RED EYES

RED EYES
Bola Mata



'Bruk!' Wanita menyebalkan itu menutup pintu kamarku dengan sangat kasar. Aku harap pintu yang telah lapuk itu tak hancur saat ia menutup pintu itu dengan kuat.


"Tetaplah di kasur hingga semua keluargaku pulang!" Teriak Bibi Renata dari balik pintu. Ups, Nyonya Renata maksudku.


Aku tak pernah ingin menemui keluarga besar nyonya Renata. Tanpa ia perintahkan, tentu aku akan mengunci kamarku agar aku tak melihat salah satu keluarga ayahku. Aku sudah membenci mereka sebelum aku mengenal mereka, meski hingga saat ini aku belum mengenal mereka.


Aku membanting tubuhku untuk berbaring di atas tempat tidur yang keras. Rambutku yang panjang dan berwarna hitam legam menutupi seluruh bantal tipis yang berada dibawah kepalaku, menyebar dan berantakan. Aku menutup mataku, berusaha untuk tidur walau aku belum mengantuk.


Sejenak aku berfikir, haruskah aku berusaha untuk bahagia meski kehidupanku tak pernah membuatku bahagia? Haruskah aku berusaha menjadi wanita yang baik, meski aku bukanlah wanita yang baik? Harus berapa lama aku berpura-pura menjadi wanita yang sabar? Jika banyak sekali orang yang berpendapat 'Jadilah dirimu sendiri!", rasanya aku tak pernah menjadi diriku sendiri.


'Bruk!' Lagi-lagi. Aku yakin kamarku akan runtuh jika Nyonya Renata terus membanting pintu kamarku. Kamar yang dibangun oleh kayu yang selalu disantap rayap dan pintu lapuk yang selalu dibanting oleh Nyonya Renata mungkin dapat diprediksi kapan kamar reot itu hancur. Seharusnya ia sadar jika kamar reot seperti ini tidak diizinkan untuk membanting pintu.


"Oh, ada orang disini? Mengapa tidak makan bersama kami?" Suara pria. Mataku terbuka lebar saat aku mendengar suara pria. Siapa?


Aku pun melihat seorang pria yang berdiri tepat di depan pintu kamarku. Ia pun melangkah dan memasuki kamarku. Bagaimana mungkin orang ini datang ke gubuk kecil yang berada di samping rumah Nyonya Renata? Apakah ia salah satu keluarga nyonya Renata?


"Pergilah!" Pintaku. Aku kembali menutup mataku.


"Mengapa tidak makan bersama kami?" Tanya pria itu lagi. Aku mulai membencinya.


"Aku seorang pembantu." Aku menjawab pertanyaannya dengan mata tertutup.


Aku berbaring dan tetap menutup mataku. Berusaha agar pria itu segera pergi saat ia tahu jika aku ingin tidur. Sejujurnya, berpura-pura tidur. Aku harap ia segera pergi dari hadapanku.


"Ayo, makan! Keluargaku tak pernah keberatan untuk makan bersama." Ajaknya. Baiklah, aku semakin membencinya.


Keluarganya tak pernah keberatan untuk makan bersama? Aku rasa ia tak mengenal keluarganya sendiri. Renata selalu memaksaku untuk menghabiskan makananku di kebun belakang rumahnya. Jangankan untuk makan bersama, ia melihatku menelan nasi di dapur saja sudah pasti aku akan dicaci dan dimaki. Jika aku datang untuk makan bersama keluarga besarnya, aku pasti akan kehilangan nyawaku.


"Aku tidak lapar. Pergilah!" Pintaku dengan ketus.


"Kau tak ingat padaku?" Pria itu bertanya lagi. Jika aku memegang batu sebesar bola basket, akan aku lempar batu itu ke arah wajahnya.


"Tidak." Jawabku tak peduli. Aku tetap menutup mataku.


"Sungguh? Kau akan menyesal jika melupakan aku." Balasnya.


Aku pun membuka kedua mataku. Mataku mulai melihat pria itu. Wajahnya sudah aku lihat. Ia tersenyum, tak hanya bibirnya, matanya juga tersenyum. Tentu aku mengingatnya.


Pria itu memiliki warna rambut kecoklatan, aku suka warna rambutnya. Bola mata berwarna hitam legam dan kulitnya yang pucat. Rasanya aku tak mudah melupakan pria aneh dalam hidupku. Aku memang mengingat pria itu.


"Oh, kau pria aneh yang menangis di supermarket. Anggap saja kita tak pernah bertemu. Aku akan melupakan pertemuan itu."


"Pergilah!" Pintaku lagi, kali ini nada suaraku lebih kasar.


"Kau mau ikut bersamaku?" Tanya pria itu.


Aku segera mengambil sebuah buku yang kebetulan dekat dengan kepalaku. Aku melempar buku itu ke arahnya, aku harap buku itu mengenai bibirnya.


"Namaku Erasmus Nelson. Kau bisa panggil aku Erasmus." Pria itu tidak pergi.


"Tidak peduli." Jawabku. Lebih baik aku benar-benar tidur saja.


Tidak ada lagi suara pria itu. Kamarku mulai sunyi. Hening. Baguslah, ia telah pergi dan meninggalkanku sendiri. Semoga aku tak dapat melihat pria itu lagi.


Aku pun kembali membuka mataku. Pria itu tak lagi di sampingku, tetapi ia berdiri didekat jendela. Ia tersenyum saat mata kami bertemu. Aku semakin benci pria itu.


"Hei, di tempatku sangat indah." Ucapnya lagi.


"Apakah itu pemakaman?" Balasku dengan wajah yang menyebalkan.


"Haha, candaanmu lucu juga." Ia menertawakan hal yang tidak lucu. "Kau ingin ikut denganku?" Ia mengajakku lagi.


"Tidak." Balasku dengan ketus.


Ia mulai melihat langit malam melalui jendela kamarku yang dilapisi oleh debu yang tebal. Ia pun mulai bersenandung, aku tak tahu lagu apa yang sedang ia senandungkan. Aku akui suaranya 'sedikit' indah, tidak seburuk suara nyonya Renata yang hanya mampu membentak.


Aku melihatnya lagi. Ia masih menatap langit malam melalui jendela kamarku. Namun, mengapa bola matanya berbeda? Bola matanya berubah.


Aku ingat ia memiliki bola mata berwarna hitam legam. Mengapa saat ini warna bola matanya berubah menjadi warna hijau? Apakah aku salah lihat? Apakah aku memiliki gangguan pengelihatan? Mungkinkah warna bola matanya berubah karena cahaya lampu kamarku yang redup?


"Tempatku sangat indah. Wilayah yang dipenuhi oleh pohon dan bunga. Danau yang sangat indah. Disana juga terdapat sepasang ikan koi yang amat cantik, mereka mampu menjodohkan seseorang dengan orang yang sangat dicintainya jika cinta itu layak. Sungai dengan air terjun yang memukau, airnya juga tak pernah kotor seperti di lingkunganmu. Tak pernah ada kebencian disana." Ia mulai bercerita, tentu aku tak peduli.


Tidak mungkin ada tempat seperti itu. Dia fikir aku percaya?


Aku masih melihat bola matanya. Bola matanya kini berwarna hitam, bukan hijau. Warna hitam pada bola matanya sangat jelas. Sepertinya mataku mengalami gangguan.


"Ada banyak hal yang tidak kau ketahui. Jika kau diam di tempat ini, kau tak akan pernah tahu segalanya. Tetaplah menjadi budak dan tak pernah tahu siapa dirimu yang sesungguhnya. Aku pergi." Erasmus pun pergi. Seharusnya ia pergi sejak awal.


...