RED EYES

RED EYES
Korban untuk Jembatan Swea



"Aku ingin beristirahat!" Aku mengeluh dan mereka mengabaikanku.


Eric membuka daun yang menutup mulut guci, tak setetes air pun yang keluar. Guci yang berukuran sedang adalah sumber cadangan air yang kami miliki. Guci itu hanya satu dan Eric yang membawanya. Kekecewaan tersirat dari mata kami saat kami menyaksikan Eric membalik guci itu.


Tenggorokanku terasa sangat kering, aku bahkan takut jika pembuluh darah di tenggorokanku akan pecah. Kulitku tak hanya kotor karena belum membersihkan tubuh selama dua hari, kulitku juga terlihat jelas mengering. Aku takut jika kulitku akan berubah menjadi kulit badak. Bibir sudah beberapa kali berdarah. Bahkan air liur tak mampu melembabkan bibirku lagi.


Kepalaku sudah pusing, entah karena aku terlalu lelah, lapar, haus atau kurang tidur. Kami sudah berjalan di tengah hutan selama empat hari. Sendi lututku mulai terasa pegal tiap kali melangkah. Ingin beristirahat, tetapi waktu mengejar kami agar Wiender tidak dimusnahkan.


Aku bahkan tidak menyangka jika selama berhari-hari aku hanya menelan rebusan dedaunan yang tak aku ketahui namanya atau ikan yang dibakar. Tak ada gandum, roti, oat atau nasi yang melengkapi makananku. Aku benar-benar hidup seperti manusia purba.


Mereka mungkin terbiasa hidup tanpa listrik karena mereka adalah bagian dari alam. Mereka tak pernah mengeluh setiap serangga menghampiri mereka. Mereka mungkin sangat terbiasa jika nyamuk menyerang mereka. Namun, tidak bagiku. Hatiku ribuan kali mengeluh karena peradaban ini. Hidup tanpa istrik, memakan makanan tanpa rasa dan sering dihampiri nyamuk adalah hal yang teramat menyebalkan bagiku.


"Aku ingin pulang!" Keluhku lagi. Keluhan yang selalu keluar dari lisanku setiap nyamuk menggigitku atau lagi-lagi memakan rebusan daun. Mereka tetap mengabaikan keluhanku.


Pemandangan yang terus-menerus aku lihat hanyalah hutan. Setiap langkah aku melihat pohon, setiap langkah aku melihat rerumputan, setiap langkah aku melihat benalu, setiap langkah aku melihat semak-semak, setiap langkah aku melihat tanah merah atau genangan air. Aku benar-benar bosan melihat pepohonan. Lagi-lagi hijau, lagi-lagi kekuningan dan lagi-lagi coklat.


"Dimana kita?" Tanya Erasmus kepada Eric.


Langkah Eric pun terhenti. Ia tak sedikit pun menoleh kepada Erasmus yang sedang bertanya padanya. Saat aku menghampirinya, aku melihat kekhawatiran dari wajahnya yang pucat. Cahaya matahari membantuku untuk melihat jendela bola matanya yang terbuka lebar. Aku merasa ia ketakutan.


"Kenapa?" Tanyaku.


"Mungkin kita perlu beristirahat sebelum melewati jembatan itu." Jawab Erasmus saat matanya memandang ke arah yang sama seperti pandangan mata Eric, begitupun Cassie.


Aku mengikuti arah mata mereka. Aku hanya melihat sebuah jembatan tua yang terbuat dari kayu. Memang jembatan itu sangat terlihat tua, tetapi aku yakin jembatan itu akan aman untuk kami lewati. Mengapa mereka merasa takut?


"Kalian takut oleh jebatan itu?" Tanyaku. Aku memberikan senyuman yang meremehkan mereka.


Semua mata mulai terarah padaku. Apakah ada yang aneh dengan ucapanku?


"Jembatan Mozag, tidak semua penyihir mampu melewati jembatan itu dan tidak ada satu pun Garde yang berhasil melewati jembatan itu. Mungkin aku adalah manusia satu-satunya yang akan mencoba melewati jembatan itu."


Apa? Cassie adalah manusia?


"Kau adalah manusia?!" Aku bertanya karena terlalu kaget dengan ucapannya. Ia pun mengangguk tanpa memikirkan kembali perkataannya.


"Matamu-"


"Bukankah semua manusia memiliki warna bola mata yang berbeda, tidak hanya Garde yang seperti ini. Aku yakin jika kau pernah melihat bola mata manusia berwarna biru atau coklat muda. Bahkan manusia seperti penyihir karena mampu mengubah bola mata." Balas Cassie.


Aku melupakan fakta jika semua manusia 'normal' juga memiliki warna bola mata yang berbeda-beda. Aku hanyut dalam dunia ini karena selalu bersama Erasmus dan Eric. Mampu mengubah warna bola mata seperti penyihir? Aku yakin jika yang ia maksud adalah lensa yang ditempelkan langsung di mata.


"Sudah berapa lama kau terjebak di dunia ini?" Tanyaku.


"Apa maksudmu dunia ini?" Ia membalasku dengan pertanyaan.


"Wiender, Dark Point dan Kangel." Balasku. Ia tersenyum lagi.


"Ini tetap di bumi dan waktu disini sama dengan waktu di bumi. Bagaimana mungkin kau menyebutnya seperti dunia lain?" Aku tahu jika Cassie sedang menahan tawa dibalik jawabannya. Aku masih belum menerima jika aku berada di dunia nyata.


"Cukup! Ayo kita beristirahat dan membicarakan siapa yang harus menjadi korban." Erasmus kembali berbicara.


...


Kini hanya aku dan Eric yang tersisa. Rasanya sepi karena hanya berdua. Suasana memang lebih tenang, tetapi banyak bagian hidupku yang hilang rasanya. Hal yang tak pernah aku bayangkan jika aku akan kehilangan Erasmus dan Cassie.


Jika kami berjalan menginjak tanah, rerumputan dan daun kering yang gugur, aku selalu mendengar suara Erasmus. Aku juga akan mendengar suara Cassie yang bersandiwara menjadi wanita terimut, aku benci wanita seperti itu. Selalu ada diskusi setiap langkah, tidak kali ini. Lebih sepi rasanya, terasa pedih.


"Berhenti!" Pinta Eric dengan tegas.


Aku menghentikan langkahku. Ia duduk diatas tanah. Aku pun duduk di sampingnya. Baru saja lima menit yang lalu kami beristirahat, rasanya sangat tidak mungkin jika Eric sudah merasa lelah.


Ia melepas seutas tali dari pergelangan tangannya. Tali yang cukup tipis dan berwarna coklat. Ia pun memberikanku tali itu. Untuk apa?


"Ikat rambutmu!" Perintah Eric.


Aku pun mengikat rambutku. Ia mengerti jika rambutku memang membuatku merasa lebih panas saat terik matahari menyerang kami.


"Ayo!" Ajakku untuk melanjutkan perjalanan.


"Kau tahu jika aku menyukaimu?" Tanya Eric. Ia masih duduk di atas tanah.


Apakah ia sedang mengungkapkan perasaannya saat ini? Di hutan?


Mataku bertemu dengan matanya. Aku segera mengalihkan pandanganku dengan cepat. Tanpa alasan yang jelas seluruh tubuhku terasa gemetar. Ada perasaan yang membuat wajahku memerah. Rasa yang sulit dijelaskan. Aku ingin tersenyum, tetapi ada rasa ego yang menguburnya. Ada apa denganku?


"Ayo, kita ke Dark Point!" Aku mengalihkan pembicaraan.


Sebuah panah melewatiku, panah kedua pun menyusul. Apa yang terjadi?


Dua orang asing menghampiri kami, mereka memiliki bola mata berwarna merah. Aku segera menarik tangan Eric agar kami dapat kabur secepat mungkin, tetapi Ericlah yang menghalangi langkahku. Ia diam dan menahanku pergi dengan tangannya yang menggenggamku erat.


Apa yang sedang terjadi?


"Kau ingin membunuhku, Eric?" Tanyaku sambil menatapnya dengan tatapan tajam.


"Tidak akan, Claire! Ini rumahmu dan kami adalah keluargamu." Balas Eric.


Aku pun berusaha melepaskan tanganku dari pria pengkhianat ini. Aku jelas sangat marah dan sangat membencinya. Bagaimanapun ia yang memusnahkan Erasmus dan Cassie. Pantas saja ada hal yang sangat mengganjal, jika ia mampu membantuku menyebrang, mengapa ia tak membantu yang lain.


Aku menarik tanganku darinya, tetapi tak bisa. Semakin lama rasanya tanganku mulai mati rasa. Aku tak lagi mampu menarik tanganku. Eric sudah menyihir tanganku.


"Jika kau membiarkan mereka membawaku kepada Ratumu. Kau akan menghancurkan Wiender dan segalanya. Eric-"


"Jika aku tidak membawamu, kedua orang tuaku akan musnah! Para penyihir akan musnah. Aku juga akan musnah, Claire." Eric memotong pembicaraanku.


Eric pun menyentuh kepalaku. Aku merasa tak ada lagi energi dalam tubuhku. Aku melemah dan benar-benar tak berdaya. Aku tak mampu mengeluarkan suara. Aku pun terjatuh karena kakiku seakan tak mampu menopang tubuhku.


Aku berusaha mencari pertolongan. Namun, tak ada yang berpihak padaku. Aku pun melihat sebuah pohon. Apakah pohon itu mampu menolongku?


Jika aku Garde, aku mohon keluarkan kekuatanku saat ini. Aku mohon. Aku terus menatap pohon itu dan berusaha mengendalikannya. Aku tahu jika ini di luar logika, tetapi hanya itu caranya agar aku pergi dari mereka.


Sihir Eric semakin kuat. Ia mulai berusaha membuatku mataku terpejam. Aku berusaha menolak dan masih berharap jika sebuah pohon akan menolongku.


Eric belum melepaskan tangannya dari kepalaku. Namun, aku mulai bisa menggerakkan kaki dan tanganku kembali. Tubuhku tak melemah lagi. Aku pun menyingkirkan tangan Eric dari kepalaku dengan paksa.


Akar pohon pun menusuk dada kedua penyihir yang berada disekitarku dan Eric. Aku mulai tahu bagaimana aku bisa mengendalikan pohon, aku hanya meminta pada pohon itu melakukan hal yang aku bayangkan. Sesederhana itu rupanya.


Kini hanya ada Eric di hadapanku. Aku ingin melakukan apa yang telah ia perbuat padaku. Aku ingin menyihirnya. Membuatnya lemah dan tak berdaya, merasa sakit atau tertidur, tetapi ada sebuah perasaan yang melarangku untuk membunuhnya.


"Aku akan kembali ke Wiender dan kembali ke tempatku. Aku mengorbakan nyawaku agar aku bisa membantu Erasmus lalu aku cepat angkat kaki dari tempat ini. Kedua teman kita mengorbankan nyawanya untuk Wiender. Kami mengorbakan segalanya untuk kemenangan! Kau menghancurkan segalanya, Eric." Aku mengatakan kalimat itu begitu saja.


Aku tak mampu memaafkan Eric. Mungkin salahku yang terlalu banyak berharap pada seorang penyihir, bagaimanapun ia sama seperti manusia, tak selamanya baik dan memiliki sisi yang keji. Aku salah karena telah percaya dan berharap padanya, mungkin alasan ini yang mulai membangun rasa kecewa kepadanya.


Aku melangkah menjauhinya setelah aku meminta ranting pohon untuk mengikatkan kaki dan tangan Eric Eric. Ia diam. Matanya seakan sedang memohon padaku agar menghentikan ranting pohon yang sedang membuatnya kesakitan.


Aku tak lagi melihatnya. Berbalik untuk membelakanginya, lalu berjalan ke jalan yang aku lalui sebelumnya. Melangkah saja. Tak tahu kemana arah dan tujuan. Aku berusaha meyembunyikan kaki gemetarku dengan langkah yang cepat. Aku menyembunyikan rasa takutku dengan mengangkat kepalaku.


"Hei, anak cantik!" Aku mendengar suara wanita dari balik tubuhku. Suara itu menghentikan langkahku.


Aku pun menoleh. Wanita memiliki bola mata berwarna merah. Ia adalah wanita yang pernah aku lihat saat aku menyebrangi Jembatan Swea. Mahkota dan tongkatnya adalah hal yang paling mencolok dari penampilannya, selain kecantikannya.


"Anakku pasti sudah mengenalku. Aku tak perlu memperkenalkan diri lagi." Ucap wanita itu.


Anak?


Seekor burung gagak pun mendarat di bahu wanita itu. Aku melihat seorang pria bertubuh pendek berdiri di samping wanita itu, bola mata berwarna hitam, ia juga berjanggut hitam lebat. Aku melihat ada banyak orang berbola mata merah sedang mengawalnya.


"Ratu Vei, itulah aku. Apakah anakku tak ingin memelukku?"


Ia mulai menghampiriku.


"Mata kananmu memiliki bola mata berwarna hijau, seperti pria bodoh itu. Aku senang jika mata kiri kita sangatlah sama.-" Ucapnya.


"Apakah kau tak merindukan ibumu, nak?" Pertanyaan itu lagi.


Apa? Ibu? Apakah ia berbohong? Aku ingin tertawa rasanya, tetapu aku juga ingin menangis karena rasa kesal ini.


Aku pun mengeluarkan pisau belati. Aku sangat tidak ingin menjadi pembunuh, tetapi tidak kali ini. Ia mengaku sebagai ibuku? Yang benar saja! Aku tak tahu apakah perkataanya adalah benar atau salah. Aku sedang berusaha jika wanita itu sedanc berbohong.


Langkahnya yang pelan terus mendekatiku. Satu langkah kakinya mendekat, aku menjauh satu langkah.


Jujur aku sangat kesal kali ini hingga aku tak mampu menahan air mataku. Pria yang aku sukai pun berkhianat. Wanita yang sangat ingin aku temui, melakukan banyak sekali kejahatan. Rasa pedih di hati ini sungguh terasa meski tak terucap. Jika seseorang bertanya, kapan hal yang sangat menusuk batinmu terjadi? Mungkin aku akan menjawab saat ini.


"Ada yang salah." Ucap wanita itu.


Mungkin ia tahu dari mataku jika aku sedang marah. Tentu aku marah! Aku kehilangan kedua sahabatku, aku kehilangan kepercayaan untuk Eric dan aku kecewa jika Ratu Vei adalah ibuku. Aku mengorbankan nyawaku agar keluar dari bagian bumi yang terpencil ini! Tak hanya kekalahan, rasanya musibah menimpaku juga.


Ia pun mengeluarkan siulannya. Dan semua gelap. Aku-


...