
Sudah lima jam aku dan Erasmus membisu. Kami tak lagi bicara satu sama lain. Aku malas berbincang dengan Erasmus. Aku rasa Erasmus masih marah denganku. Aku senang jika ia tak bersuara, tetapi aku merasa mulai canggung bersamanya jika kita saling bungkam.
Mobil milik Erasmus benar-benar sangat tua dan kotor. Telingaku memang tak mendengar suara Erasmus, tetapi telingaku hampir berdarah karena suara mobil rongsokan ini. Aku sangat tidak menyangka jika Erasmus salah satu anak dari keluarga kaya raya, memiliki mobil yang harganya tak jauh berbeda dengan sekarung beras merah.
"Hei, apakah kau punya penutup telinga?" Tanyaku. Sejujurnya aku juga ingin memusnahkan suasa hening yang mencekam ini dengan berbincang dengannya.
"Ada hal yang harus aku katakan padamu." Balas Erasmus di luar topik pembicaraanku.
"Apa?" Balasku.
"Kau tahu sebuah ramalan tentang semua penyihir akan membunuh semua makhluk bumi?"
Aku tak pernah menyangka jika ia akan menanyakan tentang dongeng anak kecil. Aku diam. Pembicaraan ini sangat tidak penting.
"Aku akan ceritakan sebuah lagenda di duniamu. Di bumi ini tidak hanya ada manusia. Terdapat pula Garde, tetapi manusia menganggap Garde adalah penyihir." Ia mulai bercerita.
"Aku tak peduli." Balasku. Ia tertawa pelan dan melanjutkan ceritanya.
Senyum dan tawanya kembali.
"Pada awalnya Garde hidup bersama manusia, tetapi Garde selalu menyembunyikan identitasnya. Manusia menganggap jika mereka amat berbahaya karena mereka memandang kami memiliki sihir yang mampu mengganggu kehidupan mereka." Aku mendengarkan ceritanya tetapi tak menatap wajahnya. Sejujurnya aku tak peduli dengan dongeng pengantar tidur yang ia ceritakan itu.
"Jika kau seorang Garde, apakah kau akan bersembunyi?" Tanya Erasmus. Pertanyaan itu membuatku menoleh untuk melihat wajahnya.
"Mungkin aku akan menjadi pembunuh mereka karena aku adalah manusia. Aku bukanlah Penyihir atau Garde." Balasku, ia menggelengkan kepalanya. Tentu ia tersenyum setelah mendengar jawabanku. Ia selalu tersenyum.
"Semua manusia membunuh Garde saat itu karena Garde dianggap mengganggu kehidupan mereka untuk menjaga alam. Garde pun membuat tempat tinggal di tengah hutan yang sangat indah. Mereka menjaga alam di tempat tinggal mereka dan menyembunyikan tempat itu dengan portal. Namun, para Garde tahu tugas yang mereka miliki, yaitu menjaga alam bersama dengan makhluk bumi lainnya. Beberapa dari Garde pun ditugaskan menjaga alam di luar tempat tinggalnya secara rahasia." Lanjut Erasmus.
"Namun, tidak semua Garde memiliki kekuatan. Mereka yang tidak memiliki kekuatan pun mencari kekuatan dengan cara apapun. Kau pun tahu jika Garde memiliki hati seperti manusia yang bisa saja bersih ataupun kotor. Salah satu Garde yang tidak memiliki kekuatan mencari kekuatannya dan membentuk sebuah kaum, kekuasaan pun membutakan hati nuraninya. Garde itu membunuh seorang manusia dengan kekuatannya, seorang manusia lain menyaksikan hal itu hingga manusia berusaha mencari Garde untuk dibunuh. Raja pun mengetahui hal itu dan berusaha menghukum mati Garde yang membunuh manusia itu. Namun, kaumnya berusaha keras untuk melindunginya. Raja pun menyebut Garde yang membunuh manusia itu dan kaumnya sebagai penyihir, mereka pun terkurung di tempat yang selalu mengalami kekeringan."
"Sudahlah! Aku pusing mendengarkan ceritamu." Aku mengeluh. Erasmus tertawa.
Erasmus membawa mobil ini ke sebuah hutan. Jalanan hutan ini sangat rusak, banyak bebatuan diatas tanah yang berwarna merah. Mobil tua ini berjalan semakin buruk. Untuk apa Erasmus membawaku ke tempat ini?
"Apakah kau ingin membunuhku di tengah hutan?" Aku bertanya pada Erasmus dan ia tertawa pelan.
"Aku mohon untuk sekali saja percayakan hidupmu padaku." Balasnya dengan ramah.
Tak lama ia menghentikan mobil yang ia kendarai di tengah hutan. Aku melihat sekeliling tempat ini. Banyak sekali pepohonan dan kendaraan tua. Jika diperhatikan, mobil Erasmus adalah mobil terbaik di tempat ini.
"Ayo, turun! Kita sudah sampai." Ajak Erasmus. Ia menarik tanganku.
Aku turun dari mobil tua ini. Aku masih melihat sekeliling hutan. Aneh rasanya melihat puluhan mobil tua yang berbaris di tengah hutan. Apakah semua mobil ini dimiliki oleh orang lain? Lalu, dimana semua pemilik mobil?
"Pangeran!"
Aku menoleh ke arah suara itu berasal. Suara yang baru saja terdengar, bukan suara Erasmus. Bukankah hanya ada aku dan Erasmus disini?
Tak lama aku pun melihat seorang pria berpakaian aneh, ia menghampiri Erasmus. Pria berkulit hitam dengan pakaian berwarna merah bata. Bagiku, yang pria itu kenakan bukanlah pakaian, itu seperti kain lebar yang menutupi lengan dan badan hingga kedua lututnya.
"Aku datang bersama putri Hera." Erasmus memberi tahu kebohongan pada pria itu. Namaku bukan Hera.
Pria berpakaian aneh itu membungkuk dan membiarkan kami melewatinya. Erasmus menggenggam tanganku dengan kuat. Kakiku mulai gatal karena menginjak dan melawati rerumputan yang setinggi lututku. Aku masih tidak mengerti mengapa Erasmus ke tempat ini. Aku bahkan tidak mengerti pada diriku yang masih saja mengikuti Erasmus.
Aku pun menoleh, berniat kabur dengan mobil Erasmus jika ada kesempatan. Namun, puluhan mobil yang baru saja aku lihat telah musnah. Semua yang ada di tempat ini seperti sihir. Pria dengan pakaian aneh itu juga menghilang. Pepohonan yang aku lihat juga terlihat berbeda. Tempat ini berubah dalam sekejap, seakan sihir yang mengendalikan.
"Dimana?" Tanyaku pada diriku sendiri. Erasmus semakin kuat menggenggam tanganku, hingga terasa sangat sakit.
Kini di hadapanku dan Erasmus terdapat gua yang gelap. Seluruh tubuhku gemetar dan terasa dingin. Jantungku berdegup lebih cepat. Rasanya ingin menangis karena seorang pria asing dan aneh membawaku ke tempat yang tak pernah aku lihat.

Ia menoleh ke arahku. Bola matanya tak lagi berwarna hitam, bola matanya berwarna hijau. Wajahnya terlihat lebih pucat. Hal yang tidak pernah ada di akal sehatku pun terjadi.

"Matamu..."
"Matamu juga sepertiku." Ucapnya memotong perkataanku. Ia masih saja bisa tersenyum padaku.
Tangan kirinya menggenggam tangan kananku semakin erat. Tangan kanannya menyentuh kedua mataku selama beberapa detik. Aku tak tahu apa yang ia lakukan, yang aku tahu rasanya mataku melihat cahaya yang menusuk mataku.
Ia pun melepas tanganku. Melangkah menghampiri semak-semak dan pepohonan. Aku mendekati langkahnya dengan kakiku yang terus gemetar.
langkahnya terhenti dihadapan pohon berduri. Ia menusukan jarinya ke duri itu. Bodoh sekali, ia membiarkan jarinya terluka. Darah merahnya pun keluar dari kulit jari telunjuknya. Ia menempelkan jarinya yang terluka diatas tanah yang tak jauh dari hadapan gua.
"Bodoh, tanganmu akan infeksi." Balasku. Apa yang ia lakukan adalah hal yang sangat aneh.
Cahaya pun keluar dari gua itu. Mataku membesar saat gua itu memberikan sebuah cahaya dan terlihat ada sebuah portal ke tempat lain. Cahaya itu pun berubah seperti genangan air yang mengalir, seperti air terjun yang ada di mulut gua. Semua di tempat ini seperti sihir.
Erasmus menarik tanganku. Kakiku diam dan tak ingin bergerak. Aku semakin tidak mengerti kemana Erasmus akan membawaku. Tempat ini terlalu aneh bagiku.
"Ayo!" Ajaknya. Aku menolak.
Aku diam dan menahan tarikannya. Ia pun melepas tanganku. Ia terus menatap mataku yang sedang melihat portal yang seakan ada di dunia sihir. Semua seperti dongeng atau lagenda.
"Kau penyihir?" Tanyaku.
Aku pun menanyakan hal konyol padanya. Aku masih tidak percaya apa yang sedang terjadi padaku saat ini.
"Aku adalah Garde." Balasnya.
"Kau membahas lagenda bodoh itu lagi?!" Aku membentaknya.
"Itu kenyataannya, Claire." Balas Erasmus.
Tak ada lagi pilihan di kepalaku, hanya ada satu pilihan yaitu pergi menjauh dari Erasmus. Aku tidak ingin gila karena menyaksikan dunia sihir ini.
"Aku seharusnya tidak disini. Aku harus pergi. Maaf, Aku rasa kau terlalu jauh membawaku." Balasku dan Erasmus tak membalas ucapanku. Ia menatapku dan menggenggamku semakin erat.
"Jika aku melepaskanmu, siapa yang akan mengantarmu keluar dari tempat ini?" Erasmus bertanya dengan wajah yang terlihat kesal.
"Aku mohon, ikutlah bersamaku selama lima hari. Setelah itu aku akan berikan uang, bekal dan membiarkanmu pergi ke negara lain."
"Satu hari." Aku menawar.
"Tiga hari atau aku biarkan kau tersesat?" Ia membalas tawaranku.
Rasanya tak ada pilihan lain selain aku harus ikut bersamanya. Lagipula aku tak punya uang yang cukup untuk berkelana.
"Dengan syarat!" Pintaku.
"Apa?" Balasnya.
"Tepati janjimu."
"Lebih dari itu." Balasnya dengan yakin.
Dengan bodoh, aku mengikutinya.
....