Rena Dito

Rena Dito
#18



"Ren ini di minum dulu, loh kok...." Dito menggantungkan ucapannya saat melihat Rena berdiri dengan kokoh sambil memandangi papan skor bola basket.


"Terimakasih, coba liat skor aku lebih banyak dari pada punya kamu, itu artinya mulai besok sampai Minggu depan kamu harus jadi asisten aku, ehh salah, lebih tepatnya babu aku." balas Rena menekankan kata babu, tapi tak urung dia juga mengambil air minum yang Dito berikan kepadanya.


"Mana bisa begitu, kamu curang mainnya waktu aku gak ada." balas Dito tak terima.


"Ya bodo amat, dalam permainan ini kan gak ada peraturannya, pokoknya yang memasukkan bola paling banyak ke dalam keranjang dialah pemenangnya, dan aku yang paling banyak, itu artinya aku pemenangnya di sini." balas Rena.


"Huh baiklah," ngalah Dito dari pada harus berdebat dengan Rena.


Toh nanti dia juga dapat untung juga, nanti dia bisa puas puasan berdekatan dengan Rena. Dito juga harus bisa memanfaatkan momen ini sebaik mungkin, pokoknya dalam satu Minggu ini dia harus bisa menggambil hati Rena.


"Nah gitu dong, itu baru laki laki, masak laki laki gak mau tepati janjinya sih," balas Rena senang.


"Baik tuan putri, mari silahkan anda mau main apa lagi, mumpung saya lagi berbaik hati khusus hari ini saya akan menemani tuan putri untuk main sepuasnya di sini." ucap Dito.


"Emmm... aku mau main apa lagi ya, sepertinya udah, tapi aku seperti ingin membeli sesuatu, kamu mau kan beliin?" pinta Rena.


"Baik untuk hari ini juga saya akan mentraktir tuan putri sepuasnya, karena hari ini adalah hari spesial untuk tuan putri." balas Dito menuruti permintaan Rena.


"Yes, dapat gratisan lagi." sorak Rena senang.


"Ya udah kalau gitu ayo kita pergi, pokoknya apapun nanti yang mau aku beli kamu harus siap membayarnya." ucap Rena sambil menyeret tangan Dito keluar dari Timezone.


"Siap tuan putri." balas Dito.


"Nah lo rasain, salah sendiri tadi janji mau belanjain aku sepuasnya, jadi miskin kan lu." batin Rena tertawa karena sudah berhasil memorotin Dito.


"Aku senang kalau kamu minta beliin aku ini itu seperti ini, itu tandanya tidak sia sia aku selama ini bekerja keras supaya bisa membuat hidup kamu enak seperti ini." batin Dito yang berbanding terbalik dengan apa yang Rena kira.


"Apakah kita sudah mau pulang?" tanya Dito dengan tangan yang penuh dengan belanjaan Rena.


"Kenapa, pasti kamu takut kalau aku pengen minta beliin barang lagi ya?" tebak Rena.


"Enggak kok, kalau masih kurang beli aja gak papa tapi ini barang barangnya aku taruh di mobil dulu, soalnya berat." balas Dito.


"Halah alasan, bilang aja kalau uang kamu sudah menipis." balas Rena.


"Kalau kamu gak percaya kamu bisa pegang kartu saya ini, nanti pinnya tanggal lahir aku." balas Dito yang malah menyodorkan kartu kredit miliknya.


"Ehh gak usah, udah ayo kita pulang aja aku udah capek." balas Rena yang malah mengajak Dito pulang dan menolak ATM yang akan Dito berikan kepadanya tadi.


"Kamu yakin gak mau nambah lagi, mumpung aku lagi baik hati loh." Tanya Dito sebelum mereka sampai di parkiran mall.


" Udah ayo ah lama deh kalau jalan." ucap Rena yang tak menghiraukan apa yang Dito katakan.


Rena menarik tangan Dito agar mereka segera sampai di parkiran dan setelah itu mereka pun pulang menuju rumah Andrew.


...***...