
"Selamat pagi kak." sapa Rena yang baru saja datang ke ruang makan.
"Pagi juga sayang/ pagi tuan putri." balas Andrew dan Dito barengan.
"Dih, apaan sih," cibir Rena menatap Dito sengit.
"Mari silahkan duduk tuan putri," ucap Dito menarik kursi untuk Rena duduk di meja makan.
"Gak usah, aku bisa sendiri." balas Rena dan menarik kursi sendiri yang berada di samping Andrew.
"Kamu ini, gak boleh gitu sama dosen kamu, bagaimana nanti kalau nilai kamu jadi merah lagi," tegur Andrew agar Rena bersikap baik kepada Dito.
"Untuk satu Minggu ini dia berperan sebagai asisten Rena kecuali kalau ada jam di kelas, jadi sesuka hati Rena dong mau Rena bersikap seperti apa kepada dia." balas Rena membuat Andrew menghela nafasnya.
"Terserah kamu lah dek, nanti kalau ada apa apa kakak gak ikutan," balas Andrew yang sudah pasrah dengan kelakuan adeknya.
Sedangkan Dito malah senyum senyum gak jelas, yang author tahu dia sangat bahagia karena bisa terus terusan dekat bersama Rena.
"Udah ayo kita sarapan, nanti kalian telat ke kampusnya." lanjut Andrew mengajak mereka makan sarapan yang sudah di sediakan di atas meja.
"Iya kak," balas Dito dan Rena barengan.
Mereka pun makan sarapan bersama dengan tenang, dan setelah itu Dito dan Sirena pamit kepada Andrew untuk pergi ke kampus.
"Kak kita pamit dulu ya," pamit Dito.
"Iya kalian hati hati di jalan, dit jagain adek aku." balas Andrew.
"Siap kak, kakak tenang saja." balas Dito.
"Aku pergi dulu ya kak," pamit Rena.
"Iya, kamu baik baik belajarnya, jangan bikin ulah, nanti uang jajan kamu kakak transfer." balas Andrew, tak lupa dia juga memberikan pesan pesan kepada Rena adiknya.
"Aku heran deh, kenapa mister bisa sedekat itu dengan kak Andrew, padahal selama ini waktu Rena bawa teman ke rumah gak ada tuh yang sampai ngobrol ngobrol gitu sama kakak aku," heran Rena.
"Kok mister lagi sih, kayak tadi aja waktu di rumah, aku kamu gitu." protes Dito saat Rena kembali lagi memanggilnya mister.
"Gak mau ah, ini sudah mendekati kampus, nanti yang ada sampai di kampus aku terbiasa panggil kamu lagi." balas Rena tak setuju dengan permintaan Dito.
"Ya sudah, tapi kalau di luar kampus jangan panggil mister ya,"
"Iya, jelasin tadi gimana mister bisa sedekat itu dengan kak Andrew." Rena mengulangi lagi pertanyaan yang belum Dito jawab.
"Ya gimana ya, mungkin karena kita berdua sefrekuensi jadi kita ngalir aja gitu kalau bicara, trus jadi kebiasaan trus deket deh karena aku sering datang ke rumah kamu." bohong Dito, padahal mah aslinya karena dia udah kenal dengan Andrew.
"Ooh gitu, pantes aja sih, ehh tapi aku masih punya satu lagi Abang, kalau yang ini aku yakin pasti kamu gak akan bisa luluhin dia." Rena teringat dengan abangnya yang tak lain adalah Richard.
"Yang waktu itu aku nganterin kamu pulang itu?" tebak Dito.
"Nah iya, itu rumahnya." balas Rena mengiyakan.
"Untuk apa juga aku kenalan sama kakak kakak kamu, emang kamu mau aku deket sama mereka terus setelah itu kita deket terus menikah gitu?" goda Dito.
"Ehh, gak gitu. Maksud aku tadi itu...."
"Iya aku tahu kok, kamu pasti sudah jatuh cinta kan sama aku." potong Dito dengan pedenya.
"Dih najis banget, jadi orang jangan kepedean om." ucap Rena dengan raut wajah yang seolah olah ingin memuntah.
Dito hanya tersenyum, dalam hatinya dia sangat bahagia karena dengan sedikit demi sedikit dia bisa mendekatkan diri kepada Rena lagi.
...***...