RED EYES

RED EYES
Tujuan dan Tujuan Lain



"Ini adalah kesalahanmu, Erasmus!" Aku membentaknya.


Kalimat itu keluar begitu saja saat aku melihat banyak sekali pepohonan yang tumbang dan kumpulan mayat yang berguguran diatas tanah yang dibasahi oleh darah. Bau amis dan asap menyatu menjadi bau yang menusuk hidungku.


Pemandangan pertama yang aku lihat adalah mayat yang berguguran. Aku baru saja keluar dari istana melalui tali tambang itu. Mengabaikan tanganku yang terasa panas karena gesekan tambang, tetapi mataku membesar saat melihat banyak mayat yang berguguran layaknya daun kering berguguran saat di musim gugur. Darah mereka berceceran diatas tanah. Rumput hijau dilapisi warna kemerahan yang terlihat mulai menggumpal. Banyak nyawa yang hilang hari ini.


"Ayo, kita pergi!" Eric mencoba mengalihkan pembicaraanku.


"Erasmus, kau tidak pantas menjadi Raja! Lihat semua ini!" Aku benar-benar marah.


Andai Wiender tidak memiliki raja yang pengecut sepertinya, aku yakin hal ini tidak akan terjadi. Tak akan ada yang mati. Tak akan ada tumbuhan yang terbakar. Tak akan ada hewan bersembunyi. Darah tak akan membasahi rerumputan.


"Kau menyalahkanku?" Ia memang pria pengecut. Ia tak mau disalahkan.


"Bukankah kenyataan ini sudah jelas sebagai bukti dari jawaban pertanyaanmu." Balasku ketus.


"Mereka merusak Wiender karena mencarimu!" Ia pun mulai menatapku dengan kedua mata yang membesar. Ia melangkah mendekatiku. Apakah ia menyalahkanku?


"Ini tak akan terjadi jika kau tidak memaksaku ke tempat ini, Erasmus." Aku membentaknya untuk membela diri.


"Cukup!" Eric menjauhkanku dari hadapan Erasmus.


"Bukan ini tujuan kita. Kita semua salah. Erasmus memang terlalu pengecut, kau yang tidak bisa mengeluarkan sihirmu kembali dan aku tak menyadari jika mereka datang. Kita semua terlalu lambat untuk menyerang penyihir jahat itu, kita semua salah." Ucap Eric.


"Bukan berdebat yang harus kita lakukan. Kali ini percayalah padaku, kita harus menyelamatkan Wiender dan tempat para manusia." Eric melanjutkan pidatonya yang membosankan.


Aku menyesal. Tentu menyesal telah ikut bersama Eric.


Ini adalah kali pertama aku ingin kembali ke rumah Nyonya Renata. Aku memilih tersiksa daripada harus menyaksikan kegilaan yang terjadi. Aku benci dengan kedua pria yang terus saja egois untuk menjalankan misinya. Aku benci dunia sihir ini. Tak bisakah aku hidup dengan nyaman?


Rasanya benar-benar berada di negeri dongeng. Hidup dalam cerita, aku menjadi tokoh utama dalam kisahku dan mungkin saja aku akan dikorbankan oleh kedua pria yang dilumuri ambisi itu. Saat ini rasanya aku tak bisa membedakan kenyataan atau khayal.


"Ayo, kita harus ke Dark Point!" Ajak Erasmus.


Sungguh? Ia memintaku untuk mengikutinya? Ia masih mampu memberi perintah setelah semua keburukan terjadi padaku dan Wiender. Aku benar-benar tidak mempercayainya.


"Aku tak ikut. Aku ingin pulang dan pergi dari tempat ini." Ucapanku menghentikan langkah kaki kedua pria itu.


"Mengapa?" Eric mengerutkan keningnya.


"Aku cukup menyesal datang ke tempat ini." Ucapku.


"Lalu? Aku mohon jangan egois!" Erasmus mulai marah kembali padaku.


"Apakah kau tidak egois jika membiarkan mereka mati?" Tanyaku sambil tersenyum kesal padanya.


"Aku lakukan semuanya demi kebaikan tempat tinggalku dan tempat tinggalmu." Jawab Erasmus. Pengecut.


"Demi kebaikan? Demi itu kau membiarkan mereka mati dan pada akhirnya mereka tak punya rumah. Saat ini kau mengorbankan banyak Garde, bagaimana aku percaya jika kau tidak mengorbankan nyawaku?" Balasku yang tak mampu lagi untuk menahan emosi.


"Aku akan melindungimu." Eric yang menjawab pertanyaanku.


"Aku berjanji." Lanjut Eric dengan tatapan seakan memohon padaku.


"Aku akan mengorbankan nyawaku. Aku akan melindungi nyawamu. Namun, aku mohon padamu untuk melindungi bumi ini." Eric yang berbicara, sedangkan pria bermata hijau itu diam seperti batu.


Rasanya benar-benar gila. Hatiku mulai penuh kegelisahan. Aku benci dengan Erasmus dan dunianya.


"Baiklah." Jawabku yang masih penuh dengan rasa ragu.


Aku tahu jika aku akan menyesali pilihan ini. Bodoh, bukan?


...


Aku tak percaya jika aku berada di tengah hutan saat tengah malam. Erasmus mencari kayu bakar dan Eric sibuk untuk mempertankan api unggun agar tetap besar. Aku hanya diam sambil menatap kosong api unggun itu.


Aku dan Erasmus masih belum berbincang satu sama lain. Aku sangat tidak ingin menatap wajahnya, ia juga tak ingin menegurku. Jika bukan karena terpaksa, aku juga terlalu malas untuk berpetualang bersamanya.


"Jangan terlalu membencinya!" Suara Eric membuatku menoleh. Ia seakan tahu isi fikiranku.


Aku menarik nafas yang dalam saat mendengar saran Eric. Tentu wajar jika aku membencinya. Dia pria yang sangat menyulitkan hidup semua makhluk.


"Dia memang bodoh, tetapi itu memang untuk kebaikan Wiender. Dia tahu jika penyihir dan Garde berperang maka akan ada kemungkinan besar Wiender hancur, Garde meninggal dan duniamu pun hancur." Lanjut Eric.


"Jika dia tidak memaksaku datang ke tempat ini, Wiender tak akan hancur. Mereka mencariku dan tahu keberadaanku." Balasku.


"Ia membawamu hanya untuk persiapan. Jika perang memang terjadi, kemungkinan kemenangan berada di tanganmu. Jika ia tak membawamu ke sini, aku yakin kau akan menjadi wanita yang sama jahatnya dengan ratu penyihir." Aku benci ucapam Eric kali ini.


Apakah mulai menghinaku?


Aku membaringkan tubuhku diatas tanah yang keras. Batu kerikil yang aku tiduri membuatku memang tidak nyaman, tetapi apa boleh buat. Tak ada tenda, tak ada kasur dan tidak ada bantal. Mataku hanya menatap bintang yang indah karena belum mengantuk.


"Apa rencana kita besok?" Tanyaku.


"Menemui Burung Garuda." Baiklah, lagi-lagi hal yang sulit diterima akal sehatku muncul. Lagi!


"Untuk apa?" Tanyaku lagi.


"Penyihir itu akan kembali menjadi manusia jika sebuah benda keramat Dark Point musnah. Namun, hanya penyihir jahat dan-"


"Tak bisakah kita menyebut namanya? Aku sangat kesal jika ia selalu disebut seperti itu." Aku menyelak pembicaraan.


"Namanya Ratu Vei. Benda keramat di Dark Point hanya diketahui Ratu Vei dan Burung Garuda. Garuda itu adalah peliharaan kesayangan dari penyihir pertama dan suaminya. Kita harus memusnahkan benda itu atau membunuh ratu Vei untuk memusnahkan sihir para penyihir. Aku-"


"Memusnahkan sihir? Bagaimana denganmu?" Aku menyelak lagi.


"Aku siap untuk menjadi manusia." Balasnya.


"Menjadi manusia?" Aku semakin tak mengerti.


"Beberapa puluhan abad yang lalu, semua manusia terbagi menjadi manusia yang memiliki kekuatan dan manusia yang tidak memiliki kekuatan. Manusia yang memiliki kekuatan disebut sebagai Garde. Saat itu Garde dan manusia selalu hidup bersama. Garde pun membuat himpunan, mereka pun menjadi pelindung alam. Namun, tidak semua manusia menyukai apa yang Garde lakukan. Pada hakikatnya, alam selalu dikorbankan untuk kehidupan masa depan. Pohon menjadi benda di rumah atau di perkantoran, batu bara untuk tenaga listrik dan hal lainnya. Akhirnya Garde diasingkan ke sebuah gunung yang berada di garis khatulistiwa, kini tempat itu disebut Wiender." Eric bercerita.


"Lalu?" Aku tak mengerti. Apa hubungannya cerita itu dengan para penyihir.


"Semua Garde yang diasingkan memiliki kekuatan. Namun, beberapa keturunan Garde itu tidak selalu memiliki kekuatan. Jika Garde tidak memiliki kekuatan, rasanya ia berada di derajat terendah dan hanya diizinkan hidup di Wiender. Garde pun menganggap mereka sebagai manusia yang menumpang hidup dalam Wiender. Mereka hanya hidup bertani di dalam Wiender dan tak diizinkan keluar dari Wiender. Itu sangat membuat mereka prustasi.-"


"Eric, langsung pada intinya saja!" Aku kesal mendengar ceritanya yang terbelit-belit.


"Salah satu Wiender yang tidak memiliki kekuatan pun memberanikan diri memasuki perpustakaan yang hanya boleh dimasuki oleh raja dan ratu Wiender. Aku tak tahu benda apa yang ia temukan disana. Beberapa orang menceritakan jika ia mempelajari sihir dari sebuah buku sangsekerta. Orang itu berhasil mempelajari sihir, kemudian ia kabur dari Wiender dengan sihirnya. Orang itu disebut sebagai penyihir pertama, semua keturunannya akan menjadi penyihir terkuat. Kekuatan penyihir berada dalam darahnya, sehingga hanya seseorang yang menjadi keturunannya yang memiliki seluruh sihirnya.-"


"Ia juga tak sendiri. Ia mendonorkan setetes darahnya kepada beberapa manusia, sehingga manusia yang memiliki darahnya akan memiliki sihir meski tak sekuat keturunan penyihir pertama. Semua manusia yang memiliki darah penyihir pertama dalam tubuhnya bisa menurunkan sihir itu kepada keturunannya, seperti aku saat ini. Kedua orang tuaku adalah keturunan manusia."


Ia menjelaskan sejarah para penyihir dan aku tak peduli. Siapapun para penyihir pertama atau Garde, aku tak peduli. Setidaknya cerita itu berhasil membuatku mengantuk.


"Benda keramat itu untuk apa?" Tanyaku lagi. Aku harap ia akan menjawab dengan singkat.


"Aku tak tahu pasti, beberapa penyihir menduga benda keramat itu adalah pusat kekuatan sihir." Jawabnya.


Jika Erasmus hanya ingin menyelamatkan Wiender dan Eric hanya ingin memusnahkan sihir Ratu Vei. Maka, aku ingin menyelamatkan diriku sendiri, lekas pergi dari tempat ini, dan hidup dengan tenang. Aku hanya perlu memberi mereka sedikit bantuan untuk pergi. Aku tidak ingin mengorbankan nyawaku untuk semua hal asing yang baru saja memasuki kisah hidupku.


"Jangan terlalu berharap padaku." Ucapku, aku pun mulai memejamkan mataku dan berusaha untuk tidur meski tak mengantuk.


"Aku tahu. Itulah alasanku cukup membencimu." Jawabnya tanpa berfikir panjang.


"Lalu, mengapa kau baik padaku?" Tanyaku lagi.


Aku sangat tidak mengerti dengan Eric. Ia sering sekali baik padaku dan selalu membantuku, tetapi sesekali ia cukup dingin padaku. Aku tak tahu harus memberi label orang baik atau orang jahat padanya. Ia sangat sulit ditebak.


"Kau akan tahu jawabannya." Jawabnya. Aku benci pada pria yang sok misterius.


Sudahlah, aku tak peduli. Aku hanya perlu memberi 'sedikit' bantuan dan pergi dari tempat ini.


...