RED EYES

RED EYES
Menuju Tempat Asing



Aku tak ingin lagi dijadikan pembantu, tak ingin lagi dijadikan bahan omongan dan tak ingin lagi dimarahi. Hidup hanya sekali, aku tak ingin hanya ada kesedihan dalam hidupku. Semua yang dikatakan Erasmus adalah benar, aku tahu itu.


Ini adalah kali ke-100, Aku berusaha kabur dari tempat yang telah menghancurkan hidupku. Aku memasukan beberapa pakaianku, pisau, buku, foto kedua orang tuaku yang telah aku masukan ke dalam amplop coklat, sepotong roti dan sebotol air mineral. Aku mengikat rambutku seperti ekor kuda dan menutupi atas kepalaku dengan topi berwarna coklat tua. Jaket hitam yang tak pernah aku pakai sebelumnya sudah aku kenakan. Aku siap.


Aku melihat sebuah truk pick up tua di depan rumah nyonya Renata. Aku yakin jika itu bukanlah milik keluarga besar nyonya Renata. Tentu, tak akan mungkin keluarga kaya raya akan memiliki mobil menyedihkan seperti itu.


"Bibi, kami akan merindukanmu!" Aku mendengar suara seorang anak kecil yang berteriak.


Aku segera berlari menghampiri truk pick up itu. Untunglah mobil itu tak jauh dari kamarku. Aku segera menaiki bagian belakang truk. Aku melihat tumpukan jerami dan sebuah plastik hitam lebar yang diangkut truk itu.


Suara keramaian mulai terdengar saat aku sudah berbaring diatas tumpukan jerami. Aku segera menutupi tubuhku dengan plastik hitam yang lebar itu. Dari 99 rencanaku untuk kabur, hanya ini rencana yang terburuk. Mungkin aku akan dipukuli oleh sebatang kayu lagi karena kabur dari rumah nyonya Renata.


Aku mendengar suara keramaian. Aku mohon jadikan ini keberhasilanku. Seluruh tubuhku gemetar ketakutan dan jantungku berdegup sangat cepat, tak ada yang bisa aku lakukan lagi selain berdoa.


"Menikahlah, Renata!" Aku tak sengaja mendengar suara itu di dekatku, sepertinya suara wanita tua.


Aku hampir tertawa karena mendengar seseorang meminta nyonya Renata untuk menikah. Terlalu lucu, siapa yang ingin menikahi wanita jahat sepertinya.


"Apakah kau masih mengharapkan pria itu? Kau ..."


"Ibu, kakak jahat!" Aku tak dapat mendengar pembicaraan mereka lagi karena banyak sekali anak kecil yang menimbulkan suara gaduh.


"Erasmus!" Seseorang menyebut nama yang aku kenal. Nama pria aneh itu.


Aku mohon jangan pertemukan aku dengan Erasmus dan Renata lagi.


Aku mendengar suara mesin truk pick up ini dinyalakan. Getaran truk ini cukup terasa di punggungku hingga membuatku tidak nyaman, mungkin karena mobil ini adalah mobil tua. Tak apa, aku hanya butuh sedikit tumpangan agar segera kabur dari rumah nyonya Renata.


Aku merasa mobil ini mulai berjalan. Aku tak lagi mendengar suara anak-anak atau keluarga nyonya Renata. Angin malam mulai terasa melewati tubuhku yang sudah ditutupi plastik, dingin rasanya. Aku harus bersembunyi sekitar lima menit lagi agar tidak terlihat nyonya Renata.


Aku berhasil meninggalkan bagian terburuk dari hidupku.


"Hei!" Aku mendengar suara yang tidak asing.


Erasmus? Tak mungkin!


Erasmus menarik plastik hitam yang menutupi tubuhku. Aku melihatnya sedang tertawa saat ia melihat wajahku. Wajahnya terlihat semakin pucat di kegelapan. Erasmus menemukanku.


"Apa yang kau lakukan? Kau mengikutiku?" Tanyaku dengan kesal.


"Ini mobilku." Ia selalu berbicara dengan senyuman.


"Kau miskin." Balasku angkuh. Aku tidak menyangka jika nyonya Renata memiliki keluarga yang miskin.


Aku masih berbaring diatas tumpukan jerami. Melihat bintang di langit malam. Seakan bintang berlari, padahal aku yang bergerak cepat. Angin malam membuatku semakin kedinginan, tak apa karena yang terpenting aku senang karena aku telah berhasil meninggalkan Nyonya Renata.


"Boleh aku bertanya?" Tanya Erasmus.


"Hmm."


"Kau membenciku?" Tanya Erasmus.


"Iya." Aku menjawab dengan cepat.


"Tak apa, setidaknya ada sebuah perasaan yang kau berikan padaku. Saat ini benci, aku harap esok menjadi perasaan yang lebih baik." Aku benci kalimat yang ia ucapkan.


"Hah? Aku mohon, jangan berlebihan! Itu menjijikan." Balasku.


Aku pun bangun dan mulai duduk di hadapan Erasmus. Lagi-lagi ia tersenyum, aku bosan melihatnya yang selalu tersenyum. Aku memberikan telapak tanganku.


"Beri aku uang atau emas! Aku sudah menjawab pertanyaanmu."


Di dunia ini tak ada yang gratis, bukan? Lagipula, aku tak membawa uang yang cukup untuk kabur dari rumah nyonya Renata. Erasmus hanya menggelengkan kepalanya. Bodoh sekali aku meminta uang atau emas pada orang asing yang miskin.


Jika difikirkan kembali, ini adalah cara termudah yang pernah aku lakukan. 99 cara tersulit yang aku lakukan selalu gagal, tetapi tidak kali ini. Aneh. Apakah Erasmus membantuku?


Tidak mungkin ia membantuku. Lupakan!


....


Mobil truk pick up ini berhenti. Erasmus pun bangun dari tidurnya, ia duduk diatas jerami, ia duduk tepat di sisi kiriku. Aku tidak tidur, hanya menutup mataku agar Erasmus tak mengajakku berbincang. Erasmus menendang kaki kiriku dengan kaki kanannya, tendangan yang lemah.


"Kita dalam masalah besar. Bangunlah!" Bisiknya. Aku segera membuka mataku.


Aku segera duduk dan mulai membuka mataku dengan lebar. Apa yang terjadi? Apakah bahaya yang dimaksud pria cengeng itu? Apakah aku akan mati? Apakah Nyonya Renata menemukanku? Aku sungguh panik.


Aku hanya melihat langit dini hari. Gelap dan terasa dingin. Hanya terdengar suara seekor ayam yang berkokok. Tak ada orang disekitarku, selain Erasmus. Tak ada lagi bintang yang terlihat dan matahari belum memunculkan cahayanya. Ini hanya suasana di pagi buta. Tak ada bahaya yang terlihat.


Aku menoleh untuk melihat wajah Erasmus. Ia tertawa?


"Pergilah!" Aku membentaknya. Ia tetap tersenyum.


"Ini mobilku." Balasnya dengan senyuman. Senyuman lagi!


"Baiklah, sebentar lagi aku akan pergi." Tentu aku serius.


Aku masih membutuhkan tumpangan mobil Erasmus agar lebih jauh dari Nyonya Renata.


"Mengapa mobil ini berhenti?" Tanyaku. Aku baru sadar mobil ini tak lagi berjalan.


"Supir yang membawa mobil ini sedang beristirahat." Jawab Erasmus.


Aku pun berbaring kembali dan menoleh ke arah sisi kananku. Aku malas untuk melihat wajah Erasmus.


"Hei, adakah hal yang tidak kau sukai dari diriku?" Tanyaku dengan suara yang pelan.


"Hanya sifatmu." Jawab Erasmus tanpa berfikir panjang. Aku yakin ia jujur.


Aku menatap sebuah foto pria dengan rambut biru mudanya. Pria itu tampak lebih menakutkankan karena gaya rambutnya. Seakan pria yang tak taat dengan hukum. Rupanya foto itu adalah sebuah foto contoh gaya rambut yang dipajang di depan pangkas rambut.


"Hei, warna apa yang paling kau benci?" Tanyaku.


"Merah." Jawabnya.


Aku pun tersenyum. Saat ini kedua mataku melihat ke arah tempat pangkas rambut itu baru saja dibuka oleh pegawainya. Aku tahu jika tempat itu hanya untuk memotong rambut pria, tetapi aku tak peduli. Aku segera berdiri dan keluar dari mobil ini. Berlari ke tempat pangkas rambut itu, meski pemiliknya hanya membuka sedikit pintu tempat itu. Erasmus tak mengikutiku, ia hanya melihatku yang mulai menjauh.


...


"Apakah kau mengubah rambutmu agar aku membencimu?" Tanya Erasmus dengan intonasi marahnya. Aku tahu jika ia sudah tahu jawaban dari pertanyaannya.


Aku mulai berkaca di salah satu jendela mobil tua milik Erasmus ini. Rambut merah, panjangnya hampir melewati bahuku. Aku menyukai rambut baruku, Erasmus mungkin semakin tak menyukaiku.



Seorang pria tua bermata sipit menghampiriku dan Erasmus. Ia melangkah dengan kaki kirinya yang pincang sehingga langkahnya cukup lambat. Erasmus berlari menghampiri pria tua itu, aku mengikuti Erasmus dari belakangnya.


"Erasmus, aku tak bisa lagi membawa mobilmu." Ucap pria tua itu.


"Tidak masalah, aku akan membawanya. Terimakasih atas bantuanmu." Erasmus selalu ramah, aku benci manusia seperti itu.


Terkadang terlihat baik akan membuatmu terlihat semakin lemah. Orang yang lemah terkadang dianggap lebih bodoh oleh orang yang merasa lebih kuat.


Pria itu pun  melangkah menjauhi kami. Erasmus menarik pergelangan tanganku sehingga aku mengikuti langkahnya. Aku berusaha melepaskan tanganku dari genggaman tangannya, tetapi sangat sulit karena ia menggenggam tanganku begitu erat.


"Aku tidak ikut." Ucapanku membuat Erasmus menghentikan langkahnya.


"Kenapa?" Ia bertanya.


Kenapa? Sikap menyebalkan yang sejak tadi ia lakukan membuatku terlalu malas untuk bersamanya. Ia selalu bertindak semaunya dan sangat banyak bicara. Aku membenci pria seperti itu.


"Kau fikir aku akan selalu bersamamu?" Aku membalas dengan angkuh, sambil berusaha melepas lenganku dari genggamannya yang kuat.


"Jika itu adalah takdir kita, maka akan aku jalani." Balasnya dengan percaya diri. Takdir kita? Ia bercanda?!


"Maka aku akan memusnahkan takdir itu." Balasku, aku masih menarik tanganku agar Erasmus melepaskan tanganku.


Erasmus melepaskan tanganku. Namun, ia tetap membukakan pintu mobil tuanya untukku. Tatapannya seakan memohon padaku. Aku memang butuh tumpangannya, tetapi aku sangat tidak ingin bersamanya. Aku sungguh membencinya.


"Percayalah, tak lama lagi bibi Renata akan menghampirimu jika kau tidak ikut denganku. Aku tak akan memaksa, tetapi akan lebih baik jika kau ikut denganku." Ucapnya.


Ia pun melangkah untuk menjauhiku dan membuka pintu mobil lainnya. Ia menaiki mobil itu tanpa menatapku lagi. Tak ada lagi senyuman di wajahnya. Ia pun mulai menyalakan mesin. Haruskah aku ikut dengannya?


"Kemana kau akan membawaku?" Aku bertanya sambil memasuki mobilnya.


"Wiender. Tempat yang sangat jauh."


Aku tak pernah mendengar daerah itu, mungkin tempat itu sangat jauh. Aku pun ikut dengannya ke tempat yang sangat jauh itu.


Aku harap keputusanku tidak menghasilkan penyesalan. Lebih baik ikut dengannya, daripada tinggal bersama Nyonya Renata lagi. Aku tidak ingin menjadi wanita yang menyedihkan seumur hidupku.


"Kau bisa meninggalkanku sebelum sampai di Wiender." Ucapku.


"Diamlah." Ia meminta dengan ketus.


Aku rasa Erasmus mulai marah padaku. Mengapa ia marah? Apakah aku salah jika aku tak ingin ikut bersamanya? Jika aku tak membuntuhkan tumpangan darinya, mungkin aku akan memukulnya dan pergi menjauhinya.


....