RED EYES

RED EYES
Jalan Lain



Mungkin, ini adalah pertama kalinya aku tersenyum karena aku merasa bahagia. Aku tak tahu itu sebuah kebohongan atau kenyataan, tetapi jika itu adalah kebohongan maka aku tak ingin mendengar kenyataannya. Kini dan akhirnya, aku mengenal siapa kedua orang tuaku yang sebenarnya. Setelah aku menjalani hidup bersama Nyonya Renata, rasanya sedikit mustahil jika aku adalah keluarga kerajaan.


Aku masih mengingat jelas bagaimana Nyonya Renata menyiksaku setiap harinya. Ia memberikan kamar yang tidak layak untuk ditempati. Ia memaksaku bekerja selama 24 jam. Ia selalu menghinaku di hadapan semua orang yang ia kenal. Ia selalu mengabaikanku saat aku sakit. Ia tak peduli saat aku menangis. Semua yang wanita jahat itu lakukan adalah merusak kisah indahku.


"Aku adalah anak dari seorang raja." Ucapku saat aku melihat foto Raja Loi di dinding istana.


Semua foto Raja Wiender berjajar. Aku hanya melihat terdapat lima foto yang berjajar. Sebelum foto Raja Hank adalah foto Raja Loi. Raja Loi terlihat sangag gagah di foto itu, tentu dengan mata hijaunya.


"Merindukan ayahmu?" Aku mendengar suara Erasmus.


Aku menoleh ke sisi kiri tubuhku, Erasmus telah berdiri di sisi kiri. Aku ingin bertanya sedang apa ia disini, tetapi aku terlalu malas untuk berbincang dengannya. Pada akhirnya ia akan membuatku marah.


"Mengapa kau menatap foto Raja Zein?" Tanya Erasmus.


"Bukankah ini ayahku?" Tanyaku.


"Foto ayahmu adalah foto sebelum Raja Zein. Raja Zein hanya memegang tahta untuk sementara." Jawabannya membuatku malu.


Bodoh sekali. Mungkin aku melupakan foto ayahku karena aku tak pernah lagi melihat fotonya. Ayahku dan Raja Zein juga terlihat sangat mirip.


"Ini adalah kali pertama aku memberanikan diri untuk melihat foto orang tuaku." Aku membuka pembicaraan.


Erasmus diam. Ia tak berbicara, tidak seperti biasanya. Mungkin ia tak ingin merusak suasana hatiku.


"Sejak aku tahu siapa kedua orang tuaku, apa yang mereka lakukan selama ini dan nama ayahku sendiri, aku merasakan keadaan yang sangat membuatku bahagia." Aku mulai bercerita.


"Mengapa?" Balasnya dengan tanya.


"Nyonya Renata sangat jahat padaku. Aku juga tahu jika ia adalah adik dari ayahku dan sahabat dari ibuku. Bukaankah jika kita ingin melihat sifat seseorang, maka lihat dari sifat orang terdekatnya? Untuk melihat sifat kedua orang tuaku, aku melihat sifat Nyonya Renata."


"Ia tak seburuk yang kau fikirkan." Erasmus membela.


"Kau membela orang yang salah. Jika keluargaku melakukan kesalahan, maka aku tetap memandangnya sebagai orang yang bersalah dan tak akan membelanya."


Erasmus tersenyum dan mengangguk pelan saat mendengar pembelaanku. Ia tak membantah, berarti yang aku katakan adalah benar.


"Jika kau mengenal ayahku, pasti kau mengenal ibuku. Bagaimana sifat ibuku?" Tanyaku pada Erasmus.


"Ibumu sangat cantik." Jawab Erasmus.


"Hanya itu?"


"Ia juga sangat berani." Jawabnya dengan tersenyum.


"Apakah ia sangat baik?" Tanyaku lagi.


"Iya." Jawabnya.


"Apa warna bola matanya?" Tanyaku lagi.


"Merah." Jawab Erasmus.


Ia adalah penyihir.


"Mengapa mereka meninggal dan menitipkanku kepada Renata?"


Akhirnya pertanyaan yang sangat aku pendam pun keluar melalui. Aku tahu Erasmus mulai menatapku, tetapi aku tidak ingin melihat wajahnya.


"Melindungi Wiender. Bibi Renata adalah orang yang paling dipercaya oleh ayahmu." Jawabnya.


Jawabannya terlalu singkat bagiku. Namun, aku tak ingin bertanya lagi. Semua yang terjadi tiba-tiba, masih cukup menakutkan bagiku jika ada hal yang jauh dari harapanku.


....


"Bangunlah!" Seseorang menendang punggungku dengan keras.


Aku membuka mataku secara perlahan dan merintih kesakitan. Eric membangunkanku dengan kasar. Tendangan yang hampir membunuhku tentu berhasil membangunkanku dengan cepat.


"Bisakah kau lakukan dengan cara yang baik?" Tanyaku dengan kesal.


Aku pun bangun dari tidurku, mulai duduk di atas kasur untuk mengumpulkan tingkat kesadaranku. Saat aku menoleh ke arah jendela kamarku, aku belum melihat cahaya matahari sedikit pun. Ayam memang sudah berkokok untuk menyambut pagi, meski matahari belum keluar.


"Jika kau tidak ingin menikahi Erasmus, maka bergegaslah dan bawa semua perlengkapanmu! Aku tunggu kau di halaman belakang istana sepuluh menit lagi." Ajak Eric.


Eric pun keluar dari kamarku. Langkah kakinya tak bersuara. Ia juga menutup pintu dengan pelan agar tidak menimbulkan suara. Istana ini masih sangat hening.


Apa?!


Eric mengajakku untuk meninggalkan Wiender. Mataku membesar dan aku segera berlari. Kesempatan emas pun tiba. Aku bergegas mengambil ransel yang berisi pakaianku. Mataku melihat seluruh kamar, menerka barang apa yang bisa aku bawa dan dapat aku jual.


Aku pun mengenakan topi, meski pakaian yang aku kenakan masih pakaian penduduk Wiender. Aneh rasanya jika aku melihat penampilan diriku di cermin. Aku segera memakai ransel dan siap meninggalkan istana ini. Bergegas pergi.


Melangkah secara perlahan. Berusaha hentakan kaki tak bersuara. Namun, langkahku terhenti saat aku baru melangkah sebanyak lima langkah keluar dari kamarku. Aku mendengar suara seseorang melangkah mendekati tempatku saat ini. Aku pun bersembunyi dibalik pajangan, baju besi ksatria.


Aku fikir semua penjaga akan tidur, rupanya tidak. Apakah masih ada seorang penjaga istana? Suara langkah kaki itu semakin terdengar jelas, terus mendekat dan mendekat. Tiap suara kaki membuat jantungku berdegup tak karuan. Kening dan telapak tanganku sudah dibasahi keringat yang berasa dingin. Langkah itu terus mendekat. Aku tak tahu akan melangkah kemana, rasanya jalan yang tersedia hanyalah kembali ke kamar.


"Hei, sedang apa?" Aku mendengar suara Eric dibelakangku.


Eric?


Aku menoleh dan membisu. Eric dan Erasmus berdiri di depan mataku saat ini. Aku mengerti mengapa Eric berada di dekatku, tetapi mengapa ia bersama Erasmus?


"Apa kau ingin kabur dari istana?" Tanya Eric dengan kening yang mengkerut.


"Aku hanya meminta Eric membangunkanmu." Erasmus melanjutkan.


Aku pun berdiri. Membanting ransel yang berat ke atas lantai, aku harap jam antik itu tidak hancur. Wajahku mungkin terlihat sangat tidak bersahabat karena kecewa dengan harapanku. Aku tidak akan mempercayai Eric lagi. Menyebalkan!


"Aku sudah bangun. Kenapa?" Tanyaku dengan ketus kepada dua pria menyebalkan yang ada di hadapanku.


"Ikut aku!" Pinta Erasmus.


Erasmus pun melangkah lebih dulu, aku tepat di belakangnya. Eric berjalan disampingku, ia sudah merubah wujudnya seperti Lucas. Semua penjaga dan pelayan yang sudah bangun memberi hormat kepada Erasmus dan diriku saat kami melangkah, aku merasa canggung jika mereka menghormatiku secara berlebihan.


Langkah demi langkah pun kami terlewati. Hanya kami bertiga, saat ini Erasmus tidak didampingi oleh pengawalnya. Langkah Erasmus mengantarkan kami keluar istana. Sudah tidak ada bintang dan bulan masih bersembunyi, langit masih terlihat gelap karena matahari belum bersamanya.


Erasmus menghentikan langkahnya di tengah halaman yang penuh akan rumput hijau yang terasa lebih tajam dari jenis rumput lainnya. Hanya kami bertiga disinj. Tak ada pepohonan, begitupun bunga dan hewan. Hanya ada dinding belakang istana dan tembok raksasa yang mengelilingi halaman ini.


"Claire-"


"Diana!" Eric memotong perkataan Erasmus.


"Jika Raja mendengar nama itu, ia akan diasingkan dari tempat ini." Erasmus menjelaskan dengan memberi tatapan tajam kepada Eric. Erasmus selalu melakukan itu jika ia berbicara dengan Eric.


"Panggil aku Diana!" Aku akan bahagia jika aku diasingkan.


Eric tertawa, Erasmus pun memandangiku dengan gumpalan rasa kesal.


"Claire, jika kau tidak ingin menikahiku, maka kita harus mengembalikan warna matamu agar kau dapat memainkan sihirmu kembali. Tak hanya itu, kau juga harus belajar bela diri." Erasmus menjelaskan maksud kehadiran kami di belakang halaman ini. Ia juga tidak memanggilku Diana.


"Mengapa?" Tanyaku. "Tak bisakah kau kembalikan aku ke alamku? Aku tidak seharusnya disini." Lanjutku.


"Sudah banyak penyihir yang mencarimu disana. Jika kau kembali, nyawamu akan pergi. Mereka sudah mendengar kabar jika Diana masih hidup." Eric menjelaskan.


"Lalu? Aku bisa bersembunyi." Balasku dengan angkuh.


"Tak ada yang bisa bersembunyi di bumi. Ia akan mengambil darahmu." Eric mulai menatapku tajam.


"Apakah kau tahu Bumi dan Wiender akan hancur hanya untuk mencarimu? Apakah kau tahu jika saat ini Hera mempertaruhkan nyawanya agar kau dilindungi oleh Garde? Apakah kau ingin menjadikan usaha ayahmu sia-sia?"  Erasmus marah.


Keheningan yang mencekam diisi oleh suara ayam yang berkokok. Empat mata penuh dengan amarah. Mereka mulai kesal pada diriku.


"Erasmus, bisakah kau langsung jelaskan mengapa kau membawaku ke Wiender dan berusaha menikahiku?" Tanyaku.


"Kami membutuhkanmu." Balas Erasmus.


"Untuk membunuh penyihir terkuat?" Balasku.


Mereka memaksaku untuk melakukan hal yang sangat mustahil. Melawan penyihir terkuat adalah diluar batas kemampuanku. Melawan Renata saja sudah menyulitkan, tak mungkin untuk melawan penyihir.


"Kau tidak membunuh penyihir itu. Hancurkan mahkota dan tongkat sihirnya!" Pinta Erasmus.


"Lalu aku akan mati?" Tanyaku.


"Kami akan melindungimu. Kita harus kembalikan warna bola matamu. Kita tak akan kalah." Erasmus sangat yakin.


"Bagaimana jika aku menolak?" Tanyaku. Mempertaruhkan nyawa bukanlah hal yang mudah.


"Kau akan membahayakan bumi, Wiender dan dirimu sendiri. Tak ada pilihan lagi, Claire."


Hening yang diisi tatapan mata penuh paksaan.


"Baiklah." Jawabku. "Setelah aku menghancurkan benda itu, bebaskan aku!" Pintaku.


....