RED EYES

RED EYES
Tempatku dan Tempatmu



"Hei, namaku Cassandra. Kepala suku selalu memanggilku Cassie." Ucapnya.


"Aku tahu." Balasku tak peduli. Aku bahkan lebih mengenalmu daripada dirimu sendiri.


"Kau sangat cantik." Ia menyentuh pipiku dengan jari telunjuknya.


Aku segera menyingkirkan jarinya dari wajahku. Aku lebih bahagia jika Goldam yang diutus oleh kepala suku untuk ikut dengan kami. Aku tak habis fikir jika wanita anggun yang mendampingi kami.


"Kau sangat cantik, andai aku seperti dirimu." Ucapnya lagi. Aku yakin jika ia mengatakan itu karena ia terlalu lama hidup bersama penduduk Kangel atau ia sedang menghinaku.


"Aww!" Teriakan Erasmus menghentikan langkah kami.


Aku melihat banyak darah yang keluar dari telapak tangannya. Kami segera menghampiri Erasmus. Aku tak mengerti, bagaimana caranya ia bisa terluka seperti tersayat oleh pedang?


"Bisakah kita berhenti?" Tanya Erasmus sambil menahan rasa sakitnya.


"Aku akan mencari madu." Ucapan Cassie mengingatkanku saat aku bertamu di Kangel.


"Kau ingin kita beristirahat sambil meminum air madu hangat?" Tanyaku dengan ketus.


"Aku ingin mengobati lukanya. Aku juga ingin mencari tumbuhan yang bisa menyembuhkan lukanya." Jawab Cassie dengan anggun, ia masih mampu tersenyum padaku.


"Kita bisa beristirahat. Aku juga ingin mencari air."


Eric dan Cassie pun pergi, kini hanya ada aku dan Erasmus. Suasana diantara kami sangat canggung. Sejak kami meninggalkan Wiender, aku terlalu malas berbicara padanya. Rasa benci yang menggumpal sangat sulit dihilangkan.


"Kau masih membenciku?" Tanya Erasmus. Aku diam.


"Aku akan menepati janjiku, Claire." Ucapnya lagi. Aku diam.


"Aku memang pengecut, bukan? Aku selalu yakin dengan keputusanku karena aku percaya itu untuk kebaikan Wiender. Namun, keputusanku tak melindungi mereka." Ia mengatakan curahan hatinya. Aku diam dan tak peduli.


"Bisakah kau sekali saja percaya padaku dan mendukungku?" Ia bertanya dan aku diam.


"Bisakah kau membantuku agar aku tidak kehabisan darah?"


Aku menoleh, rupanya ia sedang berusaha mengikatkan kain di tangannya. Apa boleh buat, aku harus menolongnya agar ia tak mati dan menepati janjinya. Aku pun membantunya mengikatka kain itu pada tangannya yang terluka, tentu dengan terpaksa.


"Kau benar-benar membenciku." Ucapnya.


"Kau benar." Aku tak sengaja menjawabnya.


"Apakah kau ingin meninggalkan tempat ini?" Ia bertanya.


"Kau benar sekali." Aku sengaja menjawabnya.


"Aku tahu jika kau ingin memukulku."


"Kau benar."


Suasana kembali hening. Aku menatap pepohonan yang ada di hadapanku, Erasmus sibuk menatap kain yang menutupi lukanya. Aku sangat berharap Eric dan Cassie segera datang.


"Ayahmu adalah Garde terkuat dan sangat baik. Seluruh Garde menyayanginya. Ia selalu menyempatkan diri untukmu dan ibumu. Jika kau bertemu dengan ayahmu, kau pasti akan merasa bangga. Raja Loi sangat menyayangi kedua putrinya." Ia bercerita.


Jujur saja, aku suka cerita yang baru saja ia katakan. Erasmus adalah orang yang pernah melihat dan hidup bersama ayahku. Aku ingin tahu lebih banyak tentang keluargaku.


"Wajahmu dan Hera sangat mirip dengan ayahmu. Wajahmu juga sangat mirip dengan Hera. Perbedaan antara kau dan Hera hanya warna bola matamu dan kau sangat kasar." Erasmus melanjutkan.


"Bagaimana dengan ibuku?" Tanyaku.


"Ia adalah wanita tercantik di Wiender. Ia sangat berani dan gigih sepertimu. Namun, ia telah meninggal karena para penyihir."


"Kau baru mengatakan hal itu?" Tanyaku. Rasa kesalku muncul kembali.


"Itu adalah rahasia kerajaan yang seharusnya tak aku katakan. Eric adalah penyihir dan ia selalu bersama kita, bagaimana aku menceritakan hal itu?" Alasannya dapat aku maafkan.


Aku tak habis fikir jika penderitaanku berawal dari penyihir itu. Rasanya ingin menangis, tetapi amarah yang menyelimuti menutupinya. Aku mulai membenci penyihir itu dan ingin membunuhnya.


"Aku harap Eric dan Cassie cepat kembali." Ucapku.


"Kau marah padaku lagi?" Erasmus bertanya.


"Aku ingin memusnahkan permata itu." Jawabku dengan tegas.


...


"Apakah kau masih ingin kembali?" Tanya Erasmus dari depan api unggun.


"Sangat ingin. Aku sangat merindukan tempatku." Jawabku dengan suara yang cukup keras agar ia mendengar jawabanku.


Aku pun mendengar tawa yang sangat besar. Rupanya Eric sedang tertawa sambil menatapku. Ia berada di sisi kiri Erasmus, tujuh langkah dari pohon yang aku sandar.


"Tempatmu memang indah karena alam ini. Tetapi, tempatku juga indah." Aku menyombongkan tempatku berasal pada Eric.


Ia tertawa dan memandangku dengan alis terangkat. Ia terlihat sedang meremehkan diriku. Ekspresinya saat ini sama dengan ekspresiku setiap aku mendengar kisah yang diceritakan Erasmus.


"Saat malam, tak hanya bulan dan bintang yang memberi cahaya. Disana banyak sekali cahaya lampu dari gedung pencakar langit, lampu jalanan dan lampu kendaraan juga membuat keindahan di tengah malam." Aku menjelaskannya.


"Cahaya di malam hari? Bukankah seperti keindahan yang diberikan oleh kunang-kunang? Wiender juga selalu mengadakan pesta lampion setiap dua tahun sekali." Kali ini Cassie menantangku dengan pertanyaannya. Aku benci wajahnya yang seakan menjadi wanita polos.


Erasmus dan Eric tertawa di hadapan api unggun. Aku pun menghampiri mereka bertiga. Aku memandang mereka dengan tatapan yang sangat tajam dan berharap agar mereka berhenti menghina tempat asalku. Percuma, mereka tetap saja tertawa meski aku berdiri disamping mereka.


"Aku yakin kau akan terpesona saat melihatnya." Balasku dengan sedikit angkuh.


"Mereka menggunakan listrik, Claire. Listrik tercipta dan alam berkorban, apakah kau masih terpesona?" Balas Eric.


Aku pun melemparkan batu kerikil kepada Eric. Ia berhasil menangkis kerikil itu dengan sihirnya. Sial, aku berharap kerikil itu mengenai bibirnya.


"Kau akan terpesona saat melihat pantai." Aku masih membanggakan tempat tinggalku.


"Tentu, tetapi aku selalu kecewa saat aku melihat sungai yang bau dan dipenuhi sampah." Balas Erasmus.


Aku akui jika beberapa manusia merusak alam. Menghancurkan dan memusnahkan keindahannya. Pepohonan yang ditebang, sungai dan laut yang kotor, dan hewan langka yang telah tewas memang hal yang jahat bagi bumi. Namun, kami juga memiliki banyak manusia yang mencintai dan menjaga alam. Tidak semua orang dalam suatu kaum adalah orang yang berhati mulia.


"Kami memiliki kendaraan, kami memiliki jutaan teknologi, disana ada taman hiburan, ada pula berbagai makanan, ada banyak bioskop dan banyak sekali penyanyi dengan penampilan yang luar biasa." Aku membela tempat tinggalku.


"Aku bisa-"


"Cukup, Eric. Aku tidak melarangmu untuk membanggakan Dark Point, aku tidak melarang Erasmus yang terus memuji keindahan Wiender dan aku tak melarang Cassie untuk terus menjadi wanita sok cantik. Bisakah kalian tidak melarangku untuk membanggakan tempat tinggalku?"


Aku membenci mereka. Tempat mereka adalah tempat mereka, bukan tempatku. Aku tahu jika alam di tempatku jauh lebih buruk, tetapi aku tetap mencintai tempatku. Apakah salah menyayangi sesuatu yang berbeda?


"Sudahlah, tiga hari lagi kita akan sampai ke Dark Point. Aku harap jangan ada benci disini." Erasmus berusaha menghangatkan suasana.


Aku tak peduli.


Aku pun meninggalkan mereka.


...