Rena Dito

Rena Dito
#22



Sepulang dari kampus, Rena menggajak Kiki untuk mengerjakan tugas di rumahnya, karena tadi mereka mendapatkan tugas dari Dito yang tak lain adalah dosen mereka.


"Ayolah Ki lu bareng sama gue, dari pada nanti lu naik taksi dan lu nyasar gimana." ajak Rena agar Kiki mau barengan sama dia.


"Ogah ah, mending gue naik taksi aja dari pada naik mobil pak dosen." tolak Kiki.


"Ini beda Ki, kalau udah di luar kampus itu dia gak jahat jahat banget kok, dan asal lu tahu aja ya, selama satu Minggu ini dia yang akan jadi asisten gue, oh bukan asisten sih, tapi lebih tepatnya babu gue."


"Hah! seriusan lu, lu jangan gila ren, nanti nilai lu bisa bisa beneran kosong." tak percaya Kiki.


"Seriusan Ki gue gak bohong, kalau lu gak percaya nanti lu lihat aja sendiri, makanya ayo ikut bareng gue." Rena berusaha merayu Kiki.


"Huh, baiklah tapi beneran tidak apa apa kan?" tanya Kiki memastikan.


"Iya Ki seriusan deh," balas Rena.


"Ya udah deh ayo." setuju Kiki.


Akhirnya Rena pun menyeret tangan Kiki menuju parkiran tempat dimana mobil Dito parkir.


"Ayo masuk," ajak Rena membukakan pintu belakang mobil untuk Kiki.


Kiki ragu tapi akhirnya dia masuk juga, dan setelah itu di ikuti Rena yang ikutan duduk di jok belakang juga.


Setelah masuk ke dalam mobil, Kiki bisa melihat raut wajah dosennya sangat datar, dan itu membuat Kiki takut.


"Ren gue turun aja ya," ucap Kiki hendak membuka pintu mobil tapi langsung di cegah oleh Rena.


"Udah bareng aku aja," balas Rena mencekal tangan Kiki.


"Tapi Ren...."


"I-iya mister." gagap Kiki takut.


"Rena, apa kamu gak duduk di depan saja?" ucap Dito pada Rena.


"Enggak ah, enakan di belakang sama Kiki, udah ayo jalan nanti keburu macet." balas Rena.


"Tapi saya bukan sopir kamu loh, jadi kamu harus duduk di depan menemani saya." balas Dito agar Rena mau di depan.


"Apakah kamu lupa, kalau selama satu Minggu ini kamu menjadi asisten aku, jadi terserah aku dong mau apa." balas Rena dengan tangan yang dia letakkan di depan dadanya.


"Huh, baiklah." Dito pun tak bisa berbuat apa apa lagi selain membiarkan Rena tetap duduk di belakang bersama temannya.


"Ya udah ayo cepat jalan, nanti keburu kena macet." suruh Rena.


"Baik NYONYA." balas Dito menekankan panggilan nyonya kepada Rena.


Rena tak menghiraukan itu, dia asik melihat ke samping mobil melalui jendela kaca yang ada di sampingnya.


Sedangkan Kiki yang ikutan bareng bersama Rena pun merasakan canggung, dia rasanya ingin sekali keluar dari dalam mobil itu dan menjadi dari kedua orang yang berada satu mobil bersama ini.


Kalau di suruh memilih antara baik angkot berdesakan dengan orang banyak, atau naik mobil bagus tapi bersama Rena dan Dito, Kiki akan lebih memilih naik angkot, karena ketika dia naik angkot berdesakan dengan orang orang yang tidak dia kenal, sedangkan di dalam mobil ini dia berada satu mobil bersama dosennya yang lumayan banyak di takuti anak anak kampus.


"Nanti di depan mampir dulu ke minimarket, kita cari camilan dulu." perintah Rena kepada Dito.


"Baik NYONYA." balas Dito.


...***...