
Sampai di tempat meeting, tepatnya di sebuah hotel bintang lima. Dito segera menggandeng tangan Rena untuk segera memasuki hotel dan menuju kamar yang sudah kliennya siapkan.
"Kita mau kemana, mister gak lagi ingin macam macam sama saya kan?" tanya Rena panik sekaligus takut kalau sampai dosennya ini akan melakukan hal hal yang tidak tidak kepada dirinya.
"Kamu kira saya lelaki apaan, udah kamu ikuti saya aja." balas Dito sambil terus berjalan sambil menarik tangan Rena menuju sebuah kamar hotel.
Klik.
Sampai di depan pintu kamar hotel, Dito segera membuka pintu itu menggunakan kartu yang sudah di punya. Dan setelah pintu terbuka merekapun segera masuk ke dalam sana.
Rena semakin was was, bahkan dia juga sudah menyiapkan berbagai macam rencana untuk kabur kalau memang dia hendak di lecehkan oleh dosennya nanti.
"Selamat datang tuan Dito." sapa seseorang membuat lamunan Rena buyar.
Di sana terlihat seorang wanita yang berpenampilan kurang bahan. Rena yang melihat itupun ingin rasanya dua tertawa, karena meskipun orang itu mengenakan pakaian sexy tapi gak ada kesan sexy di tubuh wanita itu karena memang tubuhnya yang sangat kurus seperti kurang makan.
"Terimakasih nona." balas Dito ramah.
Dito semakin erat memeluk pinggang Rena, bahkan jarak antara dirinya dengan Rena pun seperti tidak ada jaraknya satu centi pun.
"Ah iya silahkan duduk." wanita itu mempersilahkan Dito untuk duduk.
Dito pun datang duduk di sofa yang panjang, dia sengaja memilih sofa itu agar dia bisa duduk berdempetan dengan Rena.
Sementara wanita itu, terlihat dari raut wajahnya terlihat kesal. Dia cemberut dan dengan kasar menjatuhkan bokongnya di atas sofa singel yang berada di sebelah Dito.
"Lama tidak bertemu tuan, bagaimana kabar anda?" tanya wanita itu ramah kepada Dito.
"Kabar saya baik nona, bagaimana dengan anda?" balas Dito balik bertanya.
"Saya juga baik tuan, apalagi setelah bertemu dengan anda." balas wanita itu dengan pandangan genit menatap Dito yang membuat tangan Dito semakin erat memegang pinggang Rena.
Rena yang ada di sana pun merasa tidak di anggap, dia juga bisa merasakan pegangan di pinggangnya semakin erat. Sekarang Rena jadi mengerti mengapa Dito mengajak dirinya ketika ingin bertemu dengan klien ini, pasti itu karena wanita itu sangat ganjen.
"Eemm... mari kita bahas kerjasama kita nona, karena setelah dari sini saya juga masih akan bertemu dengan klien." ucap Dito agar mereka segera membahas kerjasama di antara mereka.
"Kenapa buru buru tuan, jadwal selanjutnya kan bisa di pending, kapan lagi coba kita bisa bertemu seperti ini, bukankah sangat jarang." balas wanita itu sambil tangannya membenarkan baju lengan Sabrina nya agak kebawah, sehingga membuat p***d*** nya yang tidak begitu besar menjadi terlihat.
"Maaf tidak bisa nona, karena ini adalah kerjasama yang sangat penting." balas Dito.
Tentunya itu adalah sebuah kebohongan, dia setelah ini tidak ada pertemuan lagi, mungkin dia akan mengajak Rena jalan jalan setelah meeting ini selesai.
"Ah, seperti itu ya." balas wanita itu dengan raut wajah yang dia buat seolah olah tengah sedih.
"Benar nona, mungkin lain kali kita bisa bertemu." balas Dito.
Dalam hati Dito dia mengerutuki mulutnya yang main asal ceplos saja, kalau seperti inikan dia jadi seperti memberikan peluang.
"Baiklah kalau seperti itu, mari kita bahas." balas wanita itu yang sekarang raut wajahnya kembali berseri setelah tadi redup.
Rena yang merasa tertantang pun ingin rasanya dia memberikan pelajaran buat wanita itu.
"Sayang ini kenapa udaranya panas banget ya, " keluh Rena sambil mengibaskan tangannya di depan dadanya.
Dan setelah itu dia membuka beberapa kancing teratas baju yang dia kenakan sehingga memperlihatkan bongkahan padat yang sangat menggoda iman.
"Sit." umpat Dito dalam hati setelah melihat penampilan Rena yang sangat menggoda.
...***...
"Check in?" ucap klien Dito mengernyitkan dahinya.
"Iya check in, pasti anda tahulah secarakan anda itu tinggal di negara bebas." balas Rena menatap orang itu.
"Ah iya, saya kira kalian ini pasangan yang biasa." balasnya.
"Biasa, bagiamana bisa pacar saya ini mana tahan dengan tubuh saya yang sangat sexy ini," balas Rena dan dengan sengaja membusungkan dadanya sehingga terlihat semakin besar.
"Sitt. Nih anak makin nakal ya." batin Dito yang malah semakin tersiksa dengan tingkah Rena.
"Ah iya anda benar nona, tuan Dito kan laki laki normal, benar begitu tuan?" dalam hati klien Dito dia berharap Dito menjawab tidak, tapi sepertinya ekpektasi nya terlalu tinggi.
"I-iya nona benar, saya laki laki normal jadi sangat wajar kalau saya sangat tergoda dengan tubuh calon istri saya." balas Dito sambil tangannya merangkul pinggang Rena lagi dengan posesif sehingga membuat klien itu panas.
"Emm... apakah belum selesai membacanya tuan, saya ada urusan sebentar lagi jadi mohon segera di tanda tangani." ucap klien Dito.
"Oh sudah kok, ini akan saya tanda tangani." Dito pun mulai membubuhkan tanda tangan di atas materai.
Selesai tanda tangan, Dito pun segera pamit dari sana. Saat berjalan keluar dari dalam kamar hotel, dengan sengaja Rena memeluk lengan Dito posesif, bahkan dengan sengaja dia menempelkan dadanya di lengan Dito.
Sedangkan Dito, dia berusaha menahan dirinya agar tidak tergoda, tapi itu sulit nyatanya sekarang adiknya malah sudah dalam mode on.
"AAGRR... si*Al, ternyata dia sudah mempunyai wanita, mana wanita itu lebih sexy lagi dari aku, akun harus mencari pria lain." teriak klien Dito tadi kesal karena rencana dia untuk mendapatkan Dito gagal karena Dito sudah mendapatkan wanita yang lebih dari dirinya.
Wanita itupun segera pergi dari hotel itu karena dia tidak tahan berada di sana, mana seingatnya tadi Dito dan calon istrinya itu hendak check in lagi, dia takut kalau dia tidak biasa menahan diri untuk tidak emosi.
Sementara itu di posisi Dito dan Rena, setelah sampai di dalam lift Rena langsung melepaskan tangan Dito dengan kasar, bahkan dia juga kembali mengancingkan bajunya.
"Mau check in berapa malam?" tanya Dito tiba tiba menghentikan pergerakan Rena.
"Maksud anda?" Tanya Rena yang sudah kembali ke mode awal.
"Tadi katanya kamu ngajak aku check in, ayo kalau gitu kamu mau berapa malam." jelas Dito.
"Astaga mister, jadi anda menganggap ucapan saya tadi serius, padahal saya tadi cuma mendalami peran aja loh." balas Rena.
"Saya tahu, tapi kamu sudah berhasil membuat sesuatu yang ada dalam diri saya bangun, jadi kamu harus bertanggung jawab. Ayo kita pesan kamar." ajak Dito.
"Anda jangan gila mister, saya ini mahasiswa anda." Rena mulai ketar ketir karena Dito menatapnya beda tidak seperti biasanya.
Dito berjalan mendekati tubuh Rena, dan Rena pun mundur untuk menghindari Dito hingga sampai di pojok lift barulah Rena tak bisa berkutik lagi.
Ting.
Rena sangat bersyukur, karena di saat seperti ini pintu lift malah berpihak kepadanya.
"Kamu sudah membuat saya on, apalagi dari tadi kamu selalu menempelkan dada kamu yang sangat menggoda itu ketika lengan saya, saya laki laki normal jadi kamu harus tanggung jawab." bisik Dito dan segera menyingkir dari hadapan Rena.
Rena yang mendapatkan peluang pun segera berlari keluar dari dalam lift untuk menghindari Dito.
"Dasar kucing kecilku yang sangat lucu." gumam Dito dan mengejar Rena.
...***...