
Keesokan harinya, Rena pergi ke kampus dengan raut wajah yang di tekuk. Kemaren dia sudah meminta bantuan Richard dan Diandra, tapi mereka berdua juga sama saja seperti Andrew yang tak ingin membantunya, dan hal itu membuat Rena kesal.
"Kenapa sih mereka kok gak ada yang mau bantuin aku, apa mereka berdua udah sama sama bangkrut." ucap Rena kesal.
"Terus aku harus bagiamana ini, masak iya aku diam saja saat nilaiku merah atau bahkan bisa jadi nol apalagi sekarang kak Andrew sama bang Richard gak mau bantuin aku, aku harus gimana dong." bingung Rena.
"Apa aku harus lakuin apa yang di sarankan bang Richard ya, buat jadi asisten dosen, siapa tahukan kalau aku melakukan itu nilaiku bisa di selamatkan." lanjutnya.
"Tauk ah, mending nanti aku minta bantuan Kiki aja." Rena melangkahkan kakinya memasuki universitas dan dia langsung berjalan menuju tempat di mana kelasnya berada.
"Rena, woy tungguin gue." teriak seseorang dari belakang Rena yang sangat Rena hafal suaranya.
"Hos hoa hos... lu tega banget sih, orang dari tadi udah gue panggil panggil lu malah gak denger." omel orang yang memanggil Rena tadi.
"Apaan sih Ki, kalau lu mau ribut sama gue nanti aja, gue lagi gak mood." balas Rena malas dan langsung berjalan meninggalkan Kiki.
"Ehh woy kenapa gue di tinggal lagi sih." teriak Kiki dan mengejar Rena kembali.
"Lu kenapa sih, pagi pagi mukanya udah kusut kayak baju gak di setrika seminggu aja." tanya Kiki heran saat melihat raut wajah Rena yang sangat tidak bersahabat.
"Gue tuh lagi kesel tau gak." balas Rena.
"Kesel kenapa dah, tumben banget lu kesel biasanya juga lu selalu Happy?" Kiki semakin di buat terheran heran, pasalnya sangat jarang Rena kesal seperti ini.
"Lu tahu gak, kalau kak Andrew sama bang Richard tuh sekarang gak mau bantuin gue, terus gue harus gimana dong, mana tuh dosen gila pakai ngancem mau kasih nilai nol lagi." jelas Rena.
"Hah kok bisa gitu, bukannya kakak sama Abang lu tuh sayang banget ya sama lu?" heran Kiki.
"Beneran Mr Dito ancam lu begitu?" lanjut Kiki.
"Entahlah gue juga gak ngerti kenapa kak Andrew sama bang Richard begitu. Iya dia ancam gue begitu," jawab Rena.
"Wah susah sih kalau sudah seperti ini, saran gue mending lu minta maaf aja deh sama Mr Dito, siapa tahukan dia mau maafin lu dan mau kasih keringanan buat lu biar nilai lu gak jelek jelek banget." saran Kiki.
"Maunya sih begitu, tapi gue malu. Masak iya kemaren udah marah marah dan sekarang mau ngemis ngemis maaf, iih malu banget." balas Rena.
"Ya itu resiko lu, gue kan kemaren dan kasih peringatan buat lu tapi lu nya ada yang bendel." balas Kiki.
"Iiih lu kok malah salahin gue sih, gue gak salah apa apa ya, salahkan aja tuh dosen kenapa banyak banget peraturannya." balas Rena tak terima kalau dia tidak di salahkan.
"Tapikan lu yg udah mulai duluan ren, coba kalau lu jadi anak baik baik seperti gue gini, pasti hidup lu juga akan aman aman saja gak akan ada masalah yang datang." balas Kiki.
Rena diam, dia tak lagi membalas ucapan Kiki karena moodnya sudah benar benar hancur. Kiki orang yang tadi niat dia mintain tolong ehh taunya malah sama saja dengan kedua kakaknya, jadi makin kesel kan Renanya.
...**...
"Selamat pagi anak anak." ucap Mr Dito yang baru memasuki kelas.
"Selamat pagi juga Mr." balas semua mahasiswa.
"Baik saya di sini hanya ingin melihat siapa saja yang hadir, karena saya akan ada kepentingan jadi saya akan memberikan tugas kepada kalian, tugasnya sudah saya share di grup jadi silahkan kalian kerjakan." ucap Mr Dito yang ternyata hanya memberikan tugas dan mengabsen siapa saja yang hadir.
"Yah tugas lagi tugas lagi." ucap beberapa mahasiswa mengeluh karena mendapatkan tugas terus.
"Dan untuk kamu," menunjuk Rena.
"Silahkan ikut ke ruangan saya, nilai kamu sudah jelek jadi saya akan memberikan tugas yang berbeda khusus buat kamu." lanjut Mr Dito kepada Rena.
"Baiklah sepertinya saya tidak perlu berfikir dua kali lagi untuk memberikan nilai nol kepada kamu." balas Mr Dito.
Mata Rena melotot mendengar itu, tidak dia harus melakukan sesuatu karena sekarang sudah tidak ada lagi yang bisa membantunya.
"Udah Ren ikut aja, dari pada nanti nilai lu beneran nol trus lu gak bisa naik nanti." bisik Kiki menasehati Rena.
"Tapi gue males Ki, lihat tuh mukanya aja ngeselin kayak gitu." balas Rena.
"Emang lu mau gak naik, udah lu lakuin aja apa yang Mr Dito katakan, dari pada nanti lu gak naik." balas Kiki.
"Huh baiklah." nyerah Rena, tak ada pilihan lain lagi selain dia harus menjalankan perintah dosen itu.
"Jadi gimana, apakah kamu tetap kekeuh gak mau mengikuti perintah saya?" tanya Mr Dito.
"Baiklah saya akan mengikuti Mr, saya akan menerima tugas yang Mr berikan." balas Rena.
"Ini juga semua demi kebaikan kamu, emang kamu mau nanti saat teman sayu kelas kamu udah pada wisuda kamu malah masih ngerjain skripsi."
"Ya sudah silahkan kalian kerjakan tugas dari saya, terserah mau kalian kerjakan di mana yang penting besok pagi harus sudah selesai. Kalau begitu saya pergi dulu, ayo kamu ikut saya." lanjut Dito pamit.
"Doain gue Ki biar gak dapat tugas yang susah banget." ucap Rena meminta doa kepada Kiki.
"Tenang aja, gue selalu doain lu." balas Kiki.
Rena pun keluar dari kelas mengikuti Mr Dito yang sudah berjalan jauh di depannya. Dalam hati dia berdoa semoga saja tugas yang akan Mr Dito berikan tidak terlalu sulit dan dia bisa mengerjakannya dengan mudah.
"Permisi mister." ucap Rena memasuki ruangan Mr Dito.
"Hmm, tutup pintunya." balas Mr Dito menyuruh Rena agar menutup pintu ruangannya setelah Rena masuk.
Meskipun bingung tapi Rena tetap melakukannya, dia menutup pintu ruangan Mr Dito dan berjalan mendekati Mr Dito yang tengah duduk di kursi kebesarannya.
"Duduk." suruh Mr Dito agar Rena duduk di kursi depannya.
Lagi lagi Rena menurut, dia tak ingin banyak protes agar urusannya dengan Mr Dito cepat selesai.
"Apa tugasnya Mr?" tanya Rena.
"Saya juga bingung harus memberikan tugas apa buat kamu, nilai kamu sudah terlalu jelek jadi susah untuk di benahi." jawab Mr Dito.
"Terus saya harus melakukan apa supaya nilai saya kembali baik lagi Mr?" tanya Rena.
"Emmm... bentar saya pikirkan dulu, mungkin kamu ada ide?" Mr Dito malah bertanya kepada Rena.
"Kalau Abang saya kemaren sih suruh saya jadi asisten anda, tapi sepertinya itu tidak mungkin, karena...."
"Nah itu ide yang bagus, kamu harus jadi asisten saya selama satu semester ke depan, dan kalau kamu berhasil saya akan memberikan nilai yang bagus buat kamu, gimana kamu mau?" potong Mr Dito.
Rena diam memikirkan apakah dia harus menerima tawaran itu atau tidak, sebenarnya dia malas karena itu artinya nanti dia akan sering sering bertemu dengan Mr Dito, tapi di sisi lain dia membutuhkan itu untuk memperbaiki nilainya.
"Gimana kamu mau apa enggak, kalau enggak saya sudah putuskan untuk memberikan nilai kosong pada kamu." tanya Mr Dito di sertai ancaman.
...***...