Rena Dito

Rena Dito
#24



Tak lama setelah kepergian Kiki ke kamar mandi, pintu kamar Rena di ketuk.


Tok tok tok.


"Iya masuk," balas Rena yang tengah rebahan sambil memainkan handphonenya.


Ceklek.


Pintu kamarnya pun terbuka, dan bisa Rena dengan kalau ada langkah kaki yang mendekat ke arah ranjangnya.


Glek.


Dito yang memasuki kamar Rena sambil membawa nampan itupun menelan ludahnya kasar melihat pemandangan yang sangat indah di depannya.


Posisi Rena yang tiduran membuat rok selutut yang dia kenakan tersibak ke atas hingga menampilkan paha mulusnya yang sangat menggoda iman Dito.


"Loh kamu," kaget Rena saat melihat ternyata yang masuk ke dalam kamar itu Dito bukan pembantunya.


Rena pun buru buru beranjak duduk dan merapikan pakaiannya lagi.


"Iya lah emang siapa lagi kalau bukan aku, kan kamu sendiri yang bilang kalau aku ini babu kamu." balas Dito meletakkan nampan yang dia bawa ke atas meja yang ada di dalam kamar Rena.


"Ah iya sangat kebetulan sekali kalau kamu ada di sini," senang Rena saat teringat akan sesuatu.


"Kok perasaan ku jadi gak enak gini ya," batin Dito yang melihat senyum aneh dari bibir Rena.


"Kalau gitu aku pergi dulu ya, nikmati belajarnya sambil makan camilan," pamit Dito hendak pergi dari sana sebelum keluar sesuatu dari bibir Rena.


"Tunggu mister," ucap Rena menahan kepergian Dito.


"Iya, ada yang bisa aku bantu lagi?" balas Dito bertanya.


"Emm... kan yang ngasih tugas mister nih, boleh gak kalau aku sama Kiki minta mister agar membantu mengerjakan pekerjaan kita." pinta Rena.


Tuh kan benar, apa yang Dito takutnya beneran terjadi. Tadi seharusnya dia membiarkan saja bibi yang membawa camilan sama minuman itu ke sini agar dia tidak mendapatkan masalah seperti ini.


"Gimana mister, bisa kan?" ucap Rena meminta jawaban.


"Emm... itu anu, emm... mana bisa saya membantu kamu mengerjakan tugas itu sedangkan tugas itu dari saya sendiri, nanti yang ada malah kamu melakukan kecurangan." balas Dito gagap.


"Tapi kan sekarang mister jadi babu aku, jadi harus bisa dong turutin permintaan aku." balas Rena memaksa agar Dito mau membantunya mengerjakan tugas kelompok.


"Aduh saya baru ingat kalau ada meeting bersama klien setelah pulang dari kampus, kalau gitu aku pamit pergi dulu ya, byee... semangat kerja kelompoknya." Dito segera berlari dari kamar Rena dan tak lupa dia juga menutup pintu kamar Rena kembali.


"Hufft...." lega Dito saat sudah berada di luar kamar Rena.


Bukannya tidak mau membantu Rena, tapi ini tugas dari dirinya sendiri yang ada nanti malah dia memperlakukan semua muridnya tidak adil.


Ya kalau tugasnya dari dosen yang lain mungkin Dito masih bisa mempertimbangkan untuk membantu Rena mengerjakan tugas.


Dito pun segera pergi dari rumah Andrew, dia beneran akan menghadiri acara meeting dengan klien, sehingga setelah pulang dari rumah Andrew dia langsung pergi ke kantor miliknya.


Sementara itu di kamar Rena dia tengah merenggut kesal lantaran Dito tidak bisa membantunya.


"Awas aja nanti bakal aku tambah waktu buat dia jadi babu aku, siapa suruh menolak permintaan aku." gumam Rena kesal lantaran Dito tidak bisa membantunya.


...***...