
Makan siang di kantin bersama teman memanglah menyenangkan, bahkan bisa membuat makanan yang kita makan terasa lebih enak.
Beberapa hari yang lalu kantin selalu terisi penuh dengan murid-murid yang makan siang di sini. Tapi, hari ini berbeda. Kantin tidak terlalu penuh. Ah, aku tahu. Karena sekarang cuacanya cerah, banyak murid yang membawa bento memilih untuk makan siang di luar.
Cuaca yang cerah di musim semi memang sangat nikmat berada di luar ruangan daripada di dalam ruangan.
Sebentar lagi pohon sakura akan menggugurkan bunganya, menandakan waktu mekarnya sudah berakhir, lalu musim semi juga akan berakhir. Kita tetap bisa bertemu dengan bunga sakura yang indah itu saat musim semi selanjutnya.
Oh iya, setiap pergi sekolah, aku bisa melihat pemandangan pohon sakura yang tumbuh di sekitar sungai, yang searah dengan jalan menuju sekolah. Suasana di sungai itu cukup menyejukkan mata dan hati.
Loh, kenapa aku membicarakan tentang bunga sakura?
Ah… mungkin, karena aku melihat seorang gadis yang bernama Sakura di dekatku. Gadis itu bernama Namikawa Sakura-san. Ini pertama kalinya aku bertemu dengannya di kantin. Dia menyadari kehadiranku di dekatnya menyapaku dengan suara lembutnya itu.
“Selamat siang, Amamiya-kun. Hiroaki-kun juga.”
“Halo.” Hiroaki menjawabnya sambil menundukkan sedikit kepalanya.
“Ah, Sakura.”
“…”
“…”
Hiroaki dan Namikawa-san terdiam. Hiroaki memasang ekspresi kaget, sama halnya dengan Namikawa-san. Aku tidak mengerti kenapa mereka seperti itu. Ada apa dengan “sakura” yang kukatakan tadi?
Ah, aku ingat. Nama belakang Namikawa-san adalah Sakura. Aku tidak bermaksud memanggilnya dengan nama belakangnya.
“Ah, halo Namikawa-san. Tadi aku melamun. Oh iya, pertama kalinya kita ketemu di kantin. Sendirian saja?”
“…Tidak, ada Chi-chan juga.” Namikawa-san menjawabnya sambil mengarahkan pandangannya ke tempat antrean.
Kayano-san sedang membawa nampan berisi pesanannya.
“Oh iya, ada Kayano-san di sana.”
“Memangnya kamu mikirin apa, Amamiya-kun?
“Itu, bunga sakura sebentar lagi kan gugur. Jadi, aku ingin lihat bunga sakura sebelum gugur.
“Oh, begitu ya...”
“Um. Ngomong-ngomong, sudah ada tempat untuk makan? Kalau belum, di sini saja.”
“Makasih, Amamiya-kun.”
Namikawa-san meletakkan nampannya di meja kami dan duduk di sebelah kiriku. Meja ini terdiri dari empat kursi, dua kursi sudah diduduki olehku dan Hiroaki, sedangkan dua lagi masih kosong. Namikawa-san memanggil Kayano-san sambil mengangkat tangan kanannya, “Chiaki, di sini.”
Kayano-san yang melihat Namikawa-san segera menuju ke tempat kami ini dan duduk di sebelah Hiroaki. Kayano-san mengatakan “selamat siang” kepadaku dan Hiroaki.
Hiroaki hanya bisa diam melihatku berbicara dengan santainya dengan Namikawa-san. Beneran deh, apanya yang hebat bisa berteman dengan Namikawa-san? Perkataannya tadi sangat membuatku penasaran dengan siapa sebenarnya Namikawa-san ini.
Aku dan Hiroaki yang duluan selesai makan sekarang hanya melihat-lihat keadaan di dalam kantin. Hiroaki terlihat seperti ingin menanyakan sesuatu padaku, tapi sepertinya tidak bisa. Mungkin, karena ada Namikawa-san dan Kayano-san.
Setelah mereka berdua selesai makan, aku bertanya ke Namikawa-san.
“Namikawa-san, nanti seusai sekolah kamu masih mengatur buku di perpustakaan?”
“Um, masih.”
“Kalau begitu, nanti aku bantu, ya…”
“Beneran?”
“Um, tentu saja. Kemarin sudah kukatakan kan... Lagian aku tidak ada kegiatan lain. Ah, mungkin bisa dapat buku untuk kupinjam lagi.”
“Makasih, Amamiya-kun. Kalau begitu, aku tunggu di perpustakaan setelah sekolah.”
“Baiklah.”
Namikawa-san tersenyum dan ekspresi wajahnya tampak senang. Senyuman di bibirnya yang tipis itu sangat indah, membuat raut wajahnya semakin cantik. Aku pun ikut tersenyum.
Kayano-san dan Hiroaki sepertinya penasaran. Pasti ada yang ingin mereka tanyakan. Kayano-san membuka mulutnya.
“Hey Sakura-chan, sepertinya hubunganmu dengan Amamiya-kun semakin dekat.”
“Eh, ngga kok.”
“Tidak mungkin hubungan seseorang bisa dekat secepat itu.” Aku menambahkan.
“Aku pikir begitu juga. Hm… apa gosip itu memang benar, Amamiya?”
“Gosip apa?” Kayano-san terlihat semakin penasaran.
“Gosip kalau Amamiya berpacaran dengan Namikawa.”
“Sudah kubilang, kami tidak berpacaran.”
“Da-dari mana datangnya gosip itu? Tentu saja kami tidak berpacaran.”
“Eh… ternyata ada gosip seperti itu, ya?” Kayano-san menyeringai, lalu tertawa kecil.
“Kenapa kamu tertawa? Etto, Kayano?” Hiroaki sepertinya tidak mengenal Kayano-san.
“Iya, aku Kayano Chiaki. Kamu Hiroaki Takahiro-kun, kan? Lucu saja. Ternyata ada orang yang nyebarin gosip seperti itu.”
Seperti yang diharapkan dari si ikemen Hiroaki. Sepertinya semua murid mengenalnya.
Hiroaki yang penasaran semakin ingin bertanya lebih lanjut.
“Kenapa juga lucu? Itu kan bukan lelucon.”
“Begini… Sakura punya seseorang yang disukainya.”
“Eh, beneran?” Hiroaki semakin semangat.
“Bukan seperti itu. Sebenarnya, seorang yang kukagumi saja.”
“Hoo… orangnya seperti apa?”
“Hiroaki, sepertinya kamu sangat penasaran, ya...”
“Amamiya, kamu sendiri sebenarnya penasaran, kan?”
“Ah, um, ya, sedikit.”
“Hora… kamu juga penasaran. Jadi, ceritakan ke kami dong, Namikawa.” Hiroaki membujuk Namikawa-san untuk menceritakan kepada kami dengan ekspresi penuh rasa penasaran.
Kayano-san terlihat seperti ingin menghentikan pembicaraan ini, namun Namikawa-san menjawabnya dengan nada yang pelan.
“Sebenarnya, aku ngga kenal dengannya. Tapi, aku sangat mengaguminya karena dia sampai mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan orang lain.” Namikawa-san menceritakannya dengan wajah mengahadap ke bawah.
Hiroaki yang mendengar itu langsung menggaruk-garuk kepalanya, seperti sedang berpikir, mengingat kembali, dan mengaitkannya dengan sesuatu.
“Hey Amamiya, bukannya orang yang dikatakan Namikawa itu mirip denganmu?”
“Orang yang seperti itu tentu saja bukan aku.
“Tapi, kamu juga seperti itu, kan? Menolong orang yang hampir tertabrak mobil, tapi kamu menjadi korbannya, kan? Kamu memang orang yang luar biasa, Amaryu.”
“Oi, Hiroaki.” Aku sedikit menaikkan suaraku saat Hiroaki mengungkit kejadian itu.
“Ah, maaf. Keceplosan.”
Hiroaki baru saja mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak boleh dikatakan oleh dirinya. Apa boleh buat, lagi pula nanti lama-kelamaan akan ketahuan juga.
Namikawa-san dan Kayano-san tersentak, sepertinya kaget saat mendengar perkataan Hiroaki tadi. Namikawa-san yang penasaran dengan apa yang terjadi menoleh ke arahku, lalu bertanya.
“Amamiya-kun, apa benar yang dikatakan Hiroaki-kun?”
“Um, ya. Aku belum menceritakannya pada dirimu dan Kayano-san.” Aku menarik napas terlebih dahulu, lalu kulanjutkan, “Tahun lalu saat di hari pertama sekolah, aku tertabrak saat menolong seorang gadis yang hampir tertabrak. Oleh karena itu, aku tidak bisa bersekolah di sini tahun lalu dan pihak sekolah memindahkanku ke SMA di Nagano, dekat kampung halamanku. Karena aku sudah sembuh, aku kembali pindahkan ke sini. Seperti itulah singkatnya.”
Namikawa-san dan Kayano-san terdiam. Mereka pasti terkejut karena mendengar cerita pengalamanku yang terbilang tragis ini.
“Amamiya, sekarang kamu pasti punya hati yang kuat dan sifat lebih dewasa.”
“Ah, tidak juga. Kamu berlebihan, Hiroaki.”
Walaupun dengan kejadian itu semua, aku masih seorang remaja. Sifatku masih layaknya seorang remaja. Mungkin, hanya sifatku dalam menyikapi masalah saja yang mungkin sedikit lebih dewasa karena pengalaman dari hidupku. Seseorang pernah mengatakan seperti ini, “Otoko wa itsu demo shounen da.” Intinya, aku masih seorang remaja, atau mungkin masih seorang anak-anak.
“Jadi, dari awal kamu memang murid Keiyou-kou, Amamiya-kun?”
“Iya, Kayano-san.”
“Ah, pantas saja kamu bilang ‘banyak hal yang terjadi’ saat di kafe.”
“Mm, iya, Namikawa-san. Maaf tidak bisa mengatakan yang sebenarnya saat itu.”
“Uum, ngga apa-apa, kok.”
Tidak lama kemudian, bel tanda waktu istirahat berakhir berbunyi.
Kami meninggalkan kantin menuju kelas masing-masing tanpa mengatakan apa pun lagi, hanya kata “sampai jumpa” yang terucap di akhir percakapan tadi.
Istirahat makan siang hari ini kugunakan untuk makan dan berbicara dengan orang yang sudah kuanggap teman, Hiroaki, Namikawa-san, dan Kayano-san. Pertama kalinya aku makan siang dan berbicara dengan tiga orang. Walaupun sekilas tempat makan kami menjadi pusat perhatian di kantin tadi. Mulai saat ini, semoga aku bisa terus berteman baik dengan mereka.
***
Bel tanda pulang berbunyi. Hari yang panjang belajar di sekolah akhirnya selesai. Saatnya menikmati waktu sepulang sekolah.
Murid-murid kelas 2-D mulai meninggalkan kelas untuk melakukan kegiatan klub yang mereka ikut. Juga ada beberapa murid yang tinggal di dalam kelas untuk melakukan piket.
Fuyukawa-san keluar untuk mengikuti aktivitas klub bola basketnya, sedangkan aku akan menuju perpustakaan. Karena tidak ingin mengganggu murid yang piket, lebih baik aku keluar sekarang. Aku berniat untuk membantu Namikawa-san mengatur buku di sana. Tidak lupa kuambil tas, lalu keluar dari pintu belakang.
Seperti biasa, perspustakaan di waktu pulang sekolah terisi banyak murid di dalamnya. Sepertinya, kebanyakan dari mereka adalah murid kelas tiga. Pasti mereka mempersiapkan diri untuk ujian masuk Universitas dengan belajar di sini. Semangat, Senpai semua.
Di balik konter perpustakaan terlihat Namikawa-san sedang mengangkat kardus yang sepertinya berisi buku. Ah, sepertinya berat. kuhampiri dirinya untuk membantu.
“Halo, Namikawa-san.”
“Ah, halo, Amamiya-kun.”
“Sepertinya berat, ya… biar kuangkat.”
“Um, makasih...”
“Dibawa ke mana kardus buku ini?”
“Ke bagian rak pengetahuan umum.”
“Baiklah.”
Aku pergi ke bagian rak seperti yang dikatakan Namikawa-san sambil membawa kardus buku ini. Ternyata lumayan berat.
Bagian rak Ilmu Pengetahuan Umum terletak dekat dengan study corner dan di sebelahnya ada rak Ilmu Pengetahuan Alam. Pasti untuk memudahkan murid yang sedang belajar untuk mencari referensi. Kuletakkan kardus ini di lantai dan membukanya. Buku-buku ini terdiri dari buku Geografi, Sejarah, Politik, dan Ekonomi.
Rak buku di perpustakaan ini ukurannya besar dan tinggi. Untuk orang sepertiku bisa menjangkau bagian paling atas rak, tapi tidak dengan Namikawa-san. Membantunya melakukan pekerjaan ini merupakan hal yang tepat. Kuletakkan semua buku ini di rak seperti yang dikatakan oleh Namikawa-san.
Setelah selesai, aku kembali ke tempat Namikawa-san dan menyerahkan kardus yang telah kosong ini.
Ternyata kardus bukunya masih ada. Kalau yang meletakkan buku-buku ini hanya kami berdua, maka tetap saja memakan waktu yang lumayan lama. Namikawa-san mengatakan padaku untuk mengangkat semua kardus ini ke rak Ilmu Pengetahuan Alam, Matematika, Kesenian, Bahasa Asing, dan Bahasa Jepang. Kalau begini mungkin akan lebih cepat selesai. Namikawa-san bisa langsung meletakkan dan menyusun buku-buku itu tanpa harus mengangkat kardus yang berat ini. Kuturuti perkataanya dan mengangkat semua kardus itu ke setiap rak yang dikatakannya. Setelah itu, kami mulai meletakkan buku-buku itu.
Aku tidak menemukan kesulitan apa-apa dalam meletakkan buku-buku ini. Ya, memang hanya meletakkan buku di rak, tapi buku-buku itu harus diletakkan di tempat yang sesuai dengan tema buku itu.
Dari tadi kulihat hanya Namikawa-san saja yang meletakkan dan mengatur buku-buku ini. Apa tidak ada orang lain? Sungguh aneh kalau pekerjaan seperti ini dilakukan oleh satu orang.
Setelah selesai di satu rak, aku beranjak ke rak berikutnya sambil membawa kardus kosong ini.
“Amamiya-kun, ke sini.” Namikawa-san tiba-tiba memanggilku dengan suara yang pelan.
Aku pergi ke tempatnya dan melihat masih ada beberapa buku yang belum diletakkan.
“Bisa letakkan buku ini ke bagian atas rak? Aku ngga sampai.”
“Serahkan saja padaku.”
“Makasih…”
Kuambil buku-buku itu dan kuletakkan ke bagian atas rak. Namikawa-san masih berdiri di dekatku. Melihatku meletakkan buku-buku ini.
“Oh ya Namikawa-san, apa cuma kamu yang melakukan pekerjaan ini? Aku tidak melihat pustakawan lain yang membantumu meletakkan buku-buku ini.”
“Ah, mereka sudah melakukannya tadi saat waktu istirahat makan siang. Lagian, jadi pustakawan itu hal yang sukarela.”
“Oh begitu, ya… Pasti mereka orang yang suka sekali dengan buku.”
“Benar sekali.”
Setelah selesai di rak ini, kami beranjak ke rak lainnya. Satu per satu rak hingga seluruh buku telah diletakkan di rak. Tidak kusangka pekerjaannya lebih cepat selesai.
Kami membawa kardus-kardus tadi ke ruang pustakawan yang terletak di belakang konter perpustakaan.
Akhirnya pekerjaannya selesai.
“Otusakaresama, Amamiya-kun. Ini, ambillah.” Namikawa-san memberiku sebotol teh.
“Ah, terima kasih, Namikawa-san.” Kuambil teh itu dan kuminum.
Kami berdua duduk di konter perpustakaan agar tidak mengganggu orang yang lain yang sedang membaca dan belajar di sini. Namikawa-san membuka buku dan mulai membaca, sedangkan aku masih menikmati teh pemberian Namikawa-san ini.
Suasana perpustakaan yang sunyi terasa seperti tidak ada seorangpun di sini, padahal sangat banyak orang di dalamnya. Saking sunyinya, aku bisa mendengar suara jarum jam yang bergerak. Aku beranjak dari tempat dudukku untuk membuang botol teh ini. Letak tong sampah di ujung lorong dekat perpustkaan, jadi aku harus keluar. Sebenarnya tidak diperbolehkan makan atau minum di perpustakaan, tapi aku malah minum di dalamnya. Maafkan aku, para pustakawan.
Setelah membuang botol teh ini, aku kembali ke perpustakaan untuk melihat-lihat buku. Membaca sudah menjadi salah satu hobiku sejak keluar dari rumah sakit. Sebelumnya, aku tidak terlalu gemar membaca.
Aku pergi ke rak berisi buku-buku fiksi. Tentu saja aku mencari novel. Kulihat seorang gadis sedang mencari buku di bagian bawah rak. Sepertinya aku kenal gadis ini. Aku bergerak ke arahnya hingga berjarak satu meter. Gadis ini Kayano-san, temannya Namikawa-san. Aku hendak menyapanya, tapi dia yang menyadari ada orang di dekatnya langsung memalingkan pandangannya ke arahku. “Oh, Amamiya-kun. Otsukare.” Dia tahu kalau aku baru saja selesai membantu pekerjaan Namikawa-san.
“Sedang cari buku lagi?”
“Iya, untuk minggu ini aku belum dapat bahan bacaan yang baru.” Kayano-san kembali memalingkan padangannya ke arah rak.
“Hm, begitu ya...” Kualihkan pandanganku juga ke arah rak sambil melihat-lihat buku.
“Ngomong-ngomong Amamiya-kun, kamu suka baca buku, ya?”
“Um, ya. Saat keluar dari rumah sakit karena kecelakaan itu, aku mulai suka membaca buku karena cuma itu yang bisa kulakukan. Kayano-san sendiri bagaimana?”
“Sejak kecil aku sudah hobi baca buku. Kalau tidak ada buku bacaan, rasanya ada yang kurang, dan terganggu.”
“Ahaha… Seperti kutu buku saja.”
“Um, iya, banyak yang bilang begitu. Hehe…”
“Begitu ya… Terus, Kayano-san suka buku yang seperti apa?”
“Aku suka buku fiksi, seperti komik dan novel. Genrenya, hm… romantis, misteri, dan horor.”
“Horor? Entah kenapa itu genre yang pasti tidak akan pernah kusentuh.”
“Eh, kenapa?”
“Sangat tidak suka. Tanpa alasan yang jelas. Haha…” Aku tertawa kecil.
“Apa-apaan itu? Haha…” Kayano-san pun ikut tertawa, “kalau Amamiya-kun suka yang bagaimana?” tambahnya.
“Aku suka genre romantis dan misteri untuk novel. Kalau komik lebih suka yang genre shounen.”
“Oh, begitu. Aku juga suka komik shounen. Bahkan aku koleksi lho…”
“Eh, hebat…”
“Kalau Amamiya-kun mau baca, bisa kupinjamkan, kok.”
“Eh, serius?”
“Um.”
“Terima kasih. Kalau begitu, nanti saja ya.”
“Oke. Bilang saja nanti kalau perlu bahan bacaan. Kukasih rekomendasinya deh.”
“Terima kasih, Kayano-san.”
“Sama-sama. Kalau begitu, aku ke sana dulu.”
“Baiklah.”
Kayano-san sepertinya sudah mendapatkan buku yang akan dibacanya, sedangkan aku belum. Dia menuju ke tempat baca sekarang. kulihat-lihat lagi buku-buku yang ada di rak ini hingga akhirnya kutemukan buku yang menarik perhatianku. Masih ada waktu sebelum perpustakaan dan sekolah ditutup, jadi kuputuskan untuk membaca buku ini di perpustkaan.
Buku bisa menjadi salah satu cara untuk melepaskan diri dari rasa bosan yang datang. Di apartemen tempatku tinggal sekarang tidak ada televisi, jadi aku harus mencari sesuatu yang dapat mengusir rasa bosan. Tentu saja, sesuatu itu adalah buku.
Suasana perpustakaan yang sunyi membuat kesadaranku tenggelam ke dalam dunia sastra. Kubalik satu per satu halaman novel ini yang membuatku semakin tenggelam ke dalamnya hingga tidak memedulikan apapun di sekitar diriku.
Kesadaranku kembali saat punggungku terasa pegal. Kupijat punggungku dan kuperbaiki posisi dudukku. Saat kualihkan pandangannku dari buku ke arah jam dinding, ternyata sekarang sudah pukul 5:45 sore. 15 menit lagi perpustakaan dan sekolah ditutup. Aku beranjak ke konter untuk mengisi administrasi peminjaman buku. kebetulan Namikawa-san juga masih di sini. Setelah itu, aku mengatakan selamat tinggal ke Namikawa-san dan Kayano-san, lalu kembali ke kelasku di lantai dua.
Saat memasukkan buku yang kupinjam tadi ke dalam tas, terlihat sesuatu yang janggal. Aku melupakan buku catatan yang sepertinya kuletakkan di laci meja saat jam pelajaran terakhir tadi. Oleh karena itu, aku harus kembali ke kelas terlebih dahulu untuk mengambilnya.
***
Cahaya matahari yang kemerahan menembus kaca jendela kelas 2-D. Tadinya kupikir tidak ada seorang pun di kelas ini karena sekolah sudah hampir ditutup, tapi ada seorang gadis yang kukenal sedang berdiri di dekat jendela bagian depan kelas. Dia adalah Fuyukawa-san. Dia tidak mengenakan pakaian olahraga. Kupikir dia ada latihan basket hari ini, tapi sepertinya aku salah. Ah, mungkin dia baru saja membersihkan kelas karena jadwal piketnya di hari Jumat. Pantas saja sekarang kelas terasa lebih bersih.
Fuyukawa-san sedang melihat ke luar jendela, seperti memandangi sesuatu yang letaknya sangat jauh.
Di situasi seperti ini, apa yang harus kulakukan? Mm… lebih baik kucoba untuk menyapa dirinya. Lagi pula sekolah akan ditutup, sekalian saja memberitahunya. “Fuyukawa-san… sedang apa? Sekolah akan ditutup.” Aku sedikit gugup saat menyapanya karena tidak ada orang lain di sini, hanya kami berdua.
Fuyukawa-san sedikit terkejut saat dia tahu kalau ada aku di kelas. Pandangannya sekarang mengarah ke arahku.
“Ah… Amamiya-kun, ya? Tidak, hanya memikirkan sesuatu. Wah sudah hampir pukul enam. Harus segera pulang.” Fuyukawa-san menuju ke mejanya, di mana tasnya diletakkan.
Fuyukawa-san memang terlihat sedang memikirkan sesuatu yang membuatnya murung seperti tadi siang.
Entah kenapa, aku tidak ingin dia membuat ekspresi seperti itu. Sama sekali tidak cocok dengan sifatnya yang periang itu. Seperti menjadi orang lain.
Apa dia memiliki suatu masalah yang tidak bisa diceritakan kepada temannya?
Mungkin dia memerlukan waktu untuk memikirkannya. Dengan demikian, masalah yang ada pada dirinya bisa diselesaikan.
Aku menuju ke mejaku untuk mengambil buku catatan yang tinggal, lalu berjalan ke arah pintu meninggalkan Fuyukawa-san sambil berkata, “Kalau begitu, aku pulang duluan. Sampai jumpa besok.”
Tiba-tiba, Fuyukawa-san memanggil namaku. “Amamiya-kun.”
Aku yang hendak pergi meninggalkan kelas menjadi berhenti karena Fuyukawa-san memanggil namaku. Aku pun menoleh ke arahnya. Dia berdiri menghadapku dengan pandagannya ke bawah. Aku tidak tahu ekspresi apa yang sedang terpasang di wajahnya yang cantik itu. Saat pandangan seseorang mengarah ke bawah, bukan ke wajah lawan bicaranya, maka bisa dikatakan kalau dia sedang gugup. Mungkin ada sesuatu yang ingin dikatakannya kepadaku.
“Iya? Ada apa, Fuyukawa-san?”
“Amamiya…-kun… Begini…”
“Ya?”
Kata yang dikeluarkan dari mulutnya itu terputus-putus. Aku hanya bisa menunggu apa yang sebenarnya ingin dikatakannya.
“…maukah kamu… menjadi… temanku?”
Apa yang keluar dari mulutnya itu mengejutkanku. Dari awal, memang aku tidak menganggapnya sebagai teman, hanya sekedar kenalan dan rekan perwakilan kelas. Tapi, apa yang telah dikatakannya tadi membuatku berpikir kembali. Sejak hari pertama bertemu dengannya, mungkin aku telah berpikir agar bisa berteman dengan orang seperti dirinya. Sejak tahu kalau dirinya murid populer di sekolah ini saat pertama kali makan siang bersamanya, kuurungkan niatku itu.
Beberapa kali kucoba untuk membatasi diriku dengan dirinya, namun itu tidak bisa. Dia terus datang dan mencoba untuk masuk ke duniaku.
“Sebenarnya sejak awal bertemu denganmu di loker sepatu, saat kamu menyapaku saat itu, mungkin aku telah berpikir untuk bisa berteman dengan orang sepertimu. Tapi, entah kenapa aku tidak bisa. Orang-orang di sekitarmu seperti membuat dinding agar aku tidak dapat masuk untuk berbaur denganmu. Walaupun itu mungkin hanya sekedar imajinasiku semata. Kamu juga orang yang populer kan, Fuyukawa-san? Aku takut merusak reputasimu karena berteman denganku. Jadi begini, aku sebenarnya ingin berteman denganmu, tapi aku tidak bisa.” Entah apa yang kukatakan, aku sendiri tidak paham.
“Amamiya-kun, jawab pertanyaanku. Aku ngga ingin alasan. Berikan aku jawabannya.” Fuyukawa-san mengalihkan tatapannya ke wajahku. Wajahnya sangat serius, tetapi seperti sedih.
“Baiklah.” Kutarik napas dan menghembuskannya. Lalu kujawab, “Aku ingin kamu, Fuyukawa-san, menjadi temanku.”
“Aku juga ingin berteman denganmu, Amamiya-kun. Aku tidak peduli apa yang orang lain katakan. Aku ingin …………”
Suaranya mengecil, membuatku tidak mendengar apa yang dikatakannya di akhir tadi.
Apa yang harus kulakukan sekarang?
Kami berdua sudah mengatakan keingingan kami masing-masing, yaitu berteman. Apa harus diakhiri di keadaan seperti ini? Aku tidak tahu.
Kami berdua terdiam hingga terdengar suara bel yang memecah kesunyian. Sekolah akan ditutup. Sudah waktunya untuk pulang.
“Fuyukawa-san, ayo kita pulang.”
“Ah, iya.”
Kami berdua keluar dari kelas, menuruni tangga dan menuju ke gerbang sekolah. Terlihat banyak murid yang sudah mulai meninggalkan sekolah, khususnya murid yang berasal dari klub olahraga.
Aku berhenti saat tiba di depan gerbang sekolah. Aku tidak tahu ke arah mana jalan pulang Fuyukawa-san. Begitu juga Fuyukawa-san yang tidak tahu ke mana arahku pulang. Kami dari tadi tidak berbicara sepatah kata pun. Kucoba untuk bertanya ke mana arah pulangnya.
“Fuyukawa-san, kamu pulang ke arah mana?”
“Ke arah Hachiyamacho. Kalau kamu, Amamiya-kun?”
“Kalau aku, Daikan’yamacho.”
“Wah, ternyata kita tetanggaan.”
Senyuman mulai kembali menghiasi raut wajah Fuyukawa-san. Senyuman itu seperti membawa perasaan nyaman, hal yang sama saat berbicara dengan Fuyukawa-san yang biasanya, Fuyukawa-san yang periang dan ceria.
“Benar kah? Aku belum terlalu tahu.”
“Iya. Ah, itu wajar karena kamu baru saja pindah ke sini, Amamiya-kun.”
“Benar juga.”
“Kalau begitu, ayo pulang bareng.”
“Eh? nanti kalau ada yang lihat, bisa jadi gosip yang tidak baik.”
“Ngga, kok. Tenang saja, Amamiya-kun. Yuk, kita pulang.”
“Ah, um, baiklah. Ayo.”
Kami pun pulang bersama karena arah pulang yang searah.
Di perjalanan pulang, aku hanya diam, begitu juga dengan Fuyukawa-san yang berjalan di sampingku. Padahal tadi kami berbicara saat di gerbang, tetapi sekarang menjadi diam lagi. Mungkin, karena apa yang terjadi di kelas tadi, membuat kami canggung.
Kami tiba di tempat favoritku, berjalan di trotoar di samping sungai yang berhiaskan deretan pohon sakura. Bunga-bunga sakura di ranting pohon terlihat semakin berkurang. Sebentar lagi bunga sakura akan gugur dan musim panas akan segera datang.
Kukeluarkan semua keberanianku untuk menghilangkan kecanggungan ini dengan mengajaknya bicara.
“Tidak terasa kalau bunga sakura sebentar lagi akan gugur, ya...”
“Iya. Meskipun begitu, kita akan tetap bisa melihatnya lagi di musim semi selanjutnya.” Fuyukawa-san menjawabnya dengan nada yang pelan.
“Sejak aku pindah ke sini dari Nagano, di sepanjang sungai yang berhiaskan pohon sakura ini menjadi tempat favoritku.” Aku berhenti, lalu memegang pagar besi pembatas trotoar dengan sungai.
“Oh, begitu ya. Memang sih pemandangan di sini indah, dan juga searah dengan arah sekolah. Bisa lihat setiap hari.” Fuyukawa-san berdiri di dekatku, lalu memegang pagar pembatas juga.
“Iya, kan? Walaupun saat ini hanya berdiri di sini, tapi bagiku terasa seperti melakukan hanami bersama Fuyukawa-san.” Pandanganku tertuju ke arah bunga sakura di bagian paling atas pohon.
“…” Fuyukawa-san terdiam.
Kulihat ke arahnya yang sedang melihat ke arah langit. Dengan bermandikan cahaya senja yang tinggal sedikit ini, wajahnya yang putih itu seperti menyerap cahaya senja itu yang membuat wajahnya menjadi sedikit kemerahan. Di bawah langit ini kami mentap hal yang sama, pandangan yang jauh tanpa kami ketahui apa yang sebenarnya kami harapkan.
Cahaya matahari semakin meredup, malam yang gelap pun tiba.
Lampu-lampu di jalan dan trotoar sudah menyala dan menyinari area sekitarnya.
“Ayo kita pulang.” Aku melepas pagar pembatas ini.
Kami pun melanjutkan perjalanan kami untuk pulang ke rumah kami masing-masing, menyusuri trotoar di samping sungai ini. Sesekali kulihat ke arah Fuyukawa-san, sepertinya dia sudah kembali ceria seperti biasanya. Namun, hal itu membuat Fuyukawa-san penasaran sehingga dia bertanya padaku.
“Ada apa, Amamiya-kun? Dari tadi kamu lihat ke arahku.”
“Tidak, begini, sepertinya kamu sudah kembali ceria seperti Fuyukawa-san yang biasa kulihat.”
“Eh, memangnya aku terlihat seperti apa tadi?” Fuyukawa-san mempercepat langkahnya dan berdiri di depanku dengan raut wajah penasarannya dan menggembungkan pipinya.
Aku pun berhenti.
“Etto…” Aku memalingkan pandanganku dari dirinya sambil menggaruk kepalaku. Lalu kulanjutkan, “Tadi di waktu istirahat makan siang saat aku keluar dari kelas dengan Hiroaki, kulihat wajahmu sedikit murung, Fuyukawa-san. Juga, saat tadi sepulang sekolah di kelas, wajahmu terlihat sedikit sedih.”
“Amamiya-kun no baka.”
“Eee… Apa aku melakukan hal yang buruk?” Aku berhenti memalingkan pandanganku.
Sekarang giliranku yang menatap Fuyukawa-san dengan penasaran. Namun, saat aku melihatnya, dia membelakangiku.
“Tidak ada. Hanya saja, Amamiya-kun, kamu memperhatikannya, ya?”
“Um, ya. Sesekali.”
“…”
Fuyukawa-san terdiam tanpa mengatakan sepatah kata pun saat aku menjawabnya. Memang benar, sesekali kulihat ke arah Fuyukawa-san. Setiap harinya pasti kulihat ke arahnya. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin sejak dari awal bertemu di loker sepatu itu yang menjadi pemicunya. Apa aku tertarik dengannya? Terlalu cepat untuk menemukan jawabannya. Semua orang pasti tertarik dengan orang seperti Fuyukawa-san. Buktinya, dari semua yang kuperhatikan, Fuyukawa-san selalu dihormati dan disanjung tinggi di sekolah, khususnya murid kelas dua. Tidak aneh kalau ada beberapa murid laki-laki yang menyukainya.
Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi sekarang. Kurangnya pengalamanku dalam hubungan pertemanan dengan para gadis yang membuatku seperti ini. Hubunganku dengan para gadis hanya sebatas teman sekelas dan hanya membicarakan tentang sekolah. Karena itulah, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan sekarang.
Keadaan seperti ini sering terjadi di manga yang kubaca. Mungkin ada sesuatu yang bisa kukatakan atau bisa kulakukan saat ini. Coba kupikir sebentar.
Kami telah mengatakan untuk menjadi teman. Hal yang harusnya dilakukan saat ingin menjadi teman seseorang atau ingin mempererat hubungan pertemanan seseorang yaitu komunikasi. Memberitahu nomor ponsel dan Chat ID adalah salah satunya.
Kalau kuingat-ingat, aku belum punya nomor ponselnya Hiroaki, Namikawa-san, dan Kayano-san. Baiklah, kalau begitu kucoba untuk memintanya ke Fuyukawa-san.
“Fuyukawa-san.”
“Ya?” Fuyukawa-san kembali melihat ke arahku.
“Apa kamu keberatan memberiku nomor ponsel dan Chat ID-mu?”
“Tentu saja ngga. Malahan dengan senang hati.” Fuyukawa-san mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya.
Kami pun akhirnya memberitahu nomor ponsel masing-masing dan juga ID Chat LINE. LINE memang sangat terkenal dan praktis.
「冬川雪奈」-Fuyukawa Yukina-adalah kontak pertama dari murid kelasku yang tersimpan di ponselku. Semoga nantinya di ponsel ini terisi kontak-kontak ponsel orang lain.
Fuyukawa-san terlihat senang sambil mengangkat ponselnya hingga di depan wajahnya, lalu tersenyum. Aku pun ikut tersenyum melihat senyumannya yang manis itu. Setelah itu, kami lanjutkan perjalanan kami untuk pulang.
Hari pun semakin gelap. Kami mengucapkan selamat tinggal dan berpisah di jalan yang terbagi dua yang memisahkan arah tujuan Daikan’yamacho dan Hachiyamacho. Aku pun terus berjalan sambil memikirkan makanan apa yang akan kubuat untuk makan malam hari ini hingga sampai di apartemenku.
Karena daging masih ada, lebih baik buat makanan dari daging saja.
Ya, harus daging. Harus.
Sebagai hari resmi memulai hubungan pertemanan dengan Fuyukawa-san.
***
Keesokan harinya, aku pergi sekolah seperti biasa. Sejak apa yang terjadi dengan Fuyukawa-san yang membuat hubungan kami mendekat, pasti aku akan menjadi sasaran tatapan murid-murid Keiyou-kou, terutama dari murid laki-laki. Lebih baik kusiapkan diri saja. Jangan terlalu dipikirkan. Lagi pula mereka juga hanya menatapaku dengan tatapan tajam mereka seperti kemarin-kemarin.
“Amamiya-kun, selamat pagi.” Terdengar suara seseorang yang menyapaku dengan kata selamat pagi. Suara yang ceria ini, mungkinkah…
“Ah, selamat pagi, Fuyukawa-san.”
Suara itu berasal dari seorang gadis, murid perempuan dari Keiyou-kou, perwakilan kelas 2-D yang menjadikanku sebagai perwakilan kelas juga. Dia adalah Fuyukawa Yukina-san. Sungguh kebetulan yang luar biasa bisa bertemu dengannya di tempat kami berpisah kemarin. Biasanya dia pergi sekolah sangat pagi karena melakukan latihan pagi. Um, mungkin sedang tidak ada latihan pagi. Istirahat juga perlu untuk meningkatkan kemampuan. Umu, umu…
Aku menyeberangi jalan dan berjalan menuju tempatnya. Lalu, kami berjalan bersama menuju sekolah.
“Kebetulan sekali bisa ketemu denganmu di sini, Amamiya-kun.”
“Sungguh kebetulan, ya. Biasanya Fuyukawa-san pergi sekolah pagi-pagi untuk latihan pagi dan juga bukannya Fuyukawa-san piket hari ini? Hari ini kan Jumat.”
“Hari ini ngga ada latihan. Latihan pagi cuma di hari Senin dan Rabu. Istirahat kan juga perlu. kalau masalah piket, kemarin sore sudah kulakukan kok.”
“Begitu ya. Karena itu kamu berada di kelas sampai sore, ya?”
“Um, ya, begitulah.” Fuyukawa-san menjawabnya dengan nada suara yang berbeda. Apa aku salah? Sepertinya ada hal lain yang membuatnya sampai sore di sekolah.
“Sepertinya, klub menyenangkan, ya…”
“Tentu saja. Kita bisa bertemu dan berkenalan dengan orang lain yang memiliki kesukaan yang sama dengan diri kita. Bukannya itu sangat menyenangkan?”
“Benar.”
“Ngomong-ngomong, Amamiya-kun, kenapa ngga masuk klub?”
“Um, tidak.”
“Apa ngga ada yang kamu suka?”
“Sebenarnya aku suka sepakbola dan bola voli.”
“Terus?”
“Kaki kananku pernah patah. Jadi, ya… agak ragu-ragu.”
“Pasti berat, ya…”
“Um, iya. Tapi, sekarang sudah sembuh.”
“Kalau begitu, kenapa ngga masuk saja klubnya?”
“Aku hidup sendiri di sini. Kalau masuk ke klub olahraga, pasti berat mengatur waktu nantinya.”
“Oh iya, kamu kan datang dari Nagano. Kamu tinggal sendirian di apartemen, Amamiya-kun?”
“Um, iya. Di Apartemen Daikan.”
“Hidup sendiri di kota besar pasti berat, kan?”
“Iya. Karena itu lah masuk ke klub olahraga merupakan ide yang tidak bagus.”
Hidup sendirian di kota besar memang berat, apalagi untuk seorang remaja SMA. Banyak hal harus kupelajari agar tidak mendapatkan masalah-masalah di keseharianku nantinya. Misalnya seperti mengatur pengeluaran uang.
Kami pun terus berjalan hingga tiba di pinggir sungai. Bunga sakura perlahan gugur. Jumlahnya lebih sedikit dibandingkan kemarin.
“Bunganya semakin sedikit, ya,” kataku sambil melihat ke arah pohon sakura.
“Iya. Mungkin minggu ini saat-saat terakhir mekarnya.”
“Semoga tahun depan bisa lebih indah.”
Kami berjalan menyusuri trotoar ini hingga tiba di area dekat sekolah. Terlihat murid-murid Keiyou yang sedang berjalan menuju pintu gerbang sekolah yang besar itu. Kami menyeberangi jalan dan menuju gerbang sekolah. Mengatakan “selamat pagi” pada Agitsu-sensei yang berdiri di dekat gerbang dan berjalan menuju ke arah kelas kami di Gedung Utama.
Seperti dugaanku, pandangan murid-murid tertuju padaku yang saat ini sedang berjalan bersama Fuyukawa-san. Karena sekarang ini bertepatan dengan waktu murid-murid datang ke sekolah, banyak sekali yang melihatiku dengan tatapan aneh dan menusuk. Tentu saja mereka yang bersama teman mereka seperti berbisik-bisik tentangku, walaupun aku tidak tahu apa yang mereka bisikkan. Fuyukawa-san dari tadi terlihat santai tanpa memedulikan mereka.
Apa dia tidak sadar? Atau mungkin, yang mereka tatap itu adalah aku?
“Ano, Fuyukawa-san, dari tadi orang-orang melihat ke arah kita.” Aku memberitahunya agar dia mengerti keadaan sekarang.
“Mm…?” Fuyukawa-san hanya menggumam dengan raut wajah penuh tanda tanya.
Ya ampun, sepertinya dia tidak mengerti keadaannya.
“Coba lihat ke sekitarmu, Fuyukawa-san.”
Fuyukawa-san melihat ke arah sekitarnya, lalu terdiam. Sepertinya dia mengerti kalau dia dan diriku ini sangat menarik perhatian orang-orang karena kehadiran Fuyukawa-san ini seperti medan magnet yang kuat. Sedangkan aku seperti inhibitor atau seperti pengotor di mata mereka. Setelah selesai, dia membuka mulutnya.
“Ternyata orang-orang tertarik denganmu, Amamiya-kun. Karena itulah mereka melihat ke arahmu terus dari tadi.”
Apa yang dikatakan gadis ini?
Sudah jelas kalau mereka melihatku itu sebagai pengganggu. Hm… seperti, kenapa ada zat pengotor di senyawa yang murni ini? Aku harus dipisahkan atau diserap agar senyawa ini kembali murni.
“Bukan begitu, Fuyukawa-san. Mereka jelas-jelas melihatku seperti pengganggu karena berada di dekatmu. Kenapa ada murid populer sepertimu bisa bersama dengan seseorang yang tidak jelas, itu yang terpancar dari tatapan mereka.”
“Amamiya-kun, kamu cukup jeli melihatnya, ya?”
“Ah, tidak juga. Hey, bukan begitu…”
Semua pengalaman ini sebenarnya kudapatkan saat tahun pertama SMA tahun lalu. Karena tidak punya teman saat itu, kuhabiskan waktuku untuk memperhatikan dan mempelajari tingkah laku orang di sekitarku, dan juga sebagian besar membaca buku dan belajar.
“Mungkin mereka hanya iri denganmu.”
“Iri? Kenapa juga mereka iri denganku?”
“Mm, mungkin karena kamu pergi sekolah bersamaku hari ini.”
“Mm… mungkin saja. Walaupun hanya kebetulan ketemu saat berangkat tadi.”
“I, iya. Walaupun cuma kebetulan. Haha. Lagian kalau teman kan biasa pergi ke sekolah bersama. Apalagi kalau tempat tinggalnya berdekatan.”
“Ah, benar juga sih...”
“Benar, kan? Lagian ngga usah pedulikan mereka.”
“Hm, bukan begitu. Aku peduli tentangmu, Fuyukawa-san.”
“Eee, ke-ke-kenapa?” Fuyukawa-san terlihat gugup dan suaranya terputus-putus.
“Bukannya popularitasmu menurun jika bereman denganku?”
“Kan sudah kukatakan, aku ngga peduli tentang popularitas. Bukannya dari awal itu sesuatu yang dibuat seenaknya oleh suatu kelompok?”
“Benar juga sih.”
Semua yang dikatakannya memang benar. Popularitas seseorang di sekolah dibuat dari beberapa kelompok yang kemudian tersebar ke kelompok lain, sehingga membuat semua orang mengenal individu yang populer itu. Tentu saja orang yang memenuhi spesifikasi untuk menjadi populer yang akan mendapatkan perlakuan seperti itu. Dan, jika orang itu melakukan sesuatu yang luar biasa maka popularitasnya menjadi semakin tinggi di sekolah itu.
Kami masuk ke Gedung Utama, mengganti sepatu kami dengan uwabaki, dan segera menuju ke kelas. Seperti tadi, kami menjadi pusat perhatian semua murid yang ada di sini.
Setiba di kelas, kami masuk melalui pintu belakang karena memang dekat dengan meja kami. Fuyukawa-san yang pertama masuk sambil menyapa semua murid kelas 2-D, “Pagi, semuanya!” dengan suaranya yang ceria itu yang dapat menjangkau seluruh kelas ini. Selanjutnya, aku yang masuk sambil mengatakan “Selamat pagi” dengan nada suaraku seperti biasa, mungkin hanya terdengar di bagian belakang kelas saja.
Suasana kelas yang awalnya ramai sebelum kami masuk, tiba-tiba menjadi sunyi. Apa ada terjadi sesuatu?
Fuyukawa-san yang menyadari keanehan ini langsung bertanya dengan suara cerianya itu dan sedikit nada penasaran, “Kenapa tiba-tiba diam begini? Apa terjadi sesuatu?”
Aku hanya melihat Fuyukawa-san dari tempat dudukku dan juga ke sekeliling kelas ini. Sepertinya ada hal ingin mereka tanyakan langsung kepada Fuyukawa-san. Apalagi dua temannya Fuyukawa-san itu. Kenapa mereka berdua melihat ke arahku? Bukannya mereka berdua punya sesuatu yang ingin ditanyakan ke Fuyukawa-san? Jangan melihatku dengan tatapan seperti itu. Aku yang tidak terbiasa menerima tatapan dari seorang gadis, membuang pandaganganku ke arah luar jendela.
Wah, sungguh cuaca yang sangat cerah. Cahaya matahari yang menyinari kota ini sangat menyilaukan.
Terdengar suara deritan kursi yang bergeser dan dilanjutkan dengan suara seorang gadis. “Yukina, katanya kamu pergi sekolah bareng dengan Amamiya itu?” Suara itu pasti berasal dari salah satu dari dua temannya Fuyukawa-san. Jadi ini yang membuat suasana kelas menjadi aneh. Kalau dipikirkan lagi, tentu saja aneh saat mendengar Fuyukawa-san pergi sekolah bersamaku karena mungkin dia biasanya pergi sendirian.
Fuyukawa-san langsung menjawabnya dengan suara cerianya itu, “Itu benar kok, Misa. Apa aneh?”
Suara murid lain tedengar, “Kenapa kamu bisa bersama dengan orang seperti dia? Bukannya dia orang aneh yang tiba-tiba dipindahkan ke sekolah ini yang mana sekolah kita sendiri tidak menerima murid pindahan kecuali pertukaran pelajar?” Suara ini berasal dari temannya Fuyukawa-san yang satu lagi. Yang kutahu, teman dekatnya di kelas ini ada dua orang yang mengikuti klub basket, sama seperti Fuyukawa-san.
Wah, ternyata tebakanku benar kalau aku dianggap orang yang aneh.
Terdengar deritan kursi di dekatku, sepertinya dari kursi Fuyukawa-san yang berderit karena dia berdiri. “Atsuko, kamu bilang apa tadi?” Suara Fuyukawa-san tiba-tiba berubah. Kali ini sangat berbeda. Apa dia marah?
“Atsuko, kamu hanya ngga mengenal Amamiya-kun. Bukan, kita semua tidak tahu apa-apa tentang Amamiya-kun. Aku juga tidak tahu tentangnya karena itulah aku ingin lebih mengenalnya. Kenapa dia dipindah ke sekolah ini? Pasti ada alasannya dibalik itu semua. Bukannya dari awal kalian seperti menolak kehadirannya di kelas ini?”
Kenapa Fuyukawa-san sampai membelaku seperti itu? Seharusnya dia tidak melakukan itu untuk diriku. Walaupun kami berteman, tapi itu hanya sebatas teman baru. Dan juga, dia belum tahu banyak tentangku. Berbeda dengan Namikawa-san, Kayano-san, dan Hiroaki.
“Yukina, kenapa kamu sampai membelanya begitu?” Suara gadis yang dipanggil Misa oleh Fuyukawa-san tadi kembali melontarkan pertanyaan.
“Dan belakangan ini juga kamu sedikit aneh, Yukina. Apa karena Amamiya?” Sekarang giliran gadis yang dipanggil Atsuko oleh Fuyukawa-san yang memberikan pertanyaan.
“Ngga kok. Bu-bukan begitu.”
“Kalau begitu, jelaskan dong. Ya kan, Misa?”
“Ya, jelaskan dong, Yukina. Kenapa kamu sampai menunjuknya juga sebagai perwakilan kelas?”
Suasana kelas ini mulai tidak terkendali. Fuyukawa-san didesak terus-terusan oleh pertanyaan dari dua orang temannya. Aku tidak tahu bagaimana raut wajahnya sekarang karena aku tidak berani melihat ke arah mereka. Tapi, jika aku tidak melakukan sesuatu maka pasti akan ada hal buruk yang terjadi. Mungkin saja hubungan pertemanan Fuyukawa-san dengan gadis yang dipanggilnya Misa dan Atsuko itu bisa menjadi retak. Aku harus melakukan sesuatu.
“Aku…” Fuyukawa-san sepertinya ingin mengatakan sesuatu.
Aku pun berdiri dari kursiku dan melihat ke arah Fuyukawa-san.
“Sudah cukup, Fuyukawa-san.”
“Tapi…”
“Sudah. Kalau kalian ingin bertanya, tanyakan saja langsung kepadaku. Apa yang ingin kalian ketahui? Tentang berangkat sekolah tadi? Kami hanya kebetulan bertemu. Bukankah wajar saja kalau pergi bersama karena arahnya sama? Lagian kalau memang pergi bersama seperti yang kalian katakan tadi, seharusnya kami sudah janjian dulu kalau akan pergi bersama. Jadi, ini cuma kebetulan. Mengenai kenapa aku dipindahkan ke sini karena…”
Bel tanda masuk berbunyi.
Hiratsuka-sensei sudah langsung masuk ke dalam kelas saat aku belum selesai menjelaskan.
“Mm… Ada apa ini? Kenapa suasana kelas ini begitu aneh? Terasa panas dan sedikit tegang.” Hiratsuka-sensei mengatakan hal itu sambil berjalan ke meja guru dengan tatapan mata ke arahku.
“Tidak ada apa-apa, Sensei. Hanya obrolan remaja.” Fuyukawa-san menjawabnya. Walaupun dia tahu kalau Hiratsuka-sensei menginginkan jawaban dari mulutku.
“Mm… Begitu. Semuanya kembali ke tempat masing-masing, pelajan akan dimulai.”
“Ya, Sensei...” Semua murid kembali ke tempat duduknya masing-masing.
“Nicchoku?”
Di hari kemarin, nicchoku dilakukan oleh Fuyukawa-san. Mungkin karena aku masih murid baru. Tapi, sekarang aku telah paham tugas-tugasku sebagai perwakilan. Walaupun tidak semua.
“Kiritsu (berdiri), rei (membungkuk dan beri salam)…”
Setelah mengatakan itu, pelajaran Bahasa Inggris segera dimulai.
***
Jam pelajaran keempat telah berakhir dan bel tanda waktu istirahat siang telah berbunyi. Satu per satu murid kelas ini keluar, termasuk Fuyukawa-san yang keluar dengan dua orang temannya, Atsuko-san dan Misa-san. Sepertinya ada hal yang ingin mereka bicarakan.
Mengingat kembali kejadian tadi pagi, mungkin ada baiknya kalau aku membantu Fuyukawa-san. Tapi, apa yang bisa kulakukan? Apa yang kukatakan tadi kepada temannya itu belum tentu mereka percayai. Tapi, apa yang membuat dua orang temannya itu sangat jengkel saat tahu kalau aku dan Fuyukawa-san pergi bersama ke sekolah tadi? Apa yang bisa kutebak adalah mungkin ada seseorang dari temannya itu menyukai dirinya.
“AMARYU…!”
Terdengar seseorang yang meneriakkan itu di arah dekat pintu. Pasti ini Hiroaki. Ada urusan apa lagi di ke sini? Sudah tiga hari berturut-turut dia ke sini. Apa dia tidak punya teman? Atau dia…
“Amamiya!” Hiroaki menuju tempat dudukku dan duduk di kursi kosong di depanku yang pemiliknya sudah keluar.
“Ada apa, Hiroaki?”
“Ada sesuatu yang ingin kutanyakan. ” Hiroaki memindahkan kursi itu dan duduk di sampingku.
“Tentang apa?” Tanyaku dengan nada penasaran. Sepertinya Hiroaki tipe orang yang suka penasaran dan langsung menanyakannya.
“Katanya, kamu pergi bersama Fuyukawa ke sekolah pagi tadi?” Hiroaki memelankan suaranya agar hanya aku yang bisa mendengarnya.
“Oh itu. Kebetulan aku ketemu Fuyukawa-san. kebetulan dia juga memakai jalan ke sekolah yang sama denganku.” Spontan, aku pun menjawabnya dengan suara yang pelan.
“Beneran kebetulan?”
“Tentu saja. Dan, ada apa denganmu, Hiroaki?”
“Maksudmu?”
“Kemarin kamu bertanya tentang hubunganku dengan Namikawa-san, sekarang tentang ini.”
“Hanya penasaran. Ngga ada maksud lain kok.”
“Yang benar?”
“Bener, beneran.”
“Mm… sedikit mencurigakan.”
“Kamu ngga percaya denganku?”
“Mungkin. Hahaha…”
“Ngga lucu.”
“Memang tidak.”
“Kalau begitu, ayo ke kantin, Amamiya.” Hiroaki kembali ke suaranya yang normal.
“Ayo.” Aku menjawabnya dengan suaraku yang normal juga.
“Amamiya-kun.” Saat aku hendak pergi ke kantin dengan Hiroaki, seseorang memanggilku. Suara seorang gadis yang pernah kudengar kemarin. Aku berbalik dan melihat ke sumber suara. Suara ini berasal dari mulutnya Moriyama-san. Sepertinya dia ada perlu denganku.
“Ada apa, Moriyama-san?”
“Hiratsuka-sensei menyuruhmu untuk menemui Sensei sekarang.”
“Ah, baiklah. Terima kasih, Moriyama-san.”
“Sama-sama.”
Aku berbalik kembali ke arah Hiroaki. Sepertinya dia mendengarnya.
“Maaf, Hiroaki. Aku harus menemui Hiratsuka-sensei sekarang.”
“Mm… ya sudah. Apa boleh buat.”
Kami keluar dari kelas 2-D dan menuju ke arah tujuan masing-masing. Tujuanku adalah Ruang Staf Pengajar, tempat Hiratsuka-sensei berada. Tapi, kenapa Hiratsuka-sensei memanggilku di saat waktu istirahat siang seperti ini? Aku bahkan belum makan atau minum apa pun.
Kuketuk pintu Ruang Staf Pengajar. Ketika mendengar seseorang yang mengatakan “silakan masuk,” aku masuk ke dalam. Lalu, aku berkata, “Permisi.”
Hiratsuka-sensei yang melihatku masuk langsung berdiri dan memanggiku untuk menuju tempatnya.
“Amamiya-kun, ke sini.”
Aku menuju ke tempat Hiratsuka-sensei. Mejanya dekat dengan Ruang Tamu Guru. Sensei sepertinya sedang memeriksa sesuatu, sejenis daftar murid Keiyou-kou. Aku berdiri di samping Sensei, lalu bertanya.
“Sensei, ada keperluan apa memanggil saya?”
“Oh iya, ini tentang aktivitas klub. Kamu belum masuk klub, kan, Amamiya-kun?”
“Belum, sensei.”
“Begitu ya. Saat ini sekolah sedang mencoba membuat sebuah klub yang di bawah kendali langsung guru konseling. Untuk anggota klubnya akan dipilih langsung oleh guru konseling.”
“Jadi, kenapa memanggil saya, sensei?”
“Saya ingin memastikan kalau kamu akan masuk ke klub lain atau tidak karena namamu kandidat pertama untuk menjadi anggota klub ini.”
Jadi, Hiratsuka-sensei sudah memasukkan namaku ke kandidat anggota klubnya itu.
“Kenapa saya, sensei?”
“Saya tahu kalau kamu bisa menjalankan tugas dari klub ini. Bagaimana? Kamu bersedia?”
Hiratsuka-sensei langsung berpendapat kalau aku mampu menjalankan tugas klub itu. Apa Sensei memiliki indra keenam?
“Saya tidak keberatan.”
“Bagus. Kalau begitu, setelah pulang sekolah datang lagi ke sini untuk penjelasan lebih lanjut. Pergi makan siang sana!”
“Baiklah, Sensei.”
Aku keluar dari ruangan itu menuju kantin untuk makan siang. Terlihat Hiroaki sedang makan bersama suatu kelompok. Pertama kalinya kulihat dia bersama dengan orang lain. Ya, aku juga belum tahu banyak tentangnya. Yang membuatku penasaran kenapa dia sering ke kelasku belakangan ini. Sudah tiga hari berturut. Mm… kadang kita memang tidak mengerti alasan dibalik tindakan seseorang.
Aku bersyukur karena dengan silver pin ini bisa makan gratis di kantin. Menghemat pengeluaran uang merupakan hal yang penting bagi orang yang hidup sendiri.
Setelah memesan makanan dan minuman, aku duduk di sudut kantin. Meja makan yang muat untuk empat orang ini hanya diisi oleh satu orang, yaitu aku. Seketika dipikiranku muncul suatu kalimat, “Bocchi desuka?” Tentu saja tidak. Orang yang sendirian itu bukan berarti dia kesepian.
Sesudah makan dan minum di kantin, aku langsung kembali ke kelas. Masih ada waktu sebelum jam pelajaran kelima dimulai, jadi kugunakan untuk membaca novel yang kemarin kupinjam dari perpustakaan.
Tak lama kemudian bel tanda istirahat selesai telah berbunyi dan beberapa menit berselang bel kembali berbunyi, menandakan jam pelajaran kelima akan dimulai.
Kusimpan novel itu di laci mejaku.
Saatnya kembali fokus ke pelajaran.
***
Setelah selesai semua kegiatan belajar hari ini, di jam pulang sekolah aku harus menemui Hiratsuka-sensei atas perintahnya tadi. Masih menyimpan pertanyaan di kepalaku sebenarnya klub apa yang akan dibentuk itu. Terlebih juga di bawah kendali langsung guru konseling. Apa aku harus mengerjakan pekerjaan seorang konseling nantinya? Masih samar-samar.
Murid kelas ini sudah mulai keluar dari kelas. Sejak pelajaran terakhir selesai tadi, aku tidak melihat Fuyukawa-san lagi. Mungkin ada rapat di klubnya yang membuatnya buru-buru keluar dari kelas. Kulihat anggota piket akan membersihkan kelas, jadi aku segera keluar agar tidak mengganggu mereka. Kumasukkan semua barang-barangku yang ada di laci meja ke dalam tas, lalu keluar.
Setelah mengetuk pintu, aku masuk ke Ruang Staf Pengajar. Hiratsuka-sensei masih duduk di kursi mejanya sambil minum sesuatu.
“Oh, Amamiya-kun, sudah datang ternyata.”
“Sensei bilang setelah pulang sekolah, kan? Wajar datangnya sekarang.”
“Umu… Lagi pula saya juga lupa mengatakan kalau pembicaraan lanjutan tentang tadi dilakukan pukul 4.15 karena masih ada yang belum datang.”
Oh, jadi tidak hanya aku yang dipanggil ke sini. Kira-kira ada berapa orang yang dipanggil sensei ke ruang ini? Aku sedikit penasaran.
“Oh begitu. Kalau begitu, saya keluar dulu.”
“Kamu tunggu saja di Ruang Tamu Guru, Amamiya-kun.”
“Baiklah, Sensei.”
Aku masuk ke Ruangan itu dan duduk di salah satu sofa. Kuambil novel dan kubaca.
Susana nyaman tersampaikan kepadaku sehingga membuatku tenggelam ke dunia sastra. Kubalik satu per halaman novel ini. Sofa di ruang ini juga begitu empuk membuatku merasa betah duduk lama-lama di sini.
Tidak lama kemudian, pintu ruang ini terbuka. Kuputuskan untuk menutup dan meletakkan kembali novel ke dalam tas saat melihat Hiratsuka-sensei masuk dengan sorang murid perempuan yang berjalan mengikutinya dari belakang. Aku tidak tahu siapa gadis ini. Gadis ini cantik, rambutnya hitam dan panjang, kulitnya putih seperti salju. Sedikit mengingatkanku ke Fuyukawa-san.
Sensei duduk di tengah dan gadis ini duduk tepat di depanku. Jadi, apakah hanya dua orang, Sensei? Aku ingin menanyakannya langsung, tapi sepertinya memang dua orang. Jadi, kuurungkan niatku itu.
Hiratsuka-sensei membersihkan tenggorokannya dengan batukan kecil.
“Mm… baiklah, mari kita mulai penjelasannya. Pertama-tama saya kenalkan terlebih dahulu. Laki-laki ini namanya Amamiya Ryuki-kun dan gadis ini bernama Shiraishi Miyuki-san.”
Setelah sensei mengenalkan nama kami, kami menundukkan sedikit kepala kami. Sensei yang melihat itu sedikit tersenyum seperti berkata “Umu.” Kemudian, Sensei melanjutkan.
“Alasan kalian berdua saya panggil ke sini karena kalian berdua tidak memasuki klub apa pun, walaupun kalian punya potensi di suatu klub. Oleh karena itu, saya mengajak kalian berdua untuk masuk ke klub bantuan (援助部, Enjo-bu). Tujuan dari klub ini yaitu untuk membantu para murid sekolah kita untuk menyelesaikan masalah mereka. Bisa dibilang kalau klub ini sebagai tempat konseling antara murid dengan murid. Masih ada murid yang sukar menceritakan masalahnya kepada orang dewasa. Jadi, dengan adanya klub ini, mereka bisa menceritakannya dan meminta bantuan. Apa ada yang ingin kalian tanyakan?”
Apa yang membuatku penasaran yaitu apakah klub ini akan benar-benar bisa membantu para murid yang memerlukan bantuan? Kami hanya murid SMA. Seharusnya Sensei tahu kalau kami belum tentu bisa membantu mereka. Ah, aku mengerti. Karena itulah klub ini dibimbing langsung guru konseling, yaitu Hiratsuka-sensei. Jika ada permasalahan yang tidak bisa kami bantu maka Sensei bisa memberi kami jawaban atas permasalahan itu.
Shiraishi-san yang dari tadi duduk dan mendengarkan dengan seksama seperti memikirkan suatu pertanyaan. Dia lalu membuka mulutnya.
“Dengan kata lain, kami hanya membantu mereka yang datang meminta bantuan kami?” Suaranya yang datar itu seperti membekukan ruangan ini.
“Tepat sekali, Shiraishi-san.”
“Hiratsuka-sensei, apa klub ini hanya diisi oleh dua orang?” Aku pun menanyakan hal yang tadinya tidak jadi kutanyakan.
“Untuk saat ini hanya kalian berdua.”
“Saya mengerti.”
“…”
“Apa ada yang ingin kamu tanyakan, Amamiya-kun?”
“Ah, tidak ada, Sensei.”
Dari penjelasan sensei tadi, aku mengerti apa yang harus dilakukan. Intinya, kami hanya duduk di suatu ruang klub dan menunggu seseorang yang datang untuk meminta bantuan. Orang itu menceritakan masalahnya dan kami mencoba untuk membantunya menyelesaikan masalahnya. Bukan kami yang menyelesaikan masalahnya.
“Baiklah. Karena saya sebagai pembimbingnya, saya akan infokan lagi mengenai ruang klub, anggaran klub, dan hal lain yang harus kalian lakukan nanti. Kalian bisa pulang sekarang. Hati-hati di jalan.”
Setelah mengatakan itu, kami berdua meninggalkan Ruang Staf Pengajar setelah mengatakan selamat tinggal kepada Hiratsuka-sensei. Kami tidak berbicara sepatah kata pun sampai akhirnya kami tiba di loker sepatu. Setidaknya aku mengatakan sesuatu sebagai awal dari hubungan anggota klub.
“Shiraishi-san, yoroshiku onegaishimasu.” Tanpa kusadari tangan kananku sudah memegang leher. Hal ini kulakukan saat merasa gugup dan canggung.
“Kochira koso yoroshiku onegaishimasu.” Shiraishi-san menjawabnya dan pergi ke arah lokernya.
Seketika jantungku berdetak kencang. Tentu saja aku gugup berbicara dengan orang yang cantik seperti dirinya, ditambah lagi nada suaranya yang datar itu seperti bisa membekukan daerah sekitarku. Walaupun begitu, sikapnya sungguh sopan. Seperti dari keluarga ternama.
Setelah mengganti uwabaki dengan sepatu, aku menuju ke arah gerbang sekolah. Beberapa saat lagi, aku akan menjadi anggota klub bantuan dan akan ada kegiatan klub yang kulakukan sebelum pulang ke apartemen. Tidak lama lagi, aku bisa membantu, tidak hanya teman-temanku atau orang yang kukenal, tapi juga orang yang tidak kukenal. Amamiya Ryuki siap membantu kalian yang datang ke klub bantuan.
Langit sore berwarna oranye dan angin yang berhembus menemani langkah pulangku.