
"Rasanya aku ingin tertawa geli saat melihat pengawal istana yang begitu bodoh untuk melaksanakan tugas darimu." Eric terdengar kesal dari nada bicaranya.
Ia menarik tanganku dengan sangat kencang. Langkahnya yang begitu cepat memaksaku untuk melangkah lebih cepat. Aku tak melihat wajahnya dan hanya melihat punggungnya, tetapi aku tahu jika ia sedang menahan rasa kesal.
Langkah kami mengantar kami di kamarku. Ia melepaskan tanganku setelah ia berhasil meminta dayangku pergi dan mengunci pintu. Ia mengacak rambutnya sendiri, menarik nafas panjang dan segera mengeluarkannya. Ia menatapku dengan tatapan kesal, tatapan yang sama dengan tatapan Erasmus sebelumnya.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Eric yang terlihat menahan rasa kesalnya agar aku menjawab pertanyaannya dengan jujur.
"Kau melihatnya dan kai tahu jawabannya." Balasku. Aku membuang muka darinya.
Sejujurnya aku takut saat ini, aku hanya berusaha agar tidak terlihat takut dihadapannya. Aku masih berusaha menerima fakta jika dugaanku salah, kini fakta memaksaku berhadapan dengan amarah Eric.
"Kau sudah tahu rencana Ratu?" Tanyaku.
"Aku yakin sifatmu seperti ini karena Erasmus datang, bukan?" Ia tak menjawab pertanyaanku tetapi mengucapkan kalimat yang lebih mengagetkan.
"Sejak kapan kau tahu?" Tanyaku.
"Sejak Erasmus menemuimu. Aku melangkah menuju kamarmu, niatku hanya menunggumu di depan kamarmu. Lalu, aku melihat pengawal dengan kaki yang pincang. Aku kenal semua pengawal disini dan aku telah hidup disini lebih lama darimu, tidak ada pengawal yang pincang di istana ini. Aku juga tahu apa yang kau bicarakan."
"Lalu, apakah kau juga tahu tentang rencana Ratu?" Tanyaku.
"Ia tahu." Bukan Eric yang menjawab.
Aku ingin tertawa melihat kegilaan ini. Semua orang memasuki kamarku dengan lancang. Aku tak menyangka jika Erasmus berdiri di pojok ruangan. Erasmus dan Eric saling melemparkan tatapan yang penuh kebencian, sedangkan aku berusaha mengendalikan fikiranku agar aku tak lekas gila.
"Tujuanmu adalah membunuh kami, bukan? Kau yang mengawali rencana ini. Penjaga portal memberi tahu jika aku membawa Claire, lalu kau bersiap di Wiender. Kau mulai mencuri kepercayaan kami secara perlahan. Setelah itu kau membantu para penyihir memasuki Wiender untuk menyerang kami. Aku akui jika aku adalah raja yang bodoh karena aku menyetujui perjanjian dengan penyihir dan mengikuti semua rencanamu. Aku yang bodoh membawa Claire ke Dark Point, aku yang mengantarkan senjata kalian. Kau tahu, setiap satu Garde meninggal maka akan timbul jutaan rasa bersalah dalam benakku!"
Kamar ini dipenuhi balutan kebencian. Aku tak menyangka dengan apa yang dikatakan Erasmus. Kami semua bodoh disini. Terjerumus dalam kebohongan dan tidak ada yang mengarahkan kebenaran.
"Eric, mengapa kau diam? Kau tahu rencana Ratu?" Tanyaku dengan mata yang membesar.
"Maaf, Claire." Ucapnya pelan.
"Aku ingin membunuhmu saat ini juga. Namun, Garuda melarang. Aku tak tahu harus percaya ramalannya atau tidak, ia memintaku agar mempercayaimu karena hanya kau yang dapat membantu kami." Perkataan Erasmus bersamaan dengan tatapannya yang tajam.
...
"Hanya satu cara agar kita berhasil, itu yang dikatakan Garuda." Ucap Erasmus.
Eric mengabaikan perkataan Erasmus. Ia hanya menatap luar istana dan tak sedetik pun melihat kami. Eric tak lagi bersuara, ia selalu diam sejak Erasmus membuka kartunya. Sejujurnya aku juga terlalu malas untuk berbicara padanya karena ia adalah pengkhianat yang luar biasa. Namun, kami harus menyusun rencana agar ibuku tidak melakukan kesalahan.
"Kapan kau menemui Garuda?" Tanyaku.
"Dia menyelamatkanku saat aku dan Cassie jatuh ke dalam jurang. Aku tak percaya, rupanya ia menungguku di dalam jurang selama ini." Pertanyaan yang tidak aku tanyakan pun terjawab juga. Itu rupanya cara ia selamat.
"Apa yang ia katakan?" Tanyaku lagi.
"Eric mengetahui segala rencana. Kita hanya harus menunggunya. Aku-"
"Aku tidak ikut dengan kalian." Eric memotong pembicaraan Erasmus.
Ia pun melangkah dengan cepat untuk meninggalkan kami. Tanpa sadar aku segera mengejarnya dan menarik tangannya.
"Aku mohon." Ucapku. Mata kami pun bertemu.
"Kau tahu apa yang kalian pinta kali ini? Kalian meminta hidupku!" Eric membentakku.
"Aku meminta hidupmu untuk hidup seluruh bumi. Jika aku adalah dirimu, aku akan lakukan apapun." Balas Erasmus.
"Tidak." Balas Eric dengan singkat.
...
Sudah dua hari aku dan Eric tak saling sapa. Mata kami tak lagi bertemu sejak ia membentakku. Ia diam dan tak mengadu kepada satu penyihir pun tentang kejadian di hari itu. Aku juga tetap bersandiwara seakan tak mengetahui apapun. Aku juga tak melihat Erasmus lagi. Mungkin ia telah meninggalkan Dark Point. Tempat ini terlalu berbahaya baginya dan Wiender.
Eric lebih sering memainkan anak panahnya dan aku melihat dari kejauhan, seperti saat ini. Jika Erasmus disini, mungkin ia akan memarahi Eric karena selalu menancapkan panah sepanjang hari.
"Bermain panah lagi?" Tanyaku hanya untuk membuka pembicaraan dengannya. Ia tak menoleh.
Aku pun mengambil semua anak panah miliknya, ia pun mulai menatapku.
"Berikan!" Pintanya dengan suara pelan. Aku menggelengkan kepalaku dan tersenyum padanya.
"Aku akan berikan setelah kau meminum semua air madu yang aku bawakan." Ucapku sambil menunjuk lima botol air madu yang aku bawa diatas keranjang.
Ia pun duduk dan tak menatapku lagi. Tanpa berfikir panjang, ia segera meminum air madu yang aku bawakan. Aku harap takaran madu dan air hangat seimbang dengan seleranya.
"Aku mohon selamatkan Wiender dan tempatku." Pintaku. Ia masih sibuk meminum air madu. Botol pertama hampir habis.
"Aku belum pernah menikmati tempat tinggalku sedetik pun. Aku terlalu lama tinggal di rumah tante Renata dan menjadi tahanan. Baru saja ingin menikmati indah dunia, Erasmus memaksaku untuk tinggal di dunia asing ini. Aku menikmati hidup di Wiender dan Dark Point, tetapi tidak dengan bumiku." Aku menjelaskan isi hatiku hingga botol kedua mulai dibuka oleh Eric.
"Tak bisakah kau berkorban sekali saja?" Pintaku.
Pertanyaanku menghentikan tegukannya. Ia melepas botol kedua yang hampir habis. Matanya mulai menatapku. Bukan kesal ynag terlihat dari wajahnya, mengapa kekecewaan yang tersirat disana?
"Jika kau fikir aku ketakutan untuk kehilangan kekuatanku, kau salah besar. Aku benar-benar takut kehilangan duniaku." Balasnya.
Aku diam. Tak mengerti.
"Kedua orang tuaku adalah tahanan Ratu. Ibumu bisa membunuh kedua orang tuaku saat ia tahu jika aku berkhianat. Tak hanya itu, semua tahanan bisa terancam." Ucapnya.
"Aku dan Erasmus akan menjamin tak akan ada rencana kita yang diketahuinya. Aku akan prioritaskan hidup orang tuamu." Balasku dengan yakin.
"Serendah itu kau menilaiku?" Aku semakin bingung dengan ucapan Eric. Apa saja memangnya yang ia korbankan.
"Apakah mudah jika mengorbankan kedua orang tua? Anggap saja orang tuaku selamat. Namun, ingatan para penyihir musnah. Rencana itu akan memusnahkan ingatan sejak kami memiliki kekuatan itu, sedangkan kekuatan itu mungkin kami miliki sejak kecil. Bagaimana jika orang tuaku tak mengingatku dan menjadi orang asing satu sama lain? Bagaimana jika aku tak mengenal mereka?"
"Kita bisa-"
"Aku juga tidak ingin melupakanmu." Ia memotong perkataanku. Wajahku mulai memanas.
"Kau tak percaya jika aku mencintaimu?" Balasku dengan menunduk.
Ia menyentuh kepalaku, wajahku semakin memerah. Aku memaksakan diri untuk melihat wajahnya. Kami tersenyum begitu saja saat mata kami bertemu. Bibirnya pun mengenai keningku, wajahku semakin tersipu malu.
"Apakah kau sadar jika saat ini mata kirimu berwarna merah dan mata kananmu berwarna hijau?" Tanya Eric. Aku pun menggelengkan kepalaku dengan cepat.
"Kau tidak akan membunuhku, bukan?" Tanya Eric dengan tersenyum.
"Tidak."
Ia pun mengacak rambutku. Aku tak lagi menatapnya karena aku sangat malu, dan tentu bahagia serasa terbang ke langit bebas.
"Jika nanti aku tak mengingatmu dan aku bersama wanita lain. Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Eric lagi.
"Aku akan tetap mengaku menjadi istrimu. Wanita itu akan meninggalkanmu dengan sendirinya." Jawabku yakin. Ia tertawa.
"Aku akan beritahukan rencana apa yang akan kita lakukan saat Erasmus datang kesini. Namun, aku mohon rencana ini harus berhasil. Jika tidak, semua tahanan akan terancam."
....