Rena Dito

Rena Dito
#30



Setelah terjadi perdebatan dan paksaan dari Rena, akhirnya Kiki pun mau pergi ke rumah sakit di antar oleh Andrew, Andrew mengemudikan mobilnya sendiri, tidak membawa sopir untuk mengantarkan mereka berdua.


Kiki dan Andrew sedari tadi hanya diam saja, tak ada dari mereka yang mulai pembicaraan karena mereka sama sama malu untuk memulai pembicaraan di antara mereka.


Hingga Andrew yang merasa gatal mulutnya karena ingin berbicara dengan Kiki pun pura pura batuk.


"Uhuk uhuk uhuk," batuk lebay ala Andrew.


"Tuan kenapa?" tanya Kiki reflek.


"Tolong ambilkan minum di samping kamu itu dong," balas Andrew.


Untung saja otak Andrew berjalan cepat, dia ingat kalau di samping tempat Rena ada air mineral yang selalu dia bawa untuk berjaga jaga kalau haus di tengah jalan.


Kiki pun langsung mengambil air mineral itu, dan langsung menyerahnya ke Andrew.


"Tolong bukain juga, saya lagi nyetir," pinta Andrew lagi.


"Ah iya aku lupa, maaf," Kiki pun langsung membuka tutup botol itu dan langsung menyerahnya kepada Andrew.


Andrew pun menerimanya dan langsung dia minum, setelah selesai dia kembalikan lagi kepada Kiki.


Terimakasih," ucap Andrew mengucapkan terimakasih sambil menoleh ke Kiki sebentar.


"Iya sama sama," balas Kiki malu malu.


Setelah itu kembali hening di dalam mobil itu, sebenarnya Kiki ingin berbicara sama Andrew dan bilang terimakasih soal yang kemaren Andrew sudah menolong dirinya, tapi Kiki bingung akan memulainya dari mana.


"Emm...itu...." otak Kiki sibuk merangkai kata agar terucapkan dengan baik kepada Andrew.


"Iya kenapa?" tanya Andrew menoleh kepada Kiki sebentar.


"Terimakasih," bodohnya Kiki, otaknya sibuk memikirkan kata kata yang pas, tapi mulutnya hanya mampu mengeluarkan satu kata itu.


Kening Andrew berkerut, dia menoleh ke Kiki, "Buat apa?" tanya Andrew.


"Oh itu, iya sama sama, lain kali kamu hati hati kalau bawa barang, dan jangan panggil saya tuan, karena saya bukan majikan kamu." Andrew menoleh sambil tersenyum tipis, sangat tipis kepada Kiki.


Deg deg deg.


Jatung Kiki rasanya ingin meledak melihat senyuman itu yang sangat sangat manis bagi Kiki, ingin rasanya Kiki berteriak saat itu juga kalau saja dia tidak punya urat malu.


"Kenapa Rena gak pernah bilang sih kalau punya kakak seganteng ini, apalagi dia juga hot banget lagi, apakah ini big boy yang sesungguhnya," batin Kiki menatap wajah Andrew dari samping tanpa berkedip.


Andrew yang menyadari kalau orang di sampingnya itu tengah menatap dirinya pun menoleh dan balik menatap orang itu yang tak lain adalah Kiki.


"Kenapa, apakah ada yang aneh dari penampilan saya?" tanya Andrew heran.


"Kamu sangat ganteng," setelah mengatakan itu Kiki langsung menutup mulutnya, karena dia baru sadar kalau dia tengah keceplosan memuji kegantengan Andrew.


"Hahaha... kamu bisa saja, iya saya tahu saya emang tampan kok," pede Andrew.


"Ehh bukan, maksud aku tadi itu apa, emm... foto iklan coffee yang ada di pinggir jalan tadi, ada foto Lee min hoo," Kiki segera meralat ucapannya tadi.


"Masak sih, tapi perasaan masih tampan saya deh dari pada Lee min hoo," balas Andrew berniat menggoda Kiki.


"Yee, anda sangat kepedean tuan,"


"Sudah saya bilang tadi, jangan panggil saya tuan, karena saya bukan majikan kamu," ucap Andrew yang tidak suka Kiki memanggil dirinya tuan.


"Maaf tu... ehh, terus saya harus pangil apa?"


"Ya terserah kamu, sayang juga boleh,"


"Ehh...." Kiki yang tadinya menatap lurus ke jalan yang ada di depan pun seketika menatap Andrew yang tengah menatap dirinya sambil tersenyum, yang pastinya senyum itu sangat sangat manis bagi Kiki.


...***...