
Erasmus berusaha mengambil cincin dari jari manis ratu. Claire sudah tak sadarkan diri. Wanita itu menangisi ibunya dan pria yang dicintai hingga ia jatuh pingsan.
"Jangan hancurkan... cincin ini! Ambil saja. Tolong... Jangan bunuh anakku." Pinta Ratu dengan suara yang terdengar serak.
"Garuda mengatakan terdapat 3 berlian yang harus aku hancurkan agar tidak terjadi peperangan lagi. Aku tahu Eric telah berbohong padaku."
"Kau menghancurkan... berlian di mahkotaku... maka kau menghancurkan sihir dari... bumi ini.... karena berlian itu adalah... sumber kekuatan dari semua penyihir.... yang dibuat oleh... penyihir pertama." Ratu berusaha menjelaskan kepada Erasmus.
"Lalu?"
"Menghancurkan berlian.. di tongkatku... maka menghancurkan diriku dan aku... akan... menjadi abu. Kau... tidak berfikir... mengapa Eric... tidak memberitahu berlian... terakhir?"
"Claire." Ucap Erasmus. Ia mengetahui jawaban teka-teki dengan cepat.
Eric tidak ingin berlian di cincin itu hancur karena ia tidak ingin menjadikan Claire seperti abu. Ratu pun menjadi abu dalam sekejap dan cincin itu ia tinggalkan. Tanpa berfikir panjang Erasmus mengambil cincin itu di atas tumpukan demu dan segera memakainya.
"Pangeran!" Seorang Garde bermata kuning menghampirinya dengan nafas yang terengah-engah. Ia juga terlihat sangat mengkhawatirkan Erasmus.
"Tolong perintahkan beberapa Garde untuk membawa para penyihir yang tak sadar ke bumi. Aku juga ingin agar semua abu di tempat ini segera dihempaskan ke laut lepas. Aku juga ingin mengatur rencana pernikahanku dengan Claire."
Erasmus melihat cincin yang ia kenakan di jari manis tangan kirinya. Berlutut menatap cincin itu dan Claire secara bergantian. Air matanya menetes dan memaksanya untuk bernostalgia.
Ia pun teringat dengan kejadian di jurang itu.
Ia sudah melihat Cassie terbaring dan tak sadarkan diri di sisi kiriku. Kening dan dagunya mengeluarkan sedikit darah. Gelap dan hanya ada kami berdua. Rasanya sangat gelisah karena Erasmus memikirkan apakah Claire dan Eric akan selamat. Cassie yang terbaring seperti mayat juga membuat dirinya semakin takut, bingung dan putus asa.
"Maafkan aku karena terlambat menyelamatkan temanmu, tetapi ia masih hidup. Jangan khawatir, Erasmus!" Erasmus mendengar suara yang asing di telinganya. Suara yang menggema di tempat yang sangat lembab ini.
Seekor burung yang terlihat besar menghampiri kami. Bulunya yang terlihat berwarna coklat keemasan dengan tepi berwarna putih. Terbang dengan gagah dan mendarat di hadapanku.
"Kini tugasku hanya membawa kalian naik ke atas untuk menyelamatkan kalian dan akan aku ceritakan segalanya untukmu." Burung Garuda itu berbicara dengan suara pria yang gagah. Suaranya terdengar menggema.
"Kau berbicara?" Tanya Erasmus begitu kaget. Matanya membesar seakan melihat hantu.
"Garuda!!!" Teriak Erasmus karena ia begitu lega.
Erasmus mendekati Garuda dengan menyeret kakinya yang sangat sulit melangkah. Wajahnya seakan terlihat mengemis untuk memohon pertolongan.
"Claire dan Eric?" Tanya Erasmus penuh rasa khawatir.
"Mereka selamat dan kini mereka sudah dinikahkan oleh Ratu Dark Point." Jawab Garuda dengan cepat.
Seluruh tubuh Erasmus gemetar dan hatinya terasa melebur. Sakit hati yang memaksanya agar ia lebih baik mati daripada selamat hanya untuk melihat orang yang dicintainya menikahi orang yang sangat ia percayai.
"Rasanya ramalan itu tak dapat dicegah. Aku rasa tetap saja sia-sia menghadirkan Cassie diantara kalian karena dua ksatria tetap saja jatuh cinta dengan darah campuran." Lanjut Garuda.
"Eric mencintai Claire?" Tanya Erasmus yang tidak menyangka dengan ucapan Garuda.
"Sebelum Claire bertemu denganmu, Eric sudah menyimpan sebuah perasaan itu. Saat kau menyukai Hera, dia sudah menyayangi Claire. Mereka sudah saling mengenal sejak kecil dan berpisah saat usia mereka sepuluh tahun. Ayah Claire mengasingkan Claire dari Wiender agar darahnya tidak dimanfaatkan oleh ibunya, menghapus ingatan Claire dan mengunci seluruh kekuatannya." Lanjut Garuda.
Hening tetapi batin Erasmus mengeluarkan amarahnya tanpa suara. Rasa cemburu menghujaninya dan kesal menyelimutinya.
"Eric memang mengkhianati rencanamu, bahkan mengambil wanita yang ada di hatimu. Namun, hanya dia yang mampu membantu keberhasilan misi kalian." Garuda terus saja bicara.
Erasmus masih saja diam.
"Hancurkan tiga berlian dan peperangan tidak akan terjadi lagi untuk selamanya. Satu berlian terselamatkan, peperangan akan tetap datang kembali. Satu berlian hanya dapat dihancurkan dengan menukarkan nyawa dari darah campuran, dua berlian hanya dapat dihancurkan oleh Garde terkuat. Ingat itu baik-baik!" Pesan yang terekam baik diingatan Erasmus.
"Bagian ini!" Teriakan salah satu Garde menyadarkan Erasmus yang hanyut dalam fikirannya.
Peperangan atau wanita yang ia cintai. Menghancurkan berlian akan memusnahkan perang dan semua sihir. Dan mempertahankan berlian akan menyelamatkan Claire walaupun ia menjadi penyihir terakhir.
Tentu saja, Erasmus memilih Claire. Ia mengabaikan perang hanya karena nyawa dari wanita yang ia cintai.
...