RED EYES

RED EYES
Dark Point



Kakiku sangat berat, sakit dan sulit untuk digerakkan, itulah hal pertama yang aku rasakan sejak kejadian itu. Mataku masih terpejam, rasanya tidak ada tenaga untuk menghadapi kenyataan yang pedih. Aku tak berani melihat apa yang harus aku hadapi. Aku tak ingin mendengar suara para penyihir itu, walau saat ini hanya kesunyian yang ada.


Aku membuka mataku secara perlahan. Aku berharap agar mataku tak melihat para penyihir. Aku mulai tahu rasanya mengapa Erasmus begitu membenci warna merah.


Kedua tanganku diikat oleh tali tambang yang tebal dengan sangat kencang, tanganku hingga lecet karena ikatan itu. Pantas saja kaki terasa berat dan sulit digerakan, mereka merantai kakiku. Aku juga terkurung di ruangan kecil dan gelap, seperti ruang bawah tanah. Bau busuk mulai memasuki hidungku, suasana hatiku semakin buruk karena hal ini. Aku benci ini, mereka seenaknya memperlakukanku seperti hewan.


Aku segera duduk dan berusaha mencari pertolongan. Namun, tak ada pepohonan. Aku berusaha meminta bantuan dari angin, tak bisa. Aku meminta bantuan dari api diatas obor yang jauh dariku, tak bisa. Tanah dan batu juga tak membantuku. Terus berusaha, aku tahu jika hal itu mustahil tetapi aku tetap memaksa. Aku pun sadar jika aku tak sekuat Erasmus yang mampu mengendalikan banyak elemen di bumi.


"Sudah bangun?" Suara yang tak asing membuatku kaget. Namun, aku tak melihat seseorang karena tak ada cahaya disekitarku.


"Eric?" Aku yakin jika Eric yang memanggilku.


Aku mendengar suara langkah kaki yang menggema di dalam lorong yang gelap. Suara langkah kaki itu terdengar semakin jelas, ia mendekat. Aku pun mulai melihat Eric yang menghampiriku.


Kini ia berada di depan jeruji besi yang mengururungku. Ia tak memakai pakaian besi. Ia berpenampilan sangat berbeda, ia terlihat seperti ksatria. Pedang yang terlihat kuat ada di sisi kirinya dan terdapat pelindung yang terlihat dari baja yang menggantung di punggungnya. Penampilannya lebih rapih, sama seperti penampilan Erasmus sehari-hari jika ia di Wiender.


Eric membuka jeruji besi itu. Ia memasuki penjara ini dan menghampiriku. Wajah kami berhadapan dalam penjara yang menjijikan ini. Ia pun mengangkat tubuhku, ia menggendongku dengan kedua tangannya.


"Kita akan kabur?" Itu pertanyaan yang aku ajukan padanya. Aku hanya mengharapkan satu jawaban dari pertanyaan itu.


Ia tak menjawabku, tak juga menatapku.


Aku berusaha menebak isi fikirannya. Wajahnya yang datar dan mata yang penuh kesedihan. Apakah ia menyesal? Apakah ia ketakutan? Apakah kejahatan yang ia lakukan hanya untuk sebuah alasan?


Kami melewati puluhan penjara melalui lorong dan beberapa anak tangga. Berjalan di lorong yang gelap dan tercium aroma bau busuk. Aku melihat tiap penjara, seseorang yang terkurung dan aku juga melihat tengkorak manusia. Apakah ini tempat pembunuhan? Aku tak menyangka jika aroma busuk itu berasal dari mayat di tempat ini.


Langkah kaki Eric terhenti saat kami keluar dari penjara dan seorang wanita tua yang memiliki bola mata berwarna hitam terlihat menanti kedatangan kami. Rupaya penjara itu berada dibawah tanah Istana Dark Point. Ia memang mengeluarkanku dari penjara, tetapi tak mengeluarkanku dari istana. Eric melepas lilitan rantai dari kakiku. Ia juga membantuku berdiri dan memberikanku kepada wanita tua itu.


"Aku akan menghampiri ratu." Ia mengatakan hal itu pada wanita tua itu.


Eric pun meninggalkanku tanpa sepatah kata. Ia menghindari tatapan mataku. Meski ia tak menutup telinganya dengan kedua tangannya, aku menduga ia tak ingin mendengarku. Punggungnya menjauhiku. Ia terus melangkah tanpa menoleh sedetik pun. Ia mengkhianati kami.


"Nama saya Rewen, saya akan menjadi dayang pribadi anda. Ayo, kita ganti pakaianmu." Ajak wanita tua itu dengan ramah.


Tidak seharusnya wanita tua yang menopang tubuhku dan membantuku berjalan. Rasa sakit pada kakiku tak ada hentinya, menyusahkan! Kami melangkah bersama. Ia tidak terlihat seperti penyihir lainnya. Jika mataku bertemu dengan mata wanita itu, ia memberikanku senyuman yang penuh kehangatan.


"Apakah aku akan dibunuh?" Aku bertanya pada wanita tua itu.


"Ibumu sangat mencintaimu dan merindukanmu. Bagaimana mungkin ia membunuhmu?" Balas wanita itu dengan suara seraknya.


Tidak ada yang menghilangkan kemungkinan jika aku tidak akan dibunuh. Ia saja tega mengurungku dalam penjara yang dipenuhi oleh mayat. Lagipula, aku tak yakin jika ia memang ibuku.


Wanita itu pun mengantarku ke sebuah kamar. Kamar yang sangat luas, meski tidak seindah kamar di istana Erasmus. Ia pun memberikanku sebuah pakaian yang indah dan beberapa perhiasan. Aku rasa ini terlihat terlalu berlebihan jika dipakai oleh seorang tawanan.


Wanita tua itu melepas ikatan tanganku dengan pisau dapur yang entah darimana ia bawa. Ia juga mengobati luka di tangan dan kakiku dengan obat tradisional yang ia keluarkan dari sakunya.


"Bolehkah saya meminta tolong, putri?" Ia bertanya saat ia mengobati lukaku.


"Apa?"


"Anak wanitaku menjadi budak di istana ini. Aku mempertaruhkan nyawanya untuk menjagamu. Aku mohon agar anda tidak kabur?"


Aku diam, aku menatapnya dengan kesal. Wanita tua itu pun berlutut di hadapanku. Ia menangis tanpa suara.


"Lalu, aku membiarkan diriku terbunuh?" Aku bertanya padanya.


"Tidak ada seorang ibu yang ingin membunuh putrinya." Jawabnya.


Aku tak habis fikir dengan dunia ini. Kedua orang yang aku kenal telah mati, Eric berkhianat, Wiender dalam bahaya dan seorang wanita tua meminta nyawaku.


"Dimana putri anda?" Tanyaku. Aku tak sengaja bertanya dengan ketus.


"Ia melayani ratu di tempat yang hanya diketahui ratu." Jawabnya.


Aku pun meminta wanita itu pergi.


Beberapa detik sebelum wanita tua itu memohon bantuanku, aku sedang merencanakan untuk kabur dari istana ini. Aku harus menunda kepergian ini.


...


Aku tak percaya dengan pilihanku.


Aku melangkah dengan kakiku yang pincang. Aku melangkah menggunakan gaun hijau tua yang terseret menyentuh lantai jika berjalan. Sebuah mahkota kecil di kepalaku. Rewen memaksaku untuk mengenakan gelang dan anting yang disediakan istana.


Kini ratu itu di dapan mataku.


Tak hanya ratu, istana ini sangatlah ramai. Banyak sekali tamu yang hadir, pelayan dan pengawal juga banyak yang hadir. Aku tak mengenal mereka semua yang hadir di istana saat ini. Aku hanya tahu jika mereka semua memiliki bola mata berwarna merah, meski aku melihat beberapa pelayan istana yang memiliki bola mata berwarna hitam.


Aku masih tidak mengerti acara apa yang akan dilakukan.


Seseorang menghampiriku dari belakang dan berdiri di sisi kiriku, pria itu berusaha membantuku untuk melangkah. Aku menoleh, Eric rupanya. Ia tak seperti yang aku lihat sebelumnya. Ia tak lagi menyembunyikan bola matanya yang berwarna merah. Ia juga terlihat lebih angkuh dan lebih diam. Rambutnya sangat tertata rapih. Jangankan debu, kulitnya benar-benar bersih dan wangi. Pakaian yang ia gunakan layaknya pengantin pria di negeri dongeng.


Pengantin?


"Acara apa ini?" Tanyaku pada Eric.


Eric diam dan tetap membantuku melangkah. Aku tahu jika ia mendengar pertanyaanku dan sengaja tak menjawab pertanyaanku. Aku berusaha menghentikan langkahku, tetapi ia memaksaku agar tetap melangkah. Ia juga tak menatap mataku sedikit pun.


Langkah kami terhenti tepat dihadapan pria tua yang memiliki bola mata merah. Aku melihat ke sisi kananku, Ratu sedang duduk dan memberikan senyumannya padaku. Aku menoleh ke sisi kiri Eric, aku melihat pria tua yang buta dan wanita tua yang lumpuh.


Eric pun mengeluarkan sebuah pisau belati. Eric menggoreskan belati di tangan kiriku secara paksa, setelah itu ia merendamkan tanganku kedalam air merah yang berada di cawan itu. Ia juga menggoreskan belati di tangan kanannya dan merendamkan tangannya. Eric pun menggenggam tanganku dengan erat. Aku rasa Eric melakukan sebuah adat Dark Point yang tak aku ketahui.


"Kalian sudah berjanji untuk hidup bersama hingga akhir hayat. Suka atau duka, hadapi dengan rasa bahagia. Selamat menempuh hidup baru, pangeran dan putri Dark Point." Pria tua di hadapan kami mengatakan jika aku seakan sudah bersumpah untuk selalu bersama Eric.


Semua yang hadir di istana ini pun berlutut di hadapan kami, kecuali ratu dan pasangan yang berada di sisi kiri Eric. Pangeran? Putri?


Ratu pun menghampiri kami dengan langkahnya yang sangat anggun. Eric menunduk saat ratu sudah berdiri tepat di hadapan kami. Ratu terlihat bahagia. Ia pun menyentuh mataku. Ia hanya menyentuh kelopak mataku sekitar satu detik lamanya, tetapi mataku terasa sangat perih saat telapak tangan halusnya menyetuh kelopak mataku.


"Selamat, kau sudah menjadi bagian dari Dark Point." Ucap Ratu saat tatapan mataku bertemu dengan tatapan matanya.


Aku segera menatap mata Eric, tetapi ia segera melihat arah lainnya. Aku terlalu kesal untuk mengajukkan pertanyaan kepadanya. Aku juga yakin ia hanya menjawab pertanyaanku dengan alibinya. Semua ini dilakukan tanpa sepengetahuanku.


"Aku suka kedua mata merahmu." Lanjut ratu. Ia tersenyum, aku menahan marah.


...


"Apa yang sedang kau lakukan, Eric?" Tanyaku. Mataku terbuka lebar karena Eric telah meledakkan fikiranku.


Eric belum menatap mataku sejak hari pernikahan kami. Aku sudah duduk di tepi tempat tidur dan ia sedang mengunci pintu. Tak ada sorot matanya untukku. Tak ada suaranya yang ia berikan untukku. Diam, ia menghindariku tetapi tetap melaksanakan pernikahan ini.


Aku segera melemparkan kepalanya dengan sebuah bantal. Bantal itu tepat mengenai wajahnya. Ia terlihat menahan rasa kesalnya. Ia masih saja diam, membisu dan menghindari tatapanku.


"Kau adalah orang yang paling aku khawatirkan, Eric! Apakah ratu memaksamu untuk melakukan ini semua?" Tanyaku.


Ia masih tidak mengeluarkan suaranya, tetapi matanya mulai menatapku. Ia duduk diatas sofa sambil menatapku. Rasanya ada kata yang tertahan di hati dan fikirannya.


"Penyihir lebih kuat dibandingkan Garde. Wiender dan bagian bumi lainnya, termasuk rumahmu, akan menjadi milik para penyihir, Claire. Mengapa kau ingin mempertahankan Wiender meski disana bukanlah rumahmu? Mengapa mempercayai manusia yang lemah untuk menjadi penguasa? Kau adalah bagian dari penyihir, aku harap kau akan berpihak kepada kami dengan tulus." Suara Eric keluar. Aku kecewa dengan kata yang ia keluarkan itu.


"Mengapa kau menginginkan penyihir menjadi penguasa? Indah sekali jika kita berdamai, bukankah masing-masing telah memiliki wilayahnya. Aku ..."


"Aku akan tidur di sofa. Selamat malam." Ia memotong perkataanku.


Ia membelakangiku. Ia terbaring di atas sofa. Tak ada lagi suara, sangat sunyi. Aku segera melemparkan selimut kepadanya dengan kasar. Aku tulus memberikan selimut itu karena suhu cuaca sedang terasa sangat dingin, meski aku sangat marah padanya.


"Eric!" Aku memanggilnya.


"Hmm." Jawabnya, seperti malas membalas sapaanku.


"Apakah selama ini kau membenciku, Erasmus dan Cassie? Apakah kau membenci Wiender?" Tanyaku padanya.


Aku menanti jawabannya. Ia diam terlalu lama. Apakah ia sudah tidur? Apakah ia membenci kami? Apakah ia tak tahu harus menjawab apa?


"Kita berempat selalu tidur di atas tanah dan bebatuan. Kini, aku tak menyangka jika aku dan kau tidur diatas tempat yang empuk." Ucapku. Eric tetap diam.


"Selamat malam." Ia tak membalas lagi.


...


Rasanya bulan dan matahari tak membagi waktu dengan baik. Apakah siklus mereka yang terlalu lambat seakan ada 48 jam dalam sehari? Waktu berjalan begitu lambat dan tak terasa aku sudah tinggal di Dark Point selama 5 hari, itu terasa 5 tahun bagiku.


"Makan malam." Aku tak menoleh saat seseorang memasuki kamarku dengan suara khasnya. Seperti biasa, Ratu Vei yang mengantarkan makan malamku ke kamar.


Setiap pagi ia selalu membangunkanku, meski aku selalu berpura-pura tidur dan selalu menolak untuk bangun lebih cepat. Setiap siang ia selalu memerintahkan para pelayan melayaniku. Setiap malam ia mengantarkan makan malamku ke kamar karena ia tahu jija aku tak suka menikmati makanan bersama Eric dan Ratu.


"Ibu letakan di atas meja." Ucapnya. Aku tak peduli.


Aku menatap Dark Point dari jendela, tempat ini sangat berbeda dengan Dark Point. Jika Wiender sudah sepi sejak pukul sepuluh malam. Namun, kota ini masih dipenuh dengan keramaian meski pukul 1 pagi. Jika Wiender memiliki banyak kunang-kunang, maka di Dark Point banyak sekali lampu yang menghiasi jalanan. Aku hanya melihat rumah warga dan banyak orang yang berlalu-lalang. Tak jarang jika aku melihat suatu benda melayang di Dark Point, semua penghuni menggunakan sihirnya.


"Indah, bukan?" Tanya Ratu. Aku tak sadar jika ia sudah berada di sampingku.


Aku tak menoleh dan berusaha mengabaikannya.


"Mengapa Ratu ingin menguasai bumi?" Tanyaku.


"Aku tidak ingin menguasainya." Balasnya dengan cepat.


Aku sangat tidak percaya dengan ucapannya. Meski ia tak mengaku jika ia berbohong, rasanya kata itu sudah jelas kebohongan. Untuk apa ia menyerang Wiender dan berusaha mendapatkan darahku?


"Aku hanya ingin memperbaikinya." Ia melanjutkan kebohongannya. Aku tak peduli.


"Kau pasti tahu banyak ketidak adilan di tempat tinggalmu. Sang penguasa menghancurkan bumi untuk mendapatkan keuntungan, rakyat jelata menerima akibatnya. Aku hanya ingin melindungi semua orang yang lemah." Lanjut Ratu.


"Ratu bisa bekerja sama dengan para Garde dan-"


"Jika bekerjasama dengan Garde akan mampu mencapai keuntungan itu, aku tidak akan meninggalkan ayahmu." Ratu memotong perkataanku.


Mataku mulai menatap bola matanya yang merah, sangat merah. Kalimat yang ia keluarkan terus menarik rasa ingin tahuku.


"Para Garde tidak ingin berurusan dengan para manusia. Tentu bukan karena Garde lemah, hanya saja manusia lebih cerdik dan licik. Garde tak ingin menyebabkan kekacauan dan hanya ingin menjaga alam. Bagaimana bisa menjaga alam jika yang lain merusak?" Balas Ratu.


"Lalu, Ratu akan menggunakan kekerasan? Menghancurkan Wiender dan membunuh para Garde bukanlah hal yang benar." Balasku dengan nada yang cukup tinggi.


"Kau seperti ayahmu yang hanya memandang para penyihir sebagai orang yang jahat. Apakah Erasmus menepati janjinya? Kau tetap percaya pada Erasmus? Kau terlalu lugu jika selama ini kau berhasil ditipu olehnya." Lanjut Ratu. Aku yakin ia berbohong.


Ratu menyentuh keningku dan semua sekitarku menghitam, aku hanya dapat melihat ratu. Terlihat sedikit bintang kecil di sekeliling kami. Aku tak tahu sedang apa dan dimana aku saat ini.


...