
Matahari masih bersembunyi, meski ayam mulai berkokok. Kami melanjutkan perjalanan saat dini hari. Kami melangkah dengan menopang senjata di punggung. Tentu lelah, tetapi perjalanan harus berlanjut agar kami mencapai tujuan kami.
Kami masih mengenakan pakaian para penjaga istana sejak kemarin. Badanku terasa sangat kotor, tentu karena sepanjang hari kami berada di alam bebas. Jangankan pakaian ganti, kami pun tak memilikj pembekalan.
Erasmus melangkah tepat di depanku. Eric berada di sisi kiriku. Mereka melangkah lebih cepat dariku karena begitu antusias menghampiri Garuda. Dengan berat hati aku melangkah dengan cepat agar tidak tertinggal oleh mereka, tentu aku tak ingin tersesat di hutan.
"Dimana mereka?" Tanya Erasmus. Aku tak tahu apa yang ia tanyakan.
Erasmus menghentikan langkahnya, aku dan Eric mengikuti. Erasmus mulai mengarahkan pandangannya ke berbagai arah. Tak lama, Erasmus mulai mengeluarkan pedangnya dan Eric bersiap mengeluarkan sihirnya. Aku? Aku masih tak mengerti apa yang akan mereka lakukan.
Erasmus berbisik pada Eric, aku sama sekali tak mendengar apa yang Erasmus katakan. Tak lama, Eric pun mengubah warna bola matanya menjadi warna kuning. Aku pun tahu maksud bisikan Erasmus kepada Eric.
Panah melewati diriku secara tiba-tiba. Erasmus dan Eric berdiri seakan meindungiku. Aku melihat Erasmus bersiap dengan pedangnya dan Eric bersiap dengan panahnya. Aku hanya bisa mengeluarkan pisau belati, aku memang tak seperti Erasmus yang handal memainkan pedangnya dan Eric yang pandai mengarahkan anak panah dengan tepat sasaran. Kami harus siap melawan jika seseorang menyerang kami.
"Raja Luis?" Aku mendengar suara yang tak pernah aku dengar, itu bukan suara Erasmus atau suara Eric.
"Pangeran Erasmus." Jawab Erasmus dengan cepat.
Aku melihat pria bertubuh kecil menghampiri kami. Ia mungkin setinggi perutku. Pria itu bukanlah seorang anak kecil, wajahnya terlihat lebih tua dari kami. Ia memiliki kerutan di wajahnya yang berwarna sawo matang. Matanya sangat besar dan bola matanya berwarna hitam legam. Telinganya sangat mirip dengan gajah. Pakaiannya sama dengan pakaian penduduk Wiender, hanya saja pakaiannya terlihat sangat kotor.
"Mohon maaf pangeran, aku fikir seorang penyihir akan menyerang kami." Pria itu membungkuk sembilan puluh derajat.
Erasmus pun meminta tubuhnya agar kembali berdiri dengan tegak. Senyuman Erasmus pun berhasil membuatnya ikut tersenyum. Mereka terlihat akur. Saat panah itu melewatiku, aku fikir akan terjadi peperangan.
"Maaf pangeran, beberapa menit yang lalu aku merasakan adanya penyihir di tempat ini." Pria itu menjelaskan. Aku yakin jika penyihir itu adalah Eric.
"Nama saya Goldam, penjaga penduduk Kangel." Ia memperkenalkan dirinya kepadaku dan Eric.
Goldam mulai melangkah, kami pun mengikuti langkahnya. Sejak awal aku tak tahu kemana setiap kakiku melangkah. Seperti biasa, aku hanya mengikuti mereka.
Mataku terus melihat Goldam. Rasanya seperti berada di negeri dongeng karena aku benar-benar melihat seorang yang seperti kurcaci. Aku selalu berfikir jika di dunia ini tidak ada seorang kurcaci.
"Apakah ia kurcaci?" Aku berbisik pada Eric.
"Aku bukan kurcaci! Tubuhku hanya lebih kecil darimu, tetapi aku bukanlah kurcaci." Goldam menjawab pertanyaanku.
Kini ia mengeluarkan tatapan yang sangat tajam padaku. Tak ada lagi senyum untukku. Aku merasa jika aku telah membuatnya tersinggung.
"Dia adalah calon istriku." Lagi-lagi Erasmus mengucapkan kalimat itu. Namun, kata-kata Erasmus berhasil membuat Goldam menghilangkan tatapan tajamnya. Tetap saja, aku tak ingin pertolongan seperti itu.
Kami melangkah kembali. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di tempat ini. Pepohonan disini memang terlihat lebih hidup jika dibandingkan pepohonan di Wiender, mungkin penyihir belum menyerang tempat ini.
"Bagaimana keadaan Kangel?" Tanya Erasmus.
"Lebih aman dibandingkan tempat persembunyian Wiender." Jawab Goldam.
"Jika Wiender-"
"Saya yakin jika keluarga kerajaan Wiender mampu menjaga para Garde. Kami yakin itu, sehingga kami tak perlu menampung rakyat Wiender. Kami sangat menghindari peperangan." Goldam memotong ucapan Erasmus.
Aku mulai mengerti jika maksud perkataan Goldam adalah ia tak ingin para Garde mengungsi di Kangel karena akan membuat risiko. Mungkin jika aku adalah Goldam, aku akan melakukan hal yang sama.
Kami pun memasuki sebuah gua yang kecil dan sempit. Aku, Erasmus dan Eric harus membungkuk untuk berjalan di gua itu. Gua itu cukup gelap, tetapi masih terdapat sedikit cahaya yang menerangi gua itu.
Aku mulai melihat cahaya di ujung gua, aku rasa itu adalah pintu keluar dari gua ini. Jika gua ini tak sempit, aku pasti sudah belari agar berhasil keluar dari gua ini.
"Selamat datang di Kangel." Sambut Goldam saat kami berhasil keluar dari gua itu.
Aku melihat banyak rumah yang terlihat seperti gubuk diatas tanah merah yang keras. Disisi lainnya aku melihat hamparan rerumputan hijau, semak dan pepohonan. Sesekali aku melihat kerbau, sapi dan ayam. Aku tak melihat tumbuhan atau hewan langka disini Tempat ini memang tak seindah dan tak seajaib Wiender.
"Aku harus bertemu Garuda." Erasmus segera memberi tahu tujuannya untuk datang ke tempat ini.
"Aku tahu jika itu adalah maksud kedatanganmu, Erasmus. Aku tak menyangka jika kau membawa dua penyihir ke tempat ini." Ucap pria yang wujudnya seperti Goldam, kali ini pria itu memiliki janggut panjang berwarna putih dan tampak jauh lebih tua dari Goldam, ia muncul secara tiba-tiba.
Erasmus menghampiri pria itu. Eric dan Goldam segera duduk dengan kedua kaki ditekuk, bentuk kaki seperti sudut dua puluh derajat. Aku pun mengikuti mereka, mungkin pria itu adalah orang terhormat.
"Mohon maaf kepala suku, ada hal-"
"Garuda sudah menunggumu." Kepala suku Kangel pun memotong ucapan Erasmus dengan wajah yang sangat ramah.
...
Jika pemimpin Garde tinggal di istana, itu berbeda dengan tempat tinggal kepala suku Kangel. Aku sempat menduga jika tempat tinggal kepala suku akan lebih baik dari tempat tinggal penduduk Kangel, tetapi kenyataannya jauh berbeda. Tempat tinggalnya sama saja seperti tempat tinggal penduduk Kangel, hanya saja tempatnya memang lebih luas dan dijaga oleh beberapa penjaga.
Kami duduk di atas bangku rotan, kecuali Goldam dan dua penjaga yang berdiri di sekitar kepala suku. Meja yang dilapisi oleh daun dari pohon pisang. Alas kaki kami berkontak langsung dengan bebatuan kecil nan halus yang sering sekali ditemukan di tepi sungai. Rasanya aneh saja jika seorang pemimpin hidup seperti rakyat biasa.
"Rumahku sangat berbeda dengan rumahmu, Erasmus. Aku harap kau nyaman di tempat ini." Ucap kepala suku dengan suaranya yang terdengar cukup serak.
"Mengapa kau tidak hidup di tempat yang lebih besar?" Tanyaku.
"Hahaha. Jika aku hidup lebih nyaman, bagaimana aku bisa merasakan suka dan duka penduduk Kangel lainnya?" Balasnya denga ramah. Ia sangat bijaksana bagiku.
Seorang wanita, tentu penampilannya seperti penduduk Kangel lainnya, ia datang dan memberikan segelas air hangat untuk kami semua. Ia juga meletakan dua mangkuk madu di hadapan kami.
"Selamat datang." Ia menyapa kami dengan senyuman. Ia amat ramah. Mataku membesar saat wanita itu segera duduk tepat di samping kepala suku.
"Ia adalah istriku." Kepala suku memperkenalkan istrinya setelah melihat mataku.
Aku merasa tempat ini sangat damai saat aku melihat pemimpinnya yang begitu ramah, baik dan bijaksana. Tak seperti tempat lainnya, mereka luar biasa. Aku harap Erasmus dapat mengambil pelajaran dari kunjungan ini.
"Garuda sudah berbicara padaku jika kalian akan datang." Kepala desa membuka pembicaraan.
"Saya ingin bertemu Garuda." Balas Erasmus.
"Tidak bisa, Erasmus." Jawab kepala suku dengan cepat.
"Mengapa?" Tanya Erasmus. Wajahnya mulai menggambarkan kekecewaan.
"Garuda telah pergi meninggalkan kami sejak delapan tahun yang lalu. Garuda tidak ingin membahayakan kami. Garuda tahu jika ia tetap berada disini, penyihir akan datang dan menyerang kami."
Mendengar penjelasan kepala suku, aku tahu jika kedatangan kami sia-sia. Erasmus terlihat sangat kecewa dan Eric cukup kaget dengan perkataan kepala suku.
Aku menoleh kepada Eric dan Erasmus. Mereka hanya diam setelah kepala suku berbicara.
"Bukankah seharusnya kau mencatat ucapannya?" Aku berbisik pada Eric.
"Aku ingat ucapannya. Jangan samakan kecerdasanku dengan kebodohanmu." Balas Eric tanpa menatapku.
Erasmus segera meminum air hangat yang telah disediakan, begitupun Eric. Aku mengikuti mereka untuk meminum air yang telah disediakan. Sopan santun bertamu memang seperti itu, Erasmus dan Eric cukup memiliki etika dalam bertamu.
Kami pun berdiri dan pamit meninggalkan Kangel. Kami memang tidak memiliki banyak waktu untuk menjalankan misi ini.
"Hidup memang banyak sekali pilihan dan setiap pilihan memiliki takdirnya." Kepala suku mengeluarkan kata-kata bijaknya. Aku yakin kalimat itu untuk Erasmus yang tidak pandai memimpin.
"Terimakasih, kepala suku." Ucapan Erasmus pun memulai langkah kami.
"Garuda meminta agar kalian berempat tetap hidup."
Kalimat terakhir itu membuat langkah kami terhenti. Berempat? Mataku dan Eric segera terarah pada Goldam. Mungkinkah Goldam akan ikut bersama kami?
"Hei, namaku Cassandra." Seorang wanita yang sangat cantik menghampiri kami. Dari cara bicaranya ia terlihat anggun.
Wanita itu berbeda dengan penduduk Kangel. Badannya memang tidak sependek Kangel, tetapi tinggi badanku hampir sama dengannya. Kulitnya sangat putih. Rambut hitamnya panjang dan bergelombang. Senyum dari bibir tipisnya sangat mempesona. Ia juga memiliki bola mata berwarna biru langit. Bola matanya berwarna biru langit, mungkinkah ia Garde?
"Aku tak bisa memberikan kalian senjata, tetapi aku bisa memberikan kalian ksatria kami dan perbekalan yang cukup. Aku harap kalian berhasil." Kepala suku memberikan ksatrianya. Ksatria? Seorang wanita yang anggun?
....
Angin malam yang sangat membuatku menggigil. Gubuk dan kasur yang terbuat dari rotan yang dilapisi kain tak cukup membuatku tertidur. Aku pun melangkah keluar dari gubuk yang disebut kamar pendatang. Langit menyapaku dengan bulan purnama dan jutaan bintang yang menerang di langit hitam. Tak hanya cahaya bulan dan bintang, api yang berada di obor juga menerangi pemukiman ini. Aku menoleh ke berbagai arah tetapi tak ada Suku Kangel yang masih terjaga selain beberapa penjaga di sekitar kamar kepala suku.
"Aku tahu seorang putri sulit sekali tertidur diatas rotan." Kepala suku yang tiba-tiba muncul sangat mengagetkanku.
"Aku hanya belum mengantuk." Balasku.
"Ingin mendengarkan sebuah lagenda?" Ajak kepala suku dan aku mengangguk.
Langkah kepala suku sangat lambat, langkahku sangat kecil untuk mengimbangi langkahnya. Aku tak mungkin melangkah di depannya karena aku masih memiliki sopan satun.
"Dahulu kami tinggal bersama Garde." Kepala suku mengatakan hal yang tak pernah Erasmus atau Eric ceritakan.
"Kami ditugaskan oleh lima ksatria-"
"Lima ksatria?! Apakah patung di tengah hutan itu?" Pertanyaanku memotong perkataannya. Apakah patung lima ksatria di tengah hutan adalah kisah nyata?
"Kau sudah tahu?" Kepala suku tersenyum saat ia melihatku telah mengetahui patung lima ksatria di tengah hutan.
"Dahulu, tak ada raja di Wiender. Wiender dipimpin oleh lima ksatria. Lima ksatria itu membentuk Wiender saat kami hampir dimusnahkan oleh manusia dan melindungi Wiender saat penyihir berusaha merusak alam. Aku adalah salah satu dari mereka yang paling lemah. Saat kami bermusyawarah di meja bundar, mereka memberi tugas kepada Suku Kangel yang seluruhnya memiliki badan kecil dan tidak tega membunuh untuk menjaga berbagai benda kramat di gudang istana.-"
"Lucu sekali bukan? Lalu aku bertanya kepada tiga ksatria yang memilih Suku kami untuk menjaga benda sehebat itu. Ksatria Loi, Raja Loi, menjawab jika orang jujur lebih kuat dari petarung. Ksatria Renata-"
"Renata?!" Mataku membesar! Apakah yang dimaksud adalah Renata yang aku kenal? Aku yakin bukan, mungkin hanya nama yang sama.
"Ksatria Renata adalah ksatria termuda. Gadis 17 tahun sudah mampu menjadi ksatria tangguh. Wanita itu begitu mempercayaiku karena suku kami tak pernah berkhianat selama hidup kami."
Langkah kepala suku terhenti di hadapan api unggun. Kepala suku itu duduk di bebatuan. Aku pun melihat beberapa penjaga melindunginya dari kejauhan. Tanpa berfikir panjang, aku pun duduk di dekatnya. Aku sudah terbiasa duduk di atas tanah.
"Seorang wanita yang sangat menderita pun marah kepada takdirnya. Ia merasa tak ada jalan lain selain menggunakan benda kramat. Kami tak menyangka jika sihirnya mampu membuat kami lumpuh dalam beberapa saat. Ia pun mencuri beberapa benda kramat dan melarikan diri.-"
"Salah satu ksatria sangat pemarah dan hukuman yang ia berikan adalah siksaan yang sangat tidak manusiawi. Aku pun memutuskan merahasiakan segalanya. Pengkhianatan dan kebohongan pertama suku kami adalah kesalahanku.-"
"Kebenaran akan selalu terungkap. Raja Loi mengetahui rahasiaku dan Raja Loi terbunuh karena kesalahanku. Tak hanya itu, keluarga Raja Loi hancur karena aku."
Kepala suku pun meneteskan air matanya. Air matanya begitu deras dan tak terhenti. Nafasnya terlihat menyesakkan karena penyesalan seakan memaksanya untuk berhenti bernafas.
"Aku memohon maaf kepadamu karena kau yang menerima penderitaan karena kesalahanku." Lanjut kepala suku sambil menangis.
Aku hanya diam. Aku tak mampu menyalahkan pria tua sebaik dirinya.
"Ksatria Kristal dan Ksatria Renata menghancurkan semua benda kramat yang tersisa agar penyihir tak menggunakan benda itu untuk keserakahannya. Satu ksatria menjadi korban, dua ksatria menghancurkan benda kramat dan satu ksatria, aku, menjadi sumber masalah."
"Lalu?" Aku mulai penasaran.
"Garuda berjanji melindungi lima ksatria karena ia ingin menjaga kami yang selalu menjaga alam. Ksatria Kristal memilih hidup bersama suaminya yang merupakan seorang artis di duniamu, tetapi keduanya menghilang setelah mengalami kecelakaan. Suku Kangel disembunyikan di tempat ini. Ksatria Renata juga dikirim di bumi untuk menjagamu." Kepala suku menceritakan sesuatu yang sangat sulit dipercaya.
"Renata? Dia sangat jahat dan-"
"Dia menjagamu dan sangat menyayangimu, Diana. Dia bersikap jahat agar para Garde tak membunuhmu hingga ramalan menyedihkan itu terhapus.-"
"Saat aku melihatmu disini, aku tahu akan ada masalah disini. Masalah sudah muncul, Diana. Aku tak mampu membantumu karena kami harus melindungi suku kami dan Garuda." Lanjutnya.
"Bukankah kau tidak tahu dimana Garuda?" Aku semakin bingung dengan keadaan ini.
"Aku berbohong karena Garuda yang meminta. Ia akan menghampiri salah satu dari kalian jika situasinya sesuai, untuk saat ini aku harus menjaga rahasia. Aku mohon, tolong mengerti!" Ia bersikap terlalu hormat padaku, aku menjadi sangat canggung.
Sepertinya cerita sudah selesai.
Kami tak berbicara lagi. Kepala suku hanya menatap api unggun, aku juga bingung harus berbuat apalagi. Haruskah aku pergi?
"Boleh aku meminta tolong padamu?" Kepala suku mengeluarkan suaranya saat aku berniat untuk kembali ke gubuk.
"Tentu." Jawabku dengan cepat.
"Cassandra Adella adalah ibu kandung Cassie dan Leonardio adalah nama ayahnya. Cassandra Adella adalah nama lain yang dimiliki oleh Ksatria Kristal. Bisakah kau membantu Cassie untuk mengenalkan Cassie kepada keduanya?"
Permintaan yang sulit.
"Akan aku bayar kau dengan sebatang emas dan air ini."
Kepala suku menunjukkan sebuat botol yang sangat kecil, bahkan hanya sebesar ibu jari. Air yang terlihat berwarna hijau. Apakah itu sirup?
...