
Acara pembukaan pun sudah di mulai, banyak sambutan sambutan yang Dito berikan, dan di bagian sambutan terakhir dia turun ke bawah podium dan membawa Rena untuk naik ke atas podium.
"Mr kita mau ngapain?" bisik Rena yang deg degan karena banyak orang yang menatap dirinya yang sekarang ini sudah berada di atas podium bersama dengan Alex.
"Baik, untuk di akhir ini saya ingin memperkenalkan calon istri saya kepada kalian semua, sayang." Dito menatap ke arah Rena dengan lembut sehingga membuat jantung Rena berdetak kencang.
"Wanita yang ada di sebelah saya ini adalah tunangan saya dan calon istri saya. Mungkin tak berapa lama lagi kita akan melakukan acara pernikahan." lanjut Dito membuat Rena semakin bingung dan tidak mengerti apa yang Dito lakukan.
"Rena Aldebaran Gilbert, nama tunangan saya." ucap Dito memperkenalkan nama lengkap Rena kepada seluruh orang yang ada di sana dan di akhiri dengan kecupan di tangan Rena yang berada di genggamannya.
Nama lengkap Rena yang Dito ucapkan pun mendapatkan banyak komentar dari banyak orang, nama belakang Rena itu sangat tidak asing bagi mereka semua.
"Kalian pasti bingung dengan siapa calon istri saya ini, dan kenapa nama marganya mirip dengan seorang pengusaha ternama. Ya, dia adalah adik dari tuan Richard Halmiton Ghilbert dan juga tuan Andrew Aldebaran." Ucap Dito menjawab pertanyaan dari komentar orang orang.
Setelah Dito mengatakan itu, mereka semua malah semakin membicarakan status mereka berdua sangat cocok, karena bagi mereka si kaya sangat cocok jika di pasangkan dengan si kaya.
Rena hanya diam saja, dia tak berkomentar apa apa karena takut salah. Dia hanya meremas tangan Dito yang dia genggam untuk menyalurkan rasa kesalnya karena Dito mengambil keputusan tanpa memberitahu dirinya terlebih dahulu.
Setelah acara selesai, Rena tak mengucapkan sepatah katapun kepada Dito, Rena marah kepada Dito karena sudah membuat dirinya terjebak dalam situasi yang seperti ini.
"Hai kamu kenapa diam saja hmm?" tanya Dito mengajak Rena berbicara.
"Ya menurut anda." ketus Rena.
"Maaf ya, saya melakukan ini karena saya tidak ingin di ganggu oleh orang orang yang berniat jahat kepada saya." ucap Dito meminta maaf.
"Maksud anda saya sebagai tameng gitu, emang anda kira saya pelindung apa." kesal Rena.
"Pelindung hati aku." lanjut Dito tapi itu hanya dalam hatinya saja.
"Ayo kita pulang, hari sudah semakin sore, nanti saya di marahin kakak kakak kamu." ajak Dito menggandeng tangan Rena yang masih kesal keluar dari perusahaan miliknya yang masih baru saja di resmikan.
"Apakah kamu mau cari makan dulu?" tanya Dito setelah mereka berdua sampai di mobil.
"Hmm." balas Rena dingin.
"Mau makan di mana?" tanya Dito lagi.
"Terserah." balas Rena jutek.
Dito menghela nafasnya, sepertinya nanti dia harus ekstra sabar dalam menghadapi Rena yang tingkahnya sangat mudah berubah ubah seperti bunglon.
"Ya sudah, kita makan masakan padang saja." keputusan Dito.
Dito langsung melanjutkan mobilnya untuk mencari warung makan Padang untuk dirinya dan Rena makan.
Selama dalam perjalanan, Rena hanya diam saja, dia lebih memilih memandang jendela dan melihat pemandangan yang ada di samping mobil.
Dia mengabaikan keberadaan Dito, sehingga membuat Dito berdecak kesal.
"Kan di sini ada aku, kenapa dia harus lihat ke sana sih." batin Dito kesal.
...***...