RED EYES

RED EYES
Claire



"Claire!!!"


Nenek sihir itu meneriaki namaku lagi. Rasanya terlalu menjijikan jika namaku diucapkan oleh wanita yang tak memiliki hati layaknya iblis.


Aku melempar buku yang sedang aku baca ke arah kasur. Sial, buku itu terjatuh diatas lantai. Aku pun melepas kacamataku dan meletakannya di lantai begitu saja. Aku segera keluar dari kamar, tetapi aku lupa membawa kemoceng agar terlihat baru saja menyelesaikan pekerjaan rumah. Aku melangkah dengan cepat untuk mengambil kemoceng yang aku letakan di dekat jendela kamarku. Aku melangkah begitu tergesa-gesa.


"Aw!" Aku merintih bersamaan dengan telapak kaki kiriku yang mulai terasa sakit dan perih.


Rasanya seperti menginjak sesuatu. Aku melihat ke arah telapak kaki kiriku. Tergores karena aku menginjak kacamataku yang telah terbagi menjadi dua bagian. Akhirnya aku tak memiliki kacamata lagi.


"CLAIRE!!!" Ia memanggilku lagi. Ah!


Aku segera berlari menghampiri wanita yang sangat aku benci, mengabaikan kacamataku yang terbelah menjadi dua. Memaki wanita itu didalam lubuk hatiku, tak menimbulkan suara. Aku berusaha menyembunyikan wajah kesalku. Aku memperbaiki penampilanku meskipun aku sedang berlari, aku tidak ingin terlihat seperti manusia yang sangat menyedihkan. Aku harus menghampirinya sebagai wanita yang kuat dan baik dimatanya.


Kakiku melangkah melewati anak tangga. Sesekali aku melewati dua anak tangga agar lebih cepat menghampiri wanita menyebalkan itu. Aku abaikan nafasku yang terengah-engah. Kakiku bergerak lebih cepat, tak peduli apa yang telah aku injak. Aku hanya peduli agar aku segera berada di hadapan wanita itu.


"Lambat!" Bentaknya saat wajahku telah terlihat oleh matanya.


Kedua mataku berusaha menghindari kedua bola matanya yang berwarna hitam dengan cara sedikit menundukkan kepala. Tanpa saling bertatapan aku merasa ia membuka kedua matanya dengan lebar dan melemparkan tatapan yang amat tajam kepadaku.


"Maaf, nyonya. Aku baru saja membersihkan gudang." Jawabku dengan ramah, jika seseorang melihatku mungkin mereka menganggap aku sebagai wanita yang anggun, baik hati dan sangat menyedihkan. Membersihkan gudang? Tentu saja aku berbohong.


Wanita itu, Renata, terlihat berpakaian sangat formal. Ia memakai sebuah baju kebaya berwarna putih dan rok batiknya yang berwarna merah muda. Rambut panjangnya terurai. Andai wajahnya tersenyum dan matanya tak membesar karena kesal kepadaku, aku akan akui jika ia wanita yang akan terlihat cantik untuk saat ini. Aku rasa ia akan pergi untuk hadir ke sebuah acara resmi.


"Pergilah!" Perintahnya.


Mataku membesar. Sungguh? Ini adalah hal yang sangat aku impikan. Aku harus menahan senyuman atau teriakan bahagiaku. Aku selalu berharap wanita menyebalkan itu segera mengeluarkanku dari rumah yang menyebalkan ini.


"Sebentar lagi keluarga besarku akan tiba untuk makan malam. Pergilah berbelanja! Setelah berbelanja, kau harus membantu para pembantu untuk menyiapkan makanan! Seperti biasa, bersembunyilah saat mereka tiba agar mereka tak melihatmu!"


Mimpiku tak lagi tercapai untuk hari ini. Aku terlalu berharap agar ia memintaku pergi dari rumahnya. Tak apa, aku tak akan menyerah.


Bibi Renata, sesungguhnya dia hanya mengizinkanku untuk memanggilnya nyonya karena ia malu untuk mengakuiku sebagai anak dari kakak kandungnya, dia memang manusia yang tidak memiliki hati layaknya iblis, hewan saja lebih baik darinya. Dia adalah adik dari ayahku dan sahabat ibuku. Aku tak habis fikir jika orang terbaik yang dimiliki oleh orang tuaku adalah seseorang yang tidak memiliki hati nurani.


Melihat bibiku yang sangat menakutkan dan menyebalkan, aku pun takut untuk mengetahui siapa sosok kedua orang tuaku. Walau aku sudah mengenal kedua orang tuaku dari sebuah foto, aku tidak ingin mengenal mereka lebih dalam. Aku takut akan kecewa jika orang tuaku akan seburuk bibiku. Jika aku ingin melihat sifat asli seseorang, mungkin aku harus melihat sifat asli orang yang berada disekitarnya.


Seperti biasa, hari ini aku tak dapat kabur dari penjara ini. Walaupun aku sudah gagal untuk kabur sebanyak 99 kali, aku tak akan menyerah. Aku selalu berharap kali ke-100 akan berhasil. Aku akan mencari cara agar aku tak tertangkap oleh Bibi Renata lagi saat aku berusaha pergi dari tempat tinggalnya. Aku juga heran, mengapa ia selalu mengetahui rencanaku.


...


Kali ini aku hanya mampu menuju supermarket terdekat untuk berbelanja keperluan manusia yang paling aku benci. Tak apa, yang terpenting aku jauh dari wanita itu. Rasanya ingin sekali menghabiskan banyak waktu di luar rumah itu, tetapi tak akan mungkin karena nyonya Renata akan menghukumku dengan cara tak memberikan aku makan selama satu hari atau memukul kakiku dengan tongkat kayu.


Aku tetap melaksanakan perintahnya meski tidak ikhlas. Wanita itu tak hanya jahat, ia juga pelit karena tak pernah memberiku uang saku. Sehingga aku terpaksa untuk mengambil uang sisa dari belanjaan ini agar aku memiliki uang tabungan untuk kabur dari rumah Renata.


'3 Ikan Salmon' salah satu makanan yang harus aku beli, tertulis jelas di kertas daftar belanja.


Aku mulai melangkah mencari ikan salmon. Langkahku terhenti saat aku melihat seorang pria yang sedang menangis karena menyaksikan seekor ikan yang sedang dipotong. Aku tak yakin apakah pria itu menangis karena ikan salmon yang dipotong atau masalah hidupnya yang lebih berat dari masalah hidupku.


Air mata yang ia keluarkan membasahi kedua pipinya dan matanya pun hampir membengkak. Aneh. Apakah ikan itu adalah ibunya? Mengapa ia menangis dengan sangat berlebihan? Semakin lama matanya melihat ikan itu terbelah, semakin deras air matanya. Lucu sekali situasi ini.


"Hei, ikan itu memiliki takdir untuk disantap oleh manusia atau hewan. Dasar lemah! Kau terlalu berlebihan." Ucapku begitu saja saat aku berada tepat disampingnya.


Aku pun mendekati persediaan ikan salmon, tepat disisi kirinya. Pria itu menghapus air matanya saat mendengar suaraku. Saat ia sadar jika aku berdiri di sisi kirinya, ia berhenti menangis. Pria itu akan malu jika ia tertangkap basah sedang menangis hanya karena sebuah ikan.


Hanya melihat ikan, ia pun menangis. Bagaimana jika ia hidup seperti diriku?


"Kau tak akan mengerti." Balasnya.


Aku harap hanya dia pria aneh yang pernah aku lihat. Sangat lemah, ia begitu mudah menangis. Rasanya aku ingin menertawainya saat ini juga, tetapi aku terlalu malas memasuki kehidupan orang aneh sepertinya. Hidupku sudah terlalu menyedihkan dan menyulitkan, untuk apa menambah beban.


"Pak, saya pesan 3 ekor ikan salmon." Pintaku. Dengan cepat seorang pegawai memberi pesananku.


Aku menoleh pada pria itu. Ia terlihat sangat berduka karena ikan yang ada dihadapannya sudah menjadi potongan daging ikan. Aku tidak menyangka jika ia begitu berlebihan. Tatapan matanya sendu meski air matanya sedang bersembunyi dari matanya. Ia diam dan hanya menatap ikan yang terpotong itu.


"Lemah." Ucapanku membuatnya menoleh.


Ia diam, tak membalas. Sesekali melirikku dengan tatapan sendu yang tak sedetik pun musnah. Apakah dia pria? Melihat ikan terpotong saja menangis.


Aku merasa jika perkataanku mungkin cukup menyakitkan untuknya. Apa? Sudahlah! Aku tak ingin peduli padanya. Hidupku akan semakin sengsara jika ada orang aneh memasuki hidupku yang penuh kesengsaraan ini. Aku pun meninggalkannya.


"Aku tahu kau Garde, tetapi ..." Ia menahan langkahku dengan menarik lengan kananku.


Mataku membesar dan jantungku seakan lepas dari pembuluh darah. Aku sungguh kaget saat ia berani untuk menarik pergelangan tanganku. Apa yang ia katakan?! Garden? Kebun?! Aku tak tahu siapa orang ini, dia sudah tak waras. Rasanya aku ingin memukul pria ini hingga ia sadar jika ia hidup dalam halusinasinya.


"Aku manusia, bodoh! Sejak kapan kebun memiliki kaki dan tangan. Lepaskan!" Aku pun pergi dengan penuh rasa kesal.


"Matamu berbeda." Ucapnya. Satu langkah mundur untukmenjauhinya.


"Secantik, seanggun dan seangkuh ibumu. Rambut coklat dan kulit putih sangat mirip dengan ayahmu." Empat langkah mundur untuk menjauhi pria gila. Aku yakin jika ia salah orang atau benar-benar gila.


Aku harap ini adalah hal aneh yang terakhir kalinya ada dalam kehidupanku yang penuh dengan kesengsaraan. Aku tak ingin bertemu pria itu lagi, cukup bibiku saja yang menyulitkan hidupku.


....