
"Kita mau kemana sih?" tanya Rena penasaran.
Sedari tadi Rena sudah bertanya akan di ajak pergi kemana, tapi dito hanya menjawab akan mengajak Rena ke suatu tempat yang akan membuat Rena senang.
Mendengar itupun semakin membuat Rena penasaran, tempat mana yang bisa membuat Rena senang, karena bagi Rena tak ada lagi tempat yang menyenangkan setelah cintanya pergi.
"Sudah nanti kamu juga akan tahu, pokoknya aku jamin kamu bakalan senang kalau sudah ada di sana nanti." jawab Dito yang lagi lagi jawabannya sama seperti tadi saat Rena bertanya dengan pertanyaan yang sama.
"Iih...." kesal Rena.
Rena melipat tangannya di depan dada dan mengalihkan pandangannya ke luar jendela, dia kesal dengan Dito yang tidak mau memberi tahu dirinya.
"Cantik banget sih kalau lagi kesal gitu, jadi makin cinta deh." batin Dito, tentunya itu hanya berani dia ucapkan dalam hati, mana berani dia ngomong langsung kepada Rena, nanti yang ada Rena akan curiga kepadanya.
Mobil Dito terus melaju hingga sampai memasuki perkampungan yang sangat Rena ingat tempat itu, tempat dimana dia dulu hidup dengan sengsara sebelum dia bertemu dengan cinta pertamanya.
"Mister ini kita ngapain ke sini?" tanya Rena pura pura tidak mengenali tempat itu.
"Aku mau ngajak kamu ke air terjun yang ada di sana, kata temen temen dosen di kampung ini ada air terjun yang masih sangat murni jadi aku kepikiran buat ajak kamu pergi ke sini." jawab Dito, tentunya itu adalah sebuah kebohongan.
Nyatanya dia tahu sendiri tempat itu dari Rena, bukan dari temen-temen dosennya.
"Lalu kenapa mister harus mengajak aku, mister kan bisa ajak pacar mister." balas Rena.
"Aku gak punya pacar, tapi aku punya orang yang sangat aku cintai. Dan mengapa aku mengajak kamu, itu biar kamu gak pusing mikirin tugas kamu yang jadi asisten aku, kamu kan juga butuh refreshing jadi aku ajak kamu pergi ke sini agar pikiran kamu tenang dan gak marah marah terus." jelas Dito.
Rena menggangukkan kepalanya pertanda mengerti, "Kenapa mister tidak mengajak orang yang mister cintai saja, dia kan juga pasti sama butuh refreshing." heran Rena.
"Dia belum tahu kalau aku ada di sini, yang dia tahu aku ada di luar negri." jawab Dito sambil memandang Rena dengan senyuman yang tak pernah luntur dari wajah tampannya.
"Ya bisa dibilang seperti itu," balas Dito mengiyakan.
Terlalu asik ngobrol, hingga tiba saatnya mobil Dito berhenti di depan sebuah rumah yang dulu sering Dito titipi mobil ketika dia datang ke rumah Rena yang masih ada di kampung.
Kampung itu tak banyak berubah meskipun sudah beberapa tahun mereka tidak pernah datang ke sana, yang berubah mungkin hanya rumah orang orang yang semakin bagus.
"Mister parkir di sini?" tanya Rena.
"Iya, katanya kalau bawa mobil tidak bisa di bawa masuk, dan mumpung ini halaman rumahnya luas jadi gak ada salahnya kan kalau aku parkir mobil di sini, dari pada parkir di pinggir jalan, nanti yang ada malah ganggu pengendara yang lainnya." balas Dito.
Rena diam, dia mengingat saat saat dia bersama Dito kekasihnya dulu. Rena sangat ingat dulu Dito selalu memakirkan mobilnya di depan rumah ini ketika datang ke rumahnya.
"Ren, RENA." pangil Dito sambil menggoyangkan lengan Rena.
"Hah, iya kenapa?" kaget Rena.
"Kamu kok melamun sih?" tanya Dito.
"Ah enggak kok, itu tadi aku cuma kepikiran sesuatu aja." balas Rena.
"Ooh, ya sudah ayo kita keluar, kita temui pemilik rumahnya dulu buat minta izin titip mobil." ajak Dito dan di angguki Rena.
Mereka berdua pun keluar dari dalam mobil dan langsung berjalan menuju pintu rumah yang ada mobil Dito di halamannya.
...***...