
Sampai jam kuliah berakhir, Rena tak menampakkan dirinya di hadapan Dito, bahkan saat Dito menghubungi Rena pun tak Rena respon karena Rena sangat kesal dengan Dito.
"Ehh ren dari tadi Mr Dito hubungi lu tuh, gak lu angkat apa?" ucap Kiki pada Rena yang tengah makan mie ayam.
"Bodo." balas Rena acuh dan tetap melanjutkan makan mie ayam miliknya.
Saat ini mereka berdua tengah berada di kantin universitas, sebelum pulang Rena mengajak Kiki untuk mengisi perut terlebih dahulu karena dia sudah sangat kelaparan.
"Emang lu gak takut apa kalau sampai nanti nilai lu beneran seperti telur?" tanya Kiki yang perhatian, takut kalau nilai Rena jelek dan nanti gak bisa wisuda bersama.
"Gue kesel banget Ki sama tuh dosen, lu tahu sendirikan kalau gue itu tiap hari bangunnya jam berapa, jadi tadi pagi tuh gue merasa terganggu banget." balas Rena yang jadi kesal kembali karena mengingat kejadian tadi pagi.
"Ya udah si Ren, lagian juga kita mana tahu sih kalau akan ada musibah yang menimpa Mr Dito, seperti lu waktu itu yang katanya ban mobil lu bocor, kan lu juga tidak tahu. Terus waktu itu juga kan handphone lu mati, jadi mungkin kejadiannya seperti itu, jadi lu harus buka pikiran lu, jangan berfikir yang negatif mulu, nanti yang ada malah nilai lu yang akan menjadi taruhannya." jelas Kiki panjang lebar agar Rena sadar dan tidak menyia-nyiakan kesempatan yang Mr Dito berikan.
"Bener juga kata lu, thanks ya lu udah jadi sahabat yang baik banget buat sama gue, tapi untuk kali ini gue mau healing dan terbebas dari tuh dosen, dan besok gue akan minta maaf, gampang kan." balas Rena membuat Kiki menepuk jidatnya tak habis pikir dengan Rena.
"Serah lu deh ren, tapi nanti kalau sampai nilai lu jelek jangan nangis nangis sama gue ya, gue udah ingetin lu, awas aja nanti." Kiki jadi ikutan kesal juga jadinya.
Bisa bisanya Kiki bertahan mempunyai teman seperti Rena, padahal di luaran sana masih banyak orang yang lebih baik dari Rena.
Rena tak menghiraukan Kiki, dia kembali menyantap mie ayam miliknya hingga ludes tak tersisa, yang pastinya dengan di temani handphonenya yang terus bergetar karena ada telepon masuk, siapa lagi kalau bukan telfon dari Mr Dito.
...**...
Sedangkan itu, Dito yang saat ini berada di parkiran pun terus mencoba untuk menghubungi Rena karena dia akan mengajak Rena untuk pergi ke perusahaan yang baru buka kemaren.
"Ini Rena kemana sih, kok telfon aku gak di angkat angkat." ngedumel Dito karena telfonnya tidak di angkat juga oleh Rena.
Dito terus mencoba untuk menghubungi Rena, bahkan dia juga sudah mengirimkan beberapa pesan kepada Rena yang isinya lebih banyak ancaman ancaman dan berharap Rena akan membacanya.
Tapi semuanya nihil, tak ada jawaban dari Rena, bahkan di read aja tidak padahal sudah centang dua abu abu.
"Aku harus mencari dia kemana ini." bingung Dito.
Terlintas dalam otak Dito untuk menghubungi teman Rena, tapi dia tidak punya nomornya.
"Apa aku minta sama mahasiswa yang ada di sana aja ya, kayaknya itu satu kelas deh sama Rena sama Kiki juga." gumam Dito yang melihat sekumpulan mahasiswa yang sepertinya tengah bergosip ria.
"Iya aku harus minta sama mereka." Dito pun keluar dari dalam mobil untuk menghampiri beberapa mahasiswa itu dan meminta nomor Kiki kepada mereka.
...**...
"Kamu ini kemana saja hah, dari tadi saya cari baru muncul sekarang." tanya Dito saat Rena sudah sampai di depannya.
"Ya maaf mister, saya kan lapar jadi ya cari makan lah." balas Rena ngeles.
"Halah alasan mulu, ayo cepat masuk mobil kita sudah telat." ajak Dito membukakan pintu mobilnya agar Rena segera masuk.
"Saya bawa mobil sendiri aja ya mister," tawar Rena.
"Huh, baiklah." akhirnya Rena pun dengan berat hati masuk ke dalam mobil Dito.
Dan setelah Rena masuk, Dito pun segera masuk dan mulai menjalankan mobilnya pergi meninggalkan parkiran kampus.
Tadi setelah mendapatkan nomor telepon Kiki dari mahasiswa yang satu kelas dengan Rena, Dito langsung menghubungi Kiki dan bertanya keberadaan Rena sekarang.
Dan dengan polosnya Kiki memberitahu keberadaan Rena sekarang, tapi Dito tak ingin buang buang waktu untuk datang ke sana, sehingga dia menyuruh Kiki untuk bilang kepada Rena kalau dirinya menunggu di parkiran.
Tak lupa juga Dito memberikan ancaman kepada Kiki, kalau sampai Kiki berhasil membuat Rena datang kepadanya, maka dia akan memberikan nilai plus kepada Kiki, tapi kalau sampai Kiki gagal, Dito akan mengurangi nilai Kiki.
Kiki yang memang anaknya tidak ingin nilainya jelek pun berusaha meyakinkan Rena agar Rena mau datang menemui Dito, dan dengan berbagai cara dia lakukan hingga akhirnya Rena mau datang menemui Dito.
Kita mau kemana sih mister?" tanya Rena saat mereka dalam perjalanan.
"Saya ada ketemuan dengan klien tapi saya tidak ingin datang sendirian karena sekertaris saya sedang sibuk di perusahaan, jadi saya memutuskan untuk mengajak kamu." jelas Dito.
"Hah, jadi kita mau meeting gitu?" tanya Rena.
"Ya, kira kira seperti itu." balas Dito.
"Kok mister Gak bilang dari tadi sih, masak saya mau ikut anda meeting pakai kayak gini sih?" Rena mengamati penampilannya yang tidak ada kesan formal formalnya.
"Ya gak apa apa lah, kamu kan cuma nemenin aku meeting dan berperan sebagai kekasih aku, ya kalau kamu jadi sekertaris aku kamu harus pakai pakaian formal." balas Dito.
"Enak aja, kita gak pacaran ya." protes Rena.
"Kamu ingatkan yang kemaren waktu acara pembukaan cabang perusahaan, jadi kamu harus melakukan peran sebagai kekasih ku hari ini agar klien ku gak ada yang kegatelan sama aku." jelas Dito.
Ah iya, Rena baru ingat kalau kemaren Dito mengenalkan dirinya dia hadapan banyak orang sebagai kekasihnya, dan apa tadi klien kegatelan? Haloo emang ada klien yang seperti itu, dasar Dito kepedean. batin Rena.
"Udah pokoknya nanti kamu hanya perlu bersikap layaknya kekasihku saja, nanti kalau di tanya apa apa jawab aja iya." lanjut Dito.
"Harus banget ya mister?"
"Ya haruslah, oh iya satu lagi, nanti di sana kamu jangan panggil saya mister lagi, pangil panggilan sayang atau apa gitu, dan jangan pakai bahasa formal." tambah Dito.
Rena diam saja, dia berfikir haruskah dia melakukan hal itu. Dia jadi merasa bersalah kepada seseorang di masa lalunya.
Rena sudah berjanji akan menjaga hati dari pria manapun dan akan setia menunggu kekasih hatinya yang sudah pergi meninggalkan dirinya karena sebuah kesalahan yang dia buat.
Dulu Rena memang marah, tapi setelah abangnya menceritakan bagaimana kalau Dito benar benar mencintai dirinya dan sudah tobat membuat Rena jadi memaafkan Dito dan menunggu kepulangan Dito hingga sekarang.
Bahkan dia juga sampai berubah agar tidak ada lagi laki laki yang mau dengan dirinya sebelum Dito kembali. Dan di saat itu, dia berjanji akan berubah lagi menjadi Rena yang seperti dulu.
...***...