RED EYES

RED EYES
Penyihir



"Putri, ini sarapan anda. Selamat makan." 


Seorang pelayan perempuan memasuki kamarku, ia membawakanku ubi rebus, semangkuk sayur bayam, semangkuk nasi dan segelas air putih. Pelayan yang baru saja memasuki kamarku memiliki bola mata berwarna coklat muda. Ia terlihat jauh lebih tua dariku.


"Dimana Erasmus?" Aku bertanya pada pelayan itu. Tanpa aku sengaja, nada bicaraku terdengar ketus. Erasmus merusak suasana hatiku.


Ini pertama kalinya aku menanyakan keberadaan Erasmus. Aku tidak melihat Erasmus selama dua minggu. Ia tak memberi kabar dan tak menitipkan pesan padaku. Aku mencarinya tentu bukan karena peduli dengan pangeran aneh itu, tetapi aku ingin menuntut janjinya yang akan mengeluarkanku dari negeri ini.


"Pangeran sedang sibuk mengatur pernikahan, putri." Jawab pelayan itu dengan penuh hormat.


"Apa? Siapa yang akan dinikahi?" Tanyaku dengan panik.


"Tentu anda, putri. Jika anda merindukan pangeran, akan saya sampaikan." Balas pelayan itu.


Rasanya seperti gunung merapi yang meletus, aku sangat marah karena jawaban itu. Menikah? Aku menyutujui sebagai calon istrinya hanya untuk berpura-pura. Aku tak ingin menikahinya. Lagipula, aku bisa dibunuh oleh Hera karena menikahi Erasmus menggunakan namanya.


Aku meminta pelayan itu keluar dari kamarku, dengan cepat ia meninggalkanku. Aku segera melihat ke arah luar jendela. Kepalaku terus berfikir dimana portal itu, mataku terus melihat sekeliling. Aku bahkan lupa ke arah mana pintu portal itu. Aku hanya melihat pengunungan, sungai dan beberapa patung di tengah hutan.


DIMANA PORTAL ITU?!


Aku hanya ingat jika portal itu berada di hutan yang berada di dekat kebun bunga. Aku mendapat ide. Benar, aku hanya perlu ke hutan dan mencari tempat yang sama dengan ingatanku. Mataku melihat hutan dari kejauhan. Negara kecil ini berada di tengah hutan. Mungkin aku hanya perlu berjalan lurus.


Aku segera mengambil ranselku dan keluar dari kamar secara perlahan. Aku berusaha setenang mungkin agar tidak terlihat mencurigakan.


"Putri, kemana anda akan pergi? Anda harus tetap berada di kamar. Ini perintah dari pangeran, putri." Pengawal kamarku, ia memiliki bola mata berwarna kuning seperti kucing, ia menghalangiku.


"Benarkah? Pangeran memintaku untuk menghampirinya karena ia sangat merindukanku. Kau fikir orang yang jatuh cinta dapat dipisahkan lebih dari satu menit?" Balasku dengan ketus. Aku berbohong, ucapan yang menjijikan.


Pengawal itu pun diam dan menunduk. Ia kembali memberikan jalan. Jika aku tahu akan semudah ini, tentu aku sudah kabur sejak hari kedua. Bodoh sekali, aku tetap bertahan di istana ini.


Tentu tidak hanya penjaga kamarku yang bertanya kemana aku pergi, semua penjaga yang melihatku menanyakan hal yang sama. Tentu, aku menjawab dengan jawaban yang sama. Mereka semua mengizinkanku untuk keluar dari istana ini dengan mudah.


Aku berjalan melewati berbagai tempat istana dengan mudah. Berjalan dengan cepat melewati berbagai pintu dan menuruni berbagai anak tangga. Istana ini cukup luas, aku ingin berlari agar lekas keluar dari istana ini tetapi aku takut akan terlihat mencurigakan.


"Putri, kemana anda akan pergi? Anda harus tetap berada di kamar."  Pertanyaan semua pengawal atau pelayan istana masih sama.


Pengawal pria bermata kuning, aku baru menyadari jika semua pengawal memiliki bola mata berwarna kuning, ia menghalangiku. Dihadapanku, dibelakang punggung pengawal itu,  sudah terlihat pintu utama istana ini. Jika aku berhasil melewati pintu terakhir itu, mungkin aku lebih cepat keluar dari istana ini.


"Pangeran memintaku untuk menghampirinya karena ia sangat merindukanku." Aku berbohong.


Aku merasa ada hal yang sangat aneh. Pakaian pengawal yang berada di hadapanku berbeda dengan pakaian lainnya. Wajahnya tidak asing di mataku. Matanya menatapku dengan tatapan tajam. Mungkinkah ia mulai mencurigaiku?


"A.. aku tidak ber...bohong." Aku mulai ketakutan.


Mataku membesar saat aku melihat bola matanya yang berubah menjadi warna merah. Aku sangat ingat jika warna bola matanya berwarna kuning. Saat ini warna bola matanya bukan kuning, mungkinkah ia bukan seorang penjaga?


Telapak tangannya pun mulai menyentuh keningku. Aku berusaha menyingkirkan tangannya tetapi tubuhku terasa membeku dan tak dapat bergerak. Aku ingin berteriak tetapi tak bisa mengeluarkan suara. Aku hanya bisa berdiri di hadapannya.


Ia mulai tersenyum. Bukan senyum yang ramah, senyuman itu sangat menakutkan. Apakah ia penyihir yang sangat jahat?


Kepalaku terasa berat dan pandangku mulai terasa gelap. Kaki dan tanganku melemah. Aku ...


...


Seluruh tubuhku terasa sakit dan lemah. Tak bisa bergerak. Aku membuka mataku secara perlahan. Jantungku berdegup tak karuan dan nafasku terasa sedikit sesak, otakku juga tak dapat berfikir. Seluruh tubuhku terasa gemetar saat aku sadar jika aku berada di tengah hutan. Aku melihat kaki yang terikat kuat, begitupun tanganku. Namun, aku tak mampu untuk melepaskan diri dan hanya sanggup bersandar dengan pohon yang berada di punggungku.


"Aku tak akan mempercayai Erasmus untuk menjagamu lagi."


Aku pun menoleh secara perlahan dan aku melihat pria dengan bola mata berwarna merah. Aku ingat pria itu, ia yang berusaha menghalangiku untuk kabur. Siapa dia? Mengapa begitu berani untuk mengikatku seperti ini?


"Lepaskan!" Perintahku dengan suara yang pelan. Ia tertawa.


"Diana, tunjukkan saja warna bola matamu!" Balas pria itu.


Diana? Siapakah Diana?


Aku yakin ada kesalahpahaman. Ia menyangka diriku adalah Diana. Jika tahu seperti ini, aku tak akan menuruti Erasmus untuk tinggal di tempat ini.


"Aku tak mengerti. Aku bukan Diana." Aku berusaha menjelaskan meski tubuhku mulai terasa sakit.


"Mengapa kau tak mengaku? Apakah kau terlalu malu jika kau memiliki darah penyihir? Apakah kau lebih bangga menjadi Garde?" Ia mengajukan banyak pertanyaan yang tidak aku mengerti.


Aku diam dan kembali menutup mataku. Aku tak mengerti mengapa tubuhku begitu merasa sakit dan lemah. Kedua kaki dan tanganku hanya diikat, tidak ada yang dipukuli.


"Boleh aku meminta air?" Pintaku, saat ini aku memang merasa semakin haus.


Pria itu melangkah mendekatiku. Aku fikir ia akan berbaik hati untuk memberikan segelas air putih, rupanya ia mengarahkan pisau belati ke arah leherku.


"Diana, mengapa kau tidak bisa melawan sihirku? Apakah Raja itu menetralkan darahmu?" Ia bertanya.


Aku benci keadaan ini. Aku bukan Diana dan aku bukanlah penyihir. Mengapa pria aneh ini terus berbicara tentang hal yang tidak aku mengerti.


"Tunjukan bola matamu!" Perintahnya. Ia membentakku.


"Air." Pintaku. Aku sangat haus, rasanya hampir mati.


Pria itu meletakan telapak tangannya diatas keningku. Mataku menatap bola matanya yang berwarna merah. Matanya juga menatap mataku. Mata kami bertemu, mengapa ia tidak terlihat asing dimataku?


Rasa sakit ditubuhku menghilang dalam sekejap. Rasa lemah dan haus mulai tak terasa. Aku baru paham jika semua rasa sakit, lemah dan haus itu adalah sihir dari pria itu.


Tangannya tak lagi dikeningku. Ia pun duduk tepat di hadapanku. Kami menatap satu sama lain. Tatapan yang terlihat sendu. Namun, ia tidak melepaskan tali yang mengikat kedua kaki dan tanganku.


"Mengapa kau tidak ingin menunjukkan bola matamu?" Tanya pria itu, suaranya melemah.


Ia menatapku dengan tatapan yang penuh amarah. Ia memang marah, tetapi ia terlihat tidak ingin menyakitiku.


"Aku tak mengerti tentang apa yang kau katakan. Aku bukanlah Penyihir atau Garde seperti yang kau ucapkan. Aku bukanlah Diana. Hal yang terpenting adalah aku tak tahu siapa Garde dan aku tak percaya ada penyihir di dunia ini." Aku menjelaskan padanya.


"Kau berbohong." Ia tak percaya dengan apa yang aku katakan.


"Namaku Claire!" Aku memperkenalkan diriku dengan teriakan. Aku harap ia mempercayaiku.


"Kau adalah Diana." Balasnya.


"Terserah." Ia tak akan mempercayaiku meski aku berkata jujur.


"Mengapa kau ingin menikahi Erasmus?" Ia bertanya lagi.


"Renata? Apakah dia masih hidup?" Ia mengenal manusia jahat itu.


"Iya. Kau mengenalnya?" Balasku singkat.


"Tentu, ia adalah pengkhianat dari kaum kita."


Kita? Penyihir maksudnya? Baiklah, sebentar lagi kepalaku akan pecah karena kegilaan fantasi ini.


Ia mulai duduk disampingku dan bersandar di pohon yang sama denganku. Sejujurnya, aku tak suka karena ia mendekat. Bagaimanapun,  ia adalah orang asing yang baru saja berusaha membunuhku.


"Aku mengerti sekarang. Ingatanmu sudah dihapus oleh ayahmu." Ia berbicara lagi. Kali ini suaranya lebih lemah.


Ia mengenal ayahku? Aku saja tak mengenal ayahku selain dari foto yang pernah diberikan oleh Nyonya Renata. Aku merasa ini di luar logika, pria yang baru aku kenal lebih mengenal siapa diriku.


"Aku harus pergi dari tempat ini. Semakin lama aku disini, maka aku akan gila karena mendengar perkataanmu dan Erasmus." Aku mengeluh.


"Namaku Eric." Ia memperkenalkan dirinya dan mengabaikan keluhanku.


Kami bersandar dan menatap langit. Aku diam, begitupun Eric. Ia tak bertanya lagi. Ia juga tak menyakitiku lagi, meski ia tak melepaskan tali yang ia ikat di tangan dan kakiku.


"Boleh aku bertanya?"


Aku yang membuka pembicaraan lebih dulu. Aku tahu jika aku akan menyesal karena berbicara padanya, tetapi aku tak sanggup menumpuk tanda tanya di akal sehatku.


"Iya." Balasnya.


"Tempat apa ini?" Tanyaku.


"Wiender." Balasnya dengan singkat. Bukan jawaban itu yang aku harapkan.


Mata kami masih tak menatap satu sama lain. Hanya menatap langit biru yang terlihat sejuk.


"Mengapa tempat ini penuh dengan sihir?" Aku bertanya lagi.


"Tak ada sihir di tempat ini." Jawabnya. Ia berbohong.


"Pertama kali aku datang ke tempat ini, aku melewati suatu portal ajaib dan pakaianku berubah secara tiba-tiba. Semua orang bersahabat dengan alam, seakan mereka berbicara kepada hewan dan tumbuhan. Lalu, buaya atau ular bersahabat dengan anak kecil. Aku juga pernah melihat pelayan istana menyihir sebuah air menjadi sebongkah es. Apakah itu bukan sihir?"


"Bukan." Jawabnya singkat. Matanya pun menatap mataku. Rasanya aneh sekali jika bertemu dengan bola mata berwarna merah.


"Lalu?"


"Mereka bisa melakukan semua itu karena mereka adalah Garde. Mereka menjaga alam di bumi. Mereka bersahabat dengan semua yang ada di bumi. Bagimu memang terlihat seperti sihir, tetapi itu bukanlah sihir. Beberapa dari mereka bersahabat dengan hewan, sehingga hewan mematuhi perkataannya. Beberapa dari mereka bersahabat dengan elemen, sehingga ia bisa meleburkan tanah, mengarahkan angin, serta mengendalikan api dan air. Beberapa juga mengendalikan ingatan dan fikiran makhluk hidup. Hanya itu yang aku tahu." Ia menjelaskan.


Aku diam. Aku mulai sedikit mengerti tentang tempat yang aneh ini. Bagiku itu sama saja dengan sihir, meski bukan baginya.


"Mengapa semua orang memiliki warna bola mata yang berbeda?" Tanyaku lagi.


"Karena mereka Garde. Hijau adalah Garde terkuat dan hitam adalah Garde yang tak memiliki kekuatan. Silver memiliki lebih dari dua kekuatan. Coklat adalah Garde yang taat dan kekuatannya hanya muncul saat keadaan darurat untuk melindungi Garde lainnya. Sepertinya masih banyak warna dan aku tidak begitu tahu arti warna bola mata itu. Kau bisa tanyakan Erasmus tentang hal itu." Ia pun memalingkan wajahnya kembali saat menyebut nama Erasmus.


Aku mengangguk pelan, memahami semua yang ia jelaskan. Aku melihat wajahnya. Rambutnya terlihat aneh dimataku, berwarna silver. Ia menjelaskan semua yang aku tanyakan. Namun, ia tak menjelaskan makna akan bola mata berwarna merah padaku. Itu adalah warna bola matanya sendiri.


"Eric, matamu-"


Merah.


Ia menatapku, begitupun aku. Mata kami bertemu. Kami memandangi wajah kami satu sama lain. Tepatnya, aku menatap bola matanya.


"Apakah kau tidak ingin bertanya apa arti bola mata berwarna merah?" Ia tahu isi fikiranku.


"Saat ini hanya aku dan kau yang memiliki bola mata berwarna merah disini. Namun, bola matamu disembunyikan oleh Garde terkuat. Bola mata berwarna merah hanyalah milik penyihir." Ia menjelaskan.


Aku diam. Apakah aku harus menerima jika diriku adalah seorang penyihir? Gila!


"Erasmus pasti sangat merindukanmu. Eric membutuhkanmu untuk meleburkan rasa bersalahnya. Namun, masih banyak yang membutuhkanmu karena memohon pertolongan." Ucapnya.


Membutuhkanku karena aku adalah penyihir? Apakah ia berfikir jika aku Diana atau Hera?


"Aku bukan Diana ataupun Hera!" Balasku dengan ketus.


"Aku tak percaya jika ayahmu juga menghapus namamu dari ingatanmu sendiri." Balas Eric dengan senyum nakalnya.


"Kau tidak melepaskan tali ini?" Tanyaku, aku sudah lelah dengan pembicaraan ini.


Eric pun melepaskan tali yang mengikat kedua kakiku, lalu ia juga melepas tali yang mengikat kedua tanganku. Ia membantuku untuk berdiri dengan memberikan tangan kanannya.


"Kemana?" Tanya.


"Istana." Jawabnya.


Aku diam dan tak berdiri. Ia pun kembali duduk di hadapanku.


"Maukah kau membantuku? Akan aku bayar dengan sesuatu yang berharga." Pintaku.


"Kau ingin mebayarku dengan apa?" Balas Eric. Ia menertawaiku.


"Emas." Aku menjawabnya tanpa berfikir. Aku saja tak memiliki uang.


"Tidak." Balasnya.


"Uang dan emas! Namun, bantu aku untuk mencuri emas di istana." Aku memohon.


"Baiklah."


Aku pun memberikan tangan kananku. Ia menarikku dan membantuku berdiri.


"Boleh aku bertanya lagi?" Pintaku lagi.


"Tentu."


"Mengapa kau memaksaku untuk menunjukkan bola mataku?"


"Ada nyawa yang harus musnah untuk ribuan nyawa." Balasnya. Kata-kata itu sangat menyeramkan.


...