RED EYES

RED EYES
Suka dan Duka



"Kau terluka!" Eric sangat kaget saat ia melihat luka di kakiku.


Aku baru tahu jika kakiku terluka dan mengeluarkan darah yang cukup banyak saat Eric menyadari itu. Rasa sakit pada luka itu muncul saat aku baru mengetahuinya. Saat aku tak tahu jika kakiku terluka, rasanya tak ada rasa sakit.


"Aku akan mengambil air dan tumbuhan herbal untuk membersihkan lukamu." Ucap Eric.


Eric segera berlari ke arah sungai yang kebetulan ada di hadapan kami. Ia mengambil air dengan daun yang terlekuk. Cassie sedang mencuci lengannya yang penuh dengan darah. Erasmus hanya diam sambil menatap sungai yang bersih dengan tatapan kosongnya.


Aku segera mengambil pedang milik Erasmus. Saat Erasmus membuang pedangnya, aku pin mengambil pedangnya. Aku juga sudah mencuci pedangnya secara diam-diam saat kami baru saja sampai di sungai.


Aku pun menghampiri Erasmus. Akum melangkah dengan kakiku yang terasa sakit untuk mendekatinya, aku juga membawa pedang miliknya. Ia tak menyadari jika aku menghampirinya, ia terlihat hanyut dalam fikirannya.


"Erasmus, kau meninggalkannya." Aku meletakan pedang itu di hadapannya. Ia pun menoleh padaku sesaat.


Ia kembali hanyut dalam fikirannya dan aku duduk sambil memikirkan apa yang harus aku katakan. Rasanya aneh sekali saat melihat pria yang sering bertanya menjadi membisu.


"Terimakasih." Ucapku. Hanya kata itu yang terfikirkan olehku.


"Untuk apa?" Ia bertanya.


"Terimakasih telah menolong kami." Balasku.


"Maksudmu menjadi pembunuh?" Balasnya. Aku tak mengerti tentang apa yang ia katakan.


Aku diam dan tidak ingin berbicara lagi. Aku takut jika ucapanku akan menjadi kesalahan. Aku yakin jika Eric dan Cassie sangat berterimakasih padanya.


"Aku telah membunuh para penyihir itu. Itu adalah hal yang seharusnya tidak dilakukan." Ucapnya.


"Lalu kau ingin membiarkan kami mati?" Tanyaku.


"Aku yakin jika itu adalah perintah. Bukan keinginannya untuk membunuh kita. Dalam hidupku, tadi malam adalah kali kedua aku membunuh seseorang. Aku mengeluarkan kekuatanku yang akhirnya akan membunuh pohon itu dan penyihir itu."


Ia terlihat seperti berduka. Kini aku sedikit tahu mengapa ia sangat menghindari peperangan dan tak ingin menyerang. Erasmus tak ingin ada darah yang tumpah hanya karena keserakahan satu orang. Ia tak salah, meski ia juga tak benar.


"Untuk apa kau membawa pedang?" Tanyaku. Jika ia tak ingin membunuh, seharusnya ia cukup membawa perisai.


"Ini milik ayahku. Pangeran selalu diwariskan senjata perang milik raja saat raja mempercayakan Wiender untuk pangeran. Jika aku tak membawa ini, rakyat Wiender akan berfikir bahwa raja tak mempercayaiku sebagai penerusnya." Ia menjelaskan.


Kami diam. Kini aku hanya mendengar derasnya air sungai. Erasmus tak berbicara lagi. Tatapan kosongnya pun kembali lagi.


"Jika kau tidak membunuh mereka, maka kau akan menyesal melihat kami mati. Sudahlah!" Ucapku. Ia tetap diam.


Aku melihat rasa bersalah yang cukup besar darinya. Aku tak tahu apakah mungkin masa lalunya yang semakin memperberat emosinya saat ini. Aku juga tak ingin bertanya tentang masa lalu seseorang.


....


"Haruskah kita memainkan sebuah game?" Aku bertanya kepada mereka semua. Namun, hanya Erasmus yang menoleh kepadaku.


Aku sangat membenci situasi ini. Mereka semua menatap kosong api unggun. Tidak berbicara atau mengatakan hal lainnya. Aku yakin Erasmus masih memikirkan para penyihir jahat yang ia tusuk dengan pedangnya. Cassie sibuk menahan rasa sakitnya karena telah diserang oleh puluhan anak panah, aku tahu jika ia sedang merintih meski ia tak bersuara. Eric? Aku menduga-duga jika ia sedang menyesali keputusannya untuk ikut bersama Erasmus, sepertiku.


"Ayo kita bermain game!" Ajakku dengan antusias atau aku akan mati karena terlalu lama membisu.


"Aku tak punya sebuah benda kecil multifungsi yang menangkap sinyal satelit atau jaringan yang disebut pai." Jawab Cassie, lagi-lagi ia mengeluarkan ekspresi yang begitu polosnya.


"Yang kau maksud adalah ponsel, Cassie. Bukan pai, tetapi wifi!" Jawabku dengan kesal.


Aku tak menyangka jika aku akan hidup bersama makhluk hidup yang tak mengetahui betapa hebatnya teknologi yang sudah dibuat oleh para ilmuan hebat. Apakah mereka mengetahui internet? Apakah mereka mengetahui bioskop? Apakah mereka mengetahui televisi dan komputer? Sudah pasti, tidak.


"Permainan apa?" Tanya Eric.


"Aku menyebutnya sebagai truth or dare. Dimulai dengan memutar sebuah botol, jika mulut botol terarah pada seseorang maka ia harus menjawab pertanyaan dengan jujur atau berbohong. Jika kau memilih berbohong, maka kau bersedia di hukum. Karena tidak ada botol, maka kita lakukan saja secara bergantian." Aku menjelaskan.


Mereka diam, aku akan anggap jika mereka telah mengerti. Aku tidak ingin menjelaskan lagi, terutama menjawab pertanyaan dari Cassie.


"Apakah tidak ada pilihan lain? Kedua jawaban itu membuatku berbohong." Jawabnya dengan wajah memelas. Eric tertawa pelan saat ia mengeluarkan wajah yang menyedihkan itu.


Aku memberi isyarat kepada Eric, aku mengarahkan mataku kepada Cassie. Eric mengangguk. Eric pun mulai menyentuh kepala Cassie. Aku harap Eric membuat Cassie merasa kesakitan, sama seperti yang ia perbuat padaku. Namun, beberapa detik Eric menyentuh kepala Cassie, Cassie hanya tertawa geli. Eric tak memberikan rasa sakit kepada Cassie, ia memberikan rasa geli. Menyebalkan.


"Eric, mengapa kau ingin membantu Erasmus? Bukankah tidak ada hal yang gratis di dunia ini." Tanyaku pada Eric.


"Aku ingin membantunya demi orang tuaku." Ia mungkin menjawab dengan jujur.


"Erasmus-"


"Adakah orang yang kau sukai?" Tanya Cassie. Ia memotong pembicaraanku. Apakah ia benar-benar bodoh? Orang boodoh apa yang mengakui perasaannya?


"Tentu, Hera." Jawab Eric.


"Aku menyukai Claire." Ia berbohong. Aku tahu itu.


Aku memberi isyarat kembali pada Eric. Namun, Eric menggelengkan kepalanya dengan cepat. Aku baru ingat jika Garde tak akan mampu terkena sihir. Sebagai gantinya, aku memberi tendangan padanya. Tendangan itu sangat pelan bagiku, tetapi berhasil merubah posisinya.


"Apakah ada yang ingin bertanya padaku? Jangan tanyakan ilmu hitung!"


"Claire, adakah orang yang kau sukai?" Tanya Eric.


"Erasmus." Jawabku berbohong.


Mataku pun menatap mata Eric. Aku memberikan isyarat jika aku telah berbohong. Ia hanya diam, ia membalas tatapanku. Tak ada respon lain, ada apa dengannya? Aku memberikan isyarat lagi, berupa anggukan, tetapi ia mulai mengalihkan pandangannya. Aneh. Apakah ia merasa jika aku menjawab pertanyaan dengan jujur?


Baiklah, permainan ini mulai membosankan.


"Eric, apakah semua penyihir mampu melakukan hal yang kau lakukan?"


Aku bertanya pada Eric karena aku benar-benar ingin mengetahui jawaban itu. Pertanyaan itu bukanlah bagian dari permainan. Erasmus dan Cassie juga menoleh pada Eric, mereka juga inngin tahu jawaban itu. Semua mata tertuju pada Eric seakan ia menanti sebuah jawaban.


"Tidak." Jawabnya singkat.


"Lalu bagaimana kau melakukan itu?" Tanya Erasmus dengan cepat setelah ia mendengar jawaban Eric.


"Para penyihir mampu melakukannya jika ia mengetahui caranya. Aku hanya mengendalikan kerja otak. Setiap bagian otak memiliki fungsinya tersendiri. Ada bagian untuk menyimpan memori jangka panjang atau jangka pendek, ada bagian yang mengendalikan pengelihatan, ada bagian yang mengatur sensasi kulit, ada bagian yang mengendalikan emosi, ada bagian yang mengendalikan cara bicara dan banyak lagi. Aku hanya mengatur suatu substansi dalam tubuh untuk mengendalikan bagian otak mana yang akan aku aktifkan. Sederhana." Ia menjelaskan.


Apakah ia sedang menjelaskan pelajaran biologi atau ilmu medis?


"Bagaimana kau mengetahui bagian-bagian otak itu? Bagaimana kau tahu cara kerja otak." Tanya Cassie, pertanyaannya sudah mewakilkan pertanyaanku.


"Aku mempelajarinya sendiri." Jawabnya.


Eric pernah menceritakan tentang penyihir kepadaku. Penyihir tidak seperti Garde, sangat berbeda. Garde memiliki kekuatan dan sudah ditetapkan kekuatan apa yang dimiliki. Penyihir memang berpotensi memiliki kekuatan, tetapi ia harus mencari kekuatan itu. Eric mengetahui tentang otak manusia, sihir dan pengetahuanlah yang menciptakan kekuatannya. Sama sepertiku, aku tak tahu pengetahuan apa yang aku milik dan aku tak tahu bagaimana mengeluarkan sihir itu.


"Jika kita berhasil memusnahkan sihir, apa yang akan kau lakukan?" Tanya Eric kepada kami, mungkin ia juga bertanya pada diri sendiri. Itu terlihat dari matanya.


"Aku akan menjadi raja, membangun Wiender dan memulai hidup yang baru." Jawab Erasmus.


"Aku ingin makan enak terlebih dahulu, lalu aku ingin pulang untuk bertemu ayahku. Kepala suku mengatakan jika aku akan pulang bersama Claire." Jawab Cassie.


"Tentu, memulai hidup yang baru." Aku menjawab.


Mereka menoleh padaku. Tatapan yang penuh rasa iba pun menyerang wajahku. Aku benci tatapan itu. Bagaimana mungkin ia mengasihaniku? Apakah aku menyedihkan? Aku menyesal memberi jawabanku.


"Jangan kasihani aku!" Aku membentak mereka. Mereka pun segera mengalihkan pandangan mereka.


...