RED EYES

RED EYES
Wiender



"Ayo, kita harus melewati portal!" Ajak Erasmus. Ia menyebut penampakan yang terlihat seperti air sebagai portal.


Ia melangkah, aku menyusul langkahnya. Ia melewati portal itu. Aku mulai memasukan lengan kananku terlebih dahulu, rupanya di mulut gua itu memang bukan air, itu adalah sebuah cahaya yang wujudnya seperti air yang jernih.


Seseorang menarik lengan kananku dari balik portal. Aku pun melewati portal itu dengan cepat. Kini Erasmus sudah berdiri di hadapanku dengan pakaian aneh yang ia pakai. Erasmus tak melepaskan genggaman tangannya dari tanganku, rasa kesal dan sesalku pun bertambah.


Semua yang aku lihat tampak luar biasa. Aku merasa seperti berada dalam negeri dongeng. Aku menampar wajahku dan itu terasa sakit, ini bukan mimpi. Tak ada gua yang gelap, dibalik portal ini terlihat kebun yang ditanami oleh banyak bunga matahari dan bunga anggrek. Banyak kupu-kupu menghampiriku. Aku harap tak ada nyamuk disini.


"Dia adalah calon istriku." Ucap Erasmus pada pria tua yang ada di hadapan kami. Aku tak tahu kapan pria itu muncul.


Erasmus pun merangkul bahuku dengan lengan kanannya. Erasmus mengatakan hal yang tidak bisa diterima oleh akal sehatku. Aku anggap ini adalah sebuah samaran karena aku tak memiliki paspor dan visa ke negara terpencil ini.


Pria tua itu pun meninggalkan kami tanpa mengatakan sepatah kata pun. Tatapannya yang tajam terhadapku berhasil membuatku merasa ketakutan untuk sesaat.


Aku tak tahu kapan Erasmus mengganti pakaiannya dengan pakaian anehnya. Sebuah celana coklat lebar sepanjang bawah lutut Erasmus. Pakaian yang dikenakan berwarna putih dan lebar sepanjang pahanya. Aku bahkan tak mengerti mengapa sebuah tali berwarna keemasan berada diluar pakaiannya, tepat di pinggangnya. Pria yang baru saja meninggalkan kami juga mengenakan pakaian yang sangat asing di mataku. Apakah negara ini mewajibkan rakyatnya untuk mengenakan pakaian seperti pakaian zaman romawi kuno?


"Pakaianmu buruk!" Aku berkomentar kepada Erasmus. Tentu aku berusaha menyembunyikan tawa.


"Apakah pakaianmu lebih bagus?" Balas Erasmus, ia tertawa.


"Apa?!"


Aku pun melihat pakaianku berlengan panjang dan lebar. Aku sangat terkejut karena pakaian terbaikku telah berubah seperti pakaian yang sangat sederhana. Pakaian berwarna biru muda bersambung dengan rok panjang hingga menutupi mata kakiku. Sebuah selendang putih bermotif menutupi bagian kepala hingga siku tanganku. Yang sangat aku tak mengerti, mengapa aku dan Erasmus tidak mengenakan alas kaki.


"Mengapa pakaianku berubah?" Tanyaku. Ini aneh.


"Setiap pakaian akan berubah menjadi pakaian yang sopan jika kita melewati portal itu. Pakaianmu yang sebelumnya akan dianggap tidak sopan di tempat ini." Balasnya.


Tempat ini sungguh aneh. Aku bahkan tak tahu nama tempat yang penuh dengan sihir ini.


"Dimana kita?" Tanyaku lagi.


"Wiender, bukankah aku sudah memberi tahumu?" Balasnya.


"Negara lain. Jangan salahkan aku jika aku tertangkap! Aku tidak memiliki paspor dan visa." Aku berbisik padanya.


"Paspor bukanlah identitas di tempat ini." Balas Erasmus dengan santai.


"Lalu? Kartu Tanda Penduduk?" Tanyaku lagi, ia mengabaikanku.


Erasmus mulai melangkah dan aku mengikutinya. Aku tak tahu kemana ia akan pergi. Aku harap ia melakukan yang benar. Semoga ia tak membawaku ke tempat yang aneh.


"Ada aturan yang harus kau patuhi di negara ini." Ucap Erasmus.


Suaranya terdengar lebih pelan dari sebelumnya. Kedua matanya melihat ke depan. Wajahnya tak menoleh padaku yang tempat di sampingnya.


"Sekarang kau akan menjadi calon istriku." Erasmus benar-benar menyebalkan.


"Apa?!" Aku menghentikan langkahku dan ia mulai menoleh ke arahku.


"Tidak ada pilihan lain." Balasnya.


"Apa? Aku benci hal ini. Pasti ada pilihan lain. Apapun pilihannya akan aku terima selain tawaranmu itu."


"Kau dapat menginjak tanah ini karena aku mempertaruhkan nyawaku untukmu. Apakah kau tidak lihat jika aku telah meneteskan darah di depan portal?" 


"Tidak!" Aku membentaknya. Mataku membesar.


"Hanya sandiwara, Claire!" Balas Erasmus.


Aku tak percaya dengan apa yang baru saja ia katakan. Mempertaruhkan nyawa? Aku tak butuh hal itu. Apakah setetes darah adalah nyawa? Aku kabur dari penjara dan memasuki penjara yang lebih aneh.


"Jika hanya itu pilihannya, maka aku akan memilih untuk tidak memasuki tempat ini!!!" Balasku dengan amarah yang meledak.


"Kau tidak bisa pergi dari tempat ini karena seorang wanita hanya bisa melewati portal jika ia bersama suami, orang tua atau sahabatnya."


Aku pun menoleh ke arah portal yang baru aku lalui. Mataku membesar dan rasanya ingin menjerit saat aku melihat tak ada lagi portal di sekitar kami. Pria tua yang sebelumnya juga tak terlihat lagi.


"Boleh aku bertanya?" Tanyaku.


"Apa?"


"Apakah kita di negeri sihir? Apakah kau ingin menyihir diriku?"


Pertanyaan itu memang tak masuk akal, tetapi pertanyaan itu harus aku tanyakan. Hanya itu cara untuk memastikan hal yang tidak masuk akal. Semua yang aku lihat dipenuhi oleh sihir. Jika aku menceritakan kepada orang lain tentang apa yang aku lihat, maka aku akan dikirimkan ke Rumah Sakit Jiwa.


"Aku rasa kau sedang merindukan kampung halamanmu." Ucap Erasmus, ia tersenyum.


Kampung halaman? Yang benar saja! Aku tidak memiliki keluarga, bagaimana  bisa aku memiliki kampung halaman.


"Tempat ini adalah Wiender, Claire. Negeri sihir yang kau tanyakan sudah musnah sejak dua puluh tahun yang lalu." Lanjut Erasmus.


Memang seharusnya aku tak bertanya pada Erasmus. Setiap kata yang ia katakan adalah hal yang tidak bisa diterima oleh akal sehatku.


"Lupakan nama Claire dari hidupmu! Sekarang namamu adalah Hera."


...


Rasanya benar-benar berada di rumah sakit jiwa. Semua orang, termasuk aku dan Erasmus, menggunakan pakaian yang sangat aneh. Kami tidak memakai alas kaki, untung saja tempat ini di dasari oleh rerumputan, bebatuan yang halus dan pasir yang terasa lebih halus. Tidak ada sampah yang terlihat di mataku, berbeda sekali dengan lingkungan di tempatku.


Ada hal yang lebih aneh lagi. Berkali-kali aku melihat beberapa orang berbicara dengan hewan menggunakan bahasa yang sangat asing di telingaku. Anak-anak kecil yang bermain dengan binatang buas seperti buaya dan ular, anak kecil itu bahkan sedang tertawa bersama binatang buas. Rasanya berada di dalam mimpi karena banyak sekali heman yang aku ketahui sudah punah. Mungkin kepalaku sudah terkena sihir karena aku melihat seekor dinasaurus berleher panjang sedang berjalan di antara pepohonan.


"Dia tidak memakan kalian?" Tanyaku.


"Tidak akan. Kami merawat dan menjaganya agar tetap hidup, tetapi saat ini ia sudah sangat tua dan mungkin tak akan bertahan lebih lama lagi." Balasnya.


"Tidak mungkin, tempat ini pasti dunia sihir." Ucapku pada diriku sendiri.


Tempat ini memang sangat aneh, tetapi aku menyukainya. Tidak ada polusi dari kendaraan karena mereka hanya menggunakan kuda atau sapi sebagai kendaraan mereka. Pegunungan, sungai, pepohonan dan rerumputan membuat pemandangan sangat indah. Sangat sejuk meski matahari sedang di tengah langit, tidak sepanas tempatku.


Jembatan besar yang sedang aku dan Erasmus pijak terlihat sangat kokoh. Jembatan yang berada diatas perairan, sepertinya dibawah jembatan ini adalah sungai. Arus air yang deras terdengar jelas di telingaku. Aku juga melihat sesuatu yang berputar dari kejauhan, berputar seperti roda karena derasnya air sungai. Aku menduga benda itu adalah pembangkit listrik tenaga air.


"Selamat siang, pangeran." Seorang pria yang menyapa dan menghampiri kami, lalu ia membungkuk di hadapan Erasmus.


Aku masih tidak menyangka jika seseorang yang aku benci adalah seorang pangeran. Seorang pria memberikan hormat kepada Erasmus. Pria itu terlihat memiliki umur yang terlihat sama dengan Erasmus.


"Selamat datang, pangeran!" Sapa pria itu lagi dengan rasa hormat.


"Sudahlah, Lucas! Panggil saja aku Erasmus! Kau hanya menjadi pengawalku saat kita berada di istana." Balas Erasmus.


Mereka pun tertawa, mulai bercanda. Seperti dugaanku jika mereka memiliki usia yang sama. Dari keakraban mereka, aku dapat menyimpulkan jika mereka adalah sahabat.


Pria itu pun berdiri di sisi lain Erasmus. Menunjukkan tempat kemana Erasmus harus pergi. Mereka terlihat semakin akrab. Mereka berbincang dan aku hanya diam.


"Apakah wanita ini adalah Hera?" Tanya pria itu.


"Iya." Balas Erasmus dengan cepat.


Aku pun paham jika aku menggunakan identitas milik orang lain. Semua orang selalu menduga jika aku adalah Hera, calon istri dari pangeran. Aku harap Hera yang sesungguhnya sedang tidak di tempat ini, akan canggung jika kami bertemu.


"Hera, dia adalah Lucas. Sahabat kita saat kecil dulu. Kau pasti sudah lupa." Erasmus memperkenalkan Lucas padaku. Aku pun tersenyum padanya.


"Semoga pernikahan kalian dipercepat, rasanya aku ingin bermain dengan Erasmus kecil." Aku benci candaan Lucas. Menyebalkan.


"Kalian pasti saling merindukan satu sama lain. Aku harus pergi agar tidak mengganggu kalian." Lucas pun meninggalkan kami.


Aku kembali melangkah bersama Erasmus. Ia diam dan tak berbicara lagi.


"Erasmus." Aku memanggilnya. Ia menoleh padaku.


"Siapa Hera?" Tanyaku. Semoga jawaban yang ia berikan dapat dicerna di kepalaku.


"Calon istriku. Ia adalah wanita yang terhormat dan sangat baik. Ia adalah salah satu anak dari Raja Loi. Namun, Raja Loi sudah meninggal. Ratu Kena, anak dari kepala pengawal, adalah ibu kandung Hera dan kini sudah meninggal."


"Dimana dia?" Tanyaku lagi.


"Pergi jauh." Balasnya dengan tatapan yang sendu.


"Sudah aku duga." Aku membalas bersama dengan tawa.


"Kenapa?"


"Tentu, ia tak ingin menikahimu. Jika aku adalah Hera, tentu aku akan melakukan hal yang sama."


"Jawabanmu sangat menyakitkan." Balasnya. Aku hanya ingin jujur.


"Sifatku dan Hera terlihat berbeda. Aku tidak bisa terlalu lama di tempat ini karena akan ada seseorang yang menyadari siapa aku sebenarnya."


Erasmus diam. Ia tak lagi membalas perkataanku. Aku mulai merasa jika perkataanku menyakiti hatinya.


Kami berjalan berdampingan. Setiap langkah, semua mata manusia dan hewan memandang kami. Aku juga merasa pepohonan menyambut kedatanganku dan Erasmus. Ini memang aneh, tetapi fakta menunjukan jika alam benar-benar bersatu dan dekat satu sama lain. Aku melihat keindahan bumi yang tersembunyi.


Langkah demi langkah, aku pun tiba di tempat yang luar biasa. Di hadapanku mulai terlihat istana yang sangat megah dan terlihat cukup tua. Meski terlihat tua, istana itu tetap indah karena dikelilingi perairan yang jernih dan hijaunya pepohonan. Pegunungan juga terlihat dari kejauhan. Jika semua manusia mengetahui tempat ini, pasti semua manusia akan tertarik untuk datang ke tempat ini karena sangat indah dan tenang.



"Kau suka?" Tanya Erasmus. Ia mulai berbicara lagi, meski bola matanya yang berwarna hijau tak terarah padaku, tetapi menatap istana di hadapanku. Ia hanya memandang lurus.


"Tentu, alam yang sangat indah." Jawabku dengan antusias, Erasmus tersenyum.


"Lalu, kau mau tinggal disini selamanya?" Tanya Erasmus.


"Tidak. Tempat ini bukanlah tempatku." Aku menjawab dengan cepat.


Kami pun melewati jembatan yang terbuat dari batu. Jembatan yang berdiri kokoh diatas sungai yang bersih. Istana dihadapanku semakin dekat, semakin terlihat kemegahannya.


"Dimana tempatmu?" Tanya Erasmus. Ia masih tidak menatap mataku.


"Tidak punya, tetapi aku akan mencarinya." Jawabku meski belum tahu kemana aku akan pergi.


"Apakah tempat orang tuamu?" Ia bertanya lagi.


"Aku saja tak tahu siapa orang tuaku." Aku menjawab begitu terbuka. Ia pun menoleh melihatku.


"Kau-"


"Aku mohon jangan berbicara tentang keluargaku!" Aku memotong perkataannya. Ia diam.


Semua orang akan bercerita tentang keluarganya, tetapi tidak untukku. Keluargaku adalah orang asing. Renata pernah memberikan selembar foto padaku dan mengatakan jika sepasang kekasih yang berada di foto itu adalah orang tuaku. Awalnya aku percaya, tetapi tidak lagi karena wajahku sangat berbeda dengan kedua orang yang berada di foto itu. Keluargaku adalah orang asing, mengakui hal itu amat memalukan bagiku.


...