ON THE WAY

ON THE WAY
Empat



Aku menggebrak meja cukup keras. Pada saat yang bersamaan, pintu terbuka. Kak Ardi yang datang. Dia tersenyum mengejek saat melihatku memukul meja dengan wajah yang sangat kesal.


"Ngapain Lo? Itu meja gak salah apa-apa, Lo pukul gitu aja."


"Gak ada. Ngapain Kak Ardi ke sini?"


"Lah, gue juga kena marah. Ada masalah apaan? Pengantin baru, kok, auranya suram gitu. Gak memuaskan, ya, malam pertamanya."


"Ada apa?"


"Baiklah baiklah. Gue gak akan nanya apa-apa algi tentang pernikahan Lo. Gue ke sini cuma mau lihat laporan keuangan."


"Keuangan? Buat apa?" Aku pun duduk di kursi karena obrolan ini pasti akan sangat serius. Tidak biasanya Kak Ardi datang langsung untuk menanyakan pekerjaan.


"Gue dapet laporan kalau ada yang main curang di perusahaan kita. Lo tau gak harga salah satu barang kita ada yang melonjak naik di pasaran."


"Apa?"


"Tidak ada kenaikan dari pabrik tapi harga di pasaran melonjak. Selain merugikan kita, konsumen juga akan rugi. Yang untung siapa? Itu yang mau gue cari."


"Gak ada yang lapor apa-apa ke gue."


"Gue juga menerima laporan pas beberapa menit Lo mau akad. Makanya gue gak kasih tahu dulu. Baru hari ini gue ke sini."


"Wah, gak bener itu. Gue mau ikut buat cari tau siapa dalangnya. Kurang ajar! Mau main-main rupanya tuh orang."


"Jangan!"


"Kenapa?"


"Gue di telpon Ayah. Yaaa, Lo udah tau apa yang Ayah bicarakan, kan?"


Aku hanya membuang napas kesal mendengar ucapan Kak Ardi. Ini pasti masalah Ibu tadi pagi dan juga kemarin.


"Gue udah bilang, mendingan Lo tolak pernikahan ini sejak awal. Bukan cuma Ibu yang akan Lo kecewakan, tapi juga wanita yang tidak tahu apa-apa itu."


Kak Ardi mengangguk yakin.


"Kenapa Kakak belain dia?" tanyaku kesal.


"Bukan belain. Tapi, dia memang tidak tahu apa-apa. Jika memang kamu korban, maka dia juga sama. Posisi kalian itu sama. Sama-sama korban Ibu. Gue, sih, yakin kalau dia juga dipaksa atau entahlah ... Tapi dia sendiri pasti sama kaya Lo. Terpaksa."


"Kalau dia gak mau nikah sama gue? Kenapa dia gak nolak?"


"Lo sendiri kenapa gak nolak?"


Aku hanya diam mendengarkan pertanyaan Kak Ardi.


"Gue pamit. Nanti gue cari tahu sendiri masalah ini. Selesaikan saja dulu urusan Lo sama Ibu dan Nur."


Astagaaa ... Kenapa setelah menikah, masalahku semakin banyak. Apa pernikahan ini membawa sial?


***


Setelah dua jam lamanya, akhirnya meeting ini selesai dengan membahagiakan. Kerjasama pun terjalin. Kontrak besar telah aku kantongi. Alhamdulillah.


Masalah yang awalnya membuat kepala berdenyut, kini sirna karena kontrak barusan.


"Baiklah. Mungkin aku akan pergi menjemput Nur hari ini saja."


Saat kaki melangkah, aku kembali diam dan memikirkan apa yang terjadi pada tubuhku. Kenapa rasa bahagia memberikan aku ingin pergi menemuinya?


Ah, lupakan! Lebih baik besok saja. Begitu pikirku pada akhirnya.


Untuk menghindari bertemu Ibu, bukankah lebih baik aku bertemu Nur? Bukankah dia dan aku berada dalam posisi yang sama, seperti yang Kak Ardi katakan kalau kami adalah korban. Akan jauh lebih baik bertemu Nur ketimbang mendengarkan ocehan Ibu.


Keputusannya akhirnya adalah di sini. Di jalan menuju rumah Nur. Aku akan menjemput istri dan anak-anak sambungku. Semoga jika mereka ada di rumah, Ibu akan lebih fokus pada Dila dan Raya, dan melupakan urusanku dengan Nur.


Semoga.