Rena Dito

Rena Dito
#17



"Udah udah, sini coba biar aku yang main," ucap Rena menggeser posisi Dito.


Dito pun minggir dan memberikan ruang untuk Rena main mesin capit.


"Gini aja lama banget," ngedumel Rena sambil menggarahkan mesin capit ke arah Boneka panda.


"Nah iya itu sudah pas, ayo pencet." ucap Dito agar Rena segera mengambil Boneka panda itu karena posisinya sudah pas.


"Berisik banget sih, diam bisa gak?" garang Rena hingga membuat Dito terdiam.


Rena fokus bermain mesin capit, dan sekali main dia langsung mendapatkan boneka panda itu.


"Yeee... berhasil," sorak Rena senang.


Bahkan sampai Rena melompat lompat karena saking senangnya, dan tanpa dia sadari dia menggandeng tangan Dito.


"Aku kangen senyuman kebahagiaan ini," batin Dito yang melihat Rena tersenyum dan tertawa senang.


"Tetaplah seperti ini, maaf sudah membuat luka di hatimu," lanjutnya dalam hati.


"Ehh." Rena tersadar, dia segera melepaskan tangannya dari tangan Dito.


"Biar aku ambilkan dulu bonekanya." ucap Dito dan segera mengambil Boneka panda yang Rena dapatkan.


"Nih, mau main lagi gak?" Tanya Dito sambil memberikan boneka panda itu.


"Emm...." Rena berfikir sambil melihat sekeliling Timezone.


"Ayo kita main itu, nanti siapa yang paling banyak memasukkan bola ke dalam keranjang, maka dia harus menjadi asisten pribadinya selama satu Minggu, gimana setuju gak?" ajak Rena menunjuk tempat bola basket.


"Oke siapa takut, tanpa bermain pun kamu sudah menjadi asisten pribadiku." balas Dito setuju.


"Ini beda, asisten kali ini lebih seperti menjadi babu," jelas Rena.


"Oke deal, ayo kita main sekarang." Dito langsung menarik tangan Rena menuju tempat itu.


Dia tidak sabar ingin memenangkan pertandingan ini, dan menjadikan Rena babunya.


Mereka berdua bersemangat dalam menjalani permainan ini, postur tubuh Dito yang lebih tinggi memudahkan Dito dalam memasukkan bola ke dalam keranjang. Di tambah lagi dulu waktu SMA Dito juga pernah menjadi kapten basket di sekolahnya, jadi jangan salahkan Dito kalau dia yang lebih banyak memasukkan bola ke dalam keranjang di bandingkan Rena.


"Hahaha... aku menang, aku menang." sorak Dito saat poin yang dia miliki yang memimpin pertandingan kali ini.


"Aku harus melakukan sesuatu, aku tidak boleh kalah." gumam Rena memikirkan cara agar dia bisa menang dari Dito.


"Kamu harus siap siap menjadi babu aku dalam satu Minggu ke depan." ucap Dito dengan sombong.


"Aduh," rintih kesakitan Rena sambil memegangi perutnya.


"Kamu kenapa?" panik Dito menghampiri Rena.


"Perut aku sakit banget," adu Rena.


"Kalau gitu kita istirahat sebentar ya, ayo duduk di sana dulu." ajak Dito menuntun Rena untuk duduk di tempat yang sudah tersedia di sana.


Rena menurut saja, dia duduk di sana sesuai dengan ajakan Dito dan waktu permainan pun masih terus berjalan.


"Kamu tunggu di sini sebentar ya, aku carikan air minum buat kamu," ucap Dito dan di angguki Rena.


Dito pun segera pergi dari sana untuk membelikan air minum buat Rena, dan momen itupun di manfaatkan oleh Rena sebaik mungkin.


"Mas mas," pangil Rena memanggil orang yang ada di dekatnya.


"Iya mbak, kenapa?" balas mas mas itu.


"Emmm... masnya bisa main itu gak, saya minta tolong dong masukin bola ke keranjang sebanyak mungkin, nanti masnya bakal saya kasih uang." pinta Rena.


"Boleh mbak boleh," setuju mas mas itu.


"Yes, berhasil." senang Rena dan mas mas itupun mulai menjalankan apa yang di perintahkan oleh Rena untuk memasukkan bola ke dalam keranjang hingga waktu habis dan poin yang di dapatkan Rena lebih banyak dari pada poin Dito, itu artinya Rena lah pemenangnya, meskipun dengan kecurangan.


...***...