RED EYES

RED EYES
Kehancuran Dimulai



"Mengapa datang ke Wiender? Mengapa bekerja sama dengan pangeran di Garde untuk membunuh kaummu?" Tanyaku pada Eric, saat aku berada di hadapannya.


Bola matanya yang berwarna merah mulai terarah padaku. Ia mulai melepaskan sendok dan garpu yang ia gunakan, tangannya bersila di depan dadanya. Tatapan itu memberi tahu jika ia sangat tidak suka dengan pertanyaanku.


Tak ada suara benturan sendok dan piring atau suara lainnya. Ruang makan di istana menjadi hening. Mencekam. Hanya ada aku dan Eric, Eric menyihir pelayan di sekitar kami tertidur karena Eric tak ingin diawasi.


"Kau tidak perlu menjawab." Ucapku. Aku kembali menyantap makanan yang ada di hadapanku.


"Karena aku ingin membunuh penyihir jahat itu. Nyawa dibayar dengan nyawa." Eric menjawab.


Banyak pertanyaan yang muncul di kepalaku setelah Eric menjawab satu pertanyaan. Mungkin lain kali akan aku tanyakan hal itu. Aku tidak ingin ia marah atau menatapku dengan tatapan yang menyeramkan.


Aku mulai menatap wajahnya lagi, mengabaikan makanan di hadapanku. Tatapan kami bertemu. Jika hanya itu jawabannya, seharusnya ia tidak menatapku dengan tajam. Aku juga membenci penyihir sadis itu, walaupun aku tidak ingin ikut campur dengan masalah dunia yang aneh ini.


"Aku akan mendukungmu." Aku membalas.


"Apakah kau yakin?" Tanya Eric dengan tatapan tajamnya.


"Tentu, aku akan membantumu jika aku dibayar oleh dua puluh batang emas." Aku tidak bercanda dengan ucapanku.


"Aku akan membayar sepuluh kali lipat. Semoga kau memegang janjimu." Balasnya. Ia juga mengeluarkan senyum yang seakan meremehkanku.


Ia kembali menyantap makanannya dan aku kembali menyantap makananku. Menikmati makanan di meja makan hanya berdua. Namun, ini bukanlah hal yang romantis. Ini adalah waktu istirahat setelah latihan selama tujuh belas jam. Erasmus? ia sibuk dengan pekerjaannya.


'Prang!!!'


Aku dan Eric pun diam dan menatap satu sama lain. Diam, kami berusaha mendengar suara lain.


'Prang!!!'


Eric segera berlari dan menarik lenganku. Ia mengajakku memasuki dapur. Wajah Eric terlihat sangat gelisah. Eric membuka sebuah lemari coklat di dapur. Lemari itu dipenuhi oleh berbagai jenis panci. Eric segera mengeluarkan panci itu tanpa suara. Saat lemari itu kosong Eric memaksaku memasuki lemari itu, tak lama ia juga memasuki lemari itu. Sangat sempit. Wajah Eric yang terlalu dekat berhasil membuatku merasa canggung.


"Dia datang!" Bisiknya.


"Siapa?" Tanyaku tak mengerti.


"Penyihir." Jawabnya singkat.


Tanganku mulai gemetar. Tentu aku takut akan terbunuh. Aku menyesal datang ke negeri dongeng yang menakutkan ini.


Eric mulai menggenggam tanganku yang gemetar. Ia tersenyum padaku. Apakah ia berusaha memberi isyarat agar aku tidak takut?


"Kita harus keluar dari istana ini dan mencari Erasmus. Tutupi wajahmu dengan serbet ini. Jangan sampai wajahmu terlihat! Ingat, mulai detik ini namamu adalah Hera! Jangan percaya siapapun kecuali aku dan Erasmus!" Ia mulai memberi aba-aba dengan sedikit panik.


Eric merubah wujudnya, tetapi bola matanya berwarna merah. Ia menggunakan pakaian berwarna hitam dan dilapisi oleh beberapa baja.


Ia membuka pintu lemari dan keluar. Matanya melihat sekeliling dapur. Setelah ia memastikan situasi aman, ia memintaku keluar. Kami pun berjalan dengan cepat melalui pintu belakang dapur. Disini sangat hening. Koridor yang sangat sepi dan pencahayaan tempat ini sangat redup karena hanya diterangi beberapa abor yang menyala. Berbeda dengan tiap bagian istana, dinding tempat ini hanya seperti susunan batu bata merah.


Dihadapan kami terlihat sebuah lemari tua. Eric mendorong lemari tua itu. Aku tidak menyangka jika ada sebuah pintu setinggi dadaku di belakang lemari itu. Eric membuka pintu itu dengan cepat, pintu itu tidak terkunci. Aku tak bisa melihat isi ruangan itu. Tempat itu terlalu gelap.


"Kau harus keluar dari istana ini! Pintu ini akan mengantarmu ke sungai, tepat di bawah jembatan yang berada di depan istana. Tunggu aku di tepi sungai, aku dan Erasmus akan ke tempat itu!" Pinta Eric.


"Tak bisakah kita pergi bersama?" Tanyaku.


"Tidak. Siapa yang akan mendorong lemari ini? Jika pintu ini terlihat, kita tidak akan ada yang selamat. Kita tak bisa pergi tanpa Erasmus, aku juga harus mentelamatkan Erasmus." Balasnya.


"Pada akhirnya aku dipaksa bersembunyi, walaupun aku sudah melakukan puluhan kali latihan bela diri." Aku mengeluh. Eric diam.


"Aku tidak ingin kau terbunuh. Aku juga harus mencari Erasmus." Balasnya.


"Pastikan kau benar-benar menemuiku dan tepati janjimu untuk memberiku emas." Aku pun memasuki tempat itu, jalan lain.


Eric memberikanku sebuah obor. Tanpa berkata-kata lagi, ia menutup pintu itu. Mulai terdengar gesekan lemari dengan lantai, Eric sudah menutupi jalan ini.


Sangat gelap. Hanya sebuah obor ini yang memberikan pencahayaan. Aku melangkah dengan yakin. Tempat ini memang menakutkan tetapi terbunuh adalah hal yang lebih menakutkan.


Jalanan ini terlihat seperti sebuah lorong yang tersembunyi. Hanya langkah kakiku dan derasnya air sungai yang terdengar. Udara terasa lembab. Sesekali aku mencium aroma busuk, entah aroma apa itu. Tak ada apapun. Hanya lorong gelap, lembab dan penuh dengan debu. Rasanya tempat ini tak pernah dilalui oleh seorang pun.


Langkah demi langkah aku lalui. Semakin keras suara sungai yang aku dengar. Aku mempercepat langkahku. Berusaha keluar dari lorong yang sangat membuatku tidak nyaman. Melangkah, lalu melangkah dengan cepat, lalu berlari pelan.


Kini aku tiba diujung lorong. Di hadapanku adalah sebuah pintu yang terkunci. Sial! Eric tidak memberikanku sebuah kunci sebelum memasuki tempat ini.


Aku meletakkan obor di salah satu penggantung obor yang berada di dinding. Aku pun mundur sebanyak sepuluh langkah, kemudian berlari menuju pintu dan sengaja tubuh bagian kananku untuk menghantam pintu. Sia-sia.


Aku mendobrak pintu kedua kalinya.


Sia-sia.


Aku lakukan lagi.


Sia-sia.


Aku lakukan lagi.


Sia-sia.


Masih aku lakukan, meski bahuku mulai terasa sakit.


Sia-sia lagi.


Aku coba lagi.


Sia-sia!


Akan aku coba sekali lagi.


Sial!


Aku mohon, ini terakhir kalinya.


Tak berpengaruh.


Aku mohon, permudah. Aku pun mencoba lagi.


Pintu mulai rusak.


Aku pun memukul dan menendang pintu beberapa kali. Pintu itu pun terbuka.


Aku membuka pintu itu sambil menahan rasa sakit bahu kanan dan tangan kananku.


Aku baru saja membuka pintu, hanya beberapa sentimeter untuk membiarkan mata kiriku memastikan keadaannya aman.


Aku tak percaya dengan apa yang aku lihat.


Langit hitam. Sepi, tak terlihat penghuni Wiender satu pun. Tak ada hewan satu pun, burung seakan bersembunyi dari langit. Beberapa pepohonan tumbang. Aku melihat beberapa orang dengan pakaian asing. Mereka memakai pakaian hitam, lengan panjang yang lebar dan pakaian yang juga menutupi kaki mereka. Wajah mereka ditutupi oleh topeng yang seperti terbuat dari besi. Mereka juga membawa bambu runcing.


Hal yang lebih membuatku kesal adalah tak ada tangga untuk turun dari tempat ini. Aku melihat ke arah bawah mulut pintu ini. Jika aku loncat, aku bisa mati karena terbentur bebatuan di tepi sungai atau mati karena terbawa arus sungai yang begitu besar.


Tak ada pilihan lain. Aku harus menunggu disini.


....


Aku terbiasa hidup dalam kamar kumuh yang redup, bukan lorong yang gelap. Aku takut kegelapan.


Aku bersembunyi di balik pintu. Membuka pintu sekitar 3 cm lebarnya agar aku tak merasa takut dalam tempat ini, lorong gelap dan tak pernah dihuni. Semakin gelap karena api pada obor sudah mulai redup. Dinginnya angin malam menusuk kulitku. Hanya suara derasnya arus air sungai yang aku dengar.


Aku mengintip dari balik pintu, terlihat beberapa pohon telah tumbang. Aku juga mulai melihat asap tebal yang berasal dari tengah hutan. Dari kejauhan saja semua tumbuhan terlihat sangat layu. Keadaan Wiender juga tak ramai dan tentram seperti biasanya. Jangankan para Garde, aku juga tak melihat hewan atau serangga saat ini.


Aku hanya tahu sebagian kecil keadaan Wiender, tak tahu keadaan daerah lain yang tak terlihat dari mataku dan aku juga tak tahu keadaan istana. Namun, dari bagian kecil itu aku tahu jika Wiender tidak aman. Wiender mulai hancur dan kehilangan keindahannya.


Aku tak tahu sudah berapa jam menunggu di tempat ini. Sejak matahari berganti menjadi bulan, aku menunggu dua pria itu di tempat ini. Aku tak tahu apakah Eric dan Erasmus telah menungguku, atau masih menungguku, atau mungkin telah meninggalkanku.


Aku masih tak berani untuk melompat. Aku juga tak menemukan alat yang dapat membantuku untuk turun. Hanya diam, duduk dan berharap Eric menemukanku di tempat ini. Walau aku tahu jika hanya mengharapkan seseorang dalam keadaan seperti ini adalah hal yang buruk.


Aku mulai mendengar langkah kaki yang menggema di lorong ini. Aku berusaha mematikan obor agar tak ada cahaya. Aku tidak ingin seseorang yang jahat menemukanku. Tetapi, tempat ini semakin gelap. Sial.


Langkah kakinya semakin mendekat. Mendekat dan mendekat. Otakku mulai berfikir dengan keras. Rasanya hanya ada satu pilihan jika orang yang datang adalah orang asing yang memiliki bola mata merah, aku harus melompat untuk menghindari orang itu.


Aku membuka lebar mataku. Aku melihat seseorang yang memakai pakaian pengawal istana menghampiriku. Wajahnya ditutupi oleh pelindung wajah yang terbuat dari besi baja. Pakaian yang terbuat dari besi dan kulit. Orang itu tetap melangkah mendekatiku. Aku tak dapat melihat warna bola matanya karena terlalu gelap.


"Claire!" Suara pria. Ia memanggil namaku dengan pelan, namun menggema di lorong ini. Aku mengenal suara itu.


Orang itu membuka pelindung wajah dari wajahnya. Pria itu adalah Erasmus. Aku melihat wajah pucatnya yang dikotori oleh debu. Di keningnya juga terdapat luka dan darah yang telah mengering.


"Apa yang terjadi?" Tanyaku.


"Pasukan penyihir datang. Aku tak tahu bagaimana mereka bisa memasuki Wiender. Banyak penjaga yang meninggal, penduduk Garde dan para hewan lainnya sedang bersembunyi." Erasmus menjelaskan.


Erasmus mulai mengeluarkan tali tambang yang ia bawa di punggungnya. Ia sibuk mengulur tali tambangnya. Ia juga terlihat sangat tergesa-gesa.


"Bagaimana keadaan raja dan ratu?" Tanyaku.


"Sudah waktunya aku beri tahu rahasia keluarga kita padamu." Kini kedua matanya menatap mataku. Bola mata hijaunya terlihat sangat jelas dalam kegelapan.


"Raja dan ratu sudah meninggal sejak dua tahun yang lalu. Tak ada yang tahu kecuali sekertaris kerajaan. Aku yang menggantikan dan mengerjakan semua tugas mereka. Seisi istana hanya tahu ratu sakit keras dan raja sedang merawatnya di lingkungan manusia, rakyat tak ada yang tahu akan hal itu." Ia menjelaskan.


Inilah alasannya mengapa Erasmus sangat sibuk seperti Raja, meski ia hanyalah pangeran.


"Mengapa kau tidak katakan semuanya kepada kami dan seluruh rakyatmu?" Tanyaku.


"Tidak semudah itu, Claire. Raja dan ratu telah dibunuh oleh penyihir jahat itu. Bagaimana aku menjelaskan kepada penduduk Wiender? Jika mereka tahu pengebabnya adalah penyihir, maka akan terjadi peperangan dan akulah yang akan menjadi pemimpin perang itu. Penyihir itu terlalu kuat untuk dikalahkan Garde. Aku tak ingin semua penduduk Wiender mati, kerajaan hancur dan Wiender musnah hanya karena kekalahan. Lagipula, aku tidak siap untuk menjadi raja yang melawan para penyihir." Erasmus menjelaskan dengan yakin. Ia masih sibuk dengan tali tambang di hadapannya, aku terlalu malas untuk membantunya.


"Kau pun memilih berbohong. Pada akhirnya peperangan terjadi seperti saat ini." Aku tidak suka pilihan Erasmus yang menjadikan dirinya sebagai raja yang pengecut.


"Raja tak pernah memulai peperangan." Balasnya tanpa menatapku.


"Tetapi selalu siap untuk berperang." Balasku dengan cepat. Itu adalah kata-kata dari film kesukaanku, yaitu Thor.


Erasmus tak lagi bicara dan mulai mengikatkan tambang itu dengan beberapa penggantung obor di dinding. Aku harap penggantung obor dan tali tambang cukup kuat untuk membawaku keluar dari tempat ini.


"Bagaimana kau tahu aku berada disini?" Tanyaku.


"Kau tidak ada di tempat kita seharusnya bertemu. Eric memintaku untuk menjemputmu disini. Kini ia sudah di bawah menunggu kita. Kita harus pergi dari Wiender." Jawabnya.


"Bagaimana dengan rakyatmu?" Tanyaku. Aku tak memahami isi otak Erasmus. Apakah ia mampu berfikir layaknya keluarga kerajaan? Apakah ia sadar jika ia seorang raja?


"Para penyihir tahu jika kau berada di tempat ini. Aku sudah mengatakan jika Garde tak ada yang tahu tentang dirimu. Kami diberikan waktu sepuluh hari untuk menyerahkanmu kepada para penyihir, dengan syarat jangan menghancurkan Wiender dan isinya." Balasnya.


"Lalu kau akan menyerahkanku!?" Aku tak sengaja berteriak. Menjadikan diriku sebagai tumbal bukanlah hal biasa.


Jika aku harus dijadikan korban untuk Wiender, aku akan membunuh Erasmus dan Eric. Bagaimana mungkin ia membiarkanku mati hanya untuk tempat yang baru aku ketahui?


"Aku berbohong pada mereka hanya untuk mengulur waktu, Claire. Aku tidak akan menyerahkanmu. Ada hal yang harus kita lakukan. Kita tak punya banyak waktu, atau bumi akan hancur." Balasnya.


Erasmus pun mengulurkan tali ke luar pintu. Tali itu cukup panjang dan terlihat cukup untuk membantu kami turun.


Aku tak tahu harus percaya atau tidak dengan perkataan Erasmus. Namun, saat ini tidak ada pilihan lain.


"Jangan banyak bergerak dan buat kakimu melangkah diatas dinding! Pegang tali ini dengan erat! Jangan lihat ke bawah!" Perintah Erasmus dengan mata yang seakan mengancamku.


"Kemana kita akan pergi?" Tanyaku dengan menatap tajam Erasmus.


"Dark Point."


....