
Kean dengan telaten menyuapi Rein membuat Rein merasa begitu di cintai oleh nya. Siapa yang tidak bahagia di cintai oleh Keanu Adhitama. Dokter tampan dengan segala yang ia punya. Oh astaga aku pun ingin seperti Rein.
" Kamu nggak sadar gitu itu aku?" tanya Kean.
" Yang aku tahu Mbing pemilik rumah sakit,aku nggak tahu kamu pemilik rumah sakit tempat aku bekerja," jawab Rein lalu kembali mengunyah makanan nya.
" Aku sebenarnya sudah merasa kamu memiliki banyak kemiripan dengan Mpuss,tapi aku semakin yakin saat membaca chat terakhir dari mu," sambung Kean menimpali.
" Itu sebabnya sekarang kamu nggak ragu?bener kata bunda Nichole kamu harus di getok dulu. Kamu harus aku tinggalin pergi dulu baru sadar," cibir Rein lalu mengerucutkan bibirnya.
" Dih,kamu sekongkol ya sama Bunda," protes Kean.
" Biarin abis kamu nggak peka," ucap Rein.
" Untungnya kamu pergi nggak jauh jadi masih bisa aku susul," sahut Kean.
" Iya,aku nggak punya ongkos kalau pergi keluar negeri kayak di novel- novel," celetuk Rein membuat Kean tergelak tawa.
Rein benar- benar wanita sederhana yang apa ada nya. Ia tidak pernah malu dengan keluarganya yang sederhana. Ia mengajarkan Kean banyak hal tentang indahnya berbagi dengan sesama ketika mereka saling chat. Rein mengajarkan nya untuk mudah memaafkan kesalahan orang,biarkan Tuhan saja yang membalas kita hanya menyaksikan saja begitu kata Rein. Itu yang membuat Kean begitu menyukai Mpuss,karena Mpuss selalu memberikan solusi untuk setiap masalah nya.
" Kamu aku kasih black card nggak pernah di pake?" tanya Kean.
Rein menggelengkan kepalanya," Aku nggak mau di sangka manfaatin kamu," jawab Rein.
Kean menangkup wajah Rein dengan kedua tangannya, " Apapun milikku nanti akan menjadi milik kamu,jadi dari mulai dari sekarang kamu harus terbiasa dengan semua itu."
Sumpah demi apa Rein semakin terkejut dengan apa yang di ucapkan oleh Kean. Ia memeluk Kean pria yang kini begitu ia cintai.
Keesokan hari nya mereka berpamitan kepada semua staff rumah sakit tersebut,terutama dengan Dokter Bagas. Dokter Bagas merasa sedih karena harus berpisah dengan wanita cantik yang baru beberapa hari ini mencuri hati nya.
" Terimakasih Dokter Rein, terimakasih atas semua nya. Sering- sering lah mampir ke sini," ucap Dokter Bagas lalu mengulas senyum sambil menjabat tangan Rein.
Kean mendengus kesal ketika melihat hal itu,ia lalu melepaskan tangan Dokter Bagas yang sejak tadi memegangi tangan Rein.
" Nggak usah lama- lama juga Dok!" protes Kean.
Dokter Bagas menatap Kean dengan tatapan tidak suka,ia merasa Kean terlalu posesif kepada Rein.
" Iya Dok,nanti pawang nya marah," sindir Dirga.
" Kalau saya masih jomblo Dok,nggak akan ada yang marah serius deh!!" sahut Dokter Riska sambil tersenyum kepada Dokter Bagas.
Dokter Bagas hanya menjawab ocehan absurd Dokter Riska dengan senyuman.
Dirga melihat hal itu rasanya ingin menggetok kepala Riska saat ini juga,agar ia kembali mengingat di mana mereka menghabiskan malam bersama.
Dokter Bagas pun melepaskan tangan Rein,lalu mereka pun berpamitan dengan yang lainnya. Banyak warga setempat yang berterima kasih kepada mereka terutama kepada Kean yang berhasil menemukan antivirus untuk penyakit itu.
Mereka memasuki mobil mereka masing-masing. Rein masuk ke dalam mobil Kean. Sementara Riska dan Dirga memasuki mobil jemputan dari rumah sakit.
Sepanjang perjalanan Dirga dan Dokter Riska hanya terdiam,tidak ada yang memulai pembicaraan. Pertama kali nya Dirga merasa gugup berada di dekat seorang wanita. Ia yang seorang playboy yang biasanya di kelilingi para wanita cantik kini merasa aneh berada di dekat Dokter Riska.
Dirga kembali mengingat di mana ia dan Riska tanpa sengaja menghabiskan malam bersama tempo hari.
Malam itu setelah bertemu dengan Dirly,Riska mendatangi sebuah bar. Di sana ia meminum banyak sekali minuman beralkohol membuatnya mabuk berat.
Dirga yang memiliki urusan dengan Riska menelepon Riska. Riska sudah tidak sadarkan diri, bartender bar tersebut mengangkat panggilan di ponsel Riska. Bartender itu mengatakan kepada Dirga bahwa Riska saat ini tidak sadarkan diri karena mabuk berat.
Dirga dengan berat hati menyusul Riska ke bar tersebut,i melihat Riska yang nampak kacau saat itu. " Dasar wanita tua menyusahkan saja," ucap Dirga menggerutu lalu membawa Riska ke dalam mobil nya.
Dirga kebingungan ia harus membawa Riska kemana,pasal nya ia tidak tahu tempat tinggal Riska. Akhirnya Dirga memutuskan membawa Riska ke apartemen nya.
Sesampainya di dalam apartemen Dirga menidurkan Riska di tempat tidur milik nya. Tiba-tiba saja Riska menangis tersedu,Dirga merasa iba melihat wanita yang selalu ia sebut tua itu.
Ia terlihat tegar dan kuat namun ternyata menyimpan banyak sekali luka dan kesedihan.
" Kenapa kamu harus kembali di saat aku sedang menata hati ini?" ucap Riska sambil menangis.
" Apa kau tidak tahu betapa sakit nya aku ketika melihat hidup mu lebih baik dari ku. Kau mendapatkan istri yang kini sedang mengandung anak mu. Sementara aku? aku masih di sini dengan hati yang sama dan luka yang sama," cerocos Riska panjang lebar.
Riska membenarkan posisi nya menjadi duduk ia menatap Dirga seolah Dirga itu Dirly. Dirga merasa shock ketika tiba-tiba saja Riska menciumnya dengan ganas.
Dirga semakin frustasi ketika Riska melepaskan pakaiannya di depan Dirga dengan bibir mereka yang masih saling bertaut. Dirga melepaskan tautan pada bibir mereka lalu mencoba menutupi tubuh Riska dengan selimut nya.
" Wanita tua sadar!! Lo lagi mabuk jangan ngadi- ngadi," protes Dirga mendengus kesal.
Sekuat apapun Dirga menahan godaan Riska,ia pun goyah ia pria normal yang akan tergoda ketika terus menerus mendapatkan godaan semacam ini. Kedua insan yang tidak pernah akur itu kini saling bercumbu mereguk kenikmatan menuju surga dunia. Entah berapa kali mereka melakukan nya,yang jelas banyak benih Dirga yang tertanam di dalam rahim Riska.
Dirga tidak peduli besok ia akan di bius seperti apa oleh Riska ketika ia sadar nanti.
Sang mentari mulai menyapa, cahaya nya menerobos masuk ke dalam kamar Dirga. Manik mata Riska menerjap secara perlahan,ia merasa kepalanya sangat pusing.
Riska merasa ada sesuatu menindih tubuhnya yang tidak memakai apapun. Wait? Riska baru menyadari bahwa ia tidak memakai apapun. Oh my God apa yang ia lakukan semalam. Riska mencoba mengingat kejadian semalam,ia merutuki kebodohannya yang tidur bersama pria asing.
Namun saat ia menengok ke arah Dirga ia terkejut ,ketika melihat pria yang tidur disampingnya itu Dirga yang sedang tertidur pulas.
Riska memukul Dirga dengan bantal membuat Dirga terbangun dari tidur nya.
" Apaan sih? lo nggak tahu apa gue baru bangun jam tiga pagi," protes Dirga membuat Riska semakin kesal.
Walaupun ia seorang janda tapi ia tidak pernah tidur dengan sembarang pria. Begitu pula Dirga walaupun ia seorang pemain Playboy sejati namun ia belum pernah meniduri wanita yang ia pacari.
" Kita semalam nggak ngelakuin itu kan?" tanya Riska memastikan bahwa pikiran nya itu salah.
" Dih,dia lupa semalem ngapain gue? lu udah ngambil keperjakaan gue," protes Dirga membuat Riska kesal mendengar nya.
Pria itu berkata seolah ia adalah korban di sini. Riska berjalan memasuki kamar mandi Dirga,sambil memunguti pakaian yang tercecer di lantai.Ia malas mendengar kelanjutan cerita yang keluar dari mulut Dirga.
Dirga pun kembali memakai celana nya,tak lama kemudian Riska sudah selesai dengan ritual mandi nya. Ia nampak sudah siap untuk pergi dari apartemen Dirga.
.........
Jangan lupa like komen dan vote