RED EYES

RED EYES
Dua Pria Asing dan Aku



"Aku benci hidupku-" Aku mengeluh karena Eric membohongiku dan Erasmus mengurungku saat aku sudah bebas dari Renata.


"Bukan waktu yang tepat." Balasnya Lucas. Aku tak mengerti mengapa Lucas mengatakan hal itu.


Tak lama, Lucas merubah wujudnya menjadi Eric. Aku tak percaya dengan apa yang baru saja aku lihat. Eric benar-benar seorang penyihir.


"Mengapa?" Tanyaku.


"Besok aku akan membawamu pergi dari tempat ini. Malam ini aku akan membantumu mencuri emas di istana ini."


Eric melangkah dan ia semakin mendekat. Ia benar-benar ada di hadapanku. Warna bola matanya sangat jelas di mataku karena wajahnya semakin dekat.


Ia memainkan sihirnya lagi. Aku tak percaya dengan apa yang aku lihat. Ia merubah dirinya menjadi Lucas.


"Kau adalah Lucas!" Aku berteriak. Aku tak menyangka dengan apa yang aku lihat.


"Tidak ada Lucas. Aku hanya menyamar menjadi wujud yang berbeda." Balasnya. Ia benar-benar penyihir yang handal.


Eric melangkah keluar dari kamarku, ia telah melewati pintu kamarku sebagai Lucas. Ia meninggalkanku seperti tak pernah mengenalku. Pergi begitu saja, tanpa kata-kata yang memberikan harapan untuk membawaku pergi.


Aku pun membantingkan tubuhku diatas kasur yang megah. Menatap langit-langit kamarku yang dilukis seperti langit biru bersama tumpukan awan. Kamar termegah yang pertama kali aku tempati. Aku menyukai kamar ini, tetapi aku tidak menyukai istana ini.


"Aku melihat Lucas keluar dari kamarmu." Suara Erasmus terdengar di kamarku.


Aku menoleh ke arah pintu kamarku. Erasmus berdiri di depat pintu kamarku. Dari wajahnya aku mengerti jika ia menunggu penjelasanku mengapa Lucas keluar dari kamarku. Tatapan matanya penuh kecurigaan.


"Kau membebaskan burung dari sangkarnya agar burung itu bahagia. Namun, kau menahan manusia di kamar ini meski tersiksa?" Balasku.


Aku tak memperdulikannya dan tetap berbaring di atas kasur. Aku terlalu malas untuk melihat Erasmus. Sangat banyak rahasia ia simpan dariku. Ia juga menahanku dan membodohiku. Aku benci pria seperti Erasmus.


"Kau marah?" Tanya Erasmus. Aku diam.


"Lima hari lagi adalah pernikahan kita." Balasnya. Apa?!


Aku pun bangun dari tempat tidur. Langkah kaki menghampirinya dengan cepat. Mataku membesar. Darah di seluruh tubuhku mendidih. Melangkah dengan cepat, aku pun menamparnya saat ia di hadapanku.


Air mataku menetes begitu saja, tetesan air mata ini keluar begitu saja. Nafasku mulai terasa sesak dan tubuhku melemas. Erasmus mulai terlihat menakutkan di mataku.


"Kau sangat membenciku?" Tanya Erasmus.


"Sangat." Balasku.


Apakah ia memandangku sebagai wanita tak memiliki harga diri? Memaksaku menikah tanpa bertanya apa pendapatku. Tak mengizinkanku memutuskan apa yang aku pilih. Ia adalah pria terjahat mulai detik ini.


Erasmus menarik tanganku dengan keras dan menarikku. Ia memaksaku untuk ikut dengannya. Langkahnya sangat cepat dan semua pelayan menundukkan kepalanya saat melihat Erasmus menarikku dengan kasar.


Erasmus pun membuka pintu sebuah ruangan yang tak jauh dari kamarku. Ia membawaku ke kamar yang lebih megah dari kamarku. Namun, kamar ini terlihat tidak memiliki penghuni. Hanya ada debu, berbagai benda yang diselimuti kain putih dan sebuah foto besar sepasang suami istri yang menempel di dinding kamar ini. Aku tak kenal siapa mereka, tetapi mereka terlihat sangat bahagia. Wajah keduanya tak pernah terlihat di mataku.


Ia melepaskan tanganku dan menatapku penuh amarah. Aku hanya menatapnya sambil menahan air mata.


"Kau benar-benar tidak mengingatku?" Tanya Erasmus.


Tempat ini benar-benar membuatku sakit kepala. Siapa yang harus aku ingat? Aku tak pernah ke tempat ini seumur hidupku.


Erasmus pun berjalan ke arah salah satu meja di kamar itu. Ia mengambil sebuah bingkai foto yang berada di atas meja. Ia melangkah kembali padaku dan melempar bingkai foto itu ke arahku.


"Lihatlah!" Pintanya.


Aku melihat diriku, Erasmus dan Eric di foto itu. Foto ini terlihat usang, tetapi aku melihat diriku dan Erasmus saat masih kecil, mungkin saat kami berusia tiga tahun. Erasmus dengan bola matanya yang berwarna hijau. Aku dengan bola mataku berwarna hitam.


"Hera, aku tak bisa membatalkan pernikahan ini untuk kedua kalinya." Ucap Erasmus dengan pelan.


"Aku tidak percaya ini." Aku melempar foto itu ke arah Erasmus.


Aku membisu. Rasanya sangat gila. Aku masih tak mengerti apa yang sedang terjadi. Sihir, Garde, Penyihir dan Pernikahan adalah hal yang masih sulit dicerna otakku.


"Anggap aku adalah calon istrimu. Apakah kita saling mencintai?" Tanyaku.


"Tentu." Jawabnya dengan yakin.


"Mengapa kau berusaha memaksaku untuk menjadi Hera?" Tanyaku.


"Kau adalah Hera." Ia berusaha menipuku?


"Karena kau mencintai orang tuamu dan kaum penyihir melebihi diriku. Kau juga membenci perang."


Aku diam. Masih saja tak mengerti. Ini terjadi sangat tiba-tiba.


"Kembalikan warna bola matanya, Erasmus!"


Aku menoleh ke arah suara itu. Eric datang menggunakan wujud Lucas. Eric melangkah pelan untuk menghampiri aku dan Erasmus.


"Lucas, aku tahu jika kau adalah Eric." Ucapan Erasmus mengembalikan wujud asli Eric.


"Sejak kapan kau tahu?" Tanya Eric. Lucu sekali, usaha Eric yang sia-sia mampu membuat hatiku tertawa.


"Tentu saja sejak Lucas terbunuh karena penyihir. 5 tahun yang lalu. Kau fikir aku bodoh?"


Eric menarik tangan kananku, Erasmus berhasil menarik tangan kiriku. Kedua pria yang mulai menyusahkan hidupku menarik kedua tanganku.


"Apakah Garde terhormat dan terkuat ingin menikahi penyihir terkuat?" Tanya Eric, ia pun mengeluarkan tawa yang nakal.


"Iya." Jawab Erasmus dengan yakin.


"Kau akan membiarkannya mati!" Eric membentak Erasmus.


"Apakah penyihir menginginkan pernikahan kalian? Apakah Ratu yang memintanya datang ke Dark Point?" Tanya Erasmus.


Ayolah, ini bukan cerdas cermat. Aku bisa gila karena kedua pria bodoh ini.


"Iya." Jawab Eric dengan yakin.


"Kau akan membiarkan Garde dan Manusia terbunuh!"


....


Aku tak mengerti apa yang ada di kepala dua pria aneh itu. Beberapa menit yang lalu, mereka berdebat tentang apa yang sangat tidak bisa aku mengerti. Erasmus yang keras kepala untuk menikah denganku dan Eric yang selalu bicara tentang nyawaku. Kedua mata mereka membesar bersamaan dengan setiap kata yang terucap dan terdengar, seakan memaksa agar pendapat milik mereka masing-masing yang paling benar.


"Kalian selalu berdebat tentang diriku, tetapi aku tak mengerti apa yang kalian katakan." Aku pun mulai bicara saat keduanya diam.


"Aku melakukan yang terbaik untukmu, Claire." Erasmus menjelaskan.


"Namanya adalah Diana." Eric memotong.


Namaku saja diperdebatkan. Claire, Hera dan Diana. Aku yang memiliki nama, tetapi mereka yang selalu sibuk berdebat.


"Aku yang akan memutuskan namaku, siapa diriku, kemana aku akan pergi dan semua tentangku. Kalian hanya perlu memberiku penjelasan tentang apa yang kalian debatkan!" Intonasi suara meninggi dan terdengar penuh emosi.


Kedua mata mereka mulai menatapku. Mereka terlihat berfikir seakan sedang menyusun kata-kata. Aku pun berdiri dan memandangi mereka dengan tatapan yang penuh amarah.


"Kau adalah calon istriku dan-" Erasmus memulai.


"Kau masih saja egois, Erasmus. Apakah kau gila karena Hera telah menikahi Garde yang lebih bijak darimu?" Eric memotong perkataan Erasmus.


Aku menarik nafas panjang dan segera melepaskan pukulanku pada wajah Erasmus. Ia terlihat kesakitan. Aku harap pukulan itu menyadarkan Erasmus jika aku tidak ingin menikahinya.


"Eric, sudah berapa lama Erasmus tidak berkencan? Mengapa ia sangat memaksaku untuk menikahinya?" Tanyaku kesal.


Eric menahan tawa saat melihat Erasmus tiba-tiba membisu karena pukulanku. Mataku dan mata Erasmus saling menatap dengan tatapan yang tajam. Ia mulai terlihat sedikit marah padaku.


"Kau adalah anak dari kakak ayahku, Raja Loi. Dari semua raja, Raja Loi adalah Garde terkuat dan terbijak. Dia bahkan lebih kuat dari ayahku, Raja Hank." Erasmus mulai menjelaskan hal yang sulit aku mengerti lagi. Lagi!


"Bukankah ia adalah ayah Hera?" Tanyaku.


"Dia adalah adik tirimu. Ia sudah memilih untuk hidup di lingkungan manusia." Eric menyelak.


"Aku adalah anak seorang raja di negeri aneh ini. Kau bercanda?" Aku masih tak percaya.


"Dia jujur. Namamu adalah Diana. Ratu Vei, ibumu adalah wanita tercantik di Dark Point dan ia sangat cerdas." Eric melanjutkan.


"Ibumu pun memasuki Wiender. Ia juga menjadi wanita tercantik di Wiender. Banyak pria yang menginginkannya, termasuk Raja Loi. Mereka pun menikah." Lanjut Eric.


Aku cukup puas karena aku mengetahui siapa orang tuaku, meski aku belum yakin dengan perkataan itu. Walau sulit dipercaya, setidaknya ada kisah orang tuaku yang bisa aku dengar. Aku berusaha menyembunyikan senyuman di dalam suasana yang cukup mencekam.


"Hanya itu?" Tanyaku. Lalu apa kaitannya dengan nyawaku.


"Garde dan penyihir tidak diizinkan untuk saling mencintai, apalagi memiliki keturunan." Eric berbicara lagi.


"Mengapa?" Tanyaku.


"Karena keturunan mereka akan membahayakan bumi." Eric menjawab.


Aku semakin tidak mengerti tentang apa yang Eric katakan. Tatapan Erasmus yang selalu melarang Eric berbicara, membuatku semakin penasaran makna dari semua yang ada di hadapanku.


"Aku?"


"Iya. Darahmu memiliki kekuatan terkuat diantara semua Penyihir dan Garde. Salah satu penyihir terkuat membutuhkan darahmu agar menjadi lebih kuat." Ucap Erasmus.


"Donor darah?" Tanyaku.


"Bukan, bodoh!" Eric kesal. Cara bicaranya sangat ketus.


"Lalu? Bagaimana bisa darahku menjadikannya kuat? Apakah ia berfikir jika darahku kaya akan nutrisi?" Tanyaku dengan pertanyaan bodoh. Tentu, semua yang aku dengar sangat tidak masuk akal!


"Jika mahkota penyihir itu ditetesi oleh darahmu, maka ia mampu mempengaruhi fikiran dari semua makhluk hidup. Jika tongkat sihirnya terkena darahmu, maka ia mampu melakukan apapun yang ia mau termasuk menghancurkan dunia. Jika darahmu bersatu dengan darah penyihir untuk membuat suatu keturunan, penyihir akan hidup dengan damai." Eric melanjutkan.


"Dimana benda itu?" Tanyaku.


"Ratu Helena, ia adalah penyihir terkuat, ia yang memilikinya. Ia seorang penguasa Dark Point." Erasmus mengeluarkan suaranya lagi.


"Baiklah, apa yang harus aku perbuat untuk mencegah semua itu?" Tanyaku.


"Membunuh penyihir itu." Eric menjawab.


Aku diam. Hening. Ia memintaku membunuh seseorang yang tak aku kenal? Hal yang lebih gila, ia memintaku membunuh seorang penyihir terkuat.


Aku akui jika Ratu Dark Point adalah wanita yang sangat jahat. Namun, untuk membunuh seorang penyihir terkuat bukanlah hal yang benar. Aku tak bisa melakukan hal itu. Apakah ia berfikir hal itu semudah menelan biji buah markisa?


"Jika kau menikahi Garde bermata hijau, kau bisa menyelamatkan bumi." Erasmus menyelak. Aku benci usulnya.


"Lalu, kau membiarkannya mati? Kau fikir Ratu Dark Point akan membiarkan kau menggagalkan rencana yang telah ia buat selama ratusan tahun?" Eric membentak.


"Aku akan melindunginya!" Balas Erasmus.


"Mengapa aku harus mati?" Tanyaku kepada dua pria yang selalu membicarakan nyawaku.


Rasanya tak ada pilihan. Semua pilihan memaksaku mati, baik mati secara langsung atau mati secara tidak langsung karena berusaha melawan penyihir terkuat. Pilihan yang tersulit adalah menikahi Erasmus, pria yang baru aku kenal, itu sama saja membunuhku juga.


"Aku tidak akan menikahi Erasmus dan aku tidak ingin membunuh penyihir itu. Aku hanya manusia biasa, bagaimana caranya membunuh penyihir terkuat? Saat aku mencoba membunuhnya, ia pasti sudah mengutukku menjadi katak." Aku kesal dengan semua pilihan yang ditawarkan Erasmus dan Eric.


"Apa pilihan lainnya?" Tanyaku.


"Kau harus mati." Jawab Eric tanpa merasa berdosa.


"Baiklah, akan aku lakukan. Bunuh aku." Jawabku.


"Tidak!" Bentak Erasmus.


"Tentu tidak hari ini, Erasmus. Izinkan aku keluar dari Wiender dan menikmati hidupku selama beberapa bulan." Pintaku.


"Lakukan, Erasmus! Aku yakin saat ia keluar dari tempat ini, ia akan kabur menjauhi kita." Baiklah, Eric tahu semua rencanaku. Ia lebih pandai dari Erasmus.


"Lupakan kematian. Menikah denganku adalah satu-satunya jalan, Claire!" Erasmus membentakku.


"Eric, bunuh saja aku!" Pintaku dengan yakin. Lebih baik mati daripada menikahinya.


....