
Tidur pukul satu dini hari dan bangun pukul tiga. Itu cukup untuk membuat kepala terasa senat senut. Entah kenapa dengan orang lain yang tampak ceria di pagi buta seperti ini. Bahkan para ibu-ibu berdandan cetar membahana.
"Rama, pakai setelan jas nya nanti saja. Kalau dipakai dari sekarang takut kusut," titah tante Erin, adik kandung Ibu.
Aku hanya mengangguk pertanda menyetujui apa yang dia ucapkan. Bagus juga lah aku pakai baju biasa, perjalanan jauh dengan setelan jas itu akan sangat tidak nyaman.
Ada beberapa mobil pribadi dan juga mobil sewaan yang sengaja Ibu sewa untuk beberapa sodara yang ikut mengantar. Entah ada berapa mobil, yang jelas sangat banyak. Mobil pertama adalah mobil dari kepolisian yang mengawal rombongan kami. Mobil berikutnya adalah mobil yang aku tumpangi bersama Ayah dan Ibu. Selanjutnya mobil sodara yang lain.
Azan subuh berkumandang setelah satu jam perjalanan. Kami berhenti di rest area untuk melaksanakan salat subuh. Mungkin sekitar tiga puluh menit. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan yang masih harus ditempuh dengan waktu tiga jam lagi. Sungguh sangat jauh.
Entah dari mana orang tuaku mendapatkan calon menantunya itu. Hingga pelosok gunung pun harus kami tempuh. Seistimewa apa wanita itu? Padahal dia adalah janda dengan dua orang anak. Ck!
Rasa ngantuk membuat aku kembali tertidur dan bangun saat ibu membangunkan. Perlahan aku membuka mata. Ahhh, kepalaku masih terasa berat.
Aku melihat sekeliling. Rumah-rumah khas pedesaan Sunda masih mereka jadikan rumah untuk tinggal. Apakah ini sebuah kampung? Ah, benar saja. Ternyata ini adalah pedesaan yang masih tertinggal sepertinya. Hanya beberapa rumah saja yang sudah memakai tembok beton. Sisanya adalah rumah yang terbuat dari geribik dan berbentuk panggung.
Terdengar dari kejauhan sana suara musik khas sunda orang nikahan. Tiupan seruling begitu nikmat didengar. Juga diselingi suara seseorang berbicara. Aku tidak mengerti karena dia menggunakan bahas Sunda juga.
"Ayo, pakai jas kamu."
Segera aku memakai jas sesuai perintah Ibu. Aku dan rombongan yang lain sudah turun. Kami berjejer seperti orang hendak baris berbaris.
Ada seorang pemandu dari pihak perempuan yang meminta kami berjalan agak maju. Dari depan sana, terlihat rombongan lengser yang mungkin akan menyambut kedatangan kami semua.
Seperti lengser lainnya. Mereka menari diiringi musik tradisional Sunda. Setelah itu, ada sepasang orang tua memakai pakaian senada. Berjalan menghampiri.
Rupanya itu adalah calon mertuaku. Begitu kami berhadapan, Ibu mertua mengalungkan sebuah kalung bunga melati. Aku pun diminta untuk menyalami ke duanya.
Meski awalnya biasa saja, tapi entah kenapa kali ini aku merasa tidak bisa santai. Ada sebuah rasa yang entah apa namanya. Mungkin aku grogi atau gugup?
Sebuah tempat unuk ijab qobul ada di teras sebuah mesjid yang letaknya tepat di samping kiri rumah calon istriku. Karena didorong rasa penasaran, mata ini sedikit bergerak ke sana ke sini mencari sosok yang mungkin itu adalah calon istriku. Dari semua yang ada, tidak ada satu pun yang dicurigainya sebagai pengantin wanita. Tidak ada yang memakai baju atau pun kebaya pengantin.
Seorang laki-laki yang sepertinya umurnya tidak jauh dariku, mendekat. Dia menanyakan nama lenhkapku beserta nama Ayah. Dia juga memberikan secarik kertas. Ada nama Nur beserta nama bapaknya.
"Baca ini jika belum hafal," bisiknya. Aku menganggukkan pelan. Sekali lagi aku memindai sekitar, berusaha mencari wanita yang akan bersanding denganku di sini.
Laki-laki yang tadi memberikan kertas padaku kembali berbisik, "Pengantin wanitanya gak bisa keluar sebelum kalian sah jadi suami istri."
Aku menganggukkan pelan. Agak sedikit panas wajahku.
Suasana sedikit berubah saat pihak kantor urusan agam datang. Para sesepuh, mungkin, datang dan duduk di sekitarku. Kami duduk membentuk lingkaran kecil. Ada calon bapak mertua juga ayah dan sodaraku.
Setelah basa basi dan lawakan khas pihak kantor urusan agama, acara intinya pun akan segera mulai. Tanganku sedikit terasa dingin dan keningku sepertinya tidak kering sempurna.
"Bismillah ... Sodara Ramadhan At-thoriq, saya nikahkan dan kawinkan engkau kepada putri saya yang bernama Maryam Nurhasanah binti Abdul Aziz dengan mas kawin satu sett perhiasan dengan berat 50 gram, di bayar kontan!"
"Ehem. Bismillah ...."
"Heleeeh!" Adikku menoyor kepala. Aku yang tidak ngeh dengan apa yang terjadi, hanya bisa memelototi dirinya yang sungguh tidak sopan. Hingga aku sadar saat beberapa orang tertawa dan Ayah menepuk jidatnya pelan dan berkali-kali.
"Mas, sudah latihan dulu sebelumnya?" tanya penghulu.
Bagaimana bisa latihan, nikah aja males kalau bukan karena orang tua.
"Begini, ya, Mas. Kita ini sedang ijab Qabul, gak usah pake berdehem dan bismilah segala. Bismillah nya nanti saja malam."
Dari nadanya bicara, aku tau ke mana arah pembicaraan penghulu itu. Yups! Ternyata otakku gerak cepat kalau masalah gituan. Ck!
Padahal penghulu sudah memberikan penjelasannya di awal tadi. Otakku buyar seketika.
"Begitu dengar kata kontan dan jari mas di hentakkan, mas langsung jawab saya terima nikahnya bla bla bla ... baca kertas itu." Dia menunjukkan kertas yang ada di depanku. Sebuah nama. Nama caloj istriku.
"Minum dulu, deh." Aku berujar dan itu membuat gelak tawa para tamu undangan dan para saksi.
Akhirnya penghulu memberikan sedikit waktu untukku menenangkan diri. Katanya, jangan sampai gagal tiga kali, takut diketawain cicak.
Setelah berusaha menenangkan diri, penghulu pun meyakinkan agar aku harus fokus, maka ijab qobul itu berlangsung dengan baik.
Aku hanya bisa menunduk dengan degup jantung yang begitu cepat. Entah ada apa denganku.
Aku masih menunduk saat dia duduk di sampingku, hingga Kak Ardi menyenggol pelan. Aku mendongakkan kepala dan melihat wajah istriku.
Ah!
Hanya itu yang keluar dari mulutku. Itu pasti karena make up. Buktinya di foto tidak secantik ini. Eh,
"Tadi nunduk aja, sekarang dipelototi gak henti-hentinya. Udah, dong, Mas. Yuk, tanda tangan dulu aja berkasnya."
Ucapan penghulu yang tadi membuat Kak Ardi dan adikku yang super menyebalkan ini, tertawa puas.
Aku menandatangani semua berkas, pun dengan istriku. Sampailah pada acara cium tangan dan kening. Ambyarrr!
Aku yang gugup mencium keinginannya tapi tertusui siger yang dia pakai. Duh! Ada apa dengan pernikahan ini? Kenapa kejadiannya membuat aku seperti tidak memiliki harga diri.
Rangkaian acara adat pernikahan Sunda pun telah usai. Bahkan, dari satu ritual ke ritual yang lain, semuanya berisi tentang harga diriku yang terjun bebas.
Dari huap lingkung yang nasinya Nur masukkan ke dalam hidungku, tarik bakakak ayam yang dengan keras aku tarik dan akhirnya ayam itu lepas entah ke mana. Juga saat Nur membasuh telapak kakiku. Karena geli, aku refleks menggerakkan kaki, entah kenapa tapi aku menendang Nur. Ck!
"Maaf soal tadi."
"Soal apa?" tanyanya saat kami berada dalam satu ranjang. Aku dan Nur duduk berdampingan di tepian ranjang yang dihiasi berbagai bunga di dinding dan langit-langitnya. Baunya begitu khas.
"Saya nendang kamu. Jujur, saya ini gak bisa nahan geli."
"Gak apa-apa, Mas. O, iya. Tadi udah ketemu anakku bukan?"
"Hmm."
"Dia tadi pamit, mau kembali ke pondok."
"Gak bisa besok?" Tanyaku. Aku baru tadi sore bertemu dengan anak sulungnya Nur. Namanya Firda. Dia mondok dan tidak bersekolah. Entah karena apa.
"Dia lebih senang menghabiskan waktunya di pesantren. Lebih tenang katanya."
"Pastilah. Setidaknya di sana dia bisa melupakan keegoisan orang tuanya."
Nur menoleh. Dia menatapku seperti terkejut dan juga marah mungkin.
"Maaf, saya tidak bermaksud ...."
"Tak apa, Mas. Wajar karena Mas belum mengenalku lebih jauh. Pun sebaliknya. Tapi jika bisa, lebih baik kita tidak usah membahas masa lalu kita. Apa lagi sampai salah menduga. Dosa jatuhnya karena masuk ke ranah fitnah."
Aku mengangkat kedua alisku.
Apakah ini yang membuat Ibu dan Ayah keukeuh ingin Nur jadi istriku? Orang tuaku ingin aku menjadi orang yang lebih baik.
Mungkin aku beruntung, tapi Nur? Mungkin dia buntung karena mendapatkanku sebagai suaminya.
"Kita istirahat, Mas. O, iya. Saya lagi haid. Mungkin masih tiga atau empat hari lagi."
Eh, maksudnya apaan coba? Dia pikir aku mau berhubungan badan dengannya malam ini? Oh, mungkin tidak akan terjadi meski dia sudah bersuci dari haid-haidnya di bulan yang akan datang.
Benarkah?
Wanita itu berbaring di ranjang, dan aku segera menyusulnya.
Wajahnya tidak terlihat takut atau grogi karena ada laki-laki lain di kamar yang sama. Oke, ini bukan hal pertama untukku atau untuknya, tapi kami sudah lama tidak pernah tidur dengan lawan jenis. Bagaimana bisa dia terlihat begitu tenang, sementara aku? Ah!
Dengan sangat pelan, aku pun ikut membaringkan tubuh, sesekali melirik padanya. Oh, Tuhan, bahkan tanpa make up pun dia terlihat begitu cantik . Ah, aku kenapa?
Dengan kasar aku mengusap wajah. Berusaha menyingkirkan apa yang ada di dalam pikiranku tentangnya. Tentang keteduhan wajahnya saat ini.
Ya sudah, lebih baik aku membelakangi dia agar bisa ikut terlelap juga. Bismika allahumma ahya wa bismika amuut.