RED EYES

RED EYES
Telah diakhiri



Cahaya matahari pagi yang menyilaukan mataku pun membangunkanku. Kamar yang tidak asing, tetapi tempat ini bukanlah Dark Point. Aku berada di istana Wiender, di kamarku.


Aku melangkah mendekati jendela. Mataku melihat sekeliling istana. Terlihat hutan yang gundul dari kejauhan, syukurlah tak begitu luas. Para Garde juga terlihat sudah beraktivitas dengan normal.


"Ratu, anda sudah sadar. Waktunya sarapan." Seorang dayang istana memasuki kamarku.


Ratu? Mengapa ia memanggilku seperti itu. Rasanya sangat aneh. Aku bukanlah Ratu di Wiender dan aku sadar jika aku sedang tidak berada di Dark Point.


"Raja menunggu di meja makan, Ratu." Aku hanya mengangguk. Terlalu lemah untuk mengajukan pertanyaan.


Aku tak mengganti pakaianku dan segera melangkah mengikuti dayang istana. Ia menuntunku ke tempat yang berbeda. Bukan ruang makan yang sering aku datangi saat aku disini. Banyam sekali hal aneh yang terjadi dengan tiba-tiba.


"Kau sudah sadar?" Kini Erasmus berada di hadapanku.


Ia memakai mahkota di kepalanya dan jubah yang terlihat sama dengan jubah yang dipakai raja terdahulu, aku melihat di semua foto raja Wiender. Aku tersenyum, aku mulai mengerti apa yang terjadi saat ini.


"Selamat atas tahtamu." Ucapku, sebagai temannya.


Erasmus menggenggam tangan kananku dengan tangan kirinya. Kami berjalan berdampingan, Erasmus meminta agar pengawal dan dayang tidak mengikuti kami. Aku tak tahu kemana aku akan dibawa.


Langkah demi langkah mengantarkan kami ke sebuah pintu. Erasmus membuka pintu itu dan rupanya terlihat seperti kamar tidur. Aku tak tahu kamar siapa itu.


"Masuklah!" Pinta Erasmus dengan pelan.


Mataku membesar dan rasanya ingin menangis. Aku sangat lega jika ia masih hidup meski ia kini hanya terbaring. Aku memang meninggalkan rasa bersalah kepada Cassie, cukup lega setelah tahu jika ia masih hidup.


"Ia sedang tertidur. Kami berusaha mengobatinya dengan ramuan. Kini ia sudah sadar dan mampu mengedipkan matanya. Ia juga mendengar dan paham dengan apa yang kita ucapkan."


"Lalu?" Tanyaku.


"Kita akan melakukan yang terbaik untuknya." Balas Erasmus.


"Bagaimana dengan Eric?" Tanyaku dengan cepat.


"Kami sudah mengembalikan para penyihir yang hilang ingatan ke bumi, tempatmu dulu. Garde yang bertugas disana sudah memastikan tidak ada ingatan yang tertinggal di kepala mereka. Aku juga menjadikan mereka satu keluarga dengan cara sedikit memanipulasi ingatan mereka. Aku-"


"Ibuku?" Pertanyaanku memotong perkataan Erasmus.


"Menjadi abu bersama berliannya."


"Wiender meminta agar kau menjadi ratu. Maukah kau menjadi istri-"


"Aku ingin menagih janjimu."


Permintaanku memotong kalimat yang ia ucapkan. Aku tahu apa yang akan ia katakan, aku berusaha menghindari kalimat itu.


"Apakah terlalu berat menghadapi semua ini?" Tanya Erasmus kepadaku.


Matanya mulai menatapku sangat dalam. Tatapam itu membuatku tak sanggup untuk menatap wajahnya. Aku harap tidak ada sendu di wajah sahabatku.


"Baru saja aku melawan isi hatiku untuk meninggalkan ibu kandungku, Eric dan Dark Point. Kau harus melawan hatimu jika tahu pilihan yang dipilih hatimu adalah kesalahan besar. Semua yang aku lakukan karena aku mengharapkan sebuah kebenaran akan menang dan aku tidak ingin pengorbanan Cassie dan Eric menjadi sia-sia." Aku menjelaskan.


Sepi diantara kami pun hanya diisi oleh suara jarum jam dinding dan nyanyian burung. Terlalu sulit untuk jujur jika aku tidak ingin di Wiender lebih lama lagi. Aku juga tahu jika Erasmus tak ingin aku melanjutkan perkataanku.


"Kali ini aku memutuskan untuk mengikuti kata hatiku. Biarkan aku memulai kehidupanku yang baru. Aku ingin membuat Cassie mampu berjalan lagi dan aku ingin mencari Eric. Aku mencintai Wiender, tetapi disini bukanlah rumahku." Aku melanjutkan.


"Tidak bisakah kau memulai hidupmu yang baru disini?" Tanya Erasmus.


"Tidak ada alasan agar aku disini, Erasmus. Kau sudah tahu jika aku sudah menikahi Eric dan aku berjanji untuk mencarinya saat ia kehilangan diriku dari ingatannya. Apakah kau masih bisa berfikir jika aku akan menjadi istri dari seseorang yang menusukkan pedang kepada ibuku?"


Aku pun melangkah menjauhi Erasmus. Aku melangkah secara perlahan agar keluar dari kamar ini. Aku berusaha menahan air mataku.


"Jika kau menjawab pertanyaanku, maka aku akan menepati janjiku."


Suara Erasmus menghentikan langkahku meski aku tak menatap matanya lagi. Hanya menunduk.


"Kau mencintai Eric?" Ia bertanya.


"Iya, tetapi aku tak membencimu. Hanya saja ada luka yang membekas dalam ingatanku setiap aku melihatmu."


...


Sebuah portal terbuka dan Erasmus meneteskan darahnya di depan portal. Aku melangkah dan membawa Cassie yang duduk diatas kursi roda. Erasmus juga menepati semua janjinya. Ia memberikanku mobil jeleknya dan bongkahan emas untukku dan Cassie.


Erasmus melambaikan tangannya dan aku membalas lambaian itu. Portal mulai tertutup dan kami pun berpisah sampai disini.


...