RED EYES

RED EYES
Serangan



Aku masih membuka mataku, meski mereka sudah terlelap. Kerasnya tanah yang aku tiduri bukanlah alasanku tak bisa tidur. Dinginnya angin malam juga bukan alasanku belum memejamkan mataku. Badanku sangat lelah, tetapi tetap saja sulit untuk beristirahat.


Mataku hanya melihat ratusan bintang yang sibuk menyinari malam. Angin yang bertiup membuat suara semak dan pepohonan. Hutan ini akan menjadi tempat menyeramkan bagiku jika tak ada api unggun dan kedua pria itu.


Aku menoleh ke arah barat karena sebuah suara. Suara itu bukanlah suara semak atau pepohonan yang bergoyang. Suara itu bukan pula suara hewan. Rasanya aku mendengar suara langkah kaki diatas dedaunan kering.


Mungkinkah?


"Eric!" Aku berbisik dan menggoyangkan tangannya dalam keadaan berbaring. Tidak mungkin aku duduk untuk membangunkan Eric, aku khawatir itu akan memperburuk keadaan.


Sial, ia tak kunjung terbangun. Aku mengeluarkan pisau belati milikku dan segera menggoreskan pisau itu diatas kulitnya, ia masih saja belum terbangun. Aku pun mencubit kulitnya yang telah terluka oleh goresan pisau.


"Aww!" Akhirnya ia sadar.


"Eric, bangun! Aku rasa ada seseorang di sekitar kita." Bisikku.


Eric pun segera membuka matanya dengan lebar. Ia juga membangunkan Erasmus yang tepat di sampingnya, begitupun aku membangunkan Cassie yang tidur di sampingku. Cukup melegakan karena membangunkan Cassie dan Erasmus lebih mudah dari membangunkan Eric.


"Kita dikepung. Ayo, kita pergi!" Ajak Erasmus.


Sebuah panah melewati kami saat kami mulai berdiri. Panah kedua menyusul dan panah ketiga berhasil menggores bahuku. Tak hanya itu, puluhan panah pun datang dari berbagai arah. Eric pun mengeluarkan sihirnya untuk menangkis panah itu, Erasmus membantu menangkis panah itu dengan ayunan pedangnya.


Eric menarik tanganku dan kami pun berlari di tengah hutan yang gelap. Tak tahu kemana kami akan pergi dan tak tahu kemana arah yang kami pilih. Yang kami fikirkan hanya kabur dari orang yang mengarahkan panah kepada kami.


Anak panah terus mengejar kami. Kami terus berlari dan mengabaikan nafas yang terengah-engah. Keringatku yang keluar dari kulitku adalah keringat dingin. Telapak tanganku mulai gemetar dan berkeringat. Sangat menakutkan jika dikejar puluhan panah.


"Mengapa kita tak menyerangnya?" Tanya Cassie dengan teriakannya.


"Kita dikepung! Pasukan mereka terlalu banyak." Balas Erasmus dengan teriakannya.


Eric pun berhenti, begitupun Cassie. Eric segera menangkis semua panah yang menghampiri kami dengan sihirnya setelah ia mengantarku untuk berlindung di balik pohon. Cassie pun mulai mengarahkan panah menuju musuh dari balik pohon.


Aku tak bisa diam saja dan terus-menerus meminta perlindungan. Aku hanya memiliki pisau belati di sakuku. Bola mataku terus bergerak untuk mencari senjata, aku memohon pada takdir agar aku segera mendapatkan senjata untuk melindungi mereka. Namun, mataku hanya melihat sebuah batu. Ya, banyak sekali batu yang berukuran kepalan tanganku.


Aku mengambil bebatuan itu. Aku memilih batu yang berukuran segenggam tanganku dengan permukaan yang kasar. Meski hanya terkumpul sembilan bebatuan, setidaknya aku menolong mereka.


"Kau gila!" Erasmus muncul dan menghalangiku.


"Yang dimaksud gila adalah membiarkan mereka mati." Aku membalasnya.


Aku pun melihat beberapa orang mulai menghampiri mereka dengan pedangnya. Sihir Eric pun dilawan oleh sihir, beberapa lawan lannya pun berusaha menyerang Eric dengan pedang. Cassie tetap menyerang mereka dengan anak panah dan busurnya, meski ia melawan pedang dan puluhan anak panah.


"Aku tak bisa jika hanya diam dan menyaksikan mereka!" Bentakku pada Erasmus.


"Pergilah!" Bentak Eric saat ia melihatku.


Aku pun melemparkan batu itu kepada salah satu penyihir yang menyerang Eric. Batu itu berhasil mengenai kepala orang itu, kepalanya terluka dan ia tak sadarkan diri. Aku berhasil!


Kedua pria menghampiriku dan langkahnya semakin mendekat. Tubuhku yang gemetar tak mampu untuk mengambil batu. Langkah demi langkah dan kini pria yang memiliki bola mata berwarna merah pun ada di hadapanku.


Aku melihat Eric dan Cassie sedang sibuk dengan senjata mereka. Erasmus tak terlihat, bahkan bayangannya. Sulit dipercaya jika ia adalah seorang raja. Pria itu tepat di hadapanku dan mengarahkan kedua telapak tangannya ke kepalaku. Pria itu memainkan sihir!


Aku segera mengayunkan pisau belatiku ke arah lehernya. Menusuk sisi kiri lehernya dan darahnya pun muncrat seperti air yang keluar dari keran air, sangat deras. Dengan cepat aku mengarahkan siku kiriku ke dadanya. Pria itu pun terjatuh dan pakaianku terkena banyak darah.


Mereka tak menerima perlakuanku dengan mudah. Jantungku berdegup semakin cepat saat aku melihat tiga pria asing menghampiriku. Aku segera melempar batu itu kepada mereka, namun mereka berhasil menangkis batu itu dengan sihir. Aku terus melemparkan batu itu, lagi dan lagi hingga batu yang ada dalam pelukanku telah habis.


"Lari!" Cassie berteriak saat ia menoleh sesaat ke arahku. Aku tak mungkin kabur tanpa mereka.


Dengan tangan yang gemetar, aku segera membungkuk dan mencari bebatuan di sekitar kaki. Tak ada dalam hitungan detik, mereka pun mulai menyerangku dengan bebatuan kecil yang ia arahkan dengan sihir.


Aku hanya mendapatkan kerikil-kerikil kecil. Aku melemparkan semua kerikil yang aku punya kepada mereka. Namun, percuma. Mereka terus menangkis bebatuan itu dengan sihir dan menyerangku dengan bebatuan lain.


Mereka terus melangkah untuk menghampiriku. Aku menoleh ke arah Eric yang berusaha menghampiriku, tetapi beberapa penyihir terus menyerangnya.


CassieĀ  segera berlari menghampiriku. Ia terus saja mengarahkan anak panah tetapi anak panah itu berbalik kembali ke arahnya karena sihir para penyihir dihadapannya. Ia tak mampu menyelamatkanku. Bahkan, dua anak panah mengenai paha kanannya dan satu panah menggores pergelangan tangan kanannya. Cassie pun bersimpuh, ia berusaha menahan rasa sakitnya dan tetap saja berusaha memainkan anak panahnya.


Tidak ada pilihan selain menghadapi mereka dengan gaya yang keren layaknya di televisi. Satu tangan kanan dari tangan kiri pria yang terdepan mengarah kepadaku. Aku segera menarik tangan kanan pria itu. Memutar lengan pria itu dengan keras hingga kedua mata mereka membesar. Mengarahkan lengan bawahnya ke belakang dan bahunya ke arah yang berlawanan. Pria itu mulai berteriak. Lutut kananku segera menendang bagian perutnya. Satu kali tendangan cukup, atau aku akan membunuh dua penyihir dalam satu malam.


Satu penyihir mendekatiku dari belakang. Ia menendang punggungku hingga jantungku terasa hampir lepas dan terasa sesak


"Diam atau akan aku jadikan kau lumpuh selamanya."


Aku berusaha tidak menangis dan berusaha menatap mereka dengan tatapan marah. Aku tetap menyerang mereka dengan kerikil meski aku tahu itu percuma. Aku tak mungkin menyerangnya dengan fisik, akan semakin buruk jika kepalaku disentuh oleh penyihir.


"Hai, seseorang sangat merindukanmu." Pria itu mulai berbicara padaku saat ia tepat di hadapanku.


Cipratan darah mengenai wajahku. Perut penyihir dihadapanku telah ditembus oleh pedang yang sering sekali aku lihat. Aku melihat Erasmus telah menusuk perut pria yang ada dihadapanku itu. Ia pun segera menyerang dua pria lainnya. Dalam hitungan detik, ia berhasil melindungiku dan menyingkirkan penyihir itu. Mengapa ia tak melakukannya sejak tadi?


Mata hijau Erasmus pun terlihat seperti cahaya hijau yang keluar dari matanya. Ia pun melihat ke arah sebuah pohon, aku tak mengerti apa yang ia lakukan. Tak lama akar pohon itu memanjang dan mengikat seluruh tubuh para penyihir yang menyerang Eric dan Cassie.


Erasmus pun pergi meninggalkan kami saat situasi aman. Semua penyihir berhasil ia ikat dengan akan pohon, daun kering yang berserakan di atas tanah memenuhi semua mulut penyihir agar mereka bungkam. Ia juga melemparkan pedangnya ke atas tanah. Semua penyihir berhasil Erasmus singkirkan dengan cepat tanpa terluka.


...