
Bulan masih terlihat jelas diatas langit, begitu bintang. Langit sangatlah luas dan memberikan keindahan di tempat yang kecil ini. Pepohonan yang terlihat kering tetap terlihat indah saat malam hari karena latar langit yang luar biasa indahnya. Berbaring diatas rumput yang sedikit kering sambil menatap langit malam adalah salah satu yang aku suka di tempat ini.
"Putri, ratu meminta anda agar segera tidur." Seorang pengawal istana memberi tahuku. Aku membalas dengan anggukan.
Mungkin ini terlalu cepat, aku mulai menerima ratu Vei sebagai ibu kandungku dan mulai menerima tempat kecil ini sebagai rumahku. Aku memang tak suka dengan Garde yang mengurung para penyihir di wilayah yang kecil, tetapi aku tak mengerti mengapa penyihir tak bisa menerima hal itu. Tidak semua tempat adalah tempat yang indah, tetapi tempat tinggal akan menjadi sangat indah jika dipenuhi kedamaian dan kenangan.
Ketukan pintu menyadarkanku, aku terlalu hanyut dalam fikiran dan emosiku. Aku menoleh ke arah pintu yang mulai terbuka. Rupanya Eric.
"Tidurlah!" Eric memintaku untuk segera tidur, tetapi aku berdiri setelah mendengar perintahnya.
"Kenapa?" Tanyaku.
Kami terdiam dan hanya suara jarum jam yang terdengar. Aku menatapnya tetapi ia mengalihkan pandangannya dariku.
"Aku akan pergi." Ucap Eric.
"Eric!" Suaraku menghentikan langkahnya.
"Penyihir tidak jahat. Mereka hanya ingin keadilan dan menjauh dari kesedihan, itu pernah aku rasakan." Ucapku.
"Kau ingin melupakan Garde dan Wiender?" Tanya Eric. Aku mengangguk.
Eric pun memasuki kamarku selangkah. Jarak kami mendekat meski masih jauh. Mata kami pun mulai bertemu.
"Aku juga menginginkan kehidupan yang baru sejak lama. Meski aku tidak menginginkan tempat ini, tetapi aku ingin memulai hidup yang lebih indah." Balasnya.
"Aku-"
"Besok ingin latihan memanah?" Ajakkan Eric memotong perkataanku.
Aku tersenyum saat melihat Eric yang kembali berantusias saat berbicara padaku. Senyumku pun dibalas dengan senyumnya. Aku pun mengangguk untuk menerima ajakkannya.
"Aku tunggu saat matahari hampir terbit." Lanjut Eric dan ia pun keluar dari kamarku.
Aku tak melihat tanda-tanda para penyihir ingin membunuh Garde atau manusia. Mereka semua terlihat baik. Tempat ini juga berisi orang yang berharga bagiku. Aku ingin memulai hidup baru disini, di Dark Point.
....
Matahari belum terbit, tetapi aku sudah bangun. Aku tak tahu mengapa aku begitu antusias untuk latihan memanah. Dahulu aku sering melakukannya di Wiender, tetapi baru kali ini aku benar-benar ingin melakukannya.
Aku tidak berpakaian indah layaknya putri karena aku hanya latihan memanah. Tetapi tanpa alasan yang aku ketahui, aku selalu menginginkan penampilan yang terbaik. tak hanya itu, jantungku juga berdegup lebih cepat dan seluruh kulitku serasa menggigil.
"Kau bahagia?" Suara seseorang yang aku kenal terdengar di kamarku.
"Kau selamat?" Aku tersenyum sangat lebar. Bahagia dan lega sekali melihat Erasmus masih hidup.
"Kau tersenyum?" Tanya Erasmus dengan sinis. Aku mulai tak mengerti dengan ekspresi wajahnya.
"Dimana Cassie?" Tanyaku.
"Dia hanya mampu mengedipkan matanya saat ini." Balas Erasmus dengan ketus.
Aku melangkah mendekatinya agar Erasmus tak perlu melangkah dengan kaki yang pincang. Namun, ia tetap melangkah. Matanya terlihat tajam. Tak ada lagi senyum.
"Kita harus mengakhiri peperangan ini." Ucapanku menghentikan langkahnya. Ia tersenyum, bukan seperti senyuman yang dulu ia keluarkan.
"Kau yang mencintai kehidupan barumu dan melupakan para mayat di Wiender. Tak ada perdamaian, disini hanya ada kalah atau menang."
"Bebaskan para penyihir dari Dark Point dan biarkan mereka hidup bersama Garde. Mereka hanya ingin bebas, tak perlu ada kalah dan menang." Aku membalas.
"Mereka sudah berhasil melewati batas antara Dark Point dan Kangel, mereka juga berhasil menghancurkan Wiender. Tujuan mereka adalah memasuki bumi yang luas setelah membuka portal dari Wiender!" Erasmus berbicara dengan intonasi yang sangat tinggi.
"Tak ada tanda peperangan disini. Mereka-"
"Karena mereka telah memilikimu. Darahmu adalah sebuah senjata, Claire!" Ia memotong perkataanku.
Aku pun melewati Erasmus. Aku tak ingin mendengarkan semua perkataannya. Wajahnya sangat terlihat marah padaku.
Aku senang dengan kedatangannya. Aku sangat senang karena melihatnya selamat dari jembatan itu. Meski Cassie lumpuh, setidaknya aku senang mendengar jika ia telah selamat. Aku ingin bertanya bagaimana mereka selamat dan bagaimana bisa Erasmus memasuki Dark Point, tetapi terlalu kesal rasanya untuk berbincang dengannya.
"Aku mohon Claire, percayalah!" Pinta Erasmus.
"Kau pernah bilang jika kampung halamanku telah musnah, kau bermaksud membohongiku dengan mengatakan tak ada Dark Point dan ibuku telah meninggal. Mengapa tak kau katakan ibuku masih hidup dan ia mencariku? Kau ingat semua janjimu? Tak ada satu janjimu yang kau tepati. Bagaimana aku mempercayaimu?" Balasku.
Ia diam.
"Pergilah! Disini bukan tempat yang baik untukmu." Kalimat itu aku ucapkan untuk salam perpisahan.
Ia melangkah dengan kakinya yang pincang. Melempar tatapan yang penuh rasa kecewa padaku. Aku tak tahu siapa yang benar dan siapa yang salah. Erasmus menuntutku agar mempercayai pendapatnya bahwa penyihir adalah kaum yang jahat. Namun, tak ada kejahatan dan kesalahan yang terlihat.
"Aku harap dugaanmu benar." Ucap Erasmus di mulut pintu. Ia pun pergi.
...