ON THE WAY

ON THE WAY
Tiga Belas



"Papa ... Nanti pulang kerja beliin permen push pop, ya."


"Hmm."


"Aku mau permen kapas yang gede, Pa."


"Hmm."


"Rama!"


"Iya, Bu. Ada apa? Apa aku membuat kesalahan lagi pagi ini?" tanyaku sambil fokus mengoles selai.


"Kamu itu kenapa, sih? Anak-anak kamu ngajak ngomong kenapa kamu hanya ham hem ham hem."


"Terus aku harus apa? Mereka minta jajanan kan? Oke, aku belikan nanti pulang kerja. Letak salahnya di mana, Bu?"


"Ngobrol sama anak kecil itu jangan begitu, Rama. Kamu harus lihat mereka dengan wajah yang ceria, jangan muram begitu. Mereka pasti kecewa."


"Kapan, sih, Bu, aku terlihat benar di mata Ibu? Ibu meminta aku menikah dengan Nur, bahkan tanpa aku tahu dia wanita seperti apa, aku manut toh? Aku memperlakukan anak-anak mereka dengan baik juga selama ini. Kenapa hanya karena mood ku sedang kurang baik, lalu Demian hancur di mata Ibu."


"Ada masalah apa? Apa pun masalah kamu, jangan tunjukkan di depan anak kecil."


"Oke, mungkin lebih baik aku sarapan di luar."


"Papa ...." Si bungsu memanggil.


"Ada apa lagi? Permen bukan? Akan papa belikan nanti."


Dila terlihat terkejut dan juga takut karena nada bicaraku yang tinggi.


"Rama!" Ayah meneriakiku.


"Sudah, tidak apa-apa. Ayo Dila, lanjutkan sarapannya sama mama."


Nur mengajak anaknya kembali duduk, lalu dia menghampiriku.


"Ayo, Mas. Saya antar sampai depan."


Meski masih kesal, aku tidak bisa menolak ajakan Nur. Aku pun tidak menolak atau menepis tangannya yang menggandeng tanganku.


"Hati-hati, ya, Mas. Semoga hari ini semuanya lancar dan Mas diberi kebahagiaan oleh Allah."


"Cukup sampai di sini bersikap baiknya, Nur. Aku muak!"


"Mas, kamu boleh mengatakan apa saja pada saya. Boleh hina bahkan memperlakukan saya seperti pembantu sekali pun, boleh Mas. Saya mohon, sebesar apapun rasa benci Mas pada saya, jangan Mas lakukan pada anak-anak."


Aku sadar, tidak ada orang tua yang rela melihat anaknya dibentak orang lain. Aku memang keterlaluan dan salah pagi ini pada Dila.


"Kita berdua tahu bahwa pernikahan ini bukan keinginan kita. Wajar jika menjalaninya tanpa perasaan dan beda dari rumah tangga kita yang sebelumnya. Tapi Mas ... Setidaknya berpura-pura baikalh di depan anak-anak dan Ibu. Mas kadung membuat anak-anak nyaman dan menganggap Mas sebagai ayah mereka.


Sejak awal saya takut kalau ini hanya sebuah mimpi indah yang akan membuat mereka kecewa saat bangun. Tolong, Mas. Jangan sakiti anak-anak saya untuk ke dua kalinya. Saya tidak tahu harus mengobati luka mereka dengan cara apa nantinya."


Benar. Aku telah membuat mereka yang tidak tahu apa-apa mendapat luka. Astagaaa Ramadhan!


"Jika ingin mengakhiri pernikahan ini, bilang saja Mas. Ibu pasti akan menerima keputusan jika saya yang membuat. Karena asal Mas tahu, Ibu tidak pernah memkasa saya untuk menikahi anaknya. Jadi, saya rasa Ibu tidak akan memkasa saya untuk bertahan."


Apa yang dia katakan barusan?


"Duh, malah kelamaan ngobrol. Ayo, Mas, Berangkat. Nanti kesiangan."


"Tidak ada batasan jam untukku masuk dan pulang kentor sendiri."


"Tapi itu tidak baik dilihat karyawan. Mas harus memberikan contoh yang baik untuk mereka, agar mereka segan dan bukan takut sama Mas. Bismillahi Majreha wa mursaha. La Haula wala kuwwata Illa Billah."


Meski dalam rasa kecewanya, dia masih bisa mendoakan keselamatanku. Mungkinkah bukan pagi ini saja dia merasa sakit hati, aku tahu dari mantan yang terlihat bengkak. Nur menangis sejak malam tadi.


Astaga. Bahkan aku membentaknya setelah menikmati tubuhnya.


Meski begitu, dia pergi sebelum aku berangkat. Tidak seperti biasanya. Dia akan menunggu sampai aku berbelok di depan gerbang sana.


Apa yang harus aku lakukan. Aku tidak ingin Mira marah karena aku berbaik hati pada Nur dan anak-anaknya. Reyhana ... Apa kamu marah, Nak? Apa kamu kesal karena papi menyayangi Dila dan Raya.


***


"Ada apa?" tanya Kak Ardi saat kami berada di sebuah kafe. Saat istirahat siang, kami memang sering menghabiskan waktu di sini. Entah bercerita tentang masalah hidup atau pun tentang perusahaan yang kami jalankan bersama.


"Kenapa?" Aku balas bertanya.


"Ibu menelpon."


"Ngadu lagi?"


"Dia tahu kalau Lo hanya akan dengerin omongan gue. Ayo lah, Bro! Berpikirlah jernih. Baru kemarin-kemarin Ibu cerita kalau Lo dan Nur mulai akrab."


"Yah, gue memang lebih dari sekedar akrab. Gue secara 'sah' jadi suaminya."


"Mantaaaap! Terus Lo mencampakkan dia gitu aja?"


"Ck! Mana ada."


Kak Ardi menyerupi kopi yang masih mengepulkan asap.


"Mira tidak harus Lo lupakan. Hak Lo jika masih mencintai dia, tidak ada yang salah dengan terus mengingatnya, tapi hanya dalam hati Lo sendiri. Jangan diperlihatkan pada orang lain."


"Mira gak suka kalau gue dan Nur tidur di kasur kami. Dia marah karena akhirnya gue dan Nur melakukan hubungan intim."


Kak Ardi begitu kaget sampai dia menyemburkan kopi yang hendak dia telan.


"Lo waras 'kan? Sadar, Ram. Mira udah gak ada. Dia udah gak ada urusannya lagi di dunia ini."


"Gue mimpi."


"Terus Lo percaya dan akhirnya menyakiti Dila dan Raya? What the ****, Bung! Gak waras Lo!"


"Wajah Mira jelas banget gue lihat. Dia sedih dan dia marah besar. Matanya masih terus terbayang saat dia bilang kalau dia kecewa sama gue."


"Itu hanya mimpi. Bunga tidur. Sebagian mimpi kita ada setan' di dalamnya. Itu gue yakin Lo sedang diganggu setan. Baca doa kalau mau tidur makanya."


"Gue bingung. Yang jelas, malam itu saat gue bangun, gue langsung minta Nur buat pindah tidur ke sofa."


"Astagaaa Ramadhan! Lo beneran kudu di ruqyah gue rasa. Kerasukan Lo! Terus ... Nur mau?"


"Dia pindah. Pagi ini gue melakukan kesalahan yang sama pada anak-anaknya. Gue juga takut kalau ...."


"Hana marah? Rama, Hana sudah tenang di sana. Dia meninggal dalam keadaan masih suci karena umurnya masih kecil. Dia udah pasti masuk surga. Gak mungkin dia masih berkaitan dengan urusan dunia. Sadarrrr ...."


"Terus gue harus gimana?"


"Minta maaf lah sama Nur dan anak-anaknya. Apa lagi?"


"Entahlah."


"Kak ...."


"Dah, gue balik. O, iya. Urusan yang kemarin gue udah dapet ide, tapi ogah gue cerita sekarang. Lo lagi gak waras."


Nur tidak tahu apa-apa. Begitu juga dengan Dila dan Raya. Bukankah aku terlihat seperti bangsat, meniduri seorang wanita lalu mengusir dia begitu saja. Meski bukan dari rumah, tapi dia aku usir dari tempat tidur kami. Tengah malam setelah kami ... Ah, sudahlah. Kak Ardi memang benar. Aku sudah tidak waras.


Bayangan wajah kecewa Mira masih begitu jelas seperti nyata di mataku. Aku tidak bisa seperti ini. Jangan sampai perasaanku untuk Mira menyakiti wanita lain.


***


"Dila ... Raya ... Papa datang, Sayang."


Hening.


"Nur ...."


Masih tidak ada jawaban. Rumah begitu sepi. Tidak suara manusia yang aku dengar selain suaraku sendiri.


"Tuan." Bu Sum datang tergopoh-gopoh.


"Ke mana semua penghuni rumah ini? Mana anak-anak, Bi?"


"Nyonya dan anak-anaknya pergi, Tuan."


"Pergi? Pergi gimana maksudnya? Mereka pergi ke mana, Bi? Kapan?"


"Anu, Tuan."


Belum selesai aku menginterogasi Bi Sum, Nur dan anak-anak datang. Mereka masuk dengan tawa ria bersama Angga.


Entah kenapa aku merasa begitu lega melihat mereka datang meski mereka datang bersama Angga.


Mainan, boneka dan permen, aku letakkan begitu saja.


"Kalian habis dari mana? Papa nyariin."


Raya yang semula berjalan di depan, dia kembali mundur dan bersembunyi di belakang ibunya. Anak itu takut melihatku. Ini semua pasti karena kejadian pagi tadi.


"Dila ... Habis dari mana? Papa nyari-nyari Dila tadi." Aku memuat tinggi kami sama. Merapikan anak rambut yang menutupi matanya. Dila berbeda dengan Raya. Tidak ada rasa takut yang aku lihat di matanya. Hanya saja ekspresi wajahnya datar. Tidak hangat seperti biasanya.


"Habis lihat tv besar." Dia bersuara meski masih dengen ekspresi yang sama. Ah, mungkin maksdunya nonton bioskop. Apakah Angga dan Nur habis nonton?


Kenapa dadaku terasa sesak. Untuk mengurangi rasa sesak itu, aku melonggarkan dasi.


Sekilas aku melihat Angga tersenyum.


"Papa bawakan mainan dan permen yang Dila mau."


"Om Angga juga beliin, Pa. Bagus-bagus mainannya."


Astaga. Apa hari ini matahari ada dua? Kenapa rasanya panas sekali.


"Dila, kita mandi dulu, Sayang. Setelah itu boleh ngobrol lagi sama Papa. Kasian juga papa habis kerja, pasti cape."


"Iya, Ma."


Nur membawa anak-anak untuk dimandikan. Sementara aku masih berlutut di tempat yang sama.


"Baru sama gue perginya, bukan sama laki-laki lain. Tenang aja, Kak." Anggap menepuk-nepuk pundakku.


Angga benar. Nur dan anak-anak pergi dengan adikku sendiri. Apa yang harus ditakutkan. Takut? Aku bahkan tidak perduli. Kenapa harus merasa takut?


"BI Sum, tolong rapikan kantong belanjaan saya. Simpan saja di meja. Berikan nanti pada anak-anak setelah mereka selesai mandi."


"Baik, Tuan."


Ada yang menusuk di dalam dada saat Raya menghindariku. Wajah datar Dila dan cueknya Nur padaku. Semua itu membuat dadaku seperti tertusuk anak panah.


"Loh, Mas belum mandi?" Tanya Nur setelah hampir satu jam aku duduk di tepi ranjang. Masih dengan pakaian kerja.


"Hmmm."


"Udah sore, Mas. Mandi dulu. Saya siapkan air dan bajunya, ya."


"Nur."


"Iya, Mas. Ada yang bisa saya bantu?"


"Maaf, Nur."


Hening.


Mataku masih luru menatap lantai yang sedang aku pijak.


"Kenapa, Mas?" tanyanya yang ternyata dia telah ada di sampingku.


"Malam itu aku bermimpi. Mira datang dan dia tidak suka kita bersama."


Tidak ada jawaban. Hanya ******* napas yang berat dari Nur yang kudengar.


"Mas ... Orang yang sudah meninggal itu tidak akan lagi dipusingkan dengan urusan dunia. Begitu mereka masuk liang lahat, putus sudah urusannya dengan dunia ini. Menghadapi pertanggungjawaban hidup mereka di alam kubur sana sudah cukup membuat mereka lupa pada dunia dan isinya. Termasuk Mas."


"Rasanya begitu nyata."


"Mungkin Mba Mira ingin Mas mengirimnya doa. Jika Mas merindukan Mba Mira, mas ngaji dan doakan agar dia tenang di sana. Mas suka mendoakan Mba Mira?"


Aku menggeleng pelan.


"Kalau begitu Mas mandi. Sebentar lagi magrib. Mas salat dan doakan Mba Mira. Orang yang sudah meninggal tidak membutuhkan apa-apa selain doa dari kita."


Harusnya aku merasa malu karena Nur yang mengingatkan aku untuk mendoakan Mira. Aku yang selalu merasa bahwa Mira adalah cintaku satu-satunya jarang sekali mendoakan dia.


"Apa kamu marah, Nur? Sampai saat ini aku masih saja mengingat Mira. Bahkan, aku menyakitimu malam itu."


"Tentu tidak, Mas. Justru aku bangga sama kamu. Sekian lama tidak menikah karena masih mengingat Mba Mira. Itu artinya kamu setia pada pasangan. Aku beruntung karena menjadi istri kamu."


"Beruntung?" tanyaku heran.


"Karena jika suatau saat aku mati, Mas pun tidak akan melupakan aku."


Dia menatapku dengan senyuman yang selalu terlihat manis dan menenangkan. Sementara aku? Aku menatap penuh keheranan.


"Ya sudah. Aku siapkan airnya dulu, ya."


Ingin aku meraih tangannya, tapi dia terlanjur menjauh. Apa aku benar-benar bodoh? Tapi kenapa wanita sebaik Nur harus mengalami perceraian.


Apa suami Nur melakukannya kebodohan seperti aku? Atau kebaikan Nur ini hanya pura-pura?


Aku begitu penasaran pada masa lalu pernikahan Nur.