mungkin mereka juga berpikir aku ini seorang berandalan, Tugasku untuk mengantarnya ke stasiun sudah selesai. Aku bisa pulang setelah dia masuk ke stasiun.
“Terima kasih sudah menolongku tadi dan juga sudah mengantarku ke sini.”
“Iya, sama-sama.”
“Etto…” Mizuno-san terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu.
“Hm? Ada apa?”
“Ah, um, tidak ada. Kalau begitu, sampai jumpa besok. Selamat tidur!”
“Begitu, ya. Ya, selamat tidur.”
Setelah melihatnya pergi, aku akhirnya bisa pulang dengan perasaan lega.
Sekitar 15 menit berjalan kaki, aku akhirnya tiba di apartemenku dan langsung masuk ke dalam kamarku. Tubuhku terasa sangat lelah. Untuk saat ini, hanya di bagian wajah saja yang terasa sakit, sedangkan di bagian lain tidak terasa sakit, seperti di lengan, badan, dan kaki.
Setelah mengunci pintu, aku segera menuju tempat tidur tanpa mengganti pakaian karena mataku sudah terasa berat. Aku langsung tertidur setelah berbaring di atas tempat tidur.
***
Akhirnya aku bangun dari tidurku yang masih terasa kurang walaupun aku sudah tertidur selama sekitar 10 jam. Ketika bangun tidur, seharusnya aku merasakan kesegaran karena sudah beristirahat. Namun, tidak untuk hari ini.
Karena kejadian tadi malam, aku bangun dengan rasa sakit di sekujur tubuhku, mulai dari lengan, kaki, dan badan. Sedangkan untuk wajahku, sudah tidak terasa begitu sakit. Rasanya aku tidak ingin keluar dari tempat tidur ini.
Kuambil ponsel yang ada di saku celanaku, lalu kulihat jam berapa sekarang. Sekarang sudah jam 9:30 pagi. Ah, ada pesan di LINE, dari Fuyukawa-san. Dia mengatakan terima kasih karena ucapan selamat yang kukirim tadi malam.
Cahaya matahari menembus masuk ke dalam kamarku melalui celah-celah gorden. Terasa sedikit menghangatkan. Namun, aku tidak bisa keluar dari tempat tidur ini. Tubuhku yang terasa sakit membuatku semakin nyaman berada di tempat tidur, merebahkan diri di atas kasur.
Tidak. Aku tidak selemah itu. Memang benar sekujur tubuhku sakit, tapi itu bukan berarti aku tidak bisa bergerak. Untuk sekarang, lebih baik aku mandi. Kupaksa tubuhku untuk bangkit dari tempat tidur ini dan segera menuju kamar mandi untuk mandi dengan air dingin. Dengan begitu, rasa sakitnya akan berkurang. Seharusnya seperti itu.
Selesai mandi, aku melihat wajahku yang penuh dengan luka memar di cermin. Sepertinya tidak terlalu buruk. Maksudku, luka memarnya tidak banyak. Hanya beberapa di bagian pipi. Mungkin obat oles yang diberikan polisi itu sangat efektif untuk luka memar. Karena aku sudah menerima obat itu, aku tidak perlu beli lagi.
Di bagian lain seperti lengan, badan, dan kaki, terdapat juga luka memar. Paling parah di badanku, terutama di bagian perut. Pukulan dan tendangan orang itu benar-benar kuat. Mungkin aku bisa bertahan karena hormon adrenalin yang ada dalam tubuhku. Benar juga. Oleh karena itu, rasa sakit itu datangnya sekarang.
Setelah mengecek kondisi badanku, aku segera memakai pakaian dan memasak sesuatu untuk kumakan agar penyembuhannya lebih cepat. Tidak lupa kuoleskan obat yang diberikan oleh polisi itu. Aku baru sadar kalau obat oles ini memberikan sensasi dingin di kulit. Aku heran kenapa tadi malam tidak merasakannya sama sekali.
Sekarang, kondisi tubuhku sudah menjadi lebih baik walaupun masih kurasakan sedikit rasa sakit. Nanti juga rasa sakitnya hilang.
Aku membuka gorden dan pintu menuju beranda kamar ini untuk membuat cahaya matahari masuk ke kamar ini. Angin yang masuk juga membuat kamar ini semakin nyaman. Sangat nyaman untuk beristirahat.
Aku berdiri di beranda sambil melihat keadaan sekitar. Tidak lama kemudian, pintu kamarku seperti diketuk oleh seseorang. Seingatku tidak ada orang yang mengatakan akan datang ke sini di hari Minggu.
Aku menuju pintu untuk membukanya.
“Selamat siang.”
“Ah!” Aku terkejut melihat orang yang berdiri di depan kamarku ini. Seorang gadis yang terlihat tomboi di sekolah memakai pakaian seperti layaknya seorang gadis. Dia mengenakan baju tanpa lengan berwarna biru dan rok dengan panjang sedikit di atas lutunya. Jujur saja, dia terlihat begitu manis. Pertama kalinya aku melihatnya memakai pakaian bebas seperti ini. Dia juga membawa sesuatu di tangan kanannya.
“Kenapa kamu diam?”
“Bukan apa-apa.”
“Boleh aku masuk?”
“Y-Ya, tentu saja.”
“Permisi!”
Pertanyaan besar muncul. Kenapa Mizuno-san datang ke kamarku? Selain itu, kenapa dia tahu alamatku?
Ketika masuk ke kamarku, dia melihat ke seluruh sudut ruangan. Hal yang sama dilakukan juga oleh orang yang pernah masuk ke sini, seperti Taniguchi-san, Shimizu-san, dan Nazuka-san.
Aku menyuruhnya duduk di ruang tengah dan membawa mugicha dingin untuk dia minum. Dia mengatakan terima kasih setelah itu.
“Jadi kamu tinggal di sini, ya, Ryuki?” Mizuno-san kembali memanggilku dengan nama depanku.
Hubungan kami tidak begitu dekat untuk bisa memanggil nama depan masing-masing. Hal itu membuatku penasaran. Apa dia sadar sudah memanggilku dengan nama depanku?
“Iya.”
“He… Kamarmu bersih, ya. Kukira kamarmu akan berantakan karena kamu tinggal sendiri di sini.”
“Terus, kenapa kamu bisa tahu alamatku?”
“Ah, itu dari Yukina.”
“Dari Fuyukawa-san, ya. Lalu, untuk apa kamu datang ke sini?”
“Aku ingin berterima kasih karena sudah menolongku kemarin malam. Aku membawa ini.” Dia meletakkan kantung plastik yang dibawanya di atas meja.
“Kamu tidak perlu repot-repot, Mizuno-san.”
“Sudahlah. Terima saja!”
“Ah, baiklah. Apa ini?”
“Buah.”
“Terima kasih.”
“Uwa…! Tanganmu memar juga, ya?”
“Iya.”
“Kukira wajahmu saja. Apa ada di bagian lain juga?”
“Ya, ada. Di badan.”
“Sudah kamu obati?”
“Sudah kuoleskan obat yang diberikan polisi di daerah yang bisa kujangkau. Untuk daerah punggung, masih belum karena tidak bisa kujangkau dengan tanganku.”
“Kalau begitu, biar aku yang melakukannya.”
“Eh? Apa maksudmu?”
“Maksudku, biar aku yang oleskan obat itu di punggungmu.”
“Oh… begitu, ya.”
“Ya. Kalau begitu, buka bajumu!”
“Eh! Eeeeeh…!”
“Cepat buka!”
“Tunggu sebentar. Aku tidak bisa melakukan itu.”
“Kenapa??
“Tentu saja karena aku malu.”
“Tidak perlu malu. Ini juga demi kesembuhanmu. Kalau dibiarkan, nanti semakin sakit sehingga kamu tidak bisa berbaring untuk tidur, lo!”
“Eh, serius? Aku tidak mau hal itu terjadi1”
“Jadi, cepat buka bajumu! Biar aku oleskan obatnya!”
Sepertinya tidak ada cara lain untuk mengoleskan obat itu di punggungku tanpa bantuan orang lain. Sebenarnya, aku bisa saja mengoleskannya sendiri. Namun, tanganku tidak bisa digerakkan dengan leluasa. Apa boleh buat. Lebih baik kuturuti perkataannya.
“Ya, baiklah! Biar kuambilkan obatnya dulu.”
“Baiklah!
Aku berdiri dan segera mencari obat oles itu. Kalau tidak salah, aku meletakkannya di kamar mandi karena aku mengoleskan obat itu selesai mandi sambil melihat luka memar yang ada di tubuhku di cermin. Aku menuju kamar mandi dan melihat obatnya berada di dekat cermin. Setelah mengambilnya, aku kembali ke ruang tengah.
“Sudah dapat obatnya?”
“Iya. Ini!” kataku sambil memberikan obat itu kepadanya.
“Duduklah!”
Aku duduk menghadap beranda yang pintunya sudah kubuka dari tadi dan Mizuno-san duduk tepat di belakang punggungku. Jarakku dengannya sangat dekat. Dia menyuruhku untuk membuka bajuku dan kulakukan apa yang dikatakannya.
Jantungku berdebar dengan kencang. Sepertinya aku merasa gugup. Ini pertama kalinya dalam hidupku dalam situasi seperti ini, di mana aku tidak memakai baju bersama dengan seorang gadis.
Mizuno-san mengoleskan obat itu tepat di bagian punggungku yang mengalami luka memar dengan tangannya.
“Akh!” Aku terkejut ketika tangannya menyentuh punggungku.
“Sakit, ya?”
“Ah, tidak. Silakan kamu lanjutkan!”
Tangannya terasa sangat lembut ketika menyentuh punggungku. Aku hanya bisa terdiam ketika dia masih mengoleskan obat itu di pungguku dan dia juga tidak mengatakan apa-apa.
Setelah beberapa saat ketika kupikir dia sudah selesai, dia membuka mulutnya. “Maafkan aku!” Dia juga meletakkan kedua tangannya di bahuku dan mendekatkan kepalanya di punggungku tepat di bawah leher. Aku dapat merasakan rambutnya menempel di pungguku. Rambutnya yang pendek itu terasa sangat halus.
“Eh?! Kenapa tiba-tiba kamu minta maaf?”
“Karena aku, kamu terluka seperti ini.”
Aku tidak bisa melihat bagaimana ekspresinya sekarang karena aku tidak berhadapan dengannya.
“Tidak apa-apa, kok. Setidaknya, kamu tidak tidak terluka dan tidak terjadi hal buruk.”
“Maafkan aku…”
“Um… aku tidak mau dengar permintaan maaf lagi.”
“Eh!?”
“Itu terdengar seperti kamu sudah melakukan suatu kesalahan. Lagian, ini semua bukan salahmu. Kamu tidak salah apa-apa. Jadi, aku ingin dengar kamu bilang ‘terima kasih’.”
“Terima kasih, Ryuki, karena sudah menolongku. Terima kasih.”
“Ya, sama-sama. Jika ada apa-apa, kamu bisa mengandalkan aku. Karena aku temanmu dan kamu temanku.”
“Iya.” Dia melepaskan tangannya yang memegang bahuku dan mejauhkan kepalanya dari punggungku.
“Ngomong-ngomong, sudah selesai? Aku ingin memakai bajuku lagi.”
“Iya, sudah.”
“Terima kasih.” Aku segera memakai bajuku kembali, lalu berbalik ke belakang.
“Sama-sama.”
Hari ini, aku melihat sisi lain dari Mizuno-san. Dia memang terlihat tomboi dengan rambutnya yang pendek dan tatapan matanya yang sedikit tajam. Namun, dia sangat perhatian dengan temannya. Dia juga terlihat manis dengan pakaian bebasnya.
Memang benar ketika aku masuk di kelas 2-D, dia mengatakanku orang aneh dan sebagainya. Menurutku dia mengatakan seperti itu agar teman-temannya tidak dekat dengan orang yang tidak jelas sepertiku. Dengan kata lain, dia ingin melindungi temannya, salah satunya Fuyukawa-san. Lagi pula, aku tiba-tiba muncul di sekolah waktu itu tanpa penjelasan apa pun. Aku tidak menyalahkannya karena dia tidak mengetahui apa-apa.
Semua hal yang pernah terjadi di antara kami berdua sudah kami anggap tidak pernah terjadi. Dengan kata lain, kami mengulang semuanya dari nol. Bisa dikatakan kalau kami baru saja berteman.
“Oh, ya, Ryuki. Aku belum punya nomor ponselmu. ID LINE-mu juga.”
“Ah, benar juga.”
“Ayo tukaran!”
“Sebentar! Kuambil ponselku dulu.”
“Baiklah.”
Aku mengambil ponselku yang kuletakkan di tempat tidur. Setelah itu, kami bertukaran nomor ponsel dan ID LINE. Hari ini, aku mendapat nomor ponsel baru dan akun LINE baru. Nomor ponsel dan ID LINE Mizuno-san sudah terdaftar di ponselku dengan nama Mizuno Atsuko-san [水野敦子さん].
“Terima kasih, Ryuki!” Dia memanggilku lagi dengan nama depanku.
“Ya, sama-sama. Ngomong-ngomong, kenapa kamu mamanggilku dengan ‘Ryuki’? Biasanya, kamu memanggilku dengan ‘Amamiya’. Kamu memanggilku seperti itu sejak tadi malam.”
“Ah! Benar juga. Aku sendiri tidak tahu kenapa tiba-tiba memanggilmu seperti itu. Hm… Mungkin karena aku ingin memanggilmu seperti itu. Apa tidak boleh?”
“Bukannya tidak boleh, sih. Rasanya aneh saja karena kita hubungan kita tidak begitu dekat untuk bisa memanggil dengan nama depan masing-masing.”
“Kalau begitu, kamu juga panggil aku dengan ‘Atsuko’.”
“Eh?! Aku tidak bisa!”
“Kenapa? Aku tidak keberatan, kok. Lagian, tidak adil kalau hanya aku memanggilmu dengan nama depanmu, sedangkan kamu tidak.”
“Baiklah. Aku akan memanggilmu dengan nama depanmu!”
“Kalau begitu, coba panggil aku dengan nama depanku!”
“Atsuko-san?”
“Hm?! Kenapa pakai ‘san’? Coba tanpa pakai ‘san’.”
“Atsuko?”
“…” Dia terkejut dan terdiam ketika aku memanggil namanya. Tidak hanya itu, wajahnya mulai memerah.
“Sudah kuduga. Pasti memalukan!”
“Tidak. Tidak memalukan, kok,” katanya dengan nada yang rendah.
“Memalukan. Kamu sampai terdiam dan mukamu memerah karena malu. Lebih baik aku tetap memanggilmu dengann nama keluargamu.”
“Bukan begitu. Itu pertama kalinya ada seorang laki-laki yang memanggilku dengan nama depanku. Aku hanya sedikit terkejut saja.”
“Serius?”
“Iya, serius. Coba sekali lagi! Tanpa ‘san’.”
“Atsuko.”
“Lagi!”
“Atsuko.”
“Lagi!”
“ATSUKO!?” kataku dengan nada yang sedikit tinggi. “Apa kamu mempermainkanku?” lanjutku.
“Ahaha. Tentu saja aku tidak mempermainkanmu. Um, ya, seperti itu boleh juga.”
“Tapi aku merasa tidak enak karena langsung memanggilmu seperti itu. Lebih baik kupakai ‘san’ saja.”
“Eh?! Aku memanggilmu dengan ‘Ryuki’ dan kamu memanggilku dengan ‘Atsuko-san’?”
“Begitu lebih baik, menurutku.”
“Tidak. Itu tidak adil. Kamu harus memanggilku dengan ‘Atsuko’ juga!”
“Tapi aku tidak terbiasa memanggil nama orang tanpa akhiran ‘san’ atau ‘kun’.”
“Kamu memanggil Hiroaki-kun dengan ‘Taka,’ kan? Itu kamu bisa memanggilnya seperti itu tanpa akhiran ‘san’ atau ‘kun’.”
Entah kenapa, hanya aku yang dia panggil tanpa akhiran ‘san’ atau ‘kun.’
“Itu karena dia yang memintaku seperti itu.”
“Kalau begitu, aku juga memintamu untuk memanggilku dengan nama depanku tanpa akhiran ‘san’.”
Rasanya aku terus dipaksa untuk mengikuti keinginannya. Padahal dia sendiri malu jika dipanggil dengan nama depannya. Tetap saja aku susah untuk mengikuti keinginannya itu karena sangat berbeda dengan kebiasaanku dalam memanggil nama orang. Yang tadi itu, aku memanggilnya dengan nama depannya untuk mencoba saja. Ternyata, aku memang tidak bisa langsung memanggil nama orang dengan nama depannya langsung dan tanpa akhiran.
Sepertinya pembicaraan ini tidak akan selesai jika aku tidak memanggilnya dengan nama depannya. Lebih baik kuikuti saja perkataannya agar pembicaraan ini selesai.
“Baiklah, baiklah. Aku akan memanggilmu dengan nama depanmu.”
“Benarkah?”
“Tapi aku tetap memakai akhiran.”
“Eh?! Bukannya aku bilang tanpa akhiran?”
“Dengar dulu. Berikan aku waktu untuk bisa memanggil namamu tanpa akhiran.”
“Baiklah.”
Akhirnya dia setuju dengan ide itu.
Hari ini, aku juga melihat sisi lain dirinya. Ternyata dia punya sifat yang keras kepala. Meskipun begitu, aku tidak membencinya. Dia orang yang menarik, menurutku.
“Kalau begitu, aku pulang dulu.”
“Ah, ya.” Aku mengantarnya sampai ke pintu.
“Semoga cepat sembuh! Buahnya jangan lupa dimakan, ya.”
“Terima kasih. Tenang saja, akan kumakan semua, kok.”
“Kalau begitu, sampai jumpa lagi besok di sekolah, Ryuki!”
“Hati-hati di jalan, Mizu— Atsuko-san!” Aku hampir salah.
“Ya.”
Ketika aku kembali ke kamar dan melihat jam di ponselku, sekarang sudah jam 12 siang. Aku sama sekali tidak sadar kalau sekarang sudah masuk waktu makan siang. Oleh karena itu, aku bersiap untuk memasak setelah buah yang dibawa oleh Atsuko-san kumasukkan ke dalam kulkas.
Waktu yang tersisa di hari ini akan kugunakan untuk beristirahat. Tidak ada belanja atau belajar. Untuk sekarang, aku harus memfokuskan tubuhku untuk pulih dari luka memar ini. Semoga rasa sakitnya akan hilang ketika aku bangun di pagi hari berikutnya.