
"Selamat pagi, Pak."
"Hmm."
"Saya mau melaporkan kalau pengiriman barang dari pusat terkendala. Truk yang membaca barang mengalami insiden di jalan."
"Laporan macam apa ini? Bisa tidak kalian melaporkan hal yang bisa membuat saya senang. Pagi-pagi malah disuguhi berita buruk seperti ini."
"Pak, Pak."
"Apa lagi?" Tanyaku pada karyawan yang datang berlari.
"Maaf, itu di gudang ada kecelakaan. Forklift yang sedang mengangkat barang terjatuh dan menimpa beberapa pekerja gudang."
"What?"
Kepalaku terasa berat. Leherku bahkan sulit digerakkan. Kaku.
"Telpon Pak Ardi sekarang!"
"Baik, Pak."
"Suruh dia urus pengiriman barang yang terkendala. Suruh kirim truk lain buat bawa ambil barangnya. Kalau lewat dari batas tempo, kota bisa kena finalty."
"Iya, Pak."
Aku segera berlari menuju gudang. Karyawan sudah berkerumun di sana. Mereka membelah barisan saat aku datang. Dengan begitu apa yang ada di sana jelas terpampang depan mata.
Astagfirullah!
"Telpon ambulan sekarang!"
"Sudah, Pak."
"Polisi?"
Tidak ada yang menjawab. Sial!
Aku segera mengambil ponsel dan menelpon seorang teman yang ada di kepolisian. Bagaimana pun juga, kejadian ini harus segera diurus dengan benar. Jika ada kesalahan, maka harus dicari sumbernya. Jangan sampai ada oknum yang memanfaatkan keadaan.
Bau amis. Cairan warna merah tampak di lantai di mana forklift itu jatuh. Dengan begitu, pasti akan ada korban jiwa. Aku yakin itu.
Ambulan datang, berselang dengan itu, polisi pun datang. Mereka melakukan pekerjaan mereka. Korban jiwa juga korban luka semua dibawa ke rumah sakit. Sementara itu, polisi melakukan penyelidikan di tempat. Untuk sementara, gudang ditutup. Itu artinya tidak akan ada barang yang bisa masuk ataupun keluar.
Kelar!
Ponselku berdering saat baru saja kaki melangkah keluar dari gudang.
"Napa? Gimana di sana? aman?"
"Tidak begitu sulit. Hanya beberapa barang yang rusak dan truk yang ... yaaa begitulah. Namanya juga kecelakaan."
"Forklift jatuh. Entah berapa orang yang jadi korban. Gue belum tau infonya."
"What?"
"Hmmm. Gue mumet. Biarkan ini diurus Pak Saleh. Lo jangan lama-lama di dananya, Kak."
"Ini gue harus mindahin barang yang masih bisa diselamatkan."
"Percuma! gudang ditutup sementara."
"Terus, ini barang mau diapain?"
"Jual pinggir jalan aja udah."
Aku menggaruk kepala kasar. Kepala terasa berdenyut begitu kuat. Berat.
****
Setelah istirahat sejenak, kepala terasa agak ringan. Aku melirik jam, rupanya sudah hampir jam tiga sore. Itu artinya istirahatku tidak sebentar.
Kuraih ponsel untuk menghubungi Pak Saleh, bertanya kabar tentang korban kecelakaan.
"Korban luka ada tiga, Pak. Korban jiwanya satu orang. Dia yang tertimpa langsung forklift yang oleng."
"Innalilahi. Keluarganya sudah dihubungi, Pak?"
"Mereka sudah ada di rumah sakit, Pak."
"Oh, baiklah. Pastikan mereka mendapatkan apa yang mereka butuhkan. Berikan pelayanan yang terbaik."
"Iya, Pak."
Ada sedikit rasa lega saat mendengar korban jiwa hanya satu orang. Meski begitu bukan berarti aku tidak turut berduka atas meninggalnya karyawan itu. Maut, siapa yang bisa menolak?
"Permisi, Pak. Ada yang ingin bertemu."
"Siapa?"
"Hmm, ya. Suruh dia masuk."
"Baik, Pak."
Pembantu? Siapa yang mengantarkan makanan? Tidak pernah terjadi sebelumnya.
"Mas ...."
Aku menoleh saat mendengar suara Nur. What? apa dia yang dimaksud pembantu oleh sekertarisku?
Bagaimana tidak. Penampilan Nur tidak memperlihatkan kalau dia seorang istri pemilik perusahaan ini. Aaarghhh, ya ampun!
"Ada apa?"
"Saya bawakan makan siang. Sekaligus saya senagaja ke sini mau minta maaf."
"Maaf untuk apa?"
Nur terlihat ragu-ragu. "Em, saya tidak tahu untuk apa tapi saya tahu kalau Mas marah, kan?"
"Tidak."
"Tapi tadi pagi ...."
"Nur," matanya sedikit membulat dengan kedua alis naik. "Kamu punya baju lagi, gak, selain yang kamu pakai?"
Dia heran dengan apa yang aku katakan. Matanya melihat pakaian yang dia kenakan. Atas, bawah, kanan, dan kiri.
"Kami tahu–"
"Permisi, Pak. Ada tamu yang mau bertemu."
"Siapa lagi?"
"Polisi yang memeriksa gudang."
"Oh, persilakan masuk."
"Polisi? Ada apa, Mas? Kenapa polisi memeriksakan gudang? Apa yang kamu lakukan? Kamu nyembunyiin apa?"
Nur tampak terkejut. Dia memberondongku dengan pertanyaannya yang konyol. Aku abaikan.
"Selamat siang, Pak."
"Siang. Silakan masuk."
"Ha ha ha. Udahlah, kaya sama siapa aja." Iwan, polisi yang memeriksa tempat kejadian perkara, dia temanku. Dia melirik Nur yang sedang berdiri dengan wajahnya yang masih cemas.
"Siapa?" tanya Iwan padaku. Menanyakan Nur.
"Oh, itu. Dia pembantuku di rumah. Eh, iya. Gimana jadinya gudang gue, Wan?"
"Pembantu tapi cantik. Boleh buat gue, gak?"
Entah apa maksud Iwan. Becanda atau memang serius. Secara, dia belum menikah selama ini.
"Ha ha ha." Iwan tertawa sambil menggemaskan tubuhnya ke atas sofa. "Jangan tegang gitu, Bro! Lagian gue becanda."
Matanya berkaca-kaca saat aku melirik Nur yang masih berdiri seperti tadi. Dia mengerjapkan mata beberapa kali. Lalu, berjalan menuju meja kerjaku dan menyimpan bekal makanannya di sana.
"Permisi, Pak. Saya harus segera pulang. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus saya kerjakan."
Hatiku seperti ditusuk sesuatu saat Nur berpamitan. Kakiku bahkan hampir melangkah saat dia berjalan begitu cepat keluar dari ruangan ini.
Aahhh!
"Jadi gimana, Wan?"
"Murni kecelakaan, sih, untuk sementara ini. Gue udah lihat cctv kalau supir forklift itu kurang perhitungan. Dengan barang yang ditumpuk yang menghasilkan efek domino."
Aku ikut duduk di samping Iwan.
"Lo urus semuanya. Periksa dengan teliti. Belakangan ini perusahaan gue sedang digerogoti tikus-tikus kecil."
"Beres. Eh, tapi ngomong-ngomong tentang pembantu yang tadi, serius loh dia cantik. Boleh dikenalin gak?"
"Yang benar saja."
"Kenapa?"
"Lo itu polisi dengan jabatan yang bukan remeh temeh. Masa mau sama pembantu. Lo liat sendiri penampilan dia gak oke."
"Penampilan itu bisa dirubah. Mau kaya gimana pun juga bisa. Nanti kapan-kapan gue maen ke rumah. Gue balik dulu."
Iwan menepuk pundakku. Tangannya terasa seperti kapak yang membelah tulang-tulang pundak.
Menyebalkan!