
Setelah menitipkan mobil, Dito langsung mengajak Rena menuju tempat yang akan mereka tuju.
Mereka berjalan beriringan hingga dengan perasaan Rena yang tidak menentu. Dia teringat dengan masa masa dulu saat bersama dengan sang mantan kekasih.
Hingga sampai di lokasi, Rena tak mengatakan apapun, dia hanya memandangi air terjun tersebut dengan pandangan yang kosong.
"Gimana kamu suka gak?" tanya Dito menatap Rena.
Rena hanya menjawab sekenanya saja, dia menganggukkan kepalanya tapi tak mengalihkan pandangannya dari arah air terjun.
"Kita main sir yuk." ajak Dito.
Rena menggelengkan kepalanya pertanda menolak ajakan Dito.
"Kenapa? Kamu gak perlu khawatir soal baju ganti aku sudah menyiapkan di mobil kok."
"Bukan soal itu, tapi...." Rena menjeda ucapannya, dia teringat di mana dia dulu bermain di tempat itu bersama Dito.
Tak ada yang berubah dari tempat itu, pemandangan dan kesejukan udaranya masih sama sehingga membuat Rena kembali memutar memori yang ada di dalam otaknya.
"Tapi apa?" tanya Dito menghadap Rena.
Tes.
Satu tetes air mata Rena terjatuh, dan di susul air mata yang lainnya lagi.
"Kamu kenapa nangis, apakah aku ada salah sama kamu, apa kamu tidak suka dengan tempat ini?" Dito panik saat melihat Rena menangis.
Rena hanya menggelengkan kepalanya saja, dia terduduk dan menangis sejadi jadinya di sana.
Dia meluapkan semua rasa yang dia simpan selama ini setelah kepergian sang mantan kekasih.
Dia merindukan Dito, dia sangat sangat merindukan Dito.
"Hiks hiks hiks." hanya suara tangisan yang keluar dari bibir Rena, dia tidak mengatakan apapun kepada Dito yang panik melihat keadaannya yang tiba tiba menangis.
"Kamu kenapa, kalau kamu ada masalah kamu bisa cerita sama aku, siapa tahu aku bisa bantu kamu?" tanya Dito lembut.
"Kenapa hiks, kenapa di saat masalahnya sudah selesai dia malah memilih pergi meninggalkan aku di sini. Aku selalu menunggu dia kembali, tapi sampai beberapa tahun tak ada kabar dari dia, hiks hiks. Aku rindu, aku sangat rindu kepadanya, hiks hiks." tangis Rena.
Deg.
Hati Dito rasanya sakit, ternyata dia alasan kenapa Rena menangis. Ternyata kepergiannya selama ini meninggalkan luka untuk orang yang dia sayang, dia kira selama ini Rena baik baik saja, tapi ternyata dia salah.
"Maaf," ucap Dito dan langsung menarik Rena ke dalam pelukannya.
Rena tidak memberontak, dia diam saja dan terus menangis dalam pelukan Dito. Entah Rena merasa nyaman saat berada dalam pelukan dosennya itu, dan entah apa maksud dosennya tadi mengucapkan kata maaf, padahal ini bukan salah dia, pikir Rena.
"Menangislah kalau itu bisa membuat kamu jadi lebih tenang, luapkan semua apa yang kamu pendam selama ini, agar hati kamu terasa tenang." ucap Dito sambil mengelus punggung Rena.
"Di tempat ini, aku pernah bermain sama dia, dan di tempat ini pula cinta kita di mulai." ucap Rena menceritakan masa lalunya.
"Iya aku tahu ren, aku tahu. Maaf belum bisa jujur sama kamu untuk sekarang ini." batin Dito sambil terus mengelus punggung Rena agar dia tenang.
"Aku kangen sama dia, apakah dia sudah melupakan ku dan hidup bahagia dengan orang lain di sana sehingga membuat dia lupa dengan diriku yang ada di sini?" lanjut Rena.
"Tidak sayang, tidak. Aku tidak pernah melupakan kamu, aku setia dengan kamu dan aku sudah kembali ke sini." balas Dito tapi itu hanya dalam hatinya saja.
...***...
Buat yang penasaran dengan masalah mereka kenapa bisa putus yuk baca cerita Si Penipu Pacar Tuan Psikopat 🥰