
"Tunjukan pukulanmu!" Pinta Eric dengan wajah menantangiku, aku benci senyuman liciknya.
Aku segera memberi pukulan kepadanya. Sial, dia berhasil menghindar. Aku mengeluarkan pukulan lainnya, tetap sia-sia. Aku akui dia adalah lawan yang sulit.
"Inginku tunjukkan?" Eric masih menantangku.
"Tunjukkan!" Pintaku. Ia tertawa pelan.
Satu pukulan menhampiriku, aku menghindar. Rasanya aku adalah pemenang. Tanpa aku sadari pukulan yang baru ia keluarkan menghantam pipiku. Aku kaget, mataku menatapnya dengan mata terbuka lebar.
Saat aku masih mengatur rasa kesalku, ia berhasil menendangi kaki kananku hingga aku terjatuh. Ia tidak main-main, ini bukan latihan tetapi serangan.
Tak lama ia menyentuh keningku dan ia mulai tertawa. Aku tahu apa yang ia akan lakukan. Tubuhku melemah, sangat lemah dan hanya sanggup untuk berbaring di atas rumput. Aku ingin memaki Eric, tetapi tak ada suara yang bisa aku keluarkan. Tubuhku mulai merasa sakit. Ia memainkan sihirnya.
Ia tak lama memainkan sihirnya. Dengan cepat ia melepas sihirnya. Meskipun sihir itu dilepas dengan cepat, tetap saja aku masih terasa lemas. Rasanya ia membuatku sangat lelah.
"Kau akan pulih selama dua jam lagi." Ucap Eric. Ia mulai duduk di sampingku.
"Tempat ini tak seperti yang ada di duniamu. Tak hanya kuat, tetapi sangat membutuhkan kekuatan."
Aku terlalu malas berbicara dengannya. Ia curang! Tak akan aku maafkan.
"Hanya aku yang bisa mengendalikan sihir itu. Aku akan mengajarkanmu." Lanjutnya.
Aku tak akan melakukan sihir itu. Sihir itu benar-benar jahat. Andai Eric tahu rasa sakit yang pernah aku rasakan karena sihirnya.
....
Hari ke-21
Tanpa terasa, aku telah membuang waktu dan hidupku di Wiender. Setiap hari bertemu Erasmus, setiap jam bertemu Eric dan setiap detik dilayani bagai ratu. Meski telah lama di Wiender, tak sedetik pun aku bertemu dengan keluarga kerajaan.
"Bola matanya sudah berubah?" Tanya Erasmus pada Eric, lagi.
"Tak sedetik pun." Balas Eric.
Seperti biasa, hari ini Eric melatihku hingga aku lelah dan Erasmus terus memaksa bola mataku berubah warna hingga kepalaku hampir pecah.
Aku berbaring di atas rumput yang selalu aku injak. Menatap langit sejuk dan awan putih yang menenangkan. Merasakan angin yang memaksaku untuk tidur.
Cuaca tidak panas dan terasa cukup sejuk karena aku berada dibawah pohon yang berada di tengah tempat ini. Namun, kepala dan punggungku dibasahi oleh keringat. Bayangkan saja aku melakukan latihan bela diri selama sepuluh jam dengan pakaian prajurit yang berbahan kulit dan besi.
Sesuatu mendekatiku.
Aku segera memberikan tendangan yang kuat saat Eric mendekatiku. Segera berdiri. Ia melakukan serangan secara diam-diam. Tanpa merasa berdosa, aku memukul bahunya. Aku loncat dan menaiki bahunya, ia mulai merintih. Telapak tangannya yang berusaha meraihku, segera aku putar. Dan selesai, aku pemenangnya.
"Aku tak menyangka jika kau akan belajar secepat itu." Erasmus bersuara.
"Tentu saja, aku adalah wanita yang pintar." Balasku dengan jujur.
Eric mulai terbaring diatas rerumputan dan berusaha menahan rasa sakitnya. Akhirnya dendamku terbalas tanpa menggunakan sihir.
"Kita hanya perlu menunggu bola matamu." Erasmus lagi-lagi mengatakan hal itu.
...
Aku memang tidak dapat keluar dari istana, tetapi setidaknya aku berhasil keluar dari kamarku. Anak itu datang menghampiriku dan membawa busur panahnya. Ia duduk tepat di samping kananku. Ia memberikan senyuman yang begitu ramah, seramah senyuman Erasmus.
Kami bersandar pada sebuah pohon dan duduk diatas rerumputan hijau yang menyebarkan bau tunbuhan yang basah. Awalnya aku melihat berbagai bunga yang indah di sekitarku, meski bunga yang aku lihat memang sedikit jauh dari tempatku duduk, kini aku melihat anak manis yang sibuk dengan mainannya. Aku melihat anak itu yang mulai sibuk merawat busur panahnya.
"Aku tidak menyangka jika Erasmus memiliki istri yang sangat cantik. Jika aku besar nanti, aku akan mencari istri sepertimu." Anak itu membuka pembicaraan. Kedua mata anak itu mulai menatap mataku.
Aku harap ia takkan menyebut nama Erasmus lagi. Aku terlalu kesal dengannya. Ia mengingkari janji, ia mengabaikanku dan ia juga mengurungku. Jangankan mengucapkan namanya, mendengar namanya yang terucap oleh angin lewat saja rasa kesalku akan menggumpal.
"Apakah kau menyukai Wiender?" Anak itu bertanya sambil memainkan busur panah tanpa panahnya. Seakan ia sedang membidik dengan mata kanan yang tertutup.
Aku tak ingin menjawabnya. Dalam lima detik ia pun menoleh kepadaku. Menatap mataku seakan menanti jawabanku.
"Aku sangat mencintai tempat yang indah ini. Namun, tempat ini bukanlah tempat yang nyaman untukku." Jawabku.
Semua makhluk hidup yang menyaksikan indahnya alam di Wiender pasti akan terpesona. Manusia pasti akan jatuh cinta dengan tempat ini. Aku ingin sekali hidup di alam yang indah dan tentram ini, tetapi tempat ini bukanlah zona nyamanku.
"Mengapa? Apakah kami membuatmu tidak nyaman?" Tanya anak itu.
"Seseorang yang membuatku sangat tidak nyaman." Jawabku.
"Aku yakin bukan pangeran yang membuatmu tak nyaman." Tebaknya dengan yakin. Namun, tebakannya salah.
Aku melihat rerumputan hijau di hadapanku. Beberapa burung merpati mendarat di hadapanku dengan anggun. Merpati melangkah diatas daratan dan menghampiri merpati lainnya, saling bertemu seakan sedang sapa menyapa.
"Aku mencintai Wiender." Ucapan anak itu mengalihkan perhatianku dari burung merpati.
"Ayahku adalah ksatria istana dan ibuku adalah perawat pepohonan di bagian barat. Ayahku harus menjaga istana dan ibuku pun berkelana untuk merawat alam. Aku terperangkap di istana ini agar ayahku mampu memantauku, tetapi aku tetap mencintai tempat ini. Aku menghirup udara yang bersih dan air yang jernih dari tempat ini, itu adalah cinta dari alam untukku karena Garde menjaga Wiender. Aku juga mencintai tempat ini karena cinta alam ini begitu luar biasa." Lanjut anak itu.
"Kau lebih dewasa dari diriku." Ucapku. Aku rasa ia tak mendengar suaraku karena suaraku amat pelan.
Tempat ini memang sangat indah, luar biasa. Tempat ini juga sangat tentram dan damai. Aku menyukai tempat ini, tetapi keindahan tempat ini musnah dalam sekejap karena aku seperti burung dalam sangkar yang sempit. Semua jenis burung terbang bebas di langit yang luas, tetapi hanya aku yang bertahan dalam sangkar.
Sejak aku berada di tempat ini, seakan aku berada di planet lain. Menikmati planet lain dan melupakan planetku. Bumi memang rumahku, tetapi bukan di Wiender. Meski terlalu banyak polusi, aku tetap mencintai bumi. Tidak semua manusia sepertiku sangat bahagia saat pepohonan tumbang dan air sungai melewati batasannya. Namun, di semua sudut dunia pasti ada orang jahat yang mampu menghancurkan hutan demi hidup yang berjaya.
"Jika kau keluar dari Wiender, sampaikan kepada mereka agar tidak lagi menenggelamkan pulau dan mengotori udara. Aku sangat sedih jika mendengar kabar dari para burung yang mengatakan banyak hewan yang punah dan manusia yang tidak kaya raya menjadi tertindas, tak hanya bumi yang sakit bahkan penghuninya." Lanjut anak itu.
Aku tahu. Globalisasi adalah hal yang tidak mungkin dihindari. Bagaimanapun kami pasti menggunakan kendaraan seperti motor atau mobil. Semua manusia sangat membutuhkan listrik. Tambang batubara yang digali akan mengorbankan pulau. Semua itu terus berjalan setiap tahun dan sulit mencegah hal itu.
"Aku adalah salah satu penduduk Wiender yang sangat jarang bertemu orang tuaku karena mereka sibuk menjaga bumi. Meski aku cukup beruntung, sahabatku tak pernah bertemu dengan orang tuanya karena menjaga tempat tinggalmu." Lanjutnya.
Aku tak tahu apakah ia sedang bercerita saja atau menyindirku. Apapun yang ia katakan, aku hanya mampu menutup mulut dan tersenyum sesaat padanya.
"Apakah kau pernah bermain ke tengah hutan?" Anak itu bertanya dan aku menggelengkan kepalaku.
"Tempat ini mungkin tidak begitu menenangkan untukmu. Aku akan beri tahu tempat setiap kali aku bersembunyi agar aku dapat menangis. Pergilah ke tengah hutan! Kau akan menemukan sebuah meja bundar yang terbuat dari batu dan lima tempat duduk yang juga terbuat dari batu. Tempat itu di kelilingi oleh patung lima ksatria yang membuat Wiender. Disana sangat sunyi, hanya pohon dan angin yang dapat merasakanmu."
...