
Ada yang berbeda malam ini. Rumah menjadi ramai karena Ibu dan anak-anak terus saja bermain selepas Isa tadi. Juga ... ada Nur.
Aku yang terbiasa mengurung diri di kamar, kini ikut berkumpul di ruang keluarga. Ruangan yang sudah lama tidak aku kunjungi di rumah ini. Ruangan yang selalu mengingatkan pada anak dan istriku yang telah tiada.
"Mas, mau aku buatkan minum?"
Aku segera mengumpulkan kesadaran dari lamunan tentang masa lalu. Nur masih menatap dengan penuh tanya. Bertanya tentang minuman.
"Tidak usah. Kamu pasti lelah."
"Saya gak apa-apa, Mas. Mau aku buatkan teh? Kalau kopi lebih baik jangan. Kami harus tidur, besok harus kerja bukan?"
"Hmmm. Apa saja."
"Tunggu sebentar, saya buatkan dulu."
"Emang tahu cara bikinnya?"
Pertanyaan dariku membuat langkahnya terhenti. Ibu dan ayah menatapku heran sekaligus kesal. Entah apa yang mereka pikirkan.
Nur tersenyum. "Oh, iya. Saya gak tau cara pakai peralatan dapur di sini. Pasti modern." Dia tersipu.
"Ya sudah, lebih baik jangan buat apa-apa. Ambilkan susu murni aja di kulkas."
"Maaf, ya, Mas."
Aku mengangguk.
"Kamu itu, bikin dia malu aja." Ibu kembali memarahiku setelah Nur pergi.
"Loh, kenapa? Dia emang gak bisa make alat dapur rumah ini kan? Dari pada dia ke dapur terus kebingungan."
"Iya tapi ...."
"Apaan sih ribut terus? Kali-kali akur napa!"
Adikku, Angga, datang. Dia yang jarang sekali pulang ke rumah, malam ini entah kenapa dia pulang.
"Sehat, Nak?" tanya Ibu saat Angga memeluknya.
"Sehat, Bu. Ibu sendiri gimana? Pasti tekanan darah Ibu naik terus gara-gara Kak Rama, ya?"
Astagaaa! Dia dan Kak Ardi memang sangat menyebalkan. Pandai cari muka di depan Ibu. Heran bener, muka satu aja gak cukup apa gimana? Kenapa harus nyari muka lain coba. Cih!
"Pa ...."
Dila dan Raya yang sedang bermain menghampiriku. Wajah mereka terlihat sedikit tegang. Mungkin karena melihat Angga yang seperti preman terminal.
Ya, penampilan Angga memang nyeleneh dengan tato di tangannya. Meski tidak sepenuhnya, tapi cukup membuat anak-anak lugu seperti anak-anak ini, ketakutan.
"Gak apa-apa, Sayang. Dia Om kalian, dia adik papa namanya Om Angga."
Angga yang mendengar perkataan ku, menoleh. Lalu mendekat. Dila dan Raya semakin bersembunyi ke belakang tubuhku.
"Allah' akbar."
Sepertinya Nur juga kaget melihat Angga. Saat pernikahan kami, Angga memang memakai pakaian tertutup. Tatonya tidak terlihat jelas.
"Halo, Kakak Ipar. Kenapa kaget?"
"I-ini siapa, Mas?"
"Dia Angga. Kamu lupa?"
Nur duduk di sampingku. Kali ini sedikit lebih dekat dari posisi yang sebelumnya. Dila segera berpindah ke pangkuan Nur.
"Maaf, ya, Angga. Saya gak terlalu mengenal kamu. Soalnya beda banget dari yang waktu itu."
"Oh, ini." Dia menyentuh dengan bangga tato dan rambutnya yang telah di warnai.
"Sebentar lagi Ardi juga akan datang."
"Wowww, apa semua anggota keluarga menyambut kedatanganku?" ujar Angga berbangga diri.
"Bukan. Biasa, drama menantu baru akan tayang."
"Rama ...."
Aku hanya bisa diam saat Ayah dengan tegas tapi lembut, memintaku untuk diam.
Nampaknya Angga mengerti dengan apa yang aku katakan dan apa yang ayah ucapkan. Dia tidak lagi petakilan dan memilih duduk di dekatku.
Dari luar terdengar suara mobil. Itu pasti Kak Ardi dan istrinya, Melani.
Wajah Nur terlihat bingung. Dia menatap, meminta penjelasan. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain tersenyum padanya.
Kami semua telah duduk. Diam tanpa kata. Menunggu sang nyonya rumah memulai rapat paripurna rumah ini.
"Nur ...."
"Iya, Bu. Ada yang bisa Nur bantu?"
Ibu berdiri. Dengan amplop di tangannya, dia mendekati istriku. Sama persis dengan apa yang dilakukannya dulu saat malam pertama Mira datang ke rumah ini.
"Ini."
Nur semakin bingung. Dia kembali menatapku. Aku menganggukkan kepala pelan agar dia menerima apa yang Ibu berikan.
"Bukalah. Itu adalah uang bulanan kamu, Nur."
Nur membuka amplop itu. Mulutnya terbuka lebar lalu dia tutup dengan jari kiri tangannya.
"Itu untuk uang jajan dan keperluan kamu. Siapa tau kamu mau beli makeup, skin care atau pakaian. Kamu bisa pakai uang itu. Sementara untuk urusan rumah ini, Ibu yang atur. Kamu tenang saja, Nur. Uang itu tidak termasuk uang biaya sekolah dan pesantren anakmu yang besar. Mereka punya jatah sendiri. Gimana, Nur? Apa itu cukup?" ucap Ibu panjang lebar. Dengan suara yang penuh wibawa.
Nur masih dengan ekspresi yang sama.
"Kalau kurang, nanti Ibu tambahkan."
"Tidak, Bu. Ini pun sudah terlalu banyak."
Melani tersenyum sinis. Aku tahu apa yang dia pikirkan tentang Nur. Sejak awal dia selalu bilang kalau Nur itu kampung. Wanita lugu yang sengaja Ibu manfaatkan. Tidak seperti Mira.
"Baiklah. Kalau itu cukup, ibu sangat bersyukur. Kamu gak usah takut anak-anak kamu kekurangan. Mereka akan Ibu masukkan ke sekolah yang bagus. Mereka juga akan mendapatkan les privat di rumah agar bisa cepat menyesuaikan diri dengan lingkungannya."
"Terima kasih, Bu. Ini benar-benar sebuah anugrah buat Nur. Kebaikan Ibu dan keluarga, tidak bisa Nur balas selain dengan doa. Semoga kalian selalu diberi kesehatan dan dimudahkan rezekinya."
"Aamiin." Angga berteriak. "Eh, maaf."
Ibu mendelik kesal.
"Nur, kamu tahu ini rumah siapa?" Melani bertanya.
Nur menggelengkan kepalanya cepat.
"Ini rumah suami kamu. Dia yang membangun rumah ini. Seharusnya, yang mengatur rumah dan keuangan di keluarga ini, ya, kamu. Bukan orang lain."
Kak Ardi menggenggam tangan istrinya. Sementara Nur hanya tersenyum. Manis.
"Siapapun yang mengatur rumah ini, saya harusnya berterima kasih, Mba. Itu artinya saya hanya perlu mengurus keperluan suami dan anak-anak, tanpa disibukan dengan urusan lain. Saya juga lebih banyak waktu untuk beribadah."
Jawaban Nur membuat Ibu dan Ayah tersenyum ... bangga?
"Ck! Kamu tidak tahu saja kalau kamu sedang dibodohi. Pantas saja Ibu begitu menginginkan kamu dan memaksa Rama untuk menikahimu. Kamu itu lugu dan polos."
"Mel!" Kak Ardi sedikit meninggikan suaranya.
"Kamu berbeda dengan Mira yang punya prinsip dan teguh pendirian."
"Siapa Mira?" tanya Nur polos, dan itu membuat Melani tertawa mengejek.
"Mendiang istriku, Nur."
"Oh, almarhumah rupanya."
Kami semua kembali hening. Suasana kali ini berbeda dengan yang dulu pernah terjadi. Mira yang tidak terima dengan keputusan Ibu, menentang keras. Mira merasa kalau dia adalah nyonya di rumah ini.
Ibu dan Mira sama-sama keras. Mereka tidak pernah aku sama sekali. Aku sendiri lebih memilih diam dan mungkin lebih cenderung membela Ibu.
Mira yang sering kecewa karena keputusan Ibu selalu tidak sependapat dengannya, bisa kembali ceria setelah aku diam-diam mentransfer sejumlah uang ke rekeningnya. Uang bulanan yang Ibu berikan di amplop, dirasa tidak lah cukup.
"Saya ini memang orang miskin, Mba. Dikasih uang segini banyak, apa lagi yang hatus saya tidak sukuri? Ini bahkan pertama kalinya saya pegang uang begitu banyak. Belum lagi karena ini tidak termasuk uang pendidikan anak-anak saya. Rasanya saya akan kufur nikmat jika harus meminta yang lain."
"Kamu tidak keberatan kalau semua keuangan rumah tangga, Ibu yang pegang?" tanya Melani tidak percaya.
Nur menggelengkan kepala yakin. "Tidak, Mba. Silakan saja jika itu tidak membuat Ibu repot. Apa pun yang membuat beliau senang, saya ikut saja. Sebanyak apa pun yang kita beri, tidak akan cukup membalas pengorbanan orang tua untuk kita anak-anaknya. Saya merasakan bagaimana rasanya jadi orang tua."
Melani sepertinya masih tidak percaya dengan ucapan Nur. Pun denganku.
"Saya tahu bagaimana sakitnya berjuang demi anak. Pasti, saya akan merasa sakit hati jika anak-anak saya besar nanti, mereka mengabaikan keinginan saya."
Nur tampak terisak. "Duh, maaf, saya jadi terbawa suasana."
Ada yang lain dalam pandanganku terhadap Nur. Dia memang baik. Pantas saja Ibu begitu ingin dia menjadi menantunya. Juga ... Dia adalah wanita yang tangguh. Kesabarannya kenapa tidak membuat pernikahan mereka bertahan? Apakah ini hanya sebuah sandiwara wanita yang pura-pura lugu?