RED EYES

RED EYES
Pilihan



Aku melihat Dark Point dengan suasana yang berbeda. Rumah para penduduk hangus terbakar. Pepohonan di sekitar rumah penduduk tumbang. Istana penyihir terlihat tak berpenghuni dan banyak sekali darah di setiap jalan.


Aku melangkah pelan. Beberapa orang mati tertusuk pedang dan tertancap panah. Mata mereka terbuka dan terlihat seakan tak bernyawa. Mataku membesar dan tak menyangka dengan apa yang aku lihat, semua yang gugur adalah penyihir.


Aku mulai memperhatikan langkahku karena semakin banyak darah di dalam istana penyihir. Aku tak mengerti apa yang terjadi, tempat ini begitu sunyi dan sepi, terasa tak ada nyawa disini.


Semua yang aku lihat musnah seperti hembusan angin secara tiba-tiba. Kini semua kembali gelap dan sunyi, tak ada lagi sesuatu yang seperti bintang di sekitarku dan aku tak lagi berada di Dark Point.


Lalu, aku melihat tempat yang sangat sering aku jumpai. Tempat ini bukanlah Wiender atau Dark Point, tetapi tempatku berasal. Daerah yang tak asing ini tak jauh dari rumah Nyonya Renata. Nyonya Renata?! Aku harus pergi dari tempat ini.


"Tidak ada lagi Renata, sayang." Aku pun mulai mendengar suara Ratu Vei, tetapi tak lagi melihatnya.


Tempat itu terlihat semakin modern. Banyak sekali gedung pencakar langit. Setiap gedung memiliki layar. Banyak sekali mall di tempat ini. Aku melihat suatu kendaraan tanpa roda, aku tak pernah melihat benda itu. Namun, tak ada lagi pepohonan dan jarang sekali terlihat rumput. Beberapa halaman rumah memajang bunga palsu di pot bunganya.


Semua yang aku lihat kembali hilang seakan tertiup angin. Namun, kali ini Ratu muncul di hadapanku.


"Itu adalah pilihanmu, sayang. Jika kau berpihak pada Garde, maka bumi dan Dark Point akan hancur. Tak hanya itu, karena penyihir akan musnah. Garde terlalu lembut akan menjadi lemah dan Garde yang tidak bijaksana akan menghancurkan bumi. Semua-"


"Aku mohon untuk keluar dari kamarku!" Pintaku. Aku memotong perkataannya. Aku tak ingin dipengaruhi lebih lama lagi.


Ratu diam, ia juga terlihat kesal. Ia pun melangkah menjauhiku dengan langkah yang pelan. Aku akui jika aku adalah anak yang durhaka. Namun, penyihir menjadi penguasa bumi dan menghancurkan Wiender bukanlah hal yang benar.


"Mengapa kau membenciku?" Tanya Ratu saat langkahnya terhenti.


Kami tak saling menatap satu sama lain. Aku tak tahu ia sedang melihatku atau tidak, tetapi aku sedang membelakanginya.


"Karena Ratu melakukan hal yang salah." Jawabku dengan membelakanginya.


"Semua yang aku lakukan adalah menciptakan dunia yang terbaik untukmu." Balasnya.


"Tempat yang dipenuhi peperangan bukanlah duniat yang terbaik. Kau menemuiku hanya karena darahku, bukan?"


"Jika aku membutuhkan darahmu, sudah sejak lama kusayat telapak tanganmu dengan pisau belati yang selalu ada di sakumu itu." Aku pun menoleh untuk melihatnya, cukup kaget karena tak menyangka ia tahu akan pisau belatiku. Kami pun saling menatap satu sama lain. "Sangat tidak adil jika rindu dibalas dengan benci." Lanjut Ratu.


Ia pun meninggalkan kamarku. Kamar ini kembali sunyi dan hanya diisi oleh suara jarum jam. Aku tak tahu mana yang benar dan salah, bagaimana mungkin aku mampu memilih.


...


"Menghindariku lagi?" Suaraku menghentikan langkah Eric yang baru saja membuka pintu.


"Tidak." Ia berbohong.


Ia terdiam didepan pintu kamarnya dalam beberapa detik karena ia melihatku berada di dalam kamarnya. Kami memang selalu tidur di kamar yang berbeda, aku yang meminta pada Ratu. Mata kami bertemu, Eric berusaha menghindari tatapan itu. Ia ingin kembali dan tak memasuki kamar, tetapi langkahnya terhalang oleh rasa yang terlihat canggung. Ia juga tak kunjung memasuki kamarnya. Terlihat jelas ia menghindariku.


"Bukankah kita sudah menikah dan berhak dalam satu kamar yang sama?" Ucapanku mulai membuat kakinya melangkah ke dalam kamar. Langkah yang amat pelan.


Aku duduk di sofa kamarnya, ia pun duduk di tepi tempat tidurnya. Suasana yang sangat hening diantara kami. Tak ada suara yang terlewat di telinga. Eric hanya menundukkan kepalanya, tak sedetik pun melihatku.


"Apakah kau menyesal membawaku kesini atau kau menyesal telah membiarkan teman kita mati?" Aku membuka percakapan. Pertanyaan itu membuat matanya menatap mataku.


"Mengapa kau lakukan itu? Mengapa berkhianat kepadaku dan Erasmus?" Tanyaku.


"Aku melakukan itu untuk menyelamatkanmu. Aku hanya mampu membawa satu orang untuk melewati jembatan itu. Jika kau mati Ratu akan menyatakan perang karena menyalahkan Erasmus membawamu datang ke dunia ini." Jawabnya. Tatapan matanya yang tajam memperkuat keyakinannya untuk menjawab pertanyaan dariku.


"Bukankah para penyihir telah menyatakan perang kepada Garde?" Tanyaku.


Suasana semakin hening. Aku mulai mengalihkan pandanganku dari Eric, begitupun dengannya.


"Mengapa kau tidak bertanya alasan para penyihir melakukan serangan kepada Wiender?" Tanya Eric. Nada bicaranya mulai meninggi.


"Alasan apapun yang digunakan untuk melakukan kejahatan adalah salah." Balasku ketus.


"Kau tahu, tidak semua makhluk terbagi menjadi baik dan jahat. Pernahkah kau berfikir mengapa harimau memangsa hewan lain? Ia menjadi pemangsa hewan agar ia bertahan hidup." Eric menjelaskan.


Dengan kata lain, ia tak ingin disalahkan.


"Dark Point sangatlah kecil jika dibandingkan dengan Wiender dan tempatmu tinggal. Garde mengurung kami karena kami dianggap sebagai penjahat hanya karena sihir kami mampu menyakiti manusia dan alam, kami tak mampu memasuki bumi yang kau tinggali ataupun Wiender. Ayahmu membangun sebuah jembatan yang mampu membunuh setiap orang yang melewatinya, adikku adalah salah satu korban dari jembatan itu. Ratu Vei telah menemukan sihir untuk melewati jembatan itu, tetapi hanya beberapa penyihir yang mampu melewatinya. Erasmus adalah keturunan Raja yang paling pengecut, ini adalah kesempatan kami untuk keluar dari Dark Point. Keinginan kami hanya satu, hidup di bumi yang luas." Eric menjelaskan.


"Nenekku adalah Garde yang menjaga hutan di duniamu. Kakekku adalah seorang pengawal istana Wiender. Mereka tak pernah bertemu hanya karena menjaga bumi. Ayahku keturunan Garde tetapi tidak memiliki kekuatan, para Garde mulai dikucilkan dan ia pun hidup di tempat kecil ini. Menyedihkan sekali karena ayah dan ibuku menjadi seseorang yang harus taat pada Ratu Vei agar ratu Vei tidak memusnahkan sihir mereka. Disini sangat berbeda dengan tempatmu, disini yang tidak memiliki kekuatan akan menjadi budak untuk Garde atau bawahan dari ratu Vei. Kami tidak ingin tertindas di Wiender, tetapi kami tidak ingin terkurung disini. Jika kau merindukan kebebasan, maka aku juga ingin merasakan kebebasan." Eric melanjutkan.


Aku diam. Untuk pertama kalinya Eric mengeluarkan isi hatinya.


"Ratu mengatakan jika ia tak membutuhkan darahku." Aku mengalihkan pembicaraan.


"Apa?" Tanya Eric seakan tak percaya.


"Aku tahu jika ini takkan adil untuk Erasmus dan Cassie, tetapi aku ingin hidup normal. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang ibu dan menjadi seorang putri di negeri ini. Apakah aku terlalu jahat jika aku ingin melupakan semua yang terjadi di Wiender?" Tanyaku.


Eric diam dan tak menjawab. Aku sempat membenci Eric karena ia berkhianat, tetapi aku mulai memahami perasaannya. Semua yang dilakukan oleh kaum penyihir bukanlah untuk menguasai bumi, mereka hanyai ingin bebas. Mereka tak membutuhkan darah atau nyawaku, tidak seperti yang Erasmus fikirkan.


Aku pun berdiri, melangkah keluar dari kamar Eric. Ia tak juga menjawab pertanyaanku. Mungkin ia juga kesal karena aku adalah wanita yang jahat.


"Kau ingin tahu alasan lain mengapa aku menyelamatkanmu?" Pertanyaan Eric menghentikan langkahku.


"Aku sudah mencintaimu sebelum kita bertemu di Wiender. Meski kau adalah manusia biasa, aku ingin hidup bersamamu." Jawab Eric.


"Mungkin itu juga alasanku karena aku belum bisa membunuhmu." Aku membalas.


...