RED EYES

RED EYES
Pertaruhan



"Baru lima jam aku menyetujuinya, bagaimana kau tahu saat ini adalah waktu yang tepat?" Tanya Eric yang heran melihat Erasmus sudah ada di hadapannya.


"Kau lupa jika aku adalah Garde. Aku hanya cukup bertanya kepada pepohonan untuk mengetahui informasimu, terutama pohon yang selalu kau serang dengan panah."


Mereka selalu berdebat. Lagi-lagi kami berkumpul di kamarku, hanya tempat ini yang dapat ditutup rapat. Jika bertemu di luar istana, pasti akan ada penyihir yang melihat dan mendengarkan kami.


"Seperti rencana awal, hancurkan dua elemen kekuatan Ratu."


"Dua? Bukankah tiga?" Erasmus bertanya.


"Dua. Aku yang tahu semua tentang Ratu, ikuti saja!" Balas Eric dengan ketus.


"Hancurkan berlian di mahkota Ratu dan berlian di tongkat miliknya. Masalah selesai." Penjelasan yang cukup tidak memuaskan.


"Hanya itu?" Tanyaku. Eric mengangguk.


"Saat semua penyihir tak sadar, mereka akan kehilangan kekuatan mereka dan ingatan mereka. Semua yang menjadi debu, bebaskan ke laut lepas. Namun, yang tidak sadarkan diri biarkan mereka bebas di bumi. Aku minta agar portal bisa kami lewati dan meninggalkan Dark Point. Jika kami tetap di Dark Point, kau akan tahu itu tak akan aman untuk Kangel dan Wiender."


"Apakah harus kita selamatkan para tahanan terlebih dahulu?" Tanyaku.


"Tidak, terlalu mencurigakan." Balas Erasmus.


"Benar, dampaknya orang yang berhubungan dengan tahanan akan berada dalam bahaya." Eric menyetujui.


"Malam ini kita mulai." Ajakku dengan antusias.


...


Aku melangkah menuju kamar ibuku. Melangkah seakan tak ada apa-apa. Berusaha bersandiwara dan santai. Semua penjaga dan pelayan bersikap seperti biasanya, hormat dan ramah padaku.


Baru saja berdiri di depan pintu, pengawal istana telah membukakan pintu untukku tanpa meminta pertimbangan Ratu.


"Hei, kenapa nak?" Tanya Ratu. Aku segera duduk di atas sofa. Ratu pun duduk di hadapanku.


"Ingin bercerita." Jawabku.


Mataku mengelilingi kamar ini, berusaha mencari mahkota dan tongkatnya.


"Tidak bisa besok saja? Sudah tengah malam, kau harus tidur." Ucapnya dengan khawatir.


Aku pun mendapatkan tongkat itu tepat di samping tempat tidur ratu.


"Kau tahu, saat ini aku sangat mengkhawatirkanmu." Ucapku tulus.


"Aku senang jika aku masih bisa bertemu dengan ibuku dan begitu lega saat tahu jika ibuku juga mencariku. Aku juga senang jika ia hidup layak. Tapi-"


"Tapi?" Balasnya.


"Inilah yang mengkhawatirkanku selama ini. Aku takut jika ibuku melakukan hal yang salah bahkan jahat seperti Renata."


Ratu pun meneguk segelas susu yang baru saja dibawakan seorang dayangnya. Ia tersenyum melihatku, tepatnya setelah aku mengatakan semua isi hatiku.


"Renata tidak jahat, nak. Dia melakukan itu untuk sebuah alasan. Dia melaksanakan perintah kakaknya untuk menjagamu. Aku tahu jika yang ia lakukan adalah benar baginya." Balasnya.


"Bukan menjaga, dia menyiksaku." Aku menolak pendapat ibuku.


"Menarik. Kita memiliki sudut pandang yang sangat berbeda. Kau mengingatkanku pada ayahmu. Bagimu dia melakukan sesuatu yang salah, tetapi tidak bagi Renata dan aku. Pada akhirnya kau harus menyimpulkan kejahatan dilakukan demi sebuah alasan."


"Tidak ada alasan untuk melakukan sebuah kejahatan. Kita bisa melakukan kesalahan, tetapi berbeda jauh dengan kejahatan." Aku menolak pendapat ibuku lagi.


"Mengapa kau tak bisa menerima itu, nak? Aku bisa menerima kejahatan yang kau lakukan saat ini." Ucapan ibuku membuatku bungkam.


"Kau ingin membunuhku, bukan?" Ia bertanya.


"Tidak." Jawabku yakin. Aku memang tak ingin membunuhnya.


Ratu segera melangkah menghampiri tempat tidurnya. Ia duduk di atas tempat tidurnya dan segera memakai mahkota dan memakai tongkatnya.


"Apa yang kau lakukan?" Tanyaku.


"Banyak. Membuktikan ucapanku, menerima alasanmu untuk berbuat jahat dan menyambut temanmu."


"Aku hanya ingin kau tidak berbuat jahat."


"Apakah benar dengan cara membunuh ibumu? Aku sungguh menyayangimu dengan tulus." Kali ini ia terlihat marah.


"Temanmu datang." Aku menoleh ke arah pintu.


Tak lama aku sudah melihat Eric mendobrak pintu. Aku juga melihat beberapa penjaga sudah terjatuh di lantai dengan tak sadarkan diri.


...


Kami menghampiri Ratu tanpa rasa ragu sedikitpun. Erasmus membawa pedangnya dan Eric dengan panahnya. Sebelumnya aku telah memohon pada mereka agar tidak membunuh ibuku, cukup hilangkan sihir dan ingatannya. Aku harap mereka menepati janji.


Eric mengarahkan panahnya ke arah mahkota Ratu. Dengan santai Ratu menyihirnya menjadi sehelai bulu ayam. Ia juga menyihir kedua kaki Eric menjadi lumpuh.


"Aku harap ini adalah pertemuan terakhir." Ucap Erasmus.


"Kau tidak berubah. Sifat ramahmu hanya untuk orang yang kau sayangi. Kau begitu ramah dengan anakku, apakah kau mencintainya?"


Pertanyaan itu membuat semua mata terarah pada Erasmus.


"Bagaimana dengan Hera? Apakah kau sudah melupakannya karena ia sedang mengandung anak perempuan yang secantik Hera?"


"Aku datang bukan untuk bernostalgia." Balas Erasmus dengan ketus.


Ratu melangkah mendekati Erasmus dan diriku. Kaki gemetar, untuk pertama kalinya aku ketakutan dengan Ratu. Rasanya takut terbunuh di tangan ibuku sendiri, tak hanya fisik yang sakit karena batinku lebih terluka.


"Aku tahu jika sihirku tak bisa menyerang kalian sepenuhnya. Tapi aku bisa membunuhmu, Erasmus."


Waktu yang tepat. Aku segera menarik mahkota ibuku dari kepalanya. Mahkota itu terjatuh dengan mudah.


Ibuku mulai memainkan sihirnya. Aku berusaha mengambil mahkotanya yang terjatuh, tetapi ia telah mengambil mahkotanya dengan sihirnya. Aku juga bisa!


Aku mengendalikan jariku dan fokus kepada mahkota itu. Mahkota itu terus melayang dan tak bergerak. Aku berusaha menarik dengan sihirku, tetapi sihirku terlalu kuat. Aku pun berusaha meminta bantuan angin untuk menguatkan kekuatanku.


Dapat!


"Jika kau menghancurkan mahkota itu, maka kau akan kehilangan Eric." Ibuku mengingatkanku dengan suara yang lantang.


"Lakukan!" Teriak Eric.


Aku melihat Eric, bibir yang tersenyum dan mata yang menahan luka. Tak hanya Eric yang takut kehilangan ingatannya, aku juga sangat takut. Air mataku menetes begitu saja saat melihat mahkota ini sudah di tangan kananku.


Aku memainkan tanganku, yang aku fikirkan hanyalah kehancuran berlian merah di mahkota ini. Menggerakan jari telunjukku. Tak semudah yang aku duga, berlian ini sulit dihancurkan oleh kekuatan sihirku.


"Aku mohon hancurlah!" Ucapku, seakan memohon pada berlian itu agar meleburkan dirinya.


Ratu mulai mengayunkan tongkatnya. Sihirnya mulai membuatku sulit bernafas. Aku tetap berusaha menghancurkan berlian itu meski aku sulit sekali bernafas. Aku mohon, hancurlah dengan cepat!


Berlian itu mulai retak secara perlahan, bersamaan dengan nafasku yang hanya tersisa sedikit di paru. Ibuku melangkah mendekatiku dengan langkah yang begitu pelan. Aku berusaha melawan sihirnya, tetapi sulit. Lebih baik aku tetap berusaha menghancurkan berlian ini.


Berlian itu terbelah menjadi dua, dalam hitungan detik berlian itu pun menjadi abu. Sihir ibuku yang terus menyerangku pun hilang secara perlahan. Ia melangkah mendekati abu itu, ia tepat dihadapanku. Aku berusaha melihat ke mulut pintu, pengawal yang jatuh pingsan karena serangan Eric dan Erasmus tetap saja pingsan. Aku juga melihat tatapan kesal dari mata ibuku saat ia melihatku, aku yakin ia mulai membenciku. Disisi lain aku melihat Eric tak sadarkan diri.


Aku menangis sambil berusaha bernafas. Selama bertahun-tahun aku tidak memiliki keluarga, kini keluarga yang aku miliki musnah dalam sekejap. Ibuku mulai membenciku dan aku pergi dari ingatan Eric.


"Kau-" Perkataan ibuku terhenti saat percikan darah ibuku mengenai wajahku. Aku menjerit berteriak kata 'ibu' saat aku menyaksikan pedang yang menembus dadanya.


Erasmus menancapkan pedangnya ditubuhku.


"Aku juga mampu untuk membunuhmu." Ucap Erasmus setelah pedang itu menyakiti ibuku.


Aku berusaha menyeret tubuhku ke hadapan ibuku. Air mataku tak terhenti. Dada ibuku yang ditembus oleh pedang, tetapi aku juga merasakan sakitnya. Aku berusaha merobek sebagian rok yang aku kenakan untuk menahan darah yang terus keluar. Air mata yang aku keluarkan hari ini adalah tanda dari separuh hidupku yang mencair dan hanyut dalam kesengsaraan.


"Maafkan aku." Ucapku dengan nafas yang amat sesak. Aku tak mampu menghentikan air mata dan kesedihan ini meski sedetik.


"Aku... sungguh mencarimu... karena aku-" Ibuku terus berbicara sambil menahan rasa sakitnya. Hatiku juga seakan tersayat.


"Aku merindukanmu. Kau... adalah anak yang sangat... aku sayang." Lanjut ibuku. Jiwaku terpukul. Air mata ibuku keluar saat aku memeluknya.


"Maafkan aku." Ucapku.


"Semua melakukan... karena... alasan. Alasanmu tak ingin... aku menjadi... jahat, bukan? Aku sudah... katakan... jika... aku memahamimu."


Aku melihat wajahnya yang tak mampu berkata lagi. Wajahnya yang memucat. Aku merasakan tangan kirinya yang dingin dan gemetar saat aku menggenggam tangan kirinya. Namun, ia tetap berusaha tersenyum saat melihatku.


Erasmus merebut tongkat ibuku dari tangan kanan ibuku. Erasmus dengan cepat mengambil berlian itu. Tanpa mengatakan apapun kepadaku, ia menarik tangan kananku. Ia meletakkan berlian itu diantara tanganku dan tangannya. Aku tak tahu apa yang sedang ia lakukan saat ini.


Dalam hitungan detik, batu itu melebur menjadi abu.


"Apa yang kau lakukan?" Tanyaku pelan.


"Memusnahkan para penyihir." Jawabnya tanpa berfikir panjang.


Ucapannya menyakitkan hatiku. Ia tak memikirkan perasaanku sedetik pun. Aku membunuh keluargaku untuk menyelamatkan keluarganya. Menyebalkan dan terlalu egois.


"Sudahlah! Kau... harus bahagia." Pesan terakhir dari ibuku.


"Maafkan aku. Bukan ini yang aku mau." Aku berusaha menjelaskan kepada ibuku.


Air mataku semakin deras dan tak mampu tertahan lagi. Suara tangisanku semakin terdengar jelas meski ibuku tak mengeluarkan rintihan kesakitan. Melihat kejadian ini membuatku merasa jahat, sangat jahat. Anak macam apa yang membuat ibunya terbunuh. Ia memang melakukan kesalahan dan aku ingin memperbaiki kesalahan itu, bukan untuk membiarkannya terbunuh.


Ini adalah kehidupanku yang selalu menyedihkan.


Kepalaku terasa sangat sakit dan nafasku terasa semakin sesak. Sedih tak hanya meleburkan perasaan, tetapi juga fikiran. Hidupku sudah menyedihkan, kali ini rasanya hidupku hampir musnah.


Semua gelap.


...