ON THE WAY

ON THE WAY
Enam



Sesuai janjiku pada anak-anak, dalam perjalanan aku mampir ke sebuah toko yang khusus menjual boneka. Bangunan dengan dua lantai itu dipenuhi aneka warna dan bentuk boneka. Semuanya ada.


Mereka yang masih terlihat ngantuk, karena di jalan tadi mereka sempat tidur setelah diberi obat anti mabok oleh Nur, matanya langsung terbuka begitu melihat apa yang ada di depan.


"Ayooo, kita borong semua boneka yang ada di sini," ujarku penuh semangat.


Aku berlari kecil dan mereka mengikuti. Matanya semaksimal terbelalak begitu sampai di dalam. Mereka tampak takjub.


"Ambil saja yang kalian mau. Papa belikan semuanya."


Pertama kalinya aku melihat dan mendengar mereka histeris karena senang. Berjingkrak dan berlarian mencari boneka yang mereka mau.


Setelah berkeliling ke atas dan bawah. Mereka hanya mengambil satu boneka. Dila mengambil boneka unicorn, sementara Raya mengambil boneka kelinci.


"Hanya itu?" tanyaku. Mereka melirik Nur sebelum menganggukkan kepala degan berat. Aku tau, mereka pasti masih ingin membeli beberapa boneka lagi.


"Ambil lagi jika masih ada yang ingin di beli. Jangan lihat mama. Kan papa gang bayar. Ayo ambil."


Mereka kembali melirik Nur. Ah, anak-anak ini. Sepertinya Nur lah yang harus aku jitak.


"Biarkan saja mereka membeli apa yang mereka mau. Jangan kamu halangi."


"Aku tidak ingin membiasakannya, Mas. Aku tidak ingin mereka menjadi manja dan kebiasaan jajan banyak."


"Itu bagus. Aku setuju. Tapi mereka juga berhak bahagia. Selama aku mampu, kenapa tidak? Kali ini biarkan saja mereka, jangan kamu halangi. Mengerti? Sekarang suruh mereka mengambil beberapa boneka lagi," titahku pada Nur.


Wanita itu terlihat keberatan dengan apa yang aku minta, meski pada akhirnya dia menurut. Benar saja, Dila dan Raya langsung mengambil beberapa boneka lagi.


Sial! Mobilku tidak cukup menampung boneka yang mereka beli.


"Bisa pake jasa ekspedisi, kok, Pak. Nanti kami packing dan kirim."


Wah, solusi yang sungguh bagus. Akhir aku memilihkan beberapa boneka lagi. Tanggung kalau cuma sedikit.


Dila dan Raya hanya membawa masing-masing tiga boneka. Sisanya aku pakai jasa ekspedisi.


Sepanjang jalan, mereka bermain dengan boneka yang baru mereka beli. Selain itu, aku juga mampir ke toko makanan agar mereka bisa ngemil.


"Ada yang mau beli mainan gak?"


Mereka menjwab dengan serempak. "Mauuu."


"Mas ...." Nur menyentuh tanganku yang sedang menyetir. Aku menoleh karena kaget disentuh olehnya. Sepertinya dia sadar dan langsung menarik kembali tangannya.


"Maaf, Mas."


"Ada apa?"


"Lebih baik kita pulang saja dulu. Beli mainan bisa kapan saja. Jangan terlalu memanjakan mereka seperti ini."


"Salahnya apa?"


"Aku tidak ingin memberikan mereka mimpi yang terlalu indah. Mereka akan begitu kecewa jika terbangun nanti."


"Maksudmu?"


"Sudahlah, Mas. Kita pulang saja. Anak-anak, kita ketemu eyang dulu. Beli mainan nanti saja, ya."


Tidak ingin berdebat dalam keadaan menyetir, aku memilih diam.


Begitu sampai di rumah, Dila dan Raya terlihat takjub tapi juga takut dan ragu. Mereka bersembunyi di belakang Nur saat kami hendak masuk ke rumah.


Nur pun tak kalah dengan anak-anaknya. Mereka seperti tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Jika dibandingkan dengan rumah mereka, rumahku memang pasti terlihat seperti istana.


Semakin dalam rasa perih dalam hati melihat mereka seperti ini.


"Dila, Raya. Ayo ikut papa masuk. Ini rumah papa yang jadi rumah kalian juga sekarang. Jangan takut." Aku mengulurkan tangan. Si bungsu meraih tanganku sementara kakaknya masih bergelayut di tangan Nur.


Terdengar suara seseorang dari arah dalam itu pasti Ibu dan Ayah.


"Alhamdulilah kalian sudah datang."


"Bu." Nur mendekat untuk salam pada Ibu dan juga Ayah. Dia juga meminta anak-anak melakukan hal yang sama.


"Wahhhh, ada yang sudah beli boneka sepertinya, ya. Eyang dibelikan juga tidak?"


"Papa yang beli." Kembali si bungsu yang bereaksi. Sepertinya dia sudah mulai menerima kehadiranku sebagai ayahnya. Ibu menatapku bangga.


"Ayo, masuk. Eyang udah siapkan makan untuk kalian. Pasti laper kan?"


"Tadi papa beliin makanan banyak."


"Benarkah? Eyang dibawain gak? Eyang mau juga permen sama ciki."


"Jangan. Nanti gigi eyang ompong."


Langkahku terhenti sejenak karena kaget oleh suara tawa Ibu. Baru kali ini dia tertawa begitu lepas dan keras. Tentunya setelah anakku tiada.


Ibu bahkan sampai terbatuk-batuk. Ayah memintanya untuk mengendalikan diri dan memberikannya minum. Beruntung karena kami sudah dekat dengan meja makan saat itu.


"Kamu itu lucu banget. Kelas berapa anakmu yang kecil, Nur?"


"Satu, Bu. Yang kakaknya kelas tiga. Sementara si sulung kelas dua SMP kalau dia sekolah."


"Dia tidak ikut juga ke sini? Kamu gak ajak dia sekalian?" tanya Ibu lagi. Kami pun semua duduk di kursi masing-masing sambil terus mengobrol.


"Dia tidak mau, Bu. Aku sudah mengajaknya tadi tapi dia menolak."


"Gak apa-apa. Jangan dipkasa. Dia sudah besar makanya dia memilih untuk tidak ikut salah satu dari orang tuanya. Beri dia waktu dulu."


"Iya, Bu. Kalau bukan karena Kang Haji, dia sepertinya tidak akan mengizinkan saya menikah lagi."


Kang Haji? Siapa dia? Apakah dia kiai yang sering ibu datangi?


"Siapa Kang Haji?" tanyaku penasaran.


Nur dan Ibu menatapku bersamaan.


"Dia kiai si sulung, Mas. Juga sodara saya. Ibu dan saya bertemu di pesantren itu."


"Kang Haji yang menyarankan Nur untuk jadi istri kamu. Makanya Ibu tidak ragu pada Nur."


Oh, pantas saja. Bukankah selama ini Ibu mempercayakan urusan dunianya pada Kiai itu. Segala urusan dia konsultasikan pada Kiai itu. Ternyata dari sana juga Nur ibu dapatkan.