
Dito tidak langsung pulang kerja rumahnya, melainkan dia pergi ke perusahaan RH'G company, tempat di mana Richard berada saat ini.
"Permisi ruangan tuan Richard di mana ya?" tanya Dito menghampiri meja resepsionis.
"Apakah anda sudah membuat janji dengan tuan Richard?" balas resepsionis perempuan itu bertanya.
"Sudah, katakan saja kalau ada Dito datang." jawab Dito.
"Baik silahkan di tunggu sebentar kami akan segera menghubungi sekertaris tuan Richard." balas resepsionis itu dan mulai menghubungi Ethan.
Lama Dito menunggu, dan setelah resepsionis itu selesai menghubungi Ethan barulah Dito di persilahkan menaiki lift untuk menuju lantai di mana ruangan Richard berada.
"Tuan di persilahkan naik ke lantai 20, di atas nanti sudah ada tuan Ethan yang akan menyambut anda." ucap resepsionis itu mempersilahkan Dito untuk pergi ke lantai 20.
"Baik, terimakasih." balas Ethan dan segera pergi menuju lift untuk pergi ke lantai 20.
"Selamat datang di negara tercinta, lama kita tak bertemu." ucap Ethan menyambut kedatangan Dito di depan pintu lift.
"Kak Ethan sendiri yang gak pernah datang ke sana," balas Dito setelah keluar dari lift.
Mereka berpelukan layaknya laki laki dan setelah itu Ethan langsung mengajak Dito untuk pergi ke ruangan Richard.
"Pasti tuan Richard akan senang karena kau sudah kembali." ucap Ethan mengajak Dito berbicara.
"Kayaknya biasa aja deh, soalnya dia sudah tahu kedatanganku." balas Dito.
"Kau salah, tuan Richard sangat menunggu kedatanganmu karena dia yakin kau bisa merubahnya sifat adiknya agar kembali lembut seperti dulu."
"Oh kalau soal itu sih aku udah tahu, ya meskipun ada maunya tapi aku senang karena bisa bersama dengan Rena lagi." balas Dito.
Kedatangan Dito memang sudah di rencanakan oleh Richard, Richard yakin dengan adanya Dito pasti nanti Rena bisa kembali lagi seperti dulu.
Dan Dito pun senang senang saja karena dia juga sudah sangat merindukan Rena dan dia juga sudah menyiapkan semuanya terutama untuk menghadapi Rena yang sekarang.
"Aku heran kenapa Rena bisa berubah seperti ini, padahal dulu dia adalah wanita yang sangat lembut." balas Ethan.
"Entahlah mungkin ada sesuatu yang membuat dia menjadi seperti ini." balas Dito.
"Ya udah yuk kita masuk." lanjut Dito saat mereka sudah ada di depan pintu ruangan Richard.
Mereka berdua pun membuka pintu ruangan Richard dan terlihat di sana tengah sibuk dengan pekerjaannya.
"Selamat siang tuan Richard Halmiton Ghilbert." ucap Dito membuat Richard yang tadi tengah sibuk pun mendongakkan kepalanya dan tersenyum saat melihat siapa yang datang.
"Kau sudah sampai rupanya, selamat datang di negara ini. Lama kau tinggal di sana wajahmu semakin ganteng saja." Richard melepaskan kaca matanya dan berdiri untuk menyambut tamunya yang datang dari jauh.
"Apakah tuan lupa kalau saya ini melakukan operasi plastik makanya wajah saya jadi tampan seperti ini." balas Dito menggunakan bahasa formal.
"Ah iya, Tan sepertinya kau juga harus ikutin Dito buat operasi deh, biar wajahmu bagusan dikit." saran Richard pada Ethan.
"Jangan sembarangan anda tuan, wajah saya ini sangat tampan makanya istri saya sangat tergila gila kepada saya." balas Ethan pede.
"Cih, kalian berdua ini apakah sedang menghina aku karena melakukan operasi plastik?" decih Dito yang merasa kedua orang di depannya ini tengah mengejek dirinya.
"Hahaha sepertinya kau sadar, udah ayo kita duduk dulu pegel lama lama berdiri di sini." ajak Richard.
"Diamlah atau kau mau aku deportasi dari negara ini." garang Richard.
"Hahaha... sepertinya bapaknya Jennifer mulai sensitif." tawa Dito.
"Kau kalau ngomong suka bener dit, dia emang semakin hari semakin sensi, entah apa yang terjadi mungkin saja dia jarang di kasih jatah sama nyonya Diandra." balas Ethan yang setuju dengan apa yang Dito katakan.
"Kalian berdua silahkan pilih mau tinggal di negara mana." ucap Richard membuat keduanya pun terdiam karena takut Richard akan mengasingkan mereka berdua di negara yang terpencil, ya walaupun itu tidak mungkin tapi tetap saja mereka langsung diam.
"Tan suruh OB belikan makanan untuk kita, kita makan siang bersama di sini." perintah Richard pada Ethan.
"Baik tuan." balas Ethan.
"Kenapa kita tidak makan di luar saja?" tanya Dito.
"Aku lagi malas keluar, udah kita makan di sini saja." balas Richard.
Ethan pun segera menghubungi kepala office boy agar membelikan makanan untuk mereka bertiga, dan setelah itu dia langsung bergabung dengan Richard dan Dito yang tengah berbincang bincang.
"Gimana perusahaanmu yang ada di sana, apakah kau akan memindahkan kantor pusatnya di sini?" tanya Richard.
"Sepertinya tidak, aku akan membuat cabang di sini saja biarkan pusatnya tetap ada di sana. Kalau di sini nanti ada saingannya perusahaan Abang kan kalau di sana saingannya orang lain jadi aku bisa bersaing dengan licik, kalau di sini mana bisa yang ada aku malah kalah." jawab Dito.
"Kau benar sekali dit, jangan pernah mendirikan pusat perusahaan di negara ini kalau gak mau menjadi perusahaan kecil di bawah perusahaan RH'G company ini." setuju Ethan.
"Nah kan, makanya itu mending cabangnya aja yang ada di sini pusatnya tetap di sana nanti mungkin satu bulan sekali aku akan datang ke sana." balas Dito.
"Begitu juga baik, aku percaya kalau kau mampu membesarkan perusahaanmu sampai menembus kaca dunia." timpal Richard.
"Sepertinya itu agak susah, mengingat kalau di negara sana juga saingannya sangat berat berat." balas Dito.
"Kau harus yakin, nanti kalau ada kesulitan kau bisa bertanya kepadaku ataupun Ethan, kita berdua akan membantumu." balas Richard.
"Terimakasih bang, terimakasih karena Abang sudah mau memaafkanku dan mau membantu hidupku." ucap terimakasih Dito kepada Richard.
Kalau bukan karena Richard mungkin dia juga tidak akan menjadi siapa siapa lagi setelah apa yang terjadi kepadanya dulu.
"Kau ini kan aku sudah bilang kalau kita ini saudara jadi harus saling membantu satu sama lain." balas Richard merangkul pundak Dito.
Tok tok tok.
Saat mereka sedang berbincang bincang, terdengar suara pintu ruangan Richard di ketuk dari luar. Ethan pun segera beranjak untuk membukakan pintu, karena dia sudah menebak pasti yang mengetuk pintu itu adalah OB yang membelikan makanan untuk mereka bertiga.
"Maaf tuan ini makanan pesanan anda." ucap Office boy memberikan makanan pesanan Ethan.
"Hmm terimakasih, uangnya nanti saya transfer." balas Ethan menerima makanan itu.
"Baik tuan, kalau begitu saya pergi dulu nanti kalau ada perlu lagi bisa langsung hubungi nomor saya." pamit office boy itu.
"Hmm." balas Ethan dan menutup pintu ruangan Richard setelah office boy itu pergi.
...***...